Anda di halaman 1dari 49

National Public Safety Institute

Tujuan dari Materi ini


Memahami pengertian keselamatan lalu lintas Mengetahui kondisi keselamatan lalu lintas saat ini Trend Kecelakaan 5 tahun terakhir Faktor Manusia Faktor Kendaraan Faktor Jalan dan Lingkungan Memahami berbagai tantangan di bidang keselamatan lalu lintas Memahami Regulasi keselamatan di Indonesia Memahami regulasi keselamatan dalam UULLAJ Mengetahui perbandingan regulasi keselamatan di beberapa negara Memahami Manajemen Keselamatan Lalu Lintas Mengetahui visi keselamatan, proyeksi dan tantangan masa depan keselamatan lalu lintas Memahami Rencana Aksi Keselamatan Lalu Lintas Memahami Pendataan Kecelakaan Lalu Lintas (study kasus)

Pengertian Keselamatan
Keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan adalah suatu

keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selama berlalulintas yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan dan / atau lingkungan.
melibatkan seluruh jenis kendaraan dan pengguna jalan, serta

Namun demikian harus dipahami bahwa beberapa ruas jalan

mengurangi tingkat keparahan (fatalitas) korban kecelakaan lalu lintas.

atau lokasi merupakan tempat dimana sering terjadi kecelakaan lalu lintas, beberapa jenis kendaraan bermotor, dan beberapa kelompok pengguna jalan, misalnya kelompok berdasarkan usia (muda), memiliki catatan kejadian dan korban yang lebih tinggi dibandingkan kategori lainnya. Permasalahan keselamatan lalu lintas juga merupakan implikasi dari permasalahan ekonomi, regulasi, keadilan, kesamaan status dan kesamaan hak yang terjadi di jalan-jalan di Indonesia.

Trend 2004 - 2011

Beberapa Statistik Kecelakaan


Data Polri korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu

lintas pada tahun 2010 adalah 31.234 orang meningkat menjadi 32.657 pada tahun 2011 (Laporan Tahunan Korlantas, 2011) Diperkirakan jumlah korban tersebut di atas 40.000 jiwa (INDII-AusAID, 2010) Loss productivity dari korban dan kerugian material akibat kecelakaan tersebut diperkirakan mencapai 2,9 - 3,1% dari total PDB Indonesia, atau setara dengan Rp 205 220 trilyun pada tahun 2010 dengan total PDB mencapai Rp7.000 trilyun. Rasio fatalitas terhadap 10.000 kendaraan yang terdaftar di kepolisian adalah sebesar 4.31 pada tahun 2010, dan sebesar 3.70 pada tahun 2011. Rasio fatalitas terhadap 100.000 penduduk adalah 9.53.

Perbandingan Kecelakaan Indonesia vs negara-negara Asean


Indonesia
Jumlah Penduduk Kendaraan Kematian Kematian per 100.000 Penduduk Kematian per 10.000 Kendaraan 237,556,363 84,193,057 32,657 13.75 3.88

Thailand Malaysia
63,883,662 25,618,447 12,492 19.55 4.88 26,571,879 16,825,150 6,282 23.64 3.73

Vietnam Myanmar
87,375,196 22,926,230 12,800 14.65 5.58 48,798,212 1,045,105 1,638 3.36 15.67

Indonesia 25.00
19.55 23.64

Thailand

Malaysia

Vietnam

Myanmar

20.00

15.00

13.75

14.65

15.67

10.00
4.88 3.73 5.58

5.00

3.36

3.88

0.00 Kematian per 100.000 Penduduk Kematian per 10.000 Kendaraan

Perbandingan Kualitas keselamatan jalan Indonesia dan Beberapa Negara ASEAN *(WHO, 2007)
WHO mencatat bahwa Angka kematian per 100.000 di kawasan Asean

adalah 16.6. Indonesia yang memiliki Angka kematian 13,75 per 100.000 Penduduk Posisi Indonesia dari rasio ini lebih baik dari Malaysia, Thailand dan Vietnam. Sementara dengan menggunakan rasio per 10.000 kendaraan yang terdaftar, Angka 3.88 yang dimiliki Indonesia, berada sedikit di bawah Malaysia yang memiliki rasio lebih kecil yaitu 3.73. Rasio kematian per 10.000 kendaraan Indonesia jauh lebih baik dibandingkan Myanmar, Vietnam dan Thailand. Secara umum kualitas keselamatan jalan di Indonesia saat ini berada pada tingkatan yang cukup baik di antara negara-negara Asean yang terdapat dalam tabel di atas. Proses benchmarking dan komparasi dengan negara-negara ASEAN Visi Indonesia sebagai negara terbaik di bidang Keselamatan Jalan di Asean pada tahun 2035.

Perbandingan Kecelakaan Indonesia vs Negara-negara di Dunia


Indonesia
Jumlah Penduduk Kendaraan Kematian Kecelakaan Kematian per 100.000 Penduduk Kematian per 10.000 Kendaraan
16.00 14.00 12.00 13.75
13.94

India
1,169,015,509 72,718,000 105,725 9.04 14.54
China USA

China
145,228,994 89,455 6.69 6.16
UK
14.54

USA
251,422,509 42,642 13.94 1.70

UK
60,768,946 34,327,520 3,298 5.43 0.96

237,556,363 84,193,057 32,657 13.75 3.88


Indonesia

1,336,317,116 305,826,246

India

10.00
8.00 6.00 4.00 2.00 0.00

9.04 6.69 5.43 6.16

3.88
1.70 0.96

Kematian per 100.000 Penduduk

Kematian per 10.000 Kendaraan

Perbandingan Kualitas keselamatan jalan Indonesia dan Beberapa Negara*(WHO, 2007)


India adalah negara yang memiliki korban meninggal dunia tertinggi akibat kecelakaan lalu lintas, yaitu: 105.725 jiwa dengan point estimasi (perkiraan sebenarnya) mencapai 196.445 jiwa (90% index kepercayaan berada pada angka 155.727 266.999 jiwa).Kendaraan bermotor tercatat 72.718.000 Unit

China mengalami hal yg sama dengan India, dengan jumlah Korban meninggal dunia 89.455 jiwa (estimasi WHO : 220.783) dan luka-luka 431.139. Jumlah kendaraan bermotor tercatat : 145.228.994 Unit.
Di Amerika 113 orang meninggal dunia setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas. Total Korban setiap tahun mencapai 2.9 juta luka-luka dan 42.636 meninggal dunia. Jumlah kendaraan bermotor tercatat 251.422.509 Di Inggris atau UK jumlah korban meninggal dunia tercatat 3.298. Dengan jumlah penduduk 60,768,946 jiwa dan jumlah kendaraan 34,327,520 unit, Inggris merupakan salah satu negara dengan kualitas keselamatan terbaik. Sementara di Indonesia, Setiap hari 89 orang meninggal dunia di jalan akibat kecelakaan lalu lintas. Pada tahun 2010 Polri mencatat 31.234 orang meninggal dunia, kemudian meningkat menjadi 32.657 pada tahun 2011. Untuk melihat dan membandingkan performance keselamatan Indonesia pada tahun terakhir 2010-2011, perhatikan tabel dan grafik berikut:

Perhitungan dengan menggunakan rasio merupakan salah satu cara untuk memperkirakan resiko yang akan dihadapi oleh pengguna jalan (penduduk) dan para pemilik kendaraan yang mengoperasional kendaraan tersebut di jalan. Dengan Angka kematian 13.75 per 100.000 Penduduk, Indonesia berada pada tingkatan yang hampir sama dengan Amerika Serikat. Meskipun India dan China terlihat lebih rendah, tetapi sesungguhnya WHO memberikan estimasi korban yang lebih tinggi. Selanjutnya, bila dihitung dengan menggunakan ratio kendaraan bermotor yang terdaftar, Indonesia berada di atas India dan China, dengan angka kematian per 10.000 kendaraan adalah 3.88. Sebaliknya, Amerika Serikat menunjukkan performance yang lebih baik yaitu 1.7 kematian per 10.000 kendaraan yang terdaftar. Hal ini sangat unik, bila diperhatikan bahwa kendaraan yang terdaftar di AS berjumlah 251,422,509 unit, sedangkan di Indonesia 84,193,057. Dengan perkataan lain, jumlah kendaraan yang 3 kali lebih banyak, menyebabkan ratio kematian turun secara signifikan. Ternyata penambahan jumlah kendaraan tidak menyebabkan resiko kecelakaan meningkat di Amerika Serikat. Hal ini hanya

dapat dicapai bila kendaraan diawaki oleh pengemudi yang berkualitas baik. Perbandingan dengan negara maju di bidang keselamatan jalan, seperti Inggris/UK, harus menjadi motivasi dalam mengoptimalkan segala sumber daya dalam mewujudkan kualitas keselamatan lalu lintas jalan.

Faktor Manusia
Faktor manusia merupakan penyebab terbesar terjadinya kecelakaan lalu

lintas. Manusia dapat menjadi factor utama atau factor modifikasi dalam sebuah kecelakan lalu lintas. Study menunjukkan bahwa 94% kecelakaan lalu lintas berhubungan dengan factor manusia. Dalam pemahaman tentang kecelakaan lalu lintas, unsur terpenting adalah korban manusia. Oleh sebab itu dalam pengkategorian kecelakaan maka klasifikasi kecelakaan ditentukan atas dasar tingkat keparahan korban. Laka lantas dibagi dalam 3 (tiga) kategori sebagai berikut: 1) Kecelakaan Lalu Lintas ringan; yaitu merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan Kendaraan dan/atau barang. 2) Kecelakaan Lalu Lintas sedang; yaitu kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang. 3) Kecelakaan Lalu Lintas berat yaitu kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat.

Faktor manusia dalam keselamatan lalu lintas berkaitan dengan

keadaan fisik dan psikologi seseorang. Secara fisik, tubuh manusia tidak dirancang untuk bergerak dalam kecepatan tinggi khususnya pada saat mengalami benturan fisik dengan objek lainnya sehingga akibat yang ditimbulkan dalam sebuah peristiwa kecelakaan dengan kecepatan tinggi akan berakibat fatal terhadap tubuh manusia bahkan dapat menyebabkan kehilangan nyawa. Secara psikologi, misalnya konsentrasi sesorang pada waktu mengemudi, dipengaruhi oleh factor internal, yaitu: latar belakang pengetahuan, keterampilan, wawasan, pengalaman, logika, kondisi kesehatan, kelelahan, stress, serta tekanan atas permasalahan pribadi. Sedangkan untuk factor eksternal antara lain cuaca, penggunaan handphone dan pesan teks atau gadget-gadget, keberadaan alat-alat atau teknologi lain pada kendaraan, dan hal-hal lain yang berasal dari luar yang mempengaruhi konsentrasi pengemudi.

Faktor Manusia

Kecelakaan berdasarkan faktor pengemudi memperlihatkan bahwa ketidaktertiban menjadi penyebab kecelakaan tertinggi. Pada tahun 2011 tercatat 52% jenis Kecelakaan adalah akibat ketidaktertiban, diikuti oleh kelengahan terhadap situasi jalan sebesar 25 %. Angka ini menunjukkan bahwa kecenderungan tidak tertib dan lengah ini selalu menjadi yang tertinggi dibandingkan faktor lainnya. Sangat menarik untuk dicermati bahwa terjadi 336 kasus selama tahun 2011 dimana pengemudi yang dalam keadaan sakit menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas.

Usia Korban Kecelakaan

Berdasarkan data korban kecelakaan berdasarkan usia, kecenderungan kelompok usia korban tertinggi adalah usia 16-30 tahun yang merupakan usia dalam kelompok produktif. Namun disisi lain peningkatan atau pertumbuhan jumlah korban tertinggi justru pada usia 0-9 tahun , yang merupakan anak-anak dan bukan merupakan pengemudi. Penurunan jumlah korban terbesar ditunjukkan oleh kelompok usia sangat dewasa 51 tahun ke atas. Secara keseluruhan terdapat penambahan korban mecapai 2000 orang pada semua jenis korban (MD, LB dan LR).

90000000

Faktor Kendaraan: Pertumbuhan 25 tahun terakhir

80000000

70000000

60000000

50000000

40000000

30000000

20000000

10000000

0 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 *1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Sepeda Motor Kendaraan Bermotor

Faktor Kendaraan: Pertumbuhan 2010-2011

Jumlah kendaraan yang terdaftar di Polri pada tahun 2011 adalah 78.707.486 unit yang terdiri dari 65.008.424 sepeda motor, 8.833.335 mobil penumpang, 1.143.807 bus dan 3.446.940 truk/mobil barang dan 274.980 kendaraan khusus. Selengkapnya pertumbuhan sepeda motor seperti tergambar pada grafik di atas

Faktor Kendaran: Trend Pertumbuhan sepeda motor

Data kecelakaan Berdasarkan jenis kendaraan memperlihatkan bahwa pengguna sepeda motor tetap menjadi jenis kendaraan yang tertinggi. Pada tahun 2010 tercatat 70,40 % pengguna sepeda motor terlibat dalam kecelakaan lalu lintas, sedangkan pada tahun 2011 tercatat 69.95%. Grafik di atas menunjukkan bahwa trend pengguna sepeda motor terlibat kecelakaan lalu lintas lebih tinggi dibanding pengguna kendaraan yang lain.

Faktor Kendaraan: Penyebab Kecelakan

Penyebab kecelakaan berdasarkan faktor kendaraan memperlihatkan bahwa tidak berfungsinya lampu utama dan rem masing-masing 26% dan 18%. Bila dilihat secara keseluruhan, faktor pencahayaan (lampu utama maupun indikator) mencapai 20% dari total faktor kendaraan yang terdata. Masih terdapata ribuan kasus yang diduga merupakan konrtribusi dari komponen atau system kendaraan namun tidak terdata dengan baik.

Faktor Jalan: Pertumbuhan Jalan


Perbandingan tingkat pertumbuhan jalan dan kendaraan menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang jalan semakin jauh tertinggal bila dibandingkan dengan pertumbuhan jalan. Dalam 25 tahun terakhir, 1987 s/d 2011, pertumbuhan kendaraan mencapai hampir 957%, sementara panjang jalan tumbuh 201%. Ini berarti pertumbuhan kendaraan bermotor 4.7 kali pertumbuhan jalan. Perhatikan perbandingan pertumbuhan jalan dan kendaraan di Indonesia dalam grafik berikut ini:

Faktor Jalan
Pada tahun 1987 panjang jalan, baik yang beraspal maupun tidak, berkisar 100.000 km beraspal dan 110.000 km tidak beraspal serta jumlah kendaraan mencapai 10 juta unit. Pada tahun 2003 hingga 2010, jumlah kendaraan mengalami peningkatan yang signifikan sehingga mencapai 70 juta unit, dimana lebih dari 60% diantaranya adalah sepeda motor. Sementara pertumbuhan jalan tertinggal jauh pada kisaran

200.000km dan 300.000 km saja. Sebagian besar peristiwa kecelakaan terjadi di jalan arteri yang memiliki karakteristik kecepatan tinggi dan permukaan jalan yang cukup baik. Meskipun sebenarnya akses pada jalan arteri harus dibatasi, tetapi hal ini masih sangat sulit dikendalikan oleh para pemangku kepentingan di bidang teknik jalan dan tata guna lahan (land use). Jalan kolektor dan jalan lokal yang memiliki karakteristik kecepatan rendah, justru menunjukkan kenaikan yang signifikan pada tahun 2010 dan 2011. Demikian pula jalan lingkungan yang pada umumnya berada dalam kawasan pemukiman atau perumahan dan desa mengalami peningkatan hampir 2 kali lipat pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010.

Faktor Jalan: Menurut Fungsi Jalan

Regulasi Keselamatan Lalu Lintas di Indonesia

Regulasi Keselamatan Lalu Lintas


Undang-Undang 22 tahun 2009 membagi kewenangan tentang

permasalahan lalu lintas kepada beberapa Kementerian, Lembaga dan pemerintahan daerah selaku pemangku kepentingan (stake holder), namun tidak menunjuk atau membentuk lembaga yang menjadi Penanggung Jawab Utama atau leading agency di bidang keselamatan lalu lintas. Dengan kerangka kerja (institutional framework) model ini maka tidak terdapat pendanaan khusus di bidang keselamatan lalu lintas dalam anggaran kerja kementerian dan lembaga. Untuk itu, tugas-tugas dalam menangani permasalahan keselamatan secara terkoordinasi telah diatur, salah satunya, dalam Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2011 tentang Forum LLAJ. Strategi dan target yang akan diterapkan dalam mengatasi permasalahan keselamatan lalu lintas dicapai melalui Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK). Draft RUNK tersebut telah disusun dengan menunjuk Bappenas sebagai dirijen dalam memadukan program-program keselamatan yang dilaksanakan oleh pada pemangku kepentingan keselamatan lalu lintas. Draft RUNK disusun dengan mengadopsi pendekatan 5 Pilar Keselamatan.

Regulasi Keselamatan Lalu Lintas


Kewajiban untuk mengenakan sabuk pengaman (safety belt) bagi pengemudi dan

penumpang di sebelah pengemudi diatur dalam Pasal 106 UU 22/2009, namun belum terdapat aturan penggunaan sabuk keselamatan belt untuk penumpang di belakang pengemudi serta penumpang angkutan umum (selain angkutan kota). Ketentuan mengenai penggunaan helm sudah ada, baik untuk pengemudi maupun penumpang. Beberapa aturan yang terkait yang diperlukan dalam meningkatkan kualitas keselamatan lalu lintas, namun belum tersedia, antar lain: Belum ada aturan mengenai tempat duduk anak-anak dan bayi (child restrain) Belum ada aturan mengenai kandungan alcohol dalam tubuh pengemudi (BAC atau Blood Alcohol Contain) sehingga penegakan hukum terhadap permasalahan ini belum terlaksana dengan baik. Sistem Penalti atau demerit untuk pelanggaran lalu lintas telah dinyatakan dalam UU 22/2009 namun belum memiliki peraturan pelaksanaan sehingga belum dapat diterapkan terhadap para pengemudi yang melakukan pelanggaran atau terlibat kecelakaan lalu lintas. Aturan mengenai larangan penggunaan handphone pada saat mengemudi termasuk SMS atau Text telah dicantumkan dalam UU No.22/2009 namun penegakan hukum terhadap pelanggaran ini belum terlaksana. Ketentuan tentang Audit Keselamatan Jalan dan Analisis mengenai Dampak Lalu Lintas telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2012 tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas, namun belum berjalan dengan baik.
Aswin A. Siregar

Keselamatan lalulintas dan angkutan jalan adalah suatu keadaan TERHINDARNYA SETIAP ORANG DARI RISIKO KECELAKAAN SELAMA BERLALULINTAS yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan dan / atau lingkungan.

BERTANGGUNGJAWAB ATAS

TERJAMINNYA KESELAMATAN
LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN MENGKOORDINASIKAN PENYUSUNAN PROGRAM PENCEGAHAN KECELAKAAN LALU LINTAS MELALUI FORUM LLAJ

PENANGANAN LAKA LANTAS

LAKA MENGAKIBATKAN KERUSAKAN KENDARAAN/BARANG LAKA MENGAKIBATKAN LUKA RINGAN DAN KERUSAKAN KEND/BARANG LAKA MENGAKIBATKAN KORBAN MENINGGAL DUNIA ATAU LUKA BERAT

LAKA LANTAS

KORBAN MENINGGAL KORBAN CIDERA

WAJIB BERIKAN BANTUAN KPD AHLI WARIS KORBAN : -BIAYA PENGOBATAN DAN /ATAU -BIAYA PEMAKAMAN WAJIB BERIKAN BANTUAN KPD KORBAN : - BIAYA PENGOBATAN WAJIB GANTI RUGI :
PENYELESAIAN PERKARA DPT DILAKUKAN DILUAR PENGADILAN (JIKA ADA KESEPAKATAN DAMAI)

LAKA RINGAN

KELALAIAN PENGGUNA JALAN KETIDAKLAIKAN KENDARAAN KETIDAK LAIKAN JALAN LINGKUNGAN

PIHAK YG MENYEBABKAN LAKA LANTAS

WAJIB GANTI RUGI


(BESARANYA BERDASARKAN PUTUSAN PENGADILAN)

MENYEDIAKAN, MEMPERBAIKI PENGATURAN, SARPRAS LANTAS PENYEBAB LAKA LANTAS MENYEDIAKAN ALOKASI DANA UTK CEGAH & PENANGANAN LAKA LANTAS MENGEMBANGKAN PROGRAM ASURANSI LAKA LLAJ

Aswin A. Siregar

PENINDAKAN GAR LLAJ

D. PERAN KEPOLISIAN DALAM MEWUJUDKAN BUDAYA KEAMANAN DAN KESELAMATAN LALU LINTAS
a. Pelaksanaan pendidikan berlalu lintas sejak usia dini Dan berkelanjutan; b. Sosialisasi dan internalisasi tata cara dan etika berlalu lintas serta program Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, misalnya komitmen melalui slogan Jadilah Pelopor

Keselamatan Lalu Lintas dan Budayakan Keselamamatan sebagai Kebutuhan ;


c. Pemberian penghargaan terhadap tindakan Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; d. Penciptaan lingkungan Ruang Lalu Lintas yang mendorong pengguna jalan berperilaku tertib atau Self explaining Road; dan e. Penegakan hukum secara konsisten dan berkelanjutan. Menetapkan kebijakan dan program untuk mewujudkan budaya Keamanan dan Keselamatan berlalulintas

Regulasi Keselamatan di Eropa


Empat bidang regulasi yang dianggap memiliki potensi terbesar dalam

peningkatan kualitas keselamatan di Eropa, yaitu:


Speed enforcement by stationary methods, Drink driving enforcement by random breath testing, Seatbelt enforcement and Speed cameras

Beberapa negara memandang bahwa perlu dilakukan variasi sanksi

atau hukuman yang diberikan, selain denda dan kurungan, terhadap pelanggaran peraturan lalu lintas. Sanksi yang berbeda akan diikuti oleh mekanisme control yang berbeda. Berikut adalah contoh sanksi dan hukuman tersebut: Driving licence suspension, mandatory medical and psychological tests, re-licensing requirements, rehabilitation programmes, remedial courses, community work. Demerit point system menjadi isyu yang hangat dibicarakan akhirakhir ini guna mengeliminir keberadaan pengemudi berpotensi tinggi terlibat kecelakaan lalu lintas. Termasuk didalamnya kemungkinan untuk melakukan rehabilitasi terhadap para pelanggar berisiko tinggi tersebut. Sistem ini diyakini memberikan efek jera yang lebih besar.

Tantangan Masa Depan Keselamatan Berlalu Lintas


Mewujudkan Visi Keselamatan lalu lintas Meningkatkan Kualitas pengemudi dan membangun budaya

keselamatan lalu lintas bagi semua pengguna jalan Melindungi pengguna jalan yang rentan menjadi korban kecelakaan lalu lintas (Vulnerable road users) khususnya pejalan kaki dan sepeda motor. Mengurangi faktor-faktor yang mengakibatkan korban fatal (Meninggal dunia dan luka berat termasuk cacat tetap (disable) akibat kecelakaan lalu lintas Electronic Law Enforcement

Pendekatan Sistem Keselamatan Lalu Lintas: The Haddon Matriks

Pendekatan Sistem Keselamatan Lalu Lintas: Safe System

Pendekatan Sistem Keselamatan Lalu Lintas: 5 Pilar Keselamatan Lalu Lintas

KOMITMEN TERINTEGRASI & BERKESINAMBUNGAN


KENDARAAN BERKESELAMATAN JALAN YANG BERKESELAM ATAN PENGGUNA JALAN BERKESELAMATAN

MANAJEMEN KESELAMATAN

5 PILAR RUNK KEBUTUHAN & HARAPAN DEKADE AKSI KESELAMATAN UNITED NATION

POST CRASH RESPONSE

Pengertian Manajemen Keselamatan Jalan


Manajemen Keselamatan Jalan adalah suatu upaya untuk

mendorong terselenggaranya koordinasi antarpemangku kepentingan dan terciptanya kemitraan sektoral guna menjamin efektivitas dan keberlanjutan pengembangan dan perencanaan strategi keselamatan jalan pada level nasional, termasuk di dalamnya penetapan target pencapaian dari keselamatan jalan dan melaksanakan evaluasi untuk memastikan penyelenggaraan keselamatan jalan telah dilaksanakan secara efektif dan efisien.

MANAJEMEN KESELAMATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN


1.

Manajemen keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diselenggarakan dengan tujuan :
a.

b.

c. d.

menjamin bahwa aspek keselamatan jalan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang terkait dengan perencanaan, perancangan, pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan jalan dan jaringan jalan; membantu dan mengarahkan penyelenggara jalan dalam menerapkan dan mencapai berbagai strategi, kebijakan, sasaran, standar, prosedur dan keahlian, yang konsisten untuk memperbaiki kinerja keselamatan jaringan jalan; memastikan bahwa implementasi prosedur manajemen jalan akan dilaksanakan secara konsisten dan efisien; menjamin terdokumentasinya dan terkelolanya resiko-resiko keselamatan jalan;

MANAJEMEN KESELAMATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN


e.

f.

menjamin terpenuhinya kebutuhan akan pengetahuan dan keahlian bidang keselamatan jalan dengan baik; menjamin dapat ditingkatkannya kualitas keselamatan jalan dan menurunnya angka dan resiko kecelakaan jalan yang fatal bagi seluruh pengguna jalan.

MANAJEMEN KESELAMATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 2. Manajemen Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dilakukan
melalui pendekatan :
a. pendidikan dan penelitian melalui kegiatan antara lain: 1) pendidikan keselamatan jalan untuk anak; 2) kampanye dan sosialisasi keselamatan jalan. b. perekayasaan melalui kegiatan antara lain: a. Perekayasaan kendaraan; b. Perekayasaan jalan dan jembatan; c. Perekayasaan lalu lintas. c. penegakan hukum melalui kegiatan antara lain: 1) Penyidikan POLRI; 2) Penyidikan PPNS bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. d. pemberdayaan melalui kegiatan Peningkatan peran serta unit terkait; e. tanggap darurat melalui kegiatan pertolongan pertama bagi korban

kecelakaan.

Program Manajemen Keselamatan dalam Instruksi Presiden No 4 Tahun 2013


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Penyelerasan dan Koordinasi Keselamatan Jalan Protokol Kelalulintasan Kendaraan Darurat Riset Keselamatan Jalan Surveilance Injury dan Sistem Informasi Terpadu Peningkatan kualitas investigasi kecelakaan lalu lintas. Dana Keselamatan Jalan Kemitraan Keselamatan Jalan Sistem Manajemen Keselamatan Angkutan Umum Penyempurnaan Regulasi Keselamatan Jalan

KEWAJIBAN PENGUSAHA ANGKUTAN UMUM MEMBUAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN


1.

2.

Perusahaan angkutan umum wajib membuat, melaksanakan dan menyempurnakan sistem manajemen keselamatan dengan berpedoman pada Rencana Umum Nasional keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Sistem Manajemen Keselamatan untuk perusahaan angkutan umum meliputi:

sistem pemeliharaan dan perawatan kendaraan; sistem pengawakan; sistem keselamatan dan kesehatan kerja (utk keseluruhan perusahaan); sistem operasi pelayanan angkutan umum; sistem ketanggapdaruratan.

3.

Pemenuhan kewajiban ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari persyaratan perizinan (pendirian perusahaan baru, untuk perusahaan yang sudah berjalan

Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan


1. Kebijakan & Kepemimpinan 10. Audit dan Tinjau ulang
PERENCANAAN

2. Pengorganisasian

SMK
PURUSAHAAN ANGKUTAN
PEMANTAUAN

3. Menj. Resiko

IMPLEMENTASI

8. Penyelidikan insiden& koreksi 9. Pemantauan & pengukuran

4. Pengendalian operasi

5. Pelatihan/kopetensi
6.komunikasi/konsultasi 7. Tanggap Darurat

Program Manajemen Keselamatan Polri sebagai Tindak Lanjut Inpres No.04 Tahun 2013
Protokol Kelalulintasan Kendaraan Darurat* 2. Surveilance Injury dan Sistem Informasi Terpadu 3. Peningkatan kualitas investigasi kecelakaan lalu lintas. 4. Kemitraan Keselamatan Jalan
1.

Program Manajemen Keselamatan Polri sebagai Tindak Lanjut Inpres No.04 Tahun 2013
A. Penyempurnaan sistem pendataan
1. Penyempurnaan format data kecelakaan lalu lintas
2. Pelaksanaan Analisis sistem pencatatan data kecelakaan lalu lintas secara berkala

I. Manajemen Keselamatan

B. Peningkatan kualitas investigasi

3. Peningkatan kemampuan personil 4. Peningkatan sarana teknologi pada penyidikan kecelakaan lalu lintas 5. Kerjasama Pencegahan

C. Kemitraan Keselamatan Lalu Lintas (RSPA)

6. Kerjasama Penanganan

7. Kerjasama Pasca
8. Kerjasama Pengkajian Masalah Sepeda Motor

Sekian dan Terima Kasih

ANY QUESTIONS?