Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Fruktosa adalah monosakarida yang ditemukan dalam banyak jenis makanan dan merupakan salah satu dari tiga gula darah penting bersama glukosa dan galaktosa yang dapat langsung diserap oleh tubuh. Fruktosa merupakan salah satu jenis monosakarida yang mempunyai rasa lebih manis daripada glukosa yang juga termasuk monosakarida, juga lebih manis daripada gula tebu atau sakarosa. Fruktosa berikatan dengan glukosa membentuk sakarosa, yaitu gula biasa digunakan sehari-hari sebagai pemanis, dan berasal dari tebu atau bit (Poedjiadi, 1994).

Gambar I.1 Struktur Fruktosa Campuran glukosa, fruktosa dan sejumlah kecil oligosakarida dikenal secara komersial sebagai High Fructose Syrup(HFS). Tiga kategori HFS pada umumnya: HFS-90 (fruktosa 90% dan glukosa 10%) yang digunakan dalam aplikasi khusus tetapi yang lebih penting adalah dicampur dengan sirup glukosa untuk menghasilkan HFS-42 (42% fruktosa dan glukosa 58%) dan HFS-55 (55% fruktosa dan 45% glukosa) (Parker, et al., 2010). Proses isomerisasi umumnya hanya dilakukan sampai diperoleh HFS-42. Pada tahap tersebut, isomerisasi telah mendekati kesetimbangan reaksi, jika dilanjutkan reaksi akan berjalan semakin lambat sehingga tidak ekonomis. HFS-90 diperoleh dengan melalukan HFS-42 ke tangki pemisah glukosa-fruktosa, sedangkan HFS-55 diperoleh dengan mencampurkan HFS-42 dengan HFS-90. Penggunaan tangki pemisah ini memerlukan perlakuan tambahan berupa penguapan untuk menghilangkan sisa air atau pelarut pengelusi. Diantara jenis-jenis gula yang dapat dibuat dari pati, sirup fruktosa dengan kandungan fruktosa yang berkisar antara 42-90% merupakan alternatif yang cukup menarik karena memiliki beberapa kelebihan: a. Fruktosa lebih manis dibanding gula-gula lain dan kemanisannya bersifat sinergis, terutama dengan sukrosa dan siklamat. I-1

Tabel I.1. Kemanisan Relatif Beberapa Jenis Gula Fruktosa Sukrosa Dekstrosa Maltosa Sirup Glukosa DE 64 Sirup Glukosa DE 42 HFS 42 50% HFS 42 dan 50% sukrosa 150 100 68 30 49 33 88 98

Sumber : Berghmans dan Aschengreen (1990) Parker Kay, dkk (2010) menyebutkan bahwa fruktosa lebih manis daripada sukrosa. Tingkat kemanisan beberapa pemanis dapat dilihat pada Table 1.2, sebagai berikut : Tabel I.2. Tingkat kemanisan pada larutan pemanis 5% Pemanis Sucrose Invert syrup Fructose Glucose Galactose Maltose Lactose Xylitol Cyclamates Acesulfame K (Sunnette ) Aspartame (Equal , Nutrasweet ) Saccharine ( The Pink Stuff) Stevioside Sucralose (Splenda ) Thaumatin (Talin ) Tingkat kemanisan 1,0 0,85 1,0 1,3 0,56 0,4 0,6 0,3 0,5 0,2 0,3 1,01 30 80 200 100 200 200 - 300 300 600 2000 3000

Dari Tabel I.2. dapat dilihat bahwa fruktosa mempunyai kemanisan tertinggi dari jenis pemanis alami lainnya ( sukrosa, maltosa, laktosa, xilitol, galaktosa, gula

I-2

inversi dan glukosa). Meskipun jenis pemanis sintetis mempunyai tingkat kemanisan yang tinggi, pemanis sintetis tidak bisa menggantikan sukrosa karena penggunaanya dibatasi oleh peraturan kesehatan Negara yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 722/MENKES/ PER/ IX/ 1988 tentang bahan tambahan makanan. b. Mudah mengalami reaksi pencoklatan karena fruktosa merupakan gula pereduksi yang paling efektif terhadap asam amino. Fruktosa juga lebih mudah terkaramelisasi karena titik didihnya relatif lebih rendah. Tabel I.3. Titik Didih Beberapa Jenis Gula (oC) Glukosa Fruktosa Sukrosa Maltosa 146 102 160-168 103

Sumber : Tjokroadikoesoemo (1986) c. Fruktosa tidak mudah terkristalisasi d. Viskositasnya lebih rendah sehingga mudah dilarutkan atau dicampurkan dengan pemanis lain Tabel I.4. Viskositas Beberapa Jenis Gula (cps) HFS 42 Sukrosa 71 Brix Sukrosa 67 Brix Sirup Glukosa DE 64 Sirup Glukosa DE 38 150 360 130 500 2000

Sumber : Tjokroadikoesoemo (1986) Khususnya di Indonesia, HFS masih jarang digunakan untuk keperluan rumah tangga tetapi banyak digunakan di industri-industri seperti industri sirup, soft drink, selai, susu, jeli, biskuit, es krim, farmasi, dan sebagainya. Dalam produk-produk pangan, gula cair ini berperan dalam viskositas, higroskopis, flavour, mencegah kristalisasi, kemanisan, tekanan osmotik, kelarutan, dan kenampakan produk. Permintaan HFS semakin bertambah dari tahun ke tahun. Silva, dkk., (chemical engineering journal, 2006) menyebutkan pertumbuhan pemintaan HFS disebabkan beberapa faktor antara lain karena memberikan cita rasa yang lebih segar dan manis daripada sukrosa, dapat diproduksi dari pati (substrat pada komposisi makanan) dengan I-3

biaya yang lebih rendah sehingga memberikan keuntungan yang lebih serta resiko lebih rendah bagi penderita diabetes atau yang mengalami masalah metabolisme tubuh karena fruktosa memilik kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan gula sukrosa. Bila dibandingkan dengan industri gula pasir kemungkinan prospek sirup fruktosa lebih baik, karena dari segi penjualan, sirup fruktosa dapat mengikuti perubahan harga gula pasir. Selain itu jika dikaitkan dengan program pemerintah dalam rangka swasembada pangan, tentunya sirup fruktosa akan dapat memberikan andil yang besar dalam rangka ikut memenuhi kebutuhan penduduk terhadap konsumsi gula. Pada dasarnya, konsumsi gula tebu dari tahun ke tahun semakin meningkat sementara produksi gula tebu dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan konsumen di pasaran. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, produksi gula tebu pada tahun 2012 mencapai 2,58 juta ton yaitu hanya 95,6% dari target 2,7 juta ton. Secara nasional, di tahun 2012, total kebutuhan konsumsi gula tebu mencapai 5,2 juta ton/tahun. Angka ini terdiri dari permintaan gula untuk industri sebesar 2,5 juta ton/tahun dan untuk konsumsi rumah tangga langsung sebesar 2,7 juta ton/tahun. Faktor yang menyebabkan belum terpenuhinya target produksi gula tebu diantaranya yaitu anomali perubahan iklim global yang berdampak pada penurunan kualitas panen dan rendemen serta keterbatasan lahan perkebunan tebu. Hal ini mengakibatkan pemerintah harus mengimpor gula tebu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. Ironisnya, harga gula tebu impor lebih murah dibandingkan dengan gula tebu produksi dalam negeri. Untuk mengurangi impor tersebut maka produksi gula dalam negeri perlu terus dipacu disamping mencari alternatif bahan pemanis lain sebagai substitusi gula tebu. Gula alternatif yang saat ini banyak dikonsumsi masyarakat adalah gula siklamat (bibit gula) dan sakarin (biang gula) yang merupakan gula sintetis. Gula sintetis tersebut tidak dapat menggantikan gula tebu secara keseluruhan karena efeknya yang kurang baik bagi kesehatan dan pada konsentrasi tinggi dapat menimbulkan rasa tidak enak di mulut (off flavor). Selain itu, pemanis alami alternatif lain dapat dibuat dari bahan bukan tebu. Salah satu diantaranya adalah gula yang diperoleh dari hidrolisis pati secara enzimatis seperti sirup glukosa, fruktosa, maltosa, manitol, sorbitol, dan xilitol. Bahan baku yang digunakan adalah yang banyak mengandung pati seperti ubi kayu, ubi jalar, sagu, jagung, pisang, dan beras. Jagung umumnya digunakan di negara-negara sub tropis, sedangkan di negara-negara tropis termasuk Indonesia biasa digunakan ubi kayu. Di antara gula dari pati tersebut, sirup glukosa dan fruktosa mempunyai prospek paling baik untuk mensubstitusi I-4

gula pasir. Jika produksi gula dari pati terus meningkat maka harganya akan dapat bersaing dengan gula pasir. Namun peningkatan produksi tersebut perlu disertai dengan upaya memperluas pemanfaatannya. Di Indonesia, salah satu industri minuman ringan (soft drink) terbesar yang menurut lisensinya seharusnya menggunakan fruktosa, tidak seluruhnya menggunakan fruktosa, bahkan masih menggunakan gula rafinasi. Jika semua industri sirup, minuman ringan, permen, biskuit, dan jeli menggunakan fruktosa maka kebutuhan gula pasir akan berkurang dan dapat mengurangi konsumsi gula impor. Indonesia merupakan negara penghasil singkong terbesar ketiga (setelah Brazil dan Thailand), dan sebagian besar dibuat menjadi tepung (Suplemen Gatra, 4 September 2013/ humasristek). Produksi ubi kayu di Indonesia yang cukup besar dapat dimanfaatkan sebagai suatu produk industri olahan berbasis ubi kayu seperti tapioka, dimana Indonesia merupakan penghasil tepung tapioka terbesar nomor tiga setelah Brazil dan Nigeria. Penggunaan tepung tapioka sebagai bahan baku pembuatan High Fructose Syrup (HFS) merupakan cara untuk meningkatkan nilai ekonomi dari ubi kayu, selain itu juga sebagai salah satu bentuk diversifikasi produk olahan berbahan ubi kayu serta memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat. Ketersediaan bahan baku yang mencukupi menjadi potensi untuk mendirikan dan mengembangkan pabrik High Fructose Syrup (HFS) di Indonesia.

I.2 Produksi Bahan Baku Cassava (Manihot utilissima POHL) atau ubi kayu, populer pula dengan sebutan singkong. Suku Indian di Brasil diduga yang pertama kali memperkenalkan cara pengambilan pati dari umbi cassava yang kini kita kenaI sebgai tepung tapioka. Mereka mendahului teknik ekstraksi pati gandum yang dikenalkan oleh bangsa Yunani 500 tahun kemudian. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852. Cassava menempati urutan keempat setelah jagung, kentang, dan gandum sebagai sumber pati yang masing-masing memberi kontribusi terhadap produksi pati dunia sebesar 70, 20, 5, dan 4 persen. Sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman itu, maka pada perkembangannya tanaman jagung mendominasi sebagai sumber pati untuk kawasan Amerika Utara, Meksiko, sebaliknya Eropa banyak mengusahakan dari tanaman kentang. Sedangkan padi dan cassava berkembang di Amerika Latin, Afrika dan Asia Timur. I-5

Tabel 1.5. Produksi Singkong Dunia Tahun 2008

Sumber : Wikipedia Di Indonesia, singkong tersebar di berbagai kawasan dengan pusat perkembangan di Jawa dan Lampung yang meliputi 85 persen singkong nasional. Daerah penghasil singkong antara lain Jawa Timur (Jember, Kediri, Madiun), Jawa Tengah (Banyumas, Yogyakarta, Wonogiri) dan Jawa Barat (Bogor, Tasikmalaya). Daerah penghasil lainnya adalah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat dan Timur. Berikut ini adalah data produksi singkong dari seluruh provinsi di Indonesia tahun 2013 : Tabel I.6. Luas Panen- Produktivitas-Produksi Tanaman Ubi Kayu seluruh Provinsi Luas Panen(Ha) 1137210.00 2762.00 46765.00 5580.00 4137.00 2336.00 9406.00 3929.00 367966.00 860.00 Produktivitas (Ku/Ha) 224.18 127.45 318.85 416.37 256.70 143.65 157.25 128.93 261.81 177.24 Produksi (Ton) 25494507.00 35202.00 1491108.00 232335.00 106195.00 33556.00 147913.00 50656.00 9633560.00 15243.00

Provinsi Indonesia Aceh Sumatera Utara Sumatera barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung

I-6

Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

708.00 0.00 99635.00 163330.00 58330.00 176102.00 6078.00 8609.00 4116.00 85280.00 10642.00 3716.00 5254.00 5155.00 4716.00 3923.00 24457.00 12371.00 348.00 2286.00 4672.00 9666.00 1046.00 3029.00

117.18 0.00 220.26 230.90 172.23 228.87 148.70 172.22 143.62 101.18 160.21 119.70 175.76 177.46 130.22 202.71 194.03 198.18 124.80 217.35 201.68 126.28 111.14 123.74

8296.00 0.00 2194525.00 3771334.00 1004607.00 4030474.00 90377.00 148263.00 59115.00 862879.00 170495.00 44482.00 92343.00 91480.00 61413.00 79522.00 474542.00 245171.00 4343.00 49687.00 94224.00 122061.00 11625.00 37481.00

Sumber : Badan Pusat Statistik (2012) Singkong dapat digunakan untuk berbagai industri antara lain industri makanan, industri bioetanol, industri pakan ternak dan industri tepung tapioka. Semua industri tersebut potensial untuk dikembangkan karena ketersediaan singkong yang melimpah di Indonesia. Tepung tapioka sebagai bahan baku pembuatan High Fructose Syrup (HFS) banyak dihasilkan dari Lampung yaitu sebanyak 70% produksi nasional dan sisanya merupakan hasil produksi dari Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi sebanyak 30%. Teknologi yang digunakan untuk produksi tepung tapioka dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

I-7

a. Tradisional, yaitu industri pengolahan tapioka yang masih mengandalkan sinar matahari dan produksinya sangat tergantung pada musim. b. Semi modern, yaitu industri pengolahan tapioka yang menggunakan mesin pengering (oven) dalam melakukan proses pengeringan. c. Full otomate yaitu industri pengolahan tapioka yang menggunakan mesin dari proses awal sampai produk jadi. Industri tapioka yang menggunakan peralatan full otomate ini memiliki efisiensi tinggi, karena proses produksi memerlukan tenaga kerja yang sedikit, waktu lebih pendek dan menghasilkan tapioka berkualitas. Berdasarkan Dinas Pertanian Lampung Timur, 2004, Industri tapioka yang terdapat di Propinsi Lampung, terutama yang berada di Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2003 memiliki 38.964 hektar lahan untuk penanaman singkong yang menghasilkan 592.358 ton singkong dan memiliki 31 perusahaan menengah besar yang terdaftar di Dinas Pertanian, disamping puluhan perusahaan menengah kecil yang merupakan industri tapioka rakyat dengan kapasitas 56.927,08 ton. Beberapa produsen tepung tapioka di Lampung Timur dapat dilihat pada Tabel I.7 dibawah ini : Tabel I.7 Produsen Tepung Tapioka di Lampung Timur

Sumber: Dinas Pertanian Lampung Timur

I-8

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia juga melakukan ekspor tepung tapioka ke beberapa negara yang mencakup negara-negara di Asia dan Eropa. Data ekspor tepung tapioka Indonesia dapat dilihat pada Tabel I.8 sebagai berikut : Tabel I.8 Ekspor Tepung Tapioka Indonesia Negara Tujuan Korea China Belanda Malaysia Jerman Swiss Jepang Filipina Taiwan Inggris Singapura Vietnam Total Ekspor (kg) 120.797.083 67.502.292 20.400.000 2.342.962 4.500.000 3.000.000 762.000 558.000 570.000 26.600 247.000 697.920 Sumber: Badan Pusat Statistik (1997) Nilai Ekspor (FOB) (US $) 12.125.792 5.473.891 1.371.550 436.884 328.000 165.000 154.570 107.884 85.500 57.399 53.106 41.875

I.3 Marketing Aspek Berdasarkan Othmer, (1998), harga HFS dibandingkan dengan gula rafinasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah biaya produksi gula, jumlah, harga dan kualitas bahan baku serta skala ekonomi dalam produksi High Fructose Syrup (HFS). High Fructose Syrup (HFS) dapat diproduksi dari berbagai jenis pati antara lain pati jagung (United State), pati kentang (Jepang), pati gandum (Eropa) dan tepung tapioka. Kebanyakan High Fructose Syrup (HFS) yang ada di pasaran adalah yang terbuat dari pati jagung yaitu high fructose corn syrup (HFCS) yang biasanya digunakan untuk industri soft drink. Berdasarkan Economic Research Services Amber Waves, (Feb, 2008, United State), penggunaan High Fructose Syrup (HFS) mempunyai selisih yang kecil dengan penggunaan gula rafinasi. United State membutuhkan biaya rendah untuk produksi high fructose corn syrup (HFCS) karena ketersediaan jagung yang besar dengan harga pasar dunia yang menguntungkan dari segi ekonomi skala besar. Sebaliknya, di Eropa membutuhkan biaya

I-9

tinggi untuk produksi high fructose corn syrup (HFCS) karena jagung harus dibeli dengan harga tinggi di bawah Kebijakan Pertanian Bersama Eropa. Kebijakan membatasi kuota penjualan HFCS pada masing-masing perusahaan sehingga HFCS memiliki pangsa pasar yang terbatas dalam pasar gula dan pemanis di Eropa. Produksi Dunia untuk HFCS ratarata 11,7 juta ton (berdasarkan berat kering) selama 1999-2001, dan produksi rata-rata united state adalah 9,2 juta ton (79 % dari total dunia). Jepang adalah produsen terbesar kedua, dengan rata-rata .7,8 juta ton, diikuti oleh Argentina, Kanada, Uni Eropa, Meksiko, dan Republik Korea, masing - masing dengan produksi rata-rata antara 0,3 0,4 juta ton. Penggunaan High Fructose Syrup (HFS) terus meningkat dari tahun 1970 sampai tahun 2000, dapat dilihat dari grafik berikut:

Gambar I.2. Perbandingan Penggunaan Gula Rafinasi dan High Fructose Syrup (HFS) di United States

Jika produksi High Fructose Syrup (HFS) dilakukan di Indonesia, maka tepung tapioka merupakan pilihan bahan baku yang tepat, karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan harga bahan baku yang terjangkau bila dibandingkan dengan pati jagung. Berdasarkan www.medanbisnisdaily.com harga tepung tapioka Rp. 5000,- s.d Rp. 5500,Dan berdasarkan www.titanbaking.com harga pati jagung Rp. 7600,-. Jika ditinjau dari biaya produksi dengan proses yang sama membutuhkan biaya produksi yang sama, maka perbedaan terletak pada harga bahan baku, dan harga tepung tapioka lebih murah dibandingkan dengan harga tepung maizena.

I-10

I.4 Prospek High Fructose Syrup (HFS) Pabrik High Fructose Syrup (HFS) dari tepung tapioka dengan proses enzimatik didirikan dengan alasan agar dapat menurunkan impor sukrosa dan gula rafinasi yang pada akhirnya akan membantu pemenuhan kebutuhan pemanis untuk konsumsi masyarakat dan industri dengan memanfaatkan potensi Indonesia dalam pemenuhan bahan baku. Selain itu dapat memberikan peluang yang bagus karena pabrik - pabrik High Fructose Syrup (HFS) di Indonesia masih mempunyai kapasitas produksi yang kecil serta pengembangan produksi dengan inovasi bahan baku, yaitu menggunakan tepung tapioka. Jika kebutuhan High Fructose Syrup (HFS) untuk masyarakat dan industri bisa terpenuhi, maka industri minuman ringan tersebut akan lebih menguntungkan jika menggunakan High Fructose Syrup (HFS) sebagai pemanis karena jika ditinjau dari proses lebih menguntungkan karena fasenya yang sama - sama liquid akan lebih memudahkan homogenitas yang berkaitan dengan efisiensi dalam penggunaan energi. Jika ditinjau dari harga, High Fructose Syrup (HFS) lebih murah karena dalam proses pembuatannya tidak perlu dilakukan pengkristalan dan pengeringan seperti pada proses pembuatan sukrosa, biaya proses lebih murah sehingga harga produk juga lebih murah. Selain industri minuman ringan, industri industri yang menggunakan High Fructose Syrup (HFS) antara lain adalah industri yogurt, industri cokelat dan industri ice cream yang dapat meningkatkan cita rasa produk produk tersebut, dapat mempercepat proses fermentasi dalam pembuatan yogurt, dan dapat mempengaruhi struktur dan viskositas pada cokelat dan ice cream. Penggunaan High Fructose Syrup (HFS) akan memberikan keuntungan ekonomi yang lebih untuk industri industri tersebut. Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendirian pabrik High Fructose Syrup (HFS) dari tepung tapioka mempunyai prospek yang baik. Pendirian pabrik ini diestimasi dapat menurunkan impor gula tebu (sukrosa) yang dapat menguntungkan produksi gula nasional karena kebutuhan gula industri sebagian besar dipenuhi dengan High Fructose Syrup (HFS) sehingga kebutuhan sukrosa dapat ditekan. Selain itu, permintaan High Fructose Syrup (HFS) diestimasi akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya industri makanan, minuman dan industri industri lain yang menggunakan High Fructose Syrup (HFS) di Indonesia.

I.5 Penggunaan High Fructose Syrup(HFS) High Fructose Syrup (HFS) dapat digunakan secara parsial ataupun menyeluruh sebagai pengganti gula tebu (sucrose) atau gula inverse pada makanan yang dapat I-11

menghasilkan rasa manis dan dapat meningkatan cita rasa. Selain itu High Fructose Syrup (HFS) digunakan pada industri minuman ( soft drink ), industri kue, manisan, industri makanan, produk susu dan lain-lain. Berdasarkan http://www.livestrong.com penggunaan High Fructose Syrup (HFS) mempunyai fungsi sebagai berikut : Freezing Point Fruktosa mempunyai freezing point yang tinggi. ini menjadi alas an penggunaan fruktosa sebagai pemanis pada makanan makanan beku seperti yogurt beku dan ice cream. Freezing point yang tinggi pada fruktosa membuat produk mempunyai tekstur yang halus. Fruit Flavor Fruktosa disebut juga dengan gula buah karena ketika digunakan pada produk akan memberikan rasa buah seperti pada fruit-flavored yogurt. Glycemic Index rendah Fructose mempunyai glycemic index yang rendah yang menyebabkan makanan atau produk mempunyai glycemic load yang rendah. Glycemic load adalah jumlah menunjukkan bagaimana makanan atau produk tertentu akan mempengaruhi kadar gula darah. Stability Fruktosa mempunyai kestabilan yang tinggi dan digunakan untuk meningkatkan cita rasa produk yang mempunyai stabilitas yang tinggi.

I.6. Konsumsi High Fructose Syrup (HFS) Pada pendirian pabrik, analisa pasar untuk penentuan kapasitas pabrik sangat penting. Dengan kapasitas yang ada, dapat ditentukan volume reaktor, perhitungan neraca massa, neraca panas dan lain-lain. Untuk menetukan kapasitas pabrik diperlukan data-data produksi dan pemakaian bahan, yang bisa diperoleh dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Kapasitas produksi High Fructose Syrup (HFS) dengan bahan dasar tepung tapioka ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan High Fructose Syrup (HFS) dalam negeri pada khususnya dan luar negeri pada umumnya. Jika tren kenaikan produksi tersebut digunakan sebagai acuan dalam pendirian pabrik High Fructose Syrup (HFS) ini dan tren konsumsi juga tetap meningkat setiap tahun, maka pendirian pabrik High Fructose Syrup (HFS) akan dapat membantu pemenuhan permintaan High Fructose Syrup (HFS) di Indonesia dan dapat meningkatkan ekspor.

I-12