Anda di halaman 1dari 32

Pembimbing : Dr. H. Reiza Farsa, Sp.B., MH.Kes.

Disusun Oleh: MUHYIDIN 0931 0142


KEPANITRAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI BAGIAN BEDAH RSUD TASIKMALAYA TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN
Dua jenis tumor yang paling sering ditemukan pada colorectal adalah adenoma atau adenomatous polip dan adenocarcinoma. Carcinoma colorectal merupakan keganasan yang paling sering pada traktus gastrointestinal.

Rumusan Masalah

Bagaimana menegakkan diagnosis Ca Colon? Bagaimana penatalaksanaan Ca Colon?


Tujuan

Mengetahui cara menegakkan diagnosis Ca Colon Mengetahui penatalaksanaan Ca Colon


Manfaat

Menambah pengetahuan mengenai cara penegakan diagnosis dan

penatalaksanaan Ca Colon

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Definisi

Carcinoma colorectal merupakan keganasan yang paling sering pada traktus gastrointestinal.

ETIOLOGI
Faktor herediter
Usia Diet dan lingkungan

Inflammarory bowel disease

PATOFISIOLOGY
Selama lebih dari 2 dekade, penelitian menjelaskan

mengenai defek genetik dan abnormalitas molekular yang berhubungan dengan pembentukan dan progresifitas adenoma dan carcinoma colorectal. Mutasi dapat menyebabkan aktivasi onkogen (K-ras) dan atau inaktivasi tumor suppressor genes (APC,DCC (deleted in colorectal carcinoma), p53). Carcinoma colorectal diduga berasal dari polip adenoma dengan akumulasi mutasi tersebut.

Defek pada gen APC pertama kali dideskripsikan pada

pasien FAP dan ditemukan mutasi gen APC. Hal tersebut ditemukan pada 80% carcinoma colorectal sporadis.

Continue
Gen APC merupakan tumor-suppressor gene. Mutasi

pada alel-alel diperlukan untuk memulai pembentukan polip. Kebanyakan mutasi adalah stop codon yang prematur, yang menghasilkan protein APC yang terpotong. Pada FAP, lokasi mutasi berkorelasi dengan beratnya gejala penyakit

Akumulasi mutasi-mutasi menyebabkan akumulasi

genetik yang rusak yang menghasilkan keganasan. Kras merupakan proto-oncogen dan menyebabkan pembelahan sel yang tak terkontrol. DCC merupakan tumor supressor gene dan kehilangan kemampuannya dalam mendegenerasi keganasan. Tumor supressor gene p53 merupakan protein yang penting untuk menginisiasi apoptosis sel yang mempunyai kerusakan genetik yang tidak dapat diperbaiki.1,3

ANATOMI

GEJALA DAN TANDA KLINIK


Gejala dan tanda dini carcinoma colorectal tidak ada. Umumnya gejala pertama timbul karena penyulit, yaitu gangguan faal usus, obstruksi, perdarahan atau akibat metastasis.

Carcinoma colon kanan


Jarang terjadi stenosis dan faeces masih cair sehingga

tidak ada faktor obstruksi. Gambaran klinis tumor caecum dan colon ascendens tidah khas, gejala umumnya nerupa dyspepsia, kelemahan umum, penurunan berat badan, dan anemia. Oleh karena itu pasien sering datang dalam keadaan terlambat. Nyeri pada carcinoma colon kanan bermula di epigastrium.

Carcinoma colon kiri dan rectum


Sering bersifat skirotik sehingga banyak menimbulkan

stenosis dan obstruksi, terlebih karena faeces sudah padat. Menyebabkan perubahan pola defekasi, seperti konstipasi atau defekasi dengan tenesmus. Makin ke distal letak tumor, faeces makin menipis, atau seperti kotoran kambing, atau lebih cair disertai darah atau lendir. Tenesmus merupakan gejala yang biasa didapat pada carcinoma rectum. Nyeri pada colon kiri bermula di bawah umbilicus

Pada pemerikasaan fisik, bila tumor kecil maka tidak teraba pada palpasi abdomen, bila sudah terba berarti sudah menunjukkan keadaan lanjut. Massa di colon sigmoideum lebih jelas teraba daripada massa di bagian lain colon. Pemeriksaan colok dubur merupakan keharusan. 2

Faktor yang menentukan tanda dan gejala2


Colon kanan Tipe tumor Vegetative ulseratif Colon kiri Stenotik Rectum Infiltratif Ulseratif Vegetatif

Kaliber viskus
Isi viskus Fungsi utama

Besar
Setengah cair absorbsi

Kecil/pipih
Setengah padat Penyimpanan

Besar
Padat Defekasi

Gejala klinis
Aspek klinis Nyeri Defekasi Obstruksi Darah pada faeces Faeces Dispepsi Colitis

Colon kanan

Colon kiri Obstruksi Karena obstruksi konstipasi progresif Hampir selalu

Rectum Proktitis Tenesmus Tenesmus terus menerus Tidak jarang

Karena penyusupan Diare atau diare berkala Jarang Samar Normal (atau diare) Sering

Samar atau makroskopis Makroskopis Normal Jarang Lambat Perubahan bentuk Jarang Lambat

Memburuknya keadaan Hampir selalu umum

Anemia

Hampir selalu

Lambat

Lambat

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan rectal secara digital (rectal toucher) : dokter memasukkan jarinya yang telah memakai sarung tangan dan diberi lubrikasi untuk meraba daerah yang abnormal. Tindakan ini hanya dapat mendeteksi tumor yang cukup besar pada bagian distal dari rektum, tetapi berguna sebagai pemeriksaan skrining awal3.

Fecal occult blood test (FOBT) : pemeriksaan terhadap

darah dalam feces. Ada 2 tipe pemeriksaan darah pada feces yaitu guaiac based (pemeriksaan kimiawi) dan immunochemical. Pemeriksaan dengan cara kimiawi tidak spesifik, sebab 90% pasien dengan FOBT positif tidak menderita karsinima colon. Sensitivitas dari pemeriksaan immunochemical jauh lebih baik daripada pemeriksaan secara kimiawi1,3.

Endoskopi Rectosigmoidoskopi Rectosigmoidoskop yang kaku digunakan untuk menilai

rectum dan colon sigmoideum bagian distal. Fleksibel sigmoidoskopi dan colonoskopi Sigmoidoskop dan colonoskop yang fleksibel dengan video atau fiberoptik dapat memperlihatkan gambaran colon dan rectum dengan mutu yang baik. Sigmoidoskopi dan colonoskopi dapat digunakan untuk diagnostik dan terapetik, merupakan metode yang paling akurat untuk menilai colon.

Double contrast barium enema (DCBE)


Virtual colonoscopy menggantikan film sinar X pada

pemeriksaan double contrast barium enema dengan CT-Scan sehingga hasilnya lebih akurat1,3,7

Pencitraan
X-ray foto polos dan colon in loop
X-ray foto polos dan colon in loop memiliki peranan

penting dalam mengevaluasi pasien yang diduga menderita carcinoma colorectal. Foto polos abdomen (supine, tegak, dan LLD) berguna untuk mendeteksi pola gas usus yang menunjukkan adanya obstruksi. Colon in loop berguna untuk mengevaluasi gejala obstruktif.

CT scan
Computed Tomography (CT) digunakan untuk staging

carcinoma colorectal, karena kesensitivitasnya dalam mendeteksi metastasis.

CT Colonografi (Virtual colonoscopy)


Virtual colonoscopy menggunakan CT helical dan

rekonstruksi 3 dimensi untuk mendeteksi lesi colon intralumen. Untuk memaksimalkan kesensitivitasan maka dilakukan persiapan usus per oral, pemberian kontras per oral dan rectal, pendistensian colon.

MRI
Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih sensitif

daripada CT scan dalam mendeteksi keterlibatan tulang atau dinding pelvis akibat perluasan carcinoma colorectal. Penggunaan endorectal coil akan menambah sensitivitas.

PET
Positron Emmision Tomography (PET) digunakan

untuk pencitraan jaringan dengan kadar glikolisis anaerob yang tinggi seperti pada tumor ganas. PET digunakan sebagai tambahan pemeriksaan CT scan dalam staging carcinoma colorectal dan dapat digunakan untuk membedakan kanker rekuren dengan fibrosis.

Endorectal ultrasound
Endorectal ultrasound digunakan untuk mengevaluasi

kedalaman invasi carcinoma recti. Dinding rectum yang normal terdiri atas 5 lapisan. Ultrasound dapat membedakan tumor jinak dari tumor invasif berdasarkan integritas lapiasan submukosa.

OPERASI

Terima Kasih...