Anda di halaman 1dari 5

BK SEBAGAI PROFESI Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang

cukup panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu, bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di.SMA pada saat itu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama, semula disebut Bimbingan dan enyuluhan !dalam Kurikulum "4 dan sebelumnya#, kemudian pada Kurikulum $%%4 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. sampai dengan sekarang. Akhir&akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan ro'esi Konseling, meski secara 'ormal istilah ini belum digunakan. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut, didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu pro'esi. Kendati demikian harus diakui bah(a untuk me(ujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu pro'esi yang dapat memberikan man'aat banyak, hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan pro'esi konseling. )alam tataran teoritis, teori&teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap, dibandingkan dengan masa&masa sebelumnya dan bahkan relati' mendahului teori&teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran * mata pelajaran di sekolah. erkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling, baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. Sayangnya, teori&teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. )i sisi lain, teori&teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah&sekolah tampaknya belum

berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan pro'esi bimbingan dan konseling. Kendala terbesar yang dihadapi untuk me(ujudkan bimbingan dan konseling sebagai pro'esi yang handal dan bisa sejajar dengan pro'esi&pro'esi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Man'aat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat, karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Kesan lama, konseling sebagai +polisi sekolah+pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat, khususnya di kalangan sis(a. Menurut pandangan penulis, setidaknya terdapat dua 'aktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan pro'esi konseling di Indonesia , yaitu , 1. Kelangkaan Tenaga Konselor -enaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor pro'esional dalam jumlah yang memadai. Sehingga, tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling, yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling, yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri, baik secara personal maupun lembaga. Meminjam bahasa ekonomi, kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. -ingkat produkti.itas dari /embaga endidikan -enaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relati' masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. )emikian pula dalam distribusinya relati' tidak merata. 0ontoh kasus, di beberapa daerah

ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing 0alon ega(ai 1egeri Sipil ternyata tidak terisi, bukan dikarenakan tidak ada peminatnya, tetapi memang tidak ada orangya 2 Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah, dimana ke(enangan rekrutmen 0alon ega(ai 1egeri Sipil diserahkan kepada daerah, dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan, termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. 3leh karena itu, ke depannya perlu dipikirkan bagaimana maupun emerintah usat

emerintah )aerah dapat bekerja sama dengan /embaga

endidikan

-enaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya, dengan memperhitungkan segi kuantitas, kualitas dan distribusinya., sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. 2. Kebijakan Pemerintah ang k!rang ber"ihak terha#a" "ro$esi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang pro'esi bimbingan dan konseling. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mere'ormasi pendidikan kita. 0ontoh kasus terbaru, ketika digulirkan Kurikulum -ingkat Satuan endidikan !K-S #, hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya dilaksanakan. )alam dokumen K-S , kita hanya menemukan secuil in'ormasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan engembangan )iri. Begitu juga, dalam kebijakan serti'ikasi guru, banyak konselor dan penga(as satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling, karena 'ormat penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. -entunya masih banyak lagi kejanggalan&

kejanggalan yang dirasakan di lapangan, baik yang bersi'at konseptual&'undamental maupun teknis operasionalnya. Ketidakjelasan kebijakan tentang pro'esi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di ba(ahnya !messo dan mikro#, termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. 4adi, kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal, maka kita bisa melihat sumber permasalahannya, yang salah&satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap pro'esi bimbingan dan konseling. 4ika ke depannya, bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, kiranya perlu ada komitmen dan good (ill dari pemerintah untuk secepatnya menata pro'esi konseling, salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia !ABKI1# selaku (adah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. 5alaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi ta(ar& mena(ar yang cukup alot di dalamnya, tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan pro'esi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. 2 )engan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata pro'esi bimbingan dan konseling, niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya, sehingga pro'esi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pro'esi yang dapat memberikan man'aat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. 4ika tidak, maka pro'esi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan.

6e'erence, http,77akhmadsudrajat.(ordpress.com7800"7087097perjalanan&jauh&bimbingan& dan&konseling&sebagai&pro'esi7

rayetno. :rman Aniti. )asar&dasar Bimbingan dan Konseling 4akarta , renada Media -ohirin. 800;. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan di Madrasah 4akarta , -. 6aja <rapindo ersada =allen, 8008. Bimbingan dan Konseling. /iputan ress , 4akarta