Anda di halaman 1dari 8

Tugas Besar

PENGONTROLAN FREKUENSI MOTOR INDUKSI 1 PHASA DENGAN CYCLOCONVERTER 1 PHASA

OLEH :

MUHAMMAD ARSIL MUHAMMAD SYIFAAI P.

321 11 033 321 11 034

3B LISTRIK

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLTEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG MAKASSAR 2013

PENGONTROLAN FREKUENSI MOTOR INDUKSI 1 PHASA DENGAN CYCLOCONVERTER 1 PHASA Oleh : MUHAMMAD ARSIL 321 11 033 MUHAMMAD SYIFAAI P. 321 11 034

ABSTRAK Untuk menjalankan peralatan berat di dunia industri, terkadang kita membutuhkan suatu sumber AC dengan amplituda dan frekuensi yang berbeda dengan sumber AC yang disediakan oleh jaringan jala-jala/grid. Dalam hal ini jala-jala yang disediakan oleh PT.PLN adalah bertegangan 220 AC 50 Hz. Untuk mengubah tegangan AC 50 Hz tersebut, biasanya kita menggunakan suatu rangkaian elektronika daya khusus, konverter AC-AC. Konverter AC-AC yang paling dikenal adalah cycloconverter, yang mampu menurunkan frekuensi sumber sesuai dengan frekuensi yang diinginkan. Aplikasi Cycloconverter dapat dilihat pada industri-industri yang menggunakan motor induksi berdaya besar dan dengan kecepatan yang rendah seperti industri pengolahan semen, aplikasi pada rolling ball mill, scherbius drive, mine-winders yang berkapasitas lebih dari 20 MW.

I. PENDAHULUAN

Motor induksi adalah adalah motor listrik bolak-balik (ac) yang putaran rotornya tidak sama dengan putaran medan stator, dengan kata lain putaran rotor dengan putaran medan stator terdapat selisih putaran yang disebut slip. Pada umumnya motor induksi dikenal ada dua macam berdasarkan jumlah fasa yang digunakan, yaitu: motor induksi satu fasa dan motor induksi tiga fasa. Sesuai dengan namanya motor induksi satu fasa dirancang untuk beroperasi menggunakan suplai tegangan satu fasa Motor induksi satu fasa sering digunakan sebagai penggerak pada peralatan yang memerlukan daya rendah dan kecepatan yang relatif konstan. Hal ini disebabkan karena motor induksi satu fasa memiliki beberapa kelebihan yaitu konstruksi yang

cukup sederhana, kecepatan putar yang hampir konstan terhadap perubahan beban, dan umumnya digunakan pada sumber jala-jala satu fasa yang banyak terdapat pada peralatan domestik. Walaupun demikian motor ini juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu kapasitas pembebanan yang relatif rendah, tidak dapat melakukan pengasutan sendiri tanpa pertolongan alat bantu dan efisiensi yang rendah. Motor induksi 1 phasa dapat dikendalikan kecepatan putarnya dengan 3 cara yaitu mengubah jumlah kutub, mengubah tegangan stator dan mengubah frekuensi. Cycloconverter adalah pengubah frekuensi langsung yang dapat mengubah daya ac pada satu frekuensi ke daya ac

pada frekuensi lainnya melalui konversi ac ac, tanpa melalui hubungan konversi intermediate. Umumnya cycloconverter berkomutasi secara natural dan frekuensi keluaran maksimum terbatas pada sebuah nilai yang merupakan bagian dari frekuensi sumber. Cycloconverter dikendalikan melalui waktu pulsa penembakannya, sehingga menghasilkan tegangan keluaran AC. Hal ini juga dapat dianggap sebagai perubahan frekuensi yang statis dan biasanya berisi siliconcontrolled rectifiers. Pengembangan perangkat semikonduktor telah memungkinkan cycloconverter untuk mengontrol frekuensi yang sesuai dengan kebutuhan dan memberikan besaran yang dikendalikan dengan bantuan perangkat switching semikonduktor seperti tiristor ataupun MOSFET, hal ini untuk mendapatkan frekuensi keluaran AC yang bervariasi . Kualitas output gelombang membaik apabila perangkat switching lebih banyak digunakan . Dengan perbaikan kinerja tersebut diharapkan dapat menghasilkan penghematan besar dalam konsumsi energi listrik.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Motor Induksi 1 Phasa

Konstruksi motor induksi satu fasa terdiri atas dua komponen yaitu stator dan rotor. Keduanya merupakan rangkaian magnetik yang berbentuk silinder dan simetris. Di antara rotor dan stator ini terdapat celah udara yang sempit.

Stator merupakan bagian yang diam sebagai rangka tempat kumparan stator yang terpasang. Stator terdiri dari : inti stator, kumparan stator, dan alur stator. Motor induksi satu fasa dilengkapi dengan dua kumparan stator yang dipasang terpisah, yaitu kumparan utama (main winding) atau sering disebut dengan kumparan berputar dan kumparan bantu (auxiliary winding) atau sering disebut dengan kumparan start. Rotor merupakan bagian yang berputar. Bagian ini terdiri dari : inti rotor, kumparan rotor dan alur rotor. Pada umumnya ada dua jenis rotor yang sering digunakan pada motor induksi, yaitu rotor belitan (wound rotor) dan rotor sangkar (squirrel cage rotor). Cycloconverter atau bisa juga disebut dengan cycloinverter berfungsi untuk konversi suatu bentuk gelombang AC, menjadi gelombang keluaran AC yang lain untuk frekuensi lebih tinggi atau yang lebih rendah. Cycloconverter yang telah dirancang sebagian besar untuk aplikasi tiga fasa, sekalipun bisa juga dibuat untuk satu fasa. Kelebihan utama cycloconverter adalah kehilangan daya konduksi (forward conduction) yang rendah. Hal ini karena konverter tegangan AC frekuensi tinggi ke tegangan AC frekuensi rendah tidak memerlukan filter cycloconverter.

2.1.2 Rangkaian Ekivalen Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 2.1. Konstruksi Umum Motor Induksi Satu Fasa.

Motor induksi satu fasa terdiri kumparan stator dan kumparan rotor. Kumparan stator dan rotor masing-masing terdiri dari parameter resistansi R, reaktansi jXdan lilitan penguat N. rangkaian ekivalen dari motor induski satu fasa dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

jXs = jws Ls jXr = jwr Lr

2.1.3 Prinsip Kerja Motor Induksi 1 Phasa

Gambar 2.2. Rangkaian Ekivalen Motor Induksi Sederhana

Apabila kumparan-kumparan motor induksi satu fasa dialiri arus bolak-balik satu fasa, maka pada celah udara akan dibangkitkan medan yang berputar dengan kecepatan putaran sebesar dengan menggunakan rumus :

Gambar 2.3. Rangkaian pengganti motor induksi satu phasa Medan magnet berputar bergerak memotong lilitan rotor sehingga menginduksikan tegangan listrik pada kumparan-kumparan tersebut. Biasannya lilitan rotor berada dalam hubung singkat. Akibatnya lilitan rotor akan mengalir arus listrik yang besarnya tergantung pada besarnya tegangan induksi dan impedansi rotor. Arus listrik yang mengalir pada rotor akan mengakibatkan medan magnet rotor dengan kecapatan sama dengan kecepatan medan putar stator (ns). Interaksi medan stator dan rotor akan membangkitkan torsi yang menggerakan rotor berputar searah dengan arah medan putar stator. Interaksi medan stator dan rotor juga menyebabkan terjasinya gaya gerak listrik induksi yang disebabkan oleh kumparan-kumparan stator dan rotor. Rumusan matematis gaya gerak listrik yang terjadi pada motor induksi satu fasa dengan rumusan sebagai berikut :

Nilai arus suber bolak-balik satu fasa dapat dirumuskan sebagai berikut :

Besarnya arus pemaknitan I yang timbul akibat adanya induksi yang terjadi antara medan stator dan rotor adalah :

GGL yang dihasilkan akibat interaksi induksi medan magnet antara stator dan rotor yang masing-masing sebesar E1 dan E2 adalah :

Impedansi pada kumparan motor stator dan rotor masing-masing adalah :

Dimana nilai (t) untuk fluksi maksimum akibat dari penyebaran kerapatan fluks yang melewati lilitan dengan rumus :

Adanya perbedaan medan putar stator dan medan putar rotor atau yang disebut slip pada motor induksi satu fasa pada rumus sebagai berikut :

trigger 1 fasa apakah output sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Rangkaian ini terdiri dari 4 buah thyristor yang digunakan sebagai penyearah terkontrol penuh. Untuk melihat keluaran apakah sudah sesuai atau belum, digunakan beban berupa resistor. Pada pengetesan dengan motor, fungsi thyristor digunakan untuk mensuplai daya listrik pada lilitan jangkar dimana tegangan lilitan jangkar digunakan untuk mengatur kecepatan putar motor arus searah baik untuk starting maupun running saat kerja pada kalang terbuka (openloop). Struktur Thyristor Ciri-ciri thyristor adalah komponen yang terbuat dari bahan semiconductor silicon. Walaupun bahannya sama, tetapi struktur P-N junction yang dimilikinya lebih kompleks dibanding transistor bipolar atau MOS. Komponen thyristor lebih digunakan sebagai saklar (switch) ketimbang sebagai penguat arus atau tegangan seperti halnya transistor. 2.3 Cycloconverter

2.2 Thyristor Thyristor disebut juga dengan SCR ( Silicon Controlled Rectifier) dan banyak digunakan sebagai saklar elektronik. Thyristor ini akan bekerja atau menghantar arus listrik dari anoda ke katoda jika pada kaki gate diberi arus kearah katoda, karenanya kaki gate harus diberi tegangan positif terhadap katoda. Pemberian tegangan ini akan menyulut thyristor, dan ketika tersulut thyristor akan tetap menghantar. SCR akan terputus jika arus yang melalui anoda ke katoda menjadi kecil atau gate pada SCR terhubung dengan ground.

Gambar 2.4 Thyristor Pada proses produksi ini, rangkaian thyristor digunakan untuk menguji rangkaian

Cycloconverter atau bisa juga disebut dengan cycloinverter berfungsi untuk konversi suatu bentuk gelombang AC, menjadi gelombang keluaran AC yang lain untuk frekuensi lebih tinggi atau yang lebih rendah. Cycloconverter yang telah dirancang sebagian besar untuk aplikasi tiga fasa, sekalipun bisa juga dibuat untuk satu fasa. Kelebihan utama cycloconverter adalah kehilangan daya konduksi (forward conduction) yang rendah. Hal ini karena konverter tegangan AC frekuensi tinggi ke tegangan AC frekuensi rendah tidak memerlukan filter cycloconverter. Problem utama cycloconverter adalah sangat tidak praktis, sehingga jarang digunakan di lapangan. Problem yang lain adalah munculnya noise atau harmonik pada penggunaan switch gelombang AC, yang besarnya dipengaruhi oleh frekuensi input gelombang. Input cycloconverter di buat

tetap, baik amplitudo, tegangan maupun frekuensi, sedangkan outputnya (amplitudo dan frekuensi). Output cycloconverter umumnya didesain berdaya besar. Secara sederhana rangkaian elektronika daya cycloconverter satu phasa dapat dilihat pada gambar 2.5(a). Untuk lebih mudah memahami kerja rangkaian ini dapat dibayangkan dengan cara membagi topologi ini menjadi 2 buah rangkaian konverter tyristor-P dan rangkaian konverter tyristor-N paralel yang nantinya bekerja secara bergantian. Konverter tyristor-P bekerja untuk membentuk arus keluaran AC pada saat periode positip-nya, sedangkan konverter tyristor-N bekerja setelahnya untuk membentuk arus keluaran AC pada periode negatifnya. Yang perlu diperhatikan adalah, komponen utama yang digunakan pada topologi ini adalah 8 buah thyristor yang dihubungkan seperti rangkaian penyearah 1 fasa (jembatan penuh) yang dihubungkan secara anti-paralel.

Berikut adalah salah satu contoh apabila kita ingin mengubah sumber tegangan AC 50 Hz menjadi frekuensi yang lebih rendah (pada Gambar 2.6. menjadi 16,67 Hz). Rangkaian konverter tyristor lengan kiri bekerja sedemikian rupa dengan memainkan sudut penyalaannya selama 1,5 periode sumber. Konverter tyristor lengan kanan bekerja setelahnya dengan sudut penyalaan yang sama. Yang perlu diperhatikan disini adalah ada banyak cara yang bisa digunakan untuk memainkan sudut penyalaan atau memainkan integral cycle tegangan sumber agar dapat menghasilkan tegangan AC frekuensi rendah yang memiliki harmonisa yang lebih kecil. Gambar 2.6. ini hanyalah salah satu contoh teknik kendali yang paling sederhana.

Gambar 2.6. Bentuk gelombang tegangan masukan dan keluaran cycloconverter


3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada study kasus kali ini, kami menggunakan cycloconverter sebagai pengontrol kecepatan motor dengan menjadikan frekuensi sebagai variablenya. Berikut rangkaian control cycloconverter yang telah dibuat :

Gambar 2.5. Prinsip Kerja Single Phase Cycloconverter

]1/2

= [ 52 ( 2 x 3.14 x 20 x 0.04 )2 ]1/2 = [ 25 ( 25,24 ) ]1/2 = 7.09 =

= 45,2

Sehingga Arus beban Irms I0 = V0/Z = 53/7.09 = 7,48 A Arus rms yang melalui tiap converter Ip = IN = I0/2 = 5,29 A Arus rms yang melalui tiap thyristor IR = Ip/2 = 3.74 A
Gambar 3.1 Blok Diagram Pengubah Frekuensi dengan Cycloconverter Untuk komponen yang kami gunakan pada rangkaian di atas yaitu - Sumber tegangan 120 V dengan Frekuensi 60 Hz - Thyristor Bridge satu phasa - Beban R = 5 dal L = 0.04H Pada percobaan pertama kami menggunakan Tegangan sumber AC 120 V dengan frekuensi 60 Hz, yang ingin diubah menjadi frekuensi keluaran 20 Hz. Dengan Sudut tunda sebesar 120 Maka : Untuk V0 = Vs [

Arus rms masukan Is = I0 = 7,48 A Rating Volt-Ampare VA = Vs x Is = 897,6 VA Daya Keluran P0 = V0 x I0 x cos = 53 x 7,48 x 5,2 =
279,35 W

Faktor Daya Masukan PF = P0/VSxIS = 279,35 / 897,6 = 0,311 (Lagging)

Dengan menggunakan aplikasi PSIM, Berikut Gelombang keluarannya :

(=

]1/2
) ]1/2

= 120 [ 0.32 ( 3,14 2,1 +

= 120 [ 0,32 (3,14 2,1 0,43) ]1/2 = 120 [ 0,32 ( 0,61 ) ]1/2 = 53 V

dengan sudut penyalaan dari thyristor.

IV. DAFTAR PUSTAKA 1. http://www.ejournal.aessangli.in/ASE EJournals/ELEC67.pdf 2. http://www.uv.es/emaset/iep00/cycloc onvertertutorial.pdf 3. http://www.scribd.com/doc/83849875 /Motor-Induksi-3-Fasa-Dan-1-Fasa 4. Elektronika daya PNUP 2013 Gambar 3.2 Bentuk gelombang Masukan 60 Hz dan gelombang keluaran 20 Hz Pada percobaan kedua kami tetap menggunakan Tegangan sumber AC 120 V dengan frekuensi 60 Hz, tetapi frekuensi keluaran 30 Hz.

Gambar 3.3 Bentuk gelombang Masukan 60 Hz dan gelombang keluaran 30 Hz Dengan mengubah frekuensi yang ada maka kecepatan motor dapat dihitung dengan persamaan N= Sehingg jika frekuensi 20 Hz kecepatan motor : N= 120 x 20 / 4 = 600 rpm III. KESIMPULAN 1. Kecepatan motor induksi dapat dikontrol dengan mengubah frekuensi sumber yang digunakan. 2. Tegangan dan frekuensi keluaran pada cycloconverter dapat diubah sesuai

Anda mungkin juga menyukai