Anda di halaman 1dari 5

Paper 1: Sumber : Fuel 95 (2012) 622629 (www.elsevier.com/locate/fuel) Bahan bakar hidrokarbon dari minyak nabati dengan katalik dekarboksilasi.

metode hidrolisis dan termo

Oleh : Wei-Cheng Wang a, , Nirajan Thapaliya a, Andrew Campos a, Larry F. Stikeleather b, William L. Roberts a
a Department of Mechanical and Aerospace Engineering, North Carolina State University, United States b Department of Biological and Agricultural Engineering, North Carolina State University, United States

1. Latar Belakang: Yang menjadi bahan dasar pemikiran tulisan ini adalah sebagai berikut : Semakin mahal serta langkanya bahan bakar hidrocarbon Teknologi biodisel yang berkembang masih memiliki kelemahan, yaitu biaya produksi ynag tinggi kadar NoX yang masih tinggi, serta hanya terbatas pada bio-fuel yang kadar FFA ( Fatty Acid Methyl Ester) nya rendah. Perlu dikembangkan proses alternatif untuk memproduksi bio-fuel yang drop-in, pengganti bahan bakar tradisional. 2. Metodologi: Dalam penelitian ini, para peneliti menitik beratkan pada dua metode untuk menghasilkan bahan bahar alterntative (bio-fuel) yaitu : [1] hidrolisis dan [2] Katalitik dekarboksilasi.

Gambar 1: Continuous hydrolysis dan sistem dekarboksilasi.

[1] Hidrolisis. Dalam melakukan eksperimen hidrolisis seperti terlihat pada gambar 1. Sejumlah 316 reaktor berbahan stainless steel dengan ketinggian 150 cm dan inside diameternya 8,9 cm bida menampung 10 liter cairan. Sumber panas dari reaktor ini adalah coil coil yang diinduksi secara elektromagnetik. Dalam mengontrol temperatur reaktor digunakan termocouple K type yang terpasang di permukaan raektor. Daya maksimum dari reaktor ini 1,8 Kw dan bisa bekerja selama 120 metik pada temperatur maksimum. FFA ( Fatty Acid Methyl Ester) yang dimasukkan kedalam reaktor serta dicampur dengan air manis (sweet-water) dan kemudian dipanasakan sampai suhu 300oC diatas suhu penguapan dari air pada reaktor. Hasil dari reaksi, FFA dan sweet-water diukur dengan gas kromatographi untuk mengetahui konsentarsi dari cairan yang dihsilkan, kemudian dinormalisasi dengan sample yang ada. [2] Katalitik Dekarboksilasi. Dalam proses FFA di panasakan dalam reaktor mulai 120oC sampai temperatur penguapan kandungan air yang ada, bisa dilihat pada gambar 1. Setelah proses ini cairan yang dihasilkan diukur menggunakan gas kromatografi mengetahui karakteristik serta kandungan yang ada. 3. Hasil : Dalam paper ini, karakteristik bahan bakar hidrocarbon yang dihasilkan melalui proses hidrolisa dan dekarboksilasi ini diukur dengan alat ukur karakteristik bahan bakar meliputi Neslab anti-freeze tester (RTE-140,Portsmouth, NH) untuk mengetahui cold flow properties (ASTM D2386); PenskyMartens closed cup tester (K16200, Koehler Instrument Co., Inc., Bohemia, NY) untuk mengetahui flash point (ASTM D93-00); Oxygen Bomb Calorimeter (1341EB, Parr Ins. Co., Moline, IL) untuk mengetest energy density (ASTM D4809); Stabinger viscometer (SVM 3000, Anton Paar, Ashland, VA) untuk mengetahui density danviscosity (ASTM D7042). Kemudian Karakteristik dari bahan bakar dibandingkan dengan bahan bakar komesial yang ada (Shell, Raleigh, NC; dengan cetane number sekitar 45 ) dan komersial biodiesel (Piedmont Biofuels Co., Pittsboro, NC; dengan cetane number antara 4567). untuk

Paper 2: Sumber : Fuel Processing Technology 92 (2011) 23052311 (www.elsevier.com/locate/fuelproc) Konversi Katalitik dari minyak nabati pada sebuah continuous FCC pilot plant Peter Bielansky, Alexander Weinert 1, Christoph Schnberger 2, Alexander Reichhold 3
Vienna University of Technology, Institute of Chemical Engineering, 1060 Vienna, Getreidemarkt 9/166, Austria rmany

Latar Belakang: Penggunaan bahan minyak nabati sebagai bahan bakar gterbbarukan sudah banyak dilakukan oleh para peneliti. Jumlah minyak nabati yang melimpah.

Metodologi: Dalam penelitian ini, diulas tentang bagaimana proses penggunaan minyak nabati sebgai bahan bakar yang terbarukan. Seperti terlihat pada gambar, penulis menjelaskan bahwa bahan minyak nabati ketika dilakukan proses seoxudasi dan cracking akan menghasilkan hidrocarbon berat yang banyak mengandung kadar oksigen. Heavy hidrocarbon (hidrocarbon berat) tadi kemudian dilakukan proses deoxsigenasi dan cracking yang kedua, dan dihasilkan light olefin dan parafin ringan (bensin) + CO2 + alkohol + CO + H2O. Selanjutnya dilakukan proses oligomerisasi dan dihasilkan gas (light olefins, parafin, CO, CO2, H2O)

Hasil:

Hasil dari FCC secara continue pada beberapa minyak nabati (minyak biji-bijian; kedelai dan kelapa sawit) didapatkan tidak jauh berbeda. Disini bisa dilihat dalampenelitian ini bahwa salah satu parameter yang paling penting dalam proses FCC adalah gabbgab dari proses gas cracking dan bensin. Dari penelitian didapatkan nilai konversi menurun pada campuran minyak sayur yang lebih tinggi. Catatan penting disini minyak nabati mengandung sekitar 11 wt.% Oxygenwhich tidak dapat dikonversi menjadi hidrokarbon.

Jika mengandung oksigen dan CO2 dikatakan sebagai bahan yang "unconvertible". Dari sini bisa disimpulkan minyak rapeseed adalah sekitar 2 berat.%, Untuk minyak kedelai 6 wt% dan menunjukkan bahkan sedikit peningkatan untuk kelapa sawit.