Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH TERMODINAMIKA TEKNIK KIMIA

PEMICU 3 : HUKUM 2 DAN SIKLUS TERMODINAMIKA

KELOMPOK 03 Nahida Rani Nuri Liswanti Pertiwi Rizqi Pandu Sudarmawan Sulaeman A. S. Sony Ikhwanuddin (1106013555) (1106015421) (0906557045) (0906557051) (1106052902)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA


Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

DEPOK, 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kurina-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah mata kuliah termodinamika mengenai Hukum Kedua dan Siklus Termodinamika dengan tepat pada waktunya. Hambatan, keterbatasan, serta tantangan yang dihadapi penulis dalam penyusunan karya tulis ini begitu banyak, sehingga keberhasilan penyusunan karya tulis ini merupakan buah dari kerjasama, dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih setulus-tulusnya kepada : 1. Orang tua penyusun, yang selalu mengalirkan doa, dan dukungan moril, serta materil sehingga karya tulis dapat diselesaikan. 2. Dosen Pembimbing, dalam hal ini dosen termodinamika, Ibu Wulan, yang senantiasa memberi arahan serta bimbingan. 3. Rekan-rekan mahasiswa Departemen Teknik Kimia FTUI yang telah memotivasi dan mendukung penyusunan laporan ini. Tak lupa, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa dalam karya tulis ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Maka, penulis mengharapkan umpan balik seperti kritik, saran, serta komentar pembaca.

Depok, 27 Maret 2013

Penyusun

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

ii

DAFTAR ISI Judul .............................................................................................................................i Kata Pengantar ............................................................................................................ii Daftar Isi .......................................................................................................................iii Pembahasan: Jawaban Pemicu Tugas I ..........................................................................................................................1 Jawaban Pertanyaan a ............................................................................................1 Jawaban Pertanyaan b ...........................................................................................3 Jawaban Pertanyaan c ............................................................................................9 Jawaban Pertanyaan d ...........................................................................................10 Jawaban Pertanyaan e ............................................................................................11 Jawaban Pertanyaan f ............................................................................................13 Tugas II .........................................................................................................................15 Jawaban Pertanyaan a ............................................................................................15 Jawaban Pertanyaan b ...........................................................................................18 Jawaban Pertanyaan c ............................................................................................22 Jawaban Pertanyaan d ...........................................................................................25 Jawaban Pertanyaan e ............................................................................................28 Daftar Pustaka .............................................................................................................33 Lampiran ......................................................................................................................34

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

iii

PEMBAHASAN JAWABAN PEMICU Tugas 1 a. Saat kita membicarakan siklus termodinamika, maka kita sudah melibatkan hukum kedua termodinamika. Hukum kedua termodinamika mengenal istilah entropi. Menurut kelompok anda apa yang disebut dengan entropi? Jika sebuah tangki pejal mengandung gas ideal pada 40C yang sedang digerakkan oleh roda dayung. Roda dayung melakukan kerja 200 kJ dan mengikuti gas ideal. Seperti terlihat pada Gambar dibawah. Hal ini diamati bahwa suhu gas yang ideal tetap konstan selama proses ini sebagai hasil perpindahan panas antara sistem dan lingkungan di 30C. Tentukanlah perubahan entropi gas ideal. Jawab : Entropi adalah variabel keadaan bagi suatu sistem dalam kesetimbangan. Entropi suatu sistem merupakan fungsi keadaan termodinamik yang perubahannya sama dengan integral antara keadaan awal dan akhir, yang diintegrasikan sepanjang lintasan reversibel yang menghubungkan kedua keadaan itu. Ini berarti bahwa S selalu sama untuk sistem ketika sistem tersebut berada dalam kesetimbangan. Seperti halnya tekanan ( P), volume (V), dan energi dalam (U), entropi (S) merupakan karakteristik dari sistem dalam kesetimbangan dengan syarat sistem berubah dengan cara reversibel (dapat dibalik). Kata lain yang dapat menggambarkan entropi adalah ukuran ketidakteraturan. Satuan untuk entropi adalah J/K atau Btu/R. Satuan untuk entropi spesifik dalam SI adalah kJ/kg.K untuk s dan kJ/kmol.K untuk , sedangkan satuan inggris untuk entropi spesifik adalah Btu/lb.R dan Btu/lbmol.R. (Moran dan Howard). Perubahan entropi gas ideal Diketahui :

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

Gambar 1. Skema sistem pengenalan sampel

W Ttangki Tlingkungan Jawab :

= 200 kJ = 40C (isotermal) = 30C

Ditanya : perubahan entropi gas ideal (S)

Asumsi : 1. Sistem dalam keadaan sistem tertutup (closed system) 2. Suhu dalam sistem konstan (isotermal) 3. Steady state, tidak dipengaruhi oleh waktu 4. U = 0 karena tidak ada perubahan suhu pada sistem (isotermal)

Persamaan entropi :

...(1)

Pada hukum termodinamika pertama, panas (Q) didapatkan dari persamaan neraca energi sistem tertutup : E = Q + W - (U + K + P) perbedaan tinggi (P = 0), dan tidak ada aliran ( K). ...(2) Pada persamaan ini diasumsikan bahwa keadaan steady state (E =0), tidak ada

...(3) Pada kasus ini, sistem dijaga isotermal sehingga tidak ada perubahan suhu, maka dU = 0. Oleh karena itu, ...(4)

Dengan mensubstitusi persamaan (4) ke persamaan (1), maka perubahan entropi gas ideal didapatkan : ...(5) Dimana W merupakan kerja yang dihasilkan dari roda dayung. Tanda minus menandakan bahwa sistem diberi kerja oleh roda dayung. T merupakan suhu pada sistem. Sehingga :

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

Tanda

negatif menunjukkan bahwa perubahan entropi

mengalami

penurunan

(ketidakteraturan menurun).

b. Jika anda berperan sebagai seorang engineer yang memiliki tugas seperti Budi, langkah-langkah apa yang anda lakukan untuk mengevaluasi kinerja unit pembangkit di atas. Mengapa evaluasi ini perlu dilakukan? Dan bilamana evaluasi ini dilaksanakan? Jawab : Langkah pertama yang harus perlu dilakukan adalah mengetahui apa saja tujuan untuk mengevaluasi kinerja unit pembangkit uap tersebut. Tujuan evaluasi kinerja unit pembangkit uap adalah sebagai berikut: 1. Memastikan kerja pabrik berjalan lancar. 2. Memastikan tingkat keamanan operasi unit terjaga. 3. Memastikan kadar polusi akibat emisi kerja unit berada pada batas toleransi. 4. Memastikan unit berada dalam kondisi fisik yang baik. 5. Menentukan perlu tidaknya tambahan maintenance atau cleaning pada tiap-tiap komponen unit. 6. Memastikan biaya operasional unit sesuai rancangan awal. 7. Mengetahui kemungkinan biaya operasional unit dengan meninjau proses kinerja tiap komponen. Langkah kedua adalah mengetahui skema kinerja dari sistem pembangkit tenaga uap.

Gambar 2. Sistem Pembangkit Tenaga Uap dan Diagram T-S

Urutan Proses: 1-2 : kompresi isentropis (di dalam pompa) 2-3 : penambahan panas di Boiler (pada tekanan konstan)
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 3

3-4 : ekspansi isentropis (di dalam turbin) 4-1 : pengeluaran panas (di dalam kondensor) Langkah ketiga mengevaluasi dengan melihat masing-masing kinerja unit pembangkit tenaga uap (komponen-komponen di dalam sistem) yang dapat dijabarkan sebagai berikut: Evaluasi Superheater Peranan maintenance dan cleaning berkala pada alat superheater sangat diperlukan dan vital, karena apabila performance nya mengalami gangguan yang mengakibatkan kinerjanya menurun, maka tingkat keadaan uap yang dihasilkan menjadi lebih rendah, sehingga daya yang dihasilkan oleh turbin dapat menjadi lebih rendah. Pada umumnya, penurunan kinerja alat tersebut (di luar masalah gangguan pada sistem mekaniknya) disebabkan oleh menurunnya efektifitas perpindahan panas yang terjadi di dalam alat tersebut akibat terjadinya pengotoran permukaan baik oleh aliran fluida uap air di dalam pipa-pipanya maupun oleh aliran fluida gas panas yang berasal dari proses pembakaran bahan bakar di dalam boiler. Seringnya maintenance dan cleaning mengakibatkan instalasi mengalami kehilangan produksi yang signifikan, sehingga kerugian yang dialami instalasi pembangkit daya menjadi lebih besar. Untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut, maka diperlukan serangkaian pengujian agar dampak atas masalah yang dihadapi oleh alat tersebut serta kerugian yang lebih besar dapat dikurangi atau dihindari. Pengujian dilakukan dengan mengukur temperatur kedua aliran fluida kerja yang masuk dan keluar alat tersebut, serta laju aliran massanya secara kontinyu selama suatu kurun waktu pengoperasian. Hasil pengujian dipergunakan untuk mempelajari faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya intensitas cleaning yang lebih tinggi. Intensitas maintenance dan cleaning yang lebih tinggi disebabkan oleh faktor percepatan pertumbuhan lapisan pengotoran oleh kedua fluida kerja yang mengalir di dalamnya. Hal tersebut kemungkinan besar diakibatkan oleh dampak negatif dari penggunaan metode perancangan yang menggunakan data faktor fouling yang konstan yang diperoleh dari standard yang biasa dipergunakan oleh kalangan industri. Solusi yang diusulkan adalah diterapkannya metode perancangan yang lebih rasional yaitu menggunakan data faktor fouling aktual yang berlaku bagi alat tersebut yang diperoleh dari hasil pengujian.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

Evaluasi Boiler Pertama kita harus mengetahui kesetimbangan massa dan energi pada boiler. Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk diagram alir energi. Gambar 1 pada lampiran menggambarkan secara grafis tentang bagaimana energi masuk dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi dengan berbagai kegunaan dan menjadi aliran kehilangan panas dan energi. Panah tebal menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam aliran masing-masing. Berdasarkan gambar tersebut, maka kesetimbangan massa dan energi pada volume atur boiler sebagai berikut:

...(6)

...(7) Efisien boiler dapat ditentukan dengan:

...(8) Secara umum perpindahan panas pada ruang bakar boiler terjadi dengan modus radiasi, konveksi dan konduksi. Pada modus radiasi, perpindahan panas lazimnya terjadi antara inti dari nyala api ( hottest part of flame) dengan dinding waterwall. Energi radiasi dari api tersebut tergantung pada warna nyala ( luminosity of flame) dan jumlah penyerapan panas permukaan yang terekspos nyala tersebut. Sedangkan pada modus konveksi, perpindahan panas terjadi antara gas asap dengan dinding waterwall. Selanjutnya pada modus konduksi, aliran panas melintasi dinding dari waterwall. Dari perpindahan panas ini ditentukan kerugian kalor di dalam boilernya yang diakibatkan oleh gas buang yang kering, konveksi dan radiasi dinding, adanya abu bakar dalam boiler, serta blowing down uap.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

Selain itu, laju alir massa bahan bakar dihubungkan dengan harga atau biaya. Estimasi penghematan biaya operasional dihitung dengan menggunakan tiga jenis bahan bakar yang biasa digunakan pada unit pembangkit uap, yaitu bahan bakar minyak jenis HSD dan MFO, LNG dan batubara. Pada gambar 2.a (lampiran), terlihat bahwa laju alir massa bahan bakar LNG adalah yang terkecil. Hal ini dikarenakan nilai kalor LNG untuk satuan massa yang sama adalah lebih besar dibanding HSD, MFO dan batubara. Nilai kalor batubara adalah yang terendah yaitu 4820 kkal/kg. Pada gambar 2.b (lampiran) menunjukkan besarnnya biaya beberapa bahan bakar untuk daya yang sama. Besarnya biaya bahan bakar ini erat kaitannya dengan nilai laju alir massa bahan bakar masing-masing bahan bakar. Evaluasi Turbin Kinerja Turbin uap yang ditinjau adalah seperti dalam memaksimalkan efisiensi listrik bersamaan dengan menyediakan keluaran panas yang sesuai. Turbin uap dapat didesain secara khusus untuk menghasilkan kebutuhan panas melalui turbin backpressure pada tekanan dan suhu yang sesuai. Selain itu, dapat mengevaluasi keandalan dan waktu hidup dari turbin. Beberapa turbin uap memiliki masa hidup lebih dari 50 tahun. Ketika dioperasikan dan dirawat dengan baik (termasuk proses pengontrolan yang baik pada susunan kimia air di boiler) turbin uap akan sangat dapat diandalkan. Turbin uap membutuhkan kontrol suhu pada kondisi transient karena casingnya yang sangat besar akan panas secara perlahan dan ekspansi dari bagian-bagiannya secara diferensial harus diminimalisir Hal lain yang dapat dievaluasi adalah konsumsi uap dari turbin. Konsumsi uap tergantung pada daya keluaran yang diinginkan dan efisiensi turbin. Efisiensi akan bergantung pada ukuran turbin atau diameter rotor, geometri sudu ( impeller), kecepatan, kondisi ekstrem dari uap dan losses lainnya (Peripheral losses pada sudu impuls, loss kebasahan pada sudu reaksi, loss mekanik, dan Enthalpy drop pada governor valve). Efisiensi dari turbin dapat ditentukan menggunakan persamaan :

...(9)

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

Analisis Gas Asap Penentuan efisiensi termal alat pembangkit uap dapat dilakukan dengan menghitung besamya kerugian yang terjadi, melalui analisis gas asap yang terbentuk. Hasil analisis gas asap dapat menjadi indikator yang dapat digunakan untuk mengupayakan pembakaran yang sempuma dengan mengatur besamya udara lebih yang diperlukan untuk pembakaran, yang akan berdampak kepada lebih meningkatnya efisiensi unit pembangkit uap. Pengukuran komposisi gas asap juga bemanfaat untuk digunakan sebagai dasar mengambil tindakan dalam upaya mengatasi pencemaran lingkungan akibat pembakaran bahan bakar fosil. Metode ini sudah umum digunakan, namun agar hasil pengujian dapat diperoleh secar cepat, dapat disusun kurva-kurva untuk menentukan besamya kerugian yang terjadi, untuk pemakaian bahan bakar tertentu. Dengan bantuan dari kurva tersebut, pengujian unit pembangkit uap yang harus dilakukan secara rutin akan lebih mudah dan lebih cepat mendapatkan hasil. Emisi tergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan oleh boiler dan sumber uap yang lain, desain dan operasi ruang pembakaran pada boiler dan sistem pembersihan jenis built-in dan add-on pada keluaran boiler.

Evaluasi Pompa Pada unit pembangkit uap, sebagian besar pompa yang digunakan umumnya ialah pompa bertipe sentrifugal. Gaya sentrifugal ialah sebuah gaya yang timbul akibat adanya gerakan sebuah benda atau partikel melalui lintasan lengkung (melingkar). Keuntungan pompa sentrifugal adalah gerakan impeler yang kontinyu menyebabkan aliran tunak, keandalan operasi tinggi disebabkan gerakan elemen yang sederhana dan tidak adanya katup-katup, kemampuan untuk beroperasi pada putaran tinggi, yang dapat dikopel dengan motor listrik, motor bakar atau turbin uap ukuran kecil sehingga hanya membutuhkan ruang yang kecil, serta lebih ringan, biaya instalasi ringan, harga murah dan biaya perawatan murah. Berdasarkan karakteristik dari pompa sentrifugal, dapat dievaluasi dimana tinggi tekan tekanan diferensial bervariasi dengan keluaran (output) pada kecepatan konstan. Karakteristik dapat juga menyertakan kurva efisiensi dan harga brake horse powernya. Umumnya sebuah pompa sentrifugal akan menaikkan tinggi tekan terbesarnya pada suatu titik, dimana tidak ada aliran yang sering dianggap sebagai shut off head. Jika shut off head kurang dari harga maksimum tinggi tekan, pompa menjadi tidak stabil dan dibawah beberapa kondisi dapat memperbesar daya dan kecepatan fluktuasi yang menyebabkan getaran mekanis yang besar pada sistem pemipaan.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

Performance pompa sentrifugal juga dapat dievaluasi dengan berdasarkan pada suatu parameter yang disebut kecepatan spesifik (specific speed). Hal ini merupakan hubungan antara kapasitas, tinggi tekan, dan kecepatan pada efisiensi optimum yang mengklasifikasikan impeller pompa dengan respek terhadap persamaan geometris. Efisiensi pompa dapat dipengaruhi oleh kavitasi yang terjadi dalam pompa. Untuk menghindati kavitasi diusahakan agar tidak ada satu bagianpun dari aliran didalam pompa yang mempunyai tekanan statis lebih rendah dari tekan uap jenuh cairan pada temperatur yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu diperhatikan dua macam tekanan yang memegang peran penting. Pertama,tekanan yang ditentukan oleh kondisi lingkungan dimana pompa dipasang, dan kedua,tekanan yang ditentukan oleh keadaan aliran didalam pompa. Berhubungan dengan dua hal tersebut, maka didefinisikanlah suatu Net Positive Suction Head (NPSH) atau Head Isap Positif Neto yang dipakai sebagai ukuran keamanan pompa terhadap kavitasi. Ada dua macam NPSH, yaitu NPSH yang tersedia pada sistem (instalasi), dan NPSH yang diperlukan oleh pompa. Pompa terhindar dari kavitasi jika NPSH yang tersedia lebih besar daripada NPSH yang dibutuhkan.

Evaluasi Kondenser Kondenser merupakan komponen pendingin yang sangat penting dan sebagai alat penukar kalor yang memiliki ribuan tube yang mana air pendingin mengalir. Uap air terkondensasi ketika melalui bundel tube dan kontak dengan permukaan tube tersebut. Sistem pendingin mempunyai peranan penting, karena itu diperlukan jumlah air yang relatif besar untuk mengabsorbsi panas yang dilepas oleh uap selama proses kondensasi. Semakin rendah tekanan dikondensor maka semakin besar daya yang bisa dibangkitkan namun tekanan dikondensor tidak boleh terlalu rendah karena akan mengakibatkan kualitas uap yang diekspansikan semakin rendah sehingga terdapat titik-titik air didalam uap yang akan mengakibatkan kavitasi pada last blade turbin. Efisiensi siklus pembangkit uap dapat dinaikkan dengan melakukan beberapa cara, seperti: (a)menurunkan tekanan kondensor, (b)pemanasan lanjut uap, dan

(c)menaikkan tekanan Boiler. Dalam pengembangan selanjutnya, menaikkan efisiensi termal siklus dapat dilakukan pula dengan beberapa cara sebagai berikut: (a sistem pemanasan ulang, (b)sistem regenerasi dan (c)sistem cogenerasi.

Evaluasi dari kinerja unit pembangkit uap di atas perlu dilakukan dalam rangka memastikan agar penyediaan fasilitas dan peralatannya dapat memenuhi kebutuhan
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 8

pabrik. Seringkali suatu pembangkit mengalami masalah dalam proses siklus tenaganya seperti heat loss yang berlebih (over), faktor korosi, maupun kerusakan mekanis. Hal tersebut dapat menimbulkan kerugian yang cukup banyak bila ditinjau dari aspek ekonomi (pabrik tidak dapat beroperasi tanpa adanya aliran listriknya), aspeksosial (meningkatkan kemungkinan kriminalitas bila mati lampu terjadi pada saat malam hari), dan aspek-aspek lainnya. Oleh karena itu evaluasi terhadap sistem pembangkit wajib dilakukan secara berkala agar kejadian-kejadian diatas dapat dicegah atau dikurangi dampaknya secara signifikan (bila memang tidak mungkin untuk dicegah, misalnya korosi, untuk mengurangi laju korosi dapat digunakan proteksi katodik, yaitu dengan mengubah komponen kerja menjadi katoda, dimana dialirkan elektron tambahan ke dalam material.

c. Bagaimana menurut anda perbedaan proses yang terjadi dalam siklus Carnot, siklus Rankine dan siklus proses nyata? Jawab : Perbedaan yang terjadi dalam siklus Rankine dan siklus Carnot adalah sebagai berikut: Siklus Rankine a) Fluida yang digunakan berupa cairan. b) Proses yang terjadi adalah dua tahap isentropik dan dua tahap isobarik. c) Dikembangkan untuk mengatasi kelemahan siklus Carnot (dihambatnya

kemampuan boiler menghasilkan uap superheated oleh kondisi isothermal). Siklus Carnot a) Fluida yang digunakan berupa gas. b) Proses yang terjadi adalah dua tahap adiabatik dan dua tahap isotermal. c) Merupakan siklus termodinamik ideal yang reversibel. d) Tidak mungkin diterapkan karena tidak mungkin mendapatkan suatu siklus yang mutlak reversibel di keadaan nyata, tetapi dapat dianggap sebagai kriteria pembatas untuk siklus-siklus lainnya. Siklus Proses Nyata a) Kompresi yang dilakukan oleh pompa dan ekspansi yang terjadi di dalam turbin tidak isentropik. b) Sebuah mesin nyata (real) yang beroperasi dalam suatu siklus pada temperatur TH and TC tidak mungkin melebihi efisiensi mesin Carnot.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

c) Proses yang terjadi tidak reversibel dan terdapat peningkatan entropi selama proses kompresi dan ekspansi berlangsung.

d. Bagaimana menurut anda jika siklus tenaga uap Carnot merupakan model yang sesuai untuk pembangkit tenaga uap sederhana? Jawab : Sistem pembangkit daya tenaga uap merupakan salah satu mesin kalor dengan sistem pembakaran luar. Pembakaran dilakukan di luar mesin untuk menghasilkan energi panas yang kemudian ditransfer ke uap. Energi input tersebut kemudian sebagian diubah menjadi kerja oleh turbin dan sebagian lagi dilepas ke lingkungan yang memiliki temperatur yang lebih rendah. Pembangkit tenaga uap menggunakan siklus uap tertutup, dimana pada prosesnya uap yang telah memutar turbin dengan energinya akan dikondensasikan kembali menjadi air dan akan dipompakan ke boiler. Selanjutnya air tersebut akan dipanaskan kembali di dalam boiler, sehingga menghasilkan uap. Siklus ini terjadi terus menerus. Urutan proses pada pembangkit tenaga uap seperti yang telah dipaparkan pada jawaban 1b, bahwa : Pada pompa terjadi proses isentropis. Pada boiler terjadi proses isobarik. Pada turbin terjadi proses isentropis. Pada kondensor terjadi proses isobarik.

Meskipun siklus Carnot merupakan siklus yang efisien, akan tetapi kurang cocok untuk diterapkan pada sistem tenaga uap. Hal ini disebabkan, karena pada siklus Carnot proses yang terjadi secara berurutan adalah adiabatik, isotermal, adibatik, dan isotermal. Sedangkan apabila kita melihat proses yang terjadi pada siklus pembangkit tenaga uap, siklus Carnot bukanlah pilihan yang tepat. Beberapa hal yang membatasi penerapan siklus Carnot pada sistem tenaga uap adalah: 1. Proses pemasukan dan pembuangan kalor yang dilakukan secara isotermal hanya mudah dilakukan ketika berada pada daerah perubahan fase cair-uap. Pada kenyataannya daerah perubahan fase cair-uap sangat terbatas, sehingga membatasi daerah kerja sistem tenaga uap apabila menggunakan siklus Carnot. Selain itu, keterbatasan temperatur maksimum juga akan membatasi efisiensi termal dari siklus Carnot.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

10

2. Proses kompresi dan ekspansi isentropik pada Pompa dan Turbin dilakukan pada kondisi uap campuran (uap basah). Kandungan uap pada liquid tentunnya kurang baik bagi kerja pompa, sebaliknya adanya kandungan cairan kurang baik juga untuk kerja turbin. Kekurangan-kekurangan tersebut yang mengakibatkan siklus Carnot menjadi kurang realistik atau tidak dapat diterapkan dalam sistem tenaga uap. Oleh karena itu, menurut kami dalam penerapan pada pembangkit tenaga uap, kurang sesuai jika menggunakan siklus Carnot. Seperti yang telah dipaparkan pada jawaban 1.c di atas mengenai perbedaan antara siklus Carnot dan siklus Rankine, pada pembangkit tenaga uap ini akan lebih sesuai jika siklus yang digunakan adalah siklus Rankine karena pada proses penerapannya sesuai.

e. Bagaimana pengaruh kondisi operasi dan konfigurasi suatu siklus terhadap nilai efisiensi secara keseluruhan? Dan bagaimana pengaruh sifat irreversibilitas terhadap siklus tenaga? Jawab : Pengaruh kondisi operasi dan konfigurasi suatu siklus terhadap nilai efisiensi secara keseluruhan. Sebuah batasan pada kinerja sistema yang menjalani siklus daya dapat dijelaskan dengan menggunakan pernyataan Kevin-Planck tentang hukum kedua termodinamika. Misalkan siklus tenaga seperti gambar di bawah ini.

Gambar 3. Analogi Siklus Daya

Efisiensi termal dari siklus tersebut adalah (10)

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

11

Dengan

adalah efisiensi termal,

H adalah jumlah energi yang diterima sistem dari

reservoir panas melalui perpindahan panas dan Qc adalah jumlah energi yang dilepaskan dari sistem ke reservoir dingin melalui perpindahan kalor. Berdasarkan efek Carnot (Carnot corollaries) kedua sebagai berikut: Semua siklus daya reversibel (sempurna) yang beroperasi di antara dua reservoir yang sama mempunyai efisiensi termal yang sama. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa siklus harus memilki efisiensi yang sama apa pun pilhan zat kerja atau urutan (konfigurasi) proses yang terjadi selama siklus tersebut berlangsung secara reversibel (sempurna) dan beroperasi pada reservoir termal yang sama. Dengan demikian, efisiensi hanya bergantung pada temperatur kedua reservoir tersebut. Perbedaan temperatur memberikan dorongan untuk terjadinya perpindahan kalor antara keduanya begitu pula untuk produksi kerja selama proses. Oleh karena itu, persamaan efisiensi termal (10) dapat ditulis sebagai fungsi temperatur seperti berikut: ...(11) Dengan TC adalah temperatur pada reservoir dingin dan T H adalah temperatur pada reservoir panas. TC dan TH dalam skala temperatur absolut yaitu Kelvin atau Rankine. Persamaan (11) di atas adalah efisiensi termal untuk semua siklus daya reversibel yang beroperasi di antara dua reservoir termal pada temperatur T C dan TH, serta merupakan

efisensi maksimum yang dapat dicapai oleh setiap siklus daya yang beroperasi di antara dua reservoir termal. Jadi, bila diasumsikan bahwa siklus berlangsung secara reversibel (sempurna) maka efisiensi siklus secara keselurahan hanya dipengaruhi oleh suhu mutlak dari masing-masing reservoir tanpa dipengaruhi oleh kondisi operasi dan konfigurasi proses. Hal ini merupakan bentuk idealisasi siklus guna menentukkan efesiensi maksimum yang dapat dicapai suatu siklus. Pada praktek nyatanya, siklus semacam ini tidaklah mungkin terjadi, di mana faktor ireversibilitas sangat berpengaruh terhadap kinerja siklus dan berimplikasi pada efisiensi siklus secara keseluruhan. Pengaruh sifat ireversibilitas terhadap siklus tenaga Salah satu kegunaan penting dari hukum termodinamika kedua dalam teknik rekayasa adalah untuk menentukan kinerja teoritis terbaik sistem. Biasanya kinerja terbaik dievaluasi sebagai fungsi dari proses yang diidealisasikan (proses berlangsung secara reversible). Suatu
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 12

proses dikatakan bersifat ireversibel bila sistem dan semua bagian dari sekelilingnya tidak dapat kembali tepat kepada keadaan awalnya setelah proses berlangsung. Sedangkan proses reversible merupakan proses dimana sistem dan sekelilingya dapat kembali kepada keadaan awalnya. Pada praktik nyata, proses ireversibel merupakan proses yang umum terjadi secara spontan, contohnya perpindahan kalor dari permukaan dengan temperatur tinggi ke temperatur yang lebih rendah. Atau secara sederhana dapat dikatan semua proses actual adalah ireversibel. Sifat ireversibilitas muncul secara alamiah sebagai penghambat suatu siklus tenaga bekerja secara maksimum. Terdapat banyak pengaruh yang muncul selama suatu proses berlangsung sehingga menyebabkan ireversibilitas. Gesekan, tahnanan listrik, dan deformasi tak elastic merupakan contoh-contoh penting. Begitu sutu sistem menjali proses, ireversibilitas akan segera ada di dalam sistem dan juga sekelilingnya, walaupun mungkin saja hanya terjadi dominan di satu tempat. Pengaruh ireversibilitas pada suatu siklus tenaga dapat dijelaskan menggunakan efek Carnot (Carnot corollaries) pertama sebagai berikut: Efesiensi termal dari sebuah siklus daya ireversibel selalu lebih kecil dari efisiensi sebuah siklus daya reversible ketika masing-masing beroperasi di antara dua terservoir panas yang sama.. Dari efek carnot pertama, dapat disimpulkan bahwa adanya ireversibilitas selama berlangsungnya sebuah siklus merupakan sebuah kerugian. Hal ini bisa terlihat dari kerja neto yang dihasilkan oleh siklus ireversibel akan lebih kecil dan berarti memiliki efisiensi termal yang lebih kecil.

f. Diketahui unit pembangkit tersebut menggunakan air sebagai fluida kerja dalam siklus Rankine ideal. Uap hasil pemanasan lanjut pada 8 MPa dan 480 oC masuk ke dalam turbin, tekanan kondenser adalah 8 kPa dan keluaran daya netto siklus adalah 100 MW. Bagaimana anda membuat evaluasi secara kuantitatif terhadap kinerja sistem ini? Bagaimana tanggapan anda terhadap hasil yang diperoleh? Jawab: Evaluasi kuantitatif yang dapat dilakukan terhadap sistem tersebut adalah dengan cara menghitung efisiensi dari sistem. Diketahui: Siklus Rankine ideal
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 13

Pada turbin: P1 = 8 MPa, T1 = 480oC Pada kondenser: P2 = 8 kPa Wcycle = 100 MW

Ditanyakan: efisiensi ( ) Jawab: Efisiensi didapatkan dengan persamaan: (12)

Nilai QH yang dibutuhkan untuk menghitung efisiensi dapat dihitung dengan persamaan:

(13) Nilai Qc sendiri bisa didapatkan dengan persamaan: (14)

Untuk menyelesaikan persamaan (14), maka dibutuhkan data entalpi dari fluida yang bekerja saat di kondenser dan turbin. o Kondenser Keadaan fluida pada saat memasuki kondenser adalah saturated vapor, sehingga entalpi pada kondenser adalah entalpi saturated vapor pada tekanan 8 kPa, seperti yang diketahui dari soal, yaitu 2576,2 kJ/kg. o Turbin Keadaan fluida pada saat memasuki turbin adalah superheated vapor, sehingga entalpinya bisa didapatkan dari tabel superheated pada tekanan 8 MPa dan suhu 480oC. Entalpi pada turbin didapatkan sebesar 3348,92 kJ/kg. Dengan mengasumsikan bahwa massa fluida yang digunakan adalah sebanyak 1 kg, maka nilai Qc bisa didapatkan:

Tanda negatif menandakan bahwa kalor dikeluarkan dari sistem selama proses dari turbin ke kondenser.
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 14

Selanjutnya, nilai QH bisa didapatkan dengan mensubstitusikan nilai Q c ke dalam persamaan (13):

Efisiensi persamaan(12):

kemudian didapatkan dengan mensubstitusikan nilai

Q H ke dalam

Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa efisiensi siklus sangat baik dan mendekati angka 1, yang menandakan bahwa hampir seluruh kalor yang diberikan yang dikonversi menjadi kerja oleh sistem. Namun, dalam aplikasi secara nyata, hal ini tidak mungkin terjadi. Hal ini disebabkan oleh kompresi yang dilakukan oleh pompa dan ekspansi yang dilakukan oleh turbin tidaklah berlangsung secara isentropic, sehingga menambah daya yang dibutuhkan oleh pompa dan mengurangi daya yang dihasilkan oleh turbin.

Tugas 2
a. AC merupakan salah satu aplikasi siklus Refrijerasi Kompresi Uap. Bagaimana anda menjelaskan mekanisme kerja siklus tersebut? Jawab :

Gambar 4. Diagram T-s untuk siklus refrigerasi actual vapor-compressed

Siklus ini terdiri atas 4 proses yaitu: Proses 1-2 : Kompresi uap isentropik pada kompresor (tekanan naik)

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

15

Proses 2-3 : Pada tekanan konstan, uap didinginkan dan dikondensasikan (terjadi pelepasan panas dan menjadi cairan) Proses 3-4 : Terjadi proses ekspansi (tekanan kembali ke awal) Proses 4-1 : Cairan berevaporasi pada tekanan konstan (terjadi penyerapan panas) Pada diagram TS terlihat adanya garis putus-putus (3 - 4) yang menunjukan kondisi isentropik. Selain itu ada juga garis lurus dari 3 4 yang menunjukan kondisi isentropik. Pada siklus kompresi-uap, refrijeran akan memasuki kompresor pada keadaan 1 sebagai uap jenuh dan dikompres secara isentopik pada tekanan kondenser. Temperatur refrijeran akan naik selama proses isentropik ini. Refrijeran kemudian memasuki kondenser sebagai uap lewat jenuh pada keadaan 2 dan meninggalkannya sebagai cair jenuh pada keadaan 3. Temperatur refrijeran di sini tetap di atas temperatur sekitar. Cair jenuh yang ada pada keadaan 3 kemudian dithrottle menuju tekanan evaporator dengan melewatkannya pada katup ekspansi atau tabung kapiler (entalpi konstan). Temperatur refrijeran akan turun di bawah temperatur dari ruangan yang didinginkan selama proses berlangsung. Refjireran kemudian memasuki evaporator pada keadaan 4 sebagai keadaan campuran jenuh kualitas rendah dan refrijeran ini kemudian berevaporasi sebagai uap jenuh dan memasuki kompresor kembali untuk menyempurnakan siklusnya. Keempat peralatan yang digunakan bekerja dalam kondisi steady state. Perubahan energi kinetik dan potensial dari refrijeran sangat kecil sehingga seringkali diabaikan. Berikut persamaan energi dengan basis unit massa :

(qin qout ) (win wout ) he hi

...(15)

Gambar 5. Diagram p-h daur kompresi uap

Kondenser dan evaporator tidak terlibat dalam kerja. Kompresor bekerja secara adiabatik. Maka, COP (Coefficient of Performance) dari pendingin dan heat pump =

COPR

qL h h4 1 wnet,in h2 h1

...(16)

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

16

COPHP
Cara kerja AC

h h3 qH 2 wnet,in h2 h1

...(17)

Mesin pendingin udara ruangan (Air Conditioner/AC) adalah alat yang menghasilkan dingin dengan cara menyerap udara panas sekitar ruangan. Proses udara menjadi dingin adalah akibat dari adanya pemindahan panas, sedangkan bahan yang digunakan sebagai bahan pendingin dalam mesin pendingin disebut refrigeran. Di dalam Air Conditioner dibagi menjadi 2 ruang, yaitu ruang dalam dan ruang luar. Di bagian ruang dalam udaranya dingin karena adanya proses pendinginan. Di bagian ruang luar digunakan untuk melepaskan panas ke udara sekitar. Secara umum gambaran mengenai prinsip kerja AC adalah: Penyerapan panas oleh evaporator Pemompaan panas oleh kompresor Pelepasan panas oleh kondensor

Prinsip kerja AC pemindahan panas diperlukan energi tambahan yang ekstra besar karena udara yang didinginkan skalanya lebih besar dan banyak. Di dalam mesin Air Conditioner (AC) bentuk refrigeran berubah-ubah bentuk dari bentuk gas ke bentuk cairan. Pada kompresor refrigeran masih berupa uap, tekanan dan panasnya dinaikkan dengan cara dimampatkan oleh piston dalam silinder kompresor. Kemudian uap panas tersebut didinginkan pada saluran pipa kondensor agar menjadi cairan. Pada saluran pipa kondenser diberi kipas untuk mempercepat proses pendinginan. Proses pelepasan panas ini disebut teknik pengembunan. Selanjutnya cairan refrigeran dimasukkan ke dalam evaporator dan dikurangi tekanannya sehingga menguap dan menyerap panas udara sekitar. Di dalam AC bagian dalam ruangan, udara dingin disebarkan menggunakan kipas blower. Dalam bentuk uap (gas) refrigeran dihisap lagi oleh kompresor. Demikian proses tersebut berulang terus sampai gas habis terpakai dan harus diisi kembali.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

17

Gambar 6. Diagram alur AC

Siklus Aliran Udara Di bagian ruang dalam yang udara di sekitarnya panas akan digantikan oleh udara yang telah didinginkan melalui kipas blower. Udara panas akan terserap masuk ke dalam kipas blower dan didinginkan didalam ruang kipas blower.

Gambar 7. Siklus aliran udara AC

Di bagian luar ruangan terdapat kondesor yang melepas panas refrigeran setelah proses pemampatan kompresor. Untuk mempercepat proses pelepasan panas maka ditambahkan kipas.

b. Dapatkah anda mendeskripsikan komponen-komponen yang terdapat dalam siklus refrijerasi kompresi uap? Jawab : Komponen-komponen utama yang terdapat dalam siklus refrijerasi kompresi uap adalah evaporator, kompresor, kondensor, dan katup ekspansi.
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 18

Gambar 8. Bagan komponen Air Conditioner

Evaporator Evaporator atau sering juga disebut boiler, freezer, froster, cooling coil, chilling unit , dan lain-lain. Evaporator berfungsi sebagai pengambil panas (menyerap panas) dari udara atau didalam mesin pendingin yang akan didinginkan. Di dalam evaporator, terjadi perubahan wujud refrigeran dari cairan menjadi uap. Proses perubahan wujud ini memerlukan energi yang sangat besar yang diambil dari lingkungan dalam ruang pendingin. Ketika proses penguapan refrigeran terjadi, panas yang ada di dalam ruang pendingin akan diambil. Kompresor yang sedang bekerja menghisap bahan pendingin gas dari evaporator, sehingga tekanan di dalam evaporator menjadi rendah dan vakum. Evaporator diletakkan di dalam ruangan yang sedang didinginkan. Evaporator terletak pada sisi tekanan rendah, yaitu diantara alat pengatur bahan pendingin dan kompresor. Terdapat dua jenis Evaporator yaitu: Evaporator ekspansi langsung (direct/dry expansion type) Pada ekpansi langsung, refrigeran langsung menguap di dalam coil pendingin dan kontak langsung dengan objek yang diinginkan karena pada bagian keluarannya dirancang selalu terjaga kering agar refrigeran yang berfasa cair telah habis menguap sebelum terhisap keluar ke saluran masuk kompresor.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

19

Evaporator ekspansi tidak langsung (indirect/wet expansion type) Pada ekspansi tidak langsung, digunakan medium perantara untuk mengambil panas saat

penguapan. Medium perantara ini kemudian dipompakan ke objek yang akan didinginkan. Evaporator tidak langsung digunakan jika lokas pendinginan berada di tempat yang berjauhan. Medium perantara yang sering digunakan adalah air jika suhu masih diatas beku, dan larutan garam (campuran CaCl2 dan etilen atau propilen glikol) untuk suhu yang lebih rendah dari suhu beku. Kompresor Kompresor adalah komponen yang merupakan jantung dari sistem refrigerasi. Kompresor berfungsi untuk meningkatkan suhu dan tekanan dari refrigeran setelah keluar dari evaporator. Kerja dari kompresor adalah menghisap uap refrigeran dari evaporator dan mendorongnya dengan cara mengkompresnya menjadi uap bertekanan tinggi, sehingga uap akan tersirkulasi dan mengalir masuk ke kondenser. Antara evaporator dan kondenser yang dihubungkan dengan kompresor, terjadi perbedaan tekanan, dimana pada kondenser tekanan refrigeran menjadi tinggi (high pressure/HP), sedangkan di evaporator tekanan refrigeran menjadi rendah (low pressure/LP). Oleh karena itu, refrigeran mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Kebanyakan kompresor-kompresor yang dipakai adalah dari jenis torak (piston). Jika piston bergerak turun dalam silinder, katup hisap terbuka dan uap refrigeran masuk dari saluran hisap ke dalam silinder. Daya hisap dan kemampuan kompresor bergantung dari kecepatan gerak dan udara dari semua bagian yang berhubungan dengan katup ini. Pada saat piston bergerak ke atas, tekanan uap di dalam silinder meningkat dan katup hisap menutup, sedangkan katup tekan akan terbuka, sehingga uap refrigean akan ke luar dari silinder melalui saluran tekan menuju ke kondensor. Katup hisap dan katup tekan (buang) biasanya terbuat dari bahan yang sama, yaitu baja khusus (compressor valve steel). Kondensor (pengembun) Kondensor adalah alat untuk membuat kondensasi bahan pendingin dari kompresor dengan suhu tinggi dan tekanan tinggi. Pada kondensor terjadi perubahan wujud refrigeran dari uap super-heated bertekanan tinggi ke cairan sub-cooled bertekanan tinggi dimana tekanan dan temperaturnya masih tetap tinggi. Agar terjadi perubahan wujud refrigeran (condensing), maka kalor uap refrigeran dilepaskan ke lingkungan. Kalor yang dikeluarkan

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

20

dari refrigeran berasal dari kalor yang diserap dari evaporator (ruang yang didinginkan) dan kalor yang dihasilkan oleh kompresor. Kondensor berfungsi untuk membuang kalor dan mengubah wujud refrigeran dari gas menjadi cair. Posisi kondensor berada diantara kompresor dan alat pengatur refrigeran (bahan pendingin), yaitu pada sisi tekanan tinggi dari sistem. Kondensor diletakkan di luar ruangan agar dapat membuang panasnya ke luar kepada zat yang mendinginkannya (terjadi proses pendinginan). Media pengembun refrigeran pada kondensor bisa berupa udara ( air cooled condenser), air (water-cooled condenser) atau campuran udara dan air (evaporative condenser). Untuk media pendingin udara bisa terjadi secara konveksi alami maupun konveksi paksa (forced konvection). Pada sistem AC split, kondensor dan kompresor tergabung dalam condensing unit. Untuk memperbesar perpindahan kalor, pada konstruksi pipa-pipanya diberi sirip-sirip (fins). Selain untuk memperluas permuakaan pipa, sirip-sirip ini juga untuk menambah kekuatan konstruksi dari kondensor. Seperti yang telah diterangkan bahwa refrigeran meninggalkan kompresor dalam bentuk uap yang bertekanan tinggi dan bersuhu tinggi pula. Uap ini harus dicairkan untuk dapat dicairkan lagi. Hal tersebut menjadi tugas kondensor. Kondensasi merupakan proses pelepasan kalor refrigeran superheat ke lingkungan sehingga fasanya berubah dari uap menjadi cair jenuh tetapi tekanan dan temperaturnya masih tetap tinggi. Katup Ekspansi (Expansion Valve) Katup ekspansi adalah alat yang berfungsi untuk mengekspansikan refrigeran, sehingga tekanannya turun. Refrigeran yang keluar dari kondensor mempunyai suhu dan tekanan tinggi, sedangkan refrigeran yang masuk ke dalam evaporator harus memiliki suhu dan tekanan rendah. Oleh karena itu, untuk menurunkan suhu dan tekanan tinggi ini diperlukan suatu alat ekspansi. Katup ekspansi ini seperti gerbang yang mengatur banyaknya refrigeran cair yang boleh mengalir ke dalam evaporator, sehingga sering dinamakan refrigerant flow controller. Besarnya laju aliran refrigeran merupakan salah satu faktor yang menentukan besarnya kapasitas refrigerasi. Pada sistem refrigerasi yang kecil, maka laju aliran refrigeran yang diperlukan juga kecil, sedangkan sistem refrigerasi yang besar akan mempunyai laju aliran refrigeran yang besar pula.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

21

c. Pendingin ruangan yang dikenal sebagai AC (air-conditioner) pada umumnya kini menggunakan refrijeran R-134a menggantikan refrijeran R-12. Jika sebuah AC merek AsalDinGin berkapasitas 1 PK memiliki spesifikasi sebagai berikut: Cooling Capacity: 9.000 BTU/h Timer: 24 Hours Timer Air Purifying: Vitamin C Filter Special Feature 1: Jet Function Special Feature 2: Washable PP Filter Special Feature 3: Remote Control: Yes Power Consumption: 950 W Garansi: 3 th compresor 1 th sparepart

Perkirakanlah laju alir massa refrijeran pada AC tersebut dan coefficient of performance AC tsb, dengan menuliskan semua asumsi yang Anda gunakan yang diusahakan mendekati kenyataan yang ada! Jawab : Diketahui: QL = 9000 Btu/h; -W = 950 W Ditanya : laju alir massa (m); COP Asumsi: Sistem beroperasi dalam keadaan steady state. Perubahan energi kinetik dan potensial diabaikan. Siklus refrigerasi yang terjadi adalah actual vapor-compressed. Refrigerant memasuki kompresor sebagai slightly superheated vapor dan

meninggalkan kondenser sebagai subcooled; pada siklus aktual sulit untuk mengontrol state refrigerant dengan tepat. Kompresor dipengaruhi friksi yang mempengaruhi volume spesifik dan kondisi refrigerant tidak lagi isentropik. Untuk kondisi tekanan dan suhu masuk-keluaran digunakan: Refrigerant 134a memasuki kompresor pada tekanan 0,14 MPa dan suhu -10oC; meninggalkan kompresor pada tekanan 0,8 MPa dan suhu 50oC. Refrigerant memasuki kondenser pada tekanan 0,72 Mpa dan suhu 26oC dan dilewatkan ke throttle pada tekanan 0,15 MPa. (Data angka-angka yang diperoleh

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

22

dari berbagai contoh soal pada buku Cengel (Chapter 11) untuk siklus refrigerasi dengan refrigerant 134-a). Analisis: Kondisi refrigerant pada diagram T-s di atas diambil dari Tabel A-11 (Cengel) untuk refrigerant 134-a. Kondisi 1 (lihat saturated table): P1 = 0,14 MPa = 20,314 psia T1 = -10oC =14oF Ps = 29 psia karena Ps > P1, maka uap dalam keadaan superheated dari superheated table h1 = 246,36 kJ/kg; s1 =0,94456 kJ/kg K Kondisi 2: Isentropik P2 = 0,8 MPa s1 = s2s Aktual P2 = 0,8 MPa T2 = 50oC Kondisi 3: P3 = 0,72 MPa T3 = 26oC Ts = 81,71oF = 27,62oC karena Ts > T3, maka uap saturated dari saturated table, Ts = 81,81oF = 27,62oC Ts > T3 subcooled karena table subcooled tidak tersedia, maka nilai h3 diambil dari hf pada suhu 26oC h3 = 87,83 kJ/kg Kondisi 4: Pada throttle, nilai h4 = h3 = 87,83 kJ/kg Karena kompresor tidak isentropik, efisiensi kompresor pada siklus ini adalah,
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 23

h2s = 284,21 kJ/kg

h2 = 286,69 kJ/kg

h2 s h1 284,21 246,36 0,938 93,8% h2 h1 286,69 246,36

Laju alir massa refrigerant pada AC dapat dihitung menggunakan persamaan,


Q W me he Ek Ep mi hi Ek Ep m2 u 2 m1u1

karena kondisi sistem steady state dan perubahan energi potensial dan energi kinetik diabaikan maka
Q W me he mi hi

Untuk menghitung laju massa dapat dilihat pada sistem evaporator

W m 0; e he m i hi W Q m h m h m h h Q
1 1 4 4 1 4

1 m 4 m m

Q m h1 h4 9000 Btu h 1,055kW . . h 3600 s Btu 0,01664kg / s m 246,36 87,83kJ / kg


Laju massa pada evaporator seharusnya sama dengan laju massa pada kompresor dan unit lainnya. Jika dilihat dari sistem kompresor, maka laju massa dapat dihitung dengan persamaan berikut:

W 0; m m e he m i hi Q 1 m 2 m Q m h m h m h h W
2 2 1 1 2 1

m m

W h2 h1 950.10 3 kW 0,02356kg / s 286,69 246,36kJ / kg

Hasil laju massa jika ditinjau dari sistem kompresor berbeda dengan hasil dari tinjuan pada evaporator. Hal ini dapat disebabkan oleh: o Asumsi tekanan dan suhu kurang tepat. Untuk memperoleh nilai laju massa yang tepat dapat digunakan cara berikut.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

24

kompresor m evaporator m W Q h2 h1 h1 h4 .h Q .h .h W h Q W 1 4 2 1 W .h Q.h Q.h W h


1 1 2

.h W h h W Q Q 2 4 1

Jika kondisi masuk dan keluaran (1 dan 2) dipertahankan, nilai h 4 yang diperoleh adalah 134,4 kJ/kg. Harga entalpi ini lebih tinggi dibanding harga entalpi yang telah dihitung pada asumsi awal; suhu fluida saat masuk expansion valve juga menjadi lebih tinggi dari suhu yang keluar dari kompresor. o Nilai power consumption pada spesifikasi AC adalah nilai maksimum, yaitu ketika friksi dan pressure drop tidak diperhitungkan.

Nilai coefficient of performance (COP) dapat diselesaikan dengan cara membagi kalor yang diserap dari daerah yang didinginkan oleh AC dengan kerja yang dibutuhkan sebagai berikut:
Q COPR L W 9000 Btu h 1,055kW . . h 3600s Btu 2,7763 3 950.10 kW

d. Jika refrijeran R-134a diganti dengan salah satu dari tiga hidrokarbon berikut: etana, propana, dan butana; manakah yang anda pilih sebagai fluida kerja pengganti R-134a? Berikanlah alasan anda lihat dari segi termodinamika lengkap dengan berbagai perhitungan yang menunjang. Jawab : Ada beberapa parameter yang dapat dipertimbangkan dalam memilih refrijeran untuk menggantikan R-134a. Yang utama adalah suhu antara refrijeran dan media yang didinginkan harus dijaga perbedaannya antara 5-10oC. Dalam penggunaan AC, biasanya suhu media yang didinginkan dijaga pada 25oC. Refrijeran pada suhu 25oC harus memiliki tekanan jenuh yang lebih besar dari tekanan atmosfir. Tekanan terendah pada siklus refrijerasi terjadi di evaporator, dan tekanan di refrijeran harus lebih besar dari tekanan atmosfir untuk mencegah kebocoran udara ke dalam sistem refrijerasi. Oleh karena itu, pemilihan pengganti R-134a dapat dilihat dari tekanan jenuhnya pada suhu 25oC.
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 25

Tekanan jenuh dari R-134a, etana, butane dan propane pada suhu 25oC didapatkan dari Perrys Chemical Engineers Handbook 8th Edition: R-134a Suhu (K) 290 300 Tekanan jenuh (MPa) 0,51805 0,70282

Tekanan pada 25oC (298 K) didapatkan dengan cara menginterpolasi tekanan pada suhu 290 K dan 300 K:

Propana Suhu (K) 295 310 Tekanan jenuh (MPa) 0,87805 1,2726

Tekanan pada suhu 25oC (298 K) didapatkan dengan cara menginterpolasi tekanan pada suhu 295 K dan 310 K:

Butana Suhu (K) Tekanan Jenuh (MPa)

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

26

290 305

0,18734 0,29946

Tekanan pada 25oC (298 K) didapatkan dengan cara menginterpolasi tekanan pada suhu 290 K dan 305 K:

Etana Suhu (K) 290 300 Tekanan Jenuh (MPa) 3,5159 4,3573

Tekanan pada 25oC (298 K) didapatkan dengan cara menginterpolasi tekanan pada suhu 290 K dan 300 K:

Dari data-data di atas, dapat dilihat bahwa refrijeran yang tekanannya mendekati tekanan R-134a pada suhu 25oC adalah refrijeran propana. Selain itu, keunggulan propana dibanding pilihan refrijeran lainnya adalah propana tidak berpotensi menimbulkan penipisan lapisan ozon dan pemanasan global. Propana juga tidak bersifat beracun. Selain itu, propana dapat meningkatkan efisiensi sistem refrijerasi karena kalor latennya lebih tinggi dibanding refrijeran sintetis sehingga kapasitas pendinginannya lebih tinggi.

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

27

e. Refrijeran 12 adalah fluida kerja pada siklus refrijerasi kompresi uap ideal yang berhubungan secara termal dengan daerah dingin pada 20 oC dan cairan jenuh meninggalkan kondensor pada 40 oC. laju alir massa refrijeran adalah 0,008 kg/s. Tentukan : (a) Daya kompresor, dalam horse power (b) Kapasistas refrijerasi, dalam ton (c) Koefisien kinerja dari siklus refrijerasi Carnot yang beroperasi antara daerah dingin dan hangat pada 40 oC dan 20 oC. Jawab : Diketahui :

Gambar 9. Skema Proses Siklus Refrijerasi Ideal dan Diagram T-s

Ditanya : a. b. c. c =..? in=..?


max

= ?

Jawab : Asumsi: 1. Setiap sistem yang dianalis berada pada control volum (ditunjukkan ooleh batasan sistem) 2. Sistem steady state/ tunak
Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika 28

3. Semua komponen sistem kecuali katup ekspansi bersifat reversible. 4. Katup ekspansi berkerja secara throttling process. 5. Energi potensial dan kinetic diabaikan 6. Sistem kompresor bersifat isentropic (sesuai gambar grafik T-s ) 7. Kompresor dan katup ekspansi (throttling) beroperasi secara adiabatic 8. Uap jenuh refrijeran masuk ke dalam kompresor, dan cairan jenuh meninggalkan kondensor Analisis setiap kondisi: Dengan menggunakan tabel di bawah :
Tabel 1. Saturated Refrigerant R-12 Sumber: Sumber : thermofluids.sdsu.edu//TsatR12.html

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

29

Tabel 2. Superheated Refrigerant R-12 Sumber: Sumber : thermofluids.sdsu.edu//TsatR12.html

Kondisi 1 Refrijeran dalam keadaan uap jenuh dengan T1= 20 oC h1 = 195,78 Kj/Kg s1 = 0,6884 Kj/Kg.K

Kondisi 2 Refrijeran dalam keadaan superheated. Asumsi berdasarkan grafik T-s didapat P2 = P3 1 Mpa (T 40 oC). Dan s2 = s1 = 0,6884 Kj/Kg.K

Dengan melihat tabel superheated pada kondisi s1dan P2 Interpolasi :

h2= 204,4 Kj/Kg Kondisi 3 Refrijeran dalam keadaan cairan jenuh dengan T3 = 40 oC h3 = 74,59 Kj/Kg s3= 0,2718 Kj/Kg.K Kondisi 4 Refrijeran dalam keadaan campuran uap dan cairan dengan T 4 = T1 = 20 oC. Berdasarkan asumsi (4), maka h3 = h4 = 74,59 Kj/Kg a. Menghitung Daya yang dibutuhkan oleh kompresor

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

30

Gambar 10. Skema proses pada kompresor

Neraca aliran massa steady state: 1= 2 = Neraca energi steady state:

c= c c b. Menghitung kapasitas refrijerasi

Gambar 11. Skema proses pada evaporator

Neraca aliran massa steady state: 4= 1 =

Neraca energi steady state:

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

31

in = ( ) = c. Koefisien kerja siklus Carnot TC = 20oC = 293 K TH = 40oC = 313 K max =

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

32

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. R290 Refrigerant Grade Propane. http://www.lindeus.com/internet.lg.lg.usa/en/images/Linde%20R290%20Refrigerant%2 0Grade%20Propane138_11493.pdf. Diakses pada 24 Maret 2013 pukul 08.00 Anonim. Siklus Kompresi Uap Sunyoto. http://www.crayonpedia.org/mw/BAB_23_SIKLUS_KOMPRESI_UAP_SUNYOTO. Diakses pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 19.00. Cengel, Y.A., Boles, M.A. 2006. Thermodynamics: An Engineering Approach, 5thed. McGraw-Hill. Cengel A. Yunus & Boles.A. Michael. 2007. Thermodynamics, An Engineering Approach Sixth Edition (SI Unit s ). Mc Graw Hill. Singapore. Green, D.W., Perry, R.H. 2006. Perrys Chemical Engineers Handbook 8th Edition. McGrawHill. Marner W.J., "Progress in Gas Side Fouling of heat Transfer Surfaces", Appl. Mech. Rev, Vol. 43, 1990. Moran, J.M. and Shapiro, H.N., Fundamentals of Engineering Thermodynamics, 4th edition, JohnWiley & Sons, New York, 2000. Paryatmo, Wibowo. PEMBUATAN DIAGRAM HASIL ANALISIS GAS ASAP UNTUK EVALUASI KINERJA ALAT PEMBANGKIT UAP, Jurnal Teknik Universitas Pancasila, No. 6 / Vol.17 / December 2004. PT. Indonesia Power, Data Ultimate Analysis bahan bakar unit-3, Semarang Indonesia, 2005. Soekardi Chandrassa. 2001. Prediksi Karakteristik Termal Sebuah Penukar Kalor Dampak Pemilihan Faktor Pengotoran Yang Konstan, Jakarta, Volume 4 Nomor 2, April. Sulaiman. 2008. EFEKTIVITAS KONDENSOR PADA PLTU P. T. SEMEN TONASA PANGKEP, Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 9, No. 28. April. Team Sekard. 2012. Sistem Refrigerasi. http://team-sekard.blogspot.com/2012/03/sistemrefrigerasi.html. Diakses pada tanggal 19 Maret 2013

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

33

LAMPIRAN

Gambar 1. Balance Massa dan Energi pada Boiler

(a)

(b)

Gambar 2. Laju Alir Massa (a) dan Biaya (b) Beberapa Bahan Bakar untuk Daya 51465 kW

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

34

Gambar 3. Bagian-Bagian Utama Pompa Sentrifugal

Kelompok 3 Hukum 2 dan Siklus Termodinamika

35