Anda di halaman 1dari 18

TUGAS INDIVIDU KOMUNITAS 2

ASKEP LANSIA KRITIS DAN ASKEP LANSIA MENJELANG AJAL

DISUSUN OLEH: NAMA NIM KELAS : JUIKE : 11.1101.065 : B11

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR MAKASSAR 2014

ASKEP LANSIA DENGAN KONDISI KRITIS


A. PENGERTIAN
Progresif: Kondisi kesehatan menjadi lebih buruk atau menjadi lebih parah seiring perjalanan waktu. Periodenya mungkin meliputi seluruh rentang kehidupan atau dalam waktu yang lama. Selama kondisi kesehatan kronis, mungkin terdapat periode diam yang diikuti oleh periode ekserbarsi/bertambah parahnya penyakit atau memburuk secara perlahan. Contoh kondisi kesehatan kronis progresif adalah beberapa jenis kanker yang tumbuh perlahan pada penderitanya dan tidak dapat disembuhkan serta menyebabkan kematian yang tidak terelakkan. Penyakit paru obstruktif menahun/kronis ditandai dengan penurunan kapasitas paru yang progresif secara perlahan. Periode gagal jantung kronis meliputi periode diam dan kontrol terhadap pola serangan akut gagal jantung. Diabetes melitus, terutama tipe DM bergantunginsulin, menjadi progresif sehingga lebih sulit ditanggulangi. Ireversibel: kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Kondisi kesehatan kronis dapat menyebabkan kematian. Muncul kerusakan yang tidak dapat dikoreksi. Contohnya adalah kanker pankreas, yang menghancurkan kemampuan klien untuk memproduksi enzim digesti, yang menyebabkan defisit nutrisi. Terdapat beberapa tipe penyakit ginjal yang pada akhirnya menyebabkan penyakit gagal ginjal total dan dan dapat merusak sistem utama lainnya seperti sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskular. Penyakit Paru Obstruktif Kronis dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, yang tidak dapat kembali normal/ireversibel. Skizofrenia dan penyakit hipolar tidak dapat disembuhkan, tetapi keduanya dapat dikontrol; bagaimanapun, individu yang pernah menderita penyakit ini dalam waktu yang lama dapat mengalami gangguan penilaian, keterampilan sosial, dan aktivitas hidup sehari-hari. Kompleks: kondisi kronis dapat memengaruhi berbagai sistem. Pengaruh dari kondisi kesehatan kronis dapat menjangkau area yang lebih luas dibandingkan pada saat permulaan proses. Penderita asma tidak hanya mengalami manifestasi fisik, tetapi mereka sering kali membatasi aktivitas dalam cara-cara tertentu yang dapat menyebabkan isolasi, sehingga dapat memengaruhi kesehatan mental dan rekreasional mereka. Depresi adalah sekuel yang sering ditimbulkan oleh kondisi kesehatan kronis (Davidson & Meltzer-Brody, 1999). Terapi terhadap kondisi kronis mungkin menimbulkan efek samping, seperti nyeri dan defisit nutrisi yang

menjadi bagian dari kondisinya. Diabetes melitus dapat menyebabkan neuropati; retinopati menyebabkan kebutaan; masalah sirkulasi menyebabkan amputasi, umumnya terjadi pada kaki dan tungkai. Hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Terapi yang diarahkan untuk mengontrol gejala; tujuan terapi tidak bertujuan untuk menyembuhkan penyakit, tetapi untuk mengontrol gejala. Hal ini terkait dengan penyebab penyakit yang tidak diketahui dan atau rendahnya teknologi untuk menyembuhkan penyakit terkait. Dalam beberapa kasus, kondisi menjadi akut dan terapi ditujukan untuk menyembuhkan kondisi akut tersebut, tetapi jika hal ini tidak dapat dicapai, kondisi akan menjadi kronis. Masalah keluarga dan kesedihan kronis: kondisi kesehatan kronis slalu memiliki pengaruh terhadap orang-orang dekat indivisu yang terkena penyakit tersebut. Bergantung pada budaya dan dinamika didalam keluarga, hal ini akan dimanifestasikan dalam bermacam-macam cara. Kesedihan kronis adalah suatu kondisi yang dapat dialami oleh individu dan atau keluarganya. Fenomena ini akan bertahan lama dan dapat terus berlanjut, bahkan setelah kematian individu yang menderita penyakit kronis. Kesedihan yang dirasakan akan berlangsung tanpa akhir dan meliputi akumulasi kehilangan terus-menerus sepanjang waktu (Krafft & Krafft, 1998).

B. ETIOLOGI
Beberapa penyebab kondisi kritis pada lansia : Kecelakaan (Accident) Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai factor yang datangnya mendadak, tidak dikehendaki sehinga menimbulkan cedera (fisik, mental, sosial) Cedera Masalah kesehatan yang didapat/dialami sebagai akibat kecelakaan. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut : 1. Tempat kejadian a. kecelakaan lalu lintas b. kecelakaan di lingkungan rumah tangga c. kecelakaan di lingkungan pekerjaan d. kecelakaan di sekolah e. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya: tepat rekreasi, perbelanjaan, di

arena olah raga dan lain-lain.

2. Mekanisme kejadian Tertumbuk, jatuh, terpotong, tercekik oleh benda asing. tersengat, terbakar baik karena efek kimia, fisik maupun listrik atau radiasi. 3. Waktu kejadian a. Waktu perjalanan (traveling/trasport time) b. Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain dan lain- lain Bencana Peristiwa atau rangkaian peritiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. kerugian harta benda, kerusakan Iingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pembangunan nasional yang memerlukan pertolongan dan bantuan. Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dan salah satu sistem/organ di bawah ini yaitu : 1. Susunan saraf pusat 2. Pernapasan 3. Kardiovaskuler 4. Hati 5. Ginjal 6. Pancreas Penyebab Kegagalan Organ : 1. Trauma/cedera 2. lnfeksi 3. Keracunan (poisoning) 4. Degenerasi (failure) 5. Asfiksia 6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolit) 7. Shock

8. perdarahan akut 9. tumor / kanker

Kegagalan system organ susunan saraf pusat, kardiovskuler, pernapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4-6 menit), sedangkan kegagalan sistim/organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama.

C. MASALAH KONDISI FISIK PADA LANSIA


Masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia: 1. Mudah jatuh a. Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Ruben, 1996). b. Jatuh dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor intrinsik: gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekuatan sendi dan sinkope-dizziness; faktor ekstrinsik: lantai yang licin dan tidak rata, tersandung oleh benda-benda, penglihatan kurang karena cahaya yang kurang terang dan sebagainya. 2. Mudah lelah, disebabkan oleh : a) Faktor psikologis: perasaan bosan, keletihan, depresi b) Gangguan organis: anemia, kurang vitamin, osteomalasia, dll c) Pengaruh obat: sedasi, hipnotik

D. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT /KRITIS PADA LANSIA


Keperawatan Gerontik adalah suatu pelayanan profesional yang berdasarkan ilmu & kiat / teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosial-spiritual & cultural yang holistic yang

ditujukan pada klien lanjut usia baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Gawat adalah suatu kondisi dimana korban harus segera ditolong, apabila tidak segera ditolong maka akan mengalami kecacatan atau kematian. Ex: gangguan pernafasan, gangguan sirkulasi, perdarahan hebat. Darurat adalah suatu kondisi dimana korban harus segera ditolong tetapi penundaan pertolongan tidak menyebabkan kematian / kecacatan. Ex: luka, Ca mamae, BPH, fraktur tertutup. Gawat Darurat Medik adalah peristiwa yang menimpa seseorang dengan tiba-tiba yang dapat membahayakan jiwa, sehingga memerlukan tindakan medic dengan segera dan tepat. Penanggulangan penderita gawat darurat Tujuan : 1. Mencegah kematian dan cacat (to save life and limb) pada penderita gawat darurat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. 2. Merujuk penderita gawat darurat melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang lebih memadai. 3. Menanggulangi korban bencana. Prinsip penanggulangan penderita gawat darurat 1. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat 2. Kecepatan meminta pertolongan 3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan ditempat kejadian, dalam perjalanan kerumah sakit, dan pertolongan selanjutnya secara mantap di Puskesmas atau rumah sakit. Sistem penanggulangan penderita gawat darurat Tujuan: Tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang optimal, terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang berada dalam keadaan gawat darurat.

Upaya pelayanan kesehatan pada penderita gawat darurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu mencegah kematian atau cacat yang mungkin terjadi. Cakupan pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi:

Penanggulangan penderita di tempat kejadian. Transportasi penderita gawat darurat dan tempat kejadian kesarana kesehatan yang lebih memadai. Upaya penyediaan sarana komunikasi untuk menunjang kegiatan penanggulangan penderita gawat darurat. Upaya rujukan ilmu pengetahuan,pasien dan tenaga ahli. Upaya penanggulangan penderita gawat darurat di tempat rujukan (Unit Gawat Darurat dan ICU). Upaya pembiayaan penderita gawat darurat. Triage Tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan. Pembagian golongan pada musibah masal / bencana : 1. Gawat darurat merah Kelompok pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. 2. Gawat tidak darurat putih Kelompok pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya kanker stadium lanjut. 3. Tidak gawat, darurat kuning Kelompok pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mngancam nyawa dan anggota badannya, misanya luka sayat dangkal. 4. Tidak gawat, tidak darurat hijau, Kelompok pasien yang tidak luka dan tidak memerlukan intervensi medic. 5. Meninggal -hitam

E. ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Lansia Asuhan keperawatan kegawat daruratan yang bisa terjadi pada lansia, meliputi gangguan : 1. Pernapasan 2. Kardiovaskular

3. Persyarafan 4. Pencernaan 5. Keracunan Keperawatan gawat darurat yang terjadi pada lansia : a. Lingkup nasalah kegawatan sistem pernapasan Identifikasi gawat nafas Peran perawat dalam tindakan pada klien gawat nafas Pengembangan teknik fisioterapi dada, meliputi : 1. Latihan nafas 2. Menepuk 3. Melakukan vibrasi 4. Posisi drainase 5. Menghisap 6. Oksigenasi/nebulizer b. Lingkup masalah kegawatan sistem kardiovaskular c. Identifikasi indicator gawat jantung Peran perawat pada tindakan terhadap klien gawat jantung

Lingkup masalah kegawatan sistem persarafan Peran perawat pada monitor peningkatan tekanan TIK Peran perawat pada tindakan gangguan persarafan

d. Lingkup masalah kegawatan musculoskeletal Pengembangan model penanganan kegawatan gangguan sistem musculoskeletal (fraktur : melakukan teknik pembidaian, melakukan teknik pembalutan, serta mengenal, menyiapkan dan melaksanakan prosedur pemasangan gips,

osteoporosis,dll). e. Lingkup masalah kegawatan terhadap intoksikasi Pengembangan model penanganan asuhan keperawatan kegawatan akibat intoksikasi : Insektisida NAPZA Makan dan minuman Obat-obatan

Kimia Sengatan serangga Digigit ular

f.

Lingkup masalah kegawatan jiwa Peran perawat terhadap kegawatab psikiatri (mengamuk dan percobaan bunuh diri) Menyiapkan, melakukan prosedur pengikatan

ASKEP LANSIA MENJELANG AJAL


A. Tahapan Pasien Menjelang Ajal
Dr. Elisabeth Kubler-Ross telah mengidentifikasikan lima tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien menjelang ajal : 1. Denial (Pengingkaran) Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran, dan bahkan mungkin mengingkarinya. 2. Anger (Marah) Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal. 3. Bargaining (Tawar menawar) Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba menawar waktu untuk hidup. 4. Depression (Depresi) Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati. Ia sangat sedih karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-teman. 5. Acceptance (Penerimaan) Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa ia akan meninggal dan ia berusa keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum selesai.

B. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang. b. Riwayat kesehatan dahulu Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama. c. Riwayat kesehatan keluarga Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit yang sama dengan klien.

2. Head To Toe Perubahan fisik saat kematian mendekat a. Pasien kurang responsif terhadap sentuhan b. Fungsi tubuh melambat c. Pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja d. Rahang cenderung jatuh e. Pernafasan tidak teratur dan dangkal f. Sirkulasi melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan melemah g. Kulit pucat h. Mata memelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya.

C. Diagnosa Keperawatan Pada Pasien Menjelang Ajal


1. Ansietas (ketakutan individu, keluarga) yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup. 2. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain. 3. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan keluarga, takut akan hasil (kematian) dengan lingkungnnya penuh dengan stres (tempat perawatan). 4. Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidakmampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian.

D. Rencana Keperawatan (Intervensi) Pada Pasien Menjelang Ajal


a. Akomodasi dukacita b. Menerima realitas kehilangan c. Mencapai kembali rasa harga diri d. Memperbaharui aktivitas atau hubungan normal e. Terpenuhinya kebutuhan fisiologis, perkembangan & spiritual f. Mencapai kembali dan mempertahankan kenyamanan g. Mempertahankan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari h. Mempertahankan harapan

i. Mencapai kenyamanan spiritual j. Meraih kelegaan akibat kesepian dan isolasi

1. Konsep Bimbingan Spiritual Pada Pasien dan Keluarga Menjelang Ajal Beberapa pandangan tentang kematian dari agama-agama yang terkemuka di dunia a) Agama Kristen Dalam agama Kristen terdapat berbagai aliran-aliran. Dua aliran yang paling utama adalah: agama Katolik dan agama Protestan. Dalam ajaran agama Katolik Roma mati itu hanya suatu perpisahan untuk waktu sementara. Setelah kematian akan muncul kehidupan yang abadi dan Tuhan. Tuhan itu baik hati dan mengampuni semua dosa dan kesalahan. Seorang katolik yang baik tidak usah takut menghadapi kematian, karena setelah kematian akan ada kehidupan yang lebih baik. Yang penting dalam untuk seorang pasien Katolik adalah bahwa ia memperoleh kesempatan untuk Sakramen orang sakit, yang juga dinamakan Pembalseman orang sakit. Dalam agama Protestan, terdapat berbagai perbedaan pandangan terhadap penyakit dan kematian. Contoh: - Penyakit dan kematian adalah sebagai akibat dari dosa Adam. Seseorang dengan sadar harus memilih Tuhan, dan dapat mengetahui dan merasa bahwa ia dapat masuk dalam kerajaan Allah setelah ia meninggal. - Penyakit adalah suatu penguasaan iblis atas diri kita dan melalui doa diusahakan agar iblis itu keluar. - Penyakit adalah suatu hukuman yang dijalani manusia karena kesalahannya. b) Agama Islam Penyakit dalam agama Islam adalah suatu gangguan keseimbangan sebagaimana yang dimaksud oleh Allah. Sebab-sebab dari gangguan ini dapat dicari baik dalam kekuatan yang meguasai alam semesta maupun yang berasal dari kuasa-kuasa manusia. Kematian bagi orangorang islam berarti suatu pemindahan dari kehidupan karena suatu situasi menuggu sampai akhir zaman. Dan pada saat itu akan tiba masa pengadilan bagi semua orang. Orang islam pada saat pengadilan itu boleh percaya akan kebaikan-kebaikan Allah. Orang islam percaya bahwa di dalam kuburan akan datang dua malaikat yang akan menanyakan masalah kepercayaannya. c) Tradisi Yahudi

Menurut tradisi Yahudi orang-orang mati akan bangkit pada akhir jaman. Disamping itu tradisi Yahudi mengenal banyak peraturan-peraturan yang berhubungan dengan fase akhir kehidupan manusia. d) Agama Hindu Bagi orang-orang yang beragama Hindu dikatakan bahwa penyakit adalah akibat dari dewa-dewa yang marah atau kuasa-kuasa yang lain. Penyakit harus dihindari dan dilawan dengan cara membawa persembahan-persembahan bahan melalui pembacaan mantera. Setelah kematian maka manusia akan kembali muncul di bumi baik dalam bentuk manusia atau binatang (reinkarnasi), sampai rohnya menjadi sempurna. 2. Prosedur Bimbingan Spiritual pada Pasien dan Keluarga Menjelang Ajal Jika kondisi pasien kritis, dokter akan secara resmi menuliskan namanya di

Daftar kritis. Kemudian keluarga dan pemuka agama akan diberitahu. a) Jika pasien Katolik tampak sedang menyongsong ajal, seorang pendeta harus dipanggil untuk melakukan sakramen orang sakit. Akan lebih baik jika keluarga hadir dan meninggalkan ruangan pada saat dilakukan pengakuan dosa. Penganut agama Katolik dan keluarga menganggapnya sebagai suatu keistimewaan karena memiliki kesempatan untuk mengaku dosa ketika masih memiliki kemampuan. Banyak pasien yang sembuh dengan sempurna, tetapi harapan ini tidak boleh mencegah penerimaan sekramen. Pendeta akan memutuskannya setelah berdiskusi dengan keluarga. b) Sementara hampir semua agama lainnya tidak memiliki ritual khusus seperti sakramen ini, oleh sebab itu pemberian privasi pada pasien dan keluarga adalah hal yang penting. Privasi tidak berarti membiarkan pasien dan keluarganya sendirian tetapi juga tetap melanjutkan perawatan yang ditugaskan pada anda yang dengan perilaku yang tenang dan menghargai. c) Pembacaan kitab suci, jika diminta, dapat menjadi bantuan spiritual untuk melalui saat-saat kritis ini. Bersikap sopan dan beri privasi jika pemuka agama pasien berkunjung. 3. Keyakinan dan Budaya dalam Perawatan Jenazah Setiap agama memiliki beragam budaya dan keyakinan dalam merawat jenazah: a) Muslim Jika pasien muslim meninggal 1) Setelah kematian, tubuh dianggap sebagai milik Allah.

2) Jangan wash tubuh atas. 3) Pakailah sarung tangan untuk menghindari kontak langsung dengan tubuh. Tubuh harus menghadap Mekkah (Timur) dan kepala harus berbalik ke arah bahu kanan sebelum rigor mortis. 4) Anda mungkin sisir rambut, meluruskan tungkai, menghapus peralatan dan menutupi tubuhnya dengan kain putih, tapi keluarga akan ingin melakukan cuci dari tubuh. 5) Pos pemeriksaan mayat hanya dibolehkan jika hukum memerlukan itu. 6) Masalah donasi organ bingung - keluarga mungkin setuju atau tidak. 7) Umat Islam selalu dikubur dalam waktu 24 jam dari kematian. b) Hindu Jika pasien hindu meninggal: 1) Jenajah mungkin harus dibaringkan di lantai 2) Pendeta akan mengikatkan benang sekitar leher atau pergelangan tangan (jangan dilepaskan) 3) Pendeta akan memecirkan air dalam mulut klien 4) Keluarga akan memandikan jenazah sebelum dikramasi c) Yahudi Jika pasien yahudi meniinggal: 1) Jenazah dimandikan oleh anggota penguburan 2) Dan seseorang harus berada di dekat jenazah untuk Yahudi Ortodoks dan konservatif d) Kristen Jika pasien kristen meninggal: 1) Ritual sangat beragam diantara kelompok mungkin memberikan komuno terakhir 2) Memilih penguburan daripada kremasi

E. Implementasi Keperawatan
Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu menerapkan kewaspadaan universal tanpa mengakibatkan tradisi budaya dan agama yang dianut keluarganya. Setiap petugas kesehatan terutama perawat harus dapat menasehati keluarga jenazah dan mengambil tindakan yang sesuai agar penanganan jenazah tidak menambah risiko penularan penyakit seperti halnya hepatitis-B, AIDS, kolera dsb. Tradisi yang berkaitan dengan perlakuan

terhadap jenazah tersebut dapat diizinkan dengan memperhatikan hal yang telah disebut diatas, seperti msalnya menciu jenazah sebagai bagian dari upacara penguburan. Perlu diingat bahwa virus HIV hanya dapat hidup, maka beberapa waktu setelah penderita infeksi-HIV meninggal, virus pun akan mati. 1. Tindakan di Luar Kamar Jenazah a. Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan b. Memakai pelindung wajah dan jubah c. Luruskan tubuh jenazah dan letakkan tubuh jenazah dalam posisi terlentang dengan tangan disisi atau terlipat dada d. Tutup kelopak mata dan / atau ditutup dengan kapas atau kassa; begitu pula mulut, hidung dan telinga e. Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada rembesan darah atau cairan tubuh lainnya f. Tutup anus dengan kassa dan plester kedap air g. Lepaskan semua alat kesehatan dan letakkan alat bekas tersebut dalam wadah yang aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan universal h. Tutup setiap luka yang ada dengan plester kedap air i. Bersihkan tubuh jenazah dan tutup dengan kain bersih untuk disaksikan oleh keluarga j. Pasang label identitas pada kaki k. Beritahu petugas kamar jenazah bahwa jenazah adalah penderita penyakit menular l. Cuci tangan setelah melepas sarung tangan 2. Tindakan di Kamar Jenazah a. Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan sebelum memakai sarung tangan. b. Petugas memakai alat pelindung: 1) Sarung tangan karet yang panjang (sampai ke siku) 2) Sebaiknya memakai sepatu bot sampai lutut 3) Pelindung wajah (masker dan kaca mata) 4) Jubah atau celemek, sebaiknya kedap air c. Jenazah di mandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah memahami cara membersihkan/memandikan jenazah penderita penyakit menular Tahap Memandikan

Alat dan Bahan: 1) Tempat mandi 2) Ember besar berisi air 3) Gayung 4) Air sabun 5) Sampo 6) Sisir 7) Cotton bud 8) Washlap 9) Handuk 10) Kain panjang 2 potong Prosedur memandikan: 1) Angkat jenazah ke tempat mandi 2) Lepaskan pakain yang melekat pada badan 3) Siramlah badan bagian kanan, basuhlah anggota badan ketika berwudhu 4) Siramlah badan yang kiri 5) Siramlah seluruh badan 6) Gosok-gosok dengan sabun, siram 3-5 kali 7) Miringkan mayat gosok-gosok dengan sabun dan siram 3-5 kali 8) Jangan memaksakan mengeluarkan kotoran dari perut mayat 9) Siram dengan kapur barus yan dicairkan 10) Keringkan dengan handuk 11) Tutup denan kain *Ingat pada waktu memandikan aurat jangan terlihat d. Bungkus jenazah dengan kain kafan atau kain pembungkus lain sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut

3. Tahap Mengkafani Alat dan Bahan: a. Kain kafan pria 15 m, wanita 12 m

b. Kapas c. Parfum d. Kapur barus e. Tikar 1) Pinggir kain kafan 2 cm di sobek sepanjang kain (12 m untuk wanita dan 15 m untuk pria) a, sisa kain kita sebut b 2) Ukur panjang jenazah dengan kain a lebihkan 2 jengkal, dengan ukuran tadi potong-potong kain b menjadi 6 potong 3) Potongan kain a dipotong-potong menjadi 10 bagian (8 bagian selebar bahu sampai ujung lengan terbentang, 2 potong selebar ujung lengan ke ujung lengan yang dibentangkan 4) Ambil sepasang potongan kain b, jelujur dengan salah satu ujung bertumpuk seperti trapezium 5) Selanjutnya tali di bawah tikar dan tali di bawah kafan tikar 6) Kain kafan 3 lapis (diatasnya ditaburi kapur barus dan parfum) 7) Kemudian lipat yang rapih Prosedur Mengkafani a. Kain kafan yang sudah disiapkan di gelar b. Angkat jenazah, letakkan diatas kain kafan c. Sisir rambutnya d. Untai 3 untaian untuk perempuan e. Siapkan rok gamis kerudung untuk perempuan f. Aurat ditutup dengan kapas g. Angkat kain penutup h. Oleskan bubuk kapur barus dan parfum i. Lipat kain kafan lapis atas, seterusnya sampai yang ketiga j. Ikat dengan simpul ikatan yang kiri k. Gulung dengan tikar dan lipat l. Masukkan dalam keranda, jenazah siap di sholatkan Setelah selesai di kafani jenazah diantarkan kepada keluarganya.

F. Evaluasi Pada Pasien Menjelang Ajal


1. Klien merasa nyaman dan mengekpresikan perasaannya pada perawat 2. Klien tidak merasa sedih dan siap menerima kenyataan 3. Klien selalu ingat kepada Allah dan selalu bertawakkal 4. Klien sadar bahwa setiap apa yang diciptakan Allah SWT akan kembali kepadanya