Anda di halaman 1dari 2

Orang yang dapat menjaga fungsi pengunyahannya maka kemungkinannya untuk terhindar dari kondisi kepikunan atau istilahnya

dementia akan lebih baik. Hal ini diungkapkan oleh para peneliti di Department of Odontology and the Aging Research Center di Karolinska Institutet dan di Karlstad University. Semakin lanjut usia kita, maka semakin besar pula kemungkinan kita untuk kehilangan fungsi kognitif, seperti kemampuan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan mengingat sesuatu. Beberapa penelitian terdahulu telah mengungkap beberapa faktor yang berkontribusi terhadap risiko kita untuk menderita dementia. Beberapa penelitian tersebut ada yang menghubungkan antara kondisi kehilangan gigi dengan semakin cepatnya kehilangan fungsi kognitif pada seorang yang berujung kepada kondisi pikun atau dementia. Penelitian juga mengungkapkan bahwa semakin banyak kita mengunyah pada usia berapa pun, maka kita akan semakin pintar. Seperti diungkapkan oleh sebuah penelitian di Bayor College of Medicine yang menemukan bahwa pada mahasiswa yang sering mengunyah permen karet, maka kemampuan matematikanya cenderung lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kondisi kehilangan gigi dapat meningkatkan risiko kepikunan atau dementia? Aktivitas mengunyah dapat meningkatkan suplai darah ke otak. Orang yang hanya memiliki sedikit gigi, atau bahkan tidak memiliki gigi sama sekali akan cenderung lebih sedikit mengunyah sehingga suplai darah ke otak tidak terlalu banyak. Hipotesisnya adalah dengan berkurangnya suplai darah ke otak maka risiko pikun atau dementia juga akan meningkat. Dan tim peneliti dari Swedia-lah yang berhasil membuktikan hipotesis ini dalam penelitiannya, bahkan setelah mereka ikut memperhitungkan faktor penyerta seperti pendidikan, kesehatan mental, jenis kelamin dan usia. Para peneliti pun menyimpulkan bahwa selama orang lansia masih dapat mengunyah, baik itu menggunakan gigi asli maupun gigi tiruan, maka fungsi kognitifnya tidak akan mengalami penurunan yang terlalu signifikan. Dari penelitian inilah terungkap lagi peran penting gigi kita dalam menjaga kesehatan, yang sebenarnya gigi ini dapat kita pelihara dan pertahankan hanya dengan memelihara kebersihannya secara rutin. Sumber masalah utama di rongga mulut adalah kebersihannya yang kurang terjaga yang bisa menimbulkan masalah seperti gigi berlubang dan radang gusi yang bisa berujung dengan dicabutnya gigi yang sudah rusak dan tidak dapat dipertahankan lagi.

Murid yang mengunyah permen karet di dalam kelas biasanya akan diusir guru ke luar supaya segera dibuang. Tapi sekarang tampaknya sekolah harus mendorong siswa untuk mengunyah permen karet setelah sebuah penelitian menemukan bahwa mengunyah permen karet dapat mendorong kinerja mereka dalam menjalankan ujian. Para peneliti di St Lawrence University Canton, New York, menemukan, mereka yang mengunyah permen karet

selama lima menit sebelum tes mendapat nilai lebih baik daripada mereka yang tidak, Senin (12/12). Menurut penelitian di Departemen Psikologi, perbaikan ini terjadi karena mengunyah dapat menginduksi gairah yang bertahan hingga 20 menit. Studi sebelumnya telah menemukan bahwa setiap aktivitas fisik meningkatkan kinerja otak, tapi ini membuktikan meski kecil, aktivitas fisik ini dapat melakukan hal yang sama. Untuk studi yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite, para peneliti mengamati efek dari permen karet pada 80 siswa. Setengah subjek diberikan permen - baik bebas gula dan dengan tambahan gula - dan mengunyah sebelum atau sepanjang tes. Murid kemudian diberi tugas kognitif, seperti mengulangi nomor acak mundur dan memecahkan teka-teki logika. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan subyek yang tidak mengunyah permen karet. Sementara siswa yang mengunyah permen karet selama lima menit sebelum tes mencapai rata-rata nilai yang lebih baik, mengunyah selama tes memiliki efek yang berlawanan karena mengganggu otak dari tugas utamanya. "Ini mungkin karena berbagi sumber daya dari proses kognitif dan pengunyahan," kata pemimpin peneliti Dr Serge Onyper. Hasil ini mendefinisikan penelitian serupa yang dilakukan di University of Northumbria di Inggris pada 2002. Pada saat itu, salah satu peneliti utama, Dr Andrew Scholey, menjelaskan efek positif dari permen karet pada otak. "Kami tidak berpikir bahwa itu adalah sesuatu di gusi, tetapi bahwa perlawanan dari gusi dan tindakan pengunyahan yang membuat perbedaan," katanya. "Kami menemukan peningkatan denyut jantung lima atau enam denyut per menit ketika mereka sedang mengunyah permen karet. "Ini mungkin terkait dengan fungsi otak, namun di sisi lain peningkatan darah mengirim oksigen ke otak yang dapat meningkatkan fungsi kognitif.(Dailymail/MEL)