Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ilmu filsafat sebetulnya banyak aliran atau paham, diantaranya seperti aliran renaissance, rasionalisme, idealisme, empirisme, pragmatisme,

existentialisme, dan masih banyak lagi. Antara aliran atau paham yang satu dan yang lainnya ada yang saling bertentangan dan ada pula yang memiliki konsep dasar sama. Akan tetapi meskipun bertentangan, bukanlah untuk saling dipertentangkan. Justru dengan banyaknya aliran atau paham yang sudah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh filsafat, kita dapat memilih cara yang pas dengan persoalan yang sedang kita hadapi. Antara aliran atau paham yang satu dengan yang lainnya dapat saling mendukung. Seperti penyelesaian masalah yang sederhana misalnya, kita bisa menggunakan logika klasik, untuk menggali ilmuilmu yang ada di alam, kita dapat menggunakan cara empirisme, untuk membantu pemahaman bisa menggunakan paham rasionalisme, dan untuk persoalan yang kompleks kita dapat menggunakan teorinya idealisme (dialektika). Penulis sengaja membatasi dalam pembahasan makalah ini, yakni terfokus pada aliran filsafat idealisme, agar pembahasan mengenai hal-hal di luar itu tidak terlalu mendetail.Tujuan dari penulisan makalah ini sendiri, selain memenuhi kewajiban membuat tugas, adalah untuk memenuhi rasa ingin tahu dan keterkaitan penulis terhadap bab aliran filsafat idealisme, serta

mencobamenuangkan informasi yang didapat ke dalam sebuah tulisan. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana paradigm filsafat di abat modern? 2. Bagaimana idealism obyektif?

C. Tujuan 1. Untuk memahami makna dari pergeseran paradigm filsafat di abad modern. 2. Untuk mengetahui makna dari idealism obyektif.

BAB II PEMBAHASAN

A. Filsafat Modern Zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance. Renaissance akan banyak memberikan segala aspek realitas. Bermula dari William Ockham (1295 1349), yang mengetengahkan via Moderna (jalan modern) dan via antiqua (jalan kuno). Akibatnya, manusia didewa-dewakan, manusia tidak lagi memusatkan pikirannya kepada Tuhan dan surga. Dalam era filsafat modern, muncullah berbagai aliran pemikiran: Rasionalisme, Empirisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionis, Materialisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat Hidup, Fenomologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme. Pada makalah ini, penulis akan membahas filsafat modern dengan aliran pemikiran : idealism, Positivisme dan Eksistensisme Hampir semua ahli pikir yang muncul pada zaman ini merupakan ahli matematika seperti Descartes, Spinoza dan Leibniz Mereka mencoba menyusun suatu sistem filsafat dengan menggunakan matematika (logika kepastian) aPelopor aliran ini adalah Rene Descartes yang dikenal sebagai bapak filsafat modern. Ia membangun filsafatnya diatas asas logis abstrak dan asas pertama suatu dalil yang eksistensial. Demikian juga dengan Spinoza dan leibniz yang memakai metode deduktif matematis ala Descartes, akan tetapi mereka lebih memusatkan perhatiannya pada persoalan metafisika. Pada abad ke-20 terjadi pergeseran gaya berpikir dan corak pemikiran filsafat. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor sosio-kultural yang sedang berkembang dan menggejolak di Barat seperti diantaranya revolusi

industri, refolusi perancis, serta meletusnya perang dunia I dan II. Pemikiran filsafat para filsuf abad ke-20 semakin heterogen dan terspesialisasi. Pada masa ini muncul aliran-aliran filsafat baru yang lebih membumi dan lebih dekat dengan problem keseharian manusia. Beberapa aliran filsafat yang berkembang pada masa kontemporer adalah pragmatisme, fenomenologi, filsafat eksistensialisme, strukturalisme, dan teori kritis. Nietzsche memperkenalkan perspektivisme dalam tradisi filsafatnya. Ia mengajukan kritik atas kebudayaan masyarakat Eropa. Setelah Nietzche, di Inggris (lingkaran Wina) muncul aliran Filsafat Modern yang berkontribusi terhadap lahirnya positivisme logis dengan tokohnya Wittgenstein dan Bertrand Russell. Di Jerman muncul aliran fenomenologi yang digagas Husserl. Metode fenomenologi dimanfaatkan oleh filsuf-filsuf eksistensialisme seperti Heidegger, Marcel, dan Levinas guna membangun pemikiran filsafat mereka. Tradisi filsafat Eksistensialisme mengedepankan nilai-nilai humanisme dan eksistensi manusia sebagai being yang menyadari keberadaanya di dunia, atau dalam istilah Heidegger disebut dasein (being-in-there). Filsuf-filsuf Amerika melahirkan tradisi filsafat pragmatisme. modern,

Pragmatisme ty berasal dari katapragma (Yunani), yang berarti tindakan atau perbuatan. Diktum pragmatisme mengajarkan bahwa kesahihan pengetahuan tidak diukur dari kesatuan metodologi atau bahasa, melainkan pada kebergunaan. Pragmatisme diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce. Tokoh-tokoh lain dalam aliran pragmatisme adalah William James dan John Deawey. Sementara Strukturalisme tampil di abad 20 sebagai paham yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Strukturalisme merupakan sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya yang terjadi di Perancis. Para filsuf di abad ke-20 banyak yang lahir dari kalangan spesialis dalam studi matematika, fisika, psikologi, sosiologi, politik, dan ekonomi. Hal ini

berimplikasi terhadap pergeseran fokus terhadap objek material. Fokus filsafat terpecah sesuai konteks yang dibicarakan masing-masing aliran filsafat. Filsafat menjadi refleksi kedua bagi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa ini direfleksikan dan diterapi metodologinya melalui kajian filsafat. Sebagaimana dijelaskan dalam teori kritis, bahwa kajian filsafat punya kepentingan emansipatoris. Filsafat pada masa ini dituntut dapat membuka kedok realitas secara apa adanya, namun juga harus terbuka terhadap kritik jika kritik tersebut memuat paradigma kebenaran baru. 1. Pokok Pokok Pikiran Filsafat Modern Filsafat modern diperkenalkan oleh filsuf-filsuf Inggris dan Amerika pada abad ke-20. Aliran filsafat modern memfokuskan kajiannya terhadap problem bahasa dan analisis konsep. Aliran ini muncul untuk mengatasi kekaburan dan kekacauan makna yang sebelumnya telah menjamur dalam berbagai macam konsep filsafat. Filsafat modern menolak pernyataanpernyataan metafisik dan menganggapnya tidak bermakna (non sense). Titik sentral pemikiran filsafat modern bermuara pada pembentukan definisi baik yang bersifat linguistik ataupun yang nonlinguistik. Aliran ini bermaksud mengklarifikasi makna dari proposisi dan konsep-konsep dengan cara analisis bahasa. Beberapa tokoh filsafat modern antara lain : 1. Gottlob Frege (1848-1925) Frege menggunakan metode berfilsafat yang disebut dengan logika yang rigorus. Artinya, ia menitikberatkan filsafat pada logika. Bagi Frege, logika dan analisis yang ketat terhadap proposisi merupakan dasar yang kokoh dalam menentukan kebenaran suatu pernyataan. Ia membuat distingsi antara sense (makna) dan reference (referensi), dengan

menegaskan

bahwa suatu proposisi akan bermakna apabila proposisi

tersebut mempunyai arti dan referensi. 2. Bertrand Russell (1872-1970)

Menurut Russell, dunia terdiri dari atomic facts (fakta-fakta atomik). Suatu proposisi dikatakan bermakna jika proposisi tersebut berkorespondensi langsung terhadap fakta-fakta atomik. Ada kesepadanan antara bahasa dan fakta. Menurutnya, dunia ini merupakan totalitas faktafakta, bukan totalitas benda-benda. 3. Ludwig Wittgenstein Wittgenstein mengemukakan Picture Theory. Baginya, relasi bahasa dengan dunia faktual kongruen terhadap relasi antara lukisan dengan kenyataan. Bahasa merupakan representasi objek-objek, bukan sekedar korespondensi satu-satu antara unit bahasa dengan objek. Ada relasi logis antara struktur bahasa dan struktur realitas dunia (objek-objek). Dengan demikian, bahasa pada hakikatnya merupakan suatu gambaran dunia. Menurutnya, ungkapan metafisika seperti dalam filsafat nilai, etika, estetika dan kalimat-kalimat teologi adalah kalimat yang tidak bermakna. Filsafat harus dapat menetapkan logika dan aturan-aturan yang berlaku dalam menyelidiki permainan bahasa yang saling berbeda. 2. Pokok Pokok Pikiran Fenomenologi Heidegger Tradisi fenomenologi dimulai sejak Edmund Husserl. Ia merumuskan cara memahami realitas dengan menitikberatkan pada konsep intensionalitas (keterarahan) kesadaran terhahadap objek-objek. Intensionalitas

memungkinkan subjek dapat memahami objek, dimana subjek ingin mengetahui objek dan objek membuka diri untuk diketahui oleh subjek. Heidegger adalah murid Husserl yang melanjutkan proyek fenomenologi gurunya ke level ontologi. Dalam Being and Timeia merumuskan filsafatnya yang kembali berpangkal pada problem ontologi, yaitu tentang Ada dan Waktu. Heidegger menganggap metafisika dan ontologi dalam sejarah filsafat telah mengalami kelupaan akan Ada (forgetfulness of being). Ia menolak pandangan tradisional yang menganggap Ada sebagai konsep independen dan

terpisah dengan manusia. Berbeda dengan pandangan metafisika-ontologi tradisional yang memahami konsep Ada terpisah dengan konsep Waktu, Heidegger justru menekankan bahwa Ada adalah konsep yang tidak mungkin dapat dipahami tanpa konsep Waktu. Untuk memahami seluk-beluk tentang Ada, Heidegger memfokuskan penelitianya terhadap sang pengada, yakni pada subjek atau manusia sendiri. Menurut Heidegger manusia bukanlah entitas yang terpisah dan terisolasi dari dunia. Justru pada dasarnya manusia adalah subjek yang sudah tidak dapat terpisah, dan selalu mengalami keterlibatan dengan dunia. Kenyataan tentang subjek terletak pada kemampuannya terlibat dengan dunia. Kesadaran subjek bersifat tersembunyi dan hanya dapat tersibak dalam kegiatan dunia. Manusia dalam kehidupan sehari-hari berada dalam modes of beng (modus mengada). Modus mengada disebutnya dengan istilah adabersama-dunia, ada-di-dalam-dunia, dan sekaligus ada-disana. Modus mengada hanya berlaku pada subjek yang dapat menanyakan Ada, bukan pada Ada itu sendiri. Subjek yang dapat mempertanyakan tentang Ada disebutnya dengan Dasein.Dasein berbeda dengan dipahami Being. Being

hanya sebagai Ada yang tidak dapat mempertanyakan

eksistensinya. Sementara Dasein menggambarkan pengertian yang lebih luas dari sekedar Being. Dasein inilah yang mampu bereksistensi. Ia menegaskan bahwa Dasein yang bereksistensi dapat menyadari keberadaannya melalui keterikatannya (involvement) dengan dunia atau Being lainnya. 3. Pokok Pokok Pikiran Teori Kritis Tori kritis berkembang di kalangan mazhab Frankfurt sebagai reaksi dari filsafat yang muncul dari lingkaran Wina, positivisme, dan kapitalisme. Para filsuf pelopor teori kritis antara lain Max Horkhaimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse, Erich Fromm, dan Jurgen Habermas. Disebut sebagai teori kritis karena dalam kajian filsafat mereka selalu memberikan kritik secara tajam dan radikal terhadap kondisi sosial masyarakat terkini, standar ilmu

pengetahuan, dan ideologi. Teori kritis selalu dicirikan dengan kerinduan akan emansipasi bagi manusia yang sudah terkungkung sedemikian rupa oleh ideologi dan paradigma ilmu pengetahuan. Teori kritis bekerja atas dasar suatu kerangka metateoritis dan berpijak pada pandangan umum tentang realitas sosial, baik dalam dimensi normatif maupun dimensi faktual. Aliran ini dimulai dari interpretasi terhadap ajaran Karl Marx tentang realitas sosial yang sudah didominasi mekanisme kapitalistik hingga manusia mengalami alienasi dan terasing dengan dirinya sendiri. Menurut Marx, basis struktur dalam masyarakat modern telah dikuasai oleh mekanisme kapitalistik dan diafirmasi oleh super struktur. Keadaan ini menimbulkan kesadaran palsu (false consciousness) bagi kaum yang didominasi (kaum buruh). Bagi Marx kesadaran palsu ini disebut ideologi. Teori kritis berusaha mencapai pembebasan terhadap kesadaran palsu melalui gagasan revolusi (bagi Marx), reifikasi (Lukacs), pemahaman akan gerak dialektika negatif (Adorno), dan masyarakat komunikatif (Habermas). Teori kritis mengasumsikan teori tradisional sebagai pengetahuan yang bersifat ahistoris, asosial, dan disinterested (bebas kepentingan). Teori tradisional terlepas dari praksis dan mengklaim dirinya objektif dan netral. Padahal bagi teori kritis (menurut Habermas), teori harus dapat digunakan untuk memahami realitas dan dapat diimplementasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Teori atau ilmu pengetahuan tidak dapat sepenuhnya bebas nilai. Sebaliknya, ilmu pengetahuan sarat akan nilai dan kepentingan. Ilmu empiris-analitis berkepentingan teknis dan bertujuan melakukan proses kontrol objektif terhadap kehidupan. Ilmu hermeneutis-historis

berkepentingan praktis dan bertujuan memelihara komunikasi. Ilmu-ilmu kritis (seperti filsafat) berkepentingan emansipatoris dan bertujuan melakukan apresiasi reflektif terhadap kehidupan. Teori tradisional dicurigai mempunyai muatan ideologis dan digunakan untuk mempertahankanstatus quo, hanya

membuat teori untuk kepentingan teori dan tidak memperhitungkan konsekuensi terhadap implementasi teori. Konsekuensi dari kritik terhadap epistemologi ilmu pengetahuan yang dianggap bersifat ideologis (dalam konteks kesadaran palsu) adalah, teori kritis sadar bahwa dirinya bersifat terbuka dan juga siap menerima kritik. Pada tataran praktis Habermas menggambarkannya pada gagasan masyarakat komunikatif yang lebih mengedepankan komunikasi diskursif menggunakan rasio komunikatif daripada rasio instrumental dalam memahami realitas kehidupan.

B. Idealisme Objektif Idealisme Objektif adalah idealisme yang bertitik tolak pada ide di luar ide manusia. Idealisme objektif ini dikatakan bahwa akal menemukan apa yang sudah terdapat dalam susunan alam. Menurut idealisme objektif segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil. Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materi, yang ada secara abadi di luar manusia, sesuatu yang bukan materi itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Filsuf idealis yang pertama kali dikenal adalah Plato. Ia membagi dunia dalam dua bagian. Pertama, dunia persepsi, dunia yang konkret ini adalah temporal dan rusak; bukan dunia yang sesungguhnya, melainkan bayangan alias penampakan saja. Kedua,terdapat alam di atas alam benda, yakni alam konsep, idea, universal atau esensi yang abadi. Tokoh-Tokoh Idealisme a. J.G. Fichte (1762-1814 M) Johan Gottlieb Fichte adalah filosof Jerman. Ia belajar teologi di Jena pada tahun 1780-1788. Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksi dari satu

prinsip. Ini sudah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pemikiran, moral, bahkan seluruh kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di dalam etika. Bukan teori, melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang disekitarnya kehidupan diatur. Unsur esensial dalam pengalaman adalah tindakan, bukan fakta. Menurut Fichte, dasar kepribadian adalah kemauan; bukan kemauan irasional seperti pada Schopenhauer, melainkan kemauan yang dikontrol oleh kesadaran bahwa kebebasan diperoleh hanya dengan melalui kepatuhan pada peraturan. Kehidupan moral adalah kehidupan usaha. Manusia dihadapkan kepada rintangan-rintangan, dan manusia digerakkan oleh rasa wajib bahwa ia berutang pada aturan moral umum yang memungkinkannya mampu memilih yang baik. Idealisme etis Fichte diringkaskan dalam pernyataan bahwa dunia aktual hanya dapat dipahami sebagai bahan dari tugas-tugas kita. Oleh karena itu, filsafat bagi Fichte adalah filsafat hidup yang terletak pada pemilihan antara moral idealisme dan moral materialisme. Substansi materialisme menurut Fichte ialah naluri, kenikmatan tak bertanggung jawab, bergantung pada keadaan, sedangkan idealisme ialah kehidupan yang bergantung pada diri sendiri. Menurut pendapatnya subjek menciptakan objek. Kenyataan pertama ialah saya yang sedang berpikir, subjek menempatkan diri sebagai tesis. Tetapi subjek memerlukan objek, seperti tangan kanan mengandaikan tangan kiri, dan ini merupakan antitesis. Subjek dan objek yang dilihat dalam kesatuan disebut sintesis. Segala sesuatu yang ada berasal dari tindak perbuatan sang Aku.[8] b. F.W.J. Shelling (1775-1854 M) Friedrich Wilhelm Joseph Schelling sudang mencapai kematangan sebagai filosof pada waktu ia masih amat muda. Pada tahun 1789, ketika usianya baru 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai akhir hidupnya pemikirannya selalu berkembang.

10

Seperti Fichte, Scelling mula-mula berusaha menggambarkan jalan dilalui intelek dalam proses mengetahui, semacam epistemology. Fichte memandang alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai basis kebebasan moral. Schelling membahas realitas lebih objektif dan menyiapkan jalan bagi idealisme absolute Hegel. Dalam pandangan Schelling, realitas adalah proses rasional evolusi dunia menuju realisasinya berupa suatu ekspresi kebenaran terakhir. Kita dapat mengetahui dunia secara sempurna dengan cara melacak proses logis perubahan sifat dan sejarah masa lalu. Tujuan proses itu adalah suatu keadaan kesadaran diri yang sempurna. Schelling menyebut proses iniidentitas absolute, Hegel menyebutnya ideal. Idealisme Schelling agak lebih objektif, karena menurut dia bukanaku (objek) ini sungguh-sungguh ada. Objek ini bukan hanya pertentangan belaka, melainkan mempunyai nilai yang positif. Bagi Schelling, yang menjadi dasar kesungguhan dan berpikir itu ialahaku. Dunia ini muncul daripada aku: dunia yang tak terbatas itu sebenarnya tidak lain daripada produksi dan reproduksi dari ciptaan aku. Kemudian diakuinya kesungguhan alam, malahan dinyatakan bahwa subjek yang berpikir (aku) itu muncul daripada alam. Tetapi ini jangan dianggap sama sekali bertentangan dengan pendapatnya semula,

sebab aku yang muncul dari alam itu ialah akuyang telah sadar. Alam itu merupakan proses evolusi, yang mengeluarkan budi yang sadar serta lambat laun sadar akan dirinya (aku) dalam alam yang tak sadar. Begitulah ia meningkat lagi dalam pandangannya terhadap alam: budi dan dunia sama derajatnya hanya berhadapan sebagai subjek dan objek. Sebetulnya samalah keduanya, bertemu pada asal semula ialah Tuhan, identitas yang mutlak, juga disebutnya indiferensi yang mutlak. Ia tidak cenderung ke sana, maupun ke sini. Dari situ muncullah alam dalam bentuknya yang makin tinggi derajatnya: bahan, gerak, hidup, susunan-dunia,

11

manusia. Dalam pada itu budipun sadar akan dirinya menjelmakan ilmu,moral, seni, sejarah, dan Negara. c. G.W.F Hegel (1798-1857 M) Hegel lahir di Stuttgart, Jerman pada tanggal 17 Agustus 1770. Ayahnya adalah seorang pegawai rendah bernama George Ludwig Hegel dan ibunya yang tidak terkenal itu bernama Maria Magdalena. Pada usia 7 tahun ia memasuki sekolah latin, kemudian gymnasium. Hegel muda ini tergolong anak telmi alias telat mikir! Pada usia 18 tahun ia memasuki Universitas Tubingen. Setelah menyelesaikan kuliah, ia menjadi seorang tutor, selain mengajar di Yena. Pada usia 41 tahun ia menikah dengan Marie Von Tucher. Karirnya selain menjadi direktur sekolah menengah, juga pernah menjadi redaktur surat kabar. Ia diangkat menjadi guru besar di Heidelberg dan kemudian pindah ke Berlin hingga ia menjadi Rektor Universitas Berlin (1830).

12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Ilmu filsafat sebetulnya banyak aliran atau paham, diantaranya seperti aliran renaissance, rasionalisme, idealisme, empirisme, pragmatisme,

existentialisme, dan masih banyak lagi. Antara aliran atau paham yang satu dan yang lainnya ada yang saling bertentangan dan ada pula yang memiliki konsep dasar sama. Akan tetapi meskipun bertentangan, bukanlah untuk saling dipertentangkan. Justru dengan banyaknya aliran atau paham yang sudah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh filsafat, kita dapat memilih cara yang pas dengan persoalan yang sedang kita hadapi. Antara aliran atau paham yang satu dengan yang lainnya dapat saling mendukung. Seperti penyelesaian masalah yang sederhana misalnya, kita bisa menggunakan logika klasik, untuk menggali ilmu-ilmu yang ada di alam, kita dapat menggunakan cara empirisme, untuk membantu pemahaman bisa menggunakan paham rasionalisme, dan untuk persoalan yang kompleks kita dapat menggunakan teorinya idealisme (dialektika). Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan roh (spirit). Istilah ini diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.
a. Ada beberapa jenis idealisme: yaitu idealisme subjektif, idealisme objektif,

dan idealisme personal.


b. Idealisme subjektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik

tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Sedangkan idealisme objektif adalah idealisme yang bertitik tolak pada ide di luar ide manusia.

13

B. Saran Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih banyak terdapat kesalahan dan kekhilafan, untuk itu kami sangat mengharapkan masukan dari para pembaca berupa kritik dan saran yang sifatnya membangun, sehingga dapat menjadi acuan kami kedepan dalam membuat makalah.

14

DAFTAR PUSTAKA

Witamiharfja. Sutarjo. A., Psi, Pengantar Filsafat, Bandung : PT. Refika Aditama, 2009 Abidin Zainal, Pengatra Filsafat Barat, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2011 Tafsir Ahmad, Filsafat Umum, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2005 Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta, Rajawali Press, 2011

15

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahim Puji syukur kehadiran Allah swt, yang telah melimpahkan petunjuk, binbingan dan kuatan jepada kami untuk menyelesaikan makalah ini dengan baikdan berjalan lancar sesuai dengan dengan yang harapkkan. Salawat dan salam semoga dilimpahkan oleh -Nya kepada junjungan kita Nabi besar muhammad saw, para sahabat dan pengikutnya yang setia sepannjang zaman, dan semoga kita mendapatkan syapaatnya di yaumil Akhir Amir... Mungkin juga dalam pembuatan makalah ini banyak terdapat kesalahan yang ataupun yang tidak disengaja kami mengucapkan naaf yang sedalam-dalamnya, Akhir kata ocapkan terima kasih.

Benkulu, Januari 2014

Penulis

16 i

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR .......................................................................................... i DAFTAR ISI BAB I ................................................................................................... ii PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................... 2 C. Tujuan ....................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN A. Filsafat Modern ......................................................................... 3 B. Idealisme obyektif ..................................................................... 8

BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan ................................................................................ 12 B. Saran .......................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA

ii 17

MAKALAH FILSAFAT UMUM Filsafat Modern

Oleh : Alpi Hasana

Dosen Ahmad Suradi, MA

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU 2014

18