Anda di halaman 1dari 6

REFLEKSI KASUS GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Program Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh: Dwi Arif Wahyu Wibowo 20090310156

Diajukan Kepada: dr. Handayani, M.Sc., Sp.A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD SETJONEGORO WONOSOBO FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2013

Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas

1. Definisi
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah suatu kelainan medis yang dapat dikenali dan memiliki ciri tersendiri yang cenderung merupakan keturunan. Secara umum ada tiga jenis perilaku yang dikaitkan dengan kelainan ini, yaitu: sikap kurang memperhatikan sekeliling (inattentiveness) atau mudah terganggu (distractibility), sikap menurutkan kata hati (impulsiveness) dan hiperaktivitas.1 GPPH merupakan suatu kondisi medis, yang ditandai oleh hiperaktifitas, ketidakmampuan memusatkan perhatian dan impulsivitas, yang terdapat lebih sering dan lebih berat dibandingkan dengan anak-anak yang sebaya. Masalah ini terdapat secara menetap dan biasanya menyebabkan kesulitan dalam kehidupan anak, baik di rumah, sekoah, atau dalam hubungan sosial antar manusia. Gejala yang tampil tidak sama pada semua anak, oleh karena itu masalah yang dihadapi juga berbeda. Sebagian anak dapat menunjukkan gejala hiperaktif, yang lainnya menunjukkan gejala kesulitan memusatkan perhatian, dan ada pula yang menunjukkan impulsivitas, atau ketiga gejala tersebut terdapat secara bersamaan. Gejalanya bervariasi, mulai dari ringan, sedang sampai berat.2 Kurangnya pemusatan perhatian menyebabkan anak lebih mudah terganggu dibandingkan anak-anak lainnya, sama sekali tidak berkonsentrasi pada tugas-tugasnya, akibatnya prestasi sekolah buruk dan mengganggu anak-anak lain. Impulsivitas ditandai dengan selalu meakukan tindakan yang beresiko, berbuat tanpa berpikir dahulu dan seolah-olah tidak sadar terhadap akibatnya, dan seolaholah tidak mendengar. Hiperaktivitas ditandai dengan selalu "ingin pergi" sulit untuk diikuti, tidak pernah dapat diam, bergoyang-goyamg, mengetuk-ngetukkan jari-jari tangan atau kaki, mengayun-ayunkan tungkai memutar-mutar badan, naik turun, biasanya mengerjakan beberapa hal sekaligus dan tidak pernah dapat duduk dengan tenang.3

2. Epidemiologi
Laporan-laporan mengenai insiden GPPH di Amerika Serikat bervariasi dari 2 hingga 20mpersen pada anak-anak sekolah dasar. Angka konservatif adalah kira-kira 3 hingga 7 persen pada anak-anak sekolah dasar pra pubertas. Orang tua dari anak-anak dengan GPPH menunjukkan meningkatnya insiden hiperkinesis,

sosiopati, gangguan penggunaan alkohol, serta gangguan konversi. Gejala GPPH sering muncul pada usia 3 tahun tetapi diagnosis umumnya tidak dibuat hingga anak masuk ke dalam lingkungan sekolah tersruktur, seperti prasekolah atau taman kanak-kanak, ketika informasi guru tersedia yang membandingkan perhatian dan impulsivitas anak yang dicurigai dengan teman sebayanya.4 Angka prevalensi GPPH bervariasi, disebabkan perubahan kriteria diagnostik yang terus direvisi dan juga perbedaan lokasi geografis serta estimasi sampel yang dipakai.5 Berdasarkan revisi terakhir didapatkan angka prevalensi GPPH sebesar 4%-12% (dengan estimasi 8%-10%) dan terdiri dari 9,2% (5,8%13,6%) laki-laki dan 2,9% (1,9%-4,5%) perempuan.2 Menurut klasifikasi Diagnosis and statistical manual of mental disorders (DSM) IV anak perempuan lebih banyak termasuk dalam tipe gangguan perhatian.6

3. Diagnosis
Tanda utama hiperaktivitas dan impulsivitas didasari pada riwayat pola perkembangan awal pranatal yang rincibersama dengan pengamatan langsung pada anak, terutama pada situasi yang memerlukan perhatian. Diagnosis GPPH memerlukan gejala hiperaktivitas/impulsivitas yang persisten dan mengganggu atau keadaan tanpa atensi yang menimbulkan hendaya pada sedikitnya dua keadaan yang berbeda.4 kriteria diagnostik GPPH ditampilkan pada tabel 1 berikut:
A Baik (1) atau (2) 1) Enam (atau lebih) dari gejala inatensi berikut ini telah ada sedikitnya selama 6 bulan hingga suatu derajat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan: inatensi a) Sering tidak dapat memberikan perhatian erat pada rincian atau membuat kesalahan yang ceroboh pada pekerjaan sekolah, pekerjaan atau aktivitas lain. b) Sering memiliki kesulitan dalam mempertahankan perhatian dalam tugas atau aktivitas bermain. c) Sering tampak tidak mendengarkan ketika diajak bicara secara langsung. d) Sering itdak dapat mengikuti instruksi dan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sekolah atau tugas. e) Sering memiliki kesulitan untuk mengatur tugas dan aktivitas. f) Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan terlibat dalam tugas yang memerlukan upaya mental yang lama. g) Sering kehilangan benda-benda yang penting untuk tugas atau aktivitas (mainan, tugas sekolah, alat tulis). h) Sering mudah teralih perhatiannya leh stimulus eksternal i) Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari 2) Enam (atau lebih) gejala hiperaktivitas-impulsivitas berikut ini yang telah

berlangsung sedikitnya selama 6 bulan hingga suatu derajat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan:

Hiperaktivitas a) Sering gelisah dengan tangan atau kaki atau menggelat di kursi. b) Sering meninggalkan bangku di ruang kelas atau di situasi lain padahal diharapkan tetap duduk. c) Sering memiliki kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam aktivitas senggang diam-diam. d) Sering "sangat aktif" atau bertindak seolah-olah "dikendalikan oleh motor". e) Sering bicara berlebihan. Impulsivitas a) Sering menjawab pertanyaan segera sebelum pertanyaan selesai. b) Sering memiliki kesulitan dalam menunggu giliran. c) Sering mengganggu orang lain. B Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatensi yang menyebabkan hendaya terjadi sebelum usia 7 tahun. C Beberapa hendaya akibat gejala berada dalam dua atau lebih keadaan (misal di sekolah dan di rumah). D Harus ada bukti jelas adanya hendaya dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan yang secara klinis bermakna. E Gejala tidak hanya terjadi selama perjalanan gangguan pervasif, skizofrenia, atau gangguan psikotik lain serta tidak disebabkan oleh gangguan jiwa lain, misal gangguan mood, gangguan ansietas, gangguan disosiatif, gangguan kepribadian. Pemberian kode di atas didasarkan pada tipe: Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, tipe kombinasi: jika kriteria A1 dan A2 terpenuhi untuk selama 6 bulan terakhir. Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, dominan tipe atensi: jika kriteria A1 terpenuhi tetapi kriteria A2 tidak terpenuhi untuk 6 bulan terakhir. Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, dominan tipe hiperaktiv-impulsif: jika kriteria A2 terpenuhi tetapi kriteria A1 tidak terpenuhi untuk 6 bulan terakhir Dari American Psychiatric Association.Diagnostic and StatisticalManual of Mental Disorder. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric Association; copyright 2000

Riwayat sekolah dan laporan guru penting didalam mengevaluasi apakah kesulitan anak dalam berlajar serta perilaku di sekolah terutama disebabkan oleh masalah maturasi atau sikap anak atau karena citra diriyang buruk karena merasa tidak adekuat. Klinisi harus mendapatkan EEG untuk mengenali anak dengan discharge sinkron bilateral yang sering menimbulkan serangan absence yang

singkat. Anak seperti ini dapat bereaksi di sekolah dengan hiperaktifitas tanpa benar-benar frustasi.4

4. Penatalaksanaan
A. Farmakoterapi
Agen farmakologis yang terlihat memiliki efektivitas yang signifikan serta catatan keamanan yang sangat baik di dalam terapi GPPH adalah stimulan SSP, termasuk sediaan metilfenidat lepas-segera dan lepas-lama (Ritalin, Ritalin SR, Concerta, Metadate CD, Metadate ER), dekstroamfetamin (Dexedrine, Dexedrine spansul), dan kombinasi dekstroamfetamin dengan garam amfetamin (Adderall, Adderall XR). Satu bentuk tambahan metilfenidat yang hanya mengandung Denantiomer, deksmetilfenidat (Foculin), baru0baru ini ditempatkan di pasaran, ditujukan untuk memaksimalkan efek target dan meminimalkan efek samping pada individu dengan GPPH yang mendapatkan respons parsial dari metilfenidat. Agen lini-kedua dengan bukti efektivitas untuk beberapa anak dan remaja dengan GPPH mencakup anti depresan seperti bupropion (Wellbutrin, Wellbutrin SR), venlafaksin ( Effexor, Effexor SR), dan agonis reseptor alfa-adrenergik klonidin (Catapres) dan guanfasin (Tenex). Agen yang baru, atomoksetin (Strattera), disetujui pada tahun 2003 sebagai obat nonstimulan untuk terapi GPPH. Atomoksetin adalah inhibitor ambillan kembali norepinefrin dan tidak mempengaruhi dopamin. Obat ini menghambat enzin 2D6 dan dapat menurunkan metabolisme selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) sebagai akibatnya. Dosis umum untuk atomoksapin adalah 40 hingga 100 mg per hari diberikan dalam dosis tunggal tidak terbagi.4

B. Terapi non farmakologi


Terapi non farmakologi yag digunakan untuk GPPH ada berbagai macam. Terapi perilaku bertujuan membantu anak mengubah perilakunya. Terapi ini mungkin berupa membantu anak dalam melakukan sesuatu seperti mengatur tugas atau menyelesaikan tugas sekolah, atau membantu menyelesaikan tugas yang sulit secara emosional. Terapi perilaku juga mengajarkan anak bagaimana untuk mengawasi perilakunya. Belajar untuk memuji atau menghargai diri sendiri karena telah berperilaku baik, seperti mengontrol amarah atau berpikir sebelum bertindak, adalah salah satu tujuan terapi perilaku. Orang tua dan guru juga dapat memberikan umpan balik positif atau negatif untuk perilaku tertentu. Selain itu, aturan yang jelas, daftar tugas, dan rutinitas yang telah terstruktur lainnya dapat membantu anak mengontrol peerilakunya. Terapis bisa mengajarkan pada anak

tentang kemampuan sosial, seperti bagaimana untuk menunggu giliran mereka, berbagi mainan, meminta bantuan. Belajar untuk membaca espresi muka dan nada bicara orang lain, dan bagaimana cara untuk meresponnya dengan baik juga dapat menjadi bagian dari pelatihan kemampuan sosial.7

Daftar Pustaka
1. Flanagen, R. (2005). ADHD Kids. Attention Deficit Hiperactive Disorder. Jakarta: Prestasi Pustaka Belajar. 2. Departemen Kesehatan. (2011). Peraturan Meneri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 330/menkes/PER/II/2011 Tentang Pedoman Deteksi Dini GPPH pada Anak Serta Penanganannya. Jakarta: Departemen Kesehatan. 3. Pentecost, D. (2004). Menjadi Orangtua Anak ADD/ADHD, Tidak Sanggup? Tidak Mau?. Jakarta: Dian Rakyat. 4. Sadock, et al. (2010). Buku Ajar Psikiatri Klinis. Jakarta: EGC. 5. American Academy of Pediatrics, Clinical Practice Guideline: Diagnosis and Evaluation of The Child With Attention Deficit/Hyperactivity Disorder. Pediatrics 2000; 105: 1158-70. 6. Rappley, MD. Attention Deficit Hyperactivity Disorder. N Engl J Med 2005; 352: 165-73. 7. National Institute of Mental Health. (2012). Attention Deficit Hyperactivity Disorder. New York: NIH Publication.