Anda di halaman 1dari 13

BAB II E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

A. Belajar dan Hasil Belajar 1. Pengertian Belajar Dalam aktifitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sen diri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami atau tidak dipahami, ses ungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan kegiatan belajar. Dengan demikian dapat kita katakan, tidak ada ruang dan waktu di mana manusia dapat melepaskan dirinya dari kegiatan belajar, dan itu berarti pula bahwa belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu, karena peru bahan yang menuntut terjadinya aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti. Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau senga ja. Oleh karena itu pemahaman kita pertama yang sangat penting adalah bahwa kegi atan belajar merupakan kegiatan yang disengaja atau direncanakan oleh pembelajar itu sendiri (Aunurrahman, 2009: 36) 2. Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009: 37) hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah l aku. Walaupun tidak semua tingkah laku merupakan hasil belajar, akan tetapi akt ivitas belajar umumnya disertai dengan perubahan tingkah laku. Perubahan-perubahan yang dapat diamati kebanyakan berkenaan dengan p erubahan aspek-aspek motorik. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk di jadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dap at tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa hasil bela jar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk prib adi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik. Menurut Purwanto, N (1990: 102), hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: pertama, kematangan/pertumbuhan. Kedua, sifat-sifat pribadi seseorang. K etiga, keadaan keluarga. Keempat, cara guru mengajar. Kelima, alat- alat pelaj aran. Keenam, lingkungan dan kesempatan. Ketujuh motivasi. Kedelapan , kecerdasan/intelejensi. Intelejensi ialah kemampuan yang dibawa sejak la hir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu (Purwanto, N 1990: 52). Faktor-faktor yang mempengaruhi intelejensi seseorang, sehingga te rdapat perbedaan intelejensi seseorang ialah: (1) pembawaan, ditentukan oleh sif at-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. (2) kematangan. Kematangan berhu bungan erat dengan umur. (3) pembentukan, ialah segala keadaaan diluar dari sese orang yang mempengaruhi perkembangan intelejensi, yaitu pembentukan sengaja (sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar). (4) minat dan pembawaan yang khas. Minat mengarahkan perbuat an kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan dari perbuatan itu. Selain itu juga, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar itu dapat dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu faktor internal dan eksternal (Slameto,

2003: 64). Faktor internal terdiri dari faktor biologis (jasmaniah) dan faktor psikologis. Keadaan jasmani yang perlu diperhatikan, pertama kondisi fisik yang normal atau tidak memiliki cacat sejak dalam kandungan sampai sesudah lahir. Ko ndisi fisik normal ini terutama harus meliputi keadaan otak, panca indera, anggo ta tubuh. Kedua, kondisi kesehatan fisik. Kondisi fisik yang sehat dan segar san gat mempengaruhi keberhasilan belajar. Di dalam menjaga kesehatan fisik, ada beb erapa hal yang perlu diperhatikan antara lain makan dan minum yang teratur, olah raga serta cukup tidur. Faktor psikologis yang mempengaruhi keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi mental yang man tap dan stabil. Faktor psikologis ini meliputi hal-hal berikut. Pertama, inteleg ensi. Intelegensi atau tingkat kecerdasan dasar seseorang memang berpengaruh bes ar terhadap keberhasilan belajar seseorang. Kedua, kemauan. Kemauan dapat dikata kan faktor utama penentu keberhasilan belajar seseorang. Ketiga, bakat. Bakat in i bukan menentukan mampu atau tidaknya seseorang dalam suatu bidang, melainkan l ebih banyak menentukan tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam suatu bidang.

Faktor eksternal terdiri dari faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan seko lah, dan faktor lingkungan masyarakat. Faktor lingkungan rumah atau kelu arga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasil an belajar seseorang. Suasana lingkungan rumah yang cukup tenang, adanya perhati an orangtua terhadap perkembangan proses belajar dan pendidikan anak-anaknya mak a akan mempengaruhi keberhasilan belajarnya. Faktor lingkungan sekolah sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan belaja r siswa. Hal yang paling mempengaruhi keberhasilan belajar para siswa disekolah mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa deng an siswa, pelajaran, waktu sekolah, tata tertib atau disiplin yang ditegakkan se cara konsekuen dan konsisten.

B. Pembelajaran Elektronik (E-learning) 1. Pengertian e-learning Defenisi e-learning atau electonic learning ini seringkali berubah-ubah selaras dengan kemajuan teknologi pada masa kini. Secara umumnya, e-learning adalah pen gajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN at au internet) untuk menyampaikan isi materi yang diajarkan. Komputer, internet, s atelit, tape audio/ video, TV interaktif dan CD ROM adalah sebagian media elektr onik yang dimaksudkan di dalam kategori ini (Afifuddin, A 2007: 4). Berdasarkan definisi di atas, dapat ditarik beberapa persepsi tentang e- Learnin g, yaitu: (1) E-learning pada hakekatnya adalah belajar atau pembelajaran

melalui pemanfatan teknologi komputer dan/atau internet. (2) Secara jaringan, elearning dapat dipersepsikan sebagai upaya menghubungkan pembelajar dengan sumb

er belajar. 2. Kelebihan dan kekurangan e-learning Menurut Afifuddin, A (2007: 5), dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang konvensional/ tradisional, e-learning memang memiliki beberapa kelebihan dianta ranya : (1) E-learning menutut siswa untuk belajar mandiri. (2) E- learning memp ermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan / materi, peserta didik den gan guru maupun sesama peserta didik. (3) Peserta didik dapat saling berbagi inf ormasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, d engan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaan nya terhadap materi pembelajaran. (4) Kehadiran guru tidak mutlak diperlukan. Namun disamping itu e-learning juga mempunyai beberapa kelemahan yang cenderung kurang menguntungkan baik bagi guru, diantaranya : (1) Untuk sekolah tertentu te rutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk memba ngun e-learning ini. (2) Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal. (3) Keterbatasan jumlah komputer yang dimiliki oleh sek olah akan menghambat pelaksanaan e-learning. (4) Bagi orang yang gagap teknologi , sistem ini sulit untuk diterapkan. 3. Fungsi E-learning Siahaan (2002) menyebutkan bahwa setidaknya ada 3 fungsi pembelajaran elektronik (e-learning) terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom

instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya opsional/pilihan, pelengkap (komplemen), atau pengganti (subtitusi). Suplemen (Tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah a kan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini tidak ada kewajiban bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memi liki tambahan pengetahuan atau wawasan. Komplemen (Pelengkap), dikatakan sebagai komplemen apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima p eserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elekt ronik diprogramkan untuk menjadi materi enrichment (pengayaan) atau remedial bag i peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Subtitusi (Pengganti), beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberika n beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada peserta did iknya. Tujuannya agar pada peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiat an perkuliahan sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari- hari. 4. Pengembangan Model E-learning Menurut Haughey (Suyanto; 2005: 4) tentang pengembangan e-learning. Menurutnya ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, y aitu web course, web centric course, dan web enhanced course.

Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana pese

rta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muk a. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegia tan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata la in model ini menggunakan sistem jarak jauh. Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jara k jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui intern et, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam mod el ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pel ajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberikan arahan untuk menca ri sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipel ajari melalui internet tersebut. Web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kual itas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberik an pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan narasumber lain. Oleh karena itu peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari inform asi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang rel evan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan d iminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.

5. Freewebs Seperti yang kita ketahui, websites datang dalam berbagai macam bentuk dan ukura n yang berbeda. Dengan webs, kita mudah untuk membangun sebuah situs yang unik. Ini adalah ajang untuk mempromosikan kepada dunia tentang bisnis, atau hobi dan melibatkan orang lain untuk berbagi ide-ide unik, informasi, foto dan video. Den gan fitur-fitur seperti blog, web, dan bahkan profil anggota grup, siapapun dapa t menggunakan situs webs.com. Freewebs didirikan oleh tiga bersaudara. Awalnya Mokhtarzada mendapat sebuah ema il, dan dia berfikir bahwa satu hari nanti setiap orang akan memiliki sebuah sit us webs. Oleh sebab itu, mereka memutuskan untuk membuat sebuah situs dengan lay anan yang cukup mudah. Dan hasilnya, lebih dari 30 juta orang mengunjungi situs webs setiap bulan, dan terus bertambah sampai sekarang. Webs akan membantu kita untuk membangun situs sederhana. Webs menyediakan semua yang kita butuhkan untuk menjadi situs yang dinamis dengan peran aktif masyaraka t. Ditambah lagi, dengan memungkinkan pengunjung untuk memberikan kontribusi ke dalam situs dengan masing-masing foto, video, komentar, dan banyak lagi, webs me mbantu kita tetap terlibat secara interaktif dengan pengunjung. Webs telah dinik mati selama lima tahun dan pertumbuhannya stabil, dengan jutaan anggota, bahkan mungkin lebih.

C.

Sistem Reproduksi Manusia

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang ba ru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan

melestarikan jenis agar tidak punah. Pada manusia untuk mengahasilkan keturunan yang baru diawali dengan peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demik ian reproduksi pada manusia dilakukan dengan cara generatif atau seksual. Untuk dapat mengetahui reproduksi pada manusia, maka harus mengetahui terlebih d ahulu organ-organ kelamin yang terlibat serta proses yang berlangsung di dalamn ya. 1. Anatomi Reproduktif Laki-laki Pada sebagian besar spesies mamalia, termasuk manusia, organ reproduksi eksterna l jantan adalah skrotum dan penis. Organ reproduksi internal terdiri atas gonad yang menghasilkan gamet (sel-sel sperma) dan hormon, kelenjar aksesoris yang men sekresikan produk yang esensial bagi pergerakan sperma, dan sekumpulan duktus y ang membawa sperma dan sekresi glandular (Campbell, 2004: 156). Gonad jantan, atau testis, terdiri atas banyak saluran yang melilit-lilit yang d ikelilingi oleh beberapa lapis jaringan ikat. Saluran tersebut adalah tubula sem iniferus, tempat sperma dibentuk. Sel-sel Leydig yang tersebar di antar a tubula seminiferus menghasilkan testosteron dan androgen lain, yang merupakan hormon seks jantan. Dari tubula seminiferus testis, sperma lewat kedalam saluran mengulir pada epidi dimis. Selama ejakulasi, sperma didorong dari epididimis melalui vas deferens b erotot. Kedua duktus ini (satu dari setiap epididimis) berawal dari skrot um disekitar dan dibelakang kandung kemih, di mana masing-masing menyatu dengan duktus dari vesikula seminalis, yang membentuk duktus ejakulasi

yang pendek. Duktus ejakulasi itu membuka dalam uretra, yaitu saluran yang mengo songkan isi sistem ekskresi dan sistem reproduksi. Uretra terdapat disepanjang p enis dan membuka ke luar pada ujung penis. Kumpulan kelenjar aksesoris (vesikula seminalis, prostat, dan kelenjar bulb ouretralis) menambahkan sekresi ke semen, yaitu cairan yang diejakulasikan. Sepa sang vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60% total volume semen. Cairan dar i vesikula seminalis itu kental, kekuning-kuningan, dan alkalis (bersifat basa). Kelenjar prostat adalah kelenjar pensekresi semen terbesar. Kelenjar itu mensekr esikan produknya secara langsung ke dalam uretra melalui beberapa saluran kecil. Cairan prostat bersifat encer dan seperti susu, mengandung enzim antikoagulan, sitrat (nutrien bagi sperma), dan sedikit asam. Kelenjar bulbour etralis adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak sepanjang kelenjar kecil y ang terletak disepanjang uretra, di bawah prostat. Sebelum ejakulasi, kelenjar t ersebut mensekresikan mucus bening yang menetralkan setiap urin asam yang masih tersisa dalam uretra. Penis manusia tersusun dari tiga silinder jaringan erektil mirip spons yang bera sal dari vena dan kapiler yang dimodifikasi. Bagian utama penis ditutupi oleh ku lit yang relative tebal. Kepala zakar, atau glans penis, mempunyai penutup yang jauh lebih tipis sehingga menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan. Glans pen is manusia ditutupi oleh lipatan kulit yang disebut sebagai preputium, yang dapa t dikhitan atau disunat.

Vesica urinaria Ureter

Vas deferens

Uretra

Anus Vesica Seminalis Rektum Kelenjar prostat Kelenjar Bulbouretralis

Preputium Glans

Testis Epididimis Scrotum Gambar 2.1 Anatomi reproduktif laki-laki (Sumber: http://www.medicastore.com)

2. Anatomi Reproduktif Perempuan Struktur reproduksi eksternal perempuan adalah klitoris dan dua pasang labia yan g mengelilingi klitoris dan lubang vagina. Organ reproduksi internal terdiri da

ri sepasang gonad dan sebuah sistem yang terdiri dari duktus dan ruang an untuk menghantarkan gamet dan menampung embrio dan fetus (Cam pbell, 2004: 158). Gonad perempuan, ovarium, merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam tongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormon estrogen dan progesteron. Sistem reproduksi perempuan tidak sepenuhnya tertutup, dan sel telur dilepa skan ke dalam rongga abdomendi dekat pembukaan oviduk atau saluran telur, atau t uba falopi. Oviduk mempunyai pembukaan yang mirip corong, dan silia yang terdapa t pada epitalium bagian dalam yang melapisi duktus itu akan

membantu menarik sel telur dengan cara menarik cairan dari rongga tubuh ke dalam duktus tersebut. Silia (rambut getar) juga mengirimkan sel telur tersebut menur uni duktus itu sampai ke uterus, yang juga dikenal sebagai rahim. Uterus adalah organ tebal dan berotot yang dapat mengembang selama kehamilan untuk menampung f etus dengan bobot 4 kg. Leher uterus adalah serviks, yang membuka ke dalam vagina. Vagina adalah ruanga n berdinding tebal yang membentuk saluran kelahiran yang dilalui bayi saat lahir , dan juga merupakan tempat singgah bagi sperma selama kopulasi. Suatu membrane bervaskuler yang disebut hymen menutupi sebagian lubang vagina manusia mulai saat kelahiran, dan umumnya sampai saat hubungan kelamin atau aktivitas fi sik yang merobeknya. Labia mayor merupakan sepasang bibir besar berlapisan lemak . Labia minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak d bagian dalam dan tidak berlemak.

Oviduk

Ovarium Uterus Vesica urinaria Klitoris Labia mayor Servik

Rektum Lubang ureter Labia minor Vagina

Anus

Gambar 2.2 Anatomi reproduktif perempuan (Sumber: http://www.medicastore.com)

3. Spermatogenesis Spermatogenesis, atau produksi sel-sel sperma dewasa, adalah proses yang terus m enerus dan prolific pada jantan dewasa. Setiap ejakulasi laki-laki mengandung 10 0 sampai 650 juta sel sperma, dan seorang laki-laki dapat mengalami ejakulasi se tiap hari dengan kemampuan untuk membuahi yang hanya berkurang sedikit. Struktur sel sperma sesuai dengan fungsinya. Pada sebagian besar spesies, kepala yang mengandung nukleus haploid ditudungi oleh badan khusus, yaitu akrosom, yan g mengandung enzim membantu sperma menembus sel telur. Dibelakang kepala, sel sp erma mengandung sejumlah besar mitokondria yang menyediakan ATP untuk pergerakan ekor, yang berupa sebuah flagella. Bentuk sperma mamalia bervariasi dari spesie s ke spesies, dengan kepala berbentuk koma tipis, berbentuk oval (sperti pada sp erma manusia), atau berbentuk hamper bulat. Spermatogenesis terjadi dalam tubula seminiferus (Campbell, 2004: 160).

Gambar 2.3 Struktur sebuah sel sperma manusia (Sumber http://www.e-dukasi.net)

Gambar 2.4 Spermatogenesis (Sumber http://www.e-dukasi.net) 4. Oogenesis Oogenesis adalah perkembangan telur (sel telur dewasa yang belum dibuahi). Diant ara kelahiran dan pubertas, sel-sel telur (oosit primer) membesar, dan folikel d isekitarnya tumbuh. Oosit primer mereplikasi DNA dan memasuki profase I meiosis, tetapi tidak berubah lebih lanjut kecuali diaktifkan kembali oleh hormon. Mulai saat pubertas, FSH atau hormon perangsang folikel secara periodic merangsang se buah folikel untuk memulai pertumbuhan sekali lagi dan menginduksi oosit primern ya untuk menyelesaikan pembelahan meiosis pertama. Meiosis kemudian berhenti sek ali lagi, oosit sekunder, yang dibebaskan selama ovulasi, tidak mengalami pembel ahan meiosis kedua dengan seketika. Pada manusia, penetrasi sel telur oleh sperm a memicu pembelahan meiosis kedua, dan setelah itulah oogenesis menjadi sempurna . Oogenesis berbeda dari spermatogenesis dalam tiga hal penting. Pertama, Selama p embelahan meosis oogenesis, sitokinesis bersifat tidak sama, dengan

hampir semua sitoplasma dimonopoli oleh satu sel anak, yaitu oosit sekunder. Oos it sekunder dapat terus berkembang menjadi ovum. Produk lain meosis, yaitu sel y ang lebih kecil yang disebut badan polar akan mengalami degenerasi. Hal tersebut berbeda dari spermatogenesis, keempat produk produk meiosis I dan II berkembang menjadi sperma dewasa. Kedua, sementara sel-sel sperma berkembang terus membelah melalui mitosis sepanjang hidup laki-laki, hal ini tidak berlaku bagi oogenesis pada betina. Saat lahir, ovarium telah mengandung semua sel yang akan berkembang menjadi telur. Ketiga, oogenesis mempunyai periode istirahat ya ng panjang, berlawanan dengan spermatogenesis, yang menghasilkan sperma dewasa d ari sel perkusor dalam urutan yang tidak berhenti (Campbell, 2004: 160).

Gambar 2.5 Oogenesis (Sumber http://www.e-dukasi.net)

5. Siklus Menstruasi Setiap bulan wanita melepaskan satu sel telur dari salah satu ovariumnya. Bila s el telur ini tidak mengalami pembuahan maka akan terjadi perdarahan (menstruasi) . Menstruasi terjadi secara periodik satu bulan sekali. Umumnya siklus m enstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuh an dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada saat te rsebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat f olikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilka n hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endomet rium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pemb entukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsan g folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14 , waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus. Selain itu, LH me rangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Cor pus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempert ebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan dat angnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berf ungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengeci l dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutr isi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya a kan terkelupas dan terjadilah

perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau f ase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.

Gambar 2.6 siklus menstruasi dengan perubahan kadar hormon-hormonnya (Sumber: http://depix.files.wordpress.com) 6. Fertilisasi dan Kehamilan Ovum yang telah mengalami ovulasi akan melewati oviduk. Di tempat inilah bertemu nya ovum dengan sperma sehingga akan terjadi fertilisasi. Ovum dan sperma yang y ang telah bersatu akan menjadi zigot dan mengalami perkembangan di uterus hingga 8 bulan yang disebut sebagai fetus. Janin keluar melewati servik dan vagina set elah 9 bulan lebih di dalam rahim. Peranan hormon ketika berlangsungnya kehamila n, yaitu korpus luteum menghasilkan estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini b erperan mengatur endometrium hingga siap menerima implantasi. Fungsi korpus lute um digantikan oleh plasenta yang menghasilkan hormon untuk kehidupan fetus. Horm on yang dihasilkan oleh plasenta diantaranya HCG dan hormon relaksin. Pada saat kelahiran, hormon yang

berperan adalah hormon relaksin untuk fleksibilitas simfisis pubis. Hormon estro gen mengatasi pengaruh progesteron yang menghambat kontraksi. Hormon eksitosin m empengaruhi kontraksi pada uterus. Pada masa akhir kehamilan dari hari pertama setelah persalinan payudara mengahsi lkan suatu cairan keruh keputih-putihan yang disebut dengan colostrums. Colostru ms ini kurang mengandung lemak dan laktosa, tapi banyak mengandung antibodi yang dapat membantu pertahanan tubuh si bayi terhadap penyakit infeksi pencernaan sa luran pernafasan. Baru hari ke-4 setelah persalinan produksi air susu dapat berj alan lancar. ASI memiliki kandungan gizi lengkap baik makronutrien seperti prote in, lemak, karbohidrat, maupun mikronutrien yaitu vitamin dan mineral. Mineral y ang terdapat dalam ASI sama dengan yang terkandung dalam kolostrum hanya kadarny a rendah. 7. Prinsip dan mekanisme kerja alat kontrasepsi Sejalan dengan perkembangan zaman, pertumbuhan penduduk pun mengalami perkembang an pesat. Dengan lahan hidup yang tetap, maka pertumbuhan penduduk yang tingg i dapat menimbulkan masalah sandang, pangan, papan, dan kesehatan. Untuk men

gatasi ini maka dilakukan upaya pengaturan kelahiran. Alat-alat yang dipergunaka n untuk mengatur kelahiran dan cara kerjanya dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Alat dan Mekanisme Kerja Alat KB Alat KB Mekanisme Akibat Pil Pil yang mengandung hormon ini diminum tiap hari. Hipofisis anterior tidak mengeluarkan FSH dan LH. Suntikan depoprovera Suntikan progesteron seperti steroid dilakukan 4 kali setahun. Hipofisis anterior tidak mengeluarkan LH dan FSH. Susuk KB Tabung progestrin (dibuat dari progesteron) ditanam di bawah kulit. Hipofisis anterior tidak mengeluarkan LH dan FSH. IUD (spiral) Gulungan plastik dimasukkan kedalam uterus. Mencegah implantasi. Spons Vagina Spons yang diberi spermisida (pembunuh sperma) dimasukkan ke vagina. Membunuh sperma yang masuk. Diafragma Cawan plastik dimasukkan pada vagina untuk menutup serviks. Menghalangi sperma masuk vagina. Karet KB Dipakai unuk menyelubungi penis Mencegah sperma masuk vagina. (Pratiwi, D. A. 2006: 235) 8. Kelainan sistem reproduksi Sistem reproduksi dapat mengalami gangguan yang diakibatkan oleh gangguan alat r eproduksi dan gangguan alat reproduksi yang diakibatkan kerena terkena infeksi. Banyak penyakit-penyakit lain juga dapat ditularkan melalui hubungan kelamin ant ara lain, Non Gonococcal Urethritis (NGU), radang saluran urethtra yang bukan d isebabkan gonorrhoea, Trichomoniasis (sejenis penyakit protozoa), Candidiasis (sejenis penyakit jamur). Herpes Simpleks Genitalis (sejenis penyakit virus ), kutil pada kelamin (verruca accuminata), beberapa jenis insekta, misalnya kut u rambut pubis. Beberapa penyakit virus lain misalnya hepatitis A dan B, retravi rus HIV (virus AIDS) juga dapat ditularkan melalui

hubungan kelamin baik secara homoseksual maupun heteroseksual (Kurnadi Kemal, 2002: 247).

D. Penelitian yang Relevan Siti Nadiroh (2009) melakukan penelitian mengenai peranan e-learning dalam menin gkatkan hasil belajar siswa pada subkonsep sistem gerak. Setelah melakukan pembe lajaran dengan menggunakan e-learning di luar jam sekolah dan diskusi kelas, dip eroleh rata-rata nilai hasil belajar siswa pada subkonsep 1 adalah sebesar 57,33 yang termasuk dalam kategori cukup sedangkan rata-rata nilai hasil belajar sis wa pada subkonsep 2 adalah sebesar 53,33 yang termasuk dalam kategori r endah. Jika dibandingkan dengan rata-rata nilai tes awal siswa, ternyata pada su bkonsep 1 nilai tes awal (40), memperlihatkan perbedaan dengan kenaikan 17,33%. Pada subkonsep 2 nilai tes awal (35,67) juga memperlihatkan perbedaan se besar 17,66%. Kenaikan tersebut terjadi karena siswa telah mengalami pembelajara n menggunakan e-learning di luar jam sekolah dan diskusi kelas. Penelitian mengenai e-learning pada jenjang pendidikan tinggi pernah dilak ukan oleh Riyana Firly (2005) yang meneliti tentang efektifitas penggunaan e-lea rning terhadap hasil belajar mahasiswa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan pengaruh yang cukup signifikan.