Anda di halaman 1dari 32

D. Pengedokan Kapal 1.

Pengedokan Pengedokan adalah suatu proses memindahkan kapal dari air/laut ke atas dock dengan bantuan fasilitas pengedokan. Untuk melakukan pengedokan kapal ini, harus dilakukan persiapan yang matang dan berhati-hati mengingat spesifikasi bentuk kapal yang khusus dan berbeda-beda setiap kapal. Biro Klasifikasi Indonesia dan Syah Bandar menentukan periode-periode pengedokan kapal (perbaikan kapal di atas dok), yang kesemuanya tergantung dari umur kapal, jenis bahan yang dipakai sebagi badan kapal, keadaan/ kebutuhan kapal.

a. Jenis-Jenis Dock Yang Umum Adalah Sebagai Berikut : Untuk keperluan membersihkan badan kapal di bawah garis air, memeriksa kerusakan kerusakan, memperbaiki kerusakan - kerusakan serta mengecat badan kapal di bawah garis air maka dapat digunakan beberapa jenis dok yaitu : 1) Dok Kolam (Graving Dock/Dry Dock).

Gambar : Graving Dock Graving Dock yaitu suatu fasilitas pengedokan kapal yang berbentuk meyerupai Kolam yang terletak di tepi pantai. Pada graving dock mempunyai beberapa elemen atau bagian yang penting diantaranya adalah: pintu penutup ( yang berhubungan dengan perairan pantai), pompa-pompa pengering, mesin gulung (cupstand), tangga-tangga ( untuk naik turun ke dasar dan atas kolam, crane ( untuk transportasi) dll.

Di mana umumnya dinding-dinding sisi dan belakang terdiri dari bangunan beton bertulang, Dasar dari kolam ini terdiri dari beton bertulang yang telah dipancang paku-paku bumi (concrete pile) sedangkan pintu penutupnya terbuat dari pelat baja yang konstruksinya dibuat sedemikian rupa, sehingga pintu tersebut dapat mengapung, di mana pintu penutup ini dilengkapi tangki-tangki ballast yang digunakan untuk menenggelamkan dan mengapungkan pada waktu pengoperasiannya serta dilengkapi dengan katup-katup (valves) dan pompapompa. Pada bagian bibir pintu yang bersinggungan dengan bibir kolam (graving dock) diberi packing dari karet untuk memperoleh kekedapan pada waktu air dalam kolam kosong. Sebelum kapal dimasukkan ke dalam graving dock, maka graving dock diisi diisi dengan air dengan cara membuka katup, setelah permukaan air di dalam graving dock sama dengan permukaan air perairan, maka pintu (gate) dibuka atau digeser dan kapal dimasukkan ke dalam graving dock. Kapal diatur setelah dalam kedudukan yang direncanakan, pintu ditutup lagi dan air di dalam graving dock dipompa keluar yang sebelumnya katup pemasukannya ditutup . waktu pemompaan (jumping time) tergantung dari jumlah dan kapasitas pompa serta jumlah air yang masuk ke dalam graving dock. Setelah graving dock dipompa kering, kekedapan air dari pintu dock tidak sepenuhnya kedap. Kemungkinan masih masuknya air ke dalam dock dialirkan pada got dan selang beberapa waktu dapat dipompa keluar dengan pompa khusus. Keuntungan secara umum dari Graving Dock adalah sebagai berikut : a. Lebih aman untuk pengedokan kapal di banding peralatan pengedokan lainnya misalnya floating dock. Sebab graving dock suatu bangunan yang tetap sedangkan floating dock adalah bangunan yang terapung. b. Umur daya pemakaiannya tinggi dan lama dibandingkan peralatan pengedokan lainnya. c. Perawatan cukup rendah d. Bisa dipakai untuk pembangunan kapal baru. Dengan merubah atau memperluas dinding samping dan belakang maka graving dock dapat dirubah menjadi launching dock, yang dapat digunakan tidak

saja untuk reparasi tetapi bangunan baru dengan menggunakan metode arus posisi (positional flow method far new building ship). Kerugian secara umum dari Graving Dock adalah sebagai berikut :Biaya pembangunannya cukup besar atau mahal. a. Waktu pebuatannya lama b. Permanen/tidak bisa dipindah c. Lokasi/tempat amat berpengaruh

2) Dok Apung ( Floating Dock )

Gambar : Floating Dock Floating Dock adalah suatu bangunan konstruksi di laut yang digunakan untuk Pengedockan kapal dengan cara menggelamkan dan mengapungkan dalam arah vertikal. Konstruksi floating dock ini umumnya terbuat dari baja dan plat, di mana sumber istrik penyuplainya dapat digolongkan menjadi dua yaitu : suplai listrik dari darat atau dari floatingnya sendiri. Salah satu hal yang paling tampak dari floating dock ini adalah kemampuannya Untuk mereparasi pontonya sendiri (self dockijng). Floating dock dilengkapi dengan Bagian-bagian utama dari Dock Apung adalah sebagai berikut : a. Pompa pengeluaran b. Katup-katup pemasukan c. Jangkar dan rantai jangkar

d. Crane pengangkat Pompa-pompa dan katup-katup serta pipa-pipa induk, di mana untuk pemompaan ini dapat dikendalikan dari suatu tempat yang disebut control house. Di samping itu karena dok apung merupakan suatu bangunan yang terapung maka haruslah perlu ada peralatan untuk bertambat agar jangan sampai bergeser

kedudukannya disebabkan oleh arus, ombak, atau angin. Peralatan untuk bertambat ini jelas dengan jangkar atau rantainya dimana kadang-kadang digunakan juga bangunan beton atau pipa pancang yang ditempatkan pada dasar perairan sebagai bantuan. Selain itu dok juga diperlengkapi peralatan untuk menarik atau menggeser kapal yang akan dinaikkan serta kran kran yang diperlukan untuk transportasi pada waktu reparasi. Selanjutnya dok apung dibagi atas : a. Menurut , material badan dok : pelat, beton bertulang b. Menurut jumlah seksi : satu seksi ponton, dua atau lebih seksi pontoon c. Menurut jumlah side wall : dua side wall ( type u ), satu side wall ( type l ), tanpa side wall ( type ponton ) d. Menurut sumber tenaga listrik: sumber tenaga listrik sendiri, sumber tenaga listrik dari darat e. Menurut material badan dok dengan pelat baja dibagi atas sistem hubungannya : sistem keling, sistem las f. Sistem rangka konstruksinya : sistem rangka konstruksi melintang, sistem rangka konstruksi memanjang, sistem rangka konstruksi kombinasi Sebelum Dok apung yang dibuat dari plat dan beton bertulang untuk pengedokan kapal yang tak begitu besar dipakai material dok apung dari kayu. Dok apung dari kayu pertama dibuat pada abad XVII XVIII di mana pada waktu itu pemakaian kayu jauh lebih murah dari pada material lainnya . Pemakaian kayu akan lebih elastic dan baik memakan beban pukulan , tetapi mempunyai beberapa kejelekan diantarannya terpaksa dibangun banyak seksi dok akan sukar mendapatkan kekuatan memanjang dok yang diperlukan. Oleh karena itu agar dapat dibuat dok apung yang mempunyai sifat- sifat yang baik maka dibuat dari beton bertulang. Dok apung yang dibuat dari beton bertulang mempunyai beberapa kebaikan diantarannya : a. Pemakaian material lebih sedikit sekitar 1/3 dari pemakaian material dok apung dari plat b. Harganya kurang lebih 25 % lebih kecil disbanding harga dok apung dari plat

c. Tidak akan berkarat dan tak akan diperlukan pengecatan d. Biaya eksploitasi lebih rendah dibanding dengan dok apung dari plat ( dengan memperhitungkan , lebih rendahnya pemeliharaan, biaya perbaikan dan penggantian ). Berdasarkan penelitian dok apung dari beton bertulang tak membutuhkan perbaikan besar, tidak seperti dok apung dari plat setiap 20 tahun karat diadakan reparasi besar. e. Kekuatan serta daya tahannya menunjukkan beberapa ketebalan Menurut jumlah seksi ponton tunggal tidak saja dijumpai dok apung plat, lebih lebih dok apung dari beton bertulang hanya dibuat dengan seksi ponton tunggal. Untuk menghindari kejelekan dok apung seksi ponton tunggal maka dibuat dok apung dengan seksi ponton jamak ( biasanya tiga, empat, lima , enam atau lebih ponton ). Dengan dibuatkan dok apung seksi ponton jamak mempunyai beberapa kebaikan dibanding dok apung seksi tunggal a. Perbaikan tiap tiap seksi ponton dapat dilaksanakan oleh dok apung itu sendiri dengan melepas seksi ponton yang harus diperbaiki atau diperbaiki besar, kemudian menaikkan di atas dok apung itu sendiri. b. Pembuatannya dapat dilaksanakan pada galangan ( building berth ) yang panjangnya kurang dengan panjang keseluruhan dok apung yang selanjutnya disambung satu sama lain di atas air c. Waktu pembangunan relatif lebih cepat Tetapi dok apung seksi ponton jamak kekuatan memanjangnya sepenuhnya ditanggung oleh side wall , berlainan dok apung ponton tunggal kekuatan memanjang merupakan keseluruhan ponton dan side wall

Gambar : Dok apung dengn seksi pontoon tunggal Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Ponton Side wall Geladak kerja Geladak keamanan Geladak atas Balok lumas Balok samping Platform Control house Ruang pompa Ruang akomodasi Penghubung antara pontoon dan side wall

Gambar : Dok apung dengan 6 seksi pontoon Keterangan : 1. Ponton

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Side wall Geladak kerja Geladak keamanan Geladak atas Platform Control House

Dok apung dengan dua buah side wall atau wing wall atau biasa disebut type U. Tadi sudah dijelaskan untuk dok apung dengan seksi ponton jamak kekeratan memanjangnya ditanggung oleh side wall sepenuhnya. Oleh karena itu fungsi ponton adalah menenggelamkan diri dan mengapungkan diri sambil mengangkat kapal yang dinaikkan dok. Sehingga perlu diperhatikan hubungan antara ponton dengan side wall yaitu : a. Dengan paku keling b. Dengan baut pengikat yang kemungkinan dapat berderet seperti paku keling atau selang jarak tertentu , sehingga mengurangi jumlahnya. c. Dengan las

Gambar : Floating Dock Type L untuk menjaga keseimbangan pada sisi wing wall yang berdekatan dengan pantai dihubungkan semacam engsel. Type ini biasanya digunakan untuk pengedokan kapal yang tak begitu besar dan biasanya terdiri satu sampai tiga ponton. Dok apung dengan satu side wall ( Type L ) seperti engsel pengikat dengan daratan. Di samping itu dok apung masih dibagi menurut sumber tenaga listrik sendiri, yang artinya dok apung itu untuk pemompaan, kran dll

menggunakan listrik yang dihasilkan diisi generator sendiri. Sedang lainnya menggunakan listrik dari darat. Ciri ciri yang baik dari dok apung dibanding dengan dok kolam ialah : a. Dok apung dapat dipindahkan ke sembarang tempat perairan betapapun jauhnya b. Biaya pembuatannya ( diukur penjangkaran ) 3 4 kali lebih murah dibanding dok kolam c. Kemampuan dok apung dapat menaikkan kapal dengan kemiringan memanjang dan melintang yang cukup besar d. Dok apung dapat menaikkan kapal dengan panjang 15 20 % daripada panjang dok apungnya sendiri, sedangkan dok kolam tidak bisa Ciri ciri negatifnya ialah : a. Umur pemakaian lebih rendah dibanding dok kolam b. Memerlukan dalam perairan yang cukup dalam agar jangan sampai dok apung duduk di lumpur ( dasar peranan ) pada waktu akan dapat menaikkan kapal c. Memakai tenaga yang lebih besar dibanding dengan dok kolam

3) Heling dan Slipway Heling adalah peralatan di tepi perairan yang digunakan untuk menaikkan kapal untuk diperbaiki , dengan pertolongan rel tanpa merubah kedudukan kapal. Kecondongan bagian heling di bawah air merupakan tempat kedudukan untuk kapal. Tergantung dari kedudukan kapal dengan arah rel heling terbagi atas : 1. Heling melintang

2.

Heling memanjang

Pada heling melintang bidang memanjang kapal tegak lurus terhadap rel, sedangkan heling memanjang bidang memanjang kapal sejajar dengan rel. Untuk menaikkan kapal pada heling dengan pertolongan kereta kereta ( cradle ) sedangkan untuk menurunkan kembali tetap menggunakan kereta kereta ini. Untuk menaikkan kapal terpaksa harus menurunkan kapal yang sudah berada di atas heling, jadi heling ini kurang begitu efisien. Oleh karena itu untuk membuat efisien kerjanya maka digunakan slipway. Slipway adalah peralatan d itepi peraiaran yang digunakan untuk menaikkan kapal yang akan diperbaiki melalui rel dan pertolongan keret serta dengan beberapa penggeserannya. Seperti pada heling, sleepway pun tergantung kedudukan kapal terhadap rel terbagi atas : a. Slipway melintang b. Slipway mamanjang Sehingga dengan satu slipway kita dapat memperbaiki beberapa kapal atau membuat kapal baru.

Gambar : Slipway melintang Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. Rel Horizontal Derek penggeseran Derek penarikan Rel penarikan Kereta ( cradle )

Gambar : Slipway memanjang Keterangan : 1. 2. Derek utama ( penarikan ) Derek pengeeseran

4. Syncrolift Drydock

Gambar : Syncrolift Drydock Syncrolift adalah cara pengedokan kapal dengan menggunakan lift. Platform dari syncrolift diturunkan dengan pertolongan penghantar dan lift dari beberapa mesin Derek listrik kanan dan kiri. Setelah platform mencapai kedudukan yang tertentu, yang sudah barang tentu telah dipersiapkan balok lunas dan balok samping yang diperlukan maka kapal dimasukkan . Kemudian platform diangkut sampai pada permukaan. Penghantar tetap dari platform itu dapat berupa pipa baja atau beton. Jumlah mesin Derek listrik ini minimum adalah empat, lebih banyak lebih baik. Untuk mempertinggi efisiensi dari syincrolift ini biasanya digunakan lagi rel penggeser ( transfer system ) baik arah memanjang atau melintang sehingga dapat memperbaiki beberapa kapal atau membuat kapal baru.

2. PERSIAPAN PENGEDOKAN

Proses persiapan kapal Kapal ditambatkan di Dermaga dan mematikan semua mesin utama kapal. Menurunkan barang-barang yang tidak dipelukan dalam proses perbaikan kapal, misalnya drum dan barang lainnya yang mudah bergeser. Memasukan alat-alat yang menonjol keluar kapal misalnya stabilisato kapal. Kapal diusahakan tegak tidak dalam posisi miring ataupun nungging. Kapal yang naik dock diusahakan dalam keadaan free gas demi keselamatan karyawan dalam proses perbaikan.

Menyediakan tali temali, fender dan peralatan yang lain yang dapat digunakan sewaktu-waktu.

Menyediakan kapal tunda sebagai pemandu kapal. Pengosongan tangki, baik tangki bahan bakar, pelumas, ballast dll. Menyediakan gambar yang dibutuhkan dalam proses pengedokan, seperti a. General arrangement b. Midshipman section c. Lines plan d. Shell expantion

Memperhatikan posisi waktu gelombang air (pasang/ surut) untuk proses pemasukan kapal maupun pengeluaran kapal dari dock dengan dibantu kapal bantu dantug boat.

Persiapan Docking oleh Pihak Galangan Sebelum memasukkan kapal perlu kita perhatikan hal-hal sebagai berikut: Mesin harus mati kecuali mesin winch Kapal diatur supaya trim yang terjadi adalah trim minimum. Kapal harus bebas dari muatan berbahaya dan gas Kesiapan fasilitas sandar (bolder, tali, crew dock dll) Selain memperhatikan hal-hal tersebut diatas perlu juga dipersiapkan hal-

hal sebagai berikut: a. b. Pengaturan keel block dan side block, yang mengacu pada docking line plan Pada keel block 1 m terdiri dari beton cor setinggi 70cm dan bantalan kayu keras setinggi 30 cm. c. d. Peninggian side block diatur sesuai bentuk gading-gading kapal. Kapal-kapal dengan lebar sama atau lebih dari 16m dibuat side block antara, dimana jarak antar block maksimal 2 m atau diatur tumpuan maksimal pada landasangraving tidak lebih. e. Posisi bottom plug, peralatan elektronik dibawah kulit lambung, sea chest, dan sepatu kemudi tidak boleh bertumpu pada stop block. f. Jarak pengaturan lock sebagai berikut:

4 buah keel block terdepan dan 5 buah paling belakang jarak antar stop blockmasing-masing adalah 50 cm dan diikat masing-masing menjadi 1 unit agar saat kapal duduk susunan keel block tidak bergeser pada pondasi.

Jarak antara keel block masing-masing 2 m Jarak antara side block masing-masing 3 m, 3,5 m, 4 m tergantung masingmasing jarak frame dan besar kapal. Penempatan side block diletakkan dalam daerah setengah lebar R bilga Penempatan side block antara, tergantung posisi side keel pada konstruksi kapal tersebut. g. Penempatan keel block, side block dan side block antara diusahakan bertumpu pada wrang-wrang double bottom, sekat melintang dan memanjang sekat melintang dan memanjang untuk menghindari deformasi pada plat bottom. h.Penandaan garis, titik, untuk posisi acuan pembentukan kapal. i. Persiapan tug boat, dock master dan crew dock,batang stut ukuran, tali-temali, tangga dan lain-lain. j. Setelah pekerjaan persiapan selesai, kapal dapat dimasukkan, urutan sesuai dengan proses docking

3. PROSES DOCKING Proses pengedockan pada slipway 1. Pengaturan keel block dan side block pada kereta yang mengacu pada docking lines plan 2. Membuka pintu slip way dengan cara memompa keluar air yang ada di tangki pintu slipway 3. Kapal didorong dengan tugboat menuju pintu silway, pada kapal tersebut pada bagian kanan dan kiri diberi tali untuk mengarahkan kapal supaya pas pada keel block dan side 4. 5. block yang sudah dibuat

Setelah itu kapal yang sudah duduk diatas kereta ditarik keatas Slipway ditutup kembali dan airnya dipompa keluar

Proses pengedockan pada floating dock

Adapun proses pengedokan kapal sendiri dalam floating dock adalah sebagai berikut : 1. Agar kapal dapat masuk dok, maka dok apung harus ditenggelamkan terlebih dahulu dengan cara mengisi tangki-tangki ponton pada dok apung, sehingga dok tenggelam. Untuk menurunkan dok apung harus diperhatikan keseimbangan memanjang dan melintang dari dok, dengan cara mengatur pengisian tangkitangki kompartemen dok. Untuk menjaga keseimbangan dok, dock master menggunakan inclinometer. 2. Kemudian setelah dok tenggelam sesuai dengan kebutuhan sarat kapal, kapal didorong masuk oleh tug boat secara perlahan. 3. Kapal ditarik kedalam dock menggunakan tali secara berlahan - lahan dengan diarahkan oleh dock master yang apakah bagian tengah kapal sudah sesuai dengan keel block. Dock master dibantu beberapa orang pada kanan dan kiri floating dock untuk menyesuaikan kapal dengan tumpuannya, menggunakan capstan. 4. Setelah dock master memberikan tanda bahwa kapal sudah sesuai dengan tumpuannya dan terletak di center line, maka kapal akan disangga dengan captan dan kayu di kanan kiri kapal, agar kapal tidak bergeser. 5. Setelah posisi dari kapal sesuai, dock master memberikan tanda untuk menahan posisi kapal, kemudian ada seorang penyelam yang memeriksa

apakahpancangan/tumpuan baik-baik saja dan memeriksa lambung kapal ad yang robek atau tidak 6. Setelah dinyatakan sesuai, air pada tangki-tangki dok dipompakan keluar, sehingga dok mengapung. Posisi dari kapal maupun dok harus tetap dipertahankan agar tumpuannya tetap sesuai. Untuk itu digunakan capstan. 7. Setelah kapal menumpu dengan baik, dan dok sudah terapung sempurna, dilakukan pemeriksaan terhadap setiap penumpu, apakah telah menumpu dengan baik atau belum, jika masih ada bagian yang kurang sesuai atau masih menggantung, maka harus diberi kayu yang kekuatannya memadai untuk menahan kapal agar tumpuan kapal lebih bagus.

Gambar : Proses Docking pada floating dock

4. PENURUNAN KAPAL DARI ATAS DOCK (UNDOCKING) Tahap Persiapan : Pastikan material, alat kerja, kotak sampah dan barang-barang bekas yang berada di atas dok telah dinaikkan ke darat Siapkan tali tambat pada tempat yang telah ditentukan Siapkan tenaga kerja yang telah ditentukan di atas dok apung, kapal dan tug boat serta lokasi sandar yang telah ditentukan Pastikan kapal yang telah diturunkan dok telah diatur kondisi ballast sesuai pada waktu naik dok dan dan telah diperiksa oleh pihak control

galangan, klas,atau owner surveyor Seluruh peralatan yang ada di dock apung dicoba dan pastikan alat-alat mekanik, elektrik, pneumatik, serta indikator-indikator yang ada di control house dapat bekerja secara akurat Pastikan kondisi kapal tunda (tug boat) dalam kondisi siap pakai Periksa tabel pasang surut air laut terhadap kondisi sarat penurunan kapal dan dock apung telah aman dari bahaya kandas Tahap Pelaksanaan : Dok apung diturunkan sampai draft yang diperlukan (dengan mengantisipasi situasi pasang surut air laut)

Setelah kapal terapung, checker dan inspektor control galangan memeriksa lokasi yang ada perbaikan terhadap kemungkinan adanya kebocoran

Kapal digandeng 2 kapal tunda untuk ditarik keluar dok apung, kemudian ditempatkan pada lokasi sandar yang telah ditentukan

Setelah kapal keluar, dok mulai dipompa kembali Selama dalam proses pemompaan, petugas yang berada di atas dok selalu mengikuti perkembangan situasi dan kondisi sampai dok terapung kembali seperti semula.

PENGERJAAN REPARASI KAPAL 1. Pembersihan dan Pengecatan Badan Kapal a. Pembersihan Badan Kapal Sebelum dilakukan reparasi badan kapal dibersihkan dulu dari binatang dan tumbuhan laut yang menempel pada pelat badan kapal. Peralatan yang digunakan antara lain : sekrap besar dan kecil, tangga kayu, unit blasting, pasir blasting, air tawar. Pembersihan dimulai dengan mensekrap sampai binatang dan tumbuhan laut terlepas dari pelat badan kapal. Dilanjutkan dengan sandblasting kemudian dibersihkan dengan menyemprotkan air tawar dan dikeringkan. Blasting Blasting merupakan suatu metode pembersihan permukaan benda kerja dengan cara menyemprotkan pasir (steel grade) bertekanan tinggi ke benda kerja. Jenis-jenis pasir yang digunakan adalah : - Pasir silika / kwarsa : Satu kali pakai - Steel great : Bisa dipakai berulang-ulang - Overslag : bisa dipakai 2 kali, yang pertama untuk menghilangkan cat sedangkan yang kedua untuk meratakan. - Streal plate

Alat-alat utama yang digunakan untuk blasting adalah: 1. Compressor sebagai media utama untuk penekanan udara. 2. Tandon angin sebagai tempat untuk penyimpanan angin. 3. Separator sebagai alat untuk menyaring udara dari minyak dan air 4. Pot Blast sebagai tangki untuk menyimpan pasir (steel grade) 5. Selang Blasting (blast hawse) 6. Nozle. Sedangkan tools pendukung lain yakni: 1. Valve (katub-katub) 2. Holder (Ditempatkan antara nozzle dan blast hose) 3. T - Pipe (pencampuran angin dengan pasir) 4. Kopling (sambungan selang)

Alat keselamatan kerja untuk proses blasting adalah 1. APD (Alat Pelindung Diri) standart 2. Respirator (alat Bantu pernafasan) 3. Depment valve (katub yang dioperasikan langsung oleh blaster)

Gambar 4.6.1 Proses Blasting

b. Pengecatan Badan Kapal. Pengecatan badan kapal dapat dilakukan dengan kuas cat, roller maupun unit semprot cat sesuai dengan tingkat daerah kesulitan pengecatan. Jenis cat yang digunakan adalah : cat dasar, cat AC ( anti corrosive/anti karat ) dan cat AF ( anti folling/anti binatang atau tumbuhan laut ). Pengecatan dilakukan setelah badan kapal selesai diblasting. Sebelum dicat, badan kapal harus benar-benar bersih dari debu atau sejenisnya. Karena apabila masih ada debu yang menempel kemudian dicat akan menimbulkan kondensasi yang lama kelamaan akan menyebabkan munculnya blistering ( lubang-lubang kecil karena catnya terkelupas ). Badan kapal dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian bottom ( bagian yang tercelup air), bottop, dan bagian top side. Urutan pengerjaan coating pada masing masing bagian berbeda-beda. Untuk bagian bottom urutannya, yaitu : - Pembersihan binatang laut yang menempel pada badan kapal dengan cara di scrub.

- Setelah itu badan kapal dicuci menggunakan air tawar dengan tujuan untuk mengurangi kadar garam. - Kemudian dilakukan sand blasting. Sand blasting ini dibedakan menjadi 2 yaitu full blast dan sweep spot. Full blast semua pelat di blasting sampai cat pada pelat terkelupas, sedangkan sweep spot di blasting hanya pada bagian yang berkarat dan bagian yang tidak berkarat cukup di sweep saja. Untuk proses sweep spot lapisan AC (Anti Corrosion ) pada cat sebelumnya harus terkelupas agar cat primer bisa menempel pada pelat. - Setelah dilakukan blasting langkah selanjutnya adalah pengecetan pada badan kapal dengan cat primer atau disebut lapisan AC ( Anti corrosion ) lapis pertama dengan ketebalan kurang lebih 150 mikron. - Setelah itu dicat dengan menggunakan sealer atau disebut lapisan AC lapis ke dua dengan ketebalan kurang lebih 100 mikron. - Kemudian di cat dengan AF ( Anti Foulling ) lapis pertama - Langkah terakhir adalah pemberian AF ( Anti Foulling ) lapis kedua. Pemberian Anti folling ini bertujuan untuk mengurangi binatang laut yang menempel pada badan kapal.

Gambar 4.6.2 Proses Pengecatan Untuk pengecatan pada bagian boottop, langkah-langkahnya sama dengan pengecatan pada bagian bottom. Dalam pengecatan, daerah ini merupakan daerah yang kritis karena pada daerah ini kadang tercelup air ( saat muatan penuh ) dan kadang tidak tercelup air ( saat muatan kosong ), jadi pemberian AFnya tidak konvensional melainkan menggunakan self polishing. Sedangkan pada bagian top side langkah-langkahnya juga sama, namun pada daerah ini tidak perlu di cat AF karena pada bagian ini tidak tercelup air. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam coating : - Campuran cat.

Campuran cat menggunakan 2 komponen yaitu base (cat itu sendiri) dan pengeras, namun ada juga yang menggunakan satu komponen ( rubber ) - Interval antara langkah satu dengan langkah berikutnya antara 4 jam 3 hari. - Kelembaban. Batas maksimal kelembaban kurang lebih 85% - Dry wet - Suhu pelat - Suhu udara - Dew point ( selisih antara suhu pelat dengan suhu udara ) maksimal 3o C - Tekanan ideal yang digunakan kurang lebih 7,5 kg/cm3 - Tebal pengecatan minimal 400 mikron (dengan alat ukur elcometer)

Gambar 4.6.3 Elcometer

2. Pemeriksaan dan Pemotongan Pelat Badan Kapal. a. Pemeriksaan Tebal Pelat Sebelum dilakukan pengetesan tebal kulit, ditentukan terlebih dahulu titik-titk yang dicurigai mengalami pengurangan ketebalan dengan menggunakan palu ketok. Kemudian disediakan alat yang akan digunakan anatar lain : Unit Ultrasonic Test, gerinda, paselin, palu dan tangga. Untuk mempermudah pekerjaan dibantu dengan gambar rencana umum dan gambar kerja (Bukaan kulit

lambung) untuk meletakkan titik-titik yang akan diuji ketebalannya. Titik-titik uji yang telah ditentukan digerinda sampai terlihat warna pelat aslinya. Kemudian dipaselin untuk mencegah karat. Pekerjaan selanjutnya dengan bantuan unit ultrasonic test, tester pada bagian yang telah digerinda dengan cara menempelkan kabel dari alat tersebut pada titik uji. Maka jarum skala akan menunjukkan skala ketebalan pelat dalam satuan milimeter. Setelah diketahui ketebalannya kita bandingkan dengan tebal pelat semula. Apabila tebal pelat setelah diuji ketebalannya berkurang >20% dari tebal pelat semula, maka perlu dilakukan replating.

Gambar 4.6.4 Pemeriksaan tebal pelat

Pelat Badan Kapal Kulit lambung dipotong untuk diganti dengan pelat baru karena dideteksi pelat lama terdapat pengurangan ketebalan sehingga melebihi batas toleransi class. Peralatan yang digunakan antara lain : mesin las listrik, palu ketok, kapur tulis, tackle, mesin brander potong, dan material pelat pengganti. Proses pengerjaannya dengan bagian kulit yang akan dipotong diberi tanda (digambar pada pelat yang akan dipotong) dengan kapur tulis sebagai batas penanda untuk alur pemotongan pelat. Masing-masing bagian dilakukan pemotongan sesuai alur dari frame/gading tempat pemotongan. Pemotongan pelat yang akan diganti dilakukan dengan menggunakan alat yang dihubungkan pada sebuah regulator dan terhubung ke tabung yang berisi gas elpiji.Jadi pada alat tersebut terdapat 2 buah kabel berwarna merah dan hijau,

kabel berwarna merah mengalirkan gas elpiji sedangkan yang berwarna hijau mengalirkan gas oksigen. Cara kerjanya memanfaatkan tekanan gas elpiji yang keluar dengan campuran gas oksigen Perlu diperhatikan pada saat pemotongan pelat sekitar frame. Karena panas dari brander potong dapat mengakibatkan kerusakan pada frame. Setelah pelat dipotong bagian permukaan sisa-sisa yang kasar dihaluskan dengan gerinda.

Gambar 4.6.5 Pemotongan pelat badan kapal c. Penggantian Pelat Badan Kapal Pelat yang diganti adalah pelat dengan tebal dibawah 80% dari tebal semula. Proses pengerjaannya adalah : 1. Pelat dibersihkan dengan sand blasting. 2. Untuk pelat yang tipis dan tidak merata dilas dan digerinda sampai permukaannya rata dengan permukaan sekitarnya. 3. Untuk pelat yang tipis dan merata dipotong pada bagian tersebut dengan menggunakan las potong sesuai gambar bukaan kulit. 4. Untuk menggantinya dipasang pelat dengan ketebalan yang sama dengan tebal pelat asal dengan mengelaskan pada bagian pelat yang dipotong.

Gambar 4.6.6 Penggantian pelat badan kapal

3. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Peralatan di Bawah Garis Air. a. Propeler Melepas Propeler Peralatan yang dipakai : Mesin brander besar, Hammer besar,kunci pas besar, bul-bul, tackle, paju dari kayu, pelat tebal dengan ukuran tertentu. Proses pengerjaan: 1. Membuat paju dan memasang pelat tebal, tackle dan baut pada propeler. 2. Memasang paju pada pelat tebal. 3. Pelat tebal ditekan sekeras mungkin dengan mengeraskan baut. 4. Paju dipukul sampai masuk. 5. Propeler akan lepas dengan sendirinya dan diangkat dengan tackle. 6. Jika diperlukan dilakukan pemanasan setempat di sela daun propeler.

Pelepasan Poros Propeler Poros yang telah lama digunakan harus dirawat, untuk itu poros tersebut harus dilepas dulu dari dudukannya untuk dibawa ke bengkel mekanik dan dilakukan perawatan. Sebelum dilepas gap antara poros dengan liner diukur terlebih dahulu dengan menggunakan alat yang dinamakan wear down gap. Selisih antara gap awal dengan gap setelah pengukuran maksimal 3mm. Apabila lebih dari 3 mm,

maka perlu direpair atau diganti. Peralatan yang digunakan untuk melepas propeler antara lain : Majun kaos, hoist/tackle crane 5 ton, gantry crane 25 ton, kawat baja diameter 35 mm, tangga bantu. Proses pengerjaan : 1. Hoist dipasang pada bul-bul/kupingan di buritan dengan posisi di sebelah belakang, kanan dan kiri. 2. Tali baja diikat simpul pada poros propeler yang terlihat, dihubungkan dengan masing-masing rantai hoist. 3. Hoist di belakang dikeraskan sehingga secara perlahan poros tertarik keluar dari stern tube-nya. 4. Poros diangkat perlahan ke lantai dok dengan diberi bantalan balok kayu, lalu diangkat dengan gantry crane ke bengkel mekanik. Selain perawatan pada poros biasanya juga dilakukan pengecekan seal. Apabila seal telah aus, maka seal tersebut akan diganti.

Gambar 4.6.7 Pelepasan propeller dan poros propeller

Gambar 4.6.8 Wear down gap

Pemeriksaan Kelurusan Poros Propeler Untuk pemeriksaan poros propeler digunakan mesin bubut yang telah dirangkai dengan batang penunjuk pada eretan memanjang. Poros propeler dipasang pada mesin bubut. Saat mesin dihidupkan eretan memanjang beserta batang penunjuk bergerak sepanjang poros. Batang penunjuk yang ujungnya dipasang dengan permukaan poros akan menyentuh poros jika poros tidak rata permukaannya atau melengkung pada diameter yang tetap. Untuk meluruskan kembali poros propeler yang bengkok dilakukan dengan mengepress dengan mesin press pada bagian yang melengkung cembung sampai lurus kembali. Dapat juga dilakukan dengan pengelasan setempat kemudian dibubut sampai permukaannya rata kembali dengan permukaan yang tidak bengkok, halus dan diametern6ya sesuai dengan yang diharapkan. Pengujian Colour Check/ MPT Dilakukan untuk mengetahui keretakan yang mungkin terjadi pada shaft/poros propeler. Proses pengerjaan :

1. Poros propeler dibersihkan dari oli dan kotoran dengan memakai cleaner dan dibiarkan sampai kering. 2. Poros yang telah bersih disemprot dengan cat penetrant berwarna merah dan didiamkan beberapa saat agart bila ada kemungkinan terjadi keretakan, penetrant dapat meresap. Kemudian dilap sampai bersih/tidak berbekas. 3. Disemprot developer berwarna putih, setelah kering kemudian diperiksa. Jika terdapat bekas bercak/garis berwarna merah berarti ada keretakan pada poros propeler.

Balancing Propeler Dilakukan untuk memastikan bahwa masing-masing daun propeler sama agar gaya yang dihasilkan oleh propeler dapat optimal.

Proses pengerjaan : 1. Membuat poros sesuai dengan poros sebenarnya (diameternya sama). 2. Menandai masing-masing daun propeler (dengan nomor atau angka). 3. Memasang propeler pada poros propeler. 4. Memasang poros dan propelernya pada mesin balancing. 5. Memutar dan mengamati poros dan propeler. 6. Daun propeler yang beratnya tidak sama saat berputar daun propeler yang terbertat akan selau berhenti di bawah. Jika terjadi hal demikian daun propeler yang terberat digerinda merata dan balancing lagi sampai didapat berat masing-masing daun propeler sama. 7. Hal yang sama untuk daun propeler yang dominan paling ringan, dilas dulu kemudian digerinda sampai beratnya sama. Pemasangan Propeler Peralatan yang digunakan : hoist, tali baja, hammer, kunci L, kunci pas baut propeler, brander potong, kunci ring. Proses pengerjaan : 1. Tali baja diikat pada propeler dan ditarik menuju poros propeler. 2. Dengan hoist, propeler diletakkan pada tepat pada lubang dengan poros.

3. Propeler ditarik sampai terpasang dengan baik pada porosnya, demikian juga dengan pasek/spee-nya. 4. Poros didorong sampai ujung poros masuk ke dalam boss propeler. 5. Propeler di tarik masuk dengan menggunakan crane tackle selain dengan dorongan para pekerja sampai propeler terpasang secara keseluruhan. 6. Dipasang ring shield dan rubber gasket di luar dan di dalam badan kapal untuk menjaga kekedapan sambungan boss poros dengan ujung poros. 7. Baut dipasang dan dikuatkan dengan memasang baut-baut penguatnya dan dikuatkan lagi dengan mengikat bonet penutup propeller dengan baut pengikatnya sebanyak 10 buah.

Gambar 4.6.9 Pemasangan propeller

b. Daun Kemudi Melepas Daun Kemudi Proses pengerjaan : 1. Memasang bul-bul pada sisi-sisi daun kemudi dengan dilas. 2. Memecah seman penutup baut dengan palu.

3. Melepas baut-baut baik yang di luar maupun yang ada didalam badan kapal, jika perlu, dilakukan pemanasan terlebih dahulu dengan brander potong untuk memudahkannya. 4. Daun kemudi diangkat sedikit untuk melepaskan sole piece. 5. Daun kemudi digeser dan diturunkan dengan perlahan-lahan. 6. Daun kemudi di bawa ke bengkel mekanik untuk mendapatkan perawatan dan pemeliharaan.

Memasang Daun Kemudi Sebelum dipasang pada tempatnya, daun kemudi terlebih dahulu di periksa apakah masih layak pakai atau tidak, jika sudah tidak layak apakah harus diganti atau hanya perlu diperbaiki saja. Proses pengerjaan : 1. Memasang 2 kupingan (bul-bul) pada buritan kapal dan 2 buah lagi pada sisi kanan dan kiri daun kemudi. 2. Memasang hoist pada masing-masing kupingan. 3. Menempatkan poros kemudi pada lubang sole piece dan menjaga posisi daun kemudi tetap tegak. 4. Memasang baut-baut pada flens poros dan menguatkannya dengan mengelaskan pelat pada masing-masing barisan baut flens kemudi kiri dan kanan.

Gambar 4.6.10 Pemasangan daun kemudi c. Pemasangan Zinc Anode Peralatan yang dipakai anatar lain : alat ukur/meteran, kapur tulis, zinc anode, dan mesin las. Pemasangan zinc anode pada bagian kapal yang tercelup didalam air laut dimaksudkan untuk mengurangi korosi yang terjadi di sekitar daerah yang dipasangi zinc anode. Hal ini disebabkan zinc anode mampu mengelektrolisis air laut. Sehingga proses pengkaratan badan kapal dapat diperlambat. Jarak pemasangan zinc anode pada arah memanjang kapal disekitar lambung 6,5 meter dan arah vertikal 4 meter. Untuk pemasangan pada daun kemudi dipasang secukupnya ( 4 buah ).

Gambar 4.6.11 Pemasangan zinc anode 4. Pemeriksaan Hasil Las-lasan ( tes kekedapan ) Menggunakan Kapur dan Solar. Sepanjang hasil lasan bagian luar diolesi dengan kapur dan bagian dalam diolesi solar. Setelah ditunggu beberapa saat jika kapur tetap kering dan berwarna putih, berarti hasil lasan baik. Tetapi jika kapur terdapat bercak-bercak solar, berarti hasil lasan terdapat retak/penetrasinya kurang baik. Jika terjadi hal yang demikian maka hasil lasan harus digouging dan dilakukan pengelasan kembali. Menggunakan Air Bertekanan. Sambungan las/alur las bagian luar disemprot dengan air bertekanan 7 kg/cm dan pengecekan dilakukan pada bagian dalam. Jika sambuangan las baik, maka tidak akan terjadi perembesan dibalik lasan. Test ini biasanya dilakukan pada bangunan baru. Menggunakan Udara Bertekanan. Tangki dikosongkan, ditutup dan dialirkan udara bertekanan kedalamnya sampai tekanan tertentu ( 2 kg/cm ). Memasang manometer agar diketahui tekanan udara didalamnya dan untuk mempertahankan tekanan udara tersebut sampai pengujian selesai. Pada bagian luar tangki, pada alur lasan diolesi dengan

cairan detergen/sabun. Jika terjadi gelembung-gelembung sabun pada permukaan lasan, berarti hasil lasan tidak baik ( tidak kedap ). Sehingga harus digouging untuk selanjutnya dilas kembali. Jika tidak terdapat gelembung, maka hasil lasan baik ( kedap air ). 5. Pemasangan rantai jangkar Mula-mula rantai jangkar diturunkan ke graving dock dengan crane, setelah itu jangkar dipasangkan dengan cara melepas keling yang digunakan untuk menyambungkan rantai. Setelah jangkar terpasang keling tersebut dipasang lagi disusul dengan pemberian material timah yang bertujuan untuk mencegah karat pada keeling. Setelah semuanya selesai jangkar kemudian dinaikkan.

Gambar 4.6.12 Pemasangan rantai jangkar 6. Pemeriksaan Kelisttrikan Kapal Pemeriksaan kelistrikan kapal dilakukan agar penyuplaian listrik pada kapal selalu tersedia saat kapal berlabuh, bongkar muat , manuvering dan yang lainnya. Untuk memastikan agar tetap berfungsi dan mencukupi dalam penyediaan listrik pada saat kegiatan tersebut dilakukan memeriksa peralatan kelistrikan pada kapal dan instalasinya baik generator, emergency generator, motor listrik, dan saluran kabelkabel pada kapal atau yang lainnya dengan memperbaiki atau mengganti bagianbagian yang rusak. 7. Pemeriksaan Perpipaan Pada Kapal Pemeriksaan pipa dilakukan untuk menjaga agar pipa saat menyalurkan cairan berfungsi dengan baik. Pemeriksaan pipa kebanyakan dilakukan secara visual, pemeriksaan visual dilakukan dengan memastikan apakah pipa itu tidak terjadi kebocoran saat menyalurkan cairan tersebut, dan bila terjadi kebocoran bisa diperbaiki atau diganti baru. Dan pemeriksaan berikutnya bisa dilakukan dengan menggoreskan kertas lakmus atau yang lainnya yang digunakan untuk pengecekan saluran cairan yang mudah terbakar seperti saluran bahan bakar kapal.

Dilakukan juga pemeriksaan pada valve pipa jika sudah tidak berfungsi bisa diganti baru.