Anda di halaman 1dari 16

BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah survey permasalahan bk Dosen pengampu : Muslikah S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh Atik permanasari Unik prilintia Bondan sawung.p Alif gema.A Rombel 2 (1301411072) (1301411036) (13014110 ) (13014110 )

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sejalan dengan Tujuan Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun 2003) setiap satuan pendidikan tidak hanya memberikan pembekalan ilmu pengetahuan dan teknologi (perkembangan aspek kognitif) namun juga memfasilitasi perkembangan peserta didik secara optimal. Upaya untuk memberikan pembekalan ilmu pengetahuan dan teknologi (perkembangan aspek kognitif) merupakan tugas dari guru bidang studi sedangkan upaya untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik merupakan tugas guru bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan peserta didik beserta faktor yang

mempengaruhinya. Meskipun demikian, dalam pelaksanaannya layanan bimbingan dan konseling memerlukan kolaborasi antara konselor dengan pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, staf administrasi, orang tua peserta didik dan pihak-pihak terkait begitu juga sebaliknya. Sehubungan dengan hal tersebut maka diperlukan program bimbingan dan konseling yang mewadahi seluruh kegiatan bimbingan dan konseling yang akan diberikan kepada peserta didik dalam rangka menunjang tercapainya tujuan pendidikan nasional pada umumnya dan visi/misi yang ada di sekolah secara khusus. Penyusunan program bimbingan dan konseling hendaknya merujuk pada pedoman kurikulum dan berdasarkan kondisi objektif yang berkaitan dengan kebutuhan nyata di sekolah yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan peserta didik. Sehingga program yang dilaksanakan merupakan program yang realistik dan layak untuk diimplementasikan dan dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal di sekolah-sekolah. Sugiyo, (2011:16) mengemukakan bahwa komponen bimbingan dan konseling komprehensif diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu: (1) kurikulum bimbingan dan konseling; (2) layanan responsif; (3)

layanan perencanaan individual; dan (4) dukungan system. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai struktur-struktur bimbingan dan konseling komprehensif tersebut.

B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan Bimbingan dan konseling komprehensif? 2. Apa saja komponen-komponen yang terdapat pada Bimbingan dan konseling komprehensif? 3. Bagaimana sejarahnya BK komprehensif? 4. Apa perbedaan antara Bk Komprehensif dengan Pola 17+? C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Bimbingan dan konseling komprehensif 2. Untuk mengetahui apa saja komponen-komponen yang terdapat pada Bimbingan dan konseling komprehensif 3. Untuk mengetahui bagaimana lahirnya BK Komprehensif 4. Untuk mengetahui apa perbedaan antara Bk Komprehensif dengan Pola 17+

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian BK Komprehensif Bimbingan dan konseling merupakan sistem kegiatan yang dibuat guna membantu klien dalam mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin. Namun dalam prosesnya, siswa tidak selalu mengalami perkembangan yang baik, namun terkadang sifatnya fluktuatif atau tak stabil. Oleh sebab itulah, guna membantu siswa dalam perkembangannya perlu diberikan layanan bimbingan dan konseling yang komprehensif. Bimbingan dan konseling komprehensif diprogramkan bagi seluruh siswa, artinya bahwa semua peserta didik wajib mendapatkan layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu, menurut Suherman bimbingan dan konseling komprehensif perlu memperhatikan: (1) ruang lingkup yang menyeluruh, (2) dirancang untuk lebih berorientasi pada pencegahan, dan, (3) tujuannya pengembangan potensi peserta didik (Sugiyo, 2011:16). Ruang lingkup bimbingan dan konseling komprehensif tidak hanya berorientasi pada peserta didik sebagai pribadi saja, namun semua aspek kehidupan siswa sejak usia dini sampai usia remaja (SMA/SMK). Dimana focus utamanya adalah teraktualisasinya potensi peserta didik dan berkembang optimal sehingga peserta didik dapat meraih sukses di sekolah maupun masyarakat. Titik berat bimbingan dan konseling komprehensif adalah

mengarahkanpeserta didik agar mampu mencegah berbagai hal yang dapat menghambat perkembangannya. Selain itu, melalui hal preventif peserta didik mampu memutuskan dan memilih tindakan-tindakan tepat ang dapat mendukung perkembangannya. Agar pelaksanaan program bimbingan dan konseling komprehensif berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka harus dipahami 5

premis dasar Bimbingan dan konseling komprehensif. Menurut Gysbers dan Henderson dalam Sugiyo, (2011:16) lima presmis tersebut adalah: a. Tujuan Bimbingan dan konseling bersifat kompatibel dengan tujuan pendidikan. b. Fokus utama layanan bimbingan dan konseling adalah mengawal perkembangan peserta didik melalui pemenuhan fasilitas peserta didik agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi mandiri dan lebih optimal. c. Program bimbingan dan konseling suatu tim merupakan Team yang bersifat

Building approach artinya kolaboratif antar staff.

merupakan

d. Program bimbingan dan konseling merupakan sebuah proses yang tersusun secara sistematis dan dikemas melalui tahap-tahap

perencanaan, desain, implementasi, evaluasi, dan tindak lanjut. e. Program bimbingan dan konseling harus dikendalikan oleh

kepemmimpinan yang memiliki visi dan misi yang kuat mengenai bimbingan dan konseling.

2. Komponen Bimbingan dan Konseling Komprehensif Menurut Gybers dan Henderson dalam Sugiyo, (2011:16) pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif dikemas dalam empat komponen yaitu: (a) kurikulum bimbingan, (b) perencanaan incividual, (c) pelayanan responsif, dan (d) dukungan sistem.

a.

Kurikulum bimbingan dan konseling Kurikulum bimbingan dan konseling merupakan seperangkat aktifitas yang dirancang secara sistematis untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik yang mencakup perkembangan akademis, karir, pribadi dan sosial. Strtegi yang dilakukan konselor dalam pelaksanaan bimbingan dan pelayanan dasar ini dikemukakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2008: 224-230) sebagai berikut:

1) Bimbingan kelas, merupakan suatu strategi yang digunakan konselor untuk memberikan layanan kepada peserta didik dengan jalan berinteraksi secara langsung didalam kelas. 2) Pelayanan orientasi, salah satu kegiatan kkonselor dalam membantu peserta didik agar dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang baru. 3) Pelayanan informasi, berupa layanan yang mennitikberatkan pada pemberian informasi kepada peserta didik agar bisa memahami dirinya dan lingkungannya. 4) Bimbingan kelompok, merupakan bentuk layanan bimbingan yang diberikan kepada kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 5 sampai 12 peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar dapat merespon kebutuhan dan minatnya. 5) Pelayanan pengumpulan data, berupa layanan yang bermaksud untuk mengumpulkan berbagai data/informasi mengenai peserta didik secara lengkap dan komprehensif. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. Tujuan layanan ini dapat juga dirumuskan sebgai upaya membantu siswa agar: 1. memiliki kesadaran pemahaman tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial-budaya, dan agama); 2. mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi

tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku tepat (memadai) bagi penyesuaian dirinya dengan lingkungannya; 3. mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, serta mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kepada para siswa disajikan materi layanan yang menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karier yang kesemuanya terkait dengan pencapaian tugas-tugas perkembangannya.

Secara rinci materi aspek-aspek tugas-tugas perkembangan itu dapat dirumuskan sebagai berikut. a) Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. b) Pengembangan kemandirian emosional. c) Pengembangan kemampuan individual (problem solving/ decision making) d) Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang positif atau keterampilan belajar yang efektif. e) Pengembangan perilaku sosial yang bertanggung jawab (sikap altruis, sikap toleran dalam suasana kehidupan yang heterogen: multi budaya, etnis, ras dan agama. f) Pengembangan upaya pencapaian peran sosial sebagai pria atau wanita. sikap penerimaan diri secara objektif dan

g) Pengembangan

pengembangan secara tepat. h) Pengembangan sikap dan kemampuan mempersiapkan karier di masa depan. i) Pengembangan upaya pencapaian hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita j) Pengembangan berkeluarga. sikap positif terhadap pernikahan dan hidup

b.

Perencanaan individual Layanan perencanaan individual dapat diartikan sebagai layanan bantuan kepada semua siswa agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya, berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahan dirinya. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencanarencana dalam hal pendidikan, karir, social pribadinya. Dapat juga dikemukakan bahwa layanan ini bertujuan untuk membimbing seluruh siswa agar (a) memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan,

perencanaan, atau pengelolaan terhadap pengembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, soaial, belajar maupun karir, (b) belajar dapat memantau dan memehami perkembangan dirinya, (c) dapat melakukan kegiatan atau tindakan berdasarkan pemahamannya atau tujuan yang telah dirumuskan secara proaktif. Teknik bimbingannya adalah konsultasi dan konseling. Isi layanan perencanaan individual adalah: (1) bidang pendidikan dengan topic-topik belajar yang efektif, belajar memanfaatkan program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat, dan karakteristik kepribadian lainnya, (2) bidang karir dengan topic-topik mengidentifikasi kesempatan karir yang ada di lingkungan masyarakat, mengembangkan sikap yang positif terhadap dunia kerja , dan merencanakan kehidupan karirnya, (3) bidang social-pribadi dengan topic-topik mengembangkan konsep diri yang positif, mengembangkan keterampilan-keterampilan social yang tepat, belajar menghindari konflik dengan teman, dan belajar memahami perasaan orang lain. Satu hal yang perlu dilakukan konselor adalah memahami klien/peserta didik /konseli secara mendalam beserta aspek kepribadiannya melalui berbagai assesmen dan menyajikan informasi yang akurat tentang potensi diri dan lingkungan serta peluang yang tersedia sehingga klien dapat: 1) Menganalisis kekuatan dan kelemahannya baik yang berkaitan dengan potensi, bakat, minat, kepribadian dan lingkungannya. 2) Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan yang sesuai dengan dirinya sehingga dapat mengikuti pendidikan lanjutan dengan suasana yang kondusif. 3) Mengukur dan menilai ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. 4) Mempertimbangkan dan selanjutnya memilih serta menentukan pilihan melalui keputusan yang tepat dan bijak, sehingga apa yang nantinya dilakukan adalah buah dari perencanaan yang matang.

Strategi yang dikembangkan oleh Gysber dan Henderson dalam Sugiyo, (2011:16) meliputi: (1) Individual appraisal, yaitu suatu strategi dimana konselor membantu peserta didik untuk dapat menilai dan menafsirkan potensi-potensi yang dimilikinnya, minat, keterampilan, prestasi dan aspek kepribadiannya. (2) Individual advisement, yaitu suatu strategi yang mebantu klien agar dapat menggunakan segala informasi untuk

mengarahkan dirinya snndiri. (3) Transition planning, yaitu suatu strategi yang dimaksudkan untuk mebantu peserta didik dalam memahami dunia kerja melalui transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja. (4) Follow up, yaitu suatu stategi guna memberikan layanan tindak lanjut melalui berbagai kumpulan datauntuk evaluasi dan perbaikan program mendatang.

c.

Pelayanan responsif Layanan responsif merupakan layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan (pertolongan) dengan segera. Layanan ini bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhannya yang dirasakan pada saat ini, atau para siswa yang dipandang mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Indikator dari kegagalan itu berupa ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau perilaku bermasalah, atau malasuai (maladjustment). Layanan responsif merupakan layanan yang bersifat kuratif/langsung, sehingga berbagai strategi yang sering digunakan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Konseling individual dan kelomppok Referal (alih tangan atau rujukan) Kolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas Kolaborasi dengan orang tua Kolaborasi dengan pihak luar sekolah

Konsultasi Konferensi kasus Kunjungan rumah

d. Dukungan sistem Dukungan system merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberaikan bantuan kepada siswa, atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/ penasehat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990). Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam rangka memperlancar penyelenggaraan ketiga program layanan di atas. Sedangkan bagi personel pendidikan lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Komponen dukungan system mencakup dua bagian: (1) program bimbingan dan konseling, dan (2) layanan pendukung. Strategi yang digunakan dalam dukungan system ini berupa: (a) Pengembangan jejaring (networking) yaitu upaya menjalin kerjasama dengan guru, orang tua dan masyarakat serta seluruh personil sekolah agar tercipta suasana kondusif dalam proses pembelajaran dan layanan bimbingan dan konseling. (b) Pengembangan konselor yang meliputi: pelatihan-pelatihan yang tekait dengan bimbingan dan konseling, aktif dalam organisasi seperti ABKIN, aktif dalam pertemuan ilmiah seperti seminar, workshop, dan lain sebagainya.

3. Sejarah lahirnya BK Komprehensif Selama empat hari (11-14 Desember 2007) ada pelatihan Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling, bertempat di Cikole Lembang Bandung, yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PB-ABKIN) bekerja sama dengan Direktorat

Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. Dalam pelatihan, setiap anggota yang megikuti pelatihan

menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dalam ppertemuan ini disampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini, seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling, standar kompetensi konselor, Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK), dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling, melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. Ketika membuka kegiatan pelatihan, Prof. Dr. Sunaryo, M.Pd. selaku ketua PB- ABKIN, dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini, ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan

Bimbingan dan Konseling di sekolah, yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Salah satu rencana yang dibuat bahwa depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah, tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan

Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas, tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya, baik dalam Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, mau pun Kurikulum 1994. Selain itu, keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan ini model sedang

penyelenggaraan bimbingan dan konseling

yang saat

dikembangkan di Amerika Serikat. Perbedaannya, untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilahguidance curriculum. Kolaborasi antarprofesi dalam satuan pendidikan (sekolah). Unjuk kerja profesi guru di sekolah, termasuk BK belum sepenuhnya

mengimplementasikan pola kerja yang bersifat komprehensif yang sangat menekankan pada aspek hubungan kolaboratif dan saling mendukung antarguru yang terlibat. Premis utama yang ingin dikembangkan dalam paradigm layanan komprehensif, yakni: tujuan layanan BK pada dasarnya selaras dan sejalan dengan tujuan pendidikan pada umumnya, layanan BK hanya dapat tercapai optimal bila terjadi kolaborasi profesional antarguru, dan implementasi layanan

4. Perbedaan pola 17 plus dengan BK Komprehensif

No 1.

Aspek pembanding Pengertian

Pola 17+ Pemberian bantuan kepada peserta didik melalui, enam bidang bimbingan, sembilan layanan, dan enam layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.

Komprehensif Pemberian bantuan kepada peserta didik melalui layanan dasar bimbingan, layanan responsive, layanan perencanaan individual dan dukungan system sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Persamaan Sama-sama proses pemberian bantuan kepada peserta didik.

Perbedaan Perbedaan ada dalam hal layanannya.

2.

Tujuan

Membantu peserta didik mengenal bakat , minat , dan kemampuannya, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan, pendidikan, dan merencanakan karier yang sesuai dengan tuntutan kerja. Pemahaman -Pencegahan -Perbaikan -Pemeliharaan Pengembangan -Penyaluran -Penyesuaian -Adaptasi

3.

Fungsi

Membantu peserta didik mengenal bakat , minat , dan kemampuannya, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan, pendidikan, dan merencanakan karier yang sesuai dengan tuntutan kerja. Serta mengembangkan pola 17+ Pemahaman Pencegahan Penyesuaian -Pemecahan

Sama-sama Membantu peserta didik untuk mengenal dirinya

Bimbingan komprehensif mengembangkan pola 17+

Sama-sama memiliki fungsi: Pemahaman Pencegahan Penyesuaian pemecahan

4.

5.

6.

Orientasi Layanan dasar bimbingan Informasi Layanan Penempatan responsive dan penyaluran Layanan perencanaan individual Pembelajaran Dukungan Konseling sistem perorangan Bimbingan kelompok Konseling kelompok Konsultasi Mediasi Bimbingan Pribadi Pribadi Social Social Karier Karier Belajar Belajar Keberagamaan Keberagamaan Keberkeluargaan Keberkeluargaan Kegiatan Aplikasi Aplikasi pendukung instrumentasi instrumentasi Himpunan data Himpunan data Konferensi kasus Konferensi kasus Layanan

Tidak ada persamaan

Pada bimbingan komprehensif tidak ada fungsi: perbaikan pemeliharaan pengembangan penyaluran penyesuaian adaptasi Sementara pola 17+ tidak punya fungsi pemecahan Berbeda jenis layanannya

Mempunyai bimbingan yang sama

Tidak ada perbedaanya

Mempunyai kegiatan pendukung yang sama

Tidak ada perbedaanya

7.

Tempat kegiatan

Kunjungan rumah Kunjungan rumah Alih tangan kasus Alih tangan kasus Terapi Terapi kepustakaan kepustakaan Dapat Dapat dilaksanakan dilaksanakan diluar maupun diluar maupun didalam kelas didalam kelas

Mempunyai tempat kegiatan yang sama

Tidak ada perbedaanya

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan uraian mengenai struktur bimbingan dan konseling

komprehensif, maka struktur tersebut dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu Kurikulum bimbingan dan konseling, layanan responsif, perencanaan layanan individual, dan dukungan sistem. Layanan dasar bimbingan berkaitan dengan layanan bantuan bagi peserta didik melalui kegiatan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal. Untuk layanan responsif layanan ini merupakan layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan (pertolongan) dengan segera dan bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhannya yang dirasakan pada saat ini, atau para siswa yang dipandang mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Mengeani Layanan perencanaan individual, layanan ini dapat diartikan sebagai layanan bantuan kepada semua siswa agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya, berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahan dirinya, selain itu juga bertujuan untuk membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan social pribadinya. Sedangkan dukungan system merupakan komponen

layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberaikan bantuan kepada siswa, atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa yang meliputi dua layanan yaitu pemberian layanan dan kegiatan manjemen.

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyo. 2011. Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang: Widya Karya. Yusuf,S.,& Nurishan,J. 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Lidyasari, Aprilia Tina. Tanpa tahun. http://staff.uny.ac.id/sites /default/files/pendidikan/Aprilia%20Tina%20Lidyasari,%20M.Pd./BK% 20KOMPREHENSIF.pdf. diunduh pada tanggal 04 November 2013 pukul 23:28