Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Empiema toraks adalah proses supurasi yang terjadi di dalam rongga pleura10.

Empiema ialah proses supurasi yang terjadi di rongga tubuh, dimana rongga tersebut secara anatomis sudah ada. Empiema yang terjadi di rongga pleura yang dikenal dengan nama empiema toraks1. Hippocrates telah mengenalnya sejak 2.400 tahun yang lampau dan dialah yang pertama kali melakukan torakosintesis dan drainase pada pleural empiema, kemudian oleh Graham dan kawan kawannya dari suatu kondisi empiema waktu perang dunia ! diberikan cara cara perawatan dan pengobatan "pengelolaan# empiema yang dianut sampai sekarang, walaupun cara pengelolaan empiema di berbagai rumah sakit beraneka ragam, namun tindakan standar masih tetap dipertahankan. $enyakit tersebut dapat pula disebabkan oleh trauma pada dada "sekitar 1 %& kasus mendorong ke arah empiema# dan pecahnya abses dari paru ke dalam rongga pleura. Empiema mempunyai tingkat kematian yang cukup tinggi, biasanya akibat dari kegagalan bernapas dan sepsis. 'engan ditemukannya antibiotika yang ampuh, maka angka pre(alensi dan mortalitas empiema mula mula menurun, akan tetapi pada tahun tahun terakhir oleh karena perubahan jenis kuman penyebab dan resistensi terhadap antibiotik, morbiditas dan mortalitas empiema tampak naik lagi 2,). !nsidensi in*eksi pleura mulai berubah pada awal abad 20. $ada +aman preantibiotik, empiema merupakan komplikasi dari kasus pneumonia sebesar %&, tapi setelah adanya perkembangan tentang antibiotik "sekitar 1,40 an#, rata rata menurun menjadi 2&. $ada penelitian selama 4 dekade, -eese et al, menemukan

insidensi empiema sebesar ., kasus tiap 100.000 pada +aman preantibiotik, rata rata insidensi ini menurun menjadi %2 kasus tiap 100.000 pada tahun 1,4. 1,4/11. 0ntuk memahami dinamika insidensi empiema, diperlukan pemahaman yang komplek mengenai mikrobiologi in*eksi pleura. $re(alensi dari organisme penyebab, masing masing berbeda tergantung dari sumber in*eksi "community (s. hospital ac1uired empyema#, usia, dan karakteristik host "immunocompetent (s. immunocompromised patients#. 2ekitar 40& kasus empiema, mikroorganisme penyebab tidak dapat diisolasi lewat kultur11. 'i rumah sakit Jewis Hospital of St. 3ouis pada tahun 1,.1 dirawat sebanyak 0,0)& kasus empiema toraks dari 2.0.240 penderita yang dirawat dengan bermacam macam penyakit. 'i bagian paru 520' 'r. 2oetomo 2urabaya, pada tahun 1,/. dirawat ),4& penderita dengan empiema toraks dari 2.1,2 penderita rawat inap dengan perbandingan pria6wanita 7 ),46110. Empiema toraks masih merupakan masalah penting, meskipun ada perbaikan teknik pembedahan dan penggunaan antibiotik baru yang lebih e*ekti*. Empiema dapat terjadi sekunder akibat in*eksi di tempat lain, untuk itu perlu dilakukan pengobatan yang adekuat terhadap semua penyakit yang dapat menimbulkan penyulit pada empiema). B. Tujuan 8engetahui de*inisi, etiologi, klasi*ikasi, pato*isiologi, mani*estasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan prognosis pada empiema.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Empiema toraks dide*inisikan sebagai suatu in*eksi pada ruang pleura yang berhubungan dengan pembentukan cairan yang kental dan purulen baik terlokalisasi atau bebas dalam ruang pleura yang disebabkan karena adanya dead space, media biakan pada cairan pleura dan inokulasi bakteri. Empiema adalah akumulasi pus diantara paru dan membran yang menyelimutinya "ruang pleura# yang dapat terjadi bilamana suatu paru terin*eksi. $us ini berisi sel sel darah putih yang berperan untuk melawan agen in*eksi "sel sel polimor*onuklear# dan juga berisi protein darah yang berperan dalam pembekuan "*ibrin#. 9etika pus terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan pada paru sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. 2eiring dengan berlanjutnya perjalanan penyakit maka *ibrin *ibrin tersebut akan memisahkan pleura menjadi kantong kantong "lokulasi#. $embentukan jaringan parut dapat membuat sebagian paru tertarik dan akhirnya mengakibatkan kerusakan yang permanen4. B. Etiologi Stafilokokus aureus merupakan bakteri penyebab empiema yang paling sering ditemukan dalam isolasi mikrobiologi, selebihnya adalah bakteri gram negati*. 2ering ditemukannya bakteri gram negati* pada biakan terjadi diantaranya karena tingginya insidensi resisten karena pemberian antibiotik pada *ase awal pneumonia. $ada penelitian yang dilakukan :u ;hen dkk pada pasien e*usi pleura dengan empiema didapatkan Klebsiella pneumoniae merupakan penyebab terbanyak%. $enyebab terjadinya empiema sendiri terbagi menjadi6 1. !n*eksi yang berasal dari dalam paru 6

$neumonia <bses paru =ronkiektasis >=; paru <ktinomikosis paru ?istel =ronko $leura 2. !n*eksi yang berasal dari luar paru 6 >rauma >horaks $embedahan thorak >orasentesi pada pleura 2u*renik abses <moebic li(er abses4 =akteri penyebab6 1. =akteri gram negati* "P. aeruginosa, Klebsiella, Bacteroides, E. colli, P. Mirabilis# 20 )0& 2. S. aureus "2% )%&# ). S. pyogenes "% 1%&# 4. =akteri anaerob ")0 .0&# %. 9ultur " # ) )0& 4. $oli mikroba )0 .0& 2 C. Klasifikasi Empiema dibagi menjadi ) *ase yaitu6 1. 2tadium 1 disebut juga stadium eksudati* atau stadium akut, yang terjadi pada hari hari pertama saat e*usi. !n*lamasi pleura menyebabkan peningkatan
4

permeabilitas dan terjadi penimbunan cairan pleura namun masih sedikit. ;airan yang dihasilkan mengandung elemen seluler yang kebanyakan terdiri atas netro*il. 2tadium ini terjadi selama 24 .2 jam dan kemudian berkembang menjadi stadium *ibropurulen. ;airan pleura mengalir bebas dan dikarakterisasi dengan jumlah darah putih yang rendah dan en+im laktat dehidrogenase "3'H# yang rendah serta glukosa dan pH yang normal, drainase yang dilakukan sedini mungkin dapat mempercepat perbaikan. 2. 2tadium 2 disebut juga dengan stadium *ibropurulen atau stadium transisional yang dikarakterisasi dengan in*lamasi pleura yang meluas dan bertambahnya kekentalan dan kekeruhan cairan. ;airan dapat berisi banyak leukosit polimor*onuklear, bakteri, dan debris selular. <kumulasi protein dan *ibrin disertai pembentukan membran *ibrin, yang membentuk bagian atau lokulasi dalam ruang pleura. 2aat stadium ini berlanjut, pH cairan pleura dan glukosa menjadi rendah sedangkan 3'H meningkat. 2tadium ini berakhir setelah . 10 hari dan sering membutuhkan penanganan yang lanjut seperti torakostomi dan pemasangan tube. ). 2tadium ) disebut juga stadium organisasi "kronik#. >erjadi pembentukan kulit *ibrinosa pada membran pleura, membentuk jaringan yang mencegah ekspansi pleura dan membentuk lokulasi intrapleura yang menghalangi jalannya tuba torakostomi untuk drainase. 9ulit pleura yang kental terbentuk dari resorpsi cairan dan merupakan hasil dari proli*erasi *ibroblas. $arenkim paru menjadi terperangkap dan terjadi pembentukan *ibrotoraks. 2tadium ini biasanya terjadi selama 2 @ 4 minggu setelah gejala awal.4

D. Patofisiologi <kibat in(asi basil piogenik ke pleura akan mengakibatkan timbulnya radang akut yang diikuti pembentukan eksudat serous. 'engan banyaknya sel
5

$8A yang mati akan meningkatkan kadar protein dimana mengakibatkan timbunan cairan kental dan keruh. <danya endapan endapan *ibrin akan membentuk kantong kantong yang melokalisasi nanah tersebut. <pabila nanah menembus bronkus, timbul *istel bronkus pleural. 2edangkan bila nanah menembus dinding toraks dan keluar melalui kulit disebut empiema nesessitasis. Emphiema dapat digolongkan menjadi akut dan kronis. Empiema akut dapat berlanjut ke kronis. Brganisasi dimulai kira kira setelah seminggu dan proses ini berjalan terus sampai terbentuknya kantong tertutup4. E. anifestasi Klinis Empiema dibagi menjadi dua stadium yaitu 6 a. Empiema <kut >erjadi sekunder akibat in*eksi tempat lain, bukan primer dari pleura. $ada permulaan, gejala gejalanya mirip dengan pneumonia, yaitu panas tinggi dan nyeri pada dada pleuritik. $ada pemeriksaan *isik didapatkan adanya tanda tanda cairan dalam rongga pleura. =ila stadium ini dibiarkan sampai beberapa minggu maka akan timbul toksemia, anemia, dan clubbing finger. Cika nanah tidak segera dikeluarkan akan timbul *istel bronkopleura. <danya *istel ditandai dengan batuk yang makin produkti*, bercampur nanah dan darah masi*, serta kadang kadang bisa timbul su*okasi "mati lemas#1. $ada kasus empiema karena pneumotoraks pneumonia, timbulnya cairan adalah setelah keadaan pneumonianya membaik. 2ebaliknya pada Streptococcus pneumonia, empiema timbul sewaktu masih akut. $neumonia karena basil gram negati* seperti E. coli atau =akterioides sering kali menimbulkan empiema4.

b. Empiema 9ronis =atas yang tegas antara empiema akut dan kronis sukar ditentukan. 'isebut kronis jika empiema berlangsung selama lebih dari tiga bulan. $enderita mengeluh badannya terasa lemas, kesehatan makin menurun, pucat, clubbing fingers, dada datar, dan adanya tanda tanda cairan pleura. =ila terjadi *ibrotoraks, trakea, dan jantung akan tertarik ke sisi yang sakit%. !. Diagnostik a. <namnesis 'emam dan keluar keringat malam. Ayeri pleura. 'ispnea. <noreksia dan penurunan berat badan1. b. $emeriksaan ?isik $ada inspeksi, 2isi yang sakit lebih cembung, tertinggal pada pernapasan $ada palpasi ditemukan penurunan *remitus $ada perkusi dada ditemukan suara flatness "redup# $ada auskultasi dada ditemukan penurunan suara napas 8ediastinum terdorong ke sisi yang sehat $ada empiema yang kronis hemitoraks yang sakit mungkin sudah mengecil karena terbentuknya schwarte4. c. $emeriksaan $enunjang $emeriksaan 5adiologi6 ?oto toraks% $ada pasien empiema, aliran bebas cairan pleura terkumpul di bagian tertentu dari ca(um pleura dan mengaburkan sudut kosto*renikus. Cumlah
7

cairan pleura yang menyebabkan penumpulan sudut kosto*renikus pada *oto thoraD lateral sekitar .% ml. $ada *oto thoraD $< jumlah cairan yang menyebabkan penumpulan sudut kosto*renikus sekitar 200 ml. $emeriksaan *oto toraks posteroanterior "$<# dan lateral mempunyai arti penting untuk diagnosis empiema. $asien yang di*oto dengan posisi berdiri, cairan pleura bebas akan terakumulasi di bagian terendah hemitoraks dan sudut kosto*renikus. ?oto toraks dengan dia*ragma normal tetapi tampak gambaran berkantong yang terlokalisir sebaiknya juga diperiksa ultrasonogra*i "02G# toraks atau computed tomography scan ";> scan#, terlebih bila terlihat gambaran e*usi. 2elanjutnya dilakukan torakosentesis, cairan yang didapat diperiksa warna, purulensi, (iskositas, bau dan analisis cairan pleura. ;airan pleura berupa transudat tidak dilakukan pemeriksaan lebih lanjut..

?oto thoraD $< laki laki usia %0 tahun yang selama 2 minggu telah mendapatkan pengobatan pneumonia. $asien mengeluh demam persisten dan nyeri dada. Gambaran opasitas patchy bilateral pada parenkim paru menunjukkan adanya pneumonia. 2udut kosto*renikus kiri yang tumpul menunjukkan adanya e*usi pleura kiri..

?oto toraks pasien empiema thoraD tanpa abses paru",#

?oto thoraD pasien empiema dengan abses paru,

>erdapat gambaran opasitas yang menunjukkan cairan dengan atau tanpa kelainan paru =ila tampak air fluid le el berarti disitu terdapat juga udara. <danya udara disebabkan oleh 6 0dara masuk waktu dilakukan torasentesis 0dara masuk melalui *istel bronkopleura <da basil basil pembentuk gas misalnya6 clostridium welchii

=ila terjadi *ibrosis, trachea atau mediastinum tertarik ke sisi yang sakit dan tampak penebalan pleura. 9antong empiema dapat terbatas di satu tempat 10 =ronkoskopi10 'ilakukan pada keadaan seperti 6 0ntuk menentukan tumor atau benda asing di intrabronkial 0ntuk menentukan *istel bronkopleura, dibuktikan dengan

penyuntikan beberapa methylen blue ke dalam rongga pleura, sehingga dapat dilihat dari lobus mana yang sekretnya berwarna biru
10

;omputed tomography% ;> scan digunakan untuk membedakan kelainan parenkim terhadap pleura, menge(aluasi kelainan parenkim, menentukan lokulasi, menge(aluasi permukaan pleura, dan membantu dalam penentuan terapi. >idak semua penderita e*usi parapneumonia dengan komplikasi memerlukan pemeriksaan ;> toraks, tetapi berguna pada penderita e*usi komplikasi dengan lokulasi untuk pertimbangan terapi, yang akan menurunkan morbiditas, mortalitas maupun lamanya rawat tinggal 4. >ergantung pada manajemen klinis yang diharapkan, pasien dapat menjalani pencitraan dengan atau tanpa bahan kontras intra(ena. Cika penyadapan e*usi pleura klinis yang signi*ikan secara klinis di indikasikan, media kontras intra(ena tidak diperlukan untuk menge(aluasi keberadaan dan lokasi cairan pleura. :ang khas adalah empiema lenticular. ;> scan dapat menunjukkan e*usi pleura atipikal sepanjang mediastinum, pleura yang menebal, loculations dalam celah, septa, atau gelembung gas dalam rongga pleura.

11

;> 2can >oraks $asien dengan Empiema4

!hest

ray menunjukkan

adanya atelektasis pulmo, empiema masi* yang dikelilingi oleh kalsi*ikasi dan masa pada bagian bawah dinding empiema, termasuk semua lapisan dinding dada anterolateral. !hest D ray menunjukkan ada bayangan masi* pada bagian bawah kanan thoraD sampai dinding dada. 8asa berdiameter ) cm.

9ontras computed tomography aksial ";># scan pada tingkat pembuluh darah paru in*erior, pasien adalah seorang pria berusia %0 an yang memiliki riwayat 2 minggu pneumonia diobati secara parsial. Gambar menunjukkan cairan terlokalisasi dalam *isura utama kiri, pseudotumor "panah#. Gelembung gas hadir dalam koleksi tergantung dari cairan pleura "panah# ..

Magnetic "esonance #maging "85!#. 85! jarang digunakan untuk melihat gambaran e*usi pleura "tingkat kepercayaan dalam diagnosis
12

empiema moderat#. 85! mungkin berguna untuk menge(aluasi penebalan membran pleura ketika pemberian kontras merupakan kontraindikasi. 0ltrasonography "02G#. 02G merupakan pemeriksaan tambahan yang penting dalam mende*inisikan karakteristik e*usi pleura dan dapat pula untuk mendeteksi e*usi kecil. 02G juga menyediakan in*ormasi tentang (iskositas cairan, adanya septa, dan si*at e*usi. 'iagnosis empiema tidak hanya berdasarkan 02G.. >es kultur dan kepekaan dari drainase hasil aspirasi dari pleura. d. 'iagnosis banding secara radiologis E*usi $leura

$ada *oto toraks ini, cairan dalam rongga pleura tampak berupa perselubungan semiopak, homogen, menutupi paru bawah yang biasanya relati* radioopak dengan permukaan atas cekung, berjalan dari lateral atas ke medial bawah "meniscus sign#. $enumpukan cairan ini menyebabkan sinus kosto*renikus menumpul. 9arena cairan mengisi hemithoraD maka paru akan terdorong ke arah sentraEhilus, dan kadang kadang mendorong mediastinum ke arah kontra latreal/

13

Em*isema $aru

>ampak gambaran hiperlusen di kedua lapang paru. $eningkatan (olume paru mendorong dia*ragma ke bawah, menyebabkan dia*ragma letak rendah dan mendatar. ;orakan bronko(askuler tampak lebih jelas selain gambaran *ibrosisnya dan (askuler paru yang relati* jarang/. $neumothoraD

14

5uang pleura sangat translusen dengan tak tampaknya gambaran pembuluh darah paru. $aru paru sendiri mungkin berwarna abu abu, bila masih berisi udara. =ila kolapsnya lengkap, pneumothoraD ini akan menekan pulmo sampai sekecil kecilnya sehingga merupakan gambaran suatu bulatan opak kecil di daerah hilus. Cantung terdorong ke arah lain yang berlawanan, spatium intercostal melebar, dia*ragma mendatar dan tertekan ke bawah/. >= $aru

$ada >= primer, *oto polos $< tampak gambaran bercak semiopak treletak di suprahiler "di atas hilus#, perihiler "sepanjang lim*angitis# dan parakardial "di samping kor# dengan batas tak tegas. $ada >= sekunder, tampak bercak semiopak berbentuk amor* seperti kapas berbatas tak tega di in*rakla(ikula "in*iltrat#, tampak densitas inhomogen bentuk amor* di apeks, tampak garis *ibrosis dan dapat terdapat gambaran kalsi*ikasi/.

e. 'iagnosis pasti 'idapatkan nanah atau pus yang berasal dari rongga pleura melalui aspirasi, drainase, dll

15

Aanah diguakan sebagai bahan pemeriksaan bakteriologi, amoeba, jamur, kultur dan tes resistensi antibiotik.

". Ko#$likasi ?istel =ronko pleura 2yok 2epsis Gagal jantung kongesti4

H. Penatalaksanaan $rinsip pengobatan empiema adalah a. $engosongan nanah $rinsip ini seperti umumnya yang dilakukan pada abses, untuk mencegah e*ek toksisnya. !losed drainage tube toracostory water scaled drainage dengan indikasi6 Aanah sangat kental dan sukar diaspirasi. Aanah terus terbentuk setelah dua minggu. >erjadinya piopneumotoraks.

0paya -2' juga dapat dibantu dengan pengisapan negati* sebesar 1020 cmH2B. Cika setelah ) 4 minggu tidak ada kemajuan, harus diempuh cara lain seperti empiema kronis10. b. 'rainage terbuka "open drainage# 9arena menggunakan kateter karet yang besar, maka perlu disertai juga dengan reseksi tulang iga. $pen drainage ini dikerjakan pada empiema kronis,
16

hal ini bisa terjadi akibat pengobatan yang terlambat atau tidak adekuat misalnya aspirasi yang terlambat atau tidak adekuat, drainase tidak adekuat sehingga harus mengganti atau membersihkan drain10. c. <ntibiotik 8engingat kematian sebagai akibat utama dari sepsis, maka antibiotik memegang peranan penting. <ntibiotik harus segera diberikan begitu diagnosis ditegakkan dan dosisnya harus tepat. $emilihan antibiotik didasarkan pada hasil pengecatan gram dan apusan nanah. $engobatan selanjutnya tergantung pada hasil kultur dan sensiti(itasnya. <ntibiotik dapat diberikan secara sistematik atau topikal. =iasanya diberikan penicilin. $emilihan awal didasarkan pada ;<$ dan H<$ "F laktam, penisilin, se*alosporin, kabapenem#. Cika dicurigai bakteri anaerob6 ditambah metronida+ole atau clindamycin. 3ama pemberian antibiotik 6 2 4 minggu4 d. ?ibrinolitik !ntrapleura 'iberikan pada empiema dengan pus yang kental dan atau empiema yang berkantong kantong. 9ontraindikasi6 *istula bronkopleura, gangguan koagulan . ?ibrinolitik intra pleura (olume total %0 100ml. Cenis obat yang diberikan6 2treptokinase 200.000 @ 2%0.000 !0 1 2DEhari 0rokinase %0.000 @ 100.000 !0 1 D 1 hari 2aat pemberian -2' di klem 4 @ / jam. Bbat diberikan selama ) hari berturut turut% e. $enutupan 5ongga Empiema $ada empiema menahun sering kali rongga empiema tidak menutup karena penebalan dan kekakuan pleura. $ada keadaan demikian dilakukan pembedahan "dekortikasi# atau torakoplasti.
17

o 'ekortikasi >indakan ini termasuk operasi besar dengan indikasi6 'rain tidak berjalan baik karena banyak kantng kantung. 3etak empiema sukar dicapai oleh drain. Empiema totalis yang mengalami organisasi padap pleura (isceralis.

o >orakoplasti Cika empiema tidak mau sembuh karena adanya *istel bronkopleura atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi. $ada pembedahan ini, segmen dari tulang iga dipotong subperiosteal, dengan demikian dinding toraks jatuh kedalam rogga pleura karena tekanan atmos*er10. *. $engobatan 9ausal 8isalnya sub*renik abses dengan drainase subdia*ragmatika, terapi spesi*ik pada amoeniasis, dan sebagainya 4. <pabila dijumpai abses sub*reniks, maka harus dilakukan drainase subdia*ragmatica. 2elain itu perlu diberikan pengobatan spesi*ik, untuk amoebiasis, tuberculosis, actinomicosis, dan sebagainya10. g. $engobatan tambahan $erbaiki keadaan umum lalu *isioterapi untuk membebaskan jalan na*as. !n*eksi dikontrol dengan pemberian obat <ntimikrobial, berdasarkan hasil uji sensiti(itas kultur organisme dari sputum. $asien mungkin akan diberikan obat antibiotic selama bertahun tahun dengan tipe antibiotik yang berbeda sesuai dengan perubahan dalam inter(al. =eberapa dokter sering kali memeberikan penyakit !2$< timbul. $asien dianjurkan untuk diberikan (aksin ulangan in*luen+a dan pneumonia.
18

$ostural drainage merupakan dasar dari rencana penatalaksanaan medis untuk bronkhiektasis. 'rainase yang meman*aatkan gaya gra(itasi diharapkan akan mengurangi jumlah sekret dan tingkat in*eksi "seringkali sputum mukopurulen harus diangkat dengan bronchospy#. $ada area dada, lakukan perkusi untuk membantu menaikkan sekresi. $ostural drainase dimulai pada jangka waktu pendek dan selanjutnya meningkat. 0ntuk meningkatkan pengenceran dan pengeluaran sputum, dapat diberikan aerosoli%ed nebuli%er dan dapat meningkatkan intake cairan. ?acetent sangat ideal untuk memberikan kelembapan tambahan pada aerosol. $asien harus dicegah untuk merokok, karena hal tersebut akan dapat merusak drainase bronchial akibat dari paralisis kerja siliari, meningkatkan sekresi bronchial, dan menyebabkan peradangan pada membrane mukosa sehingga mengakibatkan hiperplasia dari kelenjar mukus. !nter(ensi surgical, meskipun sering digunakan, diindikasikan untuk pasien dengan pengenceran dan pengeluaran sputum yang berlanjut dalam jumlah besar, serta pasien dengan pneumonia dan hemoptisis berulang karena tidak berobat secara teratur4.

!.

Pen%ulit 10 $enyulit yang sering timbul adalah 6 ?istel bronkopleura 2epsis

19

J.

2yok Gagal jantung kongesti* Btitis media

Prognosis $rognosis dipengaruhi oleh umur serta penyakit yang melatarbelakanginya. <ngka kematian meningkat pada usia tua, penyakit asal yang berat, dan pengobatan yang terlambat. ?aktor prognosis buruk pada empiema apabila6 1. 'idapatkan nanah di rongga pleura 2. $ewarnaan Gram cairan pleura positi* ). 9adar glukosa cairan pleura kurang dari 40mgEd3 4. =iakan cairan pleura positi* %. pH cairan pleura G .,0 4. 9adar 3'H cairan pleura H ) kali nilai normal serum"4#

BAB III SI PULAN

20

1. 2. ).

Empiema adalah akumulasi pus pada ca(um pleura yang dapat terjadi bilamana suatu paru terin*eksi. $enyebab empiema toraks dapat berasal dari paru dan dari luar paru Empiema akut ditandai pada permulaan gejala mirip dengan pneumonia, yaitu panas tinggi, nyeri pleuritik. $ada pemeriksaan *isik di dapatkan tanda tanda cairan di rongga pleura.

4.

Empiema kronis, disebut kronis apabila berjalan lebih dari ) bulan. 'itandai dengan badan tampak lemas, kurus, kesehatan main mundur, tampak pucat, sering dijumpai jari tabuh, dada data sampai cekung dibagian yang sakit disertai tanda tanda adanya cairan pleura.

%.

$ada pemeriksaan penunjang radiologi, *oto polos thorak tetap merupakan studi pertama untuk menge(aluasi e*usi atau empiema. Cika e*usi hadir, pencitraan dekubitus bilateral diindikasikan untuk karakterisasi lebih lanjut. $emeriksaan ini cukup in*ormati* dan hemat biaya. 0ltrasonogra*i dapat menunjukkan (olume kecil cairan pleura dan dapat memberikan in*ormasi tentang (iskositas. 0ltrasonogra*i juga dapat dengan cepat menunjukkan septa dalam koleksi cairan pleura. ;> scan thorak memberikan in*ormasi yang paling banyak. ;> scan menggambarkan cairan, loculation, dan penebalan membran pleura.

4.

'iagnosis pasti didapatkan nanah atau pus yang berasal dari rongga pleura melalui aspirasi, drainase, dll

DA!TA& PUSTAKA 1. Aadel, 8urray6 &e't Book of "espiratory Medicine third edition olume one, $hiladelphia. 2000 , ,/% 1041.
21

2. $algunadimargono, =enjamin dkk 6 Pedoman (iagnosa dan &erapi B)*+ SM, #lmu Penyakit Paru edisi -, 2urabaya, 200%. ). 5osenbluth '=. 2002. $leural e**usion6 Aonmalignant and malignant. !n6 ,ishman.s of pulmonary disease and disorders. Editors6 ?ishman <$, Elias C<, et al. )rd. Ed. 8cGraw Hill ;ompanies, 4/. %04. 4. 5ogayah, 5ita. 2010. Empiema. 9edokteran 5espirasi ?90!. Cakarta 6 'ept. $ulmonologi dan !lmu 'iakses tanggal . 'esember 201) 6

http6EEsta**.ui.ac.idEinternalE14024044/EmaterialEempiema.pd* %. :u ;hen, 9uan 8' et al. Emphasis on 9lebsiella $neumoniae in $atients with 'iabetes 8ellitus. 2000. )merican !ollege of !hest Physician. 'iakses tanggal . 'esember 201) 6 http6EEchestjournal.chestpubs.orgEcontentE11.E4E14/%.*ull.pd*Ihtml 4. ?auci, <nthony et al. 200,. Harrison.s Manual of Medicine /0 :ork 6 >he 8cGraw Hill ;ompany .. 8arc >obler, =arry HG, et al. 2011. Empyema #maging. 8edscape. diakses tanggal o(er(iew /. 8alueka, 5usdy Gha+ali. 200.. "adiologi (iagnostik. :ogyakarta 6 $ustaka ;endekia $ress. ,. Huang ;he H, Heng ;hung ;, et al. 2010. 3ung abcess predicts the surgical outcome in patients with pleural empyema. Journal of !ardiothoracic Surgery. diakses tanggal / 'esember 201) http6EEwww.cardiothoracicsurgery.orgEcontentE%E1E// 10. <lsaga**, 8. 200,. (asar1(asar #lmu Penyakit Paru. <irlangga 0ni(ersity $ress6 2urabaya. 11. <nonim. 'iakses tanggal 10 'esember 201) http6EEwww.medscape.comE(iewarticleE/0%)00 . 'esember 201). http6EEemedicine.medscape.comEarticleE)%%/,2
th

Edition. Aew

22

23