Anda di halaman 1dari 10

Mata Kuliah: KUIS PERPAJAKAN

Disusun Oleh : ANDI ELLY APRINA M. (55612120009)

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI UNIVERSITAS MERCUBUANA JAKARTA 2013

Latihan 1. Tuan Andi berstatus Tk/0, bekerja sebagai tenaga harian di PT Sejahtera, ia menerima upah harian sebesar Rp. 150.000. Diketahui selama bulan Mei 2013, ia bekerja selama 20 hari. Ditanya : bagaimana cara pemotongan PPh pasal 21, dan berapa besar? PT Harun membeli saham PT Yakin dengan nilai par sebesar Rp. 600.000.000, dengan harga pasar Rp. 720.000.000. Jumlah saham PT Yakin Rp. 1.000.000.000 dengan harga per lembar Rp. 1.000.000. Pada tahun pajak 2012, PT Yakin membagikan dividen sebesar Rp. 300.000/lembar. Ditanya : Apa saja jenis PPh yang terutang dan berapa besar? PT Sentosa tahun pajak 2012, melaporkan laporan laba rugi sebagai berikut : Penjualan 45,000,000,000 Persediaan awal 285,350,000 Pembelian 35,658,256,500 Persediaan akhir 335,685,200 Beban Gaji 2,658,500,000 Beban Sewa Kantor 853,200,000 Beban Listrik 725,200,000 Beban Telepon 532,800,000 Beban Perjalanan Dinas 175,350,500 Beban Perlengkapan 145,600,000 Beban Sumbangan 50,000,000 Beban Penyusutan 350,000,000 Beban Piutang tak tertagih 253,000,000 Beban Promosi 120,000,000 Beban Bunga Pembiayaan 25,300,000 Pendapatan dividen (sebelum PPh) 2,500,000,000 Pendapatan jasa giro (setelah PPh) 25,355,600 Informasi tambahan : a. Penjualan sebesar Rp. 500.000.000 kepada Kementerian Kesehatan. b. Pembelian sebesar Rp. 10.000.000.000 impor barang dagangan dari Taiwan dengan Api. c. Beban gaji termasuk PPh Pasal 21 yang dibayarkan oleh perusahaan tidak di gross up, sebesar Rp. 65.850.000 d. Beban perjalanan dinas sebesar Rp. 85.000.000, tidak didukung bukti yang memadai. e. Beban sumbangan untuk gempa bumi di Aceh. f. Beban penyusutan termasuk aset tetap dalam leasing, dengan cicilan setiap bulan Rp. 6.500.000, dengan harga perolehan Rp. 210.000.000, berupa kendaraan dinas. g. Dividen dari Malaysia dengan tarif pajak 20%. h. PPh pasal 25, mulai Januari - Maret masing-masing Rp. 16.500.000, sedangkan April-November masingmasing Rp. 18.600.000, sementara bulan Desember ditagih dengan STP sebesar Rp. 18.972.000. Diminta : Buatlah laporan rekonsiliasi fiskal, dan hitunglah berapa PPh Kurang/Lebih Bayar, serta PPh pasal 25 tahun 2013 ! Tuan Yanto bekerja di PT Union sejak 02 Mei 2008, sebagai marketing, selama tahun pajak 2013, ia menerima penghasilan bruto sebesar Rp. 245.650.000. Istri memiliki usaha katering, selama tahun tersebut memperolehperedaran bruto sebesar Rp. 450.000.000. Susunan keluarga adalah berikut :

2.

3.

4.

4.

Lanjutan Nama Aminah Fikri Reni Ratih Tgl Lahir 05 Juni 1965 17 Nov 1992 05 Mar 2013 05 Feb 1935 Hubungan Keluarga Istri Anak Kandung Anak Kandung Mertua Pekerjaan Usaha Mahasiswa Tidak ada Pensiunan PNS

Informasi Tambahan Tarif perkiraan penghasilan neto untuk usaha katering, adalah 35%. Tanggal 15 Mei 2013, tuan Yanto menerima dividen atas kepemilikan saham di PT Adaro sebesar Rp3.500.000. Diminta: Hitunglah berapa PPh terutang, jika Tuan Yanto dengan istrinya kawin dengan perjanjian pisah harta!

5.

Identifikasikan jenis objek pajak subjek pemotong/pemungut dan berapa besar! a. PT A membayar gaji dan tunjangan kepada Tuan B bulan Maret 2013, sebesar Rp12.000.000 (Tuan B berstatus K/2). b. PT C menyewakan mobil truk kepada PT D dengan nilai Rp20.000.000. c. PT E membayar jasa audit sebesar Rp50.000.000 ke KAP F&Rekan. d. PT G (kontraktor kualifikasi kecil) menerima pembayaran atas jasa konstruksi dari PT H sebesar Rp120.000.000 (termasuk PPN). e. PT I melakukan impor barang dari Jerman berupa mesin seharga USD120.000, asuransi 0.2% dan angkutan USD3.000, bea masuk diketahui 5% dan pungutan lain Rp.5.000.000, kurs KMK saat itu Rp9.600/USD. PT Garuda melaporkan SPT tahunan tahun pajak 2010, dengan kurang bayar Rp65.000.000. Pada tanggal 05 Mei 2012, dilakukan pemeriksaan pajak oleh KPP setempat. Hasil pemeriksaan menunjukkan kurang bayar seharusnya Rp75.000.000. Selama pemeriksaan, perusahaan berencana untuk mengungkapkan ketidakbenaran SPT tersebut. Ditanya: a. Apakah selama pemeriksaan, perusahaan dapat mengungkapkan ketidakbenaran atas SPT yang telah disampaikan, apa konsenkuensi hukumnya? b. c. Jelaskan tahap-tahap berikut yang dilakukan pemeriksa (KPP) setelah menyelesaikan pemeriksaan? Apa upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atas ketidaksetujuan hasil pemeriksaan, jelaskan syarat-syarat dan sanksi terkait, jika gagal!

6.

Jawaban : 1. a. hari 14 ; = 14 x 150,000.00 2,100,000.00 24,300,000 360 hari 67,500 67,500 x 14 945,000 2,100,000 945,000 1,155,000 1,155,000 57,750 150,000 67,500 150,000 67,500 82,500 82,000 4,100 20,500 + 20,500

PTKP setahun (tidak kawin) b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. PTKP/hari PTKP 14 hari a-c Pembulatan PPh Pasal 21 (5%) Hari ke 15 (-) PTKP/hari g-h Pembulatan Hari ke-15 PPh Pasal 21 (5%) Hari ke 16 - 20 (5 hari) Total PPh Pasal 21 = 57,750 + = 82,350 2. = = = = = Rp. Rp. Rp. Rp. = = Rp. Rp. Rp. 4,100

PT Harun membeli saham PT Yakin Nilai per Saham PT Yakin Rp. Harga Pasar Jumlah Saham PT Yakin Rp. Rp.

600,000 720,000 1,000,000,000

Lembar Saham 600

1,000

Harga per lembar saham Rp. 1,000,000 Dividen per lembar saham Rp. 300,000 PPh Pasal atau deviden adalah PPh Pasal 23 sebesar 15% Dividen yang diterima oleh PT Harun PPh Pasal 23 atas deviden 15% Rp. Rp. 180,000,000 27,000,000

3.

PT SENTOSA REKONSILIASI FISKAL TAHUN PAJAK 2012


Keterangan Laba Komersial

Koreksi Fiskal
Positif Negatif

Laba Fiskal

Peredaran Bruto Penjualan Potongan Penjualan Retur Penjualan Penjualan Neto Harga Pokok Penjualan Persediaan awal Pembelian Persediaan akhir Harga Pokok Penjualan Penghasilan Bruto

45,000,000,000 45,000,000,000

45,000,000,000 45,000,000,000

285,350,000 35,658,256,500 (335,685,200) 35,607,921,300 9,392,078,700

285,350,000 35,658,256,500 (335,685,200) 35,607,921,300 9,392,078,700

Biaya Umum, Administrasi dan Penjualan


Beban Gaji Beban Sewa Kantor Beban Listrik Beban Telepon Beban Perjalanan Dinas Beban Perlengkapan Beban Sumbangan Beban Penyusutan Beban Piutang tak tertagih Beban Promosi Beban Bunga Pembiayaan Jumlah Biaya Laba Usaha 2,658,500,000 853,200,000 725,200,000 532,800,000 175,350,500 145,600,000 50,000,000 350,000,000 253,000,000 120,000,000 25,300,000 5,888,950,500 3,503,128,200 65,850,000 85,000,000 26,250,000 177,100,000 52,700,000 52,700,000 2,592,650,000 853,200,000 725,200,000 532,800,000 90,350,500 145,600,000 50,000,000 323,750,000 253,000,000 120,000,000 78,000,000 5,764,550,500 3,627,528,200

Pendapatan (Biaya) dari luar usaha : Pendapatan dividen (sebelum PPh) Pendapatan jasa giro (setelah PPh)

2,500,000,000 25,355,600 2,525,355,600 6,028,483,800

2,500,000,000 25,355,600 2,525,355,600 6,152,883,800

Jumlah Pendapatan (Biaya) dari luar usaha :


Laba Bersih Sebelum Pajak Taksiran Pajak Penghasilan Laba Bersih Setelah Pajak

6,028,483,800

6,152,883,800

4.

a.

penghasilan neto tuan yanto penghasilan bruto pendapatan deviden penghasilan neto penghasilan neto istri peredaran bruto usaha katering Tarif perkiraan penghasilan neto untuk usaha katering penghasilan neto penghasilan neto gabungan (a + b) PTKP (penghasilan tidak kena pajak) - tarif 2013 Untuk Diri Wajib Pajak Orang Peribadi Tambahan Untuk Wajib Pajak Kawin Tambahan untuk penghasilan istri yang digabung dengan penghasilan suami ket: tidak ada, karena perjanjian pisah harta Tambahan untuk anggota keluarga (max. 3 orang) = @ Rp. 2.025.000,ket: yang diperbolehkan hanya 2 orang, karena Reni anak yang kedua lahir pada 5 maret 2013 bukan awal tahun (1 jan 2013), jadi Reni boleh diperhitungkan pada 2014 Penghasilan kena pajak (c - d) PPh 21 terutang gabungan (e * tarif) 5% x Rp 50.000.000 15% x Rp200.000.000 25% x Rp119.275.000 PPh 21 Untuk SPT Tuan Yanto (a / c * f) PPh 21 Untuk SPT Istri (b / c * f)

245,650,000 (3,500,000) 242,150,000

b.

450,000,000 35% 157,500,000 399,650,000 24,300,000 2,025,000 4,050,000

c. d.

30,375,000 e. f. 369,275,000 2,500,000 30,000,000 29,818,750 62,318,750 37,759,253 24,559,497 62,318,750

g.

5.

a.

PT A membayar gaji dan tunjangan kepada Tuan B bulan Maret 2013, sebesar Rp12.000.000 (Tuan B berstatus K/2). Gaji Tuan B B. Jabatan 5% Penghasilan Neto (-) PTKP/K-2 PKP Pembulatan PPh 21 = = Rp. Rp.
50,000,000 x 57,625,000 x

144,000,000 6,000,000 138,000,000 30,375,000 107,625,000 107,625,000

5% 15%

2,500,000 8,643,750

11,143,750 b. PT C menyewakan mobil truk kepada PT D dengan nilai Rp20.000.000. PPN 10% = = Rp. Rp. Rp. Rp. 20,000,000 x 2,000,000 20,000,000 x 400,000 2% 10%

PPh 23

= =

c.

PT E membayar jasa audit sebesar Rp50.000.000 ke KAP F&Rekan. DPP = Rp. = = Rp. Rp. Rp. Rp. 50,000,000 50,000,000 x 5,000,000 50,000,000 x 1,000,000 2% 10%

PPN 10%

PPh 23 d.

= =

PT G (kontraktor kualifikasi kecil) menerima pembayaran atas jasa konstruksi dari PT H sebesar Rp120.000.000 (termasuk PPN). DPP = = Rp. Rp. Rp. Rp. 120,000,000 x 109,090,909 109,090,909 x 2,181,818 0.9

PPh 23 =

2%

5.

e.

PT I melakukan impor barang dari Jerman berupa mesin seharga USD120.000, asuransi 0.2% dan angkutan USD3.000, bea masuk diketahui 5% dan pungutan lain Rp.5.000.000, kurs KMK saat itu Rp9.600/USD. Kurs Rp 9,600 /USD USD USD USD USD
USD

Harga mesin Biaya Angkut Asuransi (0,2%) CIF

120,000 3,000 240 123,240

= = =

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

1,152,000,000 28,800,000 2,304,000 1,183,104,000 59,155,200 5,000,000 1,247,259,200

Bea Masuk (5% dr. CIF) Pungutan Lain Nilai Impor

6,162 =

PPh 22 yang harus dipungut (diasumsikan tidak memiliki API) Rp. 1,247,259,200 x 7.5% = Rp. 93,544,440 PPh 22 yang harus dipungut (diasumsikan memiliki API) Rp. 1,247,259,200 x 2.5% = Rp. 31,181,480 6. a.

Apakah selama pemeriksaan, perusahaan dapat mengungkapkan ketidakbenaran atas SPT yang telah disampaikan, apa konsenkuensi hukumnya? Apabila ada data yang belum dilaporkan atau pengisian SPT tidak benar, Wajib Pajak masih mempunyai kesempatan dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran tersebut sesuai Pasal 8 ayat 4 UU KUP yang berbunyi : Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum menerbitkan surat ketetapan pajak, Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya , yang dapat mengakibatkan: a. pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil; b. rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar; c. jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil; atau d. jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih kecil dan proses pemeriksaan tetap dilanjutkan. Atas pengungkapan ketidakbenaran tersebut juga disertai pengenaan sanksi administrasi sesuai Pasal 8 ayat (5) UU KUP yang berbunyi : Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar , harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan. Namun apabila Wajib Pajak tidak juga mau menggunakan kesempatan untuk mengungkapkan sendiri ketidakbenaran pengisian SPT dan dalam proses pemeriksaan ditemukan adanya indikasi tindak pidana, maka akan dilanjutkan dengan low enforcement yang lebih tinggi yaitu pemeriksaan bukti permulaan.

6.

b. 1.

Jelaskan tahap-tahap berikut yang dilakukan pemeriksa (KPP) setelah menyelesaikan pemeriksaan? Setelah selesai dilakukan pemeriksaan dan telah diterbitkan surat ketetapan pajak, maka apabila Wajib Pajak belum melakukan pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT dan data baru (novum ditemukan oleh DJP maka akan dilakukan pemeriksaan ulang sehingga terbit surat ketetapan pajak Kurang Bayar Tambahan sesuai Pasal 15 ayat (1) UU KUP yang berbunyi : Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Dan disertai sanksi sesuai Pasal 15 ayat (2) yakni : Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

2.

Apabila dilanjutkan dengan pemeriksaan bukti permulaan, maka sanksi yang akan diterima oleh Wajib Pajak minimal karena unsur kealpaan pertama kali adalah sesuai Pasal 13A UU KUP yang berbunyi : Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tidak dikenai sanksi pidana apabila kealpaan tersebut pertama kali dilakukan oleh Wajib Pajak dan Wajib Pajak tersebut wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar yang ditetapkan melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.

3.

Apabila ketidakbenaran pengisian SPT tersebut merupakan tindak pidana karena unsur kealpaan yang kedua kali, maka akan dilakukan tindakan penyidikan yang akan dikenakan sanksi sesuai Pasal 38 UU KUP yang berbunyi : Setiap orang yang karena kealpaannya: a. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau b. menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.

6.

b. 4.

Jelaskan tahap-tahap berikut yang dilakukan pemeriksa (KPP) setelah menyelesaikan pemeriksaan? - lanjutan Apabila ketidakbenaran pengisian SPT tersebut merupakan tindak pidana karena unsur kesengajaan termasuk konsekuensi atas tidak mendaftarkan NPWP dan/atau PKP, maka akan dilakukan tindakan penyidikan yang akan dikenakan sanksi sesuai Pasal 39 UU KUP yang berbunyi : Setiap orang yang dengan sengaja: a. tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; d. menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap; sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Jadi dalam hal hak untuk membetulkan SPT telah hilang dan sedang dilakukan pemeriksaan, alangkah baiknya apabila Wajib Pajak menggunakan haknya untuk mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT yang konsekuensi hukum maupun sanksinya lebih ringan dibandingkan data baru maupun ketidakbenaran tersebut diungkapkan oleh pihak DJP sehingga akan diproses sesuai ketentuan perpajakan yang telah disebutkan di atas.

c.

Apa upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atas ketidaksetujuan hasil pemeriksaan, jelaskan syarat-syarat dan sanksi terkait, jika gagal! Upaya hukum Banding atau Gugatan adalah upaya hukum berikutnya apabila keputusan keberatan, pengurangan dan/atau penghapusan sanksi administasi, serta pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak masih belum dapat diterima oleh Wajib Pajak. Upaya hukum banding atau gugatan memiliki lingkup yang spesifik dengan aturan tertentu guna memenuhi syarat formal dalam pengajuan banding atau gugatan tersebut. Syarat-syarat 1 Tertulis dalam bahasa Indonesia dan dengan alasan yang jelas; 2 Dalam jangka waktu 3 bulan sejak keputusan atas keberatan diterima; 3 Dilampiri salinan Surat Keputusan atas keberatan; 4 Terhadap satu keputusan diajukan satu surat banding. Putusan Pengadilan Pajak bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara. Sanksi Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian dan Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan banding, jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan, dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen). Dalam hal permohonan banding Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding, dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen).