Anda di halaman 1dari 19

Soal Pertama

Seorang anak, 4 tahun, 30 kg BB, datang dengan pembengkakan pada regio kiri bawah. Gigi # 75 karies profunda. Terdapat food debris pada ke 4 regio, gigi anterior RA terdapat karies media servikal. Palatum sempit dan tinggi, SNA > normal. Masih sulit menghilangkan kebiasaan minum susu botol terutama menjelang tidur. Bagaimana tindakan Sdr. Pada pasien ini secara komprehensif, baik untuk saat ini maupun tahun-tahun mendatang.

Jawaban

Dokter gigi tidak hanya merawat pasien dewasa, namun juga merawat pasien anak-anak yang datang ke klinik dengan masalah-masalah yang berbeda. Penanganan pasien anak-anak tidaklah sama dengan penanganan pasien dewasa. Dokter gigi harus memahami perilaku pasien anak untuk kemudian dapat memeriksa keadaan gigi dan mulut yang dipermasalahkan oleh pasien anak atau yang dikuatirkan oleh orang tua anak. Tuntutan profesi dokter gigi tidak hanya memberikan perawatan akan masalah yang dikeluhkan/diderita oleh pasien anak, akan tetapi dokter gigi sebagai bagian integral dari tim kesehatan harus memilki kepedulian dan kesadaran akan pertumbuhan dan perkembangan anak yang baik. Maka dari itu dokter gigi harus memiliki pengetahuan akan pertumbuhan dan perkembangan anak. Harus diingat bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa yang kecil (Cameron dan Widner, 2008). Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik (Soetjiningsih, 1988). Berkembang merupakan salah satu perubahan organisme ke arah kedewasaan dan biasanya tidak bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat kualitatif. Perkembangan adalah bertambah kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi

tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Perkembangan menyangkut adanya proses pematangan.sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa, sehingga masing-msing dapat memenuhi fungsinya termasuk juga emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil iteraksi dengan lingkungan (Soetjiningsih, 1988). Perilaku manusia dapat diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil dapat dibedakan dengan manusia lainnya. Sedangkan perilaku itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk respon dengan stimulus yang timbul dan manusia merupakan gabungan dari jiwa dan raga yang memiliki sifat-sifat tertentu dan unik. (Tirta Raharja U. dkk 2000) Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak digolongkan 4 tahap, yaitu : 1.Tahap sensori motor (0 2 tahun) Prilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis (berfikir). Sekitar usia 18 24 bulan anak mulai bisa melakukan operations, awal kemampuan berfikir. 2.Tahap pra operasional (2 7 tahun) a.Tahap pra konseptual (2 4 tahun) anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya, pola pikir egosentris. Pola berfikir ada dua yaitu : transduktif ; anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu (ayam bertelur jadi semua binatang bertelur) atau karena ciri ciri objek tertentu (truk dan mobil sama karena punya roda empat). Pola penalaran sinkretik terjadi bila anak mulai selalu mengubah ubah kriteria klasifikasinya. Misal mula mula ia mengelompokan truk, sedan dan bus sendiri sendiri, tapi kemudia mengelompokan mereka berdasarkan warnanya, lalu berdasarkan besar kecilnya dst. b.Tahap intuitif (4 7 tahun) Pola fikir berdasar intuitif, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian bagian terentu dari objek dan semata mata didasarkan atas penampakan objek. 3.Tahap operasional konkrit (7 12 tahun) Konversi menunjukan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila tidak ditambah

atau dikurangi maka volumenya tetap. Anak mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti : tinggi, besar, kecil, warna, bentuk dst. 4.Tahap operasional formal (mulai usia 12 tahun) Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek objek yang ia fikirkan. Pola fikir menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda. Pada kasus ini, usia anak 4 tahun, memiliki kelakuan yang umum sebagai berikut (Cameron dan Widner, 2008) : Kooperatif dalam bermain, biasanya tidak takut ditinggal orangtua saat janji pertemuan klinik gigi, karena anak tidak punya ketakutan akan pengalaman baru. Anak punya ego dalam kepemilikan, komentar tentang pakaian dapat efektif sebagai perkembangan komunikasi. Pada usia ini anak dapat memahami benda-benda yang nyaman baginya, seperti jempol, dan selimut nyaman. Pemahaman tingkat kooperatif pasien diperlukan untuk perawatan yang diberikan. Ada 3 tingkat kooperatif pasien : 1. cenderung kooperatif 2. kooperatif 3. tidak kooperatf Pembagian tingkat kooperaif (wright) pada anak usia 4 tahun umumnya tergolong pada tingkat cenderung kooperatif . Adapun pada kasus ini, anak mengalami obesitas dengan berat badan 30 kg. Obesitas adalah kelebihan berat badan yang jauh melebihi berat badan ideal terhadap tinggi badan. Idealnya berat tubuh 1 tahun : 3 x BBL. Berat tubuh usia 2-4 tahun bertambah 2,5 kg setiap tahunnya. Berat tubuh usia 5 tahun : 5 x BBL Usia remaja 40 45 kg (Perkembangan Anak : Elizabeth Hurlock). Misalnya pasien anak tersebut lahir dengan berat tubuh 4 kg, idealnya berat tubuh usia 4 tahun adalah 19,5 kg. Obesitas pada anak sudah mencapai taraf epidemi di banyak negeri. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa di seluruh dunia terdapat kirakira 22 juta anak di bawah usia lima tahun yang kelebihan berat badan (www.mediasehat.com, 2013). Masalah obesitas dapat terjadi pada usia anakanak, remaja hingga dewasa. Pada era globalisasi saat ini, usia 4-15 tahun memaksimalkan

merupakan usia yang cukup rentan untuk menderita obesitas sejak dini. Kebiasaan anak menonton televisi dalam waktu yang lama, pola makan yang tidak sehat, dan kurangnya ruang gerak menjadi faktor penyebab. Dampak obesitas pada kesehatan anak sudah lama diketahui, mulai dari peningkatan risiko penyakit kardiovaskular di usia dewasa, gangguan hormon, hingga penurunan kemampuan belajar (www.promkes.depkes.go.id, 2013). Pola makan atau pun asupan gula yang berlebihan tidak diperhatikan oleh orangtua anak tersebut. Penanganannya, dokter gigi dapat memberikan rujukan ke bagian ahli gizi. Anak pada kasus ini mengalami Nursing Mouth Caries (NMC), berdasarkan anamnesa dari orangtua bahwa kebiasaan minum susu botol masih sulit hilang terutama menjelang tidur, serta pemeriksaan klinis intra oral adanya beberapa gigi anterior RA karies media servikal. Hal ini sesuai dengan definisi NMC, yaitu jika dua atau lebih permukaan labial atau palatal dari gigi sulung anterior RA terdapat karies (Everet, 2009). Karies pada NMC terjadi karena orang tua memberikan ASI, susu botol ataupun cairan bergula yang berlangsung dengan intensitas yang sering, yaitu 2-4 kali sehari selama beberapa jam sampai anak tertidur atau bahkan sepanjang malam. Secara klinis NMC mempunyai pola dan tipe yang khusus. Adanya lesi karies yang terlihat jelas pada beberapa gigi anterior rahang atas terutama pada bagian labial gigi insisif atas. NMC jarang mengenai insisif rahang bawah, mungkin karena posisinya yang terlindung oleh lidah.

Gambar Lesi pada Permukaan Labial Gigi Insisif Rahang Atas dan Gigi Anterior Rahang Bawah Tidak Mengalami Karies.

Perawatan terhadap NMC ditindaklanjuti berdasarkan pada tingkat keparahan karies. Gigi dengan karies yang telah mengenai saluran akar hendaknya dilakukan perawatan endodontik terlebih dahulu sebelum dilakukan penambalan, sedangkan pada gigi dengan karies yang belum mengenai pulpa dapat langsung dilakukan penambalan. Selain perawatan NMC, alangkah lebih baik bila pencegahan terhadap NMC dilakukan juga. Hal ini dikarenakan semakin parah karies maka semakin kompleks pula perawatan yang harus dilakukan sehingga memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk dikeluarkan. Kasus NMC bila dibiarkan tanpa perawatan, dapat cepat meluas mengenai seluruh gigi sehingga keadaan menjadi lebih parah dengan akibat lanjut yaitu pulpa nekrosis dan kelainan jaringan periapikal serta kerusakan pada gigi permanen. Anak kemudian akan mengalami kesulitan makan dan akan mempengaruhi kesehatan umum, pertumbuhan serta perkembangan tubuhnya. Pencegahan untuk NMC dapat dilakukan oleh orangtua di rumah dengan membilas gigi anak setelah minum susu botol dengan air putih, menyeka sisa-sisa susu yang melekat pada permukaan gigi dengan kasa atau kain bersih. Usia 4 tahun sudah dapat diajarkan cara menyikat gigi supaya OHI dapat diperbaiki serta membangun kedisplinan anak di kemudian hari dalam menjaga kesehatan gigi permanennya. Black mengklasifikasikan kavitas dalam beberapa Klas antara lain : Klas I : Kavitas yang terjadi pada : Pit dan fisur di dataran oklusal gigi posterior. Daerah bukal, lingual atau groove palatinal gigi posterior. Lingual atau palatinal gigi anterior (foramen caecum).

Klas II : Kavitas pada dataran aproksimal gigi posterior. Klas III : Kavitas pada dataran aproksimal insisivus dan kaninus, memerlukan perbaikan tepi insisal. Klas IV : Kavitas pada dataran aproksimal gigi anterior di mana proses kariesnya telah sampai ke tepi insisal. Klas V : Kavitas yang didapatkan pada 1/3 servikal dataran bukal atau
5

labial dan kadang kadang pada dataran lingual gigi anterior atau posterior. Pada kasus ini, gigi gigi anterior RA mengalami karis media di servikal,

tergolong pada lesi karies kelas V. Black (1924) menentukan beberapa aturan preparasi yang perlu diikuti untuk restorasi gigi permanen yang karies. Restorasi gigi sulung masih mengikuti prinsip preparasi Black dengan beberapa modifikasi. Prinsip prinsip Black untuk preparasi kavitas ada tujuh, yaitu : Outline form. Removal of caries (Membuang jaringan karies). Resistance form (Membuat bentuk resistensi). Retention form (Membuat bentuk retensi). Convenience form. Finishing the enamel margin (Menghaluskan dinding / tepi kavitas). Toilet of the cavity (Membersihkan kavitas dari debris). Preparasi kavitas klas V gigi sulung dibuat melengkung sesuai garis servikal dengan kedalaman 1-2 mm. Retensi berupa undercut sepanjang tepi kavitas. Preparasi memerlukan ketelitian terutama di daerah tepi gingiva agar tidak melukai jaringan gingiva. Bila jaringan karies lunak, pembersihan dilakukan dengan ekskavator tajam. Bahan tumpat yang digunakan semen ionomer kaca mengingat keunggulan bahan tersebut yakni mampu berikatan dengan jaringan gigi tanpa pengetsaan, sehingga preparasi seminimal mungkin dan melepaskan fluor mencegah terjadinya sekunder karies. Teknik restorasi klas V gigi sulung : 1. Membuka daerah karies dengan bur no. 330 sedalam 1-2 mm. 2. Membentuk kavitas sejajar dengan garis servikal, dasar kavitas atau dinding pulpa konveks sesuai kontur gigi, sudut kavitas membulat. 3. Retensi mekanik berupa undercut dibuat dengan bur inverted cone pada sekeliling garis tepi kavitas. 4. Membuat bevel pendek disekeliling tepi kavitas. 5. Kavitas dibersihkan dan dikeringkan.
6

6. Menumpat kavitas dengan semen ionomer kaca. 7. Setelah polimerisasi selesai bila diperlukan dilakukan pemolesan. Gigi 75 yang mengalami karies profunda serta terdapat pembengkakkan di area tersebut, menandakan terjadinya infeksi periapikal (abses), gigi tersebut telah non vital. Untuk perawatan dapat dilakukan perawatan gangrene pulpa. Dihindari tindakan ekstraksi gigi tersebut dikarenakan waktu erupsi untuk gigi penggantinya masih lama. Pencabutan yang terlalu dini dapat menyebabkan maloklusi. Gigi sulung yang karies harus direstorasi untuk mengembalikan fungsi yang normal sampai pada penggantian gigi pada waktunya. Tabel waktu erupsi gigi permanen (McCall and Schour) Gigi Permanen I1 I2 C P1 P2 M1 M2 M3 Rahang Atas (tahun) 7-8 8-9 11-12 10-11 10-12 6-7 12-13 16-21 Rahang Bawah (tahun) 6-7 7-8 9-10 10-12 11-12 6-7 11-13 16-21

Adapun langkah perawatan gangrene pulpa pada gigi sulung sebagai berikut : Kunjungan pertama : 1. Siapkan instrumen dan bahan. 2. Isolasi gigi dengan rubber dam. 3. Preparasi kavitas. 4. Ekskavasi karies yang dalam. 5. Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece kecepatan rendah. 6. Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar.
7

7. Bersihkan (irigasi) dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril, dan keringkan kamar pulpa. 8. Biarkan kamar pulpa terbuka untuk akses keluar gas gangrene, mengurangi tekanan dan meredakan pembengkakkan pada area gigi tersebut. Kunjungan kedua : 1. Isolasi gigi dengan rubber dam. 2. Bersihkan (irigasi) dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril, dan keringkan kamar pulpa. 3. Berikan obat sterilisasi (okspara) yang diaplikasikan pada cotton pellet, tutup dengan tambalan sementara. Kunjungan ketiga : 1. Isolasi gigi dengan rubber dam. 2. Periksa sterilnya cotton pellet (tidak bau gangrene, tidak kotor, bau obat, bersih), tidak ada keluhan, nyaman, jaringan sekitar tidak ada kelainan. 3. Apabila steril, berikan semen Zinc Oxide Eugenol pada kamar pulpa,diikuti oleh semen base, tambalan sementara. Kunjungan keempat : Apabila tidak ada keluhan dari pasien, jaringan sekitar tidak ada kelainan, dan tes klinis P -, T -, maka dapat dilanjutkan dengan preparasi kavitas untuk penambalan tetap. Diperlukan analisis sefalometrik guna menunjang rencana perawatan selanjutnya. Sefalometrik adalah ilmu yang mempelajari pengukuran-pengukuran yang bersifat kuantitatif terhadap bagian-bagian tertentu dari kepala untuk mendapatkan informasi tentang pola kraniofasial. Manfaat sefalometri radiografik adalah: a. Mempelajari pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial. Dengan membandingkan sefalogram-sefalogram yang diambil dalam interval waktu yang berbeda, untuk mengetahui arah pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial. b. Diagnosis atau analisis kelainan kraniofasial. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab maloklusi (seperti ketidak seimbangan struktur tulang muka).

c. Mempelajari tipe fasial. Relasi rahang dan posisi gigi-gigi berhubungan erat dengan tipe fasial. Ada 2 hal penting yaitu : (1) posisi maksila dalam arah antero-posterior terhadap kranium dan (2) relasi mandibula terhadap maksila, sehingga akan mempengaruhi bentuk profil : cembung, lurus atau cekung. d. Merencanakan perawatan ortodontik. Analisis dan diagnosis yang didasarkan pada perhitungan-perhitungan sefalometrik dapat diprakirakan hasil perawatan ortodontik yang dilakukan. e.Evaluasi kasus-kasus yang telah dirawat. Dengan membandingkan sefalogram yang diambil sebelum, sewaktu dan sesudah perawatan ortodontik. Palatum pasien anak tinggi dan sempit diduga karena etiologi kebiasaan menghisap jari atau penggunaan botol susu berdot yang masih dilanjutkan. Analisis Steiner pada sefalomterik yaitu salah satunya dengan mengukur besar Sudut SNA (normal 82) , >82 maksila protrusif , < 820 maksila retrusif. Sudut-sudut yang menggambarkan hubungan skeletal a. SN-Pog: hubungan posisi anteroposterior dari dagu terhadap garis yang melalui basis kranii anterior. b. SNA: hubungan posisi anteroposterior dari basis apikal maksila terhadap garis yang melalui basis kranii anterior. c. SNB: hubungan posisi anteroposterior dari basis apikal mandibula terhadap garis yang melalui basis kranii anterior. d. ANB: hubungan posisi anteroposterior dari maksila terhadap posisi anteroposterior dari mandibula. Maloklusi kelas II yang parah sering dihubungkan dengan nilai ANB yang besar. e. Sudut facial (N-Pog-FH): hubungan posisi anteroposterior dagu terhadap bidang Frankfort horizontal. f. FMA atau MP-FH: kemiringan sudut bidang mandibula terhadap bidang Frankfort horizontal.

g. MP-SN: kemiringan sudut bidang mandibula terhadap bidang Frankfort horizontal.

Gambar titik jaringan keras pada selafometrik

Pada keadaan normal dalam keadaan physiologic rest position (istirahat) proporsi muka pada ukuran vertikal : Nasion ke Spina Nasalis Anterior (SNA) = 43% dari jumlah panjang Nasion ke Mentum (Gnathion). Jika Nasion SNA > 43%, maka SNA ke Mentum lebih pendek, berarti ada infraklusi gigi-gigi posterior. Masalah ini akan berkembang menjadi maloklusi pada gigi permanennya. Tepatlah disimpulkan seperti yang terjadi pada kasus ini bahwa peran dokter gigi terhadap pasien anak sangat penting supaya dapat dicegah tidak terjadinya maloklusi sejak dini, atau mengurangi derajat keparahan moloklusi yang akan terjadi kelak. Cara mempertahankan oklusi normal Hal-hal yang diperlukan untuk mempertahankan oklusi normal adalah : 1. Hubungan yang baik antara dokter gigi dan pasien

10

Hubungan dimulai dari saat visite pertama pasien dan orang tua ke dokter gigi. Melalui penyuluhan yang dilengkapi dengan ilustrasi dan model gigi, orang tua dan pasien akan mengetahui dengan jelas bahwa oklusi normal itu tidak terjadi begitu saja. Mereka harus mengetahui bahwa banyak hal yang bisa menyebabkan terjadinya penyimpangan dari oklusi normal, kerumitan perkembangan gigi. Harus mengetahui bahwa jauh lebih mudah mencegah atau menghambat terjadinya maloklusi daripada merawatnya. 2. Catatan diagnostik Anak seharusnya dibawa ke dokter gigi seawal mungkin. Pada umur 2,5 tahun Ini tidak berarti harus dirawat, cukup diperkenalkan dengan alat-alat pemeriksaan, pemeriksaan klinik sederhana dan catatan keadaan kesehatan gigi dan mulutnya. Pada umur 5 tahun Dokter gigi sudah mulai menentukan jadwal pemeriksaan gigi bagi anak secara rutin untuk memulai catatan diagnostik jangka panjang. 3. Pengambilan foto Ro Bite-wing 2 kali setahun Periapikal 1 kali setahun Lengkap setiap 2 tahun 1 kali cukup OPG (Oral Panoramic Radiografi)

4. Model studi Selama tahun-tahun kritis, yaitu umur 6 12 tahun pengambilan model studi perlu dilakukan setiap 1 tahun sekali. Model studi tidak perlu dibuat dengan basis yang rapi dan dipolis tetapi cukup bagian lengkung gigi dan rahang. Kegunaan model studi untuk : a. Menjelaskan keadaan oklusi gigi pasien kepada pasien dan orang tuanya. b. Menentukan diagnostik kasus dan cara mempertahankan oklusi normal.
11

c. Pembuatan model studi sangat penting terutama apabila pengambilan foto Ro tidak mungkin dilakukan. Alternatif mempertahankan oklusi normal Dokter gigi dapat memilih satu diantara tiga alternatif, yaitu : 1. Mencegah terjadinya maloklusi 2. Menghambat perkembangannya maloklusi 3. Mengoreksi maloklusi yang telah terjadi Alternatif yang pertama (mencegah terjadinya maloklusi) jelas merupakan pilihan yang terbaik bagi para dokter gigi yang belum memiliki spesialisasi ortodonsi. Periode kritis pergantian gigi (6-12 tahun) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam usaha mencegah terjadinya maloklusi pada periode kritis yaitu : 1. Pola erupsi gigi sulung yang abnormal 2. Persistensi sisa akar gigi sulung 3. Gigi supernumerary 4. Gigi sulung ankylosis 5. Crypte tulang yang tidak teresorpsi 6. Jaringan lunak yang menghalangi 7. Tambalan gigi sulung yang berlebihan Hal tersebut akan mengganggu urutan waktu pergantian gigi. Untuk menyakinkan agar dokter gigi siap memberi pelayanan yang terbaik pada waktu memulai praktek, dimeja tulis ditempelkan daftar faktor-faktor tersebut, dan daftar urutan erupsi gigi permanen. Prosedur ortodonti pencegahan 1. Perawatan caries gigi sulung 2. Menghilangkan kebiasaan mulut yang jelek 3. Penyesuaian oklusi (occlusal adjusment) 4. Pengamatan diastema insisivi atas (central diatema)

12

Soal Kedua

Anak perempuan, 12 tahun datang dengan keluhan kepala terasa sakit secara tibatiba, leher kadang-kadang terasa kaku, terutama waktu bangun pagi. Oklusi kelas II divisi 1, sampai dengan usia 5 tahun terdapat sucking habit. Pada pemeriksaan klinis terdapat lip seal hilang dan restriksi pergerakan mandibula. Ortu concern sekali dengan keadaan anaknya karena tahun depan akan masuk ke SMP. Jelaskan selengkapnya apa yang Sdr. Ketahui tentang masalah yang dihadapi OS, kausa dan hubungannya dengan semua kemungkinan manifestasi klinis, diagnosa dan tindakan perawatan serta pencegahan untuk waktu yang akan datang.

Jawaban :

Dokter gigi harus mampu menangani pasien anak di klinik. Adapun dasardasar penanganannya yaitu pemahaman tingkat kooperatif pasien, kemudian mengetahui faktor yang mempenaruhi tingkah laku dan penanganannya. Pemahaman tingkat kooperatif pasien diperlukan untuk perawatan yang diberikan. Ada 3 tingkat kooperatif pasien : 1. cenderung kooperatif 2. kooperatif 3. tidak kooperatf Sedangkan faktor yang mempengaruhi tingkah laku dan penanganannya meliputi beberapa hal yaitu : 1. status penyakit 2. perkembangan fisik dan mental 3. karakter orang tua 4. kepribadian dan kemampuan klinisi 5. kondisi anak dalam keluarga Orang tua dapat mempengaruhi tingkah laku anak , oleh karena itu dibutuhkan interaksi antara orang tua dan drg. Tingkah laku anak kehidupan sehari-hari yang berpengaruh antara lain : dalam memaksimalkan

13

a. kebiasaan makan jenis,waktu b. kebiasaan menjaga OH c. pengetahuan tentang peran gigi sulung d. sosial ekonomi dapat terlihat jenis perawatan penumpatan atau pencabutan e.kepribadian orang tua : 1. terlalu melindungi pasien cemas 2. pengalaman buruk orang tuaf. eksternal 3. ketidak pedulian orang tuaperawatan terganggu 4. terlalu memanjakan pasien tidak kooperatif

Kepribadian orangtua yang concern terhadap anak perempuannya merupakan kondisi yang ideal dalam membantu dan melancarkan rencana perawatan yang akan dilakukan oleh dokter gigi. Maloklusi kelas II divisi 1 memiliki keadaan : Puncak bonjol M1 RA berada di depan bukal groove M1 RB Protusif I RA Ekstruksi I RB Palatum dalam Overjet besar Overbite dalam Kurva spee dalam Pada kasus berat dapat mencacat wajah Birdface Bibir hipotonus

14

Etiologinya dapat diakibatkan sucking habit sampai dengan usia 5 tahun. Kebiasaan buruk sucking habit ini menyebabkan tekanan otot buccinators kea rah midline, bibir atas naik (hipotonus) sehingga menyebabkan lipseal (-), kemudian terjadi gigi prostusif akibat lidah mendorong gigi. Oral habit merupakan kebiasaan/tindakan otomatis pada mulut, dan ditandai dengan pengulangan, yang dapat mengakibatkan kelainan pada gigi dan jaringan pendukungnya (Boucher). Contoh kebiasaan pada mulut : mendorong lidah, menghisap jari, menelan abnormal, bernafas lewat mulut, bruxism. Etiologi dari Oral habit yaitu : Hubungan kurang harmonis orangtua dengan anak Masalah dalam keluarga sehingga kurang perhatian kepada anak Tidak terpenuhinya Oral Satisfaction Periode (usia anak 1,5-2 tahun) Ibu yang tidak menyusui anaknya Penyapihan sebelum waktunya Gangguan emosi Kelainan bentuk anatomi

Penanggulangan dari Oral Habit yaitu : 1. Tanpa Alat a.Pendekatan fisiologis b.Pendekatan secara medis c.Pemberian obat-obatan d.Tindakan operasi e.Terapi fungsi otot (myofunctional) 2. Dengan Alat a.Alat lepasan berupa pelat akilik dengan cangkolan adam pada gigi M1 b.Alat fixed

Keluhan sakit kepala tiba-tiba, leher kadang-kadang terasa kaku terutama waktu bangun pagi, adanya restriksi pergerakan mandibula, serta hilangnya lip seal, menandakan terdapat disfungsi sendi rahang.

15

Fungsi dari sendi rahang apabila terganggu oleh kondisi yang berat dan berlangsung lama sehingga tidak dapat ditoleransi oleh fisiologis, menghasilkan gangguan pada sendi rahang. Kondisi dapat local atau sistemik. Faktor local yaitu perubahan struktur wajah dan leher (trauma) yang dapat member masukan sensorik pada SSP yang mengganggu pergerakan membuka menutup rahang. Kondisi sistemik meliputi psikososial. Toleransi fisiologis merupakan

kemampuan seseorang dalam menghadapi setiap kondisi yang mengancam serta respon terhadapnya, dipengaruhi oleh genetic, jenis kelamin, pola makanan, ada tidaknya penyakit akut atau kronis yang diderita, dan kemampuan SSP untuk memodulasi impuls nyeri. Keterbatasan pergerakan mandibula (restriksi) adalah upaya pasien dalam mengurangi rasa sakit pada otot elevator atau depressor akibat kontraksi atau peregangan akibat berfungsi. Maka diperlukan pemeriksaan penunjang berupa foto ekstra oral untuk melihat gangguan sendi rahang lebih jelas. Perawatan gangguan sendi rahang meliputi 2 fase : 1. Fase I : Menghilangkan keluhan utama. Reposisi Kondilus Myofunctional therapy Menghilangkan stress 2. Fase II : Ortodontik, prostodontik, pembedahan, oral rehabilitation, occlusal equilibration. Keseimbangan di antara 3 grup otot lidah, yaitu master, buccinators, dan orbicularis oris pada proses penelanan harus dijaga. Latihan-latihan yang dapat dilakukan guna mengembalikan keseimbangan tersebut yakni : 1. Latihan untuk koreksi posisi lidah a. Lidah bagian anterior. Latihan ini dasar, tidak boleh melanjutkan ke tahap selanjutnya apabila belum lancer pada latihan dasar ini. One elastic swallow , menggunakan karet elastic orto/serpihan permen fox, letakkan di ujung lidah anak. Instruksikan untuk

16

menggerakkan lidah agar menyentuh permen. Posisi lidah harus lurus. Tongue hold exercise, pasien menengadah kepala membentuk sudut 45, menempatkan lidah di belakang insisif (pada rugae palatine) secara lurus lalu katupkan bibir perlahan. Posisi lidah tidak boleh berubah saat mengatupkan lidahdan saat bibir tertutup. b. Lidah bagian tengah. Two elastic swallow, dua permen diletakkan di anterior dan di tengah, kemudian pasien diinstruksikan menggerakkan lidah untuk menyentuh permen yang ada di anterior. Setelah tersentuh dan posisi lidah lurus, pasien diinstruksikan untuk menggerakkan lidah bagian tengah secara perlahan sampai permen di bagian tengah tersentuh. Holl pull exercise, saat mulut tertutup, pasien diinstruksikan menempatkan lidah di rugae palatine lalu membuka mulut. Pada saat membuka mulut, posisi lidah tidak boleh berubah dan harus lurus. c. Lidah bagian posterior Three elastic swallow, gunakan 3 permen diletakkan di posterior, anterior, tengah, dengan jarak 1 cm. Tahapannya sama dengan bagian lidah lainnya. 2. Latihan untuk M.Masseter dan Bucinator Diperuntukkan bagi pasien pipi lemah. Bila makan sering keluar lewat samping. Anak diinstruksikan membuka mulut lalu katupkan sampai oklusi sentrik untuk dapatkan starting point. Setelah dapat, taruh 3 jari di titik starting point lalu anak diinstruksikan menggigit keras. Pada saa clenching, otot akan berusaha mendorong ujung jari. Otot akan terasa menonjol dan menegang. Lakukan latihan sebanyak 10 kali. 3. Latihan untuk otot-otot bibir a. Hipotonus bibir atas dan bawah

17

The tug war exercise (tarik tambang). Ambil kancing piyama dengan ukuran normal (1 inch), lalu ambil tali kasur. Ikatkan kancing pada masing-masing ujung tali. Taruh 1 kancing di antara bibir dan gigi anak, dan sisi lain ditaruh pad bibir orangtua. Kemudian keduanya saling tarik-menarik dengan posisi tali sama tinggi agar daya yang dihasilkan untuk bibir atas dan bawah sama. Kancing ditaruh di antara bibir dan gigi,jadi yang menahan kancing adalah bibir,bukan gigi. b. Hipotonus bibir bawah The marshmallow twist exercise. Prinsipya sama dengan the tug of war,hanya talinya dibiarkan tergantung ke bawah. Berikan beban dengan berat yang bertahap dari ringan sampai berat. c. Hipotonus bibir atas The lip massage, bibir atas ditarik ke dalam, lalu bibir bawah membungkus bibir atas dengan tekanan sampai terasa kontak. Dengan perlahan tarik bibir bawah dengan tetap menekan bibir atas. Dengan demikian bibir bawah telah memijat bibir atas. Lakukan latihan ini di depan cermin dan sesering mungin. 4. Latihan untuk menelan . Dilakukan setelah anak mampu melakukan latihan-latihan lain. 5. Perawatan Bawah Sadar/ Subconscious TX a. Time Chart, dengan member ceklist setelah melakukan latihan dengan benar. b. Sublimal therapy,bisa menggunakan stiker sebagai reminder. c. Auto suggestion/sugesti pribadi, Ajak anak untuk mensugesti diri sendiri dengan ucapaan kata2 yang memotivasi sebelum tidur. Dengan melakukan terapi otot dan lidah yang dijelaskan di atas, gangguan sendi rahang dapat berangsur membaik. Kemudian dapat dilanjutkan perawatan maloklusi kelas II divisi 1 dengan pemakaian alat orthodontic yang tepat.

18

DAFTAR PUSTAKA

Cameron, A.C.,dan R.P. Widmer. 2003. Handbook of Pediatric Dentistry. Philadelphia : Mosby Elsv.Publ. Daniel Garliner. Myofuncional Therapy. Philadephia : W.B. Saunders Corp. Diktat kuliah pedodontia II. Behaviour Management, Nursing Mouth Caries. Diktat kuliah pedodontia III. Temporomandibular Disorder. Evert van A. 2009. Case Report in Pediatric Dentistry. London : Quintenssence Publis. Finn. 2003. Clinical Pedodotics 4th Ed. New Delhi : W.B.Sasunders Company. http://mediasehat.com/konten7no107 http://www.promkes.depkes.go.id/index.php/topik-kesehatan/60-waspadaiobesitas-pada-anak Okeson. 2008. Management of Temporomandibular Disorder & Occlusion 6th Ed. USA : Mosby Elsv. Ralph. E., David R. 1994. Dentistry for the Child & Adolescent 7th Ed. USA : Mosby. Soatjiningsih, Widjaya. 1988. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC

19