Anda di halaman 1dari 229

BAB I

PENDAHULUAN
Sebagaimana kita ketahui,sebagian besar tubuh manusia terdiri atas cairan yang jumlahnya
berbedabeda tergantung usia dan jenis kelamin serta banyaknya lemak di dalam tubuh! Dengan
makan dan minum tubuh menda"atkan air, elektr#lit serta nutriennutrien yang lain! Dalam
$aktu %& jam jumlah air dan elektr#lit yang masuk setara dengan jumlah yang keluar!
Pengeluaran cairan dan elektr#lit dari tubuh da"at beru"a urin, tinja, keringan dan ua" air "ada
saat berna"as!
'era"i cairan dibutuhkan bila tubuh tidak da"at memasukka air, elektr#lit serta (at(at makanan
ke dalam tubuh secara #ral misalnya "ada saat "asien harus ber"uasa lama, karena "embedahan
saluran cerna, "erdarahan banyak, sy#k hi"#)#lemik, an#reksia berat, mual muntah dan lainlain!
Dengan tera"i cairan kebutuhan akan air da elektr#lit akan ter"enuhi! Selain itu tera"i cairan juga
da"at digunakan untuk memasukkan #bat dan (at makanan secara rutin atau juga digunakan
untuk menjaga keseimbangan asam basa!
BAB II
'IN*AUAN PUS'A+A
I! De,inisi -airan 'ubuh
-airan tubuh adalah cairan sus"ensi sel di dalam tubuh makhluk multiseluler se"erti manusia
atau he$an yang memiliki ,ungsi ,isi#l#gis tertentu!
II! .isi#l#gi -airan 'ubuh dan Elektr#lit
A! Distribusi cairan tubuh
Air adalah "elarut /s#l)en0 ter"enting dalam k#m"#sisi cairan makhluk hidu"! Persentase air
tubuh t#tal /'#tal B#dy 1ater0 terhada" berat badan berubah sesuai umur, menurun ce"at "ada
a$al kehidu"an! Pada saat lahir, 'B1 234 berat badan! Pada bebera"a bulan "ertama
kehidu"an, 'B1 turun ce"at mendekati kadar de$asa 5567 4 berat badan "ada saat usia 8
tahun! Pada masa "ubertas, terjadi "erubahan 'B1 selanjutnya! +arena lemak mem"unyai kadar
air yang lebih rendah, "ersentase 'B1 terhada" berat badan lebih rendah "ada $anita de$asa
yang mem"unyai lebih banyak lemak tubuh /5540 dari"ada lakilaki, yang mem"unyai sedikit
lemak! Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam k#m"artemen intraselular dan
k#m"artemen ekstraselular!
-airan intraselular
-airan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular! Pada #rang de$asa, sekitar dua
"ertiga dari cairan dalam tubuhnya terda"at di intraselular /sekitar %2 liter ratarata untuk de$asa
lakilaki dengan berat badan sekitar 27 kil#gram0, sebaliknya "ada bayi hanya setengah dari
berat badannya meru"akan cairan intraselular! -airan intraseluler terlibat dalam "r#ses metab#lik
yang menghasilkan energi yang berasal dari nutriennutrien dalam cairan tubuh!
-airan ekstraselular
-airan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular! -airan ekstraseluler ber"eran dalam
mem"ertahankan sistem sirkulasi, mensu"lai nutrient ke dalam sel, dan membuang (at sisa yang
bersi,at t#ksik! *umlah relati, cairan ekstraselular berkurang seiring dengan usia! Pada bayi baru
lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terda"at di cairan ekstraselular!
-airan ekstraselular dibagi menjadi 9
# -airan Interstitial
-airan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 88 8% liter "ada #rang
de$asa! -airan lim,e termasuk dalam )#lume interstitial!
# -airan Intra)askular
:eru"akan cairan yang terkandung dalam "embuluh darah /c#nt#hnya )#lume "lasma0! ;ata
rata )#lume darah #rang de$asa sekitar 56L dimana < liternya meru"akan "lasma, sisanya
terdiri dari sel darah merah, sel darah "utih dan "latelet!
# -airan transeluler
:eru"akan cairan yang terkandung diantara r#ngga tubuh tertentu se"erti serebr#s"inal,
"erikardial, "leura, sendi sin#)ial, intra#kular dan sekresi saluran "encernaan! Pada keadaan
se$aktu, )#lume cairan transeluler adalah sekitar 8 liter, teta"i cairan dalam jumlah banyak
da"at masuk dan keluar dari ruang transeluler!

'able 8! Distribusi cairan tubuh
B! +#m"#nen cairan tubuh
Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis (at yaitu elektr#lit dan n#n elektr#lit!
Elektr#lit
:eru"akan (at yang terdis#siasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik! Elektr#lit
dibedakan menjadi i#n "#siti, /kati#n0 dan i#n negati, /ani#n0! *umlah kati#n dan ani#n dalam
larutan adalah selalu sama /diukur dalam miliekui)alen0!
+ati#n 9 +ati#n utama dalam cairan ekstraselular adalah s#dium /Na=0, sedangkan kati#n
utama dalam cairan intraselular adalah "#tassium /+=0! Suatu sistem "#m"a terda"at di dinding
sel tubuh yang mem#m"a keluar s#dium dan "#tassium ini!
Natrium
Natrium sebagai kati#n utama didalam cairan ekstraseluler dan "aling ber"eran di dalam
mengatur keseimbangan cairan! +adar natrium "lasma9 8<58&5mE>?liter!8% +adar natrium
dalam tubuh 53,5mE>?kgBB dimana = 274 atau &7,5mE>?kgBB da"at berubahubah! Ekresi
natrium dalam urine 877837mE>?liter, ,aeces <5mE>?liter dan keringat 53mE>?liter! +ebutuhan
setia" hari @ 877mE> /685 gram Na-l0!
Natrium da"at bergerak ce"at antara ruang intra)askuler dan interstitial mau"un ke dalam dan
keluar sel! A"abila tubuh banyak mengeluarkan natrium /muntah,diare0 sedangkan "emasukkan
terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium! +ekurangan air dan
natrium dalam "lasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial! A"abila
kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan a"abila )#lume "lasma
teta" tidak da"at di"ertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi!
+alium
+alium meru"akan kati#n utama /AA40 di dalam cairan ekstraseluler ber"eran "enting di dalam
tera"i gangguan keseimbangan air dan elektr#lit! *umlah kalium dalam tubuh sekitar 5<
mE>?kgBB dimana AA4 da"at berubahubah sedangkan yang tidak da"at ber"indah adalah
kalium yang terikat dengan "r#tein didalam sel!
+adar kalium "lasma <,55,7 mE>?liter, kebutuhan setia" hari 8< mE>?kgBB! +eseimbangan
kalium sangat berhubungan dengan k#nsentrasi H= ekstraseluler! Ekskresi kalium le$at urine
67A7 mE>?liter, ,aeces 2% mE>?liter dan keringat 87 mE>?liter!
+alsium
+alsium da"at dalam makanan dan minuman, terutama susu, 37A74 dikeluarkan le$at ,aeces
dan sekitar %74 le$at urine! *umlah "engeluaran ini tergantung "ada intake, besarnya tulang,
keadaan end#krin! :etab#lisme kalsium sangat di"engaruhi #leh kelenjarkelenjar "aratir#id,
tir#id, testis, #)arium, da hi"#,isis! Sebagian besar /AA40 ditemukan didalam gigi dan = 84
dalam cairan ekstraseluler dan tidak terda"at dalam sel!
:agnesium
:agnesium ditemukan di semua jenis makanan! +ebutuhan unruk "ertumbuhan = 87 mg?hari!
Dikeluarkan le$at urine dan ,aeces!
Ani#n9 Ani#n utama dalam cairan ekstraselular adalah kl#rida /-l0 dan bikarb#nat /H-B<0,
sedangkan ani#n utama dalam cairan intraselular adalah i#n ,#s,at /PB&<0!
+arb#nat
Asam karb#nat dan karb#hidrat terda"at dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir dari"ada
metab#lisme! +adar bikarb#nat dik#ntr#l #leh ginjal! Sedikit sekali bikarb#nat yang akan
dikeluarkan urine! Asam bikarb#nat dik#ntr#l #leh "aru"aru dan sangat "enting "eranannya
dalam keseimbangan asam basa!
N#n elektr#lit
:eru"akan (at se"erti gluk#sa dan urea yang tidak terdis#siasi dalam cairan! Cat lainya termasuk
"enting adalah kreatinin dan bilirubin!
-! Pr#ses Pergerakan -airan 'ubuh
Per"indahan air dan (at terlarut di antara bagianbagian tubuh melibatkan mekanisme trans"#r
"asi, dan akti,! :ekanisme trans"#r "asi, tidak membutuhkan energy sedangkan mekanisme
trans"#r akti, membutuhkan energi! Di,usi dan #sm#sis adalah mekanisme trans"#r "asi,!
Sedangkan mekanisme trans"#r akti, berhubungan dengan "#m"a Na+ yang memerlukan A'P!
Pr#ses "ergerakan cairan tubuh antar k#m"ertemen da"at berlangsung secara9
a! Bsm#sis
Bsm#sis adalah bergeraknya m#lekul /(at terlarut0 melalui membran semi"ermeabel /"ermeabel
selekti,0 dari larutan berkadar lebih rendah menuju larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya
sama! Seluruh membran sel dan ka"iler "ermeable terhada" air, sehingga tekanan #sm#tik cairan
tubuh seluruh k#m"artemen sama! :embran semi"ermeabel ialah membran yang da"at dilalui
air /"elarut0, namun tidak da"at dilalui (at terlarut misalnya "r#tein!
'ekanan #sm#tik "lasma darah ialah %35= 5 mBsm?L! Larutan dengan tekanan #sm#tik kirakira
sama disebut is#t#nik /Na-l 7,A4, Dekstr#sa 54, ;inger laktat0! Larutan dengan tekanan
#sm#tik lebih rendah disebut hi"#t#nik /akuades0, sedangkan lebih tinggi disebut hi"ert#nik!
b! Di,usi
Di,usi ialah "r#ses bergeraknya m#lekul le$at "#ri"#ri! Larutan akan bergerak dari k#nsentrasi
tinggi ke arah larutan berk#nsentrasi rendah! 'ekanan hidr#statik "embuluh darah juga
mend#r#ng air masuk berdi,usi mele$ati "#ri"#ri tersebut! *adi di,usi tergantung ke"ada
"erbedaan k#nsentrasi dan tekanan hidr#statik!
c! P#m"a Natrium +alium
P#m"a natrium kalium meru"akan suatu "r#ses trans"#r yang mem#m"a i#n natrium keluar
melalui membran sel dan "ada saat bersamaan mem#m"a i#n kalium dari luar ke dalam! 'ujuan
dari "#m"a natrium kalium adalah untuk mencegah keadaan hi"er#sm#lar di dalam sel!

D! Asu"an dan ekskresi cairan dan elektr#lit ,isi#l#gis
H#me#stasis cairan tubuh yang n#rmalnya diatur #leh ginjal da"at berubah #leh stres akibat
#"erasi, k#ntr#l h#rm#n yang abn#rmal, atau "un #leh adanya cedera "ada "aru"aru, kulit atau
traktus gastr#intestinal!
Pada keadaan n#rmal, sese#rang mengk#nsumsi air ratarata sebanyak %777%577 ml "er hari,
dalam bentuk cairan mau"un makanan "adat dengan kehilangan cairan rata rata %57 ml dari
,eses, 3778577 ml dari urin, dan ham"ir 677 ml kehilangan cairan yang tidak disadari
/insensible $ater l#ss0 dari kulit dan "aru"aru!
I! Perubahan cairan tubuh
Perubahan cairan tubuh da"at dikateg#rikan menjadi <, yaitu 9
8! Perubahan )#lume
a! De,isit )#lume
De,isit )#lume cairan ekstraselular meru"akan "erubahan cairan tubuh yang "aling umum!
Penyebab "aling umum adalah kehilangan cairan di gastr#intestinal akibat muntah, "enyed#t
nas#gastrik, diare dan drainase ,istula! Penyebab lainnya da"at beru"a kehilangan cairan "ada
cedera jaringan lunak, in,eksi, in,lamasi jaringan, "erit#nitis, #bstruksi usus, dan luka bakar!
+eadaan akut, kehilangan cairan yang ce"at akan menimbulkan tanda gangguan "ada susunan
sara, "usat dan jantung! Pada kehilangan cairan yang lambat lebih da"at dit#leransi sam"ai de,isi
)#lume cairan ekstraselular yang berat terjadi!
Dehidrasi
Dehidrasi sering dikateg#rikan sesuai dengan kadar k#nsentrasi serum dari natrium menjadi
is#natremik /8<7857 mE>?L0, hi"#natremik /D8<A mE>?L0 atau hi"ernatremik /E857 mE>?L0!
Dehidrasi is#natremik meru"akan yang "aling sering terjadi /3740, sedangkan dehidrasi
hi"ernatremik atau hi"#natremik sekitar 5874 dari kasus!
Dehidrasi is#t#nis /is#natremik09 terjadi ketika kehilangan cairan ham"ir sama dengan
k#nsentrasi natrium terhada" darah! +ehilangan cairan dan natrium besarnya relati, sama dalam
k#m"artemen intra)askular mau"un k#m"artemen ekstra)askular!
Dehidrasi hi"#t#nis /hi"#natremik09 terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan
natrium lebih banyak dari darah /kehilangan cairan hi"ert#nis0! Secara garis besar terjadi
kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang! +arena kadar natrium
serum rendah, air di k#m"artemen intra)askular ber"indah ke k#m"artemen ekstra)askular,
sehingga menyebabkan "enurunan )#lume intra)askular!85
Dehidrasi hi"ert#nis /hi"ernatremik09 terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan
natrium lebih sedikit dari darah /kehilangan cairan hi"#t#nis0! Secara garis besar terjadi
kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang! +arena kadar natrium
tinggi, air di k#m"artemen ekstraskular ber"indah ke k#m"artemen intra)askular, sehingga
meminimalkan "enurunan )#lume intra)askular!85
b! +elebihan )#lume
+elebihan )#lume cairan ekstraselular meru"akan suatu k#ndisi akibat iatr#genic /"emberian
cairan intra)ena se"erti Na-l yang menyebabkan kelebihan air dan Na-l atau"un "emberian
cairan intra)ena gluk#sayang menyebabkan kelebihan air0 atau"un da"at sekunder akibat
insu,isiensi renal /gangguan "ada F.;0, sir#sis, atau"un gagal jantung k#ngesti,!A,87 +elebihan
cairan intaseluler da"at terjadi jika terjadi kelebihan cairan teta"i jumlah Na-l teta" atau
berkurang!87
%! Perubahan k#nsentrasi
a! Hi"#natremia
+adar natrium n#rmal 8<58&5 mE>?L, bila kurang dari 8<5 mE>? L, sudah da"at dibilang
hi"#natremia! *ika D 8%7 mg?L maka akan timbul gejala dis#rientasi, gangguan mental, letargi,
iritabilitas, lemah dan henti "erna,asan, sedangkan jika kadar D 887 mg?L maka akan timbul
gejala kejang, k#ma! Hi"#natremia ini da"at disebabkan #leh eu)#lemia /SIADH, "#lidi"si
"sik#genik0, hi"#)#lemia /dis,ungsi tubuli ginjal, diare, muntah, third s"ace l#sses, diuretika0,
hi"er)#lemia /sir#sis, ne,r#sis0! +eadaan ini da"at ditera"i dengan restriksi cairan /Na= G 8%5
mg?L0 atau Na-l <4 ssebanyak /8&7H0IBBI7,6 mg dan untuk "ediatrik 8,5%,5 mg?kg!8%
+#reksi hi"#natremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara "erlahanlahan, sedangkan
untuk hi"#natremia akut lebih agresi,! Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan da"at
menggunakan rumus 9
Na@ Na8 J Na7 I 'B1
Na @ *umlah Na yang di"erlukan untuk k#reksi /mE>0
Na8 @ 8%5 mE>?L atau Na serum yang diinginkan
Na7 @ Na serum yang aktual
'B1 @ t#tal b#dy $ater @ 7,6 I BB /kg0
b! Hi"ernatremia
Bila kadar natrium lebih dari 8&5 mE>?L disebut dengan hi"erkalemia! *ika kadar natrium E 867
mg?L maka akan timbul gejala beru"a "erubahan mental, letargi, kejang, k#ma, lemah!
Hi"ernatremi da"at disebabkan #leh kehilangan cairan /diare, muntah, diuresis, diabetes
insi"idus, keringat berlebihan0, asu"an air kurang, asu"an natrium berlebihan! 'era"i keadaan ini
adalah "enggantian cairan dengan 54 dekstr#se dalam air sebanyak K/H8&70 I BB I 7,6L9
8&7!8%
c! Hi"#kalemia
*ika kadar kalium D < mE>?L! Da"at terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan
ekstraselular ke intraselular atau dari "engurangan kr#nis kadar t#tal kalium tubuh! 'anda dan
gejala hi"#kalemia da"at beru"a disritmik jantung, "erubahan E+F /M;S segmen melebar, S'
segmen de"resi, hi"#tensi "#stural, kelemahan #t#t skeletal, "#liuria, int#leransi gluk#sa! 'era"i
hi"#kalemia da"at beru"a k#reksi ,akt#r "resi"itasi /alkal#sis, hi"#magnesemia, #bat#batan0,
in,use "#tasium kl#rida sam"ai 87 mE>?jam /untuk mild hi"#kalemia NE% mE>?L0 atau in,us
"#tasium kl#rida sam"ai &7 mE>?jam dengan m#nit#ring #leh E+F /untuk hi"#kalemia
beratND%mE>?L disertai "erubahan E+F, kelemahan #t#t yang hebat0!8< ;umus untuk
menghitung de,isit kalium83 9
+ @ +8 J +7 I 7,%5 I BB
+ @ kalium yang dibutuhkan
+8 @ serum kalium yang diinginkan
+7 @ serum kalium yang terukur
BB @ berat badan /kg0
d! Hi"erkalemia
'erjadi jika kadar kalium E 5 mE>?L, sering terjadi karena insu,isiensi renal atau #bat yang
membatasi ekskresi kalium /NSAIDs, A-Einhibit#r, sikl#s"#rin, diuretik0! 'anda dan gejalanya
terutama melibatkan susunan sara, "usat /"arestesia, kelemahan #t#t0 dan sistem kardi#)askular
/disritmik, "erubahan E+F0! 'era"i untuk hi"erkalemia da"at beru"a intra)ena kalsium kl#rida
874 dalam 87 menit, s#dium bikarb#nat 57877 mE> dalam 587 menit, atau diuretik,
hem#dialisis!
<! Perubahan k#m"#sisi
a! Asid#sis res"irat#rik /"HD <,25 dan Pa-B%E &5 mmHg0
+#ndisi ini berhubungan dengan retensi -B% secara sekunder untuk menurunkan )entilasi
al)e#lar "ada "asien bedah! +ejadian akut meru"akan akibat dari )entilasi yang tidak adekuat
termasuk #bstruksi jalan na,as, atelektasis, "neum#nia, e,usi "leura, nyeri dari insisi abd#men
atas, distensi abd#men dan "enggunaan nark#se yang berlebihan! :anajemennya melibatkan
k#reksi yang adekuat dari de,ek "ulm#nal, intubasi end#trakeal, dan )entilasi mekanis bila "erlu!
Perhatian yang ketat terhada" higiene trake#br#nkial saat "#st #"erati, adalah sangat "enting!
b! Alkal#sis res"irat#rik /"HE 2,&5 dan Pa-B% D <5 mmHg0
+#ndisi ini disebabkan ketakutan, nyeri, hi"#ksia, cedera SSP, dan )entilasi yang dibantu! Pada
,ase akut, k#nsentrasi bikarb#nat serum n#rmal, dan alkal#sis terjadi sebagai hasil dari
"enurunan Pa-B% yang ce"at! 'era"i ditujukan untuk mengk#reksi masalah yang mendasari
termasuk sedasi yang sesuai, analgesia, "enggunaan yang te"at dari )entilat#r mekanik, dan
k#reksi de,isit "#tasium yang terjadi!
c! Asid#sis metab#lik /"HD2,<5 dan bikarb#nat D%8 mE>?L0
+#ndisi ini disebabkan #leh retensi atau "enambahan asam atau kehilangan bikarb#nat!
Penyebab yang "aling umum termasuk gagal ginjal, diare, ,istula usus kecil, diabetik
ket#asid#sis, dan asid#sis laktat! +#m"ensasi a$al yang terjadi adalah "eningkatan )entilasi dan
de"resi Pa-B%! Penyebab "aling umum adalah sy#k, diabetik ket#asid#sis, kela"aran, as"irin
yang berlebihan dan keracunan metan#l! 'era"i sebaiknya ditujukan terhada" k#reksi kelainan
yang mendasari! 'era"i bikarb#nat hanya di"eruntukkan bagi "enanganan asid#sis berat dan
hanya setelah k#m"ensasi alkal#sis res"irasi digunakan!
d! Alkal#sis metab#lik /"HE2,&5 dan bikarb#nat E%2 mE>?L0
+elainan ini meru"akan akibat dari kehilangan asam atau "enambahan bikarb#nat dan
di"erburuk #leh hi"#kalemia! :asalah yang umum terjadi "ada "asien bedah adalah
hi"#kl#remik, hi"#kalemik akibat de,isit )#lume ekstraselular! 'era"i yang digunakan adalah
s#dium kl#rida is#t#nik dan "enggantian kekurangan "#tasium! +#reksi alkal#sis harus gradual
selama "er#de %& jam dengan "engukuran "H, Pa-B% dan serum elektr#lit yang sering!
II! Fangguan keseimbangan cairan dan elektr#lit "ada "embedahan
Fangguan dalam keseimbangan cairan dan elektr#lit meru"akan hal yang umum terjadi "ada
"asien bedah karena k#mbinasi dari ,akt#r,akt#r "re#"erati,, intra#"erati, dan "#st#"erati,!
A! .akt#r,akt#r "re#"erati,
8! +#ndisi yang telah ada
Diabetes mellitus, "enyakit he"ar, atau insu,isiensi renal da"at di"erburuk #leh stres akibat
#"erasi!
%! Pr#sedur diagn#stik
Arteri#gram atau "yel#gram intra)ena yang memerlukan marker intra)ena da"at menyebabkan
ekskresi cairan dan elektr#lit urin yang tidak n#rmal karena e,ek diuresis
#sm#tik!
<! Pemberian #bat
Pemberian #bat se"erti ster#id dan diuretik da"at mem"engaruhi eksresi air dan elektr#lit
&! Pre"arasi bedah
Enema atau laksati, da"at menyebabkan "eningkatan kehilangan air dan elekr#lit dari traktus
gastr#intestinal!
5! Penanganan medis terhada" k#ndisi yang telah ada
6! ;estriksi cairan "re#"erati,
Selama "eri#de 6 jam restriksi cairan, "asien de$asa yang sehat kehilangan cairan sekitar <77
577 mL! +ehilangan cairan da"at meningkat jika "asien menderita demam atau adanya
kehilangan abn#rmal cairan!
2! De,isit cairan yang telah ada sebelumnya
Harus dik#reksi sebelum #"erasi untuk meminimalkan e,ek dari anestesi!
B! .akt#r,akt#r intra#"erati,
8! Induksi anestesi
Da"at menyebabkan terjadinya hi"#tensi "ada "asien dengan hi"#)#lemia "re#"erati, karena
hilangnya mekanisme k#m"ensasi se"erti takikardia dan )as#k#nstriksi!
%! +ehilangan darah yang abn#rmal
<! +ehilangan abn#rmal cairan ekstraselular ke third s"ace /c#nt#hnya kehilangan cairan
ekstraselular ke dinding dan lumen usus saat #"erasi0
&! +ehilangan cairan akibat e)a"#rasi dari luka #"erasi /biasanya "ada luka #"erasi yang besar
dan "r#sedur #"erasi yang berke"anjangan0
-! .akt#r,akt#r "#st#"erati,
8! Stres akibat #"erasi dan nyeri "asca #"erasi
%! Peningkatan katab#lisme jaringan
<! Penurunan )#lume sirkulasi yang e,ekti,
&! ;isik# atau adanya ileus "#st#"erati,
III! 'era"i -airan
'era"i cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh dalam batasbatas
,isi#l#gis dengan cairan in,us kristal#id /elektr#lit0 atau k#l#id /"lasma eks"ander0 secara
intra)ena!
'era"i cairan ber,ungsi untuk mengganti de,isit cairan saat "uasa sebelum dan sesudah
"embedahan, mengganti kebutuhan rutin saat "embedahan, mengganti "erdarahan yang terjadi,
dan mengganti cairan yang "indah ke r#ngga ketiga!
'era"i cairan resusitasi
'era"i cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh atau
eks"ansi ce"at dari cairan intra)askuler untuk mem"erbaiki "er,usi jaringan! :isalnya "ada
keadaan sy#k dan luka bakar! 'era"i cairan resusitasi da"at dilakukan dengan "emberian in,us
N#rmal Saline /NS0, ;inger Asetat /;A0, atau ;inger laktat /;L0 sebanyak %7 ml?kg selama <7
67 menit! Pada sy#k hem#ragik bisa diberikan %< L dalam 87 menit!
'era"i rumatan
'era"i rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi! Brang de$asa
ratarata membutuhkan cairan <7<5 ml?kgBB?hari dan elektr#lit utama Na=@8%
mm#l?kgBB?haridan +=@ 8mm#l?kgBB?hari! +ebutuhan tersebut meru"akan "engganti cairan
yang hilang akibat "embentukan urine, sekresi gastr#intestinal, keringat /le$at kulit0 dan
"engeluaran le$at "aru atau dikenal dengan insensible $ater l#sses!
Untuk anak digunakan rumus H#liday Segar &9%98, yaitu 9
'era"i rumatan da"at diberikan in,us cairan elektr#lit dengan kandungan karb#hidrat atau in,us
yang hanya mengandung karb#hidrat saja! Larutan elektr#lit yang juga mengandung karb#hidrat
adalah larutan +AEN, deItran = saline, DFAA, ;ingerOs deItr#se, dll! Sedangkan larutan
rumatan yang mengandung hanya karb#hidrat adalah deItr#se 54! 'eta"i cairan tan"a elektr#lit
ce"at keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang antar sel sehingga deItr#se tidak ber"eran dalam
hi"#)#lemik!
Dalam tera"i rumatan cairan keseimbangan kalium "erlu di"erhatikan karena se"erti sudah
dijelaskan kadar berlebihan atau kekurangan da"at menimbulkan e,ek sam"ing yang berbahaya!
Umumnya in,us k#n)ensi#nal ;L atau NS tidak mam"u mensu"lai kalium sesuai kebutuhan
harian! In,us +AEN da"at mensu"lai kalium sesuai kebutuhan harian!
Pada "embedahan akan menyebabkan cairan "indah ke ruang ketiga, ke ruang "erit#neum, ke
luar tubuh! Untuk menggantinya tergantung besar kecilnya "embedahan, yaitu 9
P 63 ml?kg untuk bedah besar
P &6 ml?kg untuk bedah sedang
P %& ml?kg untuk bedah kecil
A! *enis*enis -airan
8! -airan +ristal#id
-airan ini mem"unyai k#m"#sisi miri" cairan ekstraseluler /-ES @ -E.0! -airan kristal#id bila
diberikan dalam jumlah cuku" /<& kali cairan k#l#id0 ternyata sama e,ekti,nya se"erti
"emberian cairan k#l#id untuk mengatasi de,isit )#lume intra)askuler! 1aktu "aruh cairan
kristal#id di ruang intra)askuler sekitar %7<7 menit!
Larutan ;inger Laktat meru"akan cairan kristal#id yang "aling banyak digunakan untuk
resusitasi cairan $alau agak hi"#t#nis dengan susunan yang ham"ir menyeru"ai cairan
intra)askuler! Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metab#lisme di hati
menjadi bikarb#nat! -airan kristal#id lainnya yang sering digunakan adalah Na-l 7,A4, teta"i
bila diberikan berlebih da"at mengakibatkan asid#sis hi"erkl#remik /deluti#nal hy"erchl#remic
acid#sis0 dan menurunnya kadar bikarb#nat "lasma akibat "eningkatan kl#rida!
+arena "erbedaan si,at antara k#l#id dan kristal#id dimana kristal#id akan lebih banyak
menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan k#l#id maka kristal#id sebaiknya di"ilih
untuk resusitasi de,isit cairan di ruang interstitiel!
Pada suatu "enelitian mengemukakan bah$a $alau"un dalam jumlah sedikit larutan kristal#id
akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema "eri,er dan "aru serta berakibat
terganggunya #ksigenasi jaringan dan edema jaringan luka, a"abila sese#rang menda"at in,us 8
liter Na-l 7,ASelain itu, "emberian cairan kristal#id berlebihan juga da"at menyebabkan edema
#tak dan meningkatnya tekanan intra kranial!
%! -airan +#l#id
Disebut juga sebagai cairan "engganti "lasma atau biasa disebut Q"lasma substituteR atau
Q"lasma eI"anderR! Di dalam cairan k#l#id terda"at (at?bahan yang mem"unyai berat m#lekul
tinggi dengan akti)itas #sm#tik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama
/$aktu "aruh <6 jam0 dalam ruang intra)askuler! Bleh karena itu k#l#id sering digunakan untuk
resusitasi cairan secara ce"at terutama "ada sy#k hi"#)#lemik?herm#rhagik atau "ada "enderita
dengan hi"#albuminemia berat dan kehilangan "r#tein yang banyak /misal luka bakar0!
Berdasarkan "embuatannya, terda"at % jenis larutan k#l#id9
a! +#l#id alami9
Saitu ,raksi "r#tein "lasma 54 dan albumin manusia / 5 dan %,540! Dibuat dengan cara
memanaskan "lasma atau "lasenta 67T- selama 87 jam untuk membunuh )irus he"atitis dan
)irus lainnya! .raksi "r#tein "lasma selain mengandung albumin /3<40 juga mengandung al,a
gl#bulin dan beta gl#bulin!
b! +#l#id sintetis9
8! DeItran9
DeItran &7 /;he#macr#deI0 dengan berat m#lekul &7!777 dan DeItran 27 /:acr#deI0 dengan
berat m#lekul 67!77727!777 di"r#duksi #leh bakteri Leuc#n#st#c mesenter#ides B yang tumbuh
dalam media sukr#sa! 1alau"un DeItran 27 meru"akan )#lume eI"ander yang lebih baik
dibandingkan dengan DeItran &7, teta"i DeItran &7 mam"u mem"erbaiki aliran darah le$at
sirkulasi mikr# karena da"at menurunkan kekentalan /)isk#sitas0 darah! Selain itu DeItran
mem"unyai e,ek anti tr#mb#tik yang da"at mengurangi "latelet adhesi)eness, menekan akti)itas
,akt#r UIII, meningkatkan ,ibrin#lisis dan melancarkan aliran darah! Pemberian DeItran
melebihi %7 ml?kgBB?hari da"at mengganggu cr#ss match, $aktu "erdarahan memanjang
/DeItran &70 dan gagal ginjal! DeItran da"at menimbulkan reaksi ana,ilaktik yang da"at dicegah
yaitu dengan memberikan DeItran 8 /Pr#mit0 terlebih dahulu!

%! Hydr#Iylethyl Starch /Heta starch0
'ersedia dalam larutan 64 dengan berat m#lekul 87!777 J 8!777!777, ratarata 28!777,
#sm#laritas <87 mBsm?L dan tekanan #nk#tik <7 <7 mmHg! Pemberian 577 ml larutan ini "ada
#rang n#rmal akan dikeluarkan &64 le$at urin dalam $aktu % hari dan sisanya 6&4 dalam
$aktu 3 hari! Larutan k#l#id ini juga da"at menimbulkan reaksi ana,ilaktik dan da"at
meningkatkan kadar serum amilase / $alau jarang0! L#$ m#lecullar $eight Hydr#Iylethyl starch
/PentaStarch0 miri" Heta starch, mam"u mengembangkan )#lume "lasma hingga 8,5 kali
)#lume yang diberikan dan berlangsung selama 8% jam! +arena "#tensinya sebagai "lasma
)#lume eI"ander yang besar dengan t#ksisitas yang rendah dan tidak mengganggu k#agulasi
maka Penta starch di"ilih sebagai k#l#id untuk resusitasi cairan "ada "enderita ga$at!
<! Felatin
Larutan k#l#id <,5&4 dalam balanced electr#lyte dengan berat m#lekul ratarata <5!777 dibuat
dari hidr#lisa k#lagen binatang!
Ada < macam gelatin, yaitu9
m#di,ied ,luid gelatin /Plasmi#n dan Hemacell0
Urea linked gelatin
BIy"#ly gelatin
B! 'era"i -airan Pre#"erati,
De,isit cairan karena "ersia"an "embedahan dan anestesi /"uasa, la)ement0 harus di"erhitungkan
dan seda"at mungkin segera diganti "ada masa "rabedah sebelum induksi! Setelah dari sisa
de,isit yang masih ada diberikan "ada jam "ertama "embedahan, sedangkan sisanya diberikan
"ada jam kedua berikutnya! +ehilangan cairan di ruang E-. ini cuku" diganti dengan ciran
hi"#t#nis se"erti garam ,isi#l#gis, ;inger Laktat dan DeItr#se! Pada "enderita yang karena
"enyakitnya tidak menda"at nutrisi yang cuku" maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau
"arenteral lebih dini lagi! Penderita de$asa yang di"uasakan karena akan mengalami
"embedahan /elekti,0 harus menda"atkan "enggantian cairan sebanyak % ml?kgBB?jam lama
"uasa! De,isit karena "erdarahan atau kehilangan cairan /hi"#)#lemik, dehidrasi0 yang seringkali
menyertai "enyulit bedahnya harus segera diganti dengan melakukan resusitasi cairan atau
rehidrasi sebelum induksi anestesi!

-! 'era"i -airan Intra#"erati,
*umlah "enggantian cairan selama "embedahan dihitung berdasarkan kebutuhan dasar ditambah
dengan kehilangan cairan akibat "embedahan /"erdarahan, transl#kasi cairan dan "engua"an atau
e)a"#rasi0! *enis cairan yang diberikan tergantung ke"ada "r#sedur "embedahannya dan jumlah
darah yang hilang!
8! Pembedahan yang terg#l#ng kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya bedah mata /ekstrasi,
katarak0 cuku" hanya diberikan cairan rumatan saja selama "embedahan!
%! Pembedahan dengan trauma ringan misalnya9 a""endekt#mi da"at diberikan cairan sebanyak %
ml?kgBB?jam untuk kebutuhan dasar ditambah & ml?kgBB?jam untuk "engganti akibat trauma
"embedahan! '#tal yang diberikan adalah 6 ml?kgBB?jam beru"a cairan garam seimbang se"erti
;inger Laktat atau N#rm#s#l;!
<! Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak % ml?kgBB?jam untuk
kebutuhan dasar ditambah 3 ml?kgBB?jam untuk "embedahannya! '#tal 87 ml?kgBB?jam!
D! 'era"i -airan P#st#"erati,
'era"i cairan "asca bedah ditujukan terutama "ada halhal di ba$ah ini9
8! Pemenuhan kebutuhan dasar?harian air, elektr#lit dan kal#ri?nutrisi! +ebutuhan air untuk
"enderita di daerah tr#"is dalam keadaan basal sekitar V 57 ml?kgBB?%& jam! Pada hari "ertama
"asca bedah tidak dianjurkan "emberian kalium karena adanya "ele"asan kalium dari
sel?jaringan yang rusak, "r#ses katab#lisme dan trans,usi darah! Akibat stress "embedahan, akan
dile"askan ald#ster#n dan ADH yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium! Bleh
sebab itu, "ada %< hari "asca bedah tidak "erlu "emberian natrium! Penderita dengan keadaan
umum baik dan trauma "embedahan minimum, "emberian karb#hidrat 877857 mg?hari cuku"
memadai untuk memenuhi kebutuhan kal#ri dan da"at menekan "emecahan "r#tein sam"ai 574
kadar albumin harus di"ertahankan melebihi <,5 gr4! Penggantian cairan "asca bedah cuku"
dengan cairan hi"#t#nis dan bila "erlu larutan garamis#t#nis! 'era"i cairan ini berlangsung
sam"ai "enderita da"at minum dan makan!
%! :engganti kehilangan cairan "ada masa "asca bedah9
Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 854 setia" kenaikan 8T-
suhu tubuh
Adanya "engeluaran cairan lambung melalui s#nde lambung atau muntah!
Penderita dengan hi"er)entilasi atau "erna"asan melalui trake#st#mi dan
humidi,ikasi!
<! :elanjutkan "enggantian de,isit cairan "embedahan dan selama "embedahan yang belum
selesai! Bila kadar hem#gl#bin kurang dari 87 gr4, sebaiknya diberikan trans,usi darah untuk
mem"erbaiki daya angkut #ksigen!
&! +#reksi terhada" gangguan keseimbangan yang disebabkan tera"i cairan tersebut! :#nit#ring
#rgan#rgan )ital dilanjutkan secara seksama meli"uti tekanan darah, ,rekuensi nadi, diuresis,
tingkat kesadaran, diameter "u"il, jalan na,as, ,rekuensi na,as, suhu tubuh dan $arna kulit!
BAB III
+ESI:PULAN
'ubuh mengandung 67 4 air yang disebut juga cairan tubuh! -airan tubuh didalamnya
terkandung nutrisinutrisi yang amat "enting "eranannya dalam metab#lisme sel, sehingga amat
"enting dalam menunjang kehidu"an!
Dalam "embedahan, tubuh kekurangan cairan karena "erdarahan selama "embedahan ditambah
lagi "uasa sebelum dan sesudah #"erasi! Fangguan dalam keseimbangan cairan dan elektr#lit
meru"akan hal yang umum terjadi "ada "asien bedah karena k#mbinasi dari ,akt#r,akt#r
"re#"erati,, "eri#"erati, dan "#st#"erati,!
'era"i cairan "arenteral digunakan untuk mem"ertahankan atau mengembalikan )#lume dan
k#m"#sisi n#rmal cairan tubuh! Dalam tera"i cairan harus di"erhatikan kebutuhannya sesuai usia
dan keadaan "asien, serta cairan in,us itu sendiri! *enis cairan yang bisa diberikan untuk tera"i
cairan adalah cairan kristal#id dan cairan k#l#id!


DA.'A; PUS'A+A
Adelmen, ;!D!, S#lhaug, :!*!, %777! Pat#,isi#l#gi -airan 'ubuh dan 'era"i -airan! In9
Behrman, ;!E!, +liegman, ;!:!, Ar)in, Ann!:!, Ilmu +esehatan Anak Nels#n ed 85, jilid %!
*akarta9 EF-N %53%66
Hartant#, 1!1!, %772! 'era"i -airan dan Elektr#lit Peri#"erati,! Bagian .armak#l#gi +linik dan
'era"eutik .akultas +ed#kteran Uni)ersitas Padjadjaran
Hasan .! 'era"i -airan! %773! Di unduh dari htt"9??dr,hasan!bl#gs"#t!c#m?%773?78?re,erat
tera"icairan!html!
Latie, AS, dkk! %77%! Petunjuk "raktis anestesi#l#gi9 tera"i cairan "ada "embedahan! Ed!+edua!
Bagian anestesi#l#gi dan tera"i intensi,, .+UI!
Berdasarkan de,inisinya "asien ga$at ? kritis adalah "asien yang secara ,isi#l#gis tidak stabil,
artinya sedikit saja ada "erubahan "ada #rgannya akan memba$a dam"ak yang menyeluruh
/ sistemik 0 dan memungkinkan untuk terjadi gagal #rgan multi"le / multi #rgan ,ailure @ :B. 0
Bleh karena itu target "engel#laan "asien ga$at adalah mencegah terjadinya :B., dengan jalan
mengusahakan agar ,ungsi #rgan terjamin dengan segera!
Dari bi#l#gi m#lekuler diketahui bah$a "enyebab sel / #rgan 0 terancam kehidu"annya ialah
karena / salah satunya dan terutama 0 kekurangan #ksigen /hy"#Iia 0!
Sang bertanggung ja$ab terhada" "enyediaan #ksigen agar sam"ai ke tingkat sel ialah system
res"irasi / yang ber,ungsi memindahkan #ksigen dari udara luar ke al)e#li 0 dan system
kardi#)askuler / yang ber,ungsi memba$a #ksigen dari al)e#li ke sel seluruh tubuh 0! Dalam
melaksanakan ,ungsi kardi#)askuler tersebut, salah satu k#m"#nen yang ber"eran memba$a
#ksigen adalah haem#gl#bin / yang terda"at di dalam sel darah merah 0 yang berada dalam suatu
cairan / yang disebut sebagai "lasma darah 0 yang berada di "embuluh darah! *adi jelas bah$a
resusitasi cairan / terutama "ada "asien ga$at medis 0 meru"akan suatu tindakan yang sangat
"enting!

FISIOLOGI CAIRAN TUBUH

Jumlah cairan.
*umlah cairan dalam tubuh manusia tergantung dari umur, jenis kelamin, dan berat badan! Secara
kasar jumlahnya berkisar antara 55 J 67 4 dari berat badan!
Penyebran cairan
Pr#sentase "enyebaran cairan tubuh secara kasar adalah 9
Di dalam sel / cairan intra sel @ -IS 0 9 55 4!
Di luar tubuh / cairan eIstra sel @ -ES 0 9 &5 4!

Secara s"eci,ic se"erti "ada schema % berikut 9

Table 1.
NO UMUR JENIS KELAMIN JUMLAH ( % BB )
1 0 -1 bula - !"#!
$ 1 % 1$ bula - &'#"
( 1 % 10 )a*u - &1#!
' 10 % 1& )a*u La+,+ % la,+ "-#.
/e0e1/ua "!#(
" 1! % 1. )a*u La+,+ % la,+ &0#&
/e0e1/ua "0#$
& '0 % ". )a*u La+,+ % la,+ "'#!
/e0e1/ua '&#!
! 2 &0 )a*u La+,+ % la,+ "1#"
/e0e1/ua '"#"
Table $.
Ju1la* 3a+0a 4 &0 % be0a) ba5a
Ca+0a +)0a 6el ( CIS ) 4 "" % Ca+0a e76)0a 6el ( CES ) 4 '" %
Sel % 6el la+ 4 "0
%
Sel 5a0a* 1e0a*
4 " %
8a9 be0:u96+ T0a6 6elule0
;la61a 4 ! % Ca+0a +)e0
6)+)+al 4 $0 %


Komposisi cairan
+#m"#sisi cairan intra sel, intra )ascular dan interstitial adalah sebagai berikut 9

Table (!
N< K<1/<e
;e1bulu*
5a0a* (1e=>L)
I)e06)+)+al
(1e=>L)
I)0e 6el
( 1e=>L)
1 Na? 1'0 1'"#" 1$
$ K ? '#" '#- 1&0
( Ca ?? "#0 $#- -
' M9 ?? 1#" 1#0 ('
" Cl - 10' 11&#& $
& HCO(- $' $!#' 10
! SO' - 1 1#$ -
- ;*<6/*a)e $ $#( 1'0
. ;0<)e+ 1" $#0 "'
10 A+< la+ " "#& -

Pengendalian cairan tubuh
Secara ,isi#l#gis cairan di dalam tubuh dikendalikan melalui #rgan J #rgan, antara lain kulit,
ginjal, "aru, melalui siatem h#rm#nal yaitu ADH /Anti Diuritic H#rm#n0, ald#ster#n!
Pengendalian tersebut di"erlukn untuk menjaga agar )#lume cairan / terutama cairan intra
)askuler 0 stabil, sehingga curah jantung / cardiac #ut "ut 0 tercuku"i!
Hi"#tese S'A;LINF
Di dalam runag intra)askuler dan interstitial terda"at tekanan hidr#stastik yang bersi,at
mend#r#ng cairan kearah luar yang disebabkan #leh cairah itu sendiri dan tekanan #nk#tik yang
bersi,at menahan cairan di dalam yang di sebabkan #leh adanya "artikel besar dalam cairan
/ dalam hal ini "r#tein ? albumin 0!
+eseimbangan antara kedua macam tekanan / tekanan hidr#stastik dan tekanan #nk#lik 0 di
dalam )askuler dan eIstra )askuler da"at di rumuskan dengan rumus sebagai berikut 9
@ 4 K A ( ;3 % ;) ) % B ( C3 % C) ) D
+eterangan 9
M 9 aliran cairan!
+ 9 k#nstanta!
Pc 9 tekanan hidr#stastik dalam ka"iler!
Pt 9 tekanan hidr#stastik dalam r#ngga interstitial!
W 9 ke#,isien re,leksi!
:enunjukkan tingkat "ermeabilitas dinding ka"iler terhada" "artikel besar / dalam hal ini
"r#tein 0!
@ 8 9 bila tidak terjadikeb#c#ran!
@ % 9 bila b#c#r sem"urna!
Xc 9 tekanan #nktik dalam ka"iler!
Xt 9 tekanan #nk#tik dalam r#ngga interstitial!
STATUS CAIRAN ;ASIEN KRITIS

U#lume cairan intra )ascular "ada kebanyakan "asien kritis adalah berkurng, #leh karena itu
segala usaha untuk mem"erbaiki )#lume cairan intra )askuler harus dilaksanakan agar cardiac
out put Q tercuku"i sehingga "er,usi keseluruhan jaringan baik dan dengan demikian #ksigenasi
baik!
Berarti tujuan memberi in,use cairan "ada "asien kritis adalah 0e6)<0a6+ cairan intra )askuler!
;ee)ua 6)a)u6 3a+0a /a6+e ,0+)+6.
8! estimasi jumlah "erdarahan berdasar atas gejala!

Kla6 I Kla6 II Kla6 III Kla6 IE
Ju1la* /e05a0a*a ( 1l ). - !"0 !"0 % 1"00 1"00 % $000 2 $000
Ju1la* /e05a0a*a(% F<l.
50*)
- 1" (0 % '0 (0 % '0 2'0 %
F0e,Ge6+ Na5+ (,al+>1e+)) H 100 2 100 2 1$0 2 1'0 %
Te,aa 5a0a* N<01al N<01al I I
Te,aa a5+ ( 11H9 ) N> JI I I I
F0e,Ge6+ a:a6 ( ,al+>1e+)) 1' % $0 $0 % (0 (0 % '0 2 ("
Ju1la* u0+e ( 33>Ka1 ) 2 (0 $0 % (0 " % 1" 0
,e6a5a0a Gel+6a*
(0+9a)
Gel+6a*
(6e5a9)
Gel+6a* >
b+9u9
le)e09+


-atatan 9 harga J harga di atas untuk "asien laki J laki berat badan 27 kg!
8! estimasi kekurangan cairan atas dasar "emeriksaan ,isik!
8! atas dasar "emeriksaan tekanan darah dan nadi!

E<l 5a0a*
( 1l )
Te0le)a9 Lu5u,
Te,. 50* Na5+ Te,. 50* Na5+
N<01al N N N N
( % ) "00 N N N N>J
( % ) 1000 N N>J N>I J
( % ) 1"00 N>I J I J>I
( % ) $000 I J>I II J>I

8! Atas dasar tanda ,isik lain!

Le0aKa)
5e*+50a6+
% ,e*+la9a
3a+0a
Ta5a 5a 9eKala
R+9a $ % " % Hau6# Ku1la* u0+e )u0u#
Ku1la* ,e0+9a) )u0u
Se5a9 " % 10 %
Saa9) *au6# 1ual# ,e)+a,
5a l+/a) /a*a ,e0+9#
)a,*+,a05+# *+/<)e6+
<0)<6)a6)+,# CE; 1eu0u#
)u09<0 1eu0u# a/a)+6#
<l+9u0+# *e1<,<6e)0a6+.
Be0a) > :a)al 10 % 1" %
S)u/<0# *+/<)e6+# <l+9u0+
be0a) 6a1/a+ a u0+a# 1a6a
<)<) 1eu0u# Fea
Ku9ula0+6 ,<la/ /a5a /<6+6+
ba0+9# a5+ ,e3+l> )a,
)e0aba# 6M<,# ,<1a % 1a)+.

Je+6 3a+0a.
+ristal#id 9 adalah cairan yang sebagian besar berisi "artikel i#n Na sebagai "artikel akti,
dalam "enentuan #sm#laritas! :is 9 Na-l, ;inger Laktat, ;inger S#luti#n!

+#l#id 9 adalah cairan yang berisi "artikel berberat m#lekul besar yang sulit mele$ati
dinding ka"iler! :is 9 albumin, deItran, hidr#Iy ethil starch, gelatin!


E:e, /e1be0+a 3a+0a )e0*a5a/ ,<1/a0)e1e 3a+0a )ubu*!

Secara schematis e,ek tersebut adalah sebagai berikut 9

KOM;ARTEMEN
CAIRAN TUBUH
Glu,<6e "
%
K0+6)al<+5
+6<)<+6
K0+6)al<+5
*+/e0)<+6
K<l<+5
+6<-
<,<)+,
K<l<+5
*+/e0-
<,<)+,
INTRA EASKULER

J J J J J
INTERSTITIEL J J J - I

INTRA SEL

I - I - I
E:e, +:u6e 1 l+)e0 3a+0a ,<l<+5 )e0*a5a/ ,<1/a0)e1e )ubu* ( !0 ) ,9 a5ala* 6bb N
Ma3a1 la0u)a E<l. /la61a
E<lu1e
+)e06)+)+el
E<lu1e +)0a
6el
Albu1+ " % 1000 - -
Hae1a3el !00 (00 -
Gela:u5+ 1000 - -
;la61a:u6+ 1000 - -
Le7)0a '0 % 1&00 ( % ) $&0 ( % ) ('0
Le7)0a !0 % 1(00 ( % ) 1(0 ( % ) 1!0
E7/a:u6+ 1000 - -
HES 6)e0+l & % 1000 - -
HES 6)e0+l 10 % 1'"0 ( % ) '"0 -

La1a 3a+0a ,<l<+5 be0a5a 5+ 5ala1 +)0a Fa6,ule0 a5ala* 6bb
:acam larutan 1aktu / jam 0
6 4 ? 87 4 HES %77 ? 7,5 & J 3
6 4 HES %77 ? 7,6 3 J 8%
6 4 HES &57 ? 7,2 3 J 8%
6 4 DeItran 27 6 J 3
87 4 DeItran &7 <,5 J &,5
& 4 Plasma,usin & J 6
5 4 Albumin / 577 ml 0 <,5 J &,5
%5 4 Albumin / 877 ml 0 <,5 J &,5
Felatin 8,5 J %
;0+6+/ 0e6u6+)a6+ 3a+0a
8! 'entukan besar kekurangan )#lume cairan , atas dasar amamnese, "emeriksaan ,isik dan
bila "erlu lab#rat#ries!
%! 'entukan macam cairan yang hilang atas dasar "at#,i#l#gis "enyakit yang kita hada"i!
:isalnya 9
Pada "erdarahan seluruh k#m"#nen dalam "lasma ikut hilang / termasuk "r#tein 0 yang
berarti tekanan #nk#tik akan turun bila hanya dig anti dengan cairan kristal#id saja
/ "rinsi" hem#dilusi 0!
Pada gastr#enteritis cairan dan elektr#lit saja yang hilang!
Pada se"sis terjadi keb#c#ran ka"iler sehingga "artikel dengan m#lekul relati)e kecil
/ termasuk albumin 0 akan keluar sehingga tekanan #nk#tik akan menurun!
<! Pilih cairan yang akan kita gunakan untuk mengganti, bila di"erkirakan tekanan #nk#tik
turun, berikan cairan k#l#id! Sebagai "agangan kasar / "ada resusitasi "erdarahan 0 setia"
%777 J %577 cc cairan kristal#id berikan 577 cc cairan k#l#id!
&! 'entukan lama ? $aktu "emberian! Pasien kritis ? ga$at harus segera mungkin tercuku"i
jumlah cairannya, sebab targetnya adalah mencuku"i cardiac #ut "ut! Bleh karena itu
dalam $aktu 6 jam harus terca"ai targetnya!

;e1a)aua.

Pemantauan resusitasi cairan di tujukan "ada dua "#k#k utama, yaitu 9

8! E)aluasi terhada" target resusitasi!
'arget resusitasi adalah mencuku"i cardiac u#t "ut! Berarti bila cardiac #ut "ut tercuku"i maka
"er,usi ke jaringan akan baik! Bleh sebab itu "emantauan di tujukan "ada "er,usi jaringan! Saitu
9
'ingkat kesadaran Y akan terjadi "erbaikan!
.ungsi #rgan J #rgan 9
.ungsi res"irasi Y res"irasi adekuat
.ungsi saluran cerna Y "eristaltic, abs#rbsi nutrient membaik!
.ungsi saluran kemih Y "r#duksi urine G 8 cc ? kg bb ? jam!
'ekanan darah dan nadi Y terjadi "erbaikan k$alitas!

8! Pemantauan terhada" e,ek sam"ing!

+elebihan cairan 9
o Edema "aru Y hy"#Iia, r#nkhi basah!
o Edema "eri,er!

Sehubungan dengan tehnik in,use 9
o Ektra )asasi!
o Phlebitis!
o 'hr#mbus!
o Adanya udara!

Sehubungan dengan reaksi 9
o :engigil Y demam!
o ;eaksi ana,ilaktis!
Ma3a1 Ma3a1 Ca+0a I:u6 La
Fu96+Ma
by D$i j#
+arena saya rasa artikel tentang macam macam cairan infus dan fungsinya ini sangat
berman,aat, maka akhirnya "embahasan tentang macam macam cairan in,us dan
,ungsinya saya bagikan disini! Dalam dunia ked#kteran, ada bermacammacam jenis
cairan in,us dan setia" jenis dari cairan in,us tersebut tentu saja memiliki kegunaan yang
tidak sama!
Selengka"nya tentang ,ungsi cairan in,us beserta macamnya silahkan simak diba$ah ini
yang saya salin dari htt"9??nursing,#runi)erse!bl#gs"#t!c#m?%787?7&?macammacam
cairanin,usbeserta!html! Sem#ga da"at memberikan man,aat bagi Anda yang sedang
memerlukannya!
-airan in,us intra)ena dikemas dalam bentuk d#sis tunggal, dalam $adah "lastik atau
gelas, steril, bebas "ir#gen serta bebas "artikel"artikel lain! Bleh karena )#lumenya yang
besar, "enga$et tidak "ernah digunakan dalam in,us intra)ena untuk menghindari
t#ksisitas yang mungkin disebabkan #leh "enga$et itu sendiri! -airan in,us intra)ena
biasanya mengandung (at(at se"erti asam amin#, dekstr#sa, elektr#lit dan )itamin!
1alau"un cairan in,us intra)ena yang diinginkan adalah larutan yang is#t#nis untuk
meminimalisasi trauma "ada "embuluh darah, namun cairan hi"#t#nis mau"un hi"ert#nis
da"at digunakan! Untuk meminimalisasi iritasi "embuluh darah, larutan hi"ert#nis
diberikan dalam kece"atan yang lambat!
Persyaratan9
8! Sesuai kandungan bahan #bat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam
sediaanN terjadi "engurangan e,ek selama "enyim"anan akibat "erusakan #bat secara
kimia!
%! Penggunaan $adah yang c#c#k, yang tidak hanya memungkinkan sediaan teta" steril
teta"i juga mencegah terjadinya interaksi bahan #bat dengan material dinding $adah!
<! 'ersatukan tan"a terjadi reaksi! untuk itu, bebera"a ,akt#r yang "aling banyak
menentukan adalah9
a0 bebas kuman
b0 bebas "ir#gen
c0 bebas "elarut yang secara ,isi#l#gis tidak netral
d0 is#t#nis
e0 is#hidris
,0 bebas bahan melayang
+euntungan "emberian in,us intra)ena adalah menghasilkan kerja #bat yang ce"at
dibandingkan caracara "emberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhada"
abs#rbsi #bat! Sedangkan kerugiannya yaitu #bat yang diberikan sekali le$at intra)ena
maka #bat tidak da"at dikeluarkan dari sirkulasi se"erti da"at dilakukan untuk #bat bila
diberikan "er #ral, misalnya dengan cara dimuntahkan
Pembahasan9
In,us tidak "erlu "enga$etkarena )#lume sediaan besa! *ika ditambahkan "enga$et maka
jumlah "enga$et yang dibutuhkan besar sehingga da"at menimbulkan e,ek t#ksis
INFUS IE Ca GLUKONAT > GLUKONAT

Dalam "erc#baan ini akan dibuat sediaan in,us intra)ena kalsium gluk#nat yang
meru"akan larutan su"ersaturasi yang distabilkan dengan "enambahan <5 mg kalsium D
saccharate, dan harus disim"an "ada suhu kamar! Laju in,us maksimum yang disarankan
adalah %77 mg?menit!
.armak#l#gi 9
+alsium meru"akan mineral yang "enting untuk "emeliharaan kesem"urnaan ,ungsi
susunan sara,, #t#t, sistem rangka, dan "ermeabilitas membran sel! +alsium adalah
akti)at#r yang "enting "ada bebera"a reaksi en(imatis dan ber"eran dalam "r#ses
,isi#l#gi yang mencaku" transmisi rangsangan #leh sara,, k#ntraksi jantung, #t#t "#l#s
dan #t#t rangka, ,ungsi renal, "erna,asan dan k#agulasi darah! +alsium juga ber"eran
dalam reaksi "ele"asan dan "enyim"anan neur#transmiter dan h#rm#n, "engambilan dan
"engikatan asam amin#, abs#rbsi )itamin B8% dan sekresi asam lambung!
.armak#kinetik 9
Injeksi garam kalsium langsung masuk kedalam "embuluh darah! Setelah diinjeksi,
kalsium darah meningkat dengan ce"at dan kembali turun dalam <7 menit sam"ai % jam,
terdistribusi ce"at dalam jaringan serta dieliminasi melalui urine!
INFUS IE LEKSTRAN
+ehilangan darah, sejauh jumlahnya tidak melam"aui 874 dari jumlah t#tal, tubuh masih
da"at menyeimbangkannya kembali! *ika kehilangannya lebih besar, harus disu"lai
cairan "engganti darah untuk mengisi "lasma melalui jalan in,us ke dalam tubuh! Hal
tersebut dibutuhkan juga "ada sy#k "erdarahan, akibat luka /kebakaran, luka dalam0 "ada
sakit "erut atau muntah yang berke"anjangan!
In,us deItran 27 meru"akan larutan makr#m#lekul yang memiliki $aktu tinggal yang
lebih "anjang dalam "embuluh darah, karena tidak atau sedikit mengalami di,usi, juga
airnya terikat secara hidratasi! Sang menentukan deItran 27 sebagai bahan "engganti
"lasma adalah berat m#lekulnya diatas %7!777! Pengisisan )#lume darah da"at dilakukan
dengan larutan Na-l ,isi#l#gis atau dengan larutan elektr#lit, namun jumlah cairan yang
dimasukkan tersebut hanya sebentar berada dalam "eredaran darah, untuk kemudian
segera dieliminasi keluar tubuh melalui ginjal
INFUS IE ELEKTROLIT UNTUK LEHILRASI
.ungsi larutan elektr#lit secara klinis digunakan untuk mengatasi "erbedaan i#n atau
"enyim"angan jumlah n#rmal elektr#lit dalam darah! Ada % jenis k#ndisi "lasma yang
menyim"ang, yaitu 9
8! Asid#sis
+#ndisi "lasma darah yang terlam"au asam akibat adanya i#n kl#rida dalam jumlah
berlebih!
%! Alkal#sis
+#ndisi "lasma yang terlam"au basa akibat i#n Na, +, -a dalam jumlah berlebih
+ehilangan natrium disebut hi"#)#lemia, sedangkan kekurangan H%B disebut dehidrasi,
kekurangan H-B< disebut asid#sis, metab#lic dan kekurangan += disebut hi"#kalemia!
/.#rmulasi Steril, Ste,anus Lukas, hal! 6%0
Dehidrasi adalah hilangnya elektr#lit lebih rendah secara dis"r#"#rsi#nal dibandingkan
dengan hilangnnya air! Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan #sm#tic cairan
tubuh akibat dari rasa haus yang tidak merangsang "enggantian air yang hilang dengan
cuku" /D#rlan ed! %6, hal! &A30
Pada "asien yang tidak sadar atau mengalami gangguan keseimbangan elektr#lit akut,
sehingga harus segera diberikan i#ni#n -a%=, Na=, +=, -e dan H-B<, dan sebagai
sumber kal#ri dimana "engganti cairan dan kal#ri dibutuhkan, karena i#ni#n tersebut
dibutuhkan #leh tubuh untuk memnuhi kebutuhan elektr#lit tubuh "ada ekstrasel dan
intrasel! -airan ekstrasel baik "lasma darah mau"un cairan intrsel mengandung i#n
natrium dan kl#rida dalam jumlah yang besar, i#n bilarb#nat dalam jumlah yang agak
besar, teta"i hanya sejumlah kecil i#n kalium, magnesium "h#s"at, sul,at, dan asam
#rganic!disam"ing itu "lasma mengandung "r#tein dalam jumlah yang besar, sedangkan
cairan intrasel hanya mengandung "r#tein dalm jumlah "r#tein yang leih kecil!
-airan intasel hanya mengandung sejumlah kecil i#n natrium dan kl#rida serta ham"ir
tidak mengandung i#n kalsium, teta"i ia mengandung i#n kalium dan "h#s"at dalam
jumlah besar serta i#n magnesium dan sul,at dalam jumlah cuku" besar, semuanya hanya
ada dalam k#nsentrasi yang kecil dalam cairan ekstrasel!
Bahanbahan yang digunakan /Na-l, +-l, NaH-B<, -a-l%0 mudah larut dalam air,
sehingga da"at digunakan air sebagai "emba$anya! Air yang digunakan harus bebas
"ir#gen! Pir#gen meru"akan "r#duk metab#lisme m!# /umumnya bakteri, ka"ang dan
)irus0! Secara kimia$i, "ir#gen adalah (at lemak yang berhubungan dengan suatu
m#lekul "emba$a yang biasanya meru"akan "#lisakarida, ta"i bisa juga "e"tide!
Pir#gen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan
tekanan darah arteri, kirakira 8 jam setelah injeksi! Pir#gen da"at dihilangkan dari
larutan dengan abs#rbsi menggunakan abs#rban "ilihan! /Lachman, hal! 8%A58%A60! I#n
i#n ini diberikan dalam bentuk injeksi i) karena dihara"kan da"at segera memberikan
e,ek!
INFUS IE GLUKOSA NaCl > GLUKOSA 10%
Pada umumnya larutan gluk#sa untuk injeksi digunakan sebagai "engganti kehilangan
cairan tubuh, sehingga tubuh kita mem"unyai energi kembali untuk melakukan
metab#lismenya dan juga sebagai sumber kal#ri! D#sis gluk#sa adalah %,588,5 4
/:artindale0, "ada umumnya digunakan 5 4! Dalam ,#rmula ini ditambahkan Na-l
su"aya dia"at larutan yang is#t#nis, dimana gluk#sa disini bersi,at hi"#t#nis! Dalam
"embuatan a>ua "!i ditambahkan H%B% yang dimaksudkan untuk menghilangkan
"ir#gen, serta di dalam "embuatan ,#rmula ini ditambahkan n#rit untuk menghilangkan
kelebihan H%B%!
INFUS IE MENGANLUNG Na# Ca# K
+alium kl#rida /+-l0, kalium meru"akan kati#n /"#siti,0 yang ter"enting dalam cairan
intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asambasa serta is#t#nis
sel!
Natrium kl#rida /Na-l0, natrium meru"akan kati#n utama dalam cairan ekstraseluler dan
memegang "eranan "enting "ada regulasi tekanan #sm#tisnya! Sering digunakan dalam
in,us dengan elektr#lit lain!
E>u)alent elektr#lit /Steril D#sage .#rm, hal %570 9
Na= @ 8<5 mE>
+= @ 5 mE>
-a= @ 5 mE>
:g= @ % mE>
+esetaraan ekui)alen elektr#lit /:artindale0 9
8g Na-l Z 82,8 mE> Na= E8 @ 8,77
8g +-l Z 8<,& mE> += E8 @ 7,26
8g -a-l Z 8<,6 mE> -a= E8 @ 7,58
8g :g-l Z A,3 mE> :g= E8 @ 7,&5
IN.US IU Na-l
Natrium meru"akan kati#n utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang "eranan
"enting "ada regulasi tekanan #sm#tisnya, juga "ada "embentukan "erbedaan "#tensial
/ listrik 0 yang "erlu bagi k#ntraksi #t#t dan "enerusan im"uls di syara,!
De,isiensi natrium da"at terjadi akibat kerja ,isik yang terlam"au berat dengan banyak
berkeringat dan banyak minum air tan"a tambahan garam ekstra! Fejalanya beru"a mual,
muntah, sangat lelah, nyeri ke"ala, kejang #t#t betis, kemudian juga kejang #t#t lengan
dan "erut!
Selain "ada de,isiensi Na, natrium juga digunakan dalam bilasan 7,A 4 / larutan garam
,isi#l#gis 0 dan dalam in,us dengan elektr#lit lain!
INFUS IE ;ENGGANTI CAIRAN TUBUH
Air beserta unsurunsur didalamnya yang di"erlukan untuk kesehatan sel disebut cairan
tubuh!
-airan tubuh dibagi menjadi dua yaitu 9
8! -airan Intraseluler, cairan ini mengandung sejumlah i#n Na dan kl#rida serta ham"ir
tidak mengandung i#n kalsium, teta"i cairan ini mengandung i#n kalium dan ,#s,at dalam
jumlah besar serta i#n :agnesium dan Sul,at dalam jumlah cuku" besar!
%! -airan Ekstraseluler, cairan ini mengandung i#n Natrium dan +l#rida dalam jumlah
besar, i#n bikarb#nat dalam jumlah besar, teta"i hanya sejumlah kecil i#n +alium,
+alsium, :agnesium, P#s,at, Sul,at,dan asamasam #rganik /Fuyt#n hal <7A0!
+eseimbangan air dalam tubuh harus di"ertahankan su"aya jumlah yang diterima sama
dengan jumlah yang dikeluarkan! Penyesuaian dibuat dengan "enambahan ? "engurangan
jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat!
Ini menekankan "entingnya "erhitungan berdasarkan ,akta tentang jumlah cairan yang
masuk dalam bentuk minuman mau"un makanan dan dalam bentuk "emberian cairan
lainnya! Elektr#lit yang "enting dalam k#m"#sisi cairan tubuh adalah Na, +, -a, dan -l!
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan in,use "engganti
cairan tubuh yaitu in,use ;ingers!
Injeksi ;inger adalah larutan steril Natrium kl#rida, +alium kl#rida, dan +alsium kl#rida
dalam air untuk #bat suntik! +adar ketiga (at tersebut sama dengan kadar (at(at tersebut
dalam larutan ,isi#l#gis! Larutan ini digunakan sebagai "enambah cairan elektr#lit yang
di"erlukan tubuh /Ansel hal &730!
INFUS IE ;ROTEIN UNTUK LBL
Bilamana se#rang "enderita harus diberikan makanan yang memadai teta"i tidak da"at
melalui saluran cerna! Indikasi cara ini biasanya digunakan untuk "ersia"an bedah "ada
"enderita kurang gi(i, "ersia"an kem#tera"i radi#tera"i dan kelainan saluran cerna berat!
Nutrisi "arenteral t#tal memerlukan larutan yang mengandung asam amin#N gluk#saN
lemakN elektr#litN dan )itamin!
Fluk#sa meru"akan sumber karb#hidrat yang lebih disukai, ta"i bila tia" harinya
diberikan lebih dari 837 g maka harus ada m#nit#ring kadar gula darah! Bila mungkin
di"erlukan insulin! Fluk#sa dengan ragam kekuatan 87 J 57 4 harus di in,us melalui
kateter )ena central! Untuk menghindari tr#mb#sis /gum"alan darah yang terbentuk
"embuluh darah0!
*umlah )#lume in,use intra)ena biasanya 577 mL dan %57 mL mengandung (at(at
sebagai nutrisi, "enambah darah, elektr#lit, asam amin#, antibi#tik, dan #bat yang
umumnya diberikan le$at jarum yang dibiarkan di )ena atau kateter dengan diteteskan
terus menerus! 'etesan atau kece"atan mengalir da"at diatur #leh d#kter atau "era$at
sesuai dengan kebutuhan "asien! Umumnya %< mL "ermenit!
Untuk In,us, intra)ena jarum?kateter biasanya ditusukkan di)ena yang men#nj#l di
lengan atau kaki dan diikat erat di tem"at tersebut sehingga tidak akan bergeser dari
tem"at selama diin,us! Bahaya utama in,us intra)ena ialah kemungkinan terbentuknya
tr#mbus akibat rangsang tusukan jarum "ada dinding )ena!
'r#mbus akan lebih mungkin terjadi bila larutan in,us bersi,at mengiritasi jaringan tubuh!
'r#mbus adalah gum"alan darah yang terbentuk dalam "embuluh darah /atau jantung0
yang umumnya disebabkan #leh melambatnya aliran atau "erubahan darah atau
"embuluh darah! Bila gum"alan darah itu beredar maka gum"alan tersebut menjadi
emb#lus, diba$a #leh aliran darah sam"ai tersangkut di "embuluh darah, menghalangi
dan mengakibatkan hambatan atau sumbatan yang disebut emb#li! Suatu hambatan da"at
sangat berbahaya tergantung "ada tem"at dan ke"arahan hambatan tersebut! Bbat#bat
yang diberikan le$at intra)ena biasanya harus beru"a larutan air, bercam"ur dengan
darah dan tidak mengenda"! +eadaan tertentu da"at menimbulkan terjadinya tr#mbus dan
kemudian menghalangi aliran darah! /Pengantar Bentuk Sediaan .armasi edisi keem"at,
H#$ard - Ansel, hal &7%0
Demam berdarah adalah suatu "enyakit in,eksi yang disebabkan )irus Dengue ti"e IIU,
disertai demam 52 hari gejalagejala "erdarahan, dan bila timbul sy#k9 angka kematian
cuku" tinggi!
Fejala dan tanda 9
8! "anas 52 hari, gejala umum tidak khas
%! "erdarahan s"#ntan /"etekie, ekim#sa, e"istaksis , derajat hematemesis, melena,
"erdarahan gusi, uterus, telinga, dll0
<! ada gejala kegagalan "eredaran darah se"erti nadi lemah dan ce"at /E 8%7?menit0,
tekanan nadi sem"it /DE
&! nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur, denyut jantung E 8&7?menit, acral
dingin, berkeringat, kulit biru
Fejala Lain 9
8! Hati membesar, nyeri s"#ntan dan "ada "erabaan
%! Asites
<! -airan dalam r#ngga "leura /kanan0
&! Ense"al#"ati9 kejang, gelisah, s#"#r, k#ma
Prinsi" "enatalaksanaan 9
8! :em"erbaiki keadaan umum
%! :encegah keadaan yang lebih "arah
<! :em"erbaiki sy#k dan "erdarahan /"en9 rehidrasi sam"ai hari ke 2, namun hatihati
"ada hari ke 6 da"at terjadi arus balik cairan intersitiel ke "embuluh darah0
INFUS IE UNTUK MEM;ERTAHANKAN KESEIMBANGAN ASAM TUBUH
Pembuatan in,us ini mengacu "ada "enggunaannya sebagai cairan in,us yang da"at
menstabilkan jumlah elektr#litelektr#lit yang sama kadarnya dalam cairan ,isi#l#gis
n#rmal, sehingga dihara"kan "asien da"at mem"ertahankan k#ndisi elektr#litnya agar
sesuai dengan batasbatas atau jumlah elektr#lit yang n#rmal "ada "lasma! Selain itu,
digunakan "engis#t#nis dekstr#sa yang dihara"kan mam"u menambah kal#ri bagi "asien
serta meningkatkan stamina karena biasanya k#ndisi "asien yang kekurangan elektr#lit
dalam keadaan lemas /sehingga "erlu diin,us0!
I#n natrium /Na=0 dalam injeksi beru"a natrium kl#rida da"at digunakan untuk
meng#bati hi"#natremia, karena kekurangan i#n tersebut da"at mencegah retensi air
sehingga da"at menyebabkan dehidrasi!
+alium kl#rida /+-l0, kalium meru"akan kati#n /"#siti,0 yang ter"enting dalam cairan
intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asambasa serta is#t#nis
sel!
I#n kalsium /-a%=0, bekerja membentuk tulang dan gigi, ber"eran dalam "r#ses
"enyembuhan luka "ada rangsangan neur#muskuler! *umlah i#n kalsium di ba$ah
k#nsentrasi n#rmal da"at menyebabkan iritabilitas dan k#n)ulsi!
I#n :agnesium /:g%=0 juga di"erlukan tubuh untuk akti)itas neur#muskuler sebagai
k#en(im "ada metab#lisme karb#hidrat dan "r#tein!
Dekstr#sa, suatu bentuk karb#hidrat yang diberikan secara "arenteral dihara"kan da"at
memberikan tambahan kal#ri yang di"erlukan untuk menambah energi "ada tubuh!
Batas k#nsentrasi n#rmal elektr#lit dalam "lasma /Steril D#sage .#rm, hal %58%5%0 9
Na= @ 8<58&5 mE>?L
+= @ <,55 mE>?L
-a%= @ 5 mE>?L
:g%= @ % mE>?L
INFUS IE UNTUK ;ENGELOLAAN LEHILRASI
Sekitar 674 berat badan manusia terdiri dari cairan! Setia" hari sekitar 8,2 liter cairan di
dalam tubuh keluar melalui urin, tinja, keringat dan "erna"asan! -airan yang keluar
tersebut akan digantikan #leh cairan yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan
minuman, yakni sebanyak < liter "erhari! *ika cairan yang keluar dai tubuh terjadi secara
berlebihan dan tidak diimbangi dengan cairan yang masuk, maka terjadilah dehidrasi
/kekurangan cairan tubuh0!
Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air "ada tubuh, karena
terjadi "engeluaran yang lebih banyak dari"ada "emasukan! Fangguan kehilangan cairan
tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan (at elektr#lit tubuh! Cat eletr#lit yang
di"erlukan tubuh terdiri dari ani#n dan kati#n antara lain Na=, +=, -a%=, SB&%, dan -l!
Dehidrasi terdiri dari 9
a! Abs#lut 9+andungan air diba$ah n#rmal atau diba$ah standar!
b! Hy"enatermic 9 +eadaan hilangnya elektr#lit lebih rendah secara dis"r#"#rsi#nal
dibandingkan dengan hilangnya air!
c! ;elati, 9 Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan #sm#tik cairan tubuh!
d! U#luntari 9 Akibat dari rasa haus yang tidak merangsang "enggantian air yang hilang
dengan cuku"!
INFUS MENGANLUNG KARBOHILRAT
+arb#hidrat meru"akan bahan bakar utama /sumber energi0 bagi tubuh yang didalam
makanan terda"at sebagai m#n#sakarida, disakarida dan "#lisakarida! Selain sumber
energi juga ber"eran "enting dalam menjaga keseimbangan asambasa, "embentukan
struktur sel, jaringan dan #rgan tubuh! Bilamana se#rang "enderita harus diberikan
makanan yang memadai teta"i tidak da"at melalui saluran cerna atau mengalami
gangguan saluran cerna se"erti diare maka sumber energi utama yakni karb#hidrat da"at
diberikan melalui in,us yang mengandung karb#hdrat!
Fluk#sa meru"akan sumber karb#hidrat yang lebih disukai dan salah satu senya$a yang
"enting didalam tubuh sebagai sumber energi!
INFUS Na BIKARBONAT UNTUK ASILOSIS METABOLIK
Asid#sis metab#lic adalah suatu keadaan dimana "H arterial bersi,at asam dan
k#nsentrasi bikarb#nat "lasma diba$ah n#rmal! Pada asid#sis metab#lic akut, "H arterial
diba$ah 2,82,% dan k#nsentrasi bikarb#nat "lasma, D3E
.armak#l#gi
Na!bikarb#nat meru"akan agen "engalkali yang berdis#siasi membentuk i#n bikarb#nat!
Bikarb#nat meru"akan k#m"#nen basa k#njugasi dari bu,,er ekstraseluler utama yang
ada di tubuh,yaitu bu,,er bikarb#natasam karb#nat! Pada k#ndisi n#rmal bu,,er ini
menjaga "H "lasma yaitu 2,<22,&%! Namun bila terjadi gangguan "ada system bu,,er ini
maka "H "lasma da"at naik atau"un turun! "H "lasma yang diba$ah n#rmal
mengindikasikan terjadinya asid#sis metab#lic! Pemberian Na!bikarb#nat akan
menigkatkan k#nsentrasi bikarb#nat "lasma dan meningkatkan "H "lasma sehingga "H
"lasma n#rmal kembali /DI %77< hal %&2%%&2<0!
INFUS ;ROTEIN
Pr#tein meru"akan makr#m#lekul yang "ada hidr#lisa hanya menghasilkan asam amin#!
Sel hidu" menghasilkan berbagai macam makr#m#lekul /"r#tein, asam nukleat dan
"#lisakarida0 yang ber,ungsi sebagai k#m"#nen struktural, bi#katalisat#r, h#rm#n,
rese"t#r dan sebagai tem"at "enyim"anan in,#rmasi genetik! :akr#m#lekul ini
meru"akan bi#"#limer yang dibentuk dari unit m#n#mer atau bahan "embangun!
Asam amin# dibagi menjadi dua bagian yaitu9
8! Asam amin# essensial yaitu asam amin# yang di"erlukan #leh tubuh teta"i tidak da"at
disintesis dalam tubuh sehingga harus di"er#leh dari luar! -#nt#h 9 Arginin, histidin,
is#leusin, lisin, meti#nin, ,enil alanin, tre#nin, tri"t#,an, dan )alin!
%! Asam amin# n#n essensial yaitu asam amin# yang da"at disintesa didalam tubuh!
-#nt#h9 Alanin, as"aragin, asam as"artat, sistein, asam glutamate, glutamin, glisin,
"r#lin, hidr#ksi"r#lin, serin, dan tir#sin!
Arginin mem"unyai ,ungsi yang sama se"erti asam amin#, yaitu meningkatkan stimulan
h#rm#n "ertumbuhan, "r#laktin, dan gluk#sa darah! Arginin da"at menambah k#nsentrasi
gluk#sa darah! E,ek ini da"at langsung ber"engaruh dari hati menjadi asam amin# yang
berkualitas!/DI hal 8<&80
INFUS IE LEKSTROSA
.armak#l#gi /DI, hal 8&%20
Dekstr#sa dengan mudah dimetab#lisme, da"at meningkatkan kadar gluk#sa darah dan
menambah kal#ri! Dekstr#sa da"at menurunkan atau mengurangi "r#tein tubuh dan
kehilangan nitr#gen, meningkatkan "embentukan glik#gen dan mengurangi atau
mencegah ket#sis jika diberikan d#sis yang cuku"! Dekstr#sa dimetab#lisme menjadi
-B% dan air, maka larutan dekstr#sa dan air da"at mengganti cairan tubuh yang hilang!
Injeksi dekstr#sa da"at juga digunakan sebagai diuresis dan )#lume "emberian
tergantung k#ndisi klinis "asien!
LARUTAN ;ENCUCI ;ALA O;ERASI LAMBUNG
Larutan irigasi adalah larutan steril, bebas "yr#gen yang digunakan untuk tujuan
"encucian dan "embilasan! S#dium +l#rida / Na-l 0 secara umum digunakan untuk
irigasi / se"erti irigasi "ada r#ngga tubuh, jaringan atau luka 0! Larutan irigasi Na-l
hi"#t#nis 7,&54 da"at digunakan sendiri atau tan"a "enambahan bahan tambahan lain!
Larutan irigasi Na-l 7,A4 da"at digunakan untuk mengatasi iritasi "ada luka! / DI %77<
hal %555 0
Larutan irigasi dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang #"erasi,
sterilisasi "ada sediaan ini sangat "enting karena cairan tersebut langsung berhubungan
dengan cairan dan jaringan tubuh yang meru"akan tem"at in,eksi da"at terjadi dengan
mudah!/ Ansel hal <AA 0
INFUS ;ENLERITA LIARE BERAT
/LB-+E ;INFE;0
L#cke J ;inger mengandung (at(at yang dibutuhkan tubuh yaitu elektr#litelektr#lit dan
karb#hidrat sesuai untuk "enderita diare berat
Digunakan n#rit, yaitu untuk menyera" "ir#gen dan mengurangi kelebihan H%B%! -ara
sterilisasi yang digunakan adalah dengan teknik #t#kla, karena bahanbahan yang
digunakan tahan "anas
Pembahasan 9 hi"ert#nis /hara" di"erhatikan laju tetesan "er menit0
INFUS UNTUK ;ENGELOLAAN METABOLIK ALKALOSIS
Alkal#sis metab#lik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena
tingginya kadar bikarb#nat! Alka#sis metab#lik terjadi jika tubuh kehilangan banyak
asam! Sebagai c#nt#h adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama "eri#de muntah
yang berke"anjangan atau bila asam lambung dised#t dengan selang lambung /se"erti
yang kadangkadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah "embedahan "erut0
Pada kasus yang jarang, alkal#sis metab#lik terjadi "ada sese#rang yang mengk#nsumsi
terlalu banyak basa dari bahanbahan se"erti s#da bikarb#nat! Selain itu, alkal#sis
metab#lik da"at terjadi bia kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak
mem"engaruhi kemam"uan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah!
Penyebab utama alkal#sis metab#lik 9
8! Penggunaan diuretik /tia(id, ,ur#semid, asam etakrinat0
%! +ehilangan asam karena muntah atau "eng#s#ngan lambung
<! +elenjar adrenal yang terlalu akti, /sindr#ma cushing atau akibat "enggunaan
k#rtik#ster#id0!
Fejala 9
8! Alkal#sis metab#lik da"at menyebabkan iritabilitas /mudah tersinggung0, #t#t berkedut
dan kejang #t#t, atau tan"a gejala sama sekali!
%! Bila terjadi alkal#sis yang berat, da"at terjadi k#ntraksi /"engerutan0 dan s"asme
/kejang0 #t#t yang berke"anjangan /tetani0!
<! Diagn#sa dilakukan "emeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam
keadaan basa!
Peng#batan 9
Biasanya alkal#sis metab#lik diatasi dengan "emberian cairan dan elektr#lit /natrium dan
kalium0
INFUS LARUTAN IRIGASI GLISIN
Larutan irigasi adalah sediaan larutan steril dalam jumlah besr! Larutan tidak disuntikkan
ke dalam )ena, ta"i digunakan di luar sistem "eredaran darah dan umumnya
menggunakan jenis tutu" yang di"utar atau "lastik yang di"atahkan, sehingga
memungkinkan "engisian larutan dengan ce"at! Larutan ini digunakan untuk merendam
atau mencuci luka%! Sayatan bedah atau jaringan tubuh dan da"at "ula mengurangi
"endarahan!
Persyaratan larutan irigasi adalah sbb 9
8! Is#t#nik
%! Steril
<! 'idak disbs#r"si
&! bukan larutan elektr#lit
5! 'idak mengalami metab#lisme
6! -e"at diekskresi
2! :em"unyai tekanan #sm#tik diuretik
3! bebas "ir#gen
Larutan irigasi glisin digunakan selama #"erasi kelenjar "r#stat dan "r#sedur transuretral
lainnya! Larutan yg digunakan untuk luka dan kateter uretra yg mengenai jaringan tubuh
hrs disterilkan dgn cara ase"tis!
INFUS IE 8G MGL NUTRISI
Fluk#sa termasuk m#n#sakarida dimana sebagian besar m#n#sakarida diba$a #leh aliran
darah ke hati! Di dalam hati, m#n#sakarida mengalami "r#ses sintetis menghasilkan
glik#gen, #ksidasi menjadi -B% dan H%B atau dile"askan untuk diba$a dengan aliran
darah ke bagian tubuh yg memerlukannya! Sebagian lain m#n#sakarida diba$a langsung
ke sel jaringan #rgan tertentu dan mengalami "r#ses metab#lisme lbh lanjut! +arena
"engaruh berbagai ,akt#r dan h#rm#n insulin yg dihasilkan #leh kelnjar "ankreas, hati
da"at mengatur kadar gluk#sa dalam darah! +adar gluk#sa dalam darah meru"akan ,akt#r
yg sgt "enting utk kelancaran kerja tubuh!
INFUS IE RINGER LAKTAT
*ika untuk mengatasi k#ndisi kekurangan )#lume darah, larutan natrium kl#rida 7,A4
8,74 menjadi kehilangan maka secara tera"eutik sebaiknya digunakan larutan ringer,
larutan ini mengandung +-l dan -a-l% disam"ing Na-l! Bebera"a larutan m#di,ikasi jg
mengandung NaH-B< maka larutan da"at disterilakan dengan "anas yang stabil!
Pengaut#kla,an larutan natrium hidr#gen karb#nat hanya di"r#ses mem"unyai
"enyaringan kuman!
Pembahasan 9 larutan ini bersi,at hi"ert#nis! Hara" di"erhatikan laju tetesan "er menit!
Laju tetesan maksimal 5 ml "er menit
INFUS IE AMMONIUM KLORILA
/PENDAHULUANNSA SA:A DENFAN AL+ALBSIS :E'ABBLI+0
Amm#nium kl#rida digunakan sebagai (!a yang da"at berkhasiat untuk "eng#batan
gangguan metab#lisme alkal#sis dalam tubuh serta menggantikan i#n kl#rida yang hilang
dalam tubuh!
INFUS IE MENGANLUNG ELEKTROLIT LAN KARBOHILRAT
1alau"un cairan in,us intra)ena yang diinginkan adalah larutan yang is#t#nis untuk
meminimalisasi trauma "ada "embuluh darah, namun cairan hi"#t#nis mau"un hi"ert#nis
da"at digunakan! Untuk meminimalisasi iritasi "embuluh darah, larutan hi"ert#nis
diberikan dalam kece"atan yang lambat!
Macam Macam Cairan Infus
Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook
Cairan Kristaloid
1. Normal Saline
Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154.
Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml.
Indikasi :
a. Resusitasi
Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium em!ulu" dara" !o#or, diikuti ole" keluarn$a molekul rotein !esar
ke komartemen interstisial, diikuti air dan elektrolit $an% !er%erak ke intertisial karena %radien osmosis.
Plasma e&ander !er%una untuk men%%anti #airan dan elektrolit $an% "ilan% ada intra'askuler.
!. (iare
)ondisi diare men$e!a!kan ke"ilan%an #airan dalam *umla" !an$ak, #airan NaCl di%unakan untuk
men%%anti #airan $an% "ilan% terse!ut.
#. +uka ,akar
-ani.estasi luka !akar adala" s$ok "io'olemik, dimana ter*adi ke"ilan%an rotein lasma atau #airan
ekstraseluler dalam *umla" !esar dari ermukaan tu!u" $an% ter!akar. /ntuk memerta"ankan #airan
dan elektrolit daat di%unakan #airan NaCl, rin%er laktat, atau dekstrosa.
d. 0a%al 0in*al 1kut
Penurunan .un%si %in*al akut men%aki!atkan ke%a%alan %in*al men*a%a "omeostasis tu!u". )eadaan ini
*u%a menin%katkan meta!olit nitro%en $aitu ureum dan kreatinin serta %an%%uan keseim!an%an #airan
dan elektrolit. Pem!erian normal saline dan %lukosa men*a%a #airan ekstra seluler dan elektrolit.
Kontraindikasi : "iertonik uterus, "ionatremia, retensi #airan. (i%unakan den%an en%a2asan ketat
ada C34, insu.isiensi renal, "iertensi, edema eri.er dan edema aru.
Adverse Reaction : edema *arin%an ada en%%unaan 'olume !esar (!iasan$a aru-aru), en%%unaan
dalam *umla" !esar men$e!a!kan akumulasi natrium.
2. Ringer Laktat (RL)
Komposisi (mmol/100ml) : Na = 150-140, ) = 4-5, Ca = 2-5, Cl = 106-110, ,asa = 27-50 m89/l.
Kemasan : 500, 1000 ml.
Cara Kerja Obat : keun%%ulan terentin% dari larutan Rin%er +aktat adala" komosisi elektrolit dan
konsentrasin$a $an% san%at serua den%an $an% dikandun% #airan ekstraseluler. Natrium meruakan
kation utama dari lasma dara" dan menentukan tekanan osmotik. )lorida meruakan anion utama di
lasma dara". )alium meruakan kation terentin% di intraseluler dan !er.un%si untuk konduksi sara. dan
otot. 8lektrolit-elektrolit ini di!utu"kan untuk men%%antikan ke"ilan%an #airan ada de"idrasi dan s$ok
"io'olemik termasuk s$ok erdara"an.
Indikasi : men%em!alikan keseim!an%an elektrolit ada keadaan de"idrasi dan s$ok "io'olemik. Rin%er
laktat men*adi kuran% disukai karena men$e!a!kan "ierkloremia dan asidosis meta!olik, karena akan
men$e!a!kan enumukan asam laktat $an% tin%%i aki!at meta!olisme anaero!.
Kontraindikasi : "iernatremia, kelainan %in*al, kerusakan sel "ati, asidosis laktat.
Adverse Reaction : edema *arin%an ada en%%unaan 'olume $an% !esar, !iasan$a aru-aru.
eringatan dan er!atian : :Not for use in the treatment of lactic acidosis:. 3ati-"ati em!erian ada
enderita edema eri.er ulmoner, heart failure/impaired renal function ; re-eklamsia.
". #ekstrosa
Komposisi : %lukosa = 50 %r/l (5<), 100 %r/l (10<), 200 %r/l (20<).
Kemasan : 100, 250, 500 ml.
Indikasi : se!a%ai #airan resusitasi ada terai intra'ena serta untuk keerluan "idrasi selama dan
sesuda" oerasi. (i!erikan ada keadaan oli%uria rin%an samai sedan% (kadar kreatinin kuran% dari 25
m%/100ml).
Kontraindikasi : 3ier%likemia.
Adverse Reaction : =n*eksi %lukosa "iertonik den%an 3 renda" daat men$e!a!kan iritasi ada
em!ulu" dara" dan trom!o.le!itis.
$. Ringer %setat (R%)
+arutan ini meruakan sala" satu #airan kristaloid $an% #uku !an$ak diteliti. +arutan R1 !er!eda dari R+
(Rin%er +aktat) dimana laktat terutama dimeta!olisme di "ati, sementara asetat dimeta!olisme terutama
di otot. >e!a%ai #airan kristaloid isotonik $an% memiliki komosisi elektrolit miri den%an lasma, R1 dan
R+ e.ekti. se!a%ai terai resusitasi asien den%an de"idrasi !erat dan s$ok, terle!i" ada kondisi $an%
disertai asidosis. -eta!olisme asetat *u%a didaatkan le!i" #eat 5-4 kali di!andin% laktat. (en%an ro.il
seerti ini, R1 memiliki man.aat-man.aat tam!a"an ada de"idrasi den%an ke"ilan%an !ikar!onat masi.
$an% ter*adi ada diare.
=ndikasi : Pen%%unaan Rin%er 1setat se!a%ai #airan resusitasi suda" se"arusn$a di!erikan ada asien
den%an %an%%uan .un%si "ati !erat seerti sirosis "ati dan asidosis laktat. 3al ini dikarenakan adan$a
laktat dalam larutan Rin%er +aktat mem!a"a$akan asien sakit !erat karena dikon'ersi dalam "ati
men*adi !ikar!onat.
Rin%er 1setat tela" tersedia luas di !er!a%ai ne%ara. Cairan ini terutama diindikasikan se!a%ai en%%anti
ke"ilan%an #airan akut (resusitasi), misaln$a ada diare, (,(, luka !akar/s$ok "emora%ik? en%%anti
#airan selama rosedur oerasi? loading #airan saat induksi anestesi re%ional? priming solution ada
tindakan intas kardioulmonal? dan *u%a diindikasikan ada stroke akut den%an komlikasi de"idrasi.
-an.aat em!erian loading #airan ada saat induksi anastesi, misaln$a ditun*ukkan ole" studi 82aldsson
dan 3a"n (2001) $an% men%analisis e.ek em!erian 550 ml R1 se#ara #eat (dalam 2aktu 2 menit)
setela" induksi anestesi umum dan sinal ter"ada arameter-arameter 'olume kinetik. >tudi ini
memerli"atkan em!erian R1 daat men#e%a" "iotensi arteri $an% dise!a!kan "io'olemia sentral,
$an% umum ter*adi setela" anestesi umum/sinal.
/ntuk kasus o!stetrik, @niAuka dkk (1666) men#o!a mem!andin%kan e.ek em!erian in.us #eat R+
den%an R1 ter"ada meta!olisme maternal dan .etal, serta keseim!an%an asam !asa ada 20 asien
$an% men*alani kom!inasi anestesi sinal dan eidural se!elum seksio sesarea. >tudi ini memerli"atkan
em!erian R1 le!i" !aik di!andin% R+ untuk ke-5 arameter di atas, karena daat memer!aiki asidosis
laktat neonatus (kondisi $an% umum ter*adi ada !a$i $an% dila"irkan dari i!u $an% men%alami eklamsia
atau re-eklamsia).
(e"idrasi dan %an%%uan "emodinamik daat ter*adi ada stroke iskemik/"emora%ik akut, se"in%%a
umumn$a ara dokter sesialis sara. men%"indari en%%unaan #airan "iotonik karena kek"a2atiran
ter"ada edema otak. Namun, 3a"n dan (ro!in (2005) memerli"atkan em!erian R1 tidak mendoron%
ter*adin$a em!en%kakan sel, karena itu daat di!erikan ada stroke akut, terutama !ila ada du%aan
ter*adin$a edema otak.
3asil studi *u%a memerli"atkan R1 daat memerta"ankan su"u tu!u" le!i" !aik di!andin% R+ se#ara
si%ni.ikan ada menit ke 5, 50, 55, dan B5, tana menim!ulkan er!edaan $an% si%ni.ikan ada
arameter-arameter "emodinamik (den$ut *antun% dan tekanan dara" sistolik-diastolik).
Tabel l. Komposisi Beberapa Cairan Kristaloid
Cairan Tonusitas
Na(mmol/l
)
Cl(mmol/l
)
K
(mmol/)
Ca
(mmol/l)
Glukosa
(mg/dl)
Laktat
(mmol/l)
Asetat
(mmol/l)
NaCl 0,9 %
308
(isotonus)
l54 l54
Saline
l54
(hipotonus
)
77 77
Dextrose 5
%
253
(hipotonus
)
5000
D5NS
56l
(hipertonu
s
l54 l54 5000
D5 NS
330
(isotonus)
38,5 38,5 5000
2/3 D & l/3
S
Hipertonus 5l 5l 3333
Ringer
Laktat
273
(isotonus)
l30 l09 4 3 28
D5 RL
273
(isotonus)
l30 l09 4 3 50 28
Ringer
Asetat
273,4
(isotonus)
l30 l09 4 3 28
Cairan Koloid
Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit menembus membran
kapiler, digunakan untuk mengganti cairan intravaskuler. Umumnya pemberian lebih kecil,
onsetnya lambat, durasinya lebih panjang, efek samping lebih banyak, dan lebih mahal.
Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga cenderung tidak keluar
dari membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah, bersifat hipertonik dan dapat
menarik cairan dari pembuluh darah. Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan volume
yang sama dengan jumlah volume plasma yang hilang. Digunakan untuk menjaga dan
meningkatkan tekanan osmose plasma.
1. Albumin
Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein 69-kDa yang
dimurnikan dari plasma manusia (cotoh: albumin 5%).
Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena : volume yang dibutuhkan
lebih kecil, efek koagulopati lebih rendah, resiko akumulasi di dalam jaringan pada penggunaan
jangka lama yang lebih kecil dibandingkan starches dan resiko terjadinya anafilaksis lebih kecil.
Indikasi :
Pen%%anti 'olume lasma atau rotein ada keadaan s$ok "io'olemia, "ioal!uminemia, atau
"ioroteinemia, oerasi, trauma, #ardioulmonar$ !$ass, "ier!iliru!inemia, %a%al %in*al akut,
an#retitis, mediasinitis, selulitis luas dan luka !akar.
Pen%%anti 'olume lasma ada 1R(> (Acute Respiratory Distress
Syndrome). Pasien den%an "ioroteinemia dan 1R(> diterai den%an al!umin dan .urosemid $an%
daat mem!erikan e.ek diuresis $an% si%ni.ikan serta enurunan !erat !adan se#ara !ersamaan.
3ioal!uminemia $an% meruakan mani.estasi dari keadaan
malnutrisi, ke!akaran, oerasi !esar, in.eksi (sesis s$ok), !er!a%ai ma#am kondisi in.lamasi, dan
ekskresi renal !erle!i".
Pada spontaneus bacterial peritonitis (>,P) $an% meruakan komlikasi dari sirosis. >irosis
mema#u ter*adin$a asites/enumukan #airan $an% meruakan media ertum!u"an $an% !aik !a%i
!akteri. Cerai anti!iotik adala" ili"an utama, sedan%kan en%%unaan al!umin ada terai terse!ut
daat men%uran%i resiko renal impairment dan kematian. 1dan$a !akteri dalam dara" daat
men$e!a!kan ter*adin$a multi organ dysfunction syndrome (-@(>), $aitu sindroma kerusakan or%an-
or%an tu!u" $an% tim!ul aki!at in.eksi lan%sun% dari !akteri.
Kontraindikasi : gagal jantung, anemia berat.
roduk : Plasbumin 20, Plasbumin 25.
!. "#$ ("%dro&%et%l $tar'(es)
Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin.
Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan permeabilitas
pembuluh darah, sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler.
Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass, dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah
operasi, hal ini terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg).
Sepsis, karena dapat meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). Penggunaan HES pada
sepsis masih terdapat perdebatan.
Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis, dimana suatu penelitian
menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena :
Cin%kat e.ikasi koloid le!i" tin%%i di!andin%kan kristaloid, disamin% itu 38> teta !isa
di%unakan untuk menam!a" 'olume lasma meskiun ter*adi kenaikan ermea!ilitas.
Pada s$ok "io'olemia dierole" inn'esti%asi !a"2a 38> dan
al!umin menun*ukkan mani.estasi edema aru $an% le!i" ke#il di!andin%kan kristaloid.
(en%an men*a%a C@P, daat men#e%a" komlikasi le!i" lan*ut
seerti asidosis re.raktori.
38> *u%a memun$ai kemamuan .armakolo%i $an% san%at
men%untun%kan ada kondisi sesis $aitu menekan la*u sirkulasi den%an men%"am!at adesi molekuler.
Sementara itu pada penelitian yang lain, disimpulkan HES tidak boleh digunakan pada sepsis
karena :
8dema aru teta ter*adi !aik setela" en%%unaan kristaloid mauun
koloid (38>), $an% mani.estasin$a men$e!a!kan kerusakan al'eoli.
38> tidak daat menin%katkan sirkulasi slan#"ni# di!andin%kan
den%an %elatin ada asien sesis den%an "io'olemia.
38> memun$ai resiko le!i" tin%%i menim!ulkan %an%%uan
koa%ulasi, 1R4, ruritus, dan liver failure. 3al ini terutama ter*adi ada asien den%an kondisi iskemik
reer.usi (#onto": translantasi %in*al).
Resiko ne.rotoksik ada 38> dua kali le!i" tin%%i di!andin%kan
den%an %elatin ada asien den%an sesis.
Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan
dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan pruritus.
Conto( : HAES steril, Expafusin.
). *e&tran
Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc
mesenteroides, yang ditumbuhkan pada media sukrosa.
Indikasi :
Penam!a" 'olume lasma ada kondisi trauma, s$ok sesis, iskemia
miokard, iskemia #ere!ral, dan en$akit 'askuler eri.er.
-emun$ai e.ek anti trom!us, mekanismen$a adala" den%an
menurunkan 'iskositas dara", dan men%"am!at a%re%asi latelet. Pada suatu enelitian dikemukakan
!a"2a de&tran-40 memun$ai e.ek anti trom!us alin% oten *ika di!andin%kan den%an %elatin dan 38>.
Kontraidikasi : pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia,
hipofibrinogenemia), tanda-tanda gagal jantung, gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria
yang parah.
Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis, dextran juga sering
dilaporkan dapat menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada
tubulus renal. Pada dosis tinggi, dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan.
Conto( : hibiron, isotic tearin, tears naturale ll, plasmafusin.
+. Gelatin
Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine.
Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan,
Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin memiliki
efek antikoagulan, namun lebih kecil dibandingkan HES.
Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium, sehingga harus dihindari
pada keadaan hiperkalsemia.
Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Pada penelitian dengan 20.000
pasien, dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan
dengan starches.
Conto( : haemacel, gelofusine.
Cairan K(usus
,ANNIT-L
*.,anitol. C/"1+-/
Indikasi
Menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi karena edema serebral, meningkatkan diuresis
pada pencegahan dan/atau pengobatan oliguria yang disebabkan gagal ginjal, menurunkan
tekanan intraokular, meningkatkan ekskresi uriner senyawa toksik, sebagai larutan irigasi
genitouriner pada operasi prostat atau operasi transuretral.
ASERING
I5+,a6+N
Dehidrasi /sy#k hi"#)#lemik dan asid#sis0 "ada k#ndisi9 gastr#enteritis akut, demam berdarah dengue
/DH.0, luka bakar, sy#k hem#ragik, dehidrasi berat, trauma!
K<1/<6+6+N
Setia" liter asering mengandung9
[ Na 8<7 mE>
[ + & mE>
[ -l 87A mE>
[ -a < mE>
[ Asetat /garam0 %3 mE>
Keu99ulaN
[ Asetat dimetab#lisme di #t#t, dan masih da"at dit#lelir "ada "asien yang mengalami gangguan hati
[ Pada "emberian sebelum #"erasi sesar, ;A mengatasi asid#sis laktat lebih baik dibanding ;L "ada
ne#natus
[ Pada kasus bedah, asetat da"at mem"ertahankan suhu tubuh sentral "ada anestesi dengan is#,luran
[ :em"unyai e,ek )as#dilat#r
[ Pada kasus str#ke akut, "enambahan :gSB& %7 4 sebanyak 87 ml "ada 8777 ml ;A, da"at meningkatkan
t#nisitas larutan in,us sehingga mem"erkecil risik# mem"erburuk edema serebral
KA-EN 1B
I5+,a6+N
[ Sebagai larutan a$al bila status elektr#lit "asien belum diketahui, misal "ada kasus emergensi /dehidrasi
karena asu"an #ral tidak memadai, demam0
[ DE
[ D#sis la(im 5778777 ml untuk sekali "emberian secara IU! +ece"atan sebaiknya <77577 ml?jam
/de$asa0 dan 57877 ml?jam "ada anakanak
[ Bayi "rematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 877 ml?jam
K<1/<6+6+ N
'ia" 8777 ml isi mengandung
s#dium kl#rida %,%5 g
anhidr#sa dekstr#s <2,5 g!
Elektr#lit /me>?L0 9
a! Na= <3,5
b! -l <3,5
c! Fluk#sa <2,5 g?L!
d! kcal?L 9 857
KA-EN (A O KA-EN (B
I5+,a6+N
[ Larutan rumatan nasi#nal untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektr#lit dengan kandungan kalium
cuku" untuk mengganti ekskresi harian, "ada keadaan asu"an #ral terbatas
[ ;umatan untuk kasus "asca #"erasi /E %&&3 jam0
[ :ensu"lai kalium sebesar 87 mE>?L untuk +AEN <A
[ :ensu"lai kalium sebesar %7 mE>?L untuk +AEN <B
K<1/+6+6+ N
KA-EN (A
'ia" liter isi mengandung
s#dium kl#rida %,<& g
"#tassium kl#rida 7,25 g, s#dium laktat %,%& g
anhydr#us dekstr#s %2 g!
Elektr#lit /mE>?L0
a! Na= 67
b! += 87
c! -l 57
d! laktat %7
e! gluk#sa 9 %2 g?L!
,! kcal?L 9 873
KA-EN (B
'ia" liter isi mengandung
s#dium kl#rida 8,25g,
"tasium kl#rida 8,5g,
s#dium laktat %,%&g,
anhydr#us dekstr#s %2g!
Elektr#lit /mE>?L0 9
a! Na= 57,
b! += %7,
c! -l 57,
d! laktat %7,
e! gluk#sa %2 g?L!
,! kcal?L! 873
KA-EN MG(
I5+,a6+ N
[ Larutan rumatan nasi#nal untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektr#lit dengan kandungan kalium
cuku" untuk mengganti ekskresi harian, "ada keadaan asu"an #ral terbatas
[ ;umatan untuk kasus "asca #"erasi /E %&&3 jam0
[ :ensu"lai kalium %7 mE>?L
[ ;umatan untuk kasus dimana su"lemen NP- dibutuhkan &77 kcal?L
K<1/<6+6+ N
'ia" liter isi mengandung bahan 9
s#dium kl#rida 8,25g,
"#tassium kl#rida 8,5g,
s#dium laktat %,%&g,
anhydr#us dekstr#s 877g!
Elektr#lit /mE>?L0 9
A! Na= 57,
B! += %7,
-! -l 57,
D! laktat %7,
E! gluk#sa 877 g?LN
.! kcal?L9 &77
KA-EN 'A
I5+,a6+ N
[ :eru"akan larutan in,us rumatan untuk bayi dan anak
[ 'an"a kandungan kalium, sehingga da"at diberikan "ada "asien dengan berbagai kadar k#nsentrasi kalium
serum n#rmal
[ 'e"at digunakan untuk dehidrasi hi"ert#nik
K<1/<6+6+ (/e0 1000 1l)N
[ Na <7 mE>?L
[ + 7 mE>?L
[ -l %7 mE>?L
[ Laktat 87 mE>?L
[ Fluk#sa &7 gr?L
KA-EN 'B
I5+,a6+N
[ :eru"akan larutan in,us rumatan untuk bayi dan anak usia kurang < tahun
[ :ensu"lai 3 mE>?L kalium "ada "asien sehingga meminimalkan risik# hi"#kalemia
[ 'e"at digunakan untuk dehidrasi hi"ert#nik
K<1/<6+6+N
[ Na <7 mE>?L
[ + 3 mE>?L
[ -l %3 mE>?L
[ Laktat 87 mE>?L
[ Fluk#sa <2,5 gr?L
O)6u-NS
I5+,a6+N
[ Untuk resusitasi
[ +ehilangan Na E -l, misal diare
[ Sindr#m yang berkaitan dengan kehilangan natrium /asid#sis diabetikum, insu,isiensi adren#k#rtikal, luka
bakar0
:engandung elektr#lit mE>?L
[ Na
=
@ 85&
[ -l

@ 85&
O)6u-RL
Indikasi9
[ ;esusitasi
[ Su"lai i#n bikarb#nat
[ Asid#sis metab#lik
:engandung elektr#lit mE>?L
[ Na
=
@ 8<7
[ -l

@ 873!2
[ +
=
@ &
[ -a
==
@ %!2
[ Laktat @ %3
MARTOS-10
I5+,a6+N
[ Su"lai air dan karb#hidrat secara "arenteral "ada "enderita diabetik
[ +eadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eks#gen se"erti tum#r, in,eksi berat, stres berat dan
de,isiensi "r#tein
[ D#sis9 7,< gr?kg BB?jam
[ :engandung &77 kcal?L
AMI;AREN
Indikasi9
[ Stres metab#lik berat
[ Luka bakar
[ In,eksi berat
[ +$asi#k#r
[ Pasca #"erasi
[ '#tal Parenteral Nutriti#n
[ D#sis de$asa 877 ml selama 67 menit
K<1/<6+6+
Setia" liter Ami"aren isi mengandung
Lleucine 8&g,
Lis#leucine 3g,
L)aline 3g,
lysine acetate 8&,3g /Llysine e>ui)alent 87,5g0,
Lthre#nine 5,2g,
Ltry"t#"han %g,
Lmethi#nine <,Ag,
L"henylalanine 2g,
Lcysteine 8g,
Ltyr#sine 7,5g,
Larginine 87,5g,
Lhistidine 5g,
Lalanine 3g,
L"r#line 5g,
Lserine <g,
amin#acetic acid 5,Ag,
Las"artic acid <7 $?$4,
t#tal nitr#gen 85,2g,
s#dium kurang lebih % mE>,
acetate kirakira 8%%7 mE>!
S#dium bisul,it ditambahkan sebagai stabilisat#r!
AMINOEEL-&00
I5+,a6+N
[ Nutrisi tambahan "ada gangguan saluran FI
[ Penderita FI yang di"uasakan
[ +ebutuhan metab#lik yang meningkat /misal luka bakar, trauma dan "asca #"erasi0
[ Stres metab#lik sedang
[ D#sis de$asa 577 ml selama &6 jam /%7<7 t"m0
K<1/<6+6+ N
'ia" liter Amin#)el 677 berisi
amin# acid /L,#rm0 57g,
Ds#rbit#l 877g,
asc#rbic acid &77mg,
in#sit#l 577mg,
nic#tinamide 67mg,
"yrid#Iine H-l &7mg,
rib#,la)in s#dium "h#s"hate %,5mg,
Elektr#lit 9
a! S#dium <5 mE>,
b! "#tassium %5 mE>,
c! magnesium 5 mE>,
d! acetate <5 mE>,
e! maleate %% mE>,
,! chl#ride <3 mE>!
Setia" 57g asam amin# berisi 9
a! Lis#leucine <,%gram,
b! Lleucine %,&g,
c! Llysine /calculated as base0 %g,
d! Lmethi#nine <g,
e! L"henylalanine &g,
,! Lthre#nine %g,
g! Ltry"t#"han 8g,
h! L)aline <,%g,
i! Larginine /calculated as base0 6,%g,
j! Lhistidine /calculated as base0 8g,
k! Lalanine 6g,
l! glycine 8&g,
m! L"r#line %g
;AN-AMIN G
I5+,a6+N
[ Su"lai asam amin# "ada hi"#natremia dan stres metab#lik ringan
[ Nutrisi dini "asca #"erasi
[ 'i,#id
K<1/<6+6+
'ia" liter in,use mengandung
Larginine H-l %,2g,
Lhistidine H-l H%B 8,<g,
Lis#leucine 8,3g,
Lleucine &,8g,
Llysine H-l 6,%g,
Lmethi#nine %,&g,
L"henyilalanine %,Ag,
Lthre#nine 8,3g,
Ltry"t#"hane 7,6g,
L)aline %g,
glycine <,&g,
Ds#rbit#l 57g
air!
TUTOFUSIN O;S
;e0 l+)e0 N
- Natrium 877 mE>,
+alium 83 mE>,
+alsium & mE>,
:agnesium 6 mEg,
+l#rida A7 mE>,
Asetat <3 mE>,
S#rbit#l 57 gram!
I5+,a6+ N
# Air \ elektr#lit yang dibutuhkan "ada ,ase sebelum, selama, \ sesudah #"erasi!
B :emenuhi kebutuhan air dan elektr#lit selama masa "ra #"erasi, intra #"erasi dan "asca #"erasi
B :emenuhi kebutuhan air dan elektr#lit "ada keadaan dehidrasi is#t#nik dan kehilangan cairan
intraselular
# :emenuhi kebutuhan karb#hidrat secara "arsial
K<)0a+5+,a6+ N
B Insu,isiensi ginjal
B int#leransi .rukt#sa \ S#rbit#l
B kekurangan .rukt#sa86di,#s,ate
B keracunan :etil alk#h#l!
Ha)+-*a)+ /a5a N
B Penyakit ginjal atau jantung
B retensi cairan
B hi"ernatremia!
htt"9??micymicy!bl#gs"#t!c#m?%788?7<?cairanin,usk#m"#sisiindikasi!html
Writer Fandri Lekiawan at 9/23/20l2 07:38:00 AM
Senin, 16 Februari 2009
LARUTAN INFUS ( Ringer La!a!, Ringer Ase!a! "an Amin#f$ui" %
Mata Kuliah : Kimia Terapan
Dosen : DR Mudjiyono
Suma'iyah
S83020802l/lPA/Psains
0A0 I
#N*A"1L1AN
Obat ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi
merupakan ilmu yang luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi
tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis dan
pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan
berbagai gejala penyakit.
Farmakologi mencakup pengetahuan tentang sejarah, sumber, sifat kimia dan fisik, komposisi,
efek fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja, absorpsi, distribusi, biotransformasi ekskresi dan
penggunaan obat. Namun dengan berkembangnya pengetahuan, beberapa bidang ilmu
tersebut telah berkembang menjadi cabang ilmu tersendiri, misal :
l. Farmakognosi, ialah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari sifat-sifat tumbuhan dan
bahan lain yang merupakan sumber obat.
2. Farmasi ialah ilmu yang mempelajari cara membuat, memformulasikan, menyimpan dan
menyediakan obat.
3. Farmakologi klinik ialah cabang farmakologi yang mempelajari efek obat pada manusia.
Berbagai aspek dalam studi obat pada manusia tercakup dalam cabang ilmu ini dengan
tujuan mendapatkan dasar ilmiah untuk penggunaan obat. Untuk mempelajari pengaruh
obat pada manusia, obat dicobakan dulu pada hewan dan dipelajari efeknya dalam
farmakologi eksperimental.
4. Farmakokinetik ialah aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh yaitu
absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresinya.
5. Farmakodinamik mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ tubuh
serta mekanisme kerjanya.
6. Farmakoterapi ialah cabang ilmu yang berhubungan dengan penggunaan obat dalam
pencegahan dan pengobatan penyakit.
7. Toksikologi ialah ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia.
Dehidrasi dan gangguan kemodinamik dapat terjadi pada hemoragik akut / stroke iskemik.
Selain itu dehidrasi sering terjadi pada pasien diare, DBD, dan luka bakar. Untuk
menyeimbangkan cairan dalam tubuh pasien maka diperlukan infus atau cairan pengganti
cairan yang hilang (resusitasi).
Berbagai macam cairan yang dianggap sebagai terapi pendukung yang penting untuk pasien
diatas adalah larutan / cairan normal saline, ringer asetat, ringer laktat, aminofluid dan larutan
maintenance lain (KAEN 3B )
0A0 II
LAN*A$AN T#-2I
A. PEMBERlAN SECARA SUNTlKAN
Keuntungan pemberian obat secara suntikan (parenteral) ialah: (l) efeknya timbul lebih cepat
dan teratur dibandingkan dengan pemberian per oral; (2) dapat diberikan pada penderita yang
tidak kooperatif, tidak sadar, atau muntah-muntah; dan (3) sangat berguna dalam keadaan
darurat. Kerugiannya ialah dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, ada bahaya
penularan hepatitis serum, sukar dilakukan sendiri oleh penderita, dan tidak ekonomis.
Pemberian intra3ena (lV) tidak mengalami tahap absorpsi, maka kadar obat dalam darah
diperoleh secara cepat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respons penderita.
Larutan tertentu yang iritatif hanya dapat diberikan dengan cara ini karena dinding pembuluh
darah relatif tidak sensitif dan bila disuntikkan perlahan-lahan, obat segera diencerkan oleh
darah. Kerugiannya ialah efek toksik mudah terjadi karena kadar obat yang tinggi segera
mencapai darah dan jaringan. Di samping itu, obat yang disuntikkan lV tidak dapat ditarik
kembali. Obat dalam larutan minyak yang mengendapkan konstituen darah, dan yang
menyebabkan hemolisis, tidak boleh diberikan dengan cara ini. Penyuntikan lV harus dilakukan
perlahan-lahan sambil terus mengawasi respons penderita.
Suntikan subkutan (SK) hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi
jaringan. Absorpsi biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan
lama. Obat dalam bentuk suspensi diserap lebih lambat daripada dalam bentuk larutan.
Pencampuran obat dengan vasokonstriktor juga akan memperlambat absorpsi obat tersebut.
Obat dalam bentuk padat yang ditanamkan di bawah kulit dapat diabsorpsi selama beberapa
minggu atau beberapa bulan.
3
Pada suntikan intramuskular (lM), kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan
kelengkapan absorpsi. Obat yang sukar larut dalam air pada pH fisiologik misalnya digoksin,
fenitoin, dan diazepam akan mengendap di tempat suntikan sehingga absorpsinya berjalan
lambat, tidak lengkap, dan tidak teratur. Obat yang larut dalam air diserap cukup cepat,
tergantung dari aliran darah di tempat suntikan. Absorpsi lebih cepat di deltoid atau vastus
lateralis daripada di gluteus maksimus. Obat-obat dalam larutan minyak atau bentuksuspensi
akan diabsorpsi dengan sangat lambat dan konstan (suntikan depot), misalnya penisilin. Obat
yang terlalu iritatif untuk disuntikan secara SK kadang-kadang dapat diberikan secara lM.
$untikan intratekal, yakni suntikan langsung ke dalam ruang subaraknoid spinal, dilakukan
bila diinginkan efek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu serebrospinal,
seperti pada anestesia spinal atau pengobatan infeksi SSP yang akut.
Suntikan Intraperitoneal tidak dilakukan pada manusia karena bahaya infeksi dan adesi terlalu
besar.
B. FARMAKOKlNETlK
Obay yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami
absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek.
Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses
ini disebut proses 4armakokinetik dan berjalan serentak seperti yang terlihat pada gambar l.l.
Gambar l-l. Berbagai proses farmakokinetik obat
Di tubuh manusia, obat harus menembus sa5ar (barrier) sel di berbagai jaringan. Pada
umumnya obat melintasi lapisan sel ini dengan menembusnya, bukan dengan melewati celah
antar sel, kecuali pada endotel kapiler. Karena itu peristiwa terpenting dalam proses
farmakokinetik ialah transport lintas membran.
,embran sel terdiri dari dua lapis lemak yang membentuk fase hidrolik di kedua sisi membran
dan fase hidrofobik diantaranya. Molekul-molekul protein yang tertanam di kedua sisi membran
atau menembus membran berupa mozaik pada membran. Molekul-molekul protein ini
membentuk kanal hidrofilik untuk transfort air dan molekul kecil lainnya yang larut dalam air.
Cara-cara transport obat lintas membran yang terpenting ialah difusi pasif dan transport aktif;
yang terakhir melibatkan komponen-komponen membran sel dan membutuhkan energi. Sifat
4isiko.kimia obat yang menentukan cara transport ialah bentuk dan ukuran molekul, kelarutan
dalam air, derajat ionisasi dan kelarutan dalam lemak.
Umumnya absorpsi dan distribusi obat terjadi secara di4usi pasi4. Mula-mula obat harus berada
dalam larutan air pada permukaan membran sel, kemudian molekul obat akan melintasi
membran dengan melarut dalam lemak membran. Pada proses ini, obat bergerak dari sisi yang
kadarnya lebih tinggi ke sisi lain. Setelah taraf mantap (steadystate) dicapai, kadar obat bentuk
non-ion di kedua sisi membran akan sama.
Kebanyakan obat berupa elektrolit lema( yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam larutan,
elektrolit lemah ini akan terionisasi. Derajat ionisasi ini tergantung dari pKa rendah berarti relatif
kuat, sedangkan untuk obat basa, pKa tinggi yang relatif kuat. Bentuk non-ion umumnya larut
baik dalam lemak sehingga mudah berdifusi melintasi membran karena sukar larut dalam
lemak. Pada taraf mantap, kadar obat bentuk non-ion saja yang sama bentuk ionnya tergantung
dari perbedaan pH di kedua sisi membran.
Membran sel merupakan membran semipermiabel, artinya hanya dapat dirembesi air dan
molekul-molekul kecil. Air berdifusi atau mengalir melalui kanal (idro4ilik pada membran akibat
perbedaan takanan hidrostatik maupun tekanan osmotik. Bersama aliran air akan terbawa zat-
zat terlarut bukan ion yang berat molekulnya kurang dari l00-200 misalnya urea, etanol, dan
antipirin. Meskipun berat atomnya kecil, ion anorganik ukurannya membesar karena mengikat
air sehingga tidak dapat melewati kanal hidrofilik bersama air. Kini telah ditemukan kanal
selektif untuk ion-ion Na, K, Ca.
Transport obat melintasi endotel kapiler terutama melalui celah-celah antarsel, kecuali di
susunan saraf pusat (SSP). Celah antarsel endotel kapiler demikian besarnya sehingga dapat
meloloskan semua molekul yang berat molekulnya kurang dari 69.000 (BM albumin), yaitu
semua obat bebas, termasuk yang tidak larut dalam lemak dan bentuk ion sekalipun. Proses ini
berperan dalam absorpsi obat setalah pemberian parenteral dan dalam filtrasi lewat membran
glomerulus di ginjal.
inositosis ialah cara transport dengan membentuk vesikal, misalnya untuk makromolekul
seperti protein. Jumlah obat yang diangkut dengan cara ini sangat sedikit.
Transport obat se'ara akti4 biasanya terjadi pada sel saraf, hati, dan tubuli ginjal.
Proses ini membutuhkan energi yang diperoleh daria aktivitas membran sendiri, sehingga zat
dapat bergerak melawan perbedaan kadar atau potensial listrik. Selain dapat dihambat secara
kompetitif, transport aktif ini bersifat selektif dan memperlihatkan kapasitas maksimal (dapat
mengalami kejenuhan). Beberapa obat bekerja mempengaruhi transport aktif zat-zat endogen,
dan transport aktif suatu obat dapat pula dipengaruhi oleh obat lain.
*i4usi ter4asilitasi (Facilitated diffusion) ialah suatu proses transport yang terjadi dengan
bantuan suatu faktor pembawa (carrier) yang merupakan komponen membran sel tanpa
menggunakan energi sehingga tidak dapat melawan perbedaan kadar maupun potensial listrik.
Proses ini, yang juga bersifat selektif, terjadi pada zat endogen yang transportnya secara difusi
biasa terlalu lambat, misalnya untuk masuknya glukosa ke dalam sel perifer.
Pemberian infus pada pasien diberikan apabila rehidrasi oral, tidak mungkin dilakukan
pemberian infus tergantung pada usia, berat badan, dan keadaan klinis penderita (lkatan
Sarjana Farmasi lndonesia, 2007. lnformasi Spesialite Obat (lSO) lndonesia, PT. lkrar Mandiri
Abadi, Jakarta).
Sampai saat ini masih banyak persepsi diantara para klinis terhadap terapi cairan, antara lain:
l. RL & mp; Normal saline yang sebenarnya merupakan cairan pengganti, digunakan juga
untuk indikasi Maintenance secara luas.
2. Memberikan 2 L D5 / hari dianggap wajar-wajar saja. Banyak dokter yang tidak mengetahui
bahwa D5 tersebut sebenarnya hanya air bebas dan bisa mengakibatkan atau memperberat
hiponatremia.
3. Hipokalemia lebih mudah diatasi dibandingkan dicegah.
4. Semua cairan yang mengandung asam amino dan glukosa adalah produk nutrisi.
5. Pasien yang terlihat kurus dengan BMl (body mass index) rendah dianggap memerlukan
tinggi kalori dan protein, padahal sebelum sakitpun sering pasien sudah berada dalam
keadaan homeostasis dengan asupan rendah BMl = BODY MASS lNDEX (BB [KG] : TB
[MEMBRAN]2 (NORMAL: 20-24)).
0A0 III
ANALI$I$ ,A$ALA"
A. lNFUS KONTlNYU DAN DOSlS BERULANG
Pada pemberian infus yang kontinyu atau dosis berulang, akan terjadi peningkatan kadar obat
(akumulasi) sampai tercapai keadaan mantap (steady state), di mana kadar obat tidak lagi
meningkat (stabil) karena kecepatan eliminasi obat oleh tubuh telah menyamai kecepatan
masuknya obat ke dalam tubuh.
Kadar mantap atau kadar steady state (C$$) dicapai setelah 4-5 x waktu paruh obat.
tSS = 4 5 x t
t90%SS = 3.3 x t
IN61$ K-NTIN71. CSS dicapai ketika kecepatan eliminasi obat oleh tubuh (Cl) telah menyamai
kecepatan masuknya obat ke dalam tubuh (kecepatan infus).
*osis a5al (Loading dose = DL) ialah dosis yang dimaksudkan untuk langsung mencapai CSS
(CSS adalah kadar terapi = Cther)
DL = Css,max x Vd (lV)
Vd
= Css,max x (oral)
F
DOSlS BERULANG
(l) lntravena :
(2)
Oral :
DL biasanya diberikan untuk obat-obat yang t nya relatif terlalu panjang dibandingkan dengan
waktu yang diinginkan untuk mencapai kadar terapi, misalnya :
- tetrasikan (t - ll jam)
- digoksin (t - 36 jam), tetapi digitalisasi biasanya dibagi dalam 34 dosis yang diberikan
selama l-2 hari.
- lidokain (t - l jam) untuk aritmia setelah infark miokard.
Inter3al dosis (T). Dari segi farmakokinetik, T yang rasional untuk kebanyakan obat sama
dengan t eliminasi obat yang bersangkutan, dengan demikian kadarnya berfluktuasi 2 x lipat
(Css,max = 2 x Css,min).Obat dengan t yang pendek dapat diberikan dengan T beberapa kali t
nya bila obatnya cukup aman untuk diberikan dalam dosis yang jauh lebih besar dari yang
dibutuhkan untuk menimbulkan efek terapinya (misalnya penisilin G). Akan tetapi bila batas
keamanannya sempit, mungkin obat tidak dapat diberikan dengan T lebih besar dari t nya
karena kemungkinan fluktuasi kadarnya akan melampaui batas-batas kadar terapinya (misalnya
teofilin). Obat dengan t yang lebih dari l hari, biasanya diberikan sekali sehari untuk
memudahkan pemberiannya (misalnya fenobarbital, digoksin). Difenilhidantoin yang
mempunyai t - l hari sebenarnya tidak perlu diberikan 3 x sehari tapi cukup l x sehari. Tetapi
pemberian dalam dosis terbagi mungkin dimaksudkan untuk mengurangi iritasi lambung.
B. RlNGER LAKTAT
Larutan lnfus Untuk Pemakaian lntravena.
Setiap liter larutan mengandung :
- Natrium Laktat. C3H5NaO3 3,l0 g
- Natrium Klorida. NaCl 6,00 g
- Kalium Klorida.KCl 0,30 g
- Kalsium Klorida.CaCl2.2H2O 0,20 g
- Air untuk lnjeksi ad. l.000 ml
Osmolaritas : 270 mOsm/l
Setara dengan ion-ion :
Na
+
: l30 mEq/l
K
+
: 4 mEq/l
Laktat (HCO3
-
) : 27,5 mEq/l
Ca
++
: 2,7 mEq/l
Cl : l09,5 mEq/l
Cara kerja obat :
- Merupakan larutan isotoni Natrium Klorida, Kalium Klorida, Kalsium Klorida, dan Natrium
Laktat yang komposisinya mirip dengan cairan ekstraseluler.
- Merupakan cairan pengganti pada kasus-kasus kehilangan cairan ekstraselular.
- Merupakan larutan non-koloid, mengandung ion-ion yang terdistribusi kedalam cairan
intravaskuler dan interststel (ekstravaskuler)
lndikasi : Untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi.
Cara pemberian : lntravena
Disesuaikan dengan kondisi penderita
Kontra indikasi : Hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati,
asidosis laktat.
Efek samping :
- Reaksi-reaksi yang mungkin terjadi karena larutannya atau cara pemberiannya termasuk
timbulnya panas, infeksi pada tempat penyuntikan, trombosis vena atau flebitis yang
meluas dari tempat penyuntikan, ekstravasasi.
- Bila terjadi rekasi efek samping, pemakaian harus dihentikan dan lakukan evaluasi
terhadap penderita.
Peringatan : Jangan dicampur dengan larutan yang mengandung fosfat.
Cara penyimpanan: Pada suhu kamar / ruangan antara 25
o
C 30
o
C.
a. Kalsium
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak didapatkan di dalam tubuh, untuk absorpsinya
diperlukan vitamin D. Kebutuhan kalsium meningkat pada masa pertumbuhan, selama laktasi
dan pada wanita pascamenopause. Bayi yang mendapat susu buatan memerlukan tambahan
kalsium. Selain itu asupan kalsium juga perlu ditingkatkan bila makanan banyak mengandung
protein dan atau fospor. Banyak peneliti yang menganjurkan asupan sekitar l,2 g/hari untuk
pasien alkoholik, sindrom malabsorpsi dan pasien-pasien yang mendapat kortikosteroid,
isoniazid, tetrasiklin atau antasid yang mengandung aluminium.
b. Kalium
Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan natrium (kation utama dalam
cairan ekstrasel) mengatur kepekaan sel, konduksi impuls saraf dan keseimbangan dan volume
cairan tubuh.
Meskipun defisiensi jarang terjadi pada individu yang mendapat makanan yang cukup,
hipokalemia dapat terjadi pada anak-anak yang makanannya tidak mengandung protein.
Penyebab hipokalemia yang paling sering adalah terapi diuretik terutama tiazid. Lain penyebab
hipokalemia adalah diare berkepanjangan terutama pada anak, hiperal dosteronisme, tetapi
cairan parenteral yang tidak tepat atau tidak mencukupi, penggunaan kortikosteroid atau laksan
jangka lama. Aritmia jantung dan gangguan neuromuskular merupakan akibat hipokalemia yang
paling berbahaya.
Hiperkalemia paling sering disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh ginjal yang dapat terjadi
pada pasien dengan insufisiensi korteks adrenal, gagal ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal,
suplementasi vitamin K yang tidak sesuai dosis atau indikasinya, atau penggunaan antagonis
aldosteron. Aritmia jantung dan gangguan konduksi merupakan gejala sisa yang paling
berbahaya. Lain manifestasi hiperkalemia termasuk kelemahan dan parestesia.
c. Natrium
Natrium penting untuk membantu mempertahankan volume dan keseimbangan cairan tubuh.
kadarnya dalam cairan tubuh diatur oleh mekanismer homeostatik. Banyak individu
mengkonsumsi natrium lebih dari yang dibutuhkan. Pembatasan natrium seringkali dianjurkan
pada pasien gagal jantung kongesif, sirosis hati dan hipertensi pada individu tertentu. Akan
tetapi pembatasan natrium pada wanita sehat selama kehamilan tidak dianjurkan.
Hipernatremia jarang ditemui pada individu sehat tetapi pada terjadi setelah diare atau muntah
yang lama terutama pada bayi, pada gangguan ginjal, fibrosiskistik atau insufisiensi korteks
adrenal, atau pada penggunaan diuretik tlazid. Keringat yang berlebihan dapat mengakibatkan
kehilangan natrium yang banyak dan perlu diganti dalam bentuk air dan NaCl.
d. Klorida
Klorida merupakan anion yang paling penting dalam mempertahankan keseimbangan elektrolit.
Alkalosis metabolik hipokloremik dapat terjadi setelah muntah yang lama atau penggunaan
diuretik berlebihan. Kehilangan klorida berlebihan dapat menyertai kehilangan berlebihan
natrium. Kemungkinan terjadinya hiperkalemia perlu dipertimbangkan bila terpaksa
menggunakan KCl sebagai pengganti klorida yang hilang.
C. RlNGER ASETAT (ASERlNG)
Mencegah hipotermia Perioperatif Sectio
Larutan Ringer Asetat (RA) merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak diteliti.
Larutan RA berbeda dari RL (Ringer Laktat), dimana laktat terutama dimetabolisme di hati
sementara asetat dimetabolisme terutama di otot. Sebagai cairan kristaloid isotonik yang
memiliki komposisi elektrolit mirip dengan plasma, RA dan RL efektif sebagai terapi resusitasi
pasien dengan dehidrasi berat dan syok, terlebih pada kondisi yang disertai asidosis.
Metabolisme asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali dibanding laktat. Dengan profil seperti
ini, RA memiliki manfaat-manfaat telah tersedia pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat
masif yang terjadi pada diare.
Ringer Asetat telah tersedia luas di berbahai negara. Cairan ini terutama diindikasikan sebagai
pengganti kehilangan cairan akut (resusitasi), misalnya pada diare, DBD, luka bakar/syok
hemoragik; pengganti cairan selama prosedur operasi, loading cairan saat induksi anastesi
regional; priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal; dan juga diindikasikan pada
stroke akut dengan komplikasi dehidrasi.
Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi, misalnya ditunjukkan oleh studi
Ewaldsson dan Hahn (200l) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA secara cepat
(dalam waktu 2 menit) setelah induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameter-
parameter volume kinetik. Studi ini memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah hipotensi
arteri yang disebabkan hipovolemia sentral yang umum terjadi setelah anestesi umum/spinal.
Untuk kasus obstetrik, Onizuka dkk (l999) mencoba membandingkan efek pemberian infus
cepat RL dengan RA terhadap metabolisme maternal dan fetal, serta keseimbangan asam basa
pada 20 pasien yang menjalani kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio
sesarea. Studi ini memperlihatkan pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3 parameter
diatas, karena dapat memperbaiki asidosis laktat neonatus (kondisi yang umum terjadi pada
bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami eklampsia atau pre-eklampsia).
Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke eskemik/hemoragik akut,
sehingga umumnya para dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan hipotonik
karena kekhawatiran akan edema otak. Namun, Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan
pemberian RA tidak mendorong terjadinya pembengkakan sel, karena itu dapat diberikan pada
stroke akut, terutama bila ada dugaan edema otak.
Pada l7 Pebruari 2006 diselenggarakan simposium mengenai RA ini yang merupakan bagian
dari The 3
rd
Annual Meeting of Indonesia Society of Obstetic Anesthesia Indonesian Society
of Regional Anesthesia and Pain Medicine in Conjunction ith Recent Ad!ances in Anesthesia
Symposium di Grand Melia Hotel, Jakarta.
Dr. Susilo Chandra SpAn dari Departemen Anastesi dan Terapi lntensif FKUl/RSCM
memaparkan hasil studi komparatif penggunaan RA (ASERlNG) dan RL pada pasien sectio
cesarean dengan Subarachnoid Anasthesia.
Sebanyak 40 wanita dialokasikan menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang menerima RA
dan kelompok RL. Sebelum induksi, masing-masing kelompok mendapat 3 ml/kg/jam. Segera
setelah induksi anestesi subarachnoid, diberikan cairan yang sama sesuai kelompoknya namun
dengan kecepatan bolus 500 ml dalam 30 menit. Tanda-tanda vital, suhu timpani, suhu aksila
dan pengobatan yang diberikan dicatat, baik pada baseline maupun setiap 5 menit sesudahnya.
Dari data penelitian didapatkan bahwa parameter hemodinamik pada intra dan postoperative
tidak berbeda bermakna. lni sekaligus membuktikan bahwa kristaloid cukup efektif untuk
mengatasi hipotensi akibat induksi anestesi regional dan tidak satupun pasien sampai
memerlukan cairan koloid yang harganya >20 kali lebih tinggi daripada kristaloid.
Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh lebih baik dibanding
RL secara signifikan pada menit ke 5, 50, 55, dan 65, tanpa menimbulkan perbedaan yang
signifikan pada parameter-parameter hemodinamik (antara lain denyut jantung dan tekanan
darah sistolik/diastolik) diantara 2 kelompok.
Untuk insiden dan derajat menggigil, kelompok RA juga diperlihatkan mengalami insiden
menggigil yang lebih sedikit dibandingkan kelompok RL sampai dengan menit ke 25 (p<0,05),
p="0,029).
D. PARADlGMA BARU DALAM TERAPl CAlRAN MAlNTENANCE
Terapi cairan Maintenance bisa dianggap sebagai salah satu terapi pendukung yang penting
bagi pasien rawat-inap. Jika tujuan terapi cairan resusitasi adalah memperbaiki gangguan
hemodinamik, maka tujuan terapi cairan Maintenance adalah memelihara homeostasis pada
pasien yang kurang asupan cairan per oral. Jadi, laju dan jenis cairan infus untuk kedua indikasi
itu berbeda. Untuk resusitasi digunakan "cairan pengganti" seperti normal saline, ringer
asetat/ringer laktat yang bersifat isotonik. Diberikan dengan jumlah besar dan kecepatan tinggi
(20-30 ml/kg/jam) cairan ini digunakan pada keadaan emergensi untuk menggantikan
kehilangan akut. Pada keadaan-keadaan tertentu, cairan pengganti bisa juga digunakan untuk
Maintenance, khususnya jika didapatkan hiponatremia (kadar Na+ <>+ per L. Produk-produk
siap pakai juga sudah lama dikenalkan yakni larutan-larutan KEN dan larutan DGAA (larutan
setengah Darrow). Larutan KAEN dan DGAA memiliki kandungan kalium yang cukup untuk
memelihara kebutuhan homeostasis kalium. Sebagai contoh KEN 3B (20mEq/L) dan DGAA
(l7.5 mEq/L) memenuhi minimum 20-30 mEq/hari untuk pasien dewasa.
Belum lama ini dengan dikembangkannya teknik canggih dual chamber oleh Otsuka Japan
cairan Maintenance telah berevolusi dari sekedar mengandung elektrolit basal (Na
+
dan K
+
dll)
juga dilengkapi dengan mikromineral, asam amino dan glukosa.
l. Rasional Untuk Terapi Cairan Maintenance
Berbagai keadaan bisa dialami oleh pasien rawat-inap dan ini sering tidak disadari oleh dokter.
Mayoritas pasien sudah berada dalam keadaan dehidrasi moderat, namun hemodinamik
masih baik. Pasien mungkin sudah berhari-hari di rumah dengan asupan air yang
kurang dan ada demam tinggi. Demam tinggi ini menyebabkan peningkatan insensible
water loss.
Cemas, depresi atau akut. lni cenderung terjadi pada pasien-pasien yang sudah
mencoba berobat ke sana kemari dan tidak kunjung sembuh.
Malaise atau letih (fatigue) mungkin merupakan alasan pasien dibawa ke rumah sakit.
Pasien tidak terbiasa dengan makanan rumah sakit.
Asupan oral kurang karena pasien teralu lemah untuk mengunyah dan lidah terasa pahit
karena kering.
Jam makan yang kaku
Anorexia (tidak napsu makan), nausea (mual), atau stres
Kesadaran menurun.
lnformasi demikian sering luput dari pengamatan dokter, padahal pasien memerlukan dukungan
maintenance untuk keadaan-keadaan tersebut.
Tujuan terapi Maintenance bisa dirangkum sebagai berikut:
l) Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit harian untuk homeostasis.
2) Mencegah gangguan elektrolit dan asam-basa.
3) Mendukung terapi primer
4) Membantu proses enzimatik & mp; sintesis protein.
5) Memacu penyembuhan.
Apa ciri-ciri larutan maintenance yang unggul ?
Praktis, mudah dan aman diberikan
Disamping elektrolit basal (Na
+
, K
+
, Cl
-
) juga mengandung mikromineral (Mg
++
, Ca
++
, P)
yang dibutuhkan untuk metabolisme sel.
Adanya zinc membantu penyembuhan jaringan. Karena zinc memacu deposisi kolagen
pada jaringan yang rusak.
Mengandung asam amino kualitas tinggi (diperkaya BCAA, tinggi EAA) untuk memacu
sintesis protein)
Glukosa untuk mempertahankan kadar gula normal (euglycemia)
Produk yang bisa memenuhi kriteria tersebut adalah AMlNOFLUlD". Komposisi AMlNOFLUlD
dan larutan Maintenance lain (KAEN3B) serta Ringer Laktat diberikan dibawah:
Tabel l. Komposisi AMlNOFLUlD dibandingkan RL dan KAEN3B
Komposisi AMlNOFLUlD KAEN3B Ringer Laktat ASPEN guideline"
Air 2000 2000 2000 30-40 ml/kg/hari
Na
+
70 l00 260 l-2 mEq/kg/hari
K
+
40 40 8 l-2 mEq/kg/hari
Cl
-
70 l00 2l8 Sesuai kebutuhan
Mg
++
l0 - - 8-20 mEq/hari
Ca
++
l0 - - l0-l5 mEq/hari
P 20 - - 20-40 mEq/hari
Zn l0 m mol - - 2.5-5 g
Asam amino AA 60 g - - 0.8 g/kg/hari
Glukosa l50 g 54 g - -
Kebutuhan basal untuk homeostasis K
+
adalah 20-30 mEq/hari (l0); f kebutuhan basal asam amino pada pasien
nonstressed; V protein sparing effect.
2. Mengapa Perlu Mikromineral ?
Disamping elektrolit basal, seperti natrium, kalium, klor, larutan maintenance masa kini
harus mengandung mikromineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme. Peran dan dosis
anjuran diberikan pada tabel 2.
Tabel 2. Fungsi dan Dosis anjuran air dan elektrolit.
Fungsi ASPEN AMlNOFLUlD
Air(ml) Komponen sel dan kompartemen cairan tubuh
lain, pengaturan suhu, pelarut, pelumas
30-40ml/kg 2000
Na
+
(mEq) Bersama klorida mempertahankan volume dan
osmolaritas darah, mengatur muatan listrik di
neuromuscular junction dan mempengaruhi
asam-basa
l-2mEq/kg 70
K
+
(mEq) Kepekaan neuromuskular (Neuromusculer
excitability), sintesis protein dan kolagen,
proses enzimatik dalam produksi energi sel.
Bersama natrium dan kalsium memelihara
irama jantung. Bagian dari sistem dapat tubuh
untuk mengatur asam-basa.
l-2mEq/kg 40
Cl
-
(mEq) Bersama natrium memelihara osmolaritas
cairan ekstrasel,(ECF). Memelihara imbang
sairan. Memelihara asam-basa. Pertukaran
oksigen dan CO2 di sel darah merah,
komponen getah lambung.
Sesuai kebutuhan
untuk memelihara
asam-basa
70
Mg
++
(mEq) Sangat penting untuk sistem enzim, aktivitas
neuromuskuler, esensial untuk metabolisme
ATP, Na
+
,K
+
, pump. Sekresi hormon paratroid
dan fungsi jantung.
8-20 l0
Ca
++
(mEq) Pertumbuhan gigi dan tulang, fungsi
neuromuskular, pembekuan darah, asam-basa
dan aktivasi enzim tertentu.
l0-l5 l0
P(mmol) Esensial untuk metabolisme nutrien Ko-faktor
dalam berbagai sistem enzim, komponen ATP
20-40 20
8in' merupakan tra'e element %ang dikandung dalam A,IN-6L1I*
Fungsi Eksresi urin AMlNOFLUlD
Zinc Memacu penyembuhan jaringan Zinc perlu
untuk pembentukan kolagen, yang
merupakan bahan penting untuk
penyembuhan dan perbaikan jaringan.
Zinc juga memiliki aktivitas imunitas
seluler. Dibutuhkan untuk metabolisme
nutrien dan sintesis asam nukleat (DNA
and RNA)
7,6 micromol/hari l0 micromol/L
Mengapa dalam larutan Maintenance ada BCAA (Branch-Chained Amino Acids) ? Leucine,
isoleucine dan valine merupakan asam amino rantai cabang dan merupakan asam amino yang
terbanyak diteliti, dan dibuktikan memiliki efek farmakologis (4,5,6,7,8):
l) Prekursor (zat pendahulu) dalam sintesis glutamine dan alanine pada otot rangka
2) Pada banyak penyakit konsumsi BCAA meningkat
3) Leucine paling jelas efeknya dan berguna untuk sintesis protein. lni telah diteliti pada sepsis
dan luka bakar
4) BCAA meningkatkan nafsu makan dengan menghambat masuknya triptofan (prekursor
serotonin) ke dalam susunan saraf pusat. Dengan berkurangnya kadar serotonin, maka
perangsangan sistem melanokortin akan berkurang di hipotalamus. lni diikuyi dengan
peningkatan napsu maka (diperlihatkan pada gambar C dibawah)
5) Pada sepsis rasio BCAA (branched chain amino acids): AAA (aromatic amino acids) akan
menurun
6) Pasien yang selamat dari sepsis ternyata memiliki kandungan BCAA lebih tinggi daripada
yang meninggal
7) BCAA memacu aliran darah ke otak.
Gambar A. Ada dua sistem di hipotalamus Melanocortin (Pro-opiomelanocortin) merupakan
sistem saraf serotoninergik. Jika melanocortin dirangsang maka akan terjadi anorexia (tidak
napsu makan). Kebalikannya, NPY bersifat prophagic, artinya jika dirangsang maka napsu
makan akan meningkat. lnteraksi kedua sistem inilah yang mengatur imbang asupan dan
pemakaian energi.
Gambar 0. pada banyak penyakit sistemik, sitokin akan diproduksi oleh sel darah putih, dan ini
akan merangsang pembentukan serotonin dan merangsang melanocortin. Efek perangsangan
ini adalah anoreksia. Serotonin berasal dari triptofan. Triptofan masuk ke dalam sistem saraf
pusat melalui saluran yang sama dengan BCAA. Jadi triptofan bersaing dengan BCAA. Ada
bukti bahwa peningkatan triptofan di otak akan menyebabkan rasa letih central fatigue).
Gambar C. pemberian BCAA (leucine, isoleucine, bvaline) akan memblok masuknya triptofan,
disusul dengan penurunan serotonin. Kemudian nbnapsu makan akan meningkat.
3. Bagaimana Larutan Maintenance Berbeda Dengan Nutrisi Parenteral ?
Walaupun tidak ada definisi yang tegas di dalam kepustakaan, berdasarkan kepentingand ari
konstituen larutan infus, kita bisa mengkategorikan suatu produk sebagai larutan maintenance,
jika komponen air dan elektrolit (dalam konsentrasi moderat) sebagai unsur dominan
sedangkan kandungan asam amino dan glukosa menyediakan sekedar kebutuhan basal untuk
homeostasis dan bukan untuk replesi protein dan energi. Sebaliknya kandungan yang menjadi
prioritas dari nutrisi parenteral adalah kandungan asam amino atau NPC (nonprotein calories
baik sebagai karbohidrat atau lipid).
4. Cara Memberikan Larutan Maintenance
Tempat kanula; larutan yang mengandung osmolaritas kurang dari 900 mOsm/L bisa diberikan
melalui vena tepi. Namun sebaiknya dipilih vena yang lebih proksimal (basilica, cephatic atau
median cubital) karena tingginya insiden flebitis jika digunakan vena punggung tangan. Pasien
usia lanjut lebih rentan terhadap flebitis dibandingkan dewasa muda.
Laju pemberian umumnya 20 tetes per menit (drip makro). Namun perlu diperhatikan
kandungan glukosa dan kalium dari setiap larutan infus. Pada dewasa laju maksimum
pemberian glukosa adalah 4 g/kg/minute , dan kalium l0 mEq per jam. Walaupun anjuran
asupan kalium harian adalah l-2 mEq/kg, dosis maintenance minimum dewasa untuk
homeostasis bisa dipenuhi dengan 20-30 mEq hari.
Obat suntik tidak boleh dioplos ke dalam AMlNOFLUlD karena bisa meningkatkan osmolaritas
dan mengganggu kestabilan komposisi. Bila dianggap perlu, obat suntik bisa diberikan dengan
piggy bag (untuk drip kontinyu) atau via stop cork (jika bolus) sementara aliran infus primer
dihentikan.
5. Cara Menilai Manfaat Terapi Suportif
Keberhasilan dan kegagalan terapi tidak bisa dilakukan oleh suatu terapi tunggal, tetapi
pendukung sifatnya adalah membantu terapi primer. Untuk mengevaluasi manfaat terapi secara
holistil, bisa digunakan sistem skoring untuk gejala-gejala subyektif yaitu skor fatigue, napsu
makan dan aktivitas sehari-hari.
6. Monitoring dan Komplikasi Potential
Monitoring adalah hal terpenting dala terapi cairan MAlNTENANCE. Bila tersedia fasilitas lab,
idealnya diperiksa panel elektrolit dan metabolik (Na
+
, K
+
, Cl
-
, HCO3
-
, BUN, glukosa, creatinine),
sebelum memberikan cairan. Pada kasus yang cukup serius atau berat paling tidak harus
diperiksa Na
+
dan K
+
. Tidak sesuai untuk memberikan cairan natrium rendah (hipotonik) ke
pasien dengan hiponatremia. Di lain pihak, tidak tepat jika cairan dengan natrium tinggi (misal
NS) diberikan kepada pasien dengan hipernatremia. Bilamana perlu, larutan Maintenance bisa
digabung dengan larutan pengganti (Asering, RL, Normal saline) atau produk nutrisi parenteral.
Hipokalemia banyak dijumpai pada pasien rawat-inap dan bisa dicegah. Pentingnya kalium
terungkap dari laporan tentang prevalensi hipokalemia di eberapa rumah sakit, dimana pasien-
pasien hanya diberikan larutan pengganti selama perawatan. Larutan pengganti mengandung 4
mEq/L of K
+
(Ringer Lactate) or 0 mEq of K
+
(normal saline) Hiperkalemia bisa diinduksi dan
atau diperberat jika larutan yang mengandung kalium diberikan kepada pasien oliguria (vol
urine <>
E. PATOFlSlOLOGl
+elainan utama "ada DBD ialah /80 bertambahnya "ermeabilitas )askuler yang menyebabkan terjadinya
keb#c#ran "lasma dan terjadinya hi"#)#lemi intra)askuler, /%0 gangguan hem#stasis /angi#"ati,
tr#mb#sit#"eni dan k#agul#"ati0! Pemulihan )#lume cairan intra)askuler secara dini dan adekuat
+#agulasi Intra)askuler Diseminata /+ID0! Secara te#ritis taha"an "erubahan "ada "ermeabilitas dinding
)askuler dan "engaruhnya terhada" "erbedaan tekanan #nk#tik cairan intra)askuler dan ekstra)askuler
secara sederhana terlihat "ada gambar Skematis keb#c#ran "lasma "ada DBD!
Pada saat terjadi keb#c#ran "lasma, albumin, air dan elektr#lit keluar dari k#m"artemen
intra)askuler kedalam k#m"artemen ektra)askuler /B0! Dengan adanya "r#tein dalam k#m"artemen
ektra)askuler tekanan #sm#tik cairan ekstra)askuler meningkat dan "erbedaan /gradien0 tekanan #sm#tik
in,ra dan ektra )askuler menurun dengan akibat "enarikan masuk air dan elektr#lit "ada sisi ka"iler )enus
menurun!
Fambar Skematis keb#c#ran "lasma "ada DBD
Berkurangnya cairan yang masuk kembali ke k#m"artemen intra)askuler menyebabkan
terjadinya hi"#)#lemi intra)askuler, hem#k#nsentrasi, )isk#sitas darah meningkat, aliran darah menurun,
"er,usi jaringan berkurang dan mungkin terjadi renjatan dengan k#m"likasi yang berat yaitu +ID yang
da"at menyebabkan intra)askuler menyebabkan terkum"ulnya cairan di k#m"artemen ektra)askuler yang
da"at bermani,estasi sebagai cairan "leura, ascites dan cairan "ada dinding #rgan di "erut!
Pada ,ase "enyembuhan "ermeabilitas dinding )askuler membaik, keb#c#ran "lasma berhenti,
akan teta"i sebagian albumin?"r#tein masih ada dik#m"artemen ekstra)askuler dan "erbedaan tekanan
in,ra dan ekstra)askuler belum kembali n#rmal sehingga masih mungkin terjadi balans negati, antara
cairan yang keluar dan yang masuk kembali kedalam k#m"artemen intra)askuler /D0! Pada saat semua
sisa "r#tein?albumin ekstra)askuler telah dimetab#lisma maka "erbedaan tekanan #sm#tik in,ra dan
ekstra )askuler menjadi n#rmal kembali /E0 cairan ekstra)askuler /e,usi "leura, ascites dll0 dires#r"si
kembali dan menghilang!
F. PENATALAKSANAAN
Pengobatan DBD bersifat suportif simptomatik dengan tujuan memperbaiki sirkulasi dan
mencegah timbulnya renjatan dan timbulnya Koagulasi lntravaskuler Diseminata (KlD).
Selama 3 dekade telah dilakukan penilaian ulang dan pembaikan pengelolaan DBD di Bagian
llmu kesehatan Anak RS Sumber Waras, dan upaya ini diikuti dengan penurunan angka
kematian, walaupun demikian harus diingat berbagai faktor lain yang mungkin berpengaruh
terhadap mortalitas DBD secara umum.
Larutan Kristaloid
-airan yang da"at diberikan "ada "enderita DBD menurut 1HB ialah cairan DeItr#se 54
Saline ,isi#l#gik /aa0, "ada DSS da"at diberikan larutan ;inger Laktat /;L0, deItr#se 54 saline
,isi#l#gik, dektr#se 547,5 saline /D57,5S0, deItr#se 547,5 ;L atau deItr#se 548?< saline! 'era"i
standar yang diberikan "ada "enderita DBD di ;S Sumber 1aras sejak tahun 8A63 ialah larutan deItr#sa
547,5 saline! Pemilihan larutan ini dalam tera"i DBD ialah dengan "ertimbangan "ada DBD "erbedaan
tekanan #sm#tik in,ra dan ekstra )askuler menurun sehingga bila diberikan larutan is#t#nik atau
hi"#t#nik da"at mem"erberat terjadinya cairan ekstra)askuler /e,usi "leura0!
Dalam keadaan n#rmal "ada ka"iler arterial terda"at "erbedaan antara tekanan hidr#statik /<5 mmHg0
yang mend#r#ng air keluar "embuluh darah dengan tekanan #sm#tik cairan /%5 mmHg0 yang menahan air
keluar )askuler! Di lain "ihak "ada ka"iler )en#us "erbedaan terjadi karena menurunnya tekanan
hidr#statik /85 mmHg0 sedangkan tekanan #sm#tik teta" /%5 mmHg0! Dengan demikian jumlah cairan
yang keluar dari ka"iler arterial sama dengan cairan yang masuk ke k#m"artemen intra)askuler di daerah
ka"iler )en#us!
Pemberian larutan RL secara bolus (20 ml/kg BB) akan menyebabkan penambahan volume
vaskuler hanya dalam waktu yang singkat karena larutan tersebut akan segera didistribusikan
ke seluruh kompartemen interstisial (ekstravaskuler) dengan perbandingan l:3, sehingga dari
20 ml bolus tersebut hanya 5 ml yang tetap berada dalam ruang intravaskuler dan l5 ml masuk
ke dalam ruang interstisial. Pada DBD dimana terjadi kebocoran plasma mungkin lebih banyak
larutan RL yang masuk ke ruang interstisial karena menurunnya perbedaan tekanan osmotik
infra dan ekstra vaskuler. Secara teoritis pemberian larutan Dextrose 5%-0,5 saline yang
bersifat hipersomatik mungkin dapat mengurangi redistribtisi larutan ke ruang interstisial dan
dengan demikian efek ekspansi vaskuler lebih lama dari RL.
Larutan Koloid
Dalam u"aya menurunkan kematian DSS dirasakan "erlunya "emberian larutan yang da"at
dengan segera mem"erbaiki )#lume intra)askuler dan aliran darah, tan"a mem"erberat risik#
bertambahnya e,usi "leura!
Untuk mengatasi renjatan selain "emberian cairan kristal#id di"ikirkan juga "emberian cairan
k#l#id yang bertahan lebih lama dalam sirkulasi dan mudah dimetab#lisme bila terjadi ekstra)asasi ke
dalam jaringan! Sejak tahun 8A33 dalam "r#t#k#l "enatalaksanaan DSS di ;S Sumber 1aras
di"ergunakan larutan k#l#id 64 heIaethyl starch /HES0 &7?7,5! :engingat kelainan utama "ada DBD?
DSS adalah bertambahnya "ermeabilitas ka"iler yang menyebabkan keb#c#ran "lasma, maka dalam
"emilihan larutan k#l#id di"ertimbangkan si,at sebagai berikut 9
80 Bleh karena "ada DBD terjadi keb#c#ran "lasma, di"ilih larutan k#l#id g#l#ngan karb#hidrat /deItran
atau HES0, dengan "ertimbangan bila keluar dari ruangan intra)askuler ke k#m"artemen interstisial
da"at dimetab#lisme dengan tuntas menjadi H2B dan -B2.
%0 :an,aat eks"ansi?"engembangan )#lume )askuler!
Berdasarkan "engamatan Himalgyi e,ek "emberian k#l#id terhada" )#lume )askuler da"at dibagi
dalam < kel#m"#k yaitu 9
a0 Eks"ander ,ase dini (early phase volume expander)
Pada g#l#ngan ini e,ek dini terhada" eks"ansi )#lume k#l#id yang diberikan akan teta"i segera
setelah in,us dihentikan menurun kembali dan da"at menimbulkan hi"#)#lemi lagi #leh karena
sebenarnya jumlah k#l#id yang diberikan kurang dari kebutuhan! 'ermasuk dalam g#l#ngan ini ialah
larutan k#l#id hi"er#nk#tik antara lain 874 deItran &7,64 HES %77?7,5 dan 874 HES %77?7,5!
b0 Eks"ander ,ase lambat (late phase volume expander)
Larutan k#l#id g#l#ngan ini "ada a$alnya tidak bersi,at hi"er#nk#tik! Pada ,ase a$al man,aat
eks"ansi 374 dari jumlah k#l#id yang diberikan, sehinggaa larutan k#l#id yang diberikan melebihi
jumlah de,isit! Pada ,ase selanjutnya terjadi "emecahan HES m#lekul besar #leh amilase darah menjadi
HES m#lekul kecil yang masih bersi,at k#l#id sehingga e,ek lambat dari k#l#id ini ialah larutan bersi,at
hi"er#nk#tik, cairan ekstraseluler masuk kedalam lumen intra)askuler, dengan daya eks"ansi sebesar
l90% dari jumlah/volume yang diberikan dengan risiko dapat terjadi oedem paru. Termasuk
dalam kelompok ini ialah 6% HES 450/0,7.
c) "olume replacement solution
Larutan koloid 6% dextran 60,5% dextran 40 dan 6% HES 40/0,5 bersifat isoonkotik, efek
terhadap ekspansi volume intravaskuler berjumlah l00% dari jumlah koloid yang diberikan.
l) Metabolisme dan lamanya tissue persistance bila larutan koloid keluar dari pembuluh darah.
Hal ini penting untuk dipertimbangkan oleh karena pada DBD/DSS terjadi kebocoran plasma
sehingga secara teoritis koloid dengan BM rendah mungkin ikut keluar dari pembuluh darah
(ekstravasasi). Metabolisme dextran dan HES 40 sama yaitu ekskresi terutama melalui urin dan
sebagian hasil melalui traktus gastrointestinalis. Sisanya diambil oleh hati, limpa dan ginjal dan
pada organ ini dipecah secara tuntas menjadi H dan CO. Sebagian kecil koloid yang diinfuskan
mengalami ekstravasasi dan menetap dalam jaringan. Makin banyak koloid yang mengalami
ekstravasasi dan makin lambat metabolismenya makin besar kerusakan jaringan terutama pada
kelenjar limfe, hati dan ginjal. Begitu pula makin besar BM koloid dan makin banyak ikatan
hydroxyetilglycosid, makin banyak sisa koloid di jaringan. Fraksi residu dari 6% HES 40/0,7
berjumlah 37%, l0% HES 200/0,5 berjumlah 26%, 6% HES 200/0,5 berjumlah 28% dan 6%
HES 40/0,5 berjumlah 2%.
2) Hipersensitivitas
Frekuensi reaksi alergik setelah pemberian dextran berkisar antara 0.002%-4,6% pada
pemberian HES berkisar antara 0,08%-2,6%. Cardia Respiratory arrest hanya timbul pada
pemberian deztran terutama dextran 60 dan HES 450, renjatan pada pemberian HES 200
sedangkan reaksi alergi pada pemberian HES 40 bersifat ringan sampai sedang.
3) Efek Rheologik dari larutan koloid yang bermanfaat dalam pencegahan terjadinya komplikasi
lebih lanjut dari DSS.
Efek rheologik meliputi :
l. Penurunan viskositas darah
2. Penurunan viskositas plasma darah
3. Efek dis-agregasi terhadap eritrosit
4. Memperbaiki fleksibilitas eritrosit
5. Efek dis-agregasi terhadap trombosit
6. Sirkulasi mikro dan perfusi jaringan.
DeItran dan HES m#lekul besar menurunkan )isk#sitas darah ta"i tidak menurunkan )isk#sitas
"lasma darah! 874 DeItran &7 menyebabkan kenaikan )isk#sitas "lasma darah dan mengurangi
,leksibilitas eritr#sit! Sedangkan 64 HES &7?7,5 memberikan semua e,ek rhe#l#gik di atas! E,ek dis
agregasi eritr#sit disebabkan karena dilusi dari aggregating protein /,ibrin#gen dan 2 makroglobulin) serta
pada pemberian k#l#id muatan listrik "#siti, "ada dinding eritr#sit bertambah sehingga sesuai dengan
hukum ,isika akan memberikan e,ek saling men#lak?menjauh sehingga tidak mudah terjadi agregasi
/r#uleuI ,#rmati#n0! +eadaan tersebut terjadi "ula "ada tr#mb#sit sehingga agregasi tr#mb#sit dicegah
sehingga kemungkinan terjadinya +ID dikurangi! Pada "emberian cairan kristal#id muatan listrik "#siti,
berkurang sehingga terjadi tendensi untuk saling mendekat dan terjadi agregasi! Daya menurunkan
agregasi tr#mb#sit HES &7 lebih baik dari DeItran!
E,ek rhe#l#gik tersebut menyebabkan aliran darah lebih lancar, eritr#sit lebih ,leksibel sehingga
mikr#sirkulasi dan "er,usi jaringan lebih baik dan da"at mencegah terjadinya asid#sis metab#lik!
Si,at 64 HES &7?7,5 secara te#ritis da"at mem"erbaiki renjatan dengan risik# e,usi "leura
minimal serta e,ek rhe#l#giknya da"at mencegah k#m"likasi lebih lanjut dari DSS termasuk +ID dan
"erdarahan hebat!
Larutan Albumin
Larutan albumin 54 bersi,at is##nk#tik sedangkan larutan albumin %54 bersi,at hi"er#nk#tik
dengan daya eks"ansi )#lume tia" 8 g /& ml0 da"at menarik air dari ekstra)askuler sebanyak 83 ml!
Pemberian albumin %54 secara b#lus mungkin menaikkan tekanan #nk#tik "lasma sehingga air dan
elektr#lit masuk ke "#m"artemen intra)askuler dengan demikian mem"erbaiki )#lume intra)askuler!
Si,at dan man,aat larutan albumin sama dengan "lasma darah
0A0 I9
#N1T1
A. KESlMPULAN
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa pengaruh berbagai faktor tersebut pada
respons penderita terhadap obat pada umumnya menyebabkan regimen dosis obat perlu
disesuaikan. Besarnya penyesuaian dosis biasanya tidak dapat diperhitungkan, jadi hanya
dikira-kira saja berdasarkan educated guess, kecuali dalam hal penyesuaian terhadap berat
badan dan penyesuaian akibat gangguan organ yang lain. Penyesuaian dosis hasil perhitungan
tidak menjamin dosis yang tepat, karena disamping adanya asumsi-asumsi dalam melakukan
perhitungan farmakokinetik sehingga kadar yang dicapai belum tentu dalam batas-batas kadar
terapi, masih ada faktor-faktor farmakodinamik yang tidak diperhitungkan, yang dapat
memberikan respons yang menyimpang meskipun kadar yang dicapai sudah benar. Tetapi
penyesuaian dosis hasil perhitungan tentunya lebih mendekati dosis yang tepat dibandingkan
dengan dosis hasil perkiraan saja.
Dengan demikian pengamatan dan pemantauan klinis yang ketat dan berkesinambungan
merupakan tindakan yang mutlak harus dikerjakan dalam pengelolaan DBD dan penyakit yang
lain. Ringer Asetat dan Ringer Laktat sangat efektif sebagai terapi resusitasi pasien dengan
dehidrasi berat dan syok, terlebih kondisi asidosis.
B. SARAN
- Sebaiknya cara pemberian cairan infus disesuaikan dengan kondisi pasien
- Memberikan terapi suportif yang baik akan memacu penyembuhan pasien.
*A6TA2 1$TAKA
Daniel, 2008, Kolom (Paradigma #aru dalam $erapi Cairan Maintenance), Vol. 7, Jakarta.
Daniel, 2006, Gerai (Ringer Asetat %Asering
&R'
( Mencegah )ipotermia Perioperatif Sectio), Vol.
5, Jakarta.
.......... , 2000, Ringer Laktat (*actate Ringer Injection +SP), PT. Widatra Bhakti, Pandaan, Jawa
Timur.
Staf Farmakologi FKUl, 2000, Farma,ologi dan $erapi, Bagian Farmakologi, Fakultas
Kedokteran Universitas lndonesia, Jakarta.
Tatang Kustiman Samsi, 2000, Cermin Dunia Kedokteran (Arti,el - Penatala,sanaan .emam
#erdarah .engue di RS Sumber /aras), Fakultas Kedokteran Universitas
Tarumanegara, Jakarta.
Diposkan oleh KlMlA UNS di 20.45
Label: l, suma'iyah, terapan l
1 ,<1e)a0N
eseimbangan cairan
0A0 I
#N*A"1L1AN
2.l Latar belakang
Untuk mempertahankan kesehatan dibutuhkan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam
basa di dalam tubuh. Keseimbangan ini dipertahankan oleh asupan, distribusi, haluaran air dan
elektrolit, sistem renal dan paru. Banyak faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan salah
satunya karena penyakit.
Orang dewasa yang aktif bergerak dan memiliki orientasi yang baik biasanya dapat
mempertahankan keseimbangan cairan yang normal karena mekanisme adaptif tubuhnya.
Namun bayi, orang dewasa yang menderita penyakit berat,klien dengan gangguan orientasi
atau klien yang immobile, serta lansia sering kali tidak dapat berespons secara mandiri, dan
seiring dengan waktu kapasitas adaptif tubuh mereka tidak lagi dapat mempertahankan
keseimbangan cairan tanpa adanya bantuan.
Dengan penjelasan tersebut di atas penyusun ingin menjelaskan tentang keseimbangan
cairan dan elektrolit sera berbagai macan faktor atau hal hal yang berkaitan dengan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Serta menjelaskan bagaimana asuhan keperawatan yang
di berika pada pasien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
2.2 Rumusan masalah
l. Apa yang dimaksud dengan keseimbangan cairan dan elektrolit ?
2. Apa sajakah organ organ dan sistem yang berpengaruh dalam keseimbangan cairan dan
elektrolit ?
3. Apa sajakah variabel variabel yang berpengaruh dalam keseimbangan cairan dan elektrolit ?
4. Apa sajakah macam macam cairan dan elektrolit ?
5. Apa sajakah masalah atau gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit ?
6. Bagaimanakah komposisi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh ?
7. Bagaimanakah proporsi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh ?
8. Bagaimanakah regulasi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh ?
9. Bagaimanakah kebutuhan cairan dan elektrolit yang dibutuhkan oleh tubuh ?
l0. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit ?
2.3 Tujuan penulisan
2.3.l Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui tentang berbagai macam keperawatan.
2.3.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengetahui apa yang dimaksud dengan keseimbangan cairan dan
elektrolit, mahasiswa mampu mengetahui organ organ dan sistem yang berpengaruh dalam
keseimbangan cairan dan elektrolit, mahasiswa mampu mengetahui variabel variabel yang
berpengaruh dalam keseimbangan cairan dan elektrolit, Mahasiswa mampu mengetahui
macam macam cairan dan elektrolit, Mahasiswa mampu mengetahui masalah atau gangguan
dalam keseimbangan cairan dan elektrolit, Mahasiswa mampu mengetahui komposisi cairan
dan elektrolit yang diperlukan tubuh, Mahasiswa mampu mengetahui proporsi cairan dan
elektrolit yang diperlukan tubuh, Mahasiswa mampu mengetahui regulasi cairan dan elektrolit
yang diperlukan tubuh, Mahasiswa mampu mengetahui kebutuhan cairan dan elektrolit yang
dibutuhkan oleh tubuh, Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
2.4 Metode penulisan
Metode yang digunakan dalalm pembuatan makalah ini adalah metode kepustakaan.
2.5 Manfaat penulisan
Dengan adanya penyusunan makalah ini, diharapkan dapat mempermudah penyusun
dan pembaca guna memahami materi tentang keseimbangan cairan dan elektrolit. Dan
diharapkan penyusunan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan kemampuan penulis
dalam membuat sebuah karya tulis berupa makalah.
0A0 II
TIN:A1AN 1$TAKA
2.l Pengertian
Tubuh manusia membutuhkan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Cairan
dimasukkan melalui mulut, atau secara parenteraldan cairan meninggalkan tubuh dari saluran
pencernaan, paru paru, kulit, dan ginjal. Klien dari berbagai umur dapat mengalami kondisi
tidak terpenuhinya kebutuhan cairan, tetapi manusia yang paling muda dan paling tua memiliki
resiko terbesar.
Dehidrasi dan edema mengindikasikan tidak terpenuhinya kebutuhan cairan.dehidrasi
mungkin karena demam berlebihan atau berkepanjangan, muntah, diare, trauma,atau kondisi
lainya yang menyebabkan kehilangan cairan dengan cepat.edema juga diikuti oleh gangguan
elektrolitdan bisa muncul pada gangguan nutrisi, kardiovaskular, ginjal, kanker, traumatic, atau
gangguan lain yang menyebabkan akumulasi cairan dengan cepat.
2.2 Organ organ dan sistem sistem yang berperan
l. Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal, kulit paru, dan
gastrointestinal.
A. Gin;al
Ginjal merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam mengatur kebutuhan
cairan dan elektrolit. Hal ini terlibat pada fungsi ginjal, yaitu sebagai pengatur air, pengatur
konsentrasi garam dalam dara, pengatur keseimbangan asam basa darah, dan ekskresi bahan
buangan atau kelebihan garam.
Proses pengaturan kebutuhan kaseimbangan air ini diawali oleh kemampuan bagian
ginjal, seperti glomerulus, dalam menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah
mengandung 500 cc plasma yang mengalir melalui glomerulus, l0 persennya disaring keluar.
Cairan yang tersaring (filtrat glomerulus), kemudian mengalir melaui tubuli renalis yang sel-
selnya menyerap semua bahan yang dibutuhkan. Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat
dipegruhi okleh ADH dan aldosteron rata-rata l ml/kg/bb/jam.
0. aru < paru
Organ paru berperan mengeluarkan cairan dengan menghasilkan insensible ater loss
kurang lebih 400 ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dengan respons akibat perubahan
upaya kemampuan bernapas.
C. Kulit
Kulit merupakan bagian penting pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan
panas. Proses ini diatur oleh pusat pengatur panas yang disarafi oleh vaso motorik dengan
kemampuan mengendalikan arteriol kutan dengan cara vasodilatasi dan vasokonstriksi. Proses
pelepasan panas dapat dilakukan dengan cara penguapan panas. Jumlah keringat yang
dikeluarkan tergantung pada banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam
kulit. Proses pelepasan panas lainnya dapat dilakukan melaui cara pemancaran panas keudara
sekitar konduksi (yaitu, pengalihan panas kebenda yang disentuh), dan konveksi (yaitu,
pengaliran udara panas kepermukaan yang lebih dingin).
Keringat merupakan sekresi aktif dari kelenjar keringat dibawah pengendalian saraf
simpatis. Melalui kelenjar keringat ini suhu dapat diturunkan dengan jumlah air yang dapat
dilepaskan, kurang lebih setengah liter sehari. Perangsangan kelenjar keringat yang dihasilkan
dapat diperoleh melalui aktivitas otot, suhu lingkungan , dan kondisi sushu tubuh yang panas.
*. Gastrotestinal
Gastrointestinal merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam
mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal,
cairan yang hilang dalam sistem ini sekitar l00-200 ml/hari.
2. Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui sistem endokrin, seperti sistem hormonal (anti
diuretik hormon ADH), aldosteron, prostaglandin, glukokortikoid, dan mekanisme rasa haus.
A. Aldosteron
Hormon ini berfungsi sebagai absorbsi natrium yang disekresi kelenjar adrenal dan tubulus
ginjal. Proses pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi kalium,
natrium, dan sistem angiostensin renin.
B. Prostaglandin
Prostaglandin merupakan asam lemak yang terdapat pada laringan yang berfungsi merespons
radang, mengendalikan tekanan darah dan kontraksi utarus serta mengatur pergerakan
gastrointestul. Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal.
C. ADH
Hormon ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorbsi air sehinggadapat mengendalikan
keseimbangan air dalam tubuh. Hormon ini dibentuk oleh hipotalamus di hipofisis posterior,
yang mensekresi ADH dengan meningkatkan osmolaritas dan menurunkan cairan ekstrasel.
D. Glukokortikoid
Hormon ini berfungsi mengatur peningkatan reapsorpsi natrium dan air yang menyebabkan
volume darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium.
E. Mekanisme Rasa Haus
Mekanisme rasa haus diatur dalam rangka memenuhi kebutuhan cairan dengan cara
merangsang pelepasan renin yang dapat menimbulkan produksi angiotensin ll sehingga
merangsang hipotalamus untuk rasa haus.
2.3 Distribusi cairan dan elektrolit
A. Distribusi cairan
Cairan tubuh didistribusi dalam dua kompartemen yang berbeda, yakni : cairan Ekstrasel (CES)
dan cairan intrasel (ClS)
l. Cairan Ekstrasel (CES)
Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Jumlah relatif cairan
ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah dari cairan
tubuh terdapat di cairan ekstraselular. Setelah usia l tahun, jumlah cairan ekstraselular
menurun sampai sekitar sepertiga dari volume total. lni sebanding dengan sekitar l5 liter pada
dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg.
Cairan ekstrasel diklasifikasikan menjadi beberapa macam :
a. Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar ll-l2 liter pada orang
dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume
lSF adalah sekitar 2 kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang dewasa.
b. Cairan Intra3askular
Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma). Rata-
rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya
terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet.
c. Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal,
perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan
sewaktu, volume cairan transeluler adalah sekitar l liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak
dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler.
2. cairan intrasel (ClS)
Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa,
sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter rata-rata
untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya
setengah dari berat badannya merupakan cairan intraselular.
Fungsi cairan tubuh :
Air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia. Hampir semua reaksi di
dalam tubuh manusia memerlukan cairan. Agar metabolisme tubuh berjalan dengan baik,
dibutuhkan masukan cairan setiap hari untuk menggantikan cairan yang hilang
Fungsi cairan tubuh antara lain:
1. ,engatur su(u tubu(
Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik.
!. ,elan'arkan peredaran dara(
Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam
darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja
otak dan jantung.
). ,embuang ra'un dan sisa makanan
Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air
membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan.
+. Kulit
Air sangat penting untuk mengatur struktur dan fungsi kulit. Kecukupan air dalam tubuh berguna
untuk menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari
luar tubuh.
=. en'ernaan
Peran air dalam proses pencernaan untuk mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk
segera dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem
pencernaan di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun
keluar dengan lancar.
/. erna4asan
Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru harus basah dalam bekerja
memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompa karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat
dilihat apabila kita menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun
dari nafas yang dihembuskan pada kaca.
>. $endi dan otot
Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan
mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup
selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan.
?. emuli(an pen%akit
Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang memadai berfungsi untuk
menggantikan cairan tubuh yang terbuang.
B. Komposisi cairan tubuh
Cairan yang bersikulasi di seluruh tubuh di dalam ruang cairan intrasel dan ekstrasel
mengandung elektrolit, mineral dan sel.
Elektrolit merupakan sebuah unsure atau senyawa yang jika melebur atau larut di dalam
air atau pelarut lain akan pacah menjadi ion dan mampu membawa muatan listrik.
Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan
anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).
l. lon positif ( kation )
Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan
kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di
dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini.
2. lon negative ( anion )
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-),
sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-).
Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya sama maka
nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak
mencerminkan komposisi cairan intraseluler.
l. Natrium
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam
mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: l35-l45mEq/liter.l2 Kada natrium
dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme:
*eft atrial stretch reseptor
Central baroreseptor
Renal afferent baroreseptor
Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)
Atrial natriuretic factor
Sistem renin angiotensin
Sekresi ADH
Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)
Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat
berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine l00-l80mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat
58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = l00mEq (6-l5 gram NaCl).
Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke
dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan
pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium.
Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan
interstitial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan
apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.
2. Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di
dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53
mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah
kalium yang terikat dengan protein didalam sel. Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter,
kebutuhan setiap hari l-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan
konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter
dan keringat l0 mEq/liter.
3. Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk pertumbuhan + l0
mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.
4. Kalsium
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90% dikeluarkan lewat
faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya
tulang, keadaan endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar
paratiroid, tiroid, testis, ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan
+ l% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.
5. Karbonat
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir
daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali bikarbonat yang
akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting
peranannya dalam keseimbangan asam basa.
2.4 Proporsi cairan dan elektrolit tubuh
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis,
yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh.
Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, kategori
presentase cairan tubuh berdasarkan umur adalah : bayi baru lahir 75% dari total berat badan,
pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa
tua 45% dari berat badan. Presentase cairan tubuh bervariasi, bergantung pada factor usia,
lemak dalam tubuh, dan jenis kelamin. Jika lemak tubuh sedikit, maka cairan dalam tubuh pun
lebih besar. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit disbanding pria
karena pada wanita dewasa jumlah lemak dalam tubuh lebih banyak disbanding pada pria.
Kebutuhan Air bardasarkan Umur dan Berat Badan :
Kebutuhan Air
Umur Jumlah air dalam 24 jam ml/kg berat badan
3 hari 250-300 80-l00
l tahun ll50-l300 l20-l35
2 tahun l350-l500 ll5-l25
4 tahun l600-l800 l00-ll0
l0 tahun 2000-2500 70-85
l4 tahun 2200-2700 50-60
l8 tahun 2200-2700 40-50
dewasa 2400-2600 20-30
A. #NGAT12AN 9-L1,# CAI2AN T101"
Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah cairan yang
masuk dan jumlah cairan yang keluar.
l. Asupan
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang dewasa adalah 2500cc per
hari. Asupan cairan dapat langsung berupa cairan atau ditambah dari makanan lain.
Pengaturan mekanisme keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus. Pusat
pengaturan rasa haus dalam rangka mengatur keseimbangan cairan adalah hipotalamus.
Apabila terjadi ketidakseimbangan volume cairan tubuh di mana asupan cairan kurang atau
adanya perdarahan, maka curah jantung menurung, menyebabakan terjadinya penurunan
tekanan darah.
2. engeluaran
Pengeluaran (output) cairan sebagai bagian dalam mengimbangi asupan cairan pada
orang dewasa, dalam kondisi normal adalah 2300 cc. Jumlah air yang paling banyak keluar
berasal dari ekskresi ginjal (berupa urine), sebanyak l500 cc per hari pada orang dewasa. Hal
ini juga dihubugkan dengan banyaknya asupan air melalui mulut. Asupan air melalui mulut dan
pengeluaran air melalui ginjal mudah diukur, dan sering dilakukakan melalui kulit (berupa
keringat) dan saluran pencernaan (berupa feses). Pengeluaran cairan dapat pula dikategorikan
sebagai pengeluaran cairan yang tidak dapat diukur karena, khususnya pada pasien luka bakar
atau luka besar lainnya, jumlah pengeluaran cairan (melalui penguapan) meningkat sehingga
sulit untuk diukur. Pada kasus seperti ini, bila volume urine yang dikeluarkan kurang dari 500 cc
per hari, diperlukan adanya perhatian khusus. Setipa l derajat celcius akam berpengaru pada
output cairan
Pasien dengan ketidakadekuatan pengeluaran cairan memerlukan pengawasan asupan
dan pengeluaran cairan secara khusus. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernapasan,
deman, keringat, dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan adalah
muntah secara terus menerus.
Hasil-hasil pengeluaran cairan adalah:
l. Urine
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan dikeluarkan melalui vesika urinaria (kandung kemih).
Proses ini merupakanproses pengeluaran cairan tubuh yang utama. Cairan dalam ginjal
disaring pada glomerulus dan dalam tubulus ginjal untuk kemudian diserap kembali ke dalam
aliran darah. Hasil ekskresi terakhir proses ini adalah urine. Jika terjadi penurunan volume
dalam sirkulasi darah, reseptor atrium jantung kiri dan kanan akan mengirimkan impuls kembali
nke ginjal dan memproduksi ADH sehingga memengaruhi pengeluaran urine.
2. Keringat
Keringat terbentuk bila tubuh menjadi panas akibat pengaruh suhu yang panas. Keringat
banyak mengandung garam, urea, asam laktat, dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat
yang keluar akan memengaruhi kadar natrium dalam plasma.
3. Feses
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat. Pengeluaran air melalui feses
merupakan pengeluaran cairan yang paling sedikit jumlahnya. Jika cairan yang keluar melalui
feses jumlahnya berlebihan,maka dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Jumlah rata-rata
pengeluaran cairan melalui feese adalah l00 ml/hari.
2.5 Regulasi cairan dan elektrolit tubuh
Cairan tubuh tidak statis. Cairan dan elektrolit berpindah dari satu kompartemen ke
kompartemen lain untuk memfasilitasi proses - proses yang terjadi dalam tubuh, seperti
oksigenasi jaringan, respon terhadap penyakit, dan respon terhadap terapi obat. Cairan tubuh
dan elektrolit berpindah melalui difusi, osmosis, transport aktif, atau filtrasi. Perpindahan
tersebut bergantung pada permeabilitas membran sel atau kemampuan membran untuk
ditembus cairan dan elektrolit.
Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:
l. Difusi
Adalah proses ketika materi padat, partikel, seperti gula di dalam cairan, berpindah dari daerah
berkonsentrasi tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah,sehingga distribusi partikel dalam cairan
menjadi merata.
2. Osmosis
Adalah perpindahan pelarut murni seperti air melalui membran semipermiabel yang berpindah
dari larutan yang memiliki konsentrasi solute rendah ke tinggi. Kecepatan osmosis bergantung
pada konsentrasi solute di dalam larutan, suhu larutan, muatan listrik solute. Dan perbedaan
antara tekanan osmosis yang dikeluarkan oleh larutan. Tekanan osmotik larutan disebut
osmolalitas, suatu larutan yang osmolitasnya sama dengan plasma darah disebut isotonik
3. Filtrasi
Adalah suatu proses perpindahan air dan substansi yang dapat larut secara bersamaan
sebagai respon terhadap adanya tekanan cairan. Proses ini bersifat aktif di dalam bantalan
kapiler, tempat pembedahan hidrostatik tau gradient yang menentukan perpindahan air,
elektrolit, dan substansi pelarut lain yang berada diantara cairan kapiler dan cairan intertisial.
4. Transpor aktif
Transpor aktif memerlukan aktifitas metabolik dan pengeluaran energy untuk menggerakkan
materi guna menembus membran sel. Hal ini memungkinkan sel menerima molekul yang lebih
besar dari sel tersebut , selain itu sel dapat menerima atau memindahkan molekul dari daerah
berkonsentrasi rendah ke tinggi.
Proses regulasi cairan dan elektrolit dipengaruhi oleh beberapa faktor :
l. Tekanan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotic juga
menggunakan tekanan osmotic, yang merupakan kemampuan partikel pelarut untuk mebarik
larutan melalui membrane.
Bila dua larutan dengan perbedaan konsentrasi dan larutan yang mempunyai konsentrasi
lebih pekat molekulnya tidak dapat bergabung maka larutan tersebut disebut koloid.
Sedangkan, larutan yang mempunyai kepekatan yang sama dan dapat bergabung disebut
sebagai kristaloid. Sebagai contoh, larutan kristaloid adalah larutan garam, tetapi dapat menjadi
koloid apabila protein bercampur dengan plasma. Secara normal, perpindahan cairan
menembus membrane sel permeable tidak terjadi. Prinsip tekanan osmotic ini sangant penting
dalam proses pemberian cairan intravena. Biasanya, larutan yang sering digunakan dalam
pemberian infuse intravena bersifat isotonic karena mempunyai konsentrasi yang sama dengan
plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke dalam
intrasel. Larutan intravena bersifat hipotonik, yaitu larutan yang konsentrasinya kurang pekat
disbanding konsentrasi plasma darah. Tekanan osmotic plasma akan lebih besar dibandingkan
tekanan osmotik cairan interstisial karena konsentrasi protein dalam plasma dan molekul
protein lebih besar disbanding cairan interstisial, sehingga membentuk larutan koloid dan sulit
menembus membrane semipermiabel. Tekanan hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul
larutan yang bergerak dalam ruang tertutup. Hal ini penting guna mengatur keseimbangan
cairan ekstra dan intrasel.
2. Membran
Membrane semipermiabel merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak
bergabung. Membrane semipermiabel terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang
terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.
2.6 Variabel yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
Kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh di pengaruhi oleh faktor faktor :
l. usia.
Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh serta aktivitas organ, sehingga dapat
mempengaruhi jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit.
!. Temperatur.
Temperatur yang tinggi menyebabkan proses pengeluaran cairan melalui keringat cukup
banyak, sehingga tubuh akan banyak kehilangan cairan.
). *iet.
Apabila kekurangan nutrien, tubuh akan memecah cadangan makanan yang tersimpan di
salamnya sehingga dalam tubuh terjadi pergerakan cairan dari interstisial, yang dapat
berpengaruh pada jumlah pemenuhan kebutuhan cairan.
+. Stres.
Stres dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrulit melalui proses
pemingkatan produksi ADH, karena proses ini dapat meningkatkan metabolisme sehingga
mengakibatkan terjadinya glikolisis otot yang dapat menimbulkan retensi sodium dan air.

5. $akit.
Pada keadaan sakit terdapat banyaksel yang rusak, sehingga untuk memperbaiki sel yang
rusak tersebut di butuhkan adanya proses oemenuhan kebutuhan cairan yang cukup. Keadaan
sakit menimbulkan ketidk seimbangan sistem dalam tubuh, seperti ketoidak seimbangan
hormonal, yang dapat menggangu keseimbangan kebutuhan cairan.
2.7 Macam - macam cairan dan elektrolit
A. Cairan nutrient
Pasien yang istirahat ditempat tidur memerlukan sebanyak 450 kalori setiap harinya.
Cairan nutrien ( zat gizi ) melalui intravena dapat memenuhi kalori ini dalam bentuk karbohidrat,
nitrogen, dan vitamin yang penting untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan
nutrien dapat berkisar antara 200 l500 kalori per liter. Cairan nutrien terdiri atas :
l. Kabohidrat dan air, contoh; dexstrose (glukosa), levulose(fruktosa), invert sugar( dexstrose
dan levulose ).
2. Asam amino. Contoh : amigen, aminosol dan travamin
3. Lemak, contoh: lipomul dan liposyn
0. 0lood 3olume #&panders
Blood volume Expanders merupakan bagian dari jenis cairan yang berfungsi meningkatkan
volume pembulu darah setelah kehilangan darah atau plasma. Apabilah keadaan darah sudah
tidak sesuai , misalnya pasien dalam kondisi pendarahan berat, maka pemberian plasma akan
mempertahankan jumlah volume darah. Pada pasien luka bakar berat, sejumlah besar cairan
hilang dari pembulu darah di daerah luka. Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan
cairan ini. Jenis blood volume exspanders antara lain: human serum albumin dan dexstran
dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotik, sehingga
secara langsung dapat meningkatkan jumlah volume darah.
2.8 Kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh
A. "ipo3olume atau *e(idrasi
Kekurangan cairan external terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan
pengeluaran cairan . tubuh akan merespons kekurangan cairan tubuh dengan menggosongkan
cairan vaskuler. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan intersetisial, tubuh akan
mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini pada pasien diare dan muntah. Ada 3
macam kekurangan volum cairan external, yaitu:
l. Dehidrasi isotonik, terjadi jika tubuh kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit secara seimbang.
2. Dehidrasi hipertonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak air dari pada elektrolit.
3. Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit dari pada air.
Kehilangan cairan ekstrasel secara berlebihan menyebabkan volume ekstrasel berkurang
(hipo volume) dan perubahan hematokrit. Pada keadaan ini, tidak terjadi perpindahan cairan
daerah intrasal kepermukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan
ekstrasel dalam waktu yang lama, kadar urea, nitrogen, dan kreatinin meningkat dan
menyebabkan cairan intrasel kepembulu darah. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat terjadi
secara lambat atau cepat dan tidak selalu cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti
protein dan klorida/ natrium akan menyebabkan eskresi atau pengeluaran urin secara
berlebihan serta berkeringat dalam waktu lama dan terus menerus. Hal ini dapat terjadi pada
pasien yang mengalami hipotalamus, kelenjar gondok, ginjal, diare, muntah secara terus
menerus, pemasangan drainase, dan lain lain.
Macam dehidrasi berdasarkan derajatnya :
l. Dehidrasi berat, dengan ciri ciri
a. Pengeluaran / kehilangan cairan sebanyak 4 6lt
b. Serum natrium mencapai l59 l66 mEq/lt
c. Hipotensi
d. Turgor kulit buruk
e. Oliguria
f. Nadi dan pernapasan meningkat
g. Kehilangan cairan mencapai > l0% BB
2. Dehidrasi sedang, dengan ciri ciri :
a. Kehilangan cairan 2-4 lt atau antara 5-l0% BB
b. Serum natrium mencapai l52 l58 mEq/lt
c. Mata cekung
3. Dehidrasi ringan, dengan ciri ciri kehilangan cairan mencapai 5% BB atau l,5-2 lt
B. Hipervolume atau overhidrasi
Terdapat 2 hal yang ditimbulkan, yaitu hipervolume dan edema :
a. Hipervolume ( peningkatan volume darah )
b. Edema ( kelebihan cairan pada intertisial )
Pitting edema
Merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan berbentuk cekung setelah ditekan
di daerah yan bengkak, hal ini disebabkan oleh perpindahan cairan ke jaringan melalui titik
tekan. Cairan dalam jaringan yang edema tidak digerakkan kepermukaan lain dengan
penekanan jari
Nonpitting edema
Tidak menunjukan tanda kelebihan cairan extrasel, tetap sering karena infeksi dan trauma yang
menyebabkan membekunya pembukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskular meningkatkan
hidrostatik cairan dan akan menekan cairan kepermukaan interstisial.
Edema anasarka
Merupakan edema yang terletak pada seluruh tubuh
C. Kebutuhan elektrolit
Komposisi
Natrium : l35-l45mEq/lt
Kalium : 3,5-5,3mEq/lt
Kalsium : 4-5mEq/lt
Magnesium: l,5-2,5mEq/lt
Klorida : l00-l06 mEq/lt
Bikarbonat : 22-26mEq/lt
Fosfat : 2,5-4,5mg/l00ml
Pengaturan
Pengaturan keseimbangan natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi mengatur osmolaritas dan volume
cairan tubuh. Natrium paling banyak terdapat pada cairan ekstrasel. Pengaturan konsentrasi
cairan ekstrasel di atur oleh ADH dan aldosteron. Aldosteron dihasilkan oleh korteks suprarenal
dan berfungsi mempertahankan keseimbangan konsentrasi natrium dalam plasma dan
prosesnya di bantu oleh ADH. ADH mengatur sejumlah air yang di serap kambali ke dalam
ginjal dari tubulus renalis. Aldosteron juga mengatur keseimbangan jumlah natrium yang di
serap kembali oleh darah. Natrim tidak hanya bergerak ke dalam atau keluar tubuh, tetapi juga
mengatur keseimbangan cairan tubuh. Ekskresi dari natrium dapat dilakukan melalui ginjal atau
sebagian kecil melalui feses, kringat, dan air mata.
Pengturan Keseimbangan Kalium
Kalium merupakan kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan
berfungsi mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dangan
mekanisme perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan sekresi aldosteron. Aldosteron juga
berfungsi mengatur keseimbangan kadar kalium dalam plasma (cairan ekstrasel). System
pengaturan keseimbangan kalium melalui tiga langkah, yaitu:
l. Peningkatan konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel yang menyebabkan peningkatan
produksi aldosteron .
2. Peningkatan jumlah aldosteron akan mempengaruhi jumlah kalium yang dikeluarkan melalui
ginjal.
3. Peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel menurun
Kalium berpengaruh terhadap fungsi system pernafasan. Partikel penting dalam kalium
berfungsi menghantar impuls listrik ke jantung, otot lain, jaringan paru, dan jaringan usus
pencernan. Ekskresi kalium di lakukan melalui urine, sebagian melalui feses dan keringat.
Pengaturan Keseimbangan Kalsium
Kalsium dalam tubuh berfungsi membentuk tulang, menghantar impuls kontraksi otot, koagulasi
(pembekuan) darah, dan membantu beberapa enzim pancreas. Kalsium diekskresi melalui
urine dan keringat. Konsentrasi kalsium dalam tubuh di atur langsung oleh hormone paratiroid
dalam reabsorpsi tulang. Jika kadar kalsium darah menurun, kelenjar paritorid akan
merangsang pembentukan hormon paratiroid yang langsung meningkatkan jumlah kalsium
dalam darah.
Pengaturan Keseimbangan Klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi tidak dapat ditemukan pada
cairan ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium, yaitu
mempertahankan keseimbangan tekanan osmosik dalam darah. Hipokloromia merupakan
suatu keadaan kekurangan kadar klorida dalam darah, sedangkan hiperkloromia merupakan
kelebihan klor dalam darah. Normalnya, kadar klorida dalam darah pada orang dewasa adalah
95-l08 mEq/lt.
Pengaturan Keseimbangan Magnesium
Magnesium merupakan kation dalam tubuh, merupakan yang terpenting kedua dalam cairan
intrasel. Keseimbangannya di atur oleh kelenjar paratirioid. Magnesium diabsorpsi dari saluran
pencernaan. Magnesium diabsorpsi dari saluran pencernaan. Magnesium dalam tubuh di
pengaruhi oleh konsentrasi kalsium. Hipomagnesium terjadi bila konsentrasi serum turun
menjadi <l,5 mEq/ltd an hipermagnesium terjadi bila kadar magnesium serta serum meningkat
menjadi .2,5 mEq/lt
Pengaturan keseimbangan bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama larutan bufter (penyangga) dalam tubuh.
Pengaturan keseimbangan fosfat
Fosfat (PO4) bersama-sama dengan kalsium berfungsi membentuk gigi dan tulang. Posfat di
serap dari asluran pencernaan dan di keluarkan melalui urine.
2.9 Masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
A. Hiponatremia
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang
ditandai dengan adanya kadar natrium dalam plasma tinggi. Cirri ci yang dapat ditimbulkan
yaitu mukosa kering, turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan,
lidah kering dan kemerahan, suhu badan naik. kondisi demikian dapat disebabkan karena
dehidrasi, diare, pemasukan air yang berlebihan sementara asupan garam sedikit.
B. Hipernatremia
Etiologi :
- asupan berlebih peroral/enteral
- Perpindahan K+ ke ekstrasel pada asidosis
- Pseudohiperkalemia: pada pem. Penderita dg. Lekositosis/trombositosis ok.proses
koagulasi/hemolisis.
Gejala:
- kelemahan otot s/d paralisa
- Utk.menurunkan K+, meningkatkan hormon2 aldosteron, insulin, epinephrin, glukagon u/
menstabilkan gula darah
- Jantung: aritmia/arrest
C. Hipokalsemia
Etiologi :
l. Def.vit.D: makanan kurang lemak, sindrom malabsorbsi( gastrektomi, pankreatitis, obat
pencahar), ggn.metab.vit.D (vit.D deficient Rickets= kel.otosomal resesif), renal insuf.,
ggn.fgs.hati, obat anti kejang
2. Hipoparatiroidism
3. Pseudohipoparatiroidism
4. Keganasan
5. Hipofosfatemia
Pengobatan : koreksi defisiensi dg kalsium iv( Ca.Gluconat/ klorida l0%) atau peroral
(Ca.Gluconas/karbonat); dpt. Disertai pemberian vit.D dosis besar
D. Hiperkalsemia
Etiologi:
l. Hiperparatiroidisme
2. Tumor ganas yg mengeluarkan PTH
3. lntoksikasi vit.D
4. lntoksikasi vit. A
5. Hipertiroid
6. lnsufisiensi adrenal
7. Milk Alkali Syndrome: ok pemberian antasid disertai pemberian susu> pada ulkus peptikum
atau pemberian tiasid lama bersama vit.D.
E. Gangguan keseimb.fosfor
Etiologi:
l. Antasid pengikat fosfat dosis besar
2. Luka bakar yg luas & berat
3. Diet rendah fosfat
4. Alkalosis respiratorik
5. Ketoasidosis diabetik
6. alkoholisme
Gejala
l. Kerusakan eritrosit
2. Gangguan fungsi lekosit
3. Gangguan fungsi trombosit
4. Gangguan fingsi saraf pusat
5. Rabdomiolisis
Pengobatan
Pemberian garan fosfat peroral/intravena
Dan masih banyak lagi gangguan yang dapt disebabkan oleh gangguan keseimbangan asam
basa
0A0 III
A$1"AN K##2A@ATAN
3.l Pengkajian
l. Riwayat keperawatan
Berisi informasi mengenai masalah kesehatan klien dimasa lalu atau yang baru saja terjadi,
yang menyebabkan resiko terjadinya ketidak seimbangan
2. Pemeriksaan fisik
Karena gangguan cairan, elektrolit dan asam basa dapat mempengaruhi semua sistem, kita
harus mengidentifikasi secara sistematis setiap adanya abnormalitaspada tubuh. Seperti
denyut nadi dan tekanan darah, sistem pernapasan, sistem gastrotestinal, sistem ginjal, sistem
neuromuscular, kulit
3. Pemeriksaan labolatorium
Pemeriksaan labolatorium dilakukan untuk memperoleh data objektif lebih lanjut tentang
keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa. Pemeriksaan ini meliputi kadar elektrolit
serum, hitung darah lengkap, kadar keratin darah, berat jenis urine, dan kadar gas darah arteri.
3.2 Diagnosa
l. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
Kehilangan plasma yang berkaitan dengan luka bakar
Muntah
Kegagalan mekanisme pengaturan
Demam dan diare
Retensi natrium
Disritmia yang berkaitan dengan ketidak seimbangan elektrolit
2. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan
Gangguan pada ginjal sehingga sistem regulasi tidak normal
Gangguan mekanisme pengaturan
Disritmia yang berkaitan dengan ketidak seimbangan elektrolit
3.3 Perencanaan
Tujuan :
l. Klien akan memiliki keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa yang normal
2. Penyebab ketidakseimbangan dapat diidentifikasi dan dikoreksi
3. Klien tidak akan mengalami komplikasi akibat terapi yang dibutuhkan untuk mengembalikan
status keseimbangan
Rencana tindakan
l. Monitor asupan cairan yang diterima olek klien
2. Lakuakan pembagian jumlah total cairan yang boleh dikonsumsi setiap kali makan, diantara
waktu makan, sebelum tidur dan disaat meminum obat.
3. Pertahankan keseimbangan cairan yang ada
4. lmplementasikan program yang telah ditetapkan dokter untuk memberikan cairan parenteral
yang mengandung cairan elektrolit jika klien muntah dalam jangka waktu lama
3.4 lmplementasi
l. Mengoreksi ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
a. Penggantian cairan secara enteral
Cairan diberikan secara enteral melalui rute oral dan selang pemberi makan
Oral
Dapat dilakukan selama klien tidak muntah, tidak mengalami kehilangan cairan dalam jumlah
yang sangat besar, atau tidak mengalami obstruksi mekanis dalam saluran gastrotestinal.
Ketika mengganti cairan per oral pilihlah cairan yang mengandung kalori dan elektrolit yang
adekuat
Selang pemberian makan
Sangat tepat diberikan jika saluran gastrotestinal klien sehat tetapi klien tidak mampu menelan
cairan.semua selang pemberian makan seperti nasogastrik, gastrostomi, atau jejunostomi harus
diberikan sesuai program dokter.
b. Pembatasan cairan
Pada klien yang mengalami gagal ginjal, gagal jantung kongestif
Korpulmonal.
Pembatasan cairan
l. Memberikan setengah dari jumlah total cairan oral diantara pukul 08.00 dan l6.00, yakni
periode saat klien biasanya lebih aktif dan mendapatkan 2 kali mkanserta meminum sejumlah
besar obat obatan mereka
2. Kemudian dua per lima dari jumlah total asupan cairan diberikan diantara l6.00 dan pukul
23.00
3. Antara pukul 23.00 sampai pukul 08.00 sisa cairan total dapat diberikan
c. Penggantian cairan elektrolit secara parenteral
Penggantian parenteral meliputi :
l. Terapi cairan dan elektrolit intravena
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan dengan cara
memasukkan cairan melalui intravena dengan bantuan infus set,bertujuan memenhi kebutuhan
cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makan.
Alat dan bahan
a. Jarum yang sesuai
b. Larutan yang benar
c. lnfuse set
d. Standart infuse
e. Papan penopang ( jika perlu )
f. Handuk atau pengalas
g. Alcohol dan swab pembersih
h. turniket
i. Kasa atau balutan transparan
j. Plester
k. Gunting sarung tangan
Posedur kerja
a. Cuci tangan
b. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
c. Pasang pengalas
d. Buka set infuse pertahankan sterilitas dikedua ujungnya
e. Tempatkan klem yang dapat digeser tepat dibawah bilik tetesan dan gerakkan klem pen
ggeser ke posisi penghentian aliran infuse
f. Massukkan set infuse ke dalam kantung atau botol cairan
g. Buka pelindung jarum dan geserklem penggeser sehingga aliran infuse dapat mengalir dari
bilik tetesan ke adapter jarum,gerakkan lagi klem ke posisi penghentian cairan setelah selang
terisi
h. Pastikan selang bebas dari udara dan gelembung udara
i. Pasang turniket l0-l2cm di atas tempat insersi
j. Pilih vena
k. Pakai sarung tangan
l. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
m. Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas
n. Cek apakah sudah mengenai vena (cirinya adalah darah keluar melelui jarum infus/abocath)
o. Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus
p. Buka tetesan
q. Lakukan desinfeksi dengan betadine dan tutup dngan kasa steril
r. Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester
s. Cuci tangan
Cara Menghitung Tetesan lnfus
Dewasa :
Tetesan / Menit = Jumlah Cairan yang Masuk
Lamanya infus (jam) x 3

Anak
Tetesan / Menit = jumlah Cairan yang MasUK
Lamanya infus (l jam)
2. Penggantian darah
Transfusi darah merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang
membutuhkan darah dengan cara memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan alat
transfuse set. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi
jaringan.
Alat dan Bahan :
l. Standar infuse
2. Tranfusi Sel
3. NaCl 0.9 %
4. Darah sesuai dengan kebutuhan pasien
5. Jalan infuse / abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
6. Pengalas
7. Tourniquet / pembendung
8. Kapas alcohol 70 %
9. Plester
l0. Gunting
ll. Kasa steril
l2. Betadine
l3. Sarung tangan
Prosedur Kerja :
l. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Hubungkan cairan NaCl 0.9 % dan tranfusi set dengan cara menusukkan
4. lsi cairan NaCl 0.9 % ke dalam tranfusi set dengan menekan bagian ruang tetesan hingga
ruang tetesan terisi sebagian dan buka penutup hingga selang terisi dan udaranya keluar.
5. Letakkan pengalas
6. Lakukan pembendungan dengan tourniquet
7. Gunakan sarung tangan
8. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
9. Lakukan penusukan dengan arah jarum keatas
l0. Cek apakah sudah mengenai vena (cirinya adalah darah kelaur melalui jarum infuse/abocath)
ll. Tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang tranfusi
l2. Buka tetesan
l3. Lakukan desinfeksi dengan betadine dan tutup dengan kasa steril
l4. Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
l5. Setelah NaCl 0.9 % masuk, kurang lebih l5 menit, ganti dengan darah yang sudah disiapkan
l6. Sebelum dimasukkan, terlebih dahulu cek warna darah, identitas pasien, jenis golongan darah,
dan tanggal kedaluwarsa
l7. Lakukan observasi tanda-tanda vital selama pemakaian transfuse
l8. Cuci tangan
3.5 Evaluasi
Perawat mengevaluasi keefektifan perawatan yang tewlah diberikan, secara umunm dapat
dinilai dari penurunanberat badan, peningkatan haluaran urine dalam 24 jam, penurunan atau
tidak adanya edema dependen, turgor kulit baik dan lain sebagainya.
0A0 I9
#N1T1
+.1 enutup
Semoga makalah ini dapat memberikan gambaran mengenai keseimbangan cairan dan
elektrolit. Bagi institusi sebagai arsip untuk mahasiswa yang lainya.
+.! $aran
Dengan adanya makalah ini diharap pembaca dapat memahami penjelasan di dalamnya
sehingga dapat diterapkan guna pemaksimalan pemahaman mengenai keseimbangan cairan
dan elektrolit.
&ebu!u'an Cairan "an ($e!r#$i!
A. engertian
Air (H2O) merupakan komponen utama yang paling banyak terdapat di dalam tubuh
manusia. Sekitar 60% dari total berat badan orang dewasa terdiri dari air. Namun bergantung
kepada kandungan lemak dan otot yang terdapat di dalam tubuh, nilai persentase ini dapat
bervariasi antara 50-70% dari total berat badan orang dewasa. Oleh karena itu maka tubuh
yang terlatih dan terbiasa berolahraga seperti tubuh seorang atlet biasanya akan mengandung
lebih banyak air jika dibandingkan tubuh nonatlet. Di dalam tubuh, sel-sel yang mempunyai
konsentrasi air paling tinggi antara lain adalah sel-sel otot dan organ-organ pada rongga badan,
seperti paru-paru atau jantung, sedangkan sel-sel yang mempunyai konsentrasi air paling
rendah adalah sel-sel jaringan seperti tulang atau gigi. Konsumsi cairan yang ideal untuk
memenuhi kebutuhan harian bagi tubuh manusia adalah mengkonsumsi l ml air untuk setiap l
kkal konsumsi energi tubuh atau dapat juga diketahui berdasarkan estimasi total jumlah air
yang keluar dari dalam tubuh. Secara rata-rata tubuh orang dewasa akan kehilangan 2.5 L
cairan perharinya. Sekitar l.5 L cairan tubuh keluar melalui urin, 500 ml melalui keluarnya
keringat, 400ml keluar dalam bentuk uap air melalui proses respirasi (pernafasan) dan l00 ml
keluar bersama dengan feces(tinja). Sehingga berdasarkan estimasi ini, konsumsi antara 8-l0
gelas (l gelas 240 ml) biasanya dijadikan sebagai pedoman dalam pemenuhan kebutuhan
cairan per-harinya.
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat.
Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari
fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan
perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air( pelarut)
dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel
bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke
dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (lV) dan di distribusi ke seluruh
bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air
tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit
saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh
pada yang lainnya.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu :
cairan intraseluler (ClS) = 40% dari BB total
Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan
tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya,
hanya dari cairan tubuh bayi adalah cairan intraselular.
cairan ekstraseluler (CES) = 20% dari BB total
Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun dengan peningkatan usia. Pada
bayi baru lahir, kira-kira cairan tubuh terkandung didalam CES. Setelah l tahun, volume
relatif dari CES menurun sampai kira-kira l/3 dari volume total. lni hampir sebanding dengan l5
L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg).
Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel diseluruh tubuh, sedangkan
cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu:
cairan intravaskuler(plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler
(plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak
diantara sel,s edangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan
serebrospinal, cairan intraokuler,dan sekresi saluran cerna.
0. 6ungsi Cairan Tubu(
Dalam proses metabolisme yang terjadi didalam tubuh, air mempunyai 2 fungsi utama
yaitu sebagai pembawa zat-zat nutrisi seperti karbohidrat,vitamin dan mineral serta juga akan
berfungsi sebagai pembawa oksigen ke dalam sel-sel tubuh.Selain itu,air didalam tubuh juga
akan berfungsi untuk mengeluarkan produk samping hasil metabolisme seperti karbon
dioksida(CO2) dan juga senyawa nitrat.Selain berperan dalam proses metabolisme,air yang
terdapat di dalam tubuh juga akan memiliki berbagai fungsi penting antara lain sebagai
pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata,mulut dan hidung, pelumas dalam cairan sendi
02 Sports Science Brief tubuh,katalisator reaksi biologik sel,pelindung organ dan jaringan tubuh
serta juga akan membantu dalam menjaga tekanan darah dan konsentrasi zat terlarut.Selain itu
agar fungsi-fungsi tubuh dapat berjalan dengan normal,air di dalam tubuh juga akan berfungsi
sebagai pengatur panas untuk menjaga agar suhu tubuh tetap berada pada kondisi ideal yaitu
37 C.
C. $istem Tubu( %ang 0erperan
Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal, kulit, paru,
dan gastrointestinal.
1. Gin;al
Organ yang memiliki peran cukup besar dalam mengatur kebutuhan cairan dan elektrolit.
Fungsi ginjal, yaitu sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah, pengatur
keseimbangan asam basa darah, dan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.
Prosespengaturan kebutuhan keseimbangan air ini di awali oleh kemampuan bagian ginjal,
seperti glomerulus, dalam menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah mengandung 500
cc plasma yang mengalir melalui glomerulus, l6 % disaring keluar. Cairan yang tersaring
(filtrate glomerulus),kemudian mengalir melalui tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua
bahan yang dibutuhkan. Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat dipengaruhi oleh ADH dan
aldosteron dengan rata-rata l ml/kg/bb/jam.
2. Kulit
Bagian penting pengaturan cairan yang terkait proses pengaturan panas. Proses ini diatur
oleh pusat pengatur panas yang disarafi oleh vasomotorik dengan kemampuan mengendalikan
arteriol kutan dengan cara vasodilatasi dan vasokontriksi proses pelepasan dengan cara proses
penguapan. Jumlah keringat yang keluar tergantung pada banyaknya darah yang mengalir
melalui pembuluh darah dalam kulit. Ataupun dengan cara konduksi (pengalihan panas ke
benda yang disentuh), dan konveksi (pegaliran udara panas ke permukaan yang lebih dingin)
Keringat merupakan sekresi aktif dari kelenjar keringat di bawah pengendalian saraf simpatis.
3. Paru-paru
Berperan dalam mengeluarkan cairan dengan menghasilkan insensible ater loss 400
ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dengan respon akibat perubahan upaya kemampuan
bernapas.
4. Gastrointestinal
Organ saluran pencernaan yang beperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses
penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal, cairan yang hilang dalam system ini
sekitar l00-200 ml/hari.
Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui system endogrin, seperti system hormonal,
aldosteron, prostaglandin, glukokortikoid, dan mekanisme rasa haus.
5. ADH
Hormone ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat
mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh. Hormone ini dibentuk oleh hipotalamus di
hipofisis posterior, yang mensekresi ADH dengan meningkatkan osmolaritas dan menurunkan
cairan ekstrasel.
a. Aldosteron
b. Prostaglandin
c. Glukokortikoid
d. Mekanisme rasa haus
*. roportion -4 0od% 6luid
Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung
beberapa hal antara lain :
a.Umur
b.Kondisi lemak tubuh
c.Sex
Perhatikan Uraian berikut ini :
No. Umur Kebutuhan Air
Jumlah air dalam 24 jam Ml/kg berat badan
l. Bayi 3 hari 250-300 80-l00
2. Balita:
l tahun
2 tahun
4 tahun
ll50-l300
l350-l500
l600-l800
l20-l35
ll5-l25
l00-ll0
3. Anak:
l0 tahun
l4 tahun
l8 tahun
2000-2500
2200-2700
2200-2700
70-85
50-60
40-50
4. Dewasa 2400-2600 20-30
Pada orang dewasa kira-kira 40 % barat badannya atau 2/3 dari TBW-nya berada di
dalam sel (cairan intraseluler/lCF), sisanya atau l/3 dari TBW atau 20% dari berat badannya
berada di luar sel (ekstraseluler) yaig terbagi dalam l5 %cairan interstitial, 5 % cairan
intavaskuler dan l-2 % transeluler.
#. Cara erpinda(an Cairan Tubu(
l. Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molkeul-molekul dalam cairan, gas, atau zat padat secara
bebas dan acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam sel membrane.
Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain tejadi melalui membrane kapiler yang
permeable. Kecepatan proses difusi bervariasi, bergantung pada factor ukuran molekul,
konsentrasi cairan, dan temperature cairan.
Molekul akan lebih berpindah dari larutan dengan konsentrasi tinggi ke larutan dengan
konsentrasi rendah.
2. Osmosis
Proses perpindahan zat larutan lain melalui membrane semipermeabel biasanya tejadi dari
larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat, ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat.
Solute adalah zat pelarut, sedang solven adalah larutannya.Proses osmosis penting dalam
mengatur keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
Osmolaritas adalah cara untk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan
mol. NaCl berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila
terdapat ltiga jenis larutan garam dengan kepekatan yang berbeda dan didalamnya dimasukkan
sel darah merah, maka larutan yang mempunyai kepekatan sama yang akan seimbang dan
berdifusi.
Pada proses osmosis dapat terjadi perpindahan dari larutan dengan kepekatan rendah ke
larutan yang kepekatannya lebih tinggi melalui membrane semipermeabel, sehingga larutan
yang berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedang larutan yang lebih tinggi akan
bertambah volumenya.
3. Transpor Aktif
Tranpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini terutama
penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel.
Proses pengaturan cairan dapat dipengaruhi oleh dua factor, yaitu tekanan cairan dan
membrane.
a. Tekanan cairan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotik juga
menggunakan tekanan osmotik, yang merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik
larutan melalui membrane.
Bila dua larutan dengan perbedaan konsentrasi dan larutan yang mempunyai
konsentrasi lebih pekat molekulnya tidak dapat bergabung maka larutan tersebut disebut
koloid.sedangkan, larutan yang mempunyai kepekatan yang sma dan dapat bergabung disebut
sebagai kristaloid.
b. Membrane semipermeabel
Merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak bergabung. Terdapat di
dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain
tidak berpindah ke jaringan.
6. engaturan Cairan 9olume Tubu(
keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah cairan yang
masuk dan jumlah cairan yang keluar.
l. Asupan cairan
Asupan (inta,e) cairan untuk komdisi normal pad orang dewasa adalah 2500 cc/hari.
Penagturan mekanisme keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus.
2. Pengeluaran cairan
Pengeluaran (output) cairan sebagai dalam mengimbangi asupan cairan orang sewasa dalam
kondisi normal adalah 2300cc/hari. Jumlah air yang banyak keluar dari ekskresi ginjal (urine),
sebanyak l500cc/hari. Hasi-hasil pengeluaran cairan adalah:
a. Urine
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan Ureter mengalirkan urine ke bladder. Dalam bladder,
urine ditampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan melalui uretra.
Cairan dalam ginjal disaring pada glomerulus dan salam tubulus distal untuk kemudian diserap
kembali ke dalam aliran darah
b. Keringat
Terbentuk bila menjadi panas akibat pengaruh suhu yang panas. Keringat banyak mengandung
garam, urea, asam laktat, dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat yang keluar akan
mempengaruhi kadar natrium dalam plasma.
c. Feses
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat. Jika cairan yang keluar
melalui feses jumlahnya berlebihan, maka dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Jumlah
rata-rata pengeluaran cairan melalui feses adalah l00 ml.hari.
G. #lektrolit 1tama Tubu( ,anusia
Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non
elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti :
protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit
tubuh mencakup natrium (Na+),kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-),
bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh
bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion
pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-
muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif. Komposisi dari elektrolit-
elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun pada plasma terinci di bawah ini :
No. #lektrolit #kstraseluler Intraseluler
Plasma lnterstitial
a.Kation :
A $odium (NaB) :
Kation berlebih di ruang ekstraseluler
Sodium penyeimbang cairan di ruang eesktraseluler
Sodium adalah komunikasi antara nerves dan musculus
Membantu proses keseimbangan asam-basa dengan menukar ion hidrigen pada ion sodium di
tubulus ginjal : ion hidrogen di ekresikan
Sumber : snack, kue, rempah-rempah, daging panggang.
A otassium (KB) :
Kation berlebih di ruang intraseluler
Menjaga keseimbangan kalium di ruang intrasel
Mengatur kontrasi (polarissasi dan repolarisasi) dari muscle dan nerves.
Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis.
A Cal'ium (CaBB) :
Membentuk garam bersama dengan fosfat, carbonat, flouride di dalam tulang dan gigi untuk
membuatnya keras dan kuat
Meningkatkan fungsi syaraf dan muscle
Meningkatkan efektifitas proses pembekuan darah dengan proses pengaktifan protrombin dan
trombin
Sumber : susu dengan kalsium tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll.
b.Anion :
A C(loride (Cl .) :
Kadar berlebih di ruang ekstrasel
Membantu proses keseimbangan natrium
Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster
Sumber : garam dapur
A 0i'arbonat ("C-) .) :
Bagian dari bicarbonat buffer sistem
Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk
menurunkan PH. Fosfat ( H2PO4- dan HPO42-) :
Bagian dari fosfat buffer system
Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel
Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang
Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA.
". ,asala( Kebutu(an Cairan
l. Hipovolume atau Dehidrasi
Kekurangan cairan eksternal terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan
pengeluaran caiaran.
Ada tiga macam kekurangan volume ciran eksternal, yaitu:
a. Dehidrasi isotonic
Terjadi jika tubuh kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit secara seimbang.
b. Dehidrasi hipertonik
Terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak air daripada elektrolit.
c. Dehidrasi hipotonik
Tejadi jika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit daripada air.
Macam-macam dehidrasi berdasarkan derajatnya:
a. Dehidrasi Berat
Pengeluaran cairan sebanyak 4-6 lt
Serum natrium mencapai l59-l66 mEq/lt
Hipotensi
Turgor kulit buruk
Oliguria
Nada dan pernapasan meningkat
Kehilangan cairan > l0% BB
b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan antara 5-l0% BB
Serum natrium antara l52-l58 mEq/lt
Mata cekung
c. Dehidrasi Ringan
Kehilangan cairan mencapai 5% BB atau l.5-2 lt
2. Hipervolume atau Overdehidrasi
Pada kelebihan ekstrasel, gejala yang sering ditimbulkan adalah edema perifer, asites,
kelopak mata bengkak, suara napas ronchi basah, penambahan BB secara tidak normal/sangat
cepat, nilai hematokrit pada umumnya normal, akan tetapi menurun bila kelebihan cairan
bersifat akut.
I. engaturan #lektrolit
l. Pengaturan Keseimbangan Natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi mengatur osmolaritas dan volume
cairan tubuh. Natrium paling banyak terdapat pada cairan ekstrasel. Natrium tidak hanya
bergerak ke dalam atau ke luar tubuh, tetapi juga mengatur keseimbanagn cairan. Eskresi dari
natrium dapat melalui ginjal, atau sebagian kecil melalui feses, keringat, dan air mata.
2. Pengaturan Keseimbangan Kalium
Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi mengatur
keseimbangan elektrolit.diatur oleh ginjal dengan perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal
dan sekresi aldosteron.
3. Pengaturan Keseimbangan Kalsium
Kalsium dalam tubuh berfungsi membentuk tulang, menghantar impuls kontraksi otot,
koagulasi (pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pancreas.
4. Pengetahuan Keseimbangan Klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi tidak dapat ditemukan pada
cairan ekstrasel intrasel. Fungsinya untuk mempertahankan keseimbangan tekanan osmotic
dalam darah.
5. Pengaturan Keseimbangan Magnesium
Magnesium merupakan katoin dalam tubuh, yang terpenting kedua dalam cairan intrasel.
6. Pengaturan Keseimbangan Bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama larutan buffer (penyangga) dalam tubuh.
7. Pengaturan Keseimbangan Fosfat
Fosfat bersama-sama dengan kalsium membentuk gigi dan tulang. Fosfat diserap dari saluran
pencernaan dan dikeluarkan oleh urine.
:. ,asala( Kebutu(an #lektrolit
l. Hiponatremia
Merupakan suatu keadaan berkurangnya kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai
dengan adanya kadar natrium dalam plasma sebanyak < l35 mEq/lt.
2. Hipernatremia
Merupakan suatu kondisi keadaan di mana kadar natrium dalam plasma tinggi, ditandai dengan
adanya mukosa kering, oligari/anusia, turgor kulit buruk, dan permukaan kulit bengkak, kulit
kemerahan, lidah kering dan kemerahan, suhu tubuh naik, serta kadar natrium dalam plasma
darah lebih dari l45 mEq/lt.
3. Hipokalemia
Merupakan suatu kondisi keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah, yang terjadi sangat
cepat. Sering terjadi pada klien yang mengalami diare berkepanjangan yang turunnya kadar
kalsium plasma hingga kurang dari 3,5 mEq/lt.
4. Hiperkalemia
Merupakan suatu kondisi di mana kadar kalsium dalam darah tinggi, yang sering terjadi pada
klien dengan luka bakar, penyakit ginjal. Yang disertai dengan kadar kalsium dalam plasma
mencapai lebih dari 5 mEq/lt.
5. Hipokalsemia
Merupakan suatu kondisi kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah yang ditandai dengan
adanya kram otot, dank ram perut, kejang, bingung, dan kadar kalsium dalam plasma kurang
dari 4,3 meq/lt.
6. Hipokalsemia
Merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah, ditandai dengan nyeri pada
tulang, relaksasi otot, batu ginjal dan kadar kalsium dalam plasma mencapai lebih dari 4,3
mEq/lt.
7. Hipomagnesia
Merupakan suatu kondisi kekurangan magnesium dalam darah ditandai dengan adanya
iritabilitas, takikardi, hipertensi. Kadar magnesium dalam darah, mencapai kurang dari l,3
mEq/lt.
8. Hipermagnesia
Merupakan suatu kondisi berlebihnya kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya
koma, gangguan pernapasan, dan kadar magnesium mencapai lebih dari 2,5 mEq/lt.
K. Keseimbangan Asam.0asa
Dalam keadaan normal, pH cairan tubuh adalah 7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa
dapat dipertahankan melalui metabolism dengan system buffer pada seluruh cairan tubuh dan
oleh pernapasan dengan system regulasi.
Pengaturan keseimbangan asam-basa dilakukan oleh paru melalui pengangkutan
kelebihan CO2 dan H2CO2 dari daerah yang dapat meningkatkan pH hingga kondisi standar.
Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengkoreksi asidosis. Keadaan asidosis dapat
disebabkan oleh henti jantung dan koma deabetikan. Contoh cairan alkali adalah natrium laktat
dan natrium bikarbonat.
L. ,asala( Keseimbangan Asam.0asa
l. Asidosis respiratorik
Merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh kegagalan system pernapasan dalam
membuang karbondioksida dari cairan tubuh sehingga tejadi kerusakan pada system
pernapasan, peningkatan pCO2 arteri diatas 45 mmHg dan penurunan pH hingga <7,35.
2. Asidosis metabolic
Merupakan suatu keadaan kehilangan basa atau terjadinya penumpukan asam yang ditandai
dengan adangan penurunan pH hingga < 7,35dan HCO3 kurang dari 22 mEq/lt.
3. Alkalosis respiratorik
Merupakan suatu keadaan kehilangan CO2 dari paru yang dapat menimbulkan terjadinya
pCO3arteri <35 mmHg dan pH > 7,45.
4. Alkalis metabolic
Merupakan suatu kondisi kehilangan ion hydrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh
dengan adanya peningkatan bikarbonat plasma > 26 mEq/ltd an pH arteri 7,45.
,. 6aktor < 4aktor %ang mempengaru(i Kebutu(an Cairan dan #lektrolit
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya
adalah :
l. Usia
Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan dan berat
badan. selain itu sesuai aturan, air tubuh menurun dengan peningkatan usia. Berikut akan
disajikan dalam tabel perubahan pada air tubuh total sesuai usia.
2. Jenis kelamin
Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional, karena lebih banyak
mengandung lemak tubuh
3. Sel-sel lemak
Mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh
4. Stres
Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikolisis otot,
mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan
produksi ADH dan menurunkan produksi urine
5. Sakit
Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung, gangguan hormon akan
mengganggu keseimbangan cairan
6. Temperatur lingkungan
Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui
keringat sebanyak l5-30 g/hari
7. Diet
Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini akan
menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraselular.
Posted by anggifatma at 7:53 PM
Kirimkan lni lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Meng'i!ung )a$ance Cairan
Di"#skan #leh Nur ] ;E''A ] +ayat!
Data %& jam yang di"akai^

Ru1u6 Bala3e Ca+0a

I)ea,e > 3a+0a 1a6u, 4 Ou)/u) > 3a+0a ,elua0 ? IPL (I6e6+ble Pa)e0 L<66)
I)a,e > Ca+0a Ma6u, 9 mulai dari cairan in,us, minum, kandungan cairan dalam makanan
"asien, )#lume #bat#batan, termasuk #bat suntik, #bat yang di dri", albumin dll!

Ou)/u) > Ca+0a ,elua0 9 urine dalam %& jam, jika "asien di"asang kateter maka hitung dalam
ukuran di ur#bag, jka tidak ter"asang maka "asien harus menam"ung urinenya sendiri, biasanya
ditam"ung di b#t#l air mineral dengan ukuran 8,5 liter, kemudian ,eses!

IPL (+6e6+ble Ga)e0 l<66(IPL) 9 jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan sulit diitung,
yaitu jumlah keringat, ua" ha$a na,a!

RUMUS IPL
I1L @ /85 I BB 0
%& jam
-th9 'n!A BB 67kg dengan suhu tubuh <2- /suhu n#rmal0

I1L @ /85 I 67 0 @ <2,5 cc?jam
%& jam

_kalo dlm 24 jam `E <2,5 I %& @ A77cc?%& jam
*Rumus I! Kenaikan "uhu

a/874 I -:0I jumlah kenaikan suhub = I1L n#rmal
%& jam

-th9 'n!A BB 67kg, suhu@ <A-, -:@ %77cc

I1L @ a/874I%770I/<A -<2 -0b = <2,5cc
%& jam
@ /%7c%0 = <2,5cc
%&
@ 8,2 = <2,5 @ <Acc?jam

_-: 9 -airan :asuk


:enghitung balance cairan sese#rang harus di"erhatikan berbagai ,akt#r, diantaranya Berat
Badan dan Umur!!karena "enghitungannya antara usia anak dengan de$asa berbeda!
:enghitung balance cairan"un harus di"erhatikan mana yang termasuk kel#m"#k Intake cairan
dan mana yang #ut"ut cairan! Berdasarkan kuti"an dari I$asa :! +#g#shi S /8AA50 .luid
'hera"y d# /P'! Btsuka Ind#nesia0 penghitungan wajib per 24 jam bukan pershift.
;ENGHITUNGAN BALANCE CAIRAN UNTUK LEPASA
In"ut cairan9 Air /makan=:inum0 @ ddcc
-airan In,us @ ddcc
'hera"i injeksi @ ddcc
Air :etab#lisme @ ddcc /Hitung A:@ 5 cc?kgBB?hari0
But"ut cairan9 Urine @ ddcc
.eses @ d!!cc /k#ndisi n#rmal 8 BAB ,eses @ 877 cc0
:untah?"erdarahan
cairan drainage luka?
cairan NF' terbuka @ d!!cc
I1L @ d!!cc /hitung I1L@ 85 cc?kgBB?hari0
/Insensible 1ater L#ss0
-#nt#h +asus9
'n S /<5 tahun0 , BB 67 +gN dira$at dengan "#st #" La"arat#mi hari kedua!!akibat a""endiI
"er,#rasi, +eadaan umum masih lemah, kesadaran c#m"#smentis!!Uital sign 'D9 887?27 mmHgN
H; 33 I?menitN ;; %7 I?menit, ' <2 T-9 masih di"uasakan, saat ini ter"asang NF' terbuka
cairan ber$arna kuning kehijauan sebanyak %77 ccN "ada daerah luka incici #"erasi ter"asang
drainage ber$arna merah sebanyak 877 cc, In,us ter"asang DeItr#se 54 dri" Antrain 8 am"ul
?k#l, 9 %777 cc?%& jam!, ter"asang catheter urine dengan jumlah urine 8277 cc, dan menda"at
tran,usi 1B <77 ccN menda"at antibi#tik -e,at % I 8 gram yg didri"kan dalam Na-l 57 cc setia"
kali "emberian, Hitung balance cairan 'n S^

In"ut -airan9 In,us @ %777 cc
'ran,usi 1B @ <77 cc
Bbat injeksi @ 877 cc
A: @ <77 cc /5 cc I 67 kg0 =
```````````````
%277 cc

But"ut cairan9 Drainage @ 877 cc
NF' @ %77 cc
Urine @ 8277 cc
I1L @ A77 cc /85 cc I 67 kg0 =
```````````````
%A77 cc
*adi Balance cairan 'n S dalam %& jam 9 Intake cairan J #ut"ut cairan
%277 cc J %A77 cc
%77 cc!
Bagaimana jika ada kenaikan suhue maka untuk menghitung #ut"ut terutama I1L gunakan
rumus 9
I1L = %77 /suhu tinggi J <6,3 !T-0, nilai <6,3 T- adalah k#nstanta
Andaikan suhu 'n S adalah <3,5 T-, bera"akah Balance cairannyae
berarti nilai I1l 'n S@ A77 = %77 /<3,5 T- J <6,3 !T-0
@ A77 = %77 /8,20
@ A77 = <&7 cc
@ 8%&7 cc
:asukkan nilai I1L k#ndisi suhu tinggi dalam "enjumlahan kel#m"#k But"ut 9
Drainage @ 877 cc
NF' @ %77 cc
Urine @ 8277 cc
I1L @ 8%&7 cc =
````````J
<%&7 cc
*adi Balance cairannya dalam k#ndisi suhu ,ebris "ada 'n S adalah 9 %277 cc J <%&7 cc @ 5&7
cc

:enghitung Balance cairan anak tergantung taha" umur, untuk menentukan A+0 Me)ab<l+61e,
menurut IGa6a M# K<9<6*+ S 5ala1 Flu+5 Te*0a/M Bu,< 5< (1..") 5a0+ ;T. O)6u,a
I5<e6+a yaitu9
Usia Balita /8 J < tahun0 9 3 cc?kgBB?hari
Usia 5 J 2 tahun 9 3 J 3,5 cc?kgBB?hari
Usia 2 J 88 tahun 9 6 J 2 cc?kgBB?hari
Usia 8% J 8& tahun 9 5 J 6 cc?kgBB?hari

Untuk IPL (I6e6+ble Pa)e0 L<66) "ada anak @ #$% & usia anak dalam tahun' (
cc)kg**)hari
Jika anak mengompol menghitung urine %+, cc & - cc)kg**)hari

./01/2 9
An H /< tahun0 BB 8& +g, dira$ata hari ke dua dengan DBD, keluhan "asien menurut ibunya9
Qre$el, tidak na,su makanN malas minum, badannya masih hangatN gusinya tadi malam berdarahR
Berdasarkan "emeriksaan ,isik dida"at data9 +eadaan umum terlihat lemah, kesadaran
c#m"#smentis, ''U9 H; 877 I?menitN ' <2,< T-N "etechie di kedua tungkai kaki, :akan ?%&
jam hanya 6 send#k makan, :inum?%& jam 8777 ccN BA+?%& jam 9 8777 cc, menda"at In,us
Asering 8777 cc?%& jam! Hasil "emeriksaan lab 'r terakhir9 57!777! itunglah balance cairan
anak ini!

Input cairan3 M+u1 N 1000 33
I:u6 N 1000 33
AM N 11$ 33 ? (- 33 7 1' ,9)
QQQQQQQQ-
$11$ 33

/ut put cairan3 Mu)a* N 100 33
U0+ N 1000 33
IPL N (!- 33 ? ((0-( )a*u) 7 1' ,9
QQQQQQQQQ%
1'!- 33
Bala3e 3a+0a 4 I)a,e 3a+0a % Ou)/u) Ca+0a1
$11$ 33 % 1'!- 33
? &(' 33

Se,a0a9 *+)u9 bala3e 3a+0aMa K+,a 6u*u A 7 (.#- T- R
yang perlu diperhatikan adalah penghitungan "#$ pada kenaikan suhu gunakan rumus%
IPL ? $00 ( Su*u T+99+ % (&#- SC) (&#- SC a5ala* ,<6)a)a.

IPL A T 4 (!- ? $00 ((.#- SC % (&#- SC)
(!- ? $00 (()
(!- ? &00
.!- 33
Ma,a <u)/u) 3a+0a A T 4 Mu)a* N 100 33
U0+ N 1000 33
IPL N .!- 33 ?
QQQQQQQQ-
$0!- 33
Ja5+ Bala3e 3a+0aMa 4 $11$ 33 % $0!- 33
? (' 33.


Fa,)<0 Ma9 Be0/e9a0u* /a5a Ke6e+1ba9a Ca+0a 5a Ele,)0<l+)

Fa,)<0-:a,)<0 Ma9 be0/e9a0u* /a5a ,e6e+1ba9a 3a+0a 5a ele,)0<l+) )ubu* a)a0a
la+ N
a.U1u0 N
+ebutuhan intake cairan ber)ariasi tergantung dari usia, karena usia akan ber"engaruh "ada luas
"ermukaan tubuh, metab#lisme, dan berat badan! In,ant dan anakanak lebih mudah mengalami
gangguan keseimbangan cairan dibanding usia de$asa! Pada usia lanjut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan dikarenakan gangguan ,ungsi ginjal atau jantung!
b.I,l+1 N
Brang yang tinggal di daerah yang "anas /suhu tinggi0 dan kelembaban udaranya rendah
memiliki "eningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektr#lit melalui keringat! Sedangkan
sese#rang yang berakti,itas di lingkungan yang "anas da"at kehilangan cairan sam"ai dengan 5 L
"er hari!
3.L+e) N
Diet sese#rag ber"engaruh terhada" intake cairan dan elktr#lit! +etika intake nutrisi tidak
adekuat maka tubuh akan membakar "r#tein dan lemak sehingga akan serum albumin dan
cadangan "r#tein akan menurun "adahal keduanya sangat di"erlukan dalam "r#ses
keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema!
5.S)0e66 N
Stress da"at meningkatkan metab#lisme sel, gluk#sa darah, dan "emecahan glyk#gen #t#t!
:rekanisme ini da"at meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berke"anjangan da"at
meningkatkan )#lume darah!
e.K<5+6+ Sa,+) N
+#ndisi sakit sangat b<er"engaruh terhada" k#ndisi keseimbangan cairan dan elektr#lit tubuh
:isalnya 9
'rauma se"erti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui I1L!
Penyakit ginjal dan kardi#)askuler sangat mem"engaruhi "r#ses regulat#r
keseimbangan cairan dan elektr#lit tubuh
Pasien dengan "enurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan "emenuhan intake
cairan karena kehilangan kemam"uan untuk memenuhinya secara mandiri!
:.T+5a,a Me5+6 N
Banyak tindakan medis yang ber"engaruh "ada keseimbangan cairan dan elektr#lit tubuh
se"erti 9 sucti#n, nas#gastric tube dan lainlain!
9.;e9<ba)9a N
Peng#batan se"erti "emberian deuretik, laksati)e da"at ber"engaruh "ada k#ndisi cairan dan
elektr#lit tubuh!
h!Pembedahan 9
Pasien dengan tindakan "embedahan memiliki resik# tinggi mengalami gangguan keseimbangan
cairan dan elektr#lit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama "embedahan!

1a6ala* 9a99ua ,e6e+1ba9a 3a+0a 5a ele,)0<l+) )ubu*
Ga99ua Ke6e+1ba9a Ca+0a 5a ele)0<l+) )ubu*
8! Dehidrasi
%! Sy#k hi"#)#lemik
Fangguan +eseimbangan Elektr#lit
8! Hi"#natremia
De,inisi 9 kadar Na= serum di ba$ah n#rmal /DE
-ausa 9 -H., gangguan ginjal dan sindr#ma ne,r#tik, hi"#tir#id, "enyakit Addis#n
'anda dan Fejala 9
Jika Na plasma turun l0 mEq/L dalam beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah,
sakit kepala dan keram otot.
Jika Na plasma turun l0 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi sakit kepala hebat, letargi,
kejang, disorientasi dan koma.
Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit
Addison).
Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda
syok seperti hipotensi dan takikardi.
%! Hi"ernatremia
De,inisi 9 Na= serum di atas n#rmal /E8&5 mE>?L0
-ausa 9 +ehilangan Na= melalui ginjal misalnya "ada tera"i diuretik, diuresis #sm#tik, diabetes
insi"idus, sekr#sis tubulus akut, ur#"ati "asca #bstruksi, ne,r#"ati hi"erkalsemikN atau karena
hi"eralimentasi dan "emberian cairan hi"ert#nik lain!
'anda dan Fejala 9 iritabilitas #t#t, bingung, ataksia, trem#r, kejang dan k#ma yang sekunder
terhada" hi"ernatremia!
<! Hi"#kalemia
De,inisi 9 kadar += serum di ba$ah n#rmal /DE
Eti#l#gi
Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah, sedot
nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan pencahar)
Diuretik
Asupan K+ yang tidak cukup dari diet
Ekskresi berlebihan melalui ginjal
Maldistribusi K+
Hiperaldosteron
'anda dan Fejala 9 Lemah /terutama #t#t#t#t "r#ksimal0, mungkin are,leksia, hi"#tensi
#rt#statik, "enurunan m#tilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus! Hi"er"#larisasi my#kard
terjadi "ada hi"#kalemia dan da"at menyebabkan denyut ekt#"ik )entrikel, reentry "hen#mena,
dan kelainan k#nduksi! E+F sering mem"erlihatkan gel#mbang ' datar, gel#mbang U, dan
de"resi segmen S'!

&! Hi"erkalemia
De,inisi 9 kadar += serum di atas n#rmal /E 5,5 mE>?L0
Eti#l#gi 9
Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik, diuretik hemat
kalium, penghambat ACE.
beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries),
pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna
atau rhabdomyolisis. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti
garam, transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.
Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi
insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.
lnsufisiensi adrenal
Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan
torniket terlalu lama
Hipoaldosteron
'anda dan Fejala 9 E,ek ter"enting adalah "erubahan eksitabilitas jantung! E+F mem"erlihatkan
"erubahan"erubahan sekuensial seiring dengan "eninggian kalium serum! Pada "ermulaan,
terlihat gel#mbang ' runcing /+= E 6,5 mE>?L0! Ini disusul dengan inter)al P; memanjang,
am"litud# gel#mbang P mengecil, k#m"leks M;S melebar /+= @ 2 sam"ai 3 mE>?L0! Akhirnya
inter)al M' memanjang dan menjurus ke "#la sine$a)e! .ibrilasi )entrikel dan asist#le
cenderung terjadi "ada += E 87 mE>?L! 'emuantemuan lain meli"uti "arestesi, kelemahan,
are,leksia dan "aralisis ascenden!
Penanganan Fangguan +eseimbangan -airan dan Elektr#lit
'E;API -AI;AN
De,inisi
'era"i cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti milieu interiur dalam batasbatas
,isi#l#gis!
Indikasi, antara lain9
Kehilangan cairan tubuh akut
Kehilangan darah
Anoreksia
Kelainan saluran cerna

Rumus Meng'i!ung I*L ( Insensib$e *a!er L#ss%
Kamis, 25 Oktober 20l2 - Dessy Ariani
2umus ,eng(itung I@L
2umus ,eng(itung I@L ( Insensible @ater Loss)
Rumus menghitung balance cairan

C, < CK < I@L
Ket:
CM : Cairan Masuk
CK : Cairan Keluar
CRumus IWL

lWL = (l5 x BB )
24 jam
Cth: Tn.A BB 60kg dengan suhu tubuh 37C
lWL = (l5 x 60 ) = 37,5 cc/jam
24 jam
kalo dlm 24 jam ----> 37,5 x 24 = 900cc

*Rumus IWL Kenaikan u!u
[(l0% x CM)x jumlah kenaikan suhu] + lWL normal
24 jam
Cth: Tn.A BB 60kg, suhu= 39C, CM= 200cc
lWL = [(l0%x200)x(39 C-37 C)] + 37,5cc
24 jam
= (20x2) + 37,5cc
24
= l,7 + 37,5 = 39cc/jam
Te(nik ,eng(itung 0alan'e Cairan (Anak)
Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur, untuk menentukan Air ,etabolisme,
menurut I5asa ,D Kogos(i $ dalam 6luid Te(rap% 0unko do (1EE=) dari T. -tsuka
Indonesia yaitu:
Usia Balita (l - 3 tahun) : 8 cc/kgBB/hari
Usia 5 - 7 tahun : 8 - 8,5 cc/kgBB/hari
Usia 7 - ll tahun : 6 - 7 cc/kgBB/hari
Usia l2 - l4 tahun : 5 - 6 cc/kgBB/hari
Untuk I@L (Insensible @ater Loss) pada anak = "#$ % usia anak dalam ta!un) &
cc'kg(('!ari
)ika anak mengom*ol meng!itung urine $+, cc % - cc'kg(('!ari
./01/2 :
An X (3 tahun) BB l4 Kg, dirawata hari ke dua dengan DBD, keluhan pasien menurut ibunya:
"rewel, tidak nafsu makan; malas minum, badannya masih hangat; gusinya tadi malam
berdarah" Berdasarkan pemeriksaan fisik didapat data: Keadaan umum terlihat lemah,
kesadaran composmentis, TTV: HR l00 x/menit; T 37,3 C; petechie di kedua tungkai kaki,
Makan /24 jam hanya 6 sendok makan, Minum/24 jam l000 cc; BAK/24 jam : l000 cc,
mendapat lnfus Asering l000 cc/24 jam. Hasil pemeriksaan lab Tr terakhir: 50.000. )itunglah
balance cairan ana, ini0
In*ut cairan3 ,inum : 1FFF ''
In4us : 1FFF ''
A, : 11! '' B (? '' & 1+ kg)
.........................
!11! ''
/ut *ut cairan3 ,unta( : 1FF ''
1rin : 1FFF ''
I@L : )>? '' B ()F.) ta(un) & 1+ kg
.............................
1+>? ''
0alan'e 'airan G Intake 'airan . -utput Cairam
!11! '' . 1+>? ''
B /)+ ''
$ekarang (itung balan'e 'airann%a ;ika su(u An & )ED? C H
yang perlu diperhati,an adalah penghitungan I/* pada ,enai,an suhu guna,an rumus-
I@L B !FF ( $u(u Tinggi . )/D? IC) )/D? IC adala( konstanta.
I@L An J G )>? B !FF ()ED? IC . )/D? IC)
)>? B !FF ())
)>? B /FF
E>? ''
,aka output 'airan An J G ,unta( : 1FF ''
1rin : 1FFF ''
I@L : E>? '' B
.........................
!F>? ''
:adi 0alan'e 'airann%a G !11! '' . !F>? ''
B )+ ''.
Ingat menghitung #alnce cairan harus ,umpulan data123 jam000000
Te(nik meng(itung 0alan'e Cairan (*e5asa)
Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor, diantaranya Berat
Badan dan Umur..karena penghitungannya antara usia anak dengan dewasa berbeda.
Menghitung balance cairanpun harus diperhatikan mana yang termasuk kelompok lntake cairan
dan mana yang output cairan. Berdasarkan kutipan dari lwasa M. Kogoshi S (l995) Fluid
Therapy do (PT. Otsuka lndonesia) penghitungan ajib per 23 jam bu,an pershift4
#NG"IT1NGAN 0ALANC# CAI2AN 1NT1K *#@A$A
lnput cairan: Air (makan+Minum) = ......cc
Cairan lnfus = ......cc
Therapi injeksi = ......cc
Air Metabolisme = ......cc (Hitung AM= 5 cc/kgBB/hari)
Output cairan: Urine = ......cc
Feses = .....cc (kondisi normal l BAB feses = l00 cc)
Muntah/perdarahan
cairan drainage luka/
cairan NGT terbuka = .....cc
lWL = .....cc (hitung lWL= l5 cc/kgBB/hari)
(lnsensible Water Loss)
Contoh Kasus:
Tn Y (35 tahun) , BB 60 Kg; dirawat dengan post op Laparatomi hari kedua..akibat appendix
perforasi, Keadaan umum masih lemah, kesadaran composmentis..Vital sign TD: ll0/70
mmHg; HR 88 x/menit; RR 20 x/menit, T 37 C: masih dipuasakan, saat ini terpasang NGT
terbuka cairan berwarna kuning kehijauan sebanyak 200 cc; pada daerah luka incici operasi
terpasang drainage berwarna merah sebanyak l00 cc, lnfus terpasang Dextrose 5% drip
Antrain l ampul /kolf : 2000 cc/24 jam., terpasang catheter urine dengan jumlah urine l700 cc,
dan mendapat tranfusi WB 300 cc; mendapat antibiotik Cefat 2 x l gram yg didripkan dalam
NaCl 50 cc setiap kali pemberian, Hitung balance cairan Tn Y!
lnput Cairan: lnfus = 2000 cc
Tranfusi WB = 300 cc
Obat injeksi = l00 cc
AM = 300 cc (5 cc x 60 kg) +
---------------------------------------------
2700 cc
Output cairan: Drainage = l00 cc
NGT = 200 cc
Urine = l700 cc
lWL = 900 cc (l5 cc x 60 kg) +
----------------------------------------------
2900 cc
Jadi Balance cairan Tn Y dalam 24 jam : lntake cairan - output cairan
2700 cc - 2900 cc
- 200 cc.
Bagaimana jika ada kenaikan suhu? maka untuk menghitung output terutama lWL gunakan
rumus :
lWL + 200 (suhu tinggi - 36,8 .C), nilai 36,8 C adalah konstanta
Andaikan suhu Tn Y adalah 38,5 C, berapakah Balance cairannya?
berarti nilai lWl Tn Y= 900 + 200 (38,5 C - 36,8 .C)
= 900 + 200 (l,7)
= 900 + 340 cc
= l240 cc
Masukkan nilai lWL kondisi suhu tinggi dalam penjumlahan kelompok Output :
Drainage = l00 cc
NGT = 200 cc
Urine = l700 cc
lWL = l240 cc +
--------------------------
3240 cc
Jadi Balance cairannya dalam kondisi suhu febris pada Tn Y adalah : 2700 cc - 3240 cc = -540
cc
Ru1u6-Ru1u6 H+)u9a
Lala1 Ke/e0aGa)a
;umus;umus Hitungan Dalam +e"era$atan
By9 Nhinnie PurnamaSari fgf
Hitunganee^^e^ed
A"a yang ada dalam "ikiran anda se"utar hitungane! Ada yang ber"ikir hitungan itu
membingungkan, ada yang mengangga" hitungan itu memb#sankan, ta"i ada juga lh# ternyata
yang mengangga" hitungan itu suatu yang mengasikkan! Hitungan ternyata tidak hanya terda"at
dalam "elajaran statistik saja, se"erti matematika! :elainkan dalam dunia ke"era$atan juga ada
yang namanya ;umus +e"era$atan, yang mem"elajari hitunganhitungan se"utar ke"era$atan
dan dunia kesehatan! ;umusrumus ini sangat "enting untuk diketahui dan di"elajari lh#d Nah,
untuk lebih jelasnya lagi, silahkan baca disini, SELA:A' :E:BA-Ad SE:BFA
BE;:AN.AA'dfgf
8! :aternitas
%! :enghitung HPH' ?'aksiran Persalinan /;umus Naegle0
Hari = 2, Bulan <, 'ahun = 8
8! :enghitung Usia +ehamilan
;umus :ac D#nal 9
'.U /cm0 @ tuanya kehamilan dalam bulan
<,5 cm
%!
H /Bulan0 @ 'gl "emeriksaan J
HPH'
U+ @ H I & h
<! :enghitung Usia kehamilan
8! :enghitung Berat Badan *anin /;umus *h#ns#n 'ausak0
/ :D J 8% 0 H 855 @ BB janin
:D 9jarak sim,isis "ubis s?d ,undus uteri
8! Perhitungan #)ulasi "ada $anita
:enstruasidd8& haridd:enstruasi berikutnya /siklus %3 hari0
:enstruasidd%8 haridd:enstruasi berikutnya /siklus <5 hari0
8! :enghitung D**
Hitung selama 5 detik selang 5 detik hitung lagi 5 detik selang 5 detik lalu
Hitung lagi 5 detik, hasilnya teratur jika angka ke 8\< sama!
8! :enghitung -airan
8! :enghitung balance cairan
'P: @ '#tal U#l in,use /cc0 I .act#r 'etesan
Lama $aktu "engin,usan/menit 0
.act#r tetesan
:akr# 8 cc @ 67 tetes
:ikr# 8 cc @ 85 tetes atau 8 cc @ %7 tetes
8! :enghitung jumlah tetesan in,us
'P:@ U#lume cairan in,us I ,akt#r tetes n#rmal
Lama "emberian I 67
8! :enghitung Lama "emberian in,us
LP @ U#lume cairan in,us I ,akt#r tetes n#rmal
Brder tetesan I 67
8! :enghitung cairan yg diberikan "d PI Luka bakar
De$asa@ ;L & ml I BB I 4 LB
Anak @ ;L % ml I BB I 4 LB
3 jam .irst and 86 jam c#ntinued
8! +ebutuhan cairan anak sesuai BB
877ml untuk +g "ertama
57ml untuk +g kedua
%5ml untuk +g selanjutnya
EIc, Hitung kebutuhan cairan anak jika BB %6 +g
+eb! -airan 9 /87c8770=/87c570=/6c%50
9 8777=577=857
98657 ml
8! ;umus hitung cairan
'etesan?menit@ keb!-airan /cc0 I 'etesan Dasar
1aktu 67/dtk0
+ebutuhan -airan /cc0 I h makr# 8?8 mikr#
1aktu /*am0
8! -#nt#h S#al
-airan 577cc harus habis dalam 87 jam
*a$ab9 577cc I h makr# @ 86,6 F''?menit
87 jam
-airan %57cc dengan kece"atan %7F''? menit, Bera"a habisnya cairane
*a$ab9 %57 I h @ %7 F''?menit
H
H @ %57 I 8 @ &,86 makr#
/%7c<0
*umlah -airan 'etesan Habis Dalam
577 cc
577cc
577cc
577cc%7F''
<7F''
&7F''
67F''3,<< *am
5,55 *am
&,86 *am
%,22 *am
8! Pemberian #bat
8! :enghitung d#sis berdasarkan "erbandingan dgn d#sis de$asa
Umur@ /umur de$asa E %7 tahun0
a! S#ung 9 Da @ /n ? /n = %00 I Dd
b! Dilling 9 Da @ /n?%70 I Dd
c! -#$ling 9 Da @ //n=80?%&0 I Dd
Luas Permukaan 'ubuh /LP' de$asa 8,2< m%0
a! -ra$,#rd 9 Da @ /LP'a?LP'd0 I Dd
b! Denekam" 9
Da @ //8%LP'a = 8<0?8770 I Dd
-atatan 9 LP' @ //7,52<3IbbIt0?/7,<A6&c7,7%&%6500m%
Berat Badan /BB de$asa 27 kg0
a! -lark 9 Da @ /Ba?Bd0 I Dd
b! Augsberger 9
Da @ //8,5B = 870?8770 I Dd
8! Perhitungan d#sis tablet?ka"sul?#bat cair?suntikan
H @ /d#sis yg diminta 9 d#sis yg tersedia0 I satuan yg ada
8! :enghitung d#sis #bat untuk anak /-lark ;ule0
D#sis anak @ Permintaan I "elarut
Sediaan yg ada
D#sis De$asa I Berat anak /P#nds0
57
8 P#nds @ %,% kg
8! :enghitung "engganti takaran #bat
Bbat sediaan @ Bbat yg di"erlukan
'ablet 'ablet yg di"erlukan
-#nt#h9 'ersedia Am#Iylin <7 mg tia" tablet di"erlukan #bat sebanyak <25 mge
*a$ab9 <7 @ <25 @ 8%,5 'ablet
8 'ablet H
8! +ebutuhan cairan untuk Dehidrasi "d bayi Diare
BB I /D=:=-0 cc
Dehidrasi /D0 ;ingan @5# cc?Sedang @37 cc?Berat @877 cc
:aintenance /:09 Ne#natus@8&78%7cc? 78 'h@8%7877cc?8% 'h@877A7cc?%& 'h@A737cc
&3 'h@3727cc?38% 'h@2767cc?E8% 'h@6757cc
-#ncimetten L#ss9 :untah@%5cc? BAB@%5cc? :untah=BAB@<7cc
8! Pemberian In,us "ada Ne#natus
*umlah -airan@ +eb! -airan I BB
+eb!-airan9 Na-l <4 @%& :e>?+gBB 8:e>@%cc
+-l <,254 @8< :e>?+gBB 8:e>@%cc
Bicnat 2,54 @%& :e>?+gBB 8:e>@8cc
Dectr#se 874 *umlah Selebihnya
8! Pembuatan Larutan Sa,l#n
;umus9 :8 I U8 @ :% I U%
-#nt#h9 akan dibuat larutan Sa,l#n %4 sebanyak 877 ml dengan sediaan larutan %74! Bera"a
cairan Sa,l#n yang di"erlukane
*a$ab9 %74 )8 @ 7,%4 :l
)8 @ 7,%4 I 877 @ %7 8 ml /jumlah sa,l#n0
%74 %7
*umlah A>uades yg di"erlukan @ )%)8 @ 8778
:l @ AA ml
8! Pembuatan cam"uran #bat skintest
;umus9 89A
-#nt#h9 Am#Icylin 7,8cc dan a>uades 7,Acc dalam s"uit 8cc disuntikkan dengan undulasi 7,58
cm dan tunggu selama 85 menit hasilnya "#siti, bila undulasi bertambah dan gatal /merah0!
8! Perhitungan 'es ;um"le Leed
;umus9 Sist#lik = Diast#lik
%
-#nt#h9 'D9 8%7?37 mmHg
*a$ab9 8%7=37 @877mmHg
Ditahan selama 85 menit dan hasilnya "#siti, bila dalam lingkaran 5cm terda"at lebih dari 87
bercak merah /"techie0!
8! Perhitungan jumlah "emberian #%
;umus9 ;; I )#lume tidal I %74@:L
-#nt#h9 +lien dengan ;; <5I?menit harus menda"atkan #% sebanyak
<5c577 :L I %74 @ <577 :L @ <,5 Liter
8! Perhitungan "engambilan #bat untuk tes :ant#uk
;umus9 Unit Sg Di"erlukan
Unit yg tersedia dalam ml
-#nt#h9 'erda"at cairan PPD dalam )ial &cc dengan kandungan #bat 8 ml@ 57 unit /5tu0 maka
bera"a yang diambil dalam )iale
*a$ab9 5 unit @ 7,8 ml
57 unit /dlm 8 ml0
Disuntikan I- dengan "embacaan hasil sesudah %&2% jam! Untuk A'S diberikan <77 unit untuk
de$asa dan se"aruhnya untuk anak anti tetanus!
8! Perhitungan denyut nadi maksimal
;umus9 %%7 J Umur /dalam tahun0
-#nt#h9 Usia %7 tahun denyut nadi maksimalnya %77I?menit /saat #lahraga st#" a"abila nadi
sudah menca"ai %77I?menit0
8! Perhitungan BB Ideal
;umus9 BB I 8774
'B J 877
BB n#rmal @ nilai A78774
BB kurang, nilai kurang dari A74
BB lebih, BB lebih dari 8874
;umus /B#cca09
'B 8774 +g /"ria 'B D 867cm0
'B 877I 8 +g /1anita 'B 857cm0
-#nt#h9 Pria dengan 'B 827cm harus memiliki BB ideal
/8278770874@272 +g /27c8740@ 6< +g
8! ;umus menghitung BB dan 'B n#rmal untuk balita diatas < tahun
;umus9 BB@ 3% /+g0
'B@ 375n /cm0
-#nt#h9 Balita usia < tahun memiliki BB n#rmal 8& +g dan 'B A5 cm!
8! Penilaian kesadaran dengan F-S
:ata /E09
&9 S"#ntan membuka mata
<9 Dengan "erintah
%9 Dengan rangsang nyeri
89 'idak ada reaksi
:#t#rik /m09
69 :engikuti "erintah
59 :el#kalisir nyeri
&9 :enghindari nyeri
<9 .leksi abn#rmal
%9 Ekstensi abn#rmal
89 'idak ada reaksi
Uerbal /U09
59 Brientasi baik
&9 Dis#rientasi $aktu \ tem"at, ta"i da"at menguca"kan kalimat
<9 Hanya menguca"kan katakata
%9 :engerang
89 'idak ada reaksi
8! Penilaian A.FA; Sc#re
+linis 7 8 %
1arna kulit /A0
Pulse /P0
;e,lek /F0
'#nus /A0
Na,as /;0Biru? Pucat
'idak ada
'idak ada
Lunglai
'idak adaBadan merah Ekstremitas Biru
D877I?menit
:enyeringai
.leksi
'idak teraturSeluruh badan merah
E877I?menit
:enangis kuat
Akti,
+uat, 'eratur
7< As"iksia berat, &2 As"iksia sedang, 287 N#rmal
8! +ekuatan Bt#t
79 tidak ada k#ntraksi
89 terda"at k#ntraksi ta"i tidak bisa bergeser
%9 hanya ada "ergeseran dan "ergerakan sendi
<9 da"at mengadakan gerakan mela$an gra)itasi, ta"i tidak bisa mela$an
&9 da"at mela$an gra)itasi ta"i tidak da"at mela$an tahanan /lemah0
59 da"at mela$an tahanan "emeriksa dengan kekuatan "enuh
-atatan9 L +a L +i
+ +a + +i
8! 'ajam "englihatan
6?6 9 Bisa membaca dengan benar huru, "ada Snelen -hart dan #rang
#rang n#rmal "un da"at melakukanny /jarak 6 m0
6?<7 9 Hanya bisa membaca huru, "ada jarak 6m, sedangkjan #rang
n#rmal bisa membaca "ada jarak <7m!
<?67 9 Hanya bisa melihat dan menentukan jumlah jari dengan benar
"ada jarak <m sedangkan #rang n#rmal 67m!
8?<77 9 Hanya bisa melihat lambaian tangan "ada jarak 8m, #rang n#rmal
<77m!
8? 9 Hanya bisa merasakan sinar saja
7 9 Buta t#tal
8! Pemeriksaan "endengaran dan diagn#sanya
;inner 1eber Sch$abach Diagn#sa
= 'idak ada lateralisasiSama dengan
"emeriksa
N#rmal
Lateralisasi ke
telinga sakit
:emanjang 'uli k#ndukti,
= +e )g sehat :emendek 'uli sens#ri
'es rinner 9 membandingkan hantaran udara dengan hantaran tulang
"endengaran
'es $eber 9 m$mbandingkan hantaran tulang kiri dan kanan
'es sch$abach9membandingkan hantaran tulang "endengaran klien
dengan "emeriksa
83! Stadium 'um#r Nas#,aring
I 9 'um#r dinas#,aring
II 9 :eluas ker#ngga hidung sinus s,en#id
III 9 :eluas ke sinus maksila, etm#id r#ngga mata dan "i"i
IU 9 :eluas ke r#ngga intra kranial
8A! Stadium -a -er)iks
7 9 insitu karsin#ma di e"itel
8 9 terbatas di ser)iks
% 9 menyebar ke luar ser)iks %?< bagian atas )agina dan "arametrium
< 9 sudah menca"ai dinding "anggul
& 9 matasate ke rektum, )esika urinaria dan #rgan lain
%7! Derajat luka bakar
Stadium 8 9 "ada e"idermis /sembuh 52 hari0
Stadium % 9 "ada dermis /sembuh 86%8 hari0
Stadium < 9 sudah menca"ai subkutis
%8! +lasi,ikasi Denyut Nadi
7 9 tidak teraba adanya denyut
8 9 denyutan berkurang dan sulit diraba
% 9 n#rmal, teraba dengan mudah dan tidak mudah lenya"
< 9 denyutan kuat dan se"erti memantul terhada" ujung jari
%%! +lasi,ikasi dalam #edema
8= 9 de"resi %mm
%= 9 de"resi &mm
<= 9 de"resi 6mm
&= 9 de"resi 3mm
%<! Pemberian #ralit diberikan setia" mencret?muntah
D 8 th 9 57877cc
85 th 9 877%77cc
E5 th 9 %77<77cc
De$asa9 &77577cc
%&! Pemberian imunisasi menurut umur
Umur Antigen
% Bulan
< Bulan
& Bulan
A BulanB-F, DP', "#li# 8
He"atitis 8, DP' %, P#li# %
He"atitis %, DP' <, P#li# <
He"atitis <, -am"ak, P#li# &
%5! Pemberian Sucti#n
8! Ukuran +ateter Penghisa"
Usia Ukuran
8! Ne#natus 63 .r
8! Bayi s?d 6 bulan 63 .r
8! 83 bulan 387 .r
8! %& bulan 87 .r
8! %& tahun 878% .r
8! &2 tahun 8% .r
8! 287 tahun 8%8& .r
8! 878% tahun 8& .r
8! De$asa 8%86 .r
8! ;egulat#r Uacum yang digunakan
Alat Uacum / mmHg 0
8! Bayi 67877 mmHg
8! Anakanak 8778%7 mmHg
8! De$asa 8%7857 mmHg
Alat Uacum /inci Hg0
8! Bayi <5 inci Hg
8! Anakanak 587 inci Hg
8! De$asa 285 inci Hg
T(RA+I CAIRAN +A,A S-.&
Posted on October l3, 20l2 by samoke20l2
TERA;I CAIRAN ;ALA KEGAPAT LARURATAN ANAK
Bleh Ek# Prab#$#
l. PENDAHULUAN
Secara umum "enatalaksanaan cairan bisa secara enteral mau"un "arenteral! Dalam k#nteks
"era$atan kega$at daruratan anak maka "embahasan terutama Pada "enatalaksanaan
secara "arenteral, karena ham"er rutin dikerjakan dalam sehari hari di ruang "era$atan ga$at
darurat anak! Berbicara mengenai tera"i cairan tidak bias le"as dari elektr#lit, karena ini
meru"akan satu kesatuan "embahasan! Berbeda dengan de$asa, anak lebih mudah mengalami
gangguan keseimbangan cairan dan elektr#lit sehingga di"erlukan "emahaman "rinsi""rinsi"
,isi#l#gis tubuh! Dikatakan bah$a "erburukan mau"un "erbaikan keadaan klinis "enderita
berjalan "aralel dengan "erubahan"erubahan "ada )ariabel ,isi#l#gis!
l. PRlNSlP-PRlNSlP FlSlOLOGl CAlRAN dan ELEKTROLlT
Air meru"akan k#m"#nen terbesar dan "elarut ter"enting dari tubuh kita, dinyatakan dalam
"ersen berat badan dan besarnya berubah menurut umur! Pada saat menjelang dan segera setelah
lahir, air meli"uti = 234 berat badan kemudian jumlahnya menurun secara bertaha"! -airan
tubuh terbagi dalam dua k#m"artemen yaitu intraseluler dan ekstraseluler! Ekstraseluler terbagi
dalam ruang interstisial dan intra)askuler! Pada ,etus, cairan ekstraseluler lebih banyak dari
intraseluler dan jumlah cairan ekstraseluler menurun seiring bertambahnya usia, se"erti yang
ditunjukkan gambar 8! Untuk memudahkan kita dalam "enatalaksanaan cairan "ada anak, maka
dari gambar 8 di atas bisa diambil titiktitik "enting se"erti "ada tabel 8 di ba$ahini!
-airan tubuh juga terda"at "ada dua ruang lain yaitu ruang transeluler dan ruang sl#$ly
eIchangeable! Sebenarnya ini juga meru"akan cairan ekstraseluler teta"i mem"unyai
karakteristik tersendiri dan dalam keadaan n#rmal tidak terlalu "enting! +#m"#sisi elektr#lit
berbagai k#m"artemen tidak sama! Natrium meru"akan kati#n utama ekstraseluler dan akti,
secara #sm#tik menjaga )#lume intra)askuler dan interstisial! +alium meru"akan kati#n utama
intraseluler ber"eran menjaga #sm#lalitas intrasel dan memelihara )#lume sel! +alium "enting
untuk membangkitkan selsel sara, dan #t#t serta bertanggung ja$ab terhada" k#ntraktilitas #t#t
/berc#rak mau"un "#l#s0 terutama #t#t jantung! /Fambar %0
Asu"an air dirangsang #leh rasa haus sebagai res"#n terhada" kekurangan air /hi"ert#nik0
melalui #sm#rese"t#r di midhi"#talamus, "ankreas, dan )ena "#rtahe"atika! Hi"#)#lemia dan
hi"#tensi juga merangsang haus melalui bar#rese"t#r di atrium dan "embuluh darah besar atau
melalui "eningkatan angi#tensin II! Ekskresi atau "engeluaran air da"at beru"a kehilangan cairan
insensible /=<740, urin /=6740, dan sedikit cairan tinja /=8740! Hal ini menggambarkan jumlah
yang harus diminum "erhari untuk mem"ertahankan keseimbangan cairan! +ehilangan cairan
insensible bisa melalui kulit /%?<0 dan "aru /8?<0, tergantung ,akt#r,akt#r yang mem"engaruhi
energy eI"enditure /tidak tergantung keadaan cairan tubuh0! Ini berbeda dengan kehilangan
cairan melalui keringat /sensible $ater and electr#lyte l#sses0 yang biasanya terjadi bila suhu
tubuh dan?atau lingkungan meningkat! +ehilangan cairan melalui keringat ini diatur #leh sistem
sara, #t#n#m! Pengeluaran urin "enting untuk mengatur #sm#lalitas dan k#m"#sisi cairan
ekstraseluler! *umlah dan kadar urin dikendalikan #leh aksis neur# hy"#"hysealrenal, yaitu anti
diuretic h#rm#ne /ADH0! Distribusi antar k#m"artemen di"engaruhi "ermeabilitas membran dan
gradien#sm#lalitas, teta"i keseimbangannya menganut hukum is##sm#laritas, neutralitas
elektr#n, dan keseimbangan asam basa!
Bsm#lalitas "lasma da"at dihitung dengan rumus9
Anakanak memerlukan cairan dan elektr#lit relati, lebih banyak dari"ada #rang de$asa
sehingga mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektr#lit! +ebutuhan cairan "er
hari didasarkan "ada insensible $ater l#ss /I1L0 = urin = cairantinja
Bisa juga di"erkirakan berdasarkan energy eI"enditure, bah$a setia" 8 kcal @ 8 mlH%B!
Berdasarkan "erhitunganenergy eI"enditure ratarata "asien yang dira$at dirumah sakit
dida"atkan kebutuhan cairan "erhari sebagai berikut9
l. Bayi l hari = 50 ml H2O/kgBB/hari Bayi 2 hari = 75 ml H2O/kgBB/hari
2. Bayi > 3 hari = l00 ml H2O/kgBB/hari
3. Berat badan l0 kg pertama = l00 ml H2O/kgBB/hari
4. Berat badan l0 kg kedua = l000 ml + 50 ml H2O/kgBB/hari
5. Berat badan > 20 kg = l500 ml + 20 ml H2O/kgBB/hari
Pada "asien dengan kesulitan k#m"ensasi terhada" kelebihan atau kekurangan cairan dan
elektr#lit /misalnya "ada kelainan jantung, ginjal0 harus dilakukan "erhitungan
secaraketat?titrasi! Adanya ,akt#r,akt#r yang bisa mengurangi?meningkatkan kebutuhan
cairan juga harus di"erhitungkan! Perkiraan kebutuhan elektr#lit "erhari didasarkan "ada
kebutuhan metab#lisme atau "ada kebutuhan cairan "erhari, adalah
l. Natrium : 2 4 mEq/l00mlH2O/hari
2. Kalium : l 2 mEq/l00mlH2O/hari
3. Klorida : 2 4 mEq/l00mlH2O/hari
Persamaan"ersamaan untuk menentukan kebutuhan rumatan cairan dan elektr#lit diatas
didasarkan "ada bebera"a ASU:SI dari ratarata kehilangan cairan insensible,
energy eI"enditure, metab#lisme, dan "r#duksi urin dengan angga"an tidak ada sumber
kehilangan cairan dan elektr#lit dari tem"at lain dan ,ungsi ginjal n#rmal! Pada "enderita
"enderita dengan kega$at daruratan atau sakit kritis seringkali terda"at abn#rmalitas dari
asumsiasumsi tersebut, karena itu "enatalaksanaannya harus disesuaikan k#ndisi klinis
"enderita!
l. TATA LAKSANA TERAPl CAlRAN PADA KEGAWAT DARURATAN
'ujuan utama "enatalaksanaan cairan "ada kega$at daruratan adalah mengembalikan )#lume
sirkulasi e,ekti, yang adekuat dengan segera! U#lume yang di"erlukan ber)ariasi tergantung
keadaan klinis dan "erlu e)aluasi berulang! Ada"un langkahlangkah "rinsi"nya adalah sebagai
berikut9
l. Memperkirakan kehilangan cairan: melalui pengukuran berat badan, anamnesis,
pemeriksaan fisis, dan laboratorium.
2. Pemberian cairan intravena: meliputi penentuan cairan apa yang digunakan, berapa
banyak, bagaimana kecepatannya, bagaimana selanjutnya setelah volume sirkulasi
efektif tercapai, dan bagaimana osmolalitasnya.
3. Melakukan koreksi cepat yang aman sesuai dengan fisiologi terhadap gangguan
keseimbangan elektrolit yang mengancam jiwa dan dilanjutkan dengan koreksilambat.
Aplikasi tata laksana terapi cairan pada kegawat daruratan anak yang sering terjadi
adalah pada kasus Dehidrasi dan Syok.
LEHILRASI
Perkiraan kehilangan cairan /status dehidrasi0! Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan
natrium! Bergantung "ada k#m"#sisi cairan yang hilang secara akut, bila natrium yang hilang
bersama air k#nsentrasinya lebih tinggi dari kadar natrium cairan ekstraseluler maka akan terjadi
dehidrasi hi"##sm#tik! Bila kurang lebih sama akan terjadi dehidrasi is##sm#tik, dan bila lebih
rendah akan terjadi dehidrasi hi"er#sm#tik akibat tingginya kadar natrium dalam cairan
ekstraseluler! Fejala klinis dehidrasi di"engaruhi #leh berat ringannya kehilangan cairan /'abel
%0 dan kadar natrium cairan ekstraseluler! 'anda yang da"at dijum"ai antara lain, berat badan
turun, turg#r kulit menurun, ubunubun cekung, mata cekung, muk#sa kering, nadi ce"at dan
tekanan darah turun, serta jumlah urin sedikit dan "ekat! Lab#rat#rium menunjukan kenaikan
hemat#krit dan kenaikan berat jenis urin!
Langkahlangkah dalam mem"erkirakan kehilangan cairan9
l. Berat badan
Perubahan berat badan yang ce"at menggambarkan "erubahan cairan tubuh t#tal! Berat badan
di"erlukan untuk menentukan banyaknya cairan "engganti yang dibutuhkan!
l. Anamnesis
l. Kehilangan cairan: Muntah, diare, perdarahan, luka bakar, drainase bedah
(seberapa banyak dan/atau seberapa sering).
2. Masukan cairan: Jenis cairan, berapa banyak, dan bagaimana keberhasilannya.
3. Produksi urin.
4. Pemeriksaan fisis
Status mental, nadi, ,rekuensi nadi, tekanan darah, membran muk#sa, turg#r kulit, $arna kulit,
"erabaan "eri,er, dan ca"illary re,ill!
l. Laboratorium Kimia serum, hematokrit, urin lengkap.
Pemberian cairan intra)ena
l. Cairan apa yang digunakan?
Untuk mem"erbaikai )#lume sirkulasi e,ekti,, a"a"un jenis dehidrasinya /is##sm#tik, hi"#
#sm#tik, mau"un hi"er#sm#tik0 cairan a$al yang seharusnya diberikan adalah cairan is#t#nis!
Dalam hal ini yang biasa digunakan adalah ;ingerOs Lactat ;ingerOs Asetat , dan Na-l 7,A4!
NilaiStr#ng I#n Di,,erence /SID0 dari Na-l 7,A4 adalah 7 /n#l0, sehingga "asca resusitasi da"at
terjadiasi d#sis metab#lik hi"erkl#remik! Bila karena "erdarahan maka "ilihan )#lume eI"ander
terbaik adalah darah! Pada bebera"a keadaan khusus "erlu di"ertimbangkan "enggunaan k#l#id!
l. Berapa banyak?
Untuk mem"erbaiki )#lume sirkulasi e,ekti, diberikan 87%7 ml?kg BB dalam 87<7 menit!
E)aluasi "erbaikan klinis meli"uti status mental, tanda )ital, dan "r#duksi urin! Bila masih
di"erlukan bisa diulang! Bila belum membaik setelah diberikan 67 ml?kgBB, "ertimbangkan
"emasangan central )en#us "ressure /-UP0 untuk menentukan )#lume intra)askuler yang lebih
te"at!
l. Bagaimana selanjutnya setelah volume sirkulasi efektif tercapai?
Bila belum memungkinkan "er#ral, t#tal kebutuhan diberikan intra)ena dengan
mem"ertimbangkan
l. Sisa defisit (air maupun elektrolit): Volume: bandingkan berat badannya dengan berat
badan sebelum sakit, perhitungkan jumlah cairan selama resusitasi. Natrium: bila
hiponatremi, perhitungkan defisit natriumnya. Air: bila hipernatremi, perhitungkan defisit
airnya.
2. Kehilangan cairan yang masih berlangsung: Volume dan komposisi elektrolitnya.
3. Kebutuhan rumatan: Air dan elektrolit (pertimbangkan kondisi yang meningkatkan/
mengurangi kebutuhannya). Jumlahkan semua kebutuhan air dan elektrolit dari sisa
defisit, kehilangan cairan yang masih berlangsung (ongoing losses), dan kebutuhan
rumatan. Kemudian tentukan jenis cairannya berdasarkan jumlah total air dan elektrolit
yang diperlukan dan juga kalori untuk diberikan dalam 24 jam. Pertimbangkan juga
kondisi klinis penderita seperti adanya kelainan jantung dan kelainan ginjal. Nilai defisit
dapat dihitung berdasar: Untuk mempermudah perencanaan dapat dibuat format baku
untuk tata laksana kebutuhan cairan seperti Tabel 3 di bawah ini. Koreksi kehilangan
cairan sebelumnya dan penggantian kehilangan cairanyangsedang berlangsung harus
dilakukan dengan teliti. Seperti tata laksana di ruangintensif pada umumnya, penilaian
harus dilakukan secara ketat dari waktu kewaktu dengan interval yang pendek (2-4 jam).
Perkiraan jumlah cairan yanghilang sebelumnya amat tergantung dari ketajaman
penilaian klinis doktermelalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan analisis laboratorium.
S8OK

Sy#k adalah sindr#m klinis akibat kegagalan sistem sirkulasi dengan akibat ketidak cuku"an
"as#kan #ksigen dan substrat metab#lik lain ke jaringan serta kegagalan "embuangan sisa
metab#lisme! Berdasarkan k#m"#nen system sirkulasi, terda"at < jenis sy#k yaitu sy#k
hi"#)#lemik, kardi#genik, dan distributi,! Ada"un "rinsi""rinsi" "enatalaksanaannya adalah
sebagai berikut9
Sy#k si"#)#lemik Pemberian cairan kristal#id 87 ml?kgBB secara b#lus /sece"atnya0 da"at
dilakukan sambil menilai res"#n tubuh! Pada sy#k hi"#)#lemik, maka "eningkatan )#lume
intra)askular akan meningkatkan isi sekuncu" disertai "enurunan ,rekuensi jantung! Pada kasus
yang berat, "emberian cairan da"at diulangi 87 ml?kgBB sambil menilai res"#n tubuh! Pada
umumnya anak dengan sy#k hi"#)#lemik mem"unyai nilai -UP kurang dari 5 mmHg!
Pemberian cairan harus diteruskan hingga menca"ai n#rm# )#lemik! +ebutuhan cairan untuk
mengisi ruang intra)askular umumnya da"at dikurangi bila digunakan cairan k#l#id! Sy#k
kardi#genik -urah jantung meru"akan ,ungsi isi sekuncu" dan ,rekuensi! Bayi mem"unyai
)entrikel yang relati, n#n c#m"liant dengan kemam"uan meningkatkan isi sekuncu" amat
terbatas! +arena itu curah jantung bayi amat bergantung "ada ,rekuensi! Sy#k kardi#genik "ada
"enyakit jantung ba$aan tidak dibahas di sini! Isi sekuncu" di"engaruhi #leh "rel#ad, a,terl#ad,
dan k#ntraktilitas mi#kardium! Sesuai dengan hukum Starling, "eningkatan "rel#ad akan
berk#relasi "#siti, terhada" curah jantung hingga terca"ai "lateau! +arena itu, sekali"un "ada
gangguan ,ungsi jantung, mem"ertahankan "rel#ad yang #"timal teta" harus dilakukan!
Penurunan curah jantung "asca b#lus cairan menunjukkan bah$a )#lume l#ading harus
dihentikan! U"aya menurunkan a,terl#ad terindikasi "ada keadaan gagal jantung dengan
"eningkatan resistensi )askular sistemik yang berlebihan! Untuk tujuan ini da"at digunakan
)as#dilat#r! Diuretik digunakan "ada kasus dengan tanda k#ngesti, "aru mau"un sistemik! Untuk
tujuan ini da"at digunakan diuretik l##", atau k#mbinasi dengan bumetanid, tia(id atau
met#la(#n! Berbagai k#ndisi yang mem"erburuk ,ungsi k#ntraktilitas mi#kardium harus segera
diatasi, se"erti hi"#ksemia, hi"#glikemia, dan asid#sis! Untuk mem"erbaiki ,ungsi k#ntraktilitas
ini, selanjutnya da"at digunakan #bat in#tr#"ik /se"erti d#"amin, d#butamin, adrenalin, amrin#n,
milrin#n0! Untuk menca"ai ,ungsi kardi#)askular yang #"timal, dengan "engaturan "rel#ad ,
"enggunaan #batin#tr#"ik dan )as#dilat#r /se"erti s#dium nitr#"rusid, nitr#gliserin0, dibutuhkan
"emantauan tekanan darah, curah jantung, dan resistensi )askular sistemik! Sy#k distributi, dan
sy#k se"tik
'ata laksana sy#k distributi, adalah "engisian )#lume intra)askular dan mengatasi "enyebab
"rimernya! Sy#k se"tik meru"akan suatu keadaan khusus dengan "at#,isi#l#gi yang k#m"leks!
Pada sy#k se"tik,i$arm sh#ckO , suatu sy#k distributi,, terjadi "ada ,ase a$al! Penggunaan
stimulat#r al,a /se"erti n#radrenalin0 dila"#rkan tidak banyak mem"erbaiki keadaan, bahkan
menurunkan "r#duksi urindan mengakibatkan asid#sis laktat! Pada ,ase lanjut, terjadi "enurunan
curah jantung dan "eningkatan resistensi )askular sistemik akibat hi"#ksemia dan asid#sis!
+arena itu tata laksana sy#k se"tik lanjut, mengikuti kaidah sy#k kardi#genik! Sekali "unmasih
k#ntr#)ersi, ster#id terkadang digunakan "ada sy#k se"tik yang resisten terhada" katek#lamin
dengan risik# insu,isiensi adrenal!
*
JENIS CAIRAN INTRAEENA;ALA BEBERA;A ;EN8AKIT ANAK

l. Jenis-Jenis Cairan lntravena
Umumnya tera"i cairan yang da"at diberikan beru"a cairan kristal#id dan k#l#id atau k#mbinasi
keduanya! -airan kristal#id adalah cairan yang mengandung air, elektr#lit dan atau gula dengan
berbagai cam"uran! -airan ini bisa is#t#nik, hi"#t#nik, dan hi"ert#nik terhada" cairan "lasma!
Sedangkan cairan k#l#id yaitu cairan yang B: nya tinggi!2,3<!
l. Cairan Kristaloid
-airan kristal#id terdiri dari9
l. Cairan Hipotonik
-airan ini didistribusikan ke ekstraseluler dan intraseluluer! Bleh karena itu "enggunaannya
ditujukan ke"ada kehilangan cairan intraseluler se"erti "ada dehidrasi kr#nik dan "ada kelainan
keseimbangan elektr#lit terutama "ada keadaan hi"ernatremi yang disebabkan #leh kehilangan
cairan "ada diabetes insi"idus! -airan ini tidak da"at digunakan sebagai cairanresusitasi "ada
kega$atan! -#nt#hnya deItr#sa 54
l. Cairan lsotonik
-airan is#t#nik terdiri dari cairan garam ,aali /Na-l 7,A40, ringer laktat dan "lasmalyte! +etiga
jenis cairan ini e,ekti, untuk meningkatkan isi intra)askuler yang adekuat dan di"erlukan jumlah
cairan ini &I lebih besar dari kehilangannya! -airan ini cuku" e,ekti, sebagai cairan resusitasi
dan $aktu yang di"erlukan"un relati, lebih "endek disbanding dengan cairan k#l#id!
l. Cairan Hipertonik
-airan ini mengandung natrium yang meru"akan i#n ekstraseluler utama! Bleh karena itu
"emberian natrium hi"ert#nik akan menarik cairan intraseluler ke dalam ekstra seluler !Peristi$a
ini dikenal dengan in,us internal! Disam"ing itu cairan natrium hi"ert#nik mem"unyai e,ek
in#tr#"ik "#siti, antara lain mem)as#dilatasi "embuluh darah "aru dan sistemik! -airan ini
berman,aat untuk luka bakar karena da"at mengurangi edema "ada luka bakar, edema "eri,er dan
mengurangi jumlah cairan yang dibutuhkan, c#nt#hnya Na-l <4 Bebera"a c#nt#h cairan
kristal#id 9
80 ;inger Laktat /;L0
Larutan yang mengandung k#nsentrasi Natrium 8<7 mE>?L, +alium & mE>?l, +l#rida 87AmE>?l,
+alsium < mE>?l dan Laktat %3 mE>?L! Laktat "ada larutan ini dimetab#lisme didalam hati dan
sebagian kecil metab#lisme juga terjadi dalam ginjal! :etab#lisme ini akan terganggu "ada
"enyakit yang menyebabkan gangguan ,ungsi hati! Laktat dimetab#lisme menjadi "iru)at
kemudian dik#n)ersi menjadi -B% dan H%B /374 dikatalisis #leh en(im"iru)at dehidr#genase0
atau gluk#sa /%74 dikatalisis #leh "iru)at karb#ksilase0! +edua "r#ses ini akan membentuk
H-B<! Sejauh ini ;inger Laktat masih meru"akan tera"i "ilihan karena k#m"#sisi elektr#litnya
lebih mendekati k#m"#sisi elektr#lit "lasma! -airan ini digunakan untuk mengatasi kehilangan
cairan ekstra seluler yang akut! -airan ini diberikan "ada dehidrasi berat karena diare murni dan
demam berdarah dengue! Pada keadaan sy#k, dehidrasi atau DSS "emberiannya bias diguyur!
%0 ;inger Asetat
-airan ini mengandung Natrium 8<7 mE>?l, +l#rida 87A mE>?l, +alium & mE>?l, +alsium
<mE>?l dan Asetat %3 mE>?l! -airan ini lebih ce"at meng#reksi keadaan asid#sis
metab#lik dibandingkan ;inger Laktat, karena asetat dimetab#lisir di dalam #t#t, sedangkan
laktat didalam hati! Laju metab#lisme asetat %57 V &77 mE>?jam, sedangkan laktat 877
mE>?jam!Asetat akan dimetab#lisme menjadi bikarb#nat dengan cara asetat bergabung dengan
k#en(im A untuk membentuk asetil k#A!, reaksi ini dikatalisis #leh asetil k#A sintetase
danmengk#nsumsi i#n hidr#gen dalam "r#sesnya! -airan ini bisa mengganti "emakaian
;inger Laktat!j Fluk#sa 54, 874 dan %74Larutan yang berisi DeItr#sa 57 gr?liter , 877
gr?liter , %77 gr?liter!A Fluk#sa 54 digunakan"ada keadaan gagal jantung sedangkan Fluk#sa
874 dan %74 digunakan "ada keadaan hi"#glikemi , gagal ginjal akut dengan anuria dan gagal
ginjal akut dengan #liguria !
<0 Na-l 7,A4
-airan ,isi#l#gis ini terdiri dari 85& mE>?L Natrium dan 85& mE>?L +l#rida, yang digunakan
sebagai cairan "engganti dan dianjurkan sebagai a$al untuk "enatalaksanaan hi"#)#lemia yang
disertai dengan hi"#natremia, hi"#kl#remia atau alkal#sis metab#lik! -airan ini digunakan "ada
demam berdarah dengue dan renjatan kardi#genik juga "ada sindr#m yang berkaitan dengan
kehilangan natrium se"erti asid#sis diabetikum, insu,isiensi adren#k#rtikaldan luka bakar! Pada
anak dan bayi sakit "enggunaan Na-l biasanya dik#mbinasikan dengancairan lain, se"erti Na-l
7,A4 dengan Fluk#sa 5 4!
l. Cairan Koloid Jenis-jenis cairan koloid adalah :
80 Albumin!'erdiri dari % jenis yaitu9
a0 Albumin end#gen!Albumin end#gen meru"akan "r#tein utama yang dihasilkan dihasilkan
di hati dengan B:antara 66!777 sam"ai dengan 6A!777, terdiri dari 53& asam amin#! Albumin
meru"akan"r#tein serum utama dan ber"eran 374 terhada" tekanan #nk#tik "lasma! Penurunan
kadar Albumin 57 4 akan menurunkan tekanan #nk#tik "lasmanya 8?<nya!
b0 Albumin eks#gen!Albumin eks#gen ada % jenis yaitu human serum albumin, albumin
eks#gen yang di"r#duksiberasal dari serum manusia dan albumin eks#gen yang dimurnikan
/Puri,ied "r#tein ,racti#n0dibuat dari "lasma manusia yang dimurnikan!3Albumin ini tersedia
dengan kadar 54 atau %54 dalam garam ,isi#l#gis! Albumin %54 biladiberikan intra)askuler
akan meningkatkan isi intra)askuler mendekati 5I jumlah yangdiberikan!Hal ini disebabkan
karena "eningkatan tekanan #nk#tik "lasma! Peningkatan inimenyebabkan transl#kasi cairan
intersisial ke intra)askuler se"anjang jumlah cairanintersisial mencuku"i!3+#m"likasi albumin
adalah hi"#kalsemia yang da"at menyebabkan de"resi ,ungsimi#kardium, reaksi alegi terutama
"ada jenis yang dibuat dari ,raksi "r#tein yangdimurnikan! Hal ini karena ,act#r akti)at#r
"rekalkrein yang cuku" tinggi dan disam"ing ituharganya "un lebih mahal dibanding dengan
kristal#id!3 Larutan ini digunakan "adasindr#ma ne,r#tik dan dengue sy#k sindr#m
%0 HES /Hidr#Iy Ethyl Starch0Senya$a kimia sintetis yang menyeru"ai glik#gen! -airan ini
mengandung "artikel denganB: beragam dan meru"akan cam"uran yang sangat
heter#gen!'ersedia dalam bentuk larutan64 dalam garam ,isi#l#gis! 'ekanan #nk#tiknya adalah
<7 mmHg dan #sm#laritasnya <87m#sm?l! HES dibentuk dari hidr#ksilasi amin#"ektin, salah
satu cabang "#limer gluk#sa!3Pada "enelitian klinis dila"#rkan bah$a HES meru"akan )#lume
eks"ander yang cuku"e,ekti,! E,ek intar)askulernya da"at berlangsung <%& jam! Pengikatan
cairan intra)asuler melebihi jumlah cairan yang diberikan #leh karena tekanan #nk#tiknya yang
lebih tinggi!+#m"likasi yang dijum"ai adalah adanya gangguan mekanisme "embekuan darah!
Hal initerjadi bila d#sisnya melebihi %7 ml? kgBB? hari!3
<0 DeItran-am"uran dari "#limer gluk#sa dengan berbagai macam ukuran dan berat
m#lekul!Dihasilkan #leh bakteri Leuc#m#st#c mesenteri#des yang dikembang biakkan di
mediasucr#se! B: ber)ariasi dari bebera"a ribu sam"ai jutaan Dalt#n!Ada % jenis deItran yaitu
deItran &7 dan 27! deItran 27 mem"unyai B: 27!777 /%5!7778%5!7770! sediaannya terda"at
dalam k#nsentrasi 64 dalamgaram ,isi#l#gis! DeItran ini lebih lambat dieksresikan
dibandingkan deItran &7! Bleh karenaitu deItran 27 lebih e,ekti, sebagai )#lume eks"ander dan
meru"akan "ilihan terbaik dibadingkan dengan deItran &7!3DeItran &7 mem"unyai B: &7!777
tersedia dalam k#nsentrasi 874 dalam garam ,isi#l#gisatau gluk#sa 54! :#lekul kecil ini
di,iltrasi ce"at #leh ginjal dan da"at memberikan e,ek diuretik ringan! Sebagian kecil da"at
menembus membran ka"iler dan masuk ke ruangintersisial dan sebagian lagi melalui sistim
lim,atik kembali ke intra)askuler!3Pemberian deItran untuk resusitasi cairan "ada sy#k dan
kega$atan menghasilkan "erubahanhem#dinamik beru"a "eningkatan trans"#r #ksigen! -airan
ini digunakan "ad "enyakitsindr#ma ne,r#tik dan dengue sy#k sindr#m! +#m"likasi antara lain
"ayah ginjal akut, reaksiana,ilaktik dan gangguan "embekuan darah!3
&0 Felatin-airan ini banyak digunakan sebagai cairan resusitasi terutama "ada #rang de$asa
dan "adabencana alam! 'erda"at % bentuk sediaan yaitu98!:#di,ied .luid Felatin /:.F0%! Urea
Bridged Felatin /UBF0+edua cairan ini "unya B: <5!777! +edua jenis gelatin ini "unya e,ek
)#lume eI"ander yang baik "ada kega$atan! +#m"likasi yang sering terjadi adalah reaksi
ana,ilaksis!3<!8!< -airan +#mbinasij +aEn 8 B /FC < 9 80Larutan yang mengandung Natrium
<3,5 mE>?L, +l#rida <3,5 mE>?L! DeItr#se <2,5 gr?L!-airan ini digunakan sebagai cairan
rumatan "ada "enyakit br#nk#"neum#nia, statusasmatikus dan br#nki#litis!A
50 -airan %aLarutan yang terdiri dari gluk#sa 54 dan Na-l 7,A 4 dengan "erbandingan 8 9 8
yang terdiridari deItr#sa m#n#hidrat 55gr?L, deItr#sa anhidrat 57 gr?L, Natrium 857 mm#l?L
dan kl#rida857 mm#l?L! -airan ini digunakan "ada diare dengan k#m"likasi dan
br#nk#"neum#nidengan k#m"likasi! Sedangkan cam"uran gluk#sa 874 dan Na-l 7,A 4 dengan
"erbandingan898 digunakan "ada br#nk#"neum#ni dengan dehidrasi #leh karena intake
kurangAj -airan F9B &98Larutan yang terdiri dari gluk#sa 54 dan Natrium Bikarb#nat 8,5 4
yang meru"akancam"uran dari 577 cc Fluk#sa 54 dan %5 cc Natriun Bikarb#nat 3,&4! -airan
ini digunakan"ada ne#natus yang sakit
60 -airan DF-airan ini terdiri dari Natriun 68 mE>?L, +alium 83mE>?L serta Laktat %2
mE>?L dan+l#rida 5% mE>?L serta DeItr#sa %5 g?L!A -airan ini digunakan "ada diare
dengank#m"likasi!j -airan Natrium Bicarb#nat /:eyl#n0-airan ini mengandung natrium %5
mE>?%5ml dan bicarb#nat %5 mE>?%5ml! -airan inidigunakan "ada keadaan asid#sis akibat
de,isit bicarb#nat!A Sediaan dalam bentuk ,lak#nsebanyak %5 ml dengan k#nsentrasi 3,&4 / 3&
mg?ml0j-airan ;LD-airan yang terdiri dari I bagian ;inger laktat dan 8 bagian Flik#sa 54
yang bisa digunakan"ada demam berdarah dengue !j-airan F9C &98-airan yang terdiri dari &
bagian gluk#sa 5874 dan 8 bagian Na-L 7,A4 yang bisadigunakan "ada dehidrasi berat karena
diare murni!
l. Prinsip Terapi Cairan
'era"i cairan meru"akan salah satu as"ek ter"enting dari "era$atan "asien! Pemilihan
cairansebaiknya berdasarkan atas status hidrasi "asien, k#nsentrasi elektr#lit dan
kelainanmetab#lik yang ada! Secara sederhana tujuan tera"i cairan dibagi atas resusitasi
atau"engganti yaitu untuk mengganti kehilangan cairan akut dan rumatan untuk
menggantikehilangan harian!+ebutuhan air dan elektr#l#t sebagai tera"i da"at dibagi atas <
kateg#ri98! 'era"i "emeliharaan atau rumatanSebagai "engganti cairan yang hilang melalui
"erna,asan, kulit, urin dan tinja / N#rmal 1ater L#sses @ N1L0! +ehilangan cairan melalui
"erna,asan dan kulit disebut Insesible 1ater L#sses /I1L0! +ebutuhan cairan "engganti rumatan
ini dihitung berdasarkan kg BB!+ebutuhan cairan untuk tera"i rumatan di"engaruhi #leh suhu
lingkungan dan -diatasrakti,itas terutama I1L #leh karena itu setia" kenaikan suhu 8 -
kebutuhan cairanditambah 8%4! Sebaliknya I1L akan suhu tubuh <2 menurun "ada keadaan
menurunnyaakti)itas se"erti dalam keadaan k#ma dan keadaan hi"#termi maka kebutuhan cairan
rumatanharus dikurangi 8%4 - diba$ah suhu tubuh n#rmal! -airan"ada setia" "enurunan suhu
8intra)ena untuk tera"i rumatan ini biasanya cam"uran DeItr#sa 54 atau 874 dengan
larutanNa-l 7,A4 &98 , <98, atau 898 yang disesuaikan dengan kebutuhan dengan
menambahkanlarutan +-l % mE>?kgBB!%! 'era"i de,isit!Sebagai "engganti air dan elektr#lit
yang hilang secara abn#rmal /Pre)i#us 1ater L#sses@P1L0 yang menyebabkan dehidrasi!
*umlahnya berkisar antara 5854 BB! Biasanyakehilangan cairan yang menyebabkan dehidrasi
ini disebabkan #leh diare, muntahmuntahakibat sten#sis "il#rus, kesulitan "emasukan #ral dan
asid#sis karena diabetes! BerdasarkanP1L ini derajat dehidrasi dibagi atas ringan yaitu
kehilangan cairan sekitar <54 BB,dehidrasi sedang kehilangan cairan sekitar 6A4 BB dan
dehidrasi berat kehilangan cairanberkisar 874 atau lebih BB!<! 'era"i "engganti kehilangan
cairan yang masih teta" berlangsung/ -#nc#mitant $ater l#sses@-1L0!+ehilangan cairan ini
bisa terjadi melalui muntah dan diare yang masih teta" berlangsung,"engisa"an lendir,
"arasentesis dan lainnya! *umlah kehilangan -1L ini di"erkirakan %5ml?kgBB?%& jam untuk
semua umur!Untuk mengatasi keadaan diatas di"erlukan tera"i cairan! Bila "emberian cairan
"er#ral tidak memungkinkan, maka dic#ba dengan "emberian cairan "ers#nde atau gastr#st#mi,
ta"i bilajuga tidak memungkinkan, tidak mencuku"i atau membahayakan keadan "enderita,
tera"icairan secara intra )ena da"at diberikan!
l. Terapi Cairan Pada Beberapa Penyakit Bayi dan Anak
2. Demam Berdarah Dengue
Penyakit demam berdarah dengue adalah "enyakit menular yang disebabkan #leh )irus dengue
dan ditularkan melalui gigitan nyamuk! Pat#genesis "enyakit ini hingga kini belum diketahui
secara "asti! Ada dua te#ri yang banyak dianut yaitu hi"#tesis in,eksi sekunder /the#ry sec#ndary
heter#l#geus in,ecti#n atau hy"#thesis immune enhancement0 danhi"#tesis )irulensi )irus!
Hi"#tesis )irulensi )irus mengalami "erubahan genetik akibattekanan se$aktu )irus mengadakan
re"likasi baik "ada tubuh manusia mau"un tubuhnyamuk! Hi"#tesis in,eksi sekunder
menyatakan secara tidak langsung bah$a "asien yangmengalami kedua kalinya dengan ser#ti"e
)irus yang heter#l#geus mem"unyai resik# yanglebih besar untuk menderita demam berdarah
dengue!:asuknya antigen menyebabkan terbentuknya antib#di yang akan mengakti,kan
k#m"lemen-< dan -5 menjadi -<a dan -5a yang akan menyebabkan meningkatnya
"ermeabilitasdinding "embuluh darah sehingga "lasma merembes dari ruang intra)askuler
keekstra)askuler yang ditandai dengan meningkatnya hemat#krit! +eadaan ini
da"atmengakibatkan sy#k hi"#)#lemik! Di sam"ing itu juga terjadi agregasi tr#mb#sit akibat
dari"erlengketan k#m"leks antigen antib#di "ada membran tr#mb#sit yang
menyebabkantr#mb#sit melekat satu sama lain sehingga tr#mb#sit kehilangan ,ungsinya dan
akandihancurkan #leh sistem retikul# end#telial /;ES0, maka terjadilah tr#mb#sit#"enia
dan"endarahan!
l. Derajat l dan ll (tanpa syok)Pemberian cairan lVFD pada pasien DBD tanpa renjatan
diperlukan bila :l. Anak terus menerus muntah, minum tidak mau, demam tinggi,
sehingga tidak bisa minumper oral.2. Nilai hematokrit cenderung meningkat pada
pemeriksaan berkala.Pemilihan jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung dari
umur, berat badan pasienserta derajat kehilangan cairan. Jenis cairan yang
direkomendasi WHO adalah:- Kristaloid Ringer Laktat atau Dextrose 5% dalam larutan
Ringer Laktat (RLD) Larutan Ringer Asetat atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer
Asetat (RAD) Larutan NaCl 0,9% atau Dextrose dalam NaCl 0,9% (D5/RF)- Koloid
Dextran PlasmaCairan Yang Diberikan Berdasarkan Berat BadanBerat Badan
Cairanyangdiberikan/kgBB/24jam3-l0 kgl0-l5 kg l5 kg 205 ccl75 ccl40
ccTatalaksana DBD derajat l dan ll tanpa peningkatan hematokritApabila pasien tidak
dapat minum atau muntah terus menerus, sebaiknya diberikan infusNaCl 0,9 % :
Dektrose 5% (l : 3) dipasang dengan tetesan rumatan sesuai berat badan.Disamping itu
perlu dilakukan pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit setiap 6 l2 jam. Tindak lanjut,
diuresis diukur tiap 24 jam dan awasi perdarahan yang terjadi. Apabila terjadiperbaikan
klinis dan laboratoris, anak dapat dipulangkan tetapi bila kadar Ht cenderung naik dan
trombosit menurun, maka infus cairan ditukar dengan RingerLaktat dan
tetesandisesuaikan sebagai DBD derajat l dan ll dengan 20%.peningkatan hematokrit20
%Tatalaksana DBD derajat l dan ll dengan peningkatan hematokritPada saat pasien
datang, diberikan cairan kristaloid RL atau NaCL 0,9% atau RLD5 atauNaCl 0,9% + D5
6-7 ml/kgBB/jam dengan kecepatan 2 tetes/kgbb/menit. Monitor tanda vitaldan kadar
hematokrit serta trombosit tiap 6 jam, selanjutnya evaluasi l2-24 jam.a. Apabila selama
observasi keadaan umum membaik, maka tetesan dikurangi menjadi 5ml/kgBB/jam
dengan kecepatan l tetes/kgbb/menit. Apabila dalam observasi selanjutnyatanda vital
tetap stabil, tetesan dikurangi menjadi 3 ml/kgBB/jam dan dihentikan pada 24-48jam.b.
Apabila keadaan klinis tidak ada perbaikan, anak tampak gelisah, nafas cepat,
frekwensinadi meningkat. Diuresis kurang, tekanan nadi < 20 mmHg memburuk, serta
peningkatan Ht,maka tetesan dinaikan l5 ml/kgBB/jam dengan kecepatan 4
tetes/kgbb/menit. Apabila dalaml2 jam belum terjadi perbaikan klinis, cairan dinaikan
lagi menjadi l5/ml/kgBB/jam dengankecepatan 4 tetes/kgbb/menit kemudian dievaluasi
l2 jam lagi. Apabila terjadi distresspernafasan dan Ht naik maka berikan cairan koloid
20-30 ml/kgBB/jam dengan kecepatan 5-7 tetes/kgbb/menit, tetapi bila Ht turun,
diberikan transfusi darah segar l0 ml/kgBB/jamdengan 2-3 tetes/kgbb/menit. Bila
keadaan klinis membaik maka cairan disesuaikan.
2. Derajat lll dan lV (dengan syok)a. Bila pasien berada pada derajat lll maka segera beri
infus kristaloid (RL atau NaCl 0,9%)20 ml/kgBB secepatnya (berikan dalam bolus
selama 30 menit) dan oksigen 2 liter/menit.Sedangkan pada derajat lV cairan diguyur
bila perlu dengan semprit l00-200 ml. Observasitensi dan nadi tiap l5 menit, hematokrit
dan trombosit tiap 4-6 jam. Periksa elektrolit dangula darahb. Bila dalam waktu 30 menit
syok belum teratasi, tetesan RL dilanjutkan l5-20 ml/kgBBdengan kecepatan 4-5
tetes/kgBB/menit ditambah plasma l0-20 ml/kgBB dengan kecepatan2-5
tetes/kgBB/menit maksimal 30 ml/kgBB. Observasi keadaan umum, tekanan darah,
naditiap l5 menit dan periksa Ht tiap 4-6 jam.l) Apabila syok telah teratasi, cairan
dikurangi menjadi l0 ml/kgBB/jam dengan kecepatan2-3 tetes/kgbb/menit. Volume l0
ml/kgBB/jam dapat dipertahankan sampai 24 jam atausampai klinis stabil dan Ht
menurun < 40 vol %. Selanjutnya cairan diturunkan 5 ml danseterusnya 3 ml/kgBB/jam.
Dianjurkan pemberian cairan tidak melebihi 48 jam setelah syok teratasi. Observasi
klinis, tekanan darah, nadi, jumlah urine tiap jam. Pemeriksaan Ht dantrombosit tiap 4-6
jam sampai keadaan umum baik. 2) Apabila syok belum dapat teratasi,sedangkan kadar
hematokrit menurun tetapi masih > 40 vol % berikan darah dalam volumekecil l0ml/kg
BB. Apabila tampak perdarahan masif, berikan darah segar 20 ml/kgBB dandilanjutkan
cairan kristaloid l0 ml/kgBB/jam.c. Apabila syok masih belun teratasi pasang CVP untuk
mengetahui kebutuhan cairan danpasang kateter urin untuk mengetahui jumlah urin. l0
mmH2O) maka berikandopamin.
3. Diare
Diare adalah berakberak encer lebih dari < kali /"ada anak0, lebih dari & kali /"ada bayi0disertai?
tan"a disertai adanya darah atau lendir!:ulamula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah ,suhu
tubuh bisanya meningkat, na,sumakan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare! 'inja
cair dan mungkin disertaidarah atau lendir! Fejala muntah da"at terjadi sebelum atau sesudah
diare! Bila "enderitatelah banyak kehilangan cairan dan elektr#lit, maka gejala dehidrasi mulai
tam"ak!Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang da"at dibagi menjadi dehidrasi ringan,
sedang danberat!Pemberian cairan melalui intra)ena diberikan "ada "enderita diare akut dengan
dehidrasiberat! -airan yang diberikan adalah9j;inger Laktat atau garam n#rmal, 877 mg?kgBB
mulai diberi segera! Bila "enderita bisaminum berikan #ralit se$aktu cairan i) dimulai!j *umlah
"emberian cairannya sebagai berikut9j 8 bulan V 8 tahun 9 8 jam I @ <7 ml?kgBB5 jam II @ 27
ml?kgBBj E8 tahun 9 k jam I @ <7 ml?kgBB% k jam II @ 27 ml?kgBB-#nt#h 9Se#rang anak laki
laki umur % tahun, BB@ 87 kg menderita diare akutDengan dehidrasi berat! +ebutuhan cairannya
adalah9k jam I @ <7I 87I 858I 67@ 25 tetes?menit!%k jam II @ 27I 87I 855I 67@ <5 tetes?
menit!-att 9 8 cc @ 85 tetes makr#!Ulangi bila nadi masih lemah atau tidak teraba! Nilai kembali
"enderita tia" 8% jam! Bilarehidrasi belum terca"ai "erce"at tetesan i)! *uga berikan #ralit
5ml?kgBB?jam bila "enderitabisa minum untuk memberi tambahan kalium dan basa, biasanya
setelah <& jam /bayi0 atau8% jam /anak0! Setelah 6 jam /bayi0 atau < jam /anak0 nilai lagi
keadaan "enderita! Bilatandatanda rehidrasi masih belum berubah atau bertambah buruk dan
terutama bila "enderitajuga mengeluarkan tinja cair bebera"a kali, jumlah t#tal cairan yang
diberikan untuk rehidrasiharus ditingkatkan!+ebutuhan cairan hari "ertama "ada dehidrasi berat 9
<87 kg @ %75 ml?kgBB? %& jam / 37=%5=87708785 kg @ 825 ml?kgBB? %& jam / 27=%5=37087
85 85%5 kg @ 8&7 ml?kgBB? %& jam / 57=%5=650+ebutuhan cairan hari kedua dan selanjutnya
/N1L= -1L0 9<87 kg @ 8%5 ml?kgBB? %& jam / %5=87708785 kg @ 875 ml?kgBB? %& jam
/ %5=37085%5 kg @ A7 ml?kgBB? %& jam / %5=650Setelah teratasi dehidrasi berat "enatalaksaan
dilanjutkan sesuai dengan tandatanda dehidrasiyang ada a"akah dehidrasi sedang atau
ringan!Diare dengan bebera"a k#m"likasi!
j:alnutrisi energi "r#tein ringan,sedang dan berat ti"e marasmus dengan diare
dehidrasiberat!j*enis cairan 9 DD atau %a = +-l 87 mE>?577 ccj*umlah cairan @ P1L= N1L=
-1L /dalil Darr#$0!l -#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg menderita
malnutrisi energi sedang ti"emarasmus dengan diare dehidrasi berat, kebutuhan cairannya
adalah9 & jam I @ 67 I 87I 85&I 67@ <3 tetes?menit!%7 jam II @ 8A7I 87I 85%7I 67@ %&
tetes?menit!-ara dan lama "emberian cairan sama dengan diare dengan dehidrasi
beratj:alnutrisi energi "r#tein berat ti"e marasmikk$ask#isk#r atau ti"e k$aski#sk#r
dengandiare dehidrasi berat!*enis cairan 9 DF atau %a = +-l 87 mE>?577 cc*umlah cairan 9 &?5
/P1L= N1L= -1L0-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg menderita
malnutrisi energi berat ti"emarasmikk$aski#sk#r dan ti"e k$aski#sk#r dengan diare dehidrasi
berat, kebutuhancairannya adalah9 & jam I @ 67 I 87I 85&I 67@ <3 tetes?menit!%7 jam II @ 857I
87I 85%7I 67@ 2 tetes?menit!-ara dan lama "emberian cairan sama dengan "enatalaksanaa diare
dengan dehidrasi beratjDiare dehidrasi berat dengan br#nk#"neum#ni tan"a disertai kelainan
jantung!*enis cairan 9 DF atau %a = +-l 87 mE>?577 cc*umlah cairan 9 P1L= N1L=
-1L-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg diare dehidrasi berat
denganbr#nk#"neum#ni tan"a disertai kelainan jantung , kebutuhan cairannya adalah9 & jam I @
67I 87I 85&I 67@ <3 tetes?menit!%7 jam II @ 8A7I 87I 85%7I 67@ %& tetes?menit!-ara dan lama
"emberian cairan sama dengan "enatalaksanaa diare dengan dehidrasi berat!jDiare dehidrasi
berat dengan malnutrisi energi "r#tein ringan, sedang, berat ti"e marasmusdisertai
br#nk#"neum#ni tan"a kelainan jantung!*enis cairan 9 DF atau %a = +-l 87 mE>?577 cc*umlah
cairan dan kece"atan "emberian sama se"erti diare dehidrasi berat
denganbr#nk#"neum#ni!-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg diare dehidrasi
berat dengan malnutrisi energi"r#tein ringan, sedang, berat ti"e marasmus disertai
br#nk#"neum#ni tan"a kelainan jantung ,kebutuhan cairannya adalah9& jam I @ 67 I 87I 85&I
67@ <3 tetes?menit!%7 jam II @ 8A7I 87I 85%7I 67@ %& tetes?menit!
j Diare dehidrasi berat dengan malnutrisi energi "r#tein berat ti"e marasmikk$asi#sk#r danti"e
k$ask#isk#r yang disertai br#nk#"neum#ni tan"a kelainan jantung!*enis cairan 9 Dgaa atau %a
=+-l 87 mE>?577cc*umlah cairan dan kece"atan "emberian sama se"erti diare dehidrasi berat
dengan malnutrisienergi "r#tein berat ti"e marasmikk$aski#sk#r dan ti"e
k$ashi#sk#r -#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg diare dehidrasi berat
dengan malnutrisi energi"r#tein berat ti"e marasmikk$aski#sk#r dan ti"e k$ask#isk#r disertai
br#nk#"neum#nitan"a kelainan jantung , kebutuhan cairannya adalah9& jam I @ 67 I 87I 85&I
67@ <3 tetes?menit!%7 jam II @ 8A7I 87I 85%7I 67@ %& tetes?menit!j Diare dehidrasi berat
dengan kelainan jantung ba$aan!8! -HD dengan right t# le,t shunt disertai dehidrasi berat!*enis
cairan 9 DF atau %a = +-l 87 mE>?577cc*umlah cairan 9 P1L= N1L= -1L-#nt#h 9Se#rang
anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg menderita -HD dengan right t# le,t shuntdisertai
dehidrasi berat, kebutuhan cairannya adalah9& jam I @ 67 I 87I 85&I 67@ <3 tetes?menit!%7 jam
II @ 8A7I 87I 85%7I 67@ %& tetes?menit!-ara dan lama "emberian cairan sama dengan
"enatalaksanaa diare dengan dehidrasi berat%! -HD dengan le,t t# right shunt disertai dehidrasi
berat!*enis cairan 9 DF atau %a = +-l 87 mE>?577 cc*umlah cairan 9 &?5 /P1L= N1L=
-1L0-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg -HD dengan le,t t# right shunt
disertaidehidrasi berat, kebutuhan cairannya adalah9& jam I @ 67 I 87I 85&I 67@ <3
tetes?menit!%7 jam II @ 857I 87I 85%7I 67@ %& tetes?menit!-ara dan lama "emberian cairan
sama dengan "enatalaksanaa diare dengan dehidrasi berat<! -HD dengan gagal jantung!*enis
cairan 9 DF atau %a = +-l 87 mE>?577 cc*umlah cairan dan kece"atan "emberian sama se"erti
dengan le,t t# right shunt disertaidehidrasi berat!-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun
BB@87, -HD dengan gagal jantung!kebutuhan cairannya adalah9& jam I @ 67 I 87I 85&I 67@ <3
tetes?menit!%7 jam II @ 857I 87I 85%7I 67@ 2 tetes?menit!
j Diare dehidrasi berat yang disertai kejang!*enis cairan 9 DF atau %a =+-L 87 mE>?577
cc*umlah cairan 9 P1L= N1L= -1L-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun BB@87 kg,
diare dehidrasi berat yang disertai kejang!kebutuhan cairannya adalah9& jam I @ 67 I 87I 85&I
67@ <3 tetes?menit!%7 jam II @ 8A7I 87I 85%7I 67@ %& tetes?menit!<!<!< +#lera:eru"akan suatu
"enyakit akut yang menyerang saluran "encernaan dan disebabkan bakteriajenis )ibri# ch#lerae!
Ditandai dengan gejala diare dengan tinja se"erti air cucian beras dankadangkadang disertai
muntah dan turg#r ce"at berkurang, timbul asid#sis dan tak jarangdisertai renjatan!Berbeda
dengan gastr#enteritis akut lainnya, "ada k#lera dehidrasi berat da"at terjadi dalam$aktu kurang
dari %& jam dengan c#nc#mitant l#ss berkisar antara 7%54 dari berat badandalam %&
jam!Futtman dan "ierce /8A6A0 telah menyelidiki tinja "enderita k#lera dan ber"enda"at
bah$a"ada tinja tersebut ditemukan lebih sedikit jumlah natrium dan lebih banyak i#n kalium
"ada"enderita k#lera anak dibandingkan de$asa!Akibat kehilangan cairan elektr#lit yang
banyak yang da"at terjadi dalam $aktu yang singkat, da"at timbul gangguan sirkulasi darah
beru"arenjatan!-airan yang diberikan yaitu9a! -airan ;inger Laktat diberikan dengan
kece"atan9 8 jam I @ 87 tetes? kgBB? menit! 2 jam berikut @ < tetes? kgBB? menit!b! Bila
terda"at renjatan, cairan diberikan dengan diguyur, selanjutnya"emberian cairan se"erti diatas!c!
& jam kemudian hanya diberikan #ralit saja, kemudian b#leh "ulang!-#nt#h 9Se#rang anak laki
laki umur % tahun BB@87 kg, menderita k#lera!kebutuhan cairannya adalah98 jam I @ 87c87@
877 tetes!2 jam berikut @ < I 87@ <7 tetes!<!<!& Br#nk#"neum#niBr#nk#"neum#ni biasanya
didahului #leh in,eksi saluran na,as bagian atas -selamabebera"a hari! Suhu da"at naik sangat
mendadak sam"ai <A&7 dan mungkin disertai dengankejang karena demam yang tinggi! Anak
sangat gelisah, dis"nu, "erna,asan ce"at dan dangkaldisertai "erna,asan cu"ing hidung dan
sian#sis sekitar mulut dan hidung, kadangkadangdisertai muntah dan diare!%Anak sangat sesak
na,asnya memerlukan "emberian cairan intra)ena dan #ksigen!-airan yang digunakan 9j +aEn
8B /FC <980 yaitu cam"uran Fluk#sa 54 dan Na-l 7,A4 dalam "erbandingan <98!Penggunaan
+aEn 8B ini biasanya disertai dengan "emberian +-l 87 mEg? 577 ml b#t#lin,us! Perhitungan
jumlah cairan berdasarkan rumus Darr#$, yaitu 9 BB <87 kg @ 875 mg?kgBB?%& jam BB 87
85 kg @ 35 mg?kgBB?%& jam! BB 85%5 kg @ 65 mg?kgBB?%&jam!-airan dihentikan secara
bertaha" sesuai dengan keadaan klinis "asien!-#nt#h 9 Se#rang anak lakilaki umur % tahun,
berat badan 87 kg datang dengan na,as sesak 67I?menitdan didiagn#sa sebagai br#nk#"neum#ni,
"erhitungan cairannya adalah @ 875I 87I 85%& I 67@ 88 tetes?menit!Br#nk#"neum#ni "ada
ne#natus-airan yang digunakan FB &98 /Fluk#sa 5874 dengan natrium bikarb#nas
dalam"erbandingan & 9 80!+ebutuhan cairan 9 Umur 8 hari @ 67 cc?kgBB?hari Umur % hari @ 27
cc?kgBB?hari Umur < hari @ 37 cc?kgBB?hari Umur & hari @ A7 cc?kgBB?hari Umur 5 hari @
877 cc?kgBB?hari Umur 6 hari @ 887 cc?kgBB?hari Umur 2 hari @ 8%7 cc?kgBB?hari Umur 3
hari @ 8<7 cc?kgBB?hari Umur A hari @ 8&7 cc?kgBB?hari Umur 878& hari @ 857
cc?kgBB?hari Umur 85<7 hari @ 867 cc?kgBB?hari'etesan dibagi rata dalam %& jam! Setia"
kenaikkan suhu 8 derajat celsius,kebutuhan cairanditambah 8% 4! -airan dihentikan secara
bertaha" sesuai dengan keadaan klinis!Br#nk#"neum#ni dengan dehidrasi karena intake
kurang!-airan yang digunakan yaitu 9j DF 87 4 / k#nsentrasi gluk#sa dalam larutan 540 atau
%a 874j +ebutuhan cairan dalam %& jam 9 /P1L=N1L=-1L0 I BB Pre)i#us $ater l#ss @
de,isit , 5854 dari berat badan! N#rmal $ater l#ss @ urin = insensible $ater l#ss! -#nc#mitant
$ater l#ss 9 %5 ml?kgBB?hari!-ara "emberian 9a! & jam I @ m kebutuhanb! %7 jam II @ n
kebutuhan!-ara menghitung tetesan 9a! & jam I @ %57I BBI m I 85 tetes makr#?menit&I 67b! %7
jam II @ %57IBBI <?& I 85 tetes makr#?menit&I 67-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun,
BB@ 87kg dengan br#nk#"neum#ni dengan dehidrasikarena intake kurang, +ebutuhan cairannya
adalah 9 & jam I @ %57I 87I 8?&I 85%&7@ <A tetes?menit! %7 jam II @ %57I 87c<?&I 858%77@ %<
tetes? menit!-atatan 9 8 cc@ 85 tetes makr#!Br#nk#"neum#ni dengan -#ngesti)e Heart .ailure
/Dec#m"ensati# -#rdis0-airan yang digunakan 9Fluk#sa 874 = +-l 6 mEg? %57 ccBila
dek#m"ensati# k#rdis telah teratasi, jenis cairan diganti dengan cairan %a+-l! *umlahcairan
yang digunakan n BB I /maintanance = kenaikan suhu0!Br#nk#"neum#ni dengan -HD tan"a
heart ,ailure!-airan yang digunakan adalah 9 -airan %a+-lBila ada dehidrasi bukan karena
FED, cairannya Dgaa!j *umlah cairan 9 Le,t t# right shunt @ n IBB I / maintenance = N1L =
P1L0! ;ight t# le,t shunt @ 8 I BB I /maintenance = N1L = P1L0! Bila disertai PE: berat @
n I BB /maintenance = N1L 0!<!<!5 Status Asmatikus!:eru"akan serangan asma yang sangat
berat atau tidak adanya res"#n terhada" "eng#batandengan inhalasi br#nk#dilat#r atau"un
suntikan adrenalin!Fejala klinisnya 98! Setelah "emberian #bat beta% ag#nis sebanyak % kali
atau lebih tidak berhasil mengatasisesak na,as!%! 1alau"un sesak sudah da"at diatasi teta"i
dalam $aktu kurang dari 8 jam sudah sesak kembali!-airan yang digunakan 9j -airan FC
<98/ +aEn 8B0 = +-l 5 mEg? k#l, Bila ada dehidrasi hendaknya diberikan cairan hi"ert#nik9
Untuk BB 87%7 kg @ 877857 ml?jam! Untuk BB E%8 kg @ %77 ml?jam!-airan ini diberikan
sam"ai terjadi diuresis, bila sudah terjadi diuresis teruskan dengan cairanrumatan!<!<!6 Fagal
*antungFagal jantung adalah keadaan jantung yang tidak sanggu" mem#m"akan darah
secaraadekuat untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sedangkan )en#us ,illing "ressure cuku"
baik!Dalam "enatalaksanaan gagal jantung ini "erlu "emberian cairan dan diet karena "ada
"asiengagal jantung yang berat seringkali masukan cairan dan makanan "er#ral tidak memadai
atauda"at menyebabkan bahaya as"irasi! Bleh karena itu "ada "asien tersebut
seringkalidi"erlukan "emberian cairan intra)ena!*enis cairan yang diberikan di"ilih yaitu cairan
yang tan"a natrium karena terda"atnyakecenderungan terjadinya retensi cairan dan natrium "ada
"asien gagal jantung! *umlahcairan da"at dikurangi menjadi 25374 dari kebutuhan rumatan!
atau da"at dibatasi sam"ai65 cc?kgBB? hari, ta"i bila anak dengan gi(i kurang, "emberian
cairannya da"at diberikansebanyak 37877 cc?kgBB? hari dan maksimal 8577 cc?hari! Namun
"emberian cairan iniharus terus di"antau, mengingat kerja "erna,asan yang meningkat akan
da"at menyebabkanmeningkatnya kebutuhan cairan! Pemantauan biasanya secara klinis / turg#r,
"#la "erna,asan,alance antara masukan dan keluar0 serta lab#rat#rik /analisa gas darah,
elektr#lit0!%,8<,8&-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur % tahun, BB@87kg menderita USD
dengan gagal jantung!l 'era"i cairan yang di"ilih adalah 9 deItr#se 54l +ebutuhannya 9 65
cc?kgBB?hari!l *umlah tetesannya @ 65I 87I 85%& I 67@ 2 tetes?menit!<!<!2 ;enjatan
+ardi#genik Fagalnya ,ungsi seluler akibat tidak mam"unyai "er,usi jantung ke jaringan )ital!
Anak dengan renjatan kardi#genik akan menunjukkan hi"#tensi , tekanan darahnya kurang dari
5"ersentil untuk umurnya atau "enurunan tekanan darah <74 dari sebelumnya! Hal ini
akanmenyebabkan takikardi, dingin "ada ekstermitas,asid#sis, #liguri dan da"at "ula
disertai"enurunan kesadaran!Anak dengan ranjatan kardi#genik harus segera dilakukan
"enatalaksanaan yang agresi, dan"emantauan yang in)asi)e! 'era"i renjatan ini ditujukan untuk
mem"erbaiki curah jantungdan men#rmalkan "er,usi #rgan "eri,er!85-airan yang di"ilih adalah
cairan garam ,isi#l#gis se"erti Na-l 7,A4, diberikan secara"erlahanlahan untuk mengk#reksi
hi"#)#lemia! Bila terda"at tandatanda "erbaikan ,ungsimi#kardium, teruskan in,us hingga sy#k
teratasi! Untuk mencegah kelebihan cairan dan #dem"aru,"erlu diakukan m#nit#ring 'US atau
'B+P / 'ekanan Baji +a"iler Paru 0! 86*umlah cairan yang diberikan sebanyak 87 cc?kgBB
dengan kece"atan tetesan minimal!/"r#ta"0! Pemberian cairan ini da"at mem"erbaiki ,ungsi
jantung sementara, ta"i untuk selanjutnya harus diberikan dukungan in#tr#"ik untuk
mem"erbaiki k#ntraktilitasmi#kardium! 85<!<!3 Sindr#ma Ne,r#tik !Suatu "enyakit dengan
gangguan keseimbangan cairan, elektr#lit dan h#rm#nal yang ditandaidengan gejala klinis
se"erti "r#teinuria, hi"#natremia, hi"erk#lester#lemia dan edema!Dengan adanya
hi"#"r#teinemia yang berat da"at menimbulkan hi"#)#lemia dan sy#k!Hi"#)#lemia ini ditandai
dengan gangguan sirkulasi "eri,er, hi"#tensi dan ekstermitas yangdingin dan biru! +eadaan ini
meru"akan keadaan yang ga$at karena da"at timbul kematianyang mendadak!+eadaan
hi"#)#lemia yang berat dengan k#la"s sirkulasi, "erlu eI"ansi )#lume segeradengan "lasma!
+eadaan ga$at ini da"at dikenal secara dini dengan adanya gejala nyeriabd#men atau
"eningkatan k#nsentrasi hem#gl#bin 8% gr?dl / umumnya diatas 86 gr?dl0-airan yang di"ilih
adalah "lasma segar, albumin, atau deItran! Bila hi"#)#lemia disertaik#m"likasi in,eksi, "lasma
segar da"at diberikan, ta"i bila tidak ada albumin sebagai k#l#id"engganti sudah cuku"
memadai!*umlah cairan yang diberikan a$alnya sejumlah %7 ml?kgBB?jam $alau"un di"erlukan
lebihbanyak lagi! Pemberian "lasma ini "erlu #bser)asi ketat dan "enga$asan terhada"
nadi,tekanan darah, tekana )ena jugularis dan "erbedaan suhu di sentral dan
"eri,er!+#ntraindikasi "emberian "lasma "ada "enyakit ini adalah tekanan )ena yang
meninggi,kardi#megali dan adanya edema "ulm#nal!-#nt#h9Se#rang anak lakilaki umur %
tahun,BB@ 87 kg dira$at dengan sindr#ma ne,r#tik!l -airan yang diberikan 9 "lasmal *umlah
yang diberikan 9 %7 cc?kgBB?8 jam diberikan sam"ai sy#k teratasi!l *umlah tetesan yang
diberikan 9 %7I 87I 858I 67@ 57 tetes?menit!<!<!A Fagal Finjal Akut 82Suatu sindr#ma yang
ditandai dengan "enurunan ,ungsi ginjal yang mendadak dengan akibatterjadinya "enimbunan
hasilhasil metab#lit, "ersenya$aan nitr#gen se"erti ureum dankreatinin!Fagal ginjal akut secara
klinis da"at dibagi menjadi % jenis yaitu9a! FFA #ligurik b! FFA n#n #ligurik 'era"i k#nser)ati,
diberikan cairan dan kal#ri yang cuku"! Balance cairan yang baik bilaberat badan tia" hari turun
7,87,%4!*enis cairan yang di"akai adalah9 Pada "enderita anuria diberikan gluk#sa 87%74!
Pada "enderita #liguria diberikan gluk#sa 874 9 Na-l 7,A4 @ <98!Bila di"akai )ena sentral da"at
diberikan larutan gluk#sa <7&74!-airan di"erhitungkan berdasarkan insensible $ater l#ss
/I1L0= jumlah urin 8 harisebelumnya = cairan yang keluar dengan muntah, ,eses, slang
nas#gastrik,dan lainlain! Dandik#reksi dengan kenaikan suhu tubuh setia" 8 derajat selsius
sebanyak 8% 4 BB!Secara "raktis da"at di"akai "erkiraan "erhitungan sebagai berikut Anak D
5th @ <7 ml?kgBB?hari! J Anak E 5 th @ %7 ml?kgBB?hari!-airan sebaiknya diberikan "er#ral
kecuali bila "enderita sering muntah diberikan "er in,us!-#nt#h 9Se#rang anak lakilaki umur %
tahun, BB@ 87kg menderita FFA dengan #liguria!l -airan yang diberikan9 Fluk#sa 874 9
Na-l 7,A 4 @<98l +ebutuhan 9 <7 ml?kgBB?hari!l *umlah tetesan @ <7I 87I 85%&I 67@ <
tetes?menit*adi "emberiannya 9 Fluk#sa 87 4 @%%5 ccNa-l 7,A4 @ 25 cc<!<!87 Bayi Berat
Badan Lahir ;endahBayi dengan berat badan lahir rendah biasanya tam"ak haus dan harus
diberikan cairan sedinimungkin, terutama ASI! 'a"i bila "emberian #ral belum memungkinkan
maka diberikancairan intra)ena DeItr#sa 54 dan Natrium Bikarb#nat 8,54 dengan
"erbandingan &98dengan kebutuhan cairan berdasarkan umur yaitu9Umur 8 hari 9 67
ml?kgbb?hari /%< tetes?kgbb?menit0Umur % hari 9 37 ml?kgbb?hari / < V & tetes?kgbb?menit0Umur
< hari 9 A7 ml?kgbb?hari / & tetes?kgbb?menit0Umur & hari s?d A 9 37 ml877 ml?kgbb?hari / <5
tts?kgbb?menit0Umur 87 hari dan lebih 9 8%5 V857 ml?kgbb?hari /56 tts?kgbb?menit0Bila "ada
hari ke < makanan #ral masih belum bisa, berikan "r#tein yaitu cairan amin#,usin"ediatrik
dengan d#sis %7 ml?kgbb?hari dengan kece"atan 8 tetes?kgbb?hari! Pemberian cairanintra)ena
dihentikan bila telah bisa makan secara #ral yang dilakukan secara bertaha" 88!-#nt#h9Se#rang
bayi lakilaki cuku" bulan berat badan saat lahir %&77 gram maka diberikan cairanDeItr#sa 54
577 cc dicam"ur dengan larutan Natrium Bikarb#nat 3,&4 %5 cc sebanyak 8&&cc dengan
kece"atan 6 tetes?menit "ada hari "ertama dilanjutkan dengan 8A% cc dengankece"atan 3
tetes?menit "ada hari kedua!<!<!88 Se"sis Pada Ne#natusIn,eksi "ada ne#natus meru"akan
masalah yang ga$at #leh karena in,eksi "ada ne#natusce"at sekali menjalar menjadi in,eksi
umum atau se"sis! Bila telah terjadi se"sis biasanyabayi malas minum sehingga di"erlukan
"emasukan cairan melalui intra)ena untuk "emenuhan kebutuhan serta k#reksi terhada"
gangguan keseimbangan elektr#lit dan asambasa! Pada keadaan ini diberikan larutan DeItr#sa
54 dan Natrium Bikarb#nat 8,54 dengan"erbandingan &98 dengan kebutuhan cairan
berdasarkan umur yaitu9Umur 8 hari 9 67 ml?kgbb?hari /%< tetes?kgbb?menit0Umur % hari 9 27
ml?kgbb?hari /< tetes?kgbb?menit0Umur < hari 9 37 ml?kgbb?hari / <& tetes?kgbb?menit0Umur &
hari 9 A7 ml?kgbb?hari / & tetes?kgbb?menit0Umur 5 hari 9 877 ml?kgbb?hari / &5
tetes?kgbb?menit0Umur 6 hari 9 887 ml?kgbb?hari /5 tetes?kgbb?menit0Umur 2 hari 9 8%7
ml?kgbb?hari /56 tetes?kgbb?menit0Umur 3 hari 9 8<7 ml?kgbb?hari /6 tetes?kgbb?menit0Umur A
hari 9 8&7 ml?kgbb?hari /62 tetes?kgbb?menit0Umur 878& hari 9 857 ml?kgbb?hari /2
tetes?kgbb?menit0Umur 85<7 hari 9 867 ml?kgbb?hari /23 tetes?kgbb?menit0Bila "ada hari ke <
makanan #ral masih belum bisa, berikan "r#tein yaitu cairan amin#,uhsin"ediatrik dengan d#sis
%7 ml?kgbb?hari dengan kece"atan 8 tetes?kgbb?hari! Pemberian cairanintra)ena dihentikan bila
telah bisa makan secara #ral yang dilakukan secara bertaha" S!<!<!8% Hi"#glikemiHi"#glikemi
"ada bayi baru lahir cuku" bulan bila kadar gula darah D <7 mg?dl sedangkan"ada bayi berat
lahir rendah bila kadar gula darah D %7 mg?dl! Bayi yang menunjukkan tandatanda hi"#glikemi
langsung "eriksa gula darah dan bila gula darah rendah mulai "emberiancairan untuk mengatasi
hi"#glikemi! +#ntr#l dilakukan setelah 3 jam! *ika kadar gula darah E&5 mg 4 setelah < V & I
"emeriksaan makanan cuku" diberi #ral! Sedangkan "ada bayi yangdicurigai adanya hi"#glikemi
dilakukan "emeiksaan "ada 6 jam "ertama kehidu"an dandilanjutkan %& jam kemudian sam"ai
hari ke <! Bila dida"at kadar gula darah yang rendahberikan tera"i cairan! +husus "ada bayi
dengan ibu "enderita Diabetes :ellitus "emeriksaangula darah dilakukan selama 6 jam "ertama
yaitu "ada jan I, jam II dan jam IU kemudian tia"3 jam selama % I %& jam!Hari "ertama
diberikan gluk#sa %74 % ml?kgbb intra)ena kemudian dilanjutkan denganFluk#sa 5874 25
ml?kgbb?%& jam dengan kece"atan < tetes?kgbb?menit! Hari ke %dilanjutkan dengan Fluk#sa 54
dan Na-l 7,A4 dengan "erbandingan &98 877 ml?kgbbdengan kece"atan & tetes?kgbb?menit! Hari
ketiga mulai "emberian makanan secara #ral dancairan intra)ena dihentikan secara bertaha"!
Bila "ada %& jam "ertama kadar gula darahmasih dalam keadaan hi"#glikemi beri k#rtis#n 587
mg?kgbb!<!<!8< Sindr#ma Fa$at Na,as Ne#natalSindr#ma ga$at na,as ne#natal meru"akan
salah satu "enyebab m#rtalitas dan m#rbiditas!Pada keadaan ini terjadi gangguan ambilan B%
dan "engeluaran -B% yang menyebabkanasid#sis res"irat#rik! Bila keadaan ini berlangsung
terus maka akan terjadi metab#lismeanaer#b beru"a glik#lisis glik#gen tubuh! Asam #rganik
yang terbentuk akan menyebabkanasid#sis metab#lik! Selain itu "ada bayi ini t#leransi terhada"
makanan #ral kurang baik sehingga di"erlukan cairan intra)ena untuk sementara 8 !-airan yang
digunakan adalah cam"uran larutan Fluk#sa 54 dan Natrium Bikarb#natdengan "erbandingan
&98! -airan yang diberikan "ada %& jam "ertama yaitu 63 37 ml?kgbbdengan kece"atan <&
tetes?kgbb?menit kemudian dinaikkan secara bertaha" sam"ai 857ml?kgbb?hari dengan kece"atan
6 tetes?kgbb?menit "ada hari ketujuh! Bila ginjal telahber,ungsi dan diuresis telah timbul maka
bayi harus diberikan elektr#lit beru"a natrium dankalium <% mEg?kgbb! Bila terjadi asid#sis
metab#lik lakukan k#reksi terhada" keadaan iniP+B!
DA.'A; PUS'A+A
l. Kavanagh BP, Meyer LJ. Normalizing physiological variables in acute illness:five
reasons for caution. lntensive Care Med. 2005, 3l:ll6l-ll67.
2. Adelman RD, Solhaug MJ Pathophysiology of body fluids and fluid therapy. ln: Berhman
RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson Textbook of Pediatrics, l6
th
ed.Philadelphia : WB
Saunders, 2000: l89-227.
3. Paschall JA, Melvin T. Fluid and electrolyte therapy. Dalam: Holbrook PR.Textbook of
pediatric critical care. Philadelphia: WB Saunders, l993: 653-702.
4. Barkin RM, Rosen P. Emergency pediatrics: A guide to ambulatory care, 4
th
ed. St Louis:
Mosby, l994: 69-73.
5. Souid AK, Schneiderman H. Principles of pediatric fluid therapy. Diakses dari
http://www.ec.hscsyr.edu/peds/fluid_manual, tanggal 27 Nopember 2000.
6. Ambalavanan N. Fluid, electrolyte, and nutrition management of the newborn. Diakses
dari wysiwyg://2l3/http://www.emedicine.com/ped/topic2554, tanggal 23 Mei 2002.
7. Stewart PA. How to understand acid-base. Diakses dari http://www.qldanaesthesia.com,
20 Mei 2003
8. Oh MS, Carroll HJ. Regulation of lntracellular and Extracellular Volume. Dalam: Arieff Al,
DeFronzo RA. Fluid, electrolyte, and acid-base disorders, 2
nd
ed. New York: Churchill
Livingstone, l995: l-28.
9. Laiken N, Fanestil DD. Body fluids and renal function. Dalam: West JB. Bestandtaylor's.
Physiological basis of medical practice, l2
th
ed. Baltimore: Williams &Wilkins, l990: 406-
4l8.
l0. Badr K, lchikawa L. Physical and biological properties of body fluid andelectrolytes.
Dalam: lchikawa L. Pediatric textbook of fluids and electrolytes. Baltimore: Williams &
Wilkins, l990: 3-l2.
ll. Pearson GA. Handbook of Paediatric lntensive Care. London: WB Saunders,2002:83-
97.
l2. Symons. Clinical fluid and electrolyte management Diakses dari
www.seattlechildrens.org/health_care_professionals/pdf/clinical_fluid.pdf, tanggal 20
Maret 2006.
l3. Carcillo JA, Fields Al; American College of Critical Care Medicine Task Force Committee
Members. Clinical practice parameters for hemodynamic support of pediatric and
neonatal patients in septic shock. Crit Care Med 2002:30;l365-78.
l4. Zingarelli B. Shock and reperfusion. Dalam: Nichols DG, penyunting. Roger'stextbook of
pediatric intensive care. Edisi ke-4. Philadelphia: LippincottWilliams & Wilkins; 2008. h.
252-65 http://www.scribd.com/doc/l3747207/Terapi-Cairan-Pada-Kegawat-Daruratan-
Anak
Tera/i Cairan
23 Feb
+EBU'UHAN -AI;AN /N1L0 PE;HA;I

4mur ** 5 2+, kg ** 6 2+, kg
1 H0 -0 33>,9bb>*0 &0 33>,9bb>*0
$ H0 100 33>,9bb>*0 .0 33>,9bb>*0
( H0 1$0 33>,9bb>*0 1$0 33>,9bb>*0
' H0 1'0 33>,9bb>*0 1"0 33>,9bb>*0
" H0 1"0 33>,9bb>*0 $00 33>,9bb>*0
& H0 1"0 33>,9bb>*0 $00 33>,9bb>*0

TRIPULAN I 1"0 % 1!" 33>,9bb>*0
II 1'0 % 1"0 33>,9bb>*0
III 1$" % 1'0 33>,9bb>*0
IE 110 % 1$" 33>,9bb>*0

1 % ( TH 100 33>,9bb>*0
' % & TH .0 33>,9bb>*0
! % . TH -0 33>,9bb>*0
10 % 1$ TH !0 33>,9bb>*0
1( % 1" TH &0 33>,9bb>*0
1& % 1- TH "0 33>,9bb>*0
Se)+a/ ,ea+,a 6u*u 1SC Pa)e0 l<66 $#"%

Le:+6+) Ca+0a /a5a N
Le*+50a6+ 0+9a '-"% BB
Le*+50a6+ 6e5a9 &-.% BB
Le*+50a6+ be0a) 210% BB

Ma30<50+/6 N 1 33 $0 ))6
M+30<50+/6 N 1 33 &0 ))6
;e0*+)u9a )e)e6a +:u6 N
T)6 Ma30<
T)6>1) 4 Ju1la* 3a+0a Ma9 5+1a6u,,a (33)
La1aMa +:u6 (Ka1) 7 '
T)6 M+30<
T)6>1) 4 Ju1la* 3a+0a Ma9 5+1a6u,,a (33)
La1aMa +:u6 (Ka1)
a)au
T)6>1) 4 J1l 3a+0a M9 5+1a6u,,a (33) 7 J1l ))6>33
La1aMa +:u6 5+be0+,a (1))

Ma+)ea3e N 0u1u6 ,ebu)u*a 3a+0a > $' Ka1 (0-"0 33>,9bb
Ca+0a 0e/la3e1e) > 6e=ue6)e0 N
a. O/e0a6+ 0+9a ' 33>,9bb>Ka1
b. O/e0a6+ 6e5a9 & 33>,9bb>Ka1
3. O/e0a6+ be0a) - 33>,9bb>Ka1
Ca+0a /e99a)+ 5a0a* (-'7 K1l /e05a0a*a.
T0a6:u6+ 5a0a*.
U), ,ea+,a 1 90 Hb N
1. P*<le bl<<5 & 33>,9BB
$. ;RC ( 33>,9BB.
TBE N !0 33>,9bb

T*e0a/M Ca+0a L+a0e Le*+50a6+
U $ )* N A6e0+9 6+6) $' Ka1
' Ka1 I (" 7 BB)
$0 Ka1 II (( 7 BB)
2 $ )* N RL 6+6) - Ka1
1 Ka1 I (10 7 BB)
! Ka1 II (( 7 BB)
K*u6u6 5+a0e *+/e0)<+6 ? ;EM be0a)
Ca+0a KaE (B 6+6) $' Ka1
1 Ka1 I (( 7 BB)
$( Ka1 II (1V 7 BB)

BERAT BALAN SEBENARN8A
1 Bl (#" ,9 ! Bl !#1 ,9
$ '#" - !#&
( "#$ . -#0
' "#- 10 -#'
" &#$ 11 -#!
& &#! 1$ .#0

;ERKEMBANGAN NEUROLOGIK ANAK
01. Te0le)a9 (-& bl
0$. Te9,u0a/ 50 /<6+6+ )l)9 '--
0(. Lu5u, 5+)</a9 &#(
0'. Lu5u, )5, 5+)</a9 &#!
0". Lu5u, 6e5+0+ !#"
0&. Me0aMa/ !#-
0!. Me0a9,a, -#-
0-. Mea0+, 5+0+ 50 /<6+6+ 55, 11#!
0.. Be0Kala 1'#(
10. Jala 1u5u0 1'#(
11. Be0la0+ 1'#-
Ea0+a6+ N 5u5u, 6/ 1& bl N <01al
Kala 6/ 1- bl N <01al

KEBUTUHAN EITAMIN A
0-& bl "0.000
2& bl 100.000
21 )* $00.000
Tera/i Cairan "an Transfusi
&NIL%I%N 'OL()& IN*R%'%SK(L&R
Penilaian dan evaluasi klinis volume intravascular biasanya dapat dipercaya, sebab
pengukuran volume cairan kompartemen belum ada. Volume cairan intravascular dapat ditaksir
dengan menggunakan pemeriksaan fisik atau laboratorium atau dengan bantuan monitoring
hemodynamic yang canggih. Dengan mengabaikan metoda yang ada, evaluasi serial
diperlukan untuk mengkonfirmasikan kesan awal dan panduan terapi cairan. Lebih dari itu,
perlu melengkapi satu sama lain, sebab semua parameter tidak langsung, pengukuran volume
nonspesifik, kepercayaan pada tiap parameter mungkin salah.
emeriksaan +isik
Pemeriksaan fisik preoperative adalah yang paling dapat dipercaya .Tanda- tanda hipovolemia
meliputi turgor kulit, hidrasi selaput lendir, denyut nadi yang kuat, denyut jantung dan tekanan
darah dan orthostatic berubah dari yang terlentang ke duduk atau posisi berdiri, dan mengukur
pengeluaran urin. Banyak obat yang pakai selama pembiusan, seperti halnya efek fisiologis dari
stress pembedahan, mengubah tanda-tanda ini dan memandang tak dapat dipercaya periode
sesudah operasi. Selama operasi, denyut nadi yang kuat (radial atau dorsalis pedis),
pengeluaran urin, dan tanda tidak langsung, seperti respon tekanan darah ke tekanan ventilasi
yang positive dan vasodilatasi atau efek inotropic negative dari anestesi, adalah yang paling
sering digunakan.
Pitting edema-presacral pada pasien yang tidur atau pada pretibial pada pasien yang dapat
berjalan- peningkatan pengeluaran urin adalah tanda hypervolemia pada pasien dengan
dengan jantung, hepar, dan fungsi ginjal yang normal. Gejala lanjut dari hypervolemia yaitu
tachycardia, pulmonary crackles, wheezing, cyanosis, dan frothy pulmonary secretion.
Tabel. $anda5$anda 6ehilangan Cairan &)ipo!olemia'
&,al-asi Laboratori-m
Beberapa pengukuran laboratorium digunakan untuk menilai volume intravascular dan
ketercukupan perfusi.jaringan Pengukuran ini meliputi serial hematocrits, seperti pH darah
arteri, berat jenis atau osmolalitas urin, konsentrasi klorida atau natrium dalam urin, Natrium
dalam darah, dan creatinin serum, ratio blood urea nitrogen (perbandingan BUN). lni hanya
pengukuran volume intravascular secara tidak langsung dan sering tidak bisa dipercaya selama
operasi sebab dipengaruhi oleh beberapa variabel dan hasilnya sering terlambat. Tanda-tanda
laboratorium dari dehidrasi yaitu peningkatan hematocrit progresif acidosis metabolic yang
progresif, berat jenis urin >l.0l0, Natrium dalam urin <l0 mEq/L, osmolalitas > 450 mOsm/kg,
hypernatremia, dan ratio BUN- -kreatinin >l0:l. Tanda-tanda pada foto roentgen adalah
meningkatnya vaskularisasi paru dan interstitiel yang ditandai dengan ( Kerly " B") atau infiltrasi
difus pada alveolar adalah tanda-tanda dari overload cairan
eng-k-ran .emodinamik
Monitoring CVP diindikasikan pada pasien dengan jantung dan fungsi paru yang normal jika
status volume sukar untuk dinilai dengan alat lain atau jika diharapkan adanya perubahan yang
cepat. Pembacaan CVP harus diinterpretasikan nilai yang rendah(< 5 mm Hg) mungkin normal
kecuali jika ada tanda-tanda hypovolemia. Lebih dari itu, respon dari bolus cairan ( 250 mL)
yang ditandai dengan: sedikit peningkatan ( l-2 mm Hg) merupakan indikasi penambahan
cairan, sedangkan suatu peningkatan yang besar (> 5 mm Hg) kebutuhan cairan cukup dan
evaluasi kembali status volume cairan.. CVP yang terbaca >l2 mmHg dipertimbangkan.
hypervolemia dalam disfungsi ventricular kanan, meningkatnya tekanan intrathorakal, atau
penyakit pericardial restriktif.
Monitoring tekanan arteri Pulmonary dimungkinkan jika CVP tidak berkorelasi dengan gejala
klinis atau jika pasien mempunyai kelainan primer atau sekunder dari fungsi ventrikel kanan,
kelainan fungsi tubuh; yang juga berhubungan dengan paru-paru atau penyakit pada ventrikel
kiri. Pulmonary Artery Occlusion Pressure (PAOP) <8 mmHg menunjukkan adanya
hypovolemia ,dikonfirmasi dengan gejala klinis; bagaimanapun, nilai <l5 Mm Hg berhubungan
dengan pasien yang hipovolemia relative dengan compliance ventrikel lemah. Pengukuran
PAOP >l8 mmHg dan biasanya menandakan beban volume ventrikel kiri yang berlebih.
Adanya penyakit katup Mitral (stenosis), stenosis aorta yang berat, atau myxoma atrium kiri
atau thrombus mengubah hubungan yang normal antara PAOP dan volume diastolic akhir
ventrikel kiri. Peningkatan tekanan pada thorak dan tekanan pada jalan nafas paru terlihat
adanya kesalahan; sebagai konsekwensi, semua pengukuran tekanan selalu diperoleh pada
waktu akhir expirasi .
Teknik terbaru mengukur volume ventrikel dengan transesophageal echocardiography atau oleh
radioisotop dan lebih akurat tetapi belum banyak tersedia.

C%IR%N IN*R%'&N%
Terapi cairan intravena terdiri dari cairan kristaloid, koloid, atau suatu kombinasi kedua-duanya.
Solusi cairan kristaloid adalah larutan mengandung ion dengan berat molekul rendah (garam)
dengan atau tanpa glukosa, sedangkan cairan koloid berisi ion dengan berat molekul tinggi
seperti protein atau glukosa. Cairan koloid menjaga tekanan oncotic plasma dan sebagian
besar ada di intravascular, sedangkan cairan kristaloid dengan cepat didistribusikan keseluruh
ruang cairan extracellular.
Ada kontroversi mengenai penggunaan cairan koloid dan kristaloid untuk pasien dg
pembedahan. Para ahli mengatakan bahwa koloid dapat menjaga plasma tekanan oncotic
plasma, koloid lebih efektif dalam mengembalikan volume intravascular dan curah jantung.Ahli
yang lain mengatakan bahwa pemberian cairan kristaloid efektif bila diberikan dalam jumlah
yang cukup. Pendapat yang mengatakan bahwa koloid dapat menimbulkan edema pulmoner
pada pasien dengan peningkatan permeabilitas kapiler paru adalah tak benar, sebab tekanan
onkotik interstitial paru-paru sama dengan plasma ( lihat Bab 22). Beberapa pernyataan
dibawah ini yang mendukung :
l. Kristaloid, jika diberikan dalam jumlah cukup sama efektifnya dengan koloid dalam
mengembalikan volume intravascular.
2. Mengembalikan deficit volume intravascular dengan kristaloid biasanya memerlukan 3-4
kali dari jumlah cairan jika menggunakan koloid.
3. Kebanyakan pasien yang mengalami pembedahan mengalami deficit cairan extracellular
melebihi deficit cairan intravascular..
4. Defisit cairan intravascular yang berat dapat dikoreksi dengan cepat dengan
menggunakan cairan koloid.
5. Pemberian cairan kristaloid dalam jumlah besar (> 4-5 L) dapat menimbulkan edema
jaringan.
Beberapa kasus membuktikan bahwa, adanya edema jaringan mengganggu transport oksigen,
memperlambat penyembuhan luka dan memperlambat kembalinya fungsi pencernaan setelah
pembedahan.
Cairan Kristaloid
Cairan kristaloid merupakan cairan untuk resusitasi awal pada pasien dengan syok hemoragik
dan septic syok seperti pasien luka bakar, pasien dengan trauma kepala untuk menjaga
tekanan perfusi otak, dan pasien dengan plasmaphersis dan reseksi hepar. Jika 3-4 L cairan
kristaloid telah diberikan, dan respon hemodinamik tidak adekuat, cairan koloid dapat
diberikan.
Ada beberapa macam cairan kristaloid yang tersedia. Pemilihan cairan tergantung dari derajat
dan macam kehilangan cairan. Untuk kehilangan cairan hanya air, penggantiannya dengan
cairan hipotonik dan disebut juga maintenance type solution. Jika hehilangan cairannya air dan
elektrolit, penggantiannya dengan cairan isotonic dan disebut juga replacement type solution.
Dalam cairan, glukosa berfungsi menjaga tonisitas dari cairan atau menghindari ketosis dan
hipoglikemia dengan cepat. Anak- anak cenderung akan menjadi hypoglycemia(< 50 mg/dL) 4-
8 jam puasa. Wanita mungkin lebih cepat hypoglycemia jika puasa (> 24 h) disbanding pria.
Kebanyakan jenis kehilangan cairan intraoperative adalah isotonik, maka yang biasa digunakan
adalah replacement type solution, tersering adalah Ringer Laktat. Walaupun sedikit hypotonic,
kira-kira l00 mL air per l liter mengandung Na serum l30 mEq/L, Ringer Laktat mempunyai
komposisi yang mirip dengan cairan extraselular dan paling sering dipakai sebagai larutan
fisiologis. Laktat yang ada didalam larutan ini dikonversi oleh hati sebagai bikarbonat. Jika
larutan salin diberikan dalam jumlah besar, dapat menyebabkan dilutional acidosis
hyperchloremic oleh karena Na dan Cl yang tinggi (l54 mEq/L): konsentrasi bikarbonat plasma
menurun dan konsentrasi Clorida meningkat.
Larutan saline baik untuk alkalosis metabolic hipokloremik dan mengencerkan Packed Red Cell
untuk transfusi. Larutan D5W digunakan untuk megganti deficit air dan sebagai cairan
pemeliharaan pada pasien dengan restriksi Natrium. Cairan hipertonis 3% digunakan pada
terapi hiponatremia simptomatik yang berat (lihat Bab 28). Cairan 3 7,5% disarankan dipakai
untuk resusitasi pada pasien dengan syok hipovolemik. Cairan ini diberikan lambat karena
dapat menyebabkan hemolisis.
Cairan Koloid
Aktifitas osmotic dari molekul dengan berat jenis besar dari cairan koloid untuk menjaga cairan
ini ada di intravascular. Walaupun waktu paruh dari cairan kristaloid dalam intravascular 20-30
menit, kebanyakan cairan koloid mempunyai waktu paruh dalam intravascular 3-6 jam.
Biasanya indikasi pemakaian cairan koloid adalah :
l. Resusitasi cairan pada pasien dengan deficit cairan intravascular yang berat (misal:
syok hemoragik) sampai ada transfusi darah.
2. Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat atau keadaan dimana
Kehilangan protein dalam jumlah besar seperti luka bakar. Pada pasien luka bakar, koloid
diberikan jika luka bakar >30% dari luas permukaan tubuh atau jika > 3-4 L larutan kristaloid
telah diberikan lebih dari l8-24 jam setelah trauma.
Beberapa klinisi menggunakan cairan koloid yang dikombinasi dengan kristaloid bila dibutuhkan
cairan pengganti lebih dari 3-4 L untuk transfuse. Harus dicatat bahwa cairan ini adalah normal
saline ( Cl l45 l54 mEq/L ) dan dapat juga menyebabkan asidosis metabolic hiperkloremik.
Banyak cairan koloid kini telah tersedia. Semuanya berasal dari protein plasma atau polimer
glukosa sintetik. Koloid yang berasal dari darah termasuk albumin ( 5% dan 25 % ) dan fraksi
plasma protein (5%). Keduanya dipanaskan 60 derajat selama l0 jam untuk meminimalkan
resiko dari hepatitis dan penyakit virus lain. Fraksi plasma protein berisi alpha dan beta globulin
yang ditambahkan pada albumin dan menghasilkan reaksi hipotensi. lni adalah reaksi alergi
yang alami da melibatkan aktivasi dari kalikrein.
Koloid sintetik termasuk Dextrose starches dan gelatin. Gelatin berhubungan dengan histamine
mediated- allergic reaction dan tidak tersedia di United States.Dextran terdiri dari Dextran 70
( Macrodex ) dan Dextran 40, yang dapat meningkatkan aliran darah mikrosirkulasi dengan
menurunkan viskositas darah. Pada Dextran juga ada efek antiplatelet. Pemberian melebihi 20
ml/kg/hari dapat menyebabkan masa perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal.
Dextran dapat juga bersifat antigenic dan anafilaktoid ringan dan berat dan ada reaksi
anafilaksis. Dextan l ( Promit ) sama dengan Dextran 40 atau dextran 70 untuk mencegah
reaksi anafilaxis berat.;bekerja seperti hapten dan mengikat setiap antibody dextran di sirkulasi.
Hetastarch (hydroxyetil starch) tersedia dalam cairan 6 % dengan berat molekul berkisar
450.000. Molekul-molekul yang kecil akan dieliminasi oleh ginjal dan molekul besar dihancurkan
pertama kali oleh amylase. Hetastarch sangat efektif sebagai plasma expander dan lebih murah
disbanding albumin.. Lebihjauh, Hetastarch bersifat nonantigenik dan reaksi anafilaxisnya
jarang. Studi masa koagulasi dan masa perdarahan umumnya tidak signifikan dengan infus 0.5
l L. Pasien transplantasi ginjal yang mendapat hetastarch masih controversial. Kontroversi ini
dihubungkan juga dengan penggunaan hetastarch pada pasien yang menjalani bypass
kardiopulmoner. Pentastarch, cairan starch dengan berat molekul rendah, sedikit efek
tambahannya dan dapat menggantikan hetastarch.

*&R%I C%IR%N &RIO&R%*I+
Terapi cairan perioperatif termasuk penggantian deficit cairan, kehilangan cairan normal dan
kehilangan cairan lewat luka operasi termasuk kehilangan darah.
Keb-t-!an emeli!araan Normal
Pada waktu intake oral tidak ada, deficit cairan dan elektrolit dapat terjadi dengan cepat karena
adanya pembentukan urin yang terus berlangsung,sekresi gastrointestinal, keringat dan
insensible losses dari kulit dan paru. Kebutuhan pemeliharaan normal dapat diestimasi dari
tabel berikut:
Tabel 7stimasi 6ebutuhan Cairan Pemeliharaan
0erat 0adan Kebutu(an
l0 kg pertama 4 ml/kg/jam
l0-20 kg kedua 2 ml/kg/jam
Masing-masing kg > 20 kg l ml/kg/jam
Contoh: berapa kebutuhan cairan pemeliharaan untuk anak 25 kg? Jawab: 40+20+5=65 ml/jam
ree/isting #e0i1it
Pasien yang akan dioperasi setelah semalam puasa tanpa intake cairan akan menyebabkan
defisit cairan sebanding dengan lamanya puasa. Defisit ini dapat diperkirakan dengan
mengalikan normal maintenance dengan lamanya puasa. Untuk 70 kg, puasa 8 jam,
perhitingannya (40 + 20 + 50) ml / jam x 8 jam atau 880 ml. Pada kenyataannya, defisit ini dapat
kurang sebagai hasil dari konservasi ginjal. Kehilangan cairan abnormal sering dihubungkan
dengan defisit preoperatif. Sering terdapat hubungan antara perdarahan preoperatif, muntah,
diuresis dan diare.
enggantian Cairan Intraoperati0
Terapi cairan intraoperatif meliputi kebutuhan cairan dasar dan penggantian deficit cairan
preoperative seperti halnya kehilangan cairan intraoperative ( darah, redistribusi dari cairan, dan
penguapan). Pemilihan jenis cairan intravena tergantung dari prosedur pembedahan dan
perkiraan kehilangan darah. Pada kasus kehilangan darah minimal dan adanya pergeseran
cairan, maka maintenance solution dapat digunakan. Untuk semua prosedur yang lain Ringer
Lactate biasa digunakan untuk pemeliharaan cairan. ldealnya, kehilangan darah harus
digantikan dengan cairan kristaloid atau koloid untuk memelihara volume cairan intravascular
( normovolemia) sampai bahaya anemia berberat lebih (dibanding) resiko transfusi. Pada
kehilangan darah dapat diganti dengan transfuse sel darah merah. Transfusi dapat diberikan
pada Hb 7-8 g/dL (hematocrit 2l - 24%).
Hb < 7 g/dL cardiac output meningkat untuk menjaga agar transport Oksigen tetap normal. Hb
l0 g/dL biasanya pada pasien orang tua dan penyakit yang berhubungan dengan jantung dan
paru-paru. Batas lebih tinggi mungkin digunakan jika diperkirakan ada kehilangan darah yang
terus menerus. Dalam prakteknya, banyak dokter memberi Ringer Laktat kira-kira 3-4 kali dari
banyaknya darah yang hilang, dan cairan koloid dengan perbandingan l:l sampai dicapai Hb
yang diharapkan.
Tabel. Per,iraan "olume .arah Rata5Rata &A!erage #lood "olumes'
1mur 9olume *ara(
N#-NAT#$
PREMATURE 95 ML/KG
FULL-TERM 85 ML/KG
IN6ANT$ 80 ML/KG
A*1LT$
MEN 75ML/KG
WOMAN 65 ML/KG
Pada keadaan ini kehilangan darah dapat diganti dengan Packed red blood cell.
Banyaknya transfusi dapat ditentukan dari hematocrit preoperatif dan dengan perkiraan volume
darah. Pasien dengan hematocrit normal biasanya ditransfusi hanya setelah kehilangan darah
>l0-20% dari volume darah mereka. Sebenarnya tergantung daripada kondisi pasien] dan
prosedur dari pembedahan . Perlu diketahui jumlah darah yang hilang untuk penurunan
hematocrit sampai 30%, dapat dihitung sebagai berikut:
Estimasi volume darah dari Tabel 29-5.
Estimasi volume sel darah merah (RBCV) hematocrit preoperative (RBCV preop).
Estimasi RBCV pada hematocrit 30% ( RBCV30%), untuk menjaga volume darah
normal.
Memperkirakan volume sel darah merah yang hilang ketika hematocrit 30% adalah
RBCV lost = RBCV preop - RBCV 30%.
Perkiraan jumlah darah yang hilang = RBCV lost X 3
Contoh -
Seorang perempuan 85 kg mempunyai suatu hematocrit preoperatif 35%. Berapa banyak
jumah darah yang hilang untuk menurunkan hematocritnya sampai 30%?
Volume Darah yang diperkirakan = 65 mL/kg x 85 kg = 5525 ml.
RBCV 35 % = 5525 x 35 % = l934 mL.
RBCV30% = 5525 x 30 % = l658 mL
Kehilangan sel darah merah pada 30% = l934 - l658 = 276 mL.
Perkiraan jumlah darah yang hilang = 3 x 276 mL = 828 mL.
Oleh karena itu, transfusi harus dipertimbangkan hanya jika pasien kehilangan darah melebihi
800 ml. Transfusi tidak direkomendasikan sampai terjadi penurunan hematocrit hingga 24%
(hemoglobin < 8.0 g/dL), tetapi ini diperlukan untuk menghitung banyaknya darah yang hilang,
contohnya pada penyakit jantung dimana diberikan transfusi jika kehilangan darah 800 mL.
Tabel. Redistribusi dan e!aporasi ,ehilangn cairan saat pembedahan
*#2A:AT *A2I T2A1,A :A2INGAN #NA,0A"AN CAI2AN
MlNlMAL (contoh hernioraphy) 0 2 ml/Kg
SEDANG ( contoh cholecystectomy) 2 4 ml/Kg
BERAT (contohreseksi usus) 4 8 ml/Kg
Petunjuk lain yang biasa digunakan sebagai berikut:
l. Satu unit sel darah merah sel akan meningkatkan hemoglobin l g/dL dan hematocrit 2-
3% (pada orang dewasa); dan
2. l0mL/kg transfusi sel darah merah akan meningkatkan hemoglobin 3g/dL dan
hematocrit l0%.
)enggantikan .ilangn2a Cairan Redistrib-si dan &,aporasi
Sebab kehilangan cairan ini dihubungkan dengan ukuran luka dan tingkat manipulasi dan
pembedahan, dapat digolongkan menurut derajat trauma jaringan. Kehilangan cairan tambahan
ini dapat digantikan menurut tabel di atas, berdasar pada apakah trauma jaringan adalah
minimal, moderat, atau berat. lni hanyalah petunjuk, dan kebutuhan yang sebenarnya bervariasi
pada masing-masing pasien.
*R%NS+(SI
3OLON3%N #%R%.
Membran sel darah merah berisi sedikitnya 300 faktor penentu antigenic berbeda. Sedikitnya 20
antigen golongan darah terpisah dapat dikenal; tanda dari masing-masing adalah di bawah
control genetic dari chromosom loci. Kebetulan, hanya ABO dan Rh Sistem yang penting pada
transfusi darah. Setiap orang biasanya menghasilkan antibody ( alloantibodies). Antibodi
bertanggung jawab untuk reaksi-reaksi dari transfusi. Antibodi dapat menjadi "alami" atau
sebagai respon atas sensitisasi dari suatu kehamilan atau transfusi sebelumnya.
Sistem %4O
Kromosomal untuk sistem ABO ini menghasilkan dua alleles: A dan B. Masing-masing
merepresentasikan suatu enzim yang merupakan modifikasi dari suatu permukaan sel
glycoprotein, menghasilkan antigen yang berbeda. (Sebenarnya, ada berbagai varian A dan B.)
Hampir semua individu tidak mempunyai A atau B " natural" yang menghasilkan antibody
[ sebagian besar immu-noglobulin M ( lgM)] melawan antigens ( Tabel 29-7) di dalam tahun
pertama kehidupan. Antigen H adalah precursor dari system ABO tetapi diproduksi oleh suatu
chromosom tempat berbeda. Tidak adanya antigen H( hh genotype, juga disebut Bombay
pheno-type) mencegah munculny gen A atau B; individu dengan kondisi sangat jarang ini akan
mempunyai anti-A, anti-B, dan anti-H antibodi.
Sistem R!
Sistem Rh ditandai oleh dua gen yang menempati chromosome. Ada sekitar 46 Rh-
berhubungan dengan antigens, tetapi secara klinis, ada lima antigen utama ( D, C, c, E, dan e)
dan menyesuaikan dengan antibody .Biasanya, ada atau tidak allele yang paling immunogenic
dan umum, D antigen, dipertimbangkan. Kira-Kira 80-85% tentang populasi orang kulit putih
mempunyai antigen D. lndividu yang kekurangan allele ini disebut Rh-Negative dan biasanya
antibodi akan melawan antigen D hanya setelah terpapar oleh ( Rh-Positive) transfusi
sebelumnya atau kehamilan ( seorang lbu Rh-Negative melahirkan bayi Rh-Positive).
Sistem Lain
Sistem lain ini meliputi antigen Lewis, P, li, MNS, Kidd, Kell, Duffy, Lutheran, Xg, Sid, Cartright,
YK, dan Chido Rodgers antigens. Kebetulan, dengan beberapa perkecualian ( Kell, Kidd, Duffy,
Dan), alloantibodi melawan sistem ini jarang menyebabkan reaksi hemolytic serius.
*&S KO)%*I4ILI*%S
Tujuan tes ini adalah untuk memprediksi dan untuk mencegah reaksi antigen-antibody sebagai
hasil transfusi sel darah merah. Donor dan penerima donor darah harus di periksa adanya
antibody yang tidak baik.
Tabel. 8olongan darah A#O
TlPE Adanya antibodi dalam serum lnsidensi
A anti B 45%
B anti A 8%
AB - 4%
O anti A, antiB 43%
angka rata-rata pada orang di Eropa
*es %4O5R!
Reaksi Transfusi yang paling berat adalah yang berhubungan dengan inkompatibilitas ABO;
antibody yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dari transfusi (asing),
mengaktifkan komplemen, dan mengakibatkan hemolisis intravascular. Sel darah merah pasien
diuji dengan serum yang dikenal mempunyai antibody melawan A dan B untuk menentukan
jenis darah. Oleh karena prevalensi secara umum antibodi ABO alami, konfirmasi jenis darah
kemudian dibuat dengan menguji serum pasien melawan sel darah merah dengan antigen yang
dikenal.
Sel darah merah pasien juga diuji dengan antibody anti-D untuk menentukan Rh. Jika hasilnya
adalah Rh-Negative, adanya antibodi anti-D d dapat diuji dengan mencampur serum pasien
dengan sel darah merah Rh (+).Kemungkinan berkembangnya antibodi anti-D setelah paparan
pertama pada antigen Rh adalah 50-70%.
Crossmat1!ing
Suatu crossmatch transfusi: sel donor dicampur dengan serum penerima. Crossmatch
mempunyai tiga fungsi: ( l) Konfirmasi jenis ABO dan Rh ( kurang dari 5 menit), ( 2) mendeteksi
antibodi pada golongan darah lain , dan ( 3) mendeteksi antibody dengan titer rendah atau tidak
terjadi aglutinasi mudah. Yang dua terakhir memerlukan sedikitnya 45 menit.
S1reening %ntibodi
Tujuan test ini adalah untuk mendeteksi dalam serum adanya antibodi yang biasanya
dihubungkan dengan reaksi hemolitik non-ABO. Test ini ( dikenal juga Coombs Tes tidak
langsung) memerlukan 45 menit dan dengan mencampur serum pasien dengan sel darah
merah dari antigen yang dikenal; jika ada antibodi spesifik, membran sel darah merah dilapisi,
dan penambahan dari suatu antibodi antiglobulin menghasilkan aglutinasi sel daraah. Screening
ini rutin dilakukan pada seluruh donor darah dan dilakukan untuk penerima donor sebagai ganti
dari crossmatch .
*2pe 6 Crossmat1! ,ers-s *2pe 6 S1reen
Timbulnya suatu reaksi hemolytic yang serius setelah transfusi dari ABO- dan Rh-Compatible
Transfusi dengan screening negatif tetapi tanpa crossmatch kurang dari l%. Crossmatching,
bagaimanapun, meyakinkan pentingnya kemanan yang optimal dan mendeteksi adanya
antibody yang lain yang muncul dalam screening. Crossmatch kini dilakukan hanya untuk
prosedur operasi elektif dg kemungkinan transfusi darah. Oleh karena waktunya sekitar 45
menit jika sebelumnya prosedur dua type dan screen telah didokumentasikan, pada beberapa
Center telah memulai crossmatch secara komputer.
emesanan #ara! (nt-k OperasiKebanyakan rumah sakit menyusun daftar operasi yang
akan dilakukan dan yang maksimum jumlah unit yang dapat dicrossmatch preoperati. Seperti
pada praktek mencegah berlebihan Crossmatching darah. Daftar pada umumnya didasarkan
pada masing-masing pengalaman institusi. Suatu crossmatch-to-transfusion perbandingan
kurang dari 2.5:l dipertimbangkan bisa diterima. Hanya suatu type and screen dilakukan jika
timbulnya transfusi untuk suatu prosedur kurang dari l0%. Jika transfusi diperlukan, dilakukan
cross-match . Pinjaman secara khas dibuat untuk pasien anemic dan mereka yang mempunyai
kelainan pembekuan.
*R%NS+(SI #%L%) K&%#%%N #%R(R%*
Ketika pasien sedang exsanguinating, kebutuhan transfusi terjadi sebelum penyelesaian suatu
crossmatch, penyaringan , atau bahkan identifikasi tipe darah. Jika jenis darah pasien sudah
dikenal, dilakukan crossmatch kurang dari 5 menit, akan mengkonfirmasikan kompatibilitas
ABO. Jika jenis darah penerima tidak dikenal dan transfusi harus dimulai sebelum penentuan,
jenis O Rh-Negative darah mungkin bisa digunakan.
4%NK #%R%.
Darah dari pendonor disaring untuk mengeluarkan zat-zat yang dapat mempengaruhi kondisi
medis yang kurang baik bagi penerima donor. Hematocrit ditentukan, jika >37% untuk
allogeneic atau 32% untuk donor autologous, darah dikumpulkan, diidentifikasi, disaring untuk
antibodi, dan dilakukan pengujian adanya Hepatitis B, Hepatitis C, sipilis,human T cell leukemia
virus ( HTLV)-l dan HTLV-2, dan Human immunodeficiency virus ( HlV)-l dan HlV-2.
Kebanyakan pusat penelitian sedang melakukan tes terhadap asam nucleat virus RNA untuk
mendeteksi Hepatitis B dan C dan virus HlV ,dan sedang melakukan deteksi terhadap West
Nile Virus. Ada test yang sangat sensitif, dan mereka perlu membatasi virus dengan window
positif tetapi test negatif.
Pertama, darah dikumpulkan kemudian tambahkan larutan anticoagulant. Larutan yang paling
umum digunakan adalah CPDA-l, yang berisi sitrat sebagai antikoagulan (berikatan dengan
Calcium), fosfat sebagai buffer, dextrose sebagai sumber energi sel darah merah, dan
adenosine sebagai precursor dari sintesa ATP.
Darah dengan CPDA-l- dapat disimpan untuk 35 hari, setelah kelangsungan hidup sel darah
merah dengan cepat berkurang. Sebagai alternatif, penggunaan AS-l ( Adsol) atau AS-3
( Nutrice) meluas umur rata-rata 6 minggu.
Semua unit yang dikumpulkan dipisahkan ke masing-masing komponen, yang diberi nama, sel
darah merah, platelets, dan plasma.
Ketika disentrifuge, l unit Whole blood utuh menghasilkan sekitar 250 mL packed red blood cel
( hematocrit 70%); mengikuti penambahan larutan saline, volume suatu unit packed red cell
sering mencapai 350 mL. Sel darah merah secara normal disimpan pada l-6C. Sel darah
merah dapat dibekukan dalam larutan glycerol hypertonis sampai l0 tahun. Teknik yang
belakangan pada umumnya disediakan untuk penyimpanan darah dengan phenotypes jarang.
Supernatant disentrifuge untuk menghasilkan platelets dan plasma. l Unit platelets yang
diperoleh biasanya berisi 50-70 mL plasma dan dapat disimpan pada 20- 24C untuk 5 hari.
Sisa plasma supernatant diproses dan dibekukan untuk menghasilkan Fresh frozen plasma;
pembekuan cepat mencegah inaktifasi faktor pembekuan ( V dan Vlll). Pencairan yang lambat
dari Fresh frozen plasma menghasilkan suatu gelatin presipitat (cryo-precipitate) yang berisi
faktor Vlll dan fibrinogen dengan konsentrasi tinggi. Ketika dipisahkan, cryoprecipitate ini dapat
dibekukan kembali untuk disimpan. Satu unit darah menghasilkan sekitar 200 mL plasma, yang
mana dapat dibekukan untuk disimpan; sekali ketika, harus ditransfusi dalam 24 jam. Platelets
boleh sebagai alternatif untuk mencapai plateletpheresis, yang ekuivalen dengan enam unit
reguler dari pasien .
*R%NS+(SI IN*R%O&R%*I+
a1ked Red 4lood Cells
Transfusi darah sebaiknya diberikan packed red cell, dan dapat mengoptimalkan penggunaan
dan pemanfaatan bank darah. Packed Red Blood Cell ideal untuk pasien yang memerlukan sel
darah merah tetapi tidak penggantian volume ( misalnya, pasien anemia dengan congestive
heart failure). Pasien yang dioperasi memerlukan cairan seperti halnya sel darah merah;
kristaloid dapat diberikan dengan infuse secara bersama-sama dengan jalur intravena yang
kedua untuk penggantian volume cairan.
Sebelum transfusi, masing-masing unit harus diperiksa secara hati-hati dicek dengan kartu dari
bank darah dan identitas dari penerima donor darah. Tabung transfusi berisi l70-J.m untuk
menyaring gumpalan atau kotoran. Dengan ukuran sama dan saringan berbeda digunakan
untuk mengurangi leukocyte isi untuk mencegah febrile reaksi transfusi febrile pada pasien
yang sensitif. Darah untuk transfusi intraoperative harus dihangatkan sampai 37C. terutama
jika lebih dari 2-3 unit yang akan ditransfusi; jika tidak akan menyebabkan hypothermia. Efek
tambahan hypothermia dan secara khas 2,3-diphosphoglycerate ( 2,3-DPG) konsentrasi rendah
dalam darah yang disimpan dapat menyebabkan suatu pergeseran kekiri ditandai hemoglobin-
oxygen kurva-disosiasi dan, menyebabkan hipoxia jaringan. Penghangat darah harus bisa
menjaga suhu darah > 30C bahkan pada aliran rata-rata sampai l50 ml/menit
+res! +ro7en lasma
Fresh Frozen Plasma ( FFP) berisi semua protein plasma, termasuk semua factor pembekuan.
Transfusi FFP ditandai penanganan defisiensi faktor terisolasi, pembalikan warfarin therapy,
dan koreksi coagulopathy berhubungan dengan penyakit hati. Masing-Masing unit FFP
biasanya meningkatkan faktor pembekuan 2-3% pada orang dewasa. Pada umumnya dosis
awal l0-l5 mL/kg. Tujuannya adalah untuk mencapai 30% dari konsentrasi faktor pembekuan
yang normal.
FFP boleh digunakan pada pasien yang sudah menerima transfusi darah masive. Pasien
dengan defisiensi ANTl-THROMBlN lll atau purpura thrombocyto-penic thrombotic dapat
diberikan FFP transfusi.
Masing-Masing unit FFP membawa resiko cepat menyebar yang sama sebagai unit darah utuh.
Sebagai tambahan, pasien dapat menjadi peka terhadap protein plasma. ABO-COMPATlBLE
biasanya diberi tetapi tidak wajib. Seperti butir-butir darah merah, FFP biasanya dihangatkan
37C sebelum transfusi.
latelets
Transfusi Platelet harus diberikan kepada pasien dengan thrombocytopenia atau dysfunctional
platelets dengan pendarahan. Profilaxis Transfusi trombosit dapat diberikan pada pasien
dengan hitung trombosit l0,000-20,000 oleh karena resiko perdarahan spontan.
Hitung trombosit kurang dari 50,000 x l09/L dihubungkan dengan peningkatan perdarahan
selama pembedahan. Pasien dengan thrombocytopenia yang mengalami pembedahan atau
prosedur invasive harus diberikan profilaxis transfusi trombosit sebelum operasi, hitung
trombosit harus meningkat diatas l00,000 x l09/L. Persalinan pervaginam dan prosedur bedah
minor dapat dilakukan pada pasien dengan hitung trombosit yang agak rendah tapi fungsi
trombosit normal dan hitung trombosit >50,000 x l09/L.
Masing-Masing unit platelets mungkin diharapkan untuk meningkatkan l0,000-20,000 x l09/L
dari trombosit. Plateletpheresis unit berisi yang sejenisnya enam unit donor tunggal.
Peningkatan lebih sedikit dapat diharapkan pasien dengan suatu sejarah platelet transfusi.
Disfungsi dapat meningkatkan perdarahan pada pembedahan bahkan ketika trombosit normal
dan dapat didiagnosa preoperative dengan memeriksa masa perdarahan. . Transfusi. Platelet
diindikasikan pada pasien dengan disfungsi trombosit dan meningkatkan perdarahan pada
pembedahan. ABO-compatible platelet transfusi adalah diinginkan tetapi tidak perlu. Transfused
Platelets biasanya survive hanya l-7 hari yang mengikuti transfusi. ABO kompatibel dapat
meningkatkan platelet survival. Rh sensitisasi dapat terjadi di Rh-Negative donor dalam kaitan
dengan adanyanit donor tunggal. Peningkatan lebih sedikit dapat diharapkan pasien dengan
suatu sejarah platelet transfusi. Disfungsi dapat meningkatkan perdarahan pada pembedahan
bahkan ketika trombosit normal dan dapat didiagnosa preoperative dengan memeriksa masa
perdarahan. . Transfusi. Platelet diindikasikan pada pasien dengan disfungsi trombosit dan
meningkatkan perdarahan pada pembedahan. ABO-compatible platelet transfusi adalah
diinginkan tetapi tidak perlu. Transfused Platelets biasanya survive hanya l-7 hari yang
mengikuti transfusi. ABO kompatibel dapat meningkatkan platelet survival. Rh sensitisasi dapat
terjadi di Rh-Negative donor dalam kaitan dengan adanya beberapa butir-butir darah merah di
(dalam) Rh-Positive platelet Unit. Lebih dari itu, anti-A atau anti-B zat darah penyerang kuman
di (dalam) yang 70 mL plasma pada setiap platelet unit dapat menyebabkan suatu reaksi
hemolytic melawan terhadap butir-butir darah merah penerima ketika sejumlah besar ABO-
incompatible platelet unit diberi. Administrasi Rh immuno-globulin ke Rh-Negative lndividu
dapat melindungi dari Rh sensitisasi yang mengikuti Rh-Positive platelet Transfusi. Pasien yang
kembang;kan zat darah penyerang kuman melawan terhadap HLA antigens lymphocytes di
(dalam) platelet berkonsentrasi) atau platelet spesifik antigens memerlukan HLA-COMPATlBLE
atau single-donor unit. Penggunaan plateletpheresis transfusi boleh ber/kurang kemungkinan
sensitisasi.
*rans0-si 3ran-losit
Transfusi Granulosit, yang dibuat dengan leukapheresis, diindikasikan pada pasien neutropenia
dengan infeksi bakteri yang tidak respon dengan antibiotik. Transfusi granulosit mempunyai
masa hidup dalam sirkulasi sangat pendek, sedemikian sehingga sehari-hari transfusi l0l0
granulocytes pada umumnya diperlukan. lradiasi dari granulosit menurunkan insiden timbulnya
reaksi graft-versus-host , kerusakan endothelial berhubungan dengan paru-paru, dan lain
permasalahan berhubungan dengan transfusi leukosit (lihat di bawah), tetapi mempengaruhi
fungsi granulosit. Ketersediaan filgrastim ( granulocyte colony-stimulating faktor, atau G-CSF)
dan sargramostim ( granulocyte-macrophage colony-stimulating faktor, atau GM-CSF) telah
sangat mengurangi penggunaan transfusi granulosit.
KO)LIK%SI *R%NS+(SI
%. Komplikasi Im-n
Komplikasi imun setelah transfusi darah terutama berkaitan dengan sensitisasi donor ke sel
darah merah, lekosit, trombosit atau protein plasma.
1. 2eaksi "emol%ti'
Reaksi Hemolytic pada umumnya melibatkan destruksi spesifik dari sel darah merah yang
ditransfusikan oleh antibody resipien. Lebih sedikit biasanya, hemolysis sel darah merah
resipien terjadi sebagai hasil transfusi antibody sel darah merah.Trombosit konsentrat yang
inkompatible, FFP, clotting faktor, atau cryoprecipitate berisi sejumlah kecil plasma dengan anti-
A atau anti-B ( atau kedua-duanya) alloantibodies. Transfusi dalam jumlah besar dapat
menyebabkan hemolisis intravascular.
Reaksi Hemolytic biasanya digolongkan akut ( intravascular) atau delayed ( extravascular).
Reaksi 2emolytic Akut
Hemolisis lntravascular akut pada umumnya berhubungan dengan lnkompatibilitas ABO dan
frekwensi yang dilaporkan kira-kira l:38,000 transfusi. Penyebab yang paling umum adalah
misidentifikasi suatu pasien, spesimen darah, atau unit transfusi. Reaksi ini adalah yang
terberat. Resiko suatu reaksi hemolytic fatal terjadi l dalam l00,000 transfusi. Pada pasien
yang sadar, gejala meliputi rasa dingin, demam, nausea, dan sakit dada. Pada pasien yang
dianestesi, manifestasi dari suatu reaksi hemolytic akut adalah suhu meningkat, tachycardia tak
dapat dijelaskan , hipotensi, hemoglobinuria, dan oozing yang difus dari lapangan operasi.
Disseminated lntravascular Coagulation, shock, dan penurunan fungsi ginjal dapat berkembang
dengan cepat. Beratnya suatu reaksi seringkali tergantung pada berapa banyak darah yang
inkompatibel yang sudah diberikan. Gejala yang berat dapat terjadi setelah infuse l0 l5 ml
darah yang ABO inkompatibel. Manajemen reaksi hemoiytic dapat simpulkan sebagai berikut:
Jika dicurigai suatu reaksi hemolytic, transfusi harus dihentikan dengan segera.
Darah harus di cek ulang dengan slip darah dan identitas pasien.
Kateter urin dipasang , dan urin harus dicek adanya hemoglobin.
Osmotic diuresis harus diaktipkan dengan mannitol dan cairan kedalam pembuluh
darah.
Jika ada perdarahan akut, indikasi pemberian platelets dan FFP
Reaksi !emolytic lam4at
Suatu reaksi hemolytic lambat biasanya disebut hemolysis extravascular biasanya ringan dan
disebabkan oleh antibody non D antigen Sistem Rh atau ke asing alleles di system lain seperti
Kell, Duffy, atau Kidd antigens. Berikut suatu transfusi ABO dan Rh D-compatible,pasien
mempunyai l-l.6% kesempatan membentuk antibody untuk melawan antigen asing. Pada saat
itu
Sejumlah antibody ini sudah terbentuk ( beberapa minggu sampai beberapa bulan), tranfusi sel
darah telah dibersihkan dari sirkulasi. Lebih dari itu, titer antibody menurun dan mungkin tidak
terdeteksi. Terpapar kembali dengan antigen asing yang sama selama transfuse sel darah,
dapat mencetuskan respon antibody melawan antigen asing. Peristiwa ini dilihat jelas dengan
Sistem Kidd antigen. Reaksi hemolytic pada tipe lambat terjadi 2-2l hari setelah transfusi, dan
gejala biasanya ringan, terdiri dari malaise, jaundice, dan demam. Hematocrit pasien tidak
meningkat setelah transfusi dan tidak adanya perdarahan. Serum bilirubin unconjugated
meningkat sebagai hasil pemecahan hemoglobin.
Diagnosa antibody - reaksi hemolytic lambat mungkin difasilitasi oleh antiglobulin (Coombs)
Test. Coombs test mendeteksi adanya antibody di membrane sel darah. Test ini tidak bisa
membedakan antara membrane antibody resipien pada sel darah merah dengan membrane
antibody donor pada sel darah merah. Jadi, ini memerlukan suatu pemeriksaan ulang yang
lebih terperinci pretransfusi pada kedua spesimen : pasien dan donor.
Penanganan reaksi hemolytic lambat adalah suportif. Frekwensi reaksi transfusi hemolytic
lambat diperkirakan kira-kira l:l2,000 transfusi. Kehamilan ( terpapar sel darah merah janin)
dapat juga menyebabkan pembentukan alloan-tibodies pada seldarah merah.
!. 2eaksi Imun Non(emolitik
Reaksi imun Nonhemolytic adalah dalam kaitan dengan sensitisasi dari resipien ke donor
lekosit, platelets, atau protein plasma.
5e4rile Reaksi
Sensitisasi lekosit atau Platelet secara khas manifestasinya adalah reaksi febrile. Reaksi ini
umumnya ( l-3% tentang episode transfusi) dan ditandai oleh suatu peningkatan temperatur
tanpa adanya hemolysis. Pasien dengan suatu riwayat febrile berulang harus menerima tranfusi
lekosit saja. Transfusi sarah merahh dapat dibuat leukositnya kurang dengan sentrifuge,
filtration, atau teknik freeze-thaw.
Reaksi 6rtikaria
Reaksi Urtikaria pada umumnya ditandai oleh erythema, penyakit gatal bintik merah dan
bengkak, dan menimbulkan rasa gatal tanpa demam. Pada umumnya ( l% tentang transfusi)
dan dipikirkan berkaitan dengan sensitisasi pasien ke transfusi protein plasma. Reaksi Urticaria
dapat diatasi dengan obat antihistamine ( H, dan mungkin H2 blockers) dan steroids.
Reaksi Ana7ilaksis
Reaksi anafilaksis jarang terjadi (kurang lebih l50,000 transfusi). Reaksi ini berat dan terjadi
setelah hanya beberapa mililiter darah ditranfusi, secara khas pada lgA- Pasien dengan
Deficiensi anti-lgA yang menerima tranfusi darah yang berisi lgA. Prevalensi defisiensi lgA
diperkirakan l:600-800 pada populasi yang umum. Reaksi ini diatasi dengan pemberian
epinephrine, cairan, corticosteroids, dan Hl, dan H2 blockers. Pasien dengan defisiensi
lgAperlu menerima Washed Packed Red Cells, deglycerolized frozen red cells, atau lgA-Free
blood Unit .
8dema 9ulmonary 0oncardiogenic
Sindrom acute lung injury (Transfusion-Related Acute Lung lnjury [ TRALl]) merupakan
komplikasi yang jarang terjadi(< l:l0,000). lni berkaitan dengan transfusi antileukocytic atau
anti-HLA antibodi yang saling berhubungan dan menyebabkan sel darah putih pasien
teragregasi di sirkulasi pulmoner.Tranfusi sel darah putih dapat berinteraksi dengan
leukoaglutinin. Perawatan Awal TRALl adalah sama dengan Acute Respiratory distress
syndrome ( ARDS), tetapi dapat sembuh dalam l2-48 jam dengan therapy suportif.
:ra7t versus 2ost Disease
Reaksi jenis ini dapat dilihat pada pasien immune-compromised. Produk sel darah berisi
lymfosit mampu mengaktifkan respon imun. Penggunaan filter leukosit khusus sendiri tidak
dapat dipercaya mencegah penyakit graft-versus-host; iradiasi ( l500-3000 cGy) sel darah
merah, granulocyte, dan transfusi platelet secara efektif menginaktifasi lymfosit tanpa
mengubahefikasi dari transfusi.
9ur*ura 9osttrans7usi
Thrombocytopenia jarang terjadi setelah transfusi darah dan ini berkaitan dengan
berkembangnya alloantibody trombosit. Karena alasan yang tidak jelas, antibodi
menghancurkan trombosit. Hitung trombosit secara jelas menurun l minggu setelah tranfusi.
Plasmapheresis dalam hal ini dianjurkan.
Imun u*resi
Transfusi leukosit-merupakan produk darah dapat sebagai immunosuppressi. lni adalah terlihat
jelas pada penerima cangkok ginjal, di mana transfusi darah preoperatif nampak untuk
meningkatkan survival dari graft. Beberapa studi menyatakan bahwa rekurensi dari
pertumbuhan malignan mungkin lebih mirip pada pasien yang menerima transfusi darah
selamapembedahan. Dari kejadian yang ada juga menyatakan bahwa tranfusi leukocyte
allogenic dapat mengaktifkan virus laten pada resipien. Pada akhirnya, transfusi darah dapat
meningkatkan timbulnya infeksi yang serius setelah pembedahan atau trauma.
4. Komplikasi In0eksi
1. In0eksi ,ir-s
2e*atitis
Sampai tes rutin untuk virus hepatitis telah diterapkan, insidensi timbulnya hepatitis setelah
transfusi darah 7-l0%. Sedikitnya 90% tentang kasus ini adalah dalam kaitan dengan hepatitis
C virus. Timbulnya hepatitis posttransfusi antarab l:63,000 dan l:l,600,000; 75% tentang
kasus ini adalah anicteric, dan sedikitnya 50% berkembang;menjadi penyakit hati kronis. Lebih
dari itu, tentang kelompok yang terakhir ini, sedikitnya l0-20% berkembang menjadi cirrhosis.
Ac;uired Immunode7iciency yndrome " AID )
Virus yang bertanggung jawab untuk penyakit ini, HlV-l, ditularkan melalui transfusi darah.
Semua darah dites untuk mengetahui adanya anti-HlV-l dan - 2 antibodi . Dengan adanya FDA
yang menguji asam nukleat memperkecil waktu kurang dari satu minggu dan menurunkan
resiko dari penularan HlV melalui tranfusi l:l.900.000 tranfusi.
In7eksi <irus Lain
Cytomegalovirus (CMV) dan Epstein-Barr Virus umumnya menyebabkan penyakit sistemik
ringan atau asimptomatik.Yang kurang menguntungkan, pada beberapa individu menjadi
pembawa infeksi asimptomatik; lekosit dalam darah dari donor dapat menularkan virus. Pasien
immunosupresi dan lmmunocompromise ( misalnya, bayi prematur dan penerima transplantasi
organ ) peka terhadap infeksi CMV berat setelah tranfusi. ldealnya, . pasien- pasien menerima
hanya CMV negative. Bagaimanapun, studi terbaru menunjukkan bahwa resiko transmisi CMV
dari transfusi dari darah yang leukositnya berkurang sama dengan tes darah yang CMV
negative. Oleh karena itu, pemberian darah dengan leukosit yang dikurangi secara klinis cocok
diberikan pada pasien seperti itu. Human T sel virus lymphotropic l dan ll ( HTLV-l dan HTLV-
2) adalah leukemia dan lymphoma virus, kedua-duanya telah dilaporkan ditularkan melalui
transfusi darah; leukemia dihubungkan dengan myelopathy. Penularan Parvovirus telah
dilaporkan setelah transfusi faktor pembekuan. dan dapat mengakibatkan krisis transient
aplastic pada pasient immunocompromised. Penggunaan filter leukosit khusus nampaknya
mengurangi tetapi tidak mengeliminasi timbulnya komplikasi di atas.
2. In0eksi parasit
Penyakit parasit yang dapat ditularkan melalui transfusi seperti malaria, toxoplasmosis, dan
Penyakit Chagas'. Namun kasus-kasus tersebut jarang terjadi.
". In0eksi 4akteri
Kontaminasi bakteri dalam adalah penyebab kedua kematian melalui transfusi. Prevalensi kultur
positif dari kantong darah berkisar dari l/2000 trombosit sampai l/7000 untuk pRBC. Prevalensi
sepsis oleh karena transfusi darah berkisar dari l/25,000 tromobosit sampai l/250,000 untuk
pRBC. Angka-angka ini secara relatif besar dibandingkan ke resiko HlV atau hepatitis, yang
adalah di sekitar l/l-2 juta. Baik bakteri gram-positive ( Staphylococus) dan bakteri gram-
negative ( Yersinia dan Citrobacter) jarang mencemari transfusi darah dan menularkan
penyakit. Untuk mencegah kemungkinan kontaminasi dari bakteri, darah harus berikan dalam
waktu kurang dari 4 jam. Penyakit bakteri yang ditularkan melalui transfusi darah dari donor
meliputi sifilis, brucellosis, salmonellosis, yersiniosis, dan berbagai macam rickettsia.
C. *rans0-si #ara! )asi0
Transfusi darah masif umumnya didefinisikan sebagai kebutuhan transfusi satu sampai dua kali
volume darah pasien. Pada kebanyakan pasien dewasa, equivalent dengan l0-20 unit.
Koag-lopati
Penyebab utama perdarahan setelah transfusi darah masif adalah dilutional thrombocytopenia.
Secara klinis dilusi dari factor koagulasi tidak biasa terjadi pada pasien normal. Studi Koagulasi
dan hitung trombosit, jika tersedia, idealnya menjadi acuan transfusi trombosit dan FFP. Analisa
Viscoelastic dari pembekuan darah (thromboelastography dan Sonoclot Analisa) juga
bermanfaat.
Kera1-nan Sitrat
Kalsium berikatan dengan bahan pengawet sitrat secara teoritis dapat menjadi penting setelah
transfusi darah dalam jumlah besar. Secara klinis hypocalcemia penting, karena menyebabkan
depresi jantung, tidak terjadi pada pasien normal kecuali jika transfusi melebihi l U tiap-tiap 5
menit. Sebab metabolisme sitrat terutama di hepar, pasien dengan penyakit atau disfungsi
hepar ( dan kemungkinan pada pasien hipothermi) memerlukan infuse calcium selama transfusi
massif ).
.2pot!ermia
Transfusi Darah massif adalah merupakan indikasi mutlak untuk semua produk darah cairan
intravena hangat ke temperatur badan normal. Arhitmia Ventricular dapat menjadi fibrilasi
,sering terjadi pada temperatur sekitar 30C. Hypothermia dapat menghambat resusitasi
jantung. Penggunaan alat infus cepat dengan pemindahan panas yang efisien sangat efisien
telah sungguh mengurangi timbulnya insiden hypothermia yang terkait dengan transfusi.
Keseimbangan asam basa
Walaupun darah yang disimpan adalah bersifat asam dalam kaitan dengan antikoagulan asam
sitrat dan akumulasi dari metabolit sel darah merahs (carbondioxida dan asam laktat),
berkenaan dengan metabolisme acidosis metabolik yang berkaitan dengan transfusi tidaklah
umum. Yang terbanyak dari kelainan asam basa setelah tranfusi darah massif adalah alkalosis
metabolic postoperative.Ketika perfusi normal diperbaiki, asidosis metabolic berakhir dan
alkalosis metabolic progresif terjadi, sitrat dan laktat yang ada dalam tranfusi dan cairan
resusitasi diubah menjadi bikarbonat oleh hepar.
Konsentrasi Kalium Serum Konsentrasi kalium Extracellular dalam darah yang disimpan
meningkat dengan waktu. Jumlah kalium extracellular yang transfusi pada unit masing-msaing
kurang dari 4 mEq perunit. Hyperkalemia dapat berkembang dengan mengabaikan umur darah
ketika transfusi melebihi l00 mL/min. Hypokalemia biasanya ditemui sesudah operasi, terutama
sekali dihubungkan dengan alkalosis metabolisme.
S*R%*&3I %L*&RN%*I+ (N*(K &N%3%N%N K&.IL%N3%N #%R%. S&L%)%
&)4&#%.%N
*rans0-si %-tologo-s
Pasien yang mengalami prosedur pembedahan elektif dengan suatu kemungkinan tinggi untuk
transfusi dapat mendonorkan darah mereka sendiri untuk digunakan selama operasi. Darah ini
dapat dikumpulkan mulai 4-5 minggu sebelum operasi. Pasien diperbolehkan untuk
mendonorkan satu kantong darah sepanjang hematokrit kurang lebih 34% atau hemoglobin
sekitar ll g/dl. Kebutuhan pemakaian darah minimum 72 jam antara mendonorkan darah dan
membuat volume plasma kembali normal. Dengan suplementasi besi dan terapi eritropoetin
rekombinan ( 400 U perminggu), sedikitnya tiga atau empat unit pada umumnya dikumpulkan
sebelum operasi. Beberapa studi menyatakan bahwa transfusi darah autologous tidak
mempunyai efek tambahan yang mempengaruhi survival pada pasien yang mengalami operasi
untuk kanker. Walaupun transfusi autologous mungkin mengurangi resiko infeksi dan reaksi
transfusi, mereka tidaklah dengan sepenuhnya bebas dari resiko. Resiko meliputi reaksi
immunologi yang berhubungan dengan n kesalahan pekerjaan karyawan dalam pengumpulan
dan label, pencemaran, dan gudang/penyimpanan yang tidak benar. Reaksi alergi dapat terjadi
dalam kaitan dengan allergen (misalnya, ethylen oksida), dapat masuk kedalam darah dari
tempat pengumpulan dan gudang/penyimpanan. Pengumpulan darah preoperative autologous
dilakukan dengan frekwensi berkurang.
en2impanan #ara! dan emberian Cairan )elal-i In0-s 4er-lang
Teknik ini umumnya digunakan pada bedah jantung, vascular dan bedah tulang. Darah di
aspirasi intraoperatif bersama-sama dengan suatu pencegah pembekuan darah ( heparin) ke
dalam suatu reservoir. Setelah jumlah darah cukup dikumpulkan, sel darah yang merah di
konsentratkan dan dicuci untuk dimurnikan dari kotoran dan zat pembeku kemudian di
transfusikan kembali ke dalam pasien. Konsentrat darah tersebut umumnya mempunyai
hematocrits 50-60%. Untuk digunakan secara efektif, teknik ini memerlukan kehilangan darah
lebih besar dari l000-l500 mL. Kontrainidikasi meliputi pencemaran dari luka yang busuk dan
tumor malignan, meskipun demikian kekhawatiran tentang kemungkinan reinfusi sel malignan
via teknik tills tidak dibenarkan. Sistem lebih modern dan sederhana memungkinkan rein-fusion
darah tanpa centrifugae.
Normo,olemi1 .emodil-si
Hemodilution normovolemic akut bergantung pada pendapat bahwa jika konsentrasi sel darah
merah dikurangi, total kehilangan sel darah merah dapat dikurangi apabila darah dalam jumlah
besar ditumpahkan; lebih dari itu, cardiac output tetap normal sebab volume intravascuiar
terkontrol. Darah umumnya dikeluarkan sebelum operasi melalui kateter intravena yang besar
dan digantikan dengan cairan kristaloid dan koloid, supaya pasien tetap normovolemic tetapi
dengan hematocrit 2l-25%. Darah yang dikeluarkan disimpan dalam kantong CPD pada suhu
sampai 6 jam untuk menjaga fungsi dari trombosit; darah di transfusikan kembali ke pasien
setelah kehilangan darah atau lebih cepat jika diperlukan.
#onor 5 *rans0-si Langs-ng
Pasien dapat meminta donor darah dari anggota keluarga atau teman yang mengandung ABO
kompatibilitas. Kebanyakan bank darah tidak menyarankan hal ini dan umumnya memerlukan
donor kurang lebih 7 hari sebelum operasi untuk memproses darah dan mengkonfirmasikan
kompatibilitas.
Studi yang membandingkan keamanan dari pendonor-langsung dengan donor secara random
tidak ada perbedaan, ataupun bank darah lebih aman.
KONS& (*%)%
l. Walaupun waktu paruh cairan kristaloid didalam intravascular adalah 20-30 menit,
kebanyakan cairan koloid mempunyai waktu paruh antara 3-6 jam.
2. Pasien dengan hematocrit normal bisanya ditransfusi hanya setelah kehilangan darah
lebih dari l0-20% dari volume darahnya. lni berdasarkan kondisi medis pasien dan
prosedur pembedahan.
3. Reaksi transfusi yang paling berat yaitu yang berhubungan dengan inkompatibilitas
ABO, antibody yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dalam
transfusi (asing), mengaktifkan komplemen,dan mengakibatkan hemolysis intravascular.
4. Pada pasien yang dianestesi, manifestasi dari reaksi hemolytic akut adalah kenaikan
temperatur, tachycardia yang tak dapat dijelaskan,hypotensi, hemoglobinuria dan oozing
difus dari lapangan operasi.
5. Transfusi leukocit termasuk produk darah dapat menjadi immunosuppressive.
6. Pasien immunosupresi dan immunocompromised (misalnya, bayi premature dan
penerima transplantasi organ) terutama peka terhadap infeksi cytomegalovirus (CMV)
melalui transfusi. Seperti pasien yang hanya menerima unit CMV-NEGATlVE.
7. Penyebab tersering pendarahan dari transfusi darah yang massif adalah dilutional
thrombocytopenia.
8. Secara klinis hypocalcemia, menyebabkan depresi jantung, tidak terjadi pada pasien
normal kecuali jika transfusi melebihi l U tiap 5 menit.
9. Ketidakseimbangan asam basa yang paling sering setelah transfusi darah masif adalah
alkalosis metabolic post operative.
R&+&R&NSI
Morgan, G. Edward. 2005. Clinical Anesthesiology, 4th Edition. Mc Graw-Hill Companies, lnc.
United State.
F#rmu$a (n!era$
*(8(%N
l. Untuk mempelajari pengelompokan formula enteral dan untuk menetukan gambaran
dan perbedaannya.
2. Untuk mengenali sumber-sumber gizi makro pada formula enteral.
3. Untuk dapat memilih formula enteral yang sesuai berdasarkan kondisi klinis atau status
penyakit, keperluan metabolik, fungsi gastrointestinal, dan lokasi masuknya tube dan
diameternya.
3%RIS 4&S%R
Untuk mencapai toleransi optimal dan keuntungan dari pemberian makanan melalui
tube, maka formula yang digunakan harus disesuaikan berdasarkan kebutuhan setiap
individu pasien.
Produk-produk yang diformulasikan secara khusus yang tersedia memiliki keunikan
kandungan gizi dan kebutuhan metabolik disesuaikan untuk beberapa kondisi klinis
akut dan kronis.
Perbaikan berkelanjutan dalam hal komposisi formula telah memudahkan keberhasilan
pemberian makanan enteral pada banyak situasi klinis terutama pada penyakit kritis
dimana pemberian makanan enteral yang pada awalnya tidak dapat ditoleransi, bahkan
hampir tidak mungkin.
I)LIK%SI KLINIS
Untuk mencapai keuntungan optimal dari pemberian makanan enteral dimulai dengan memilih
formula yang tepat. Pemilihan formula enteral didasarkan pada kondisi klinis pasien, status
penyakit sebelumnya, kebutuhan metabolik, fungsi gastrointestinal, lokasi masuknya tube dan
diameternya. Seorang dokter dapat memilih formula enteral yang paling sesuai dan efektif dari
sisi biaya dari sejumlah besar variasi produk komersial yang tersedia.
&N#%.(L(%N
Pilihan formula amat penting untuk keberhasilan pemberian makanan enteral, baik dalam
mendukung kebutuhan metabolik maupun meningkatkan toleransi gastrointestinal. Saat memilih
formula enteral, dokter harus memperhatikan hal-hal berikut:
Kebutuhan metabolik amat penting terhadap keberhasilan pemberian makanan enteral
berdasarkan kondisi klinis atau penyakit yang diderita antara lain :
l. Kilo kalori;
2. Volume cairan;
3. Densitas kalori;
4. Kebutuhan protein/ nitrogen,
5. Vitamin,
6. Mineral,
7. Zat gizi esensial sesuai kondisi.
Kapasitas absorpsi dan digestif gastrointestinal.
Tube / selang (lokasi dan diameternya)
K&4(*(.%N )&*%4OLIK
Kilo kalori
Kebutuhan energi dari kebanyakan pasien rawat inap dapat dipenuhi dengan memberikan
kebutuhan 25-35 kcal/ kg/hr. Pengaturan eukalorik atau bahkan sedikit hipokalorik, menjadi
tujuan terapeutik pada pasien kritis akan mencegah timbulnya stress metabolik yang terkait
suplai gizi yang berlebihan. Kelebihan pemberian makanan berhubungan dengan berbagai
komplikasi metabolik antara lain; retensi CO2, ventilasi meningkat, intoleransi glukosa, infiltrasi
lemak hati, ketidakseimbangan elektrolit; kelebihan cairan, dan intoleransi gastrointestinal. Jauh
lebih mudah memulai pemberian makanan pada tingkat kalori konservatif dan meningkatkan
sesuai toleransi ketimbang memperbaiki gangguan metabolik yang diakibatkan oleh pemberian
makanan secara berlebihan.
Pemeriksaan secara hati-hati terhadap status hidrasi pasien dapat membantu dokter
menghindari kelebihan atau kekurangan dosis kalori (dan protein) yang terkait dengan
timbulnya edema atau dehidrasi. Parameter klinik dan laboratorium membantu dalam penilaian
status hidrasi, termasuk diantaranya sodium serum, rasio urea nitrogen terhadap kreatinin
darah, berat badan, berat jenis urin, dan turgor kulit. Untuk menghindari kelebihan makanan,
dimana pasien yang berada dibawah berat badan ideal, kebutuhan energi dan protein dasarnya
harus melihat berat badan pasien sebelumnya. Untuk menghindari kelebihan makanan pada
pasien gemuk; dokter harus menghitung kebutuhan energi dan protein berdasarkan acuan atau
berat badan untuk tinggi badan yang ideal.
'ol-me 1airan dan densitas kalori
Keseimbangan cairan didefinisikan sebagai volume asupan air dan dibandingkan dengan
volume output cairan. Keseimbangan cairan tiap individu tergantung pada variabel-variabel
seperti umur, ukuran tubuh, intake cairan, komposisi diet, kandungan ekskresi ginjal, fungsi
ginjal, kecepatan metabolik dan respiratorik, dan suhu badan. Keseimbangan cairan juga
dipengaruhi oleh ada dan luasnya kehilangan cairan yang abnormal, seperti pada diare,
drainase luka atau demam.
Sumber-sumber intake termasuk diantaranya air yang dikonsumsi dalam minuman dan
makanan, serta air yang diproduksi dalam metabolisme oksidatif dalam tubuh. Bentuk utama
output air adalah urine, keringat, ekskresi gastrointestinal dan kelembaban udara ekspirasi.
Pasien yang menerima makanan melalui tube/ selang umumnya membutuhkan air sebagai
tambahan dari yang tersedia dalam formula.
Perkiraan kebutuhan cairan berdasarkan pada beberapa faktor antara lain intake kalori, luas
permukaan tubuh, berat badan, dan kondisi kesehatan. Bila intake kalori rendah, atau saat
kehilangan cairan meningkat (seperti keringat berlebih, poliuri, diare, atau penggunaan diuretik
yang berlebihan), pasien dapat memerlukan cairan ekstra. Oleh karena kebutuhan cairan
bervariasi antar individu, dan bervariasi dalam satu individu dalam waktu yang berbeda, maka
setiap pasien perlu diawasi secara berkala, dan intake cairan perlu diatur seperlunya. Salah
satu cara termudah untuk mengukur ketidakcukupan cairan adalah dengan mengukur berat
badan harian. Perubahan cepat yang memburuk dari satu hari ke hari lainnya kemungkinan
oleh karena kekurangan atau kelebihan air.
Kandungan air dari formula enteral bergantung pada densitas kalorinya. Formula yang memiliki
densitas kalori terbesar dapat memberikan jumlah air yang paling sedikit. (tabel l; merupakan
daftar perkiraan kandungan air untuk formula enteral dengan berbagai densitas kalorik).
Bila pasien memiliki cairan intake total yang harus dikontrol, dokter sering memilih formula
dengan densitas kalori yang lebih tinggi (l,5-2,0 kcal/ml), yang dapat memberi energi terbanyak
dalam volume yang kecil bagi pasien.
rotein
Pasien dengan luka terbuka, seperti pada ulkus , dan pasien hipermetabolik seperti sepsis,
terbakar atau udem traumatik biasanya mendapat keuntungan dari intake protein yang tinggi.
Formula enteral yang di buat dengan jumlah protein yang lebih besar, dirancang khusus
penggunaannya dalam situasi klinis ini. Bentuk protein yang digunakan ( intake atau dihidrolisis
parsial ) akan bergantung pada fungsi gastrointestinal dan apakah pasien tampak sakit berat
atau tidak. Pasien-pasien dengan penyakit gastrointestinal atau malabsopsi dapat diuntungkan
dari sistem protein ganda ( seperti formula yang menyediakan baik peptida dan asam amino ).

'itamin dan *ra1e element.
Dokter perlu menyadari mengenai pentingnya vitamin, mineral, dan trace elemen dalam diet.
Terdapat tingginya insidensi difisiensi vitamin dan mineral diantara pasien-pasien malnutrisi.
Sebagai tambahan, difesiensi klinis telah didokumentasikan pada pasien yang menerima
formula enteral yang mengalami defisiensi trace mineral seperti selenium, chromium, dan
molybdenum. Mineral-mineral ini, sebagaimana halnya mangan terdapat dalam berbagai
formula enteral. Meskipun demikian, beberapa pasien gizi buruk dengan defisiensi sejumlah
vitamin dan mineral gejala-gejala klinis dapat timbul ketika diberikan formula enteral. Hal ini
berhubungan dengan peningkatan kebutuhan zat-zat gizi ini untuk sintesis protein.
Jumlah zat gizi mikro yang disediakan dari pemberian makanan enteral bergantung pada
volume total makanan yang tersedia. Meskipun pasien menerima kalori dan protein dalam
formula yang diberikan, pasien kemungkinan tidak menerima l00% dari rekomendasi intake
harian ( RDl ) dari vitamin dan mineral maka formula harus diatur hingga sesuai.
Dokter perlu menentukan apakah kandungan vitamin dan mineral dalam formula yang diberikan
sudah cukup untuk menutupi RDl pasien dan bila tidak harus menyesuaikan formula bagi
pasien.
Formula enteral yang memberikan l00% RDl dalam volume yang relatif kecil terutama berguna
bagi pasien dengan penyakit kritis, pasien-pasien dengan pembatasan cairan dan pasien usia
lanjut atau pasien immobile yang umumnya memiliki kebutuhan kalori yang lebih rendah.
Kebutuhan diet trace element sangat kecil ( < 5 minggu l hari ). Namun, oleh karena banyak
penyakit berhubungan dengan kebutuhan gizi mikro lebih besar dari RDl, formula enteral
khusus disusun bersama dan diperkuat dengan vitamin dan mineral tertentu. Formula khusus
ini dapat membantu pasien yang memiliki status gizi dibawah optimal sebelum onset penyakit.

9at57at gi7i esensial k!-s-s.
Glutamine, arginine, taurin dan carnitine dipandang sebagai zat gizi esensial khusus. Dalam
diet normal, zat-zat gizi ini terdapat dalam kadar rendah namun adekuat. Pada penyakit berat
atau penyakit kronis, perubahan jalur metabolik dapat membatasi zat-zat gizi ini. Dalam kasus
ini, pemberian formula enteral suplemen dengan zat gizi esensial khusus dapat menguntungkan
pasien.

Glutamine.
Disebut sebagai asam amino khusus untuk pasien-pasien kritis, glutamine merupakan bahan
bakar penting untuk pembelahan sel secara cepat seperti eritrosit,, colonosit dan limfosit.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa glutamin tambahan dapat mencegah perburukan
permeabilitas usus dan memperbaiki struktur mukosa. Kebutuhan glutamine tampaknya
meningkat seiring beratnya cedera. Kadar glutamin suplementasi yang disarankan (seperti L-
glutamin) setelah trauma operasi besar tanpa komplikasi adalah l2-l4 gr/hari.

Arginin.
Arginin juga dipandang sebagai asam amino esenisal khusus, dan suplementasi arginin
dikaitkan dengan percepatan penyembuhan luka. Efeknya terhadap penyembuhan luka dapat
berhubungan dengan meningkatnya sintesis kolagen pada luka. Suplementasi arginin juga
membantu fungsi kekebalan pada manusia dan hewan. Suplementasi arginin harian dengan 30
gr dari arginin aspartat (l7 gram arginin bebas) dikomsumsi secara oral atau dengan 30 gram
arginin hidroklorida pemberian intravena berhubungan dengan meningkatkan retensi nitrogen
baik pada orang sehat maupun pasien-pasien bedah elektif. Dosis elektif minimal arginin dalam
praktek klinik masih belum ditentukan.

Taurin.
Taurin, sebuah asam amino mengandung sulfur terlibat dalam berbagai proses metabolik,
termasuk dalam sistem saraf pusat. Zat ini juga terlibat dalam konjugasi asam empedu,
membantu regulasi agregasi platelet, dan membantu fungsi netrofil. Kebutuhan taurin selama
stress metabolik masih belum ditentukan, namun taurin disintesis dari sistein dan beberapa
penelitian menunjukkan bahwa konversi metionin menjadi sistein dapat terbatas pada stress
metabolik. Taurin juga merupakan asam amino esensial khusus bagi pasien pasien cedera.

Carnitin.
Carnitin dibutuhkan untuk membawa asam amino rantai panjang ke dalam mitokondria untuk
mengasilkan energi. Ekskresi carnitin meningkat setelah cedera dan defisiensi carnitin selama
terapi antibiotik pernah dilaporkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa carnitin merupakan zat
yang penting dan harus ada dalam formula enteral. Sintesis de novo carnitin ini memerlukan
asam askorbat, niasin, vitamin B6 dan besi sebagai kofaktor.
Orang-orang yang menerima hemodialisis, nutrisi parenteral jangka panjang atau pemberian
enteral jangka panjang tanpa carnitin beresiko muncul defisiensi carnitin. Meskipun kebutuhan
diet carnitin masih belum ditetapkan, diet campuran dapat memberi carnitin sebanyak 0.l8
3l9 mg perharinya.
Kapasitas absorsi dan digestif Gastrointestinal
Formula dengan zat gizi intake dapat digunakan untuk makanan melalui gaster maupun
duedonum dan jejenum, kecuali ada kontraindikasi tertentu. Pasien dapat mengalami
perubahan kapasitas absorpsi dan digesti akibat trauma, penyakit kritis, penyakit usus kecil
atau hipoalbuminemia. Penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan disfungsi saluran cerna
memiliki absorpsi nitrogen yang lebih baik, keseimbangan nitrogen dan toleransi terhadap
pemberian makanan lebih baik bila diberikan formula dengan sumber protein yang dihidrolisis
parsial. Hipoalbuminemia terkait dengan berkurangnya tekanan osmotik. Kondisi ini rentan
terjadi pada pasien yang mengalami edema interstitial pada ususnya, yang dapat menimbulkan
gangguan absorpsi. Dalam kondisi ini, peptida rantai kecil dan sedang (medium) dapat
diabsorpsi lebih baik dibanding protein intake.

#iameter dan lokasi 0eeding t-be.
Pemberian makanan ke dalam duodenum atau jejenum perlu dikontrol dengan menggunakan
pompa volumetrik, karena pemberian makanan pasca pilorus tidak dapat diregulasi oleh
pengosongan lambung. Para dokter biasanya menghindari penggunaan formula konsentrat/
formula kental atau formula fortifikasi berserat dengan menggunakan selang jejenostomi
berdiameter kecil karena seringkali menimbulkan sumbatan selang. Namun Collier,dkk
melaporkan bahwa dengan irigasi yang lebih sering dan tak ada obat yang dimasukkan melalui
selang tersebut, formula serat-fortifikasi dapat dimasukkan melalui jejenostomi selang
berdiameter kecil dengan baik.
9at gi7i makro dalam 0orm-la enteral
Formula enteral mengandung semua bentuk zat gizi makro/ makronutrien intake (formula
polimer) atau mungkin mencakup berbagai macam kombinasi dari makronutrien yang
terhidrolisis parsial (formula oligomerik). Formula oligomerik kadang-kadang dianggap sebagai
formula defenisi kimia atau formula elemental (pelengkap).
Formula dengan nutrien intake lebih disukai oleh karena formula ini mendukung faal digesti dan
absorsi normal dan dapat memenuhi kebutuhan kebanyakan pasien.

K%R4ON.I#R%*
Karbohidrat merupakan makronutrien penting oleh karena siap didigesti dan diabsorpsi sebagai
sumber energi. Konsentrasi karbohidrat yang tipikal dalam formula enteral berkisar antara 30-
70% dari kalori total. Karbohidrat yang terdapat dalam formula enteral sebagai starch/tepung,
polimer glukosa, disakarida dan monosakarida. Semakin tinggi karbohidrat dihidrolisis,
osmolitas formula dan derajat manisnya juga meningkat. Tabel 2 merupakan daftar tipe
karbohidrat yang digunakan untuk formula enteral. Karbohidrat dalam formula enteral
merupakan polimer glukosa, sukrosa, laktosa dan fruktosa.

olimer glukosa.
Polimer glukosa dibentuk dari hidrolisis parsial dari tepung jagung dan meningkatkan baik
osmolitas dan kelarutan formula enteral. Formula ini muncul sebagai maltodekstrin, glukosa
oligosakarida, glukosa polisakarida, sirup jagung padat, dan sirup jagung. Polimer glukosa
memerlukan kapasitas digestif yang lebih sedikit dibanding tepung dan dihidrolisis cepat diusus
halus.

$ukrosa.
Sukrosa berperan terhadap tingkat kemanisan dan osmolalitas formula. lni merupakan sumber
energi yang siap pakai sehubungan dengan hidrolisis intestinal yang cepat terhadap terhadap
molekul-molekul glukosa dan fruktosa.

Laktosa.
Laktosa dihidrolisis oleh laktase diusus halus menjadi glukosa dan galaktosa. lntoleransi laktosa
seringkali terjadi dan dapat terkait dengan defisiensi laktase primer. Hal ini juga dapat terjadi
sekunder pada cedera usus atau pada status penyakit lainnya. Gejala intoleransi berkisar
antara flatulens dan rasa tidak enak pada gastrointestinal yang ringan hingga diare osmotik
yang berat. Untuk menghindari potensi intoleransi laktosa, kebanyakan formula enteral
umumnya bebas laktosa.
6ruktosa.
Fruktosa memberikan lebih sedikit peningkatan kadar glukosa darah post prandial dibanding
karbohidrat lainnya. Pada tingkatan sedang, zat ini baik untuk penderita diabetes. Fruktosa juga
penting untuk pemanis yang meningkatkan "palatabilitas" oral dari produk yang menggunakan
baik suplemen oral maupun enteral yang bersumber tunggal.

RO*&IN #%N %S%) %)INO.
Protein terdapat dalam formula enteral sebagai protein intake sebagai bentuk yang dihidrolisis
parsial oligo- atau di- dan tripeptida, atau sebagai hidrolisat penuh bebas (kristalin) L-asam
amino (Tabel 3). Protein yang dihidrolisis penuh atau parsial dapat meningkatkan osmolitas
formula. Meski kebanyakan pasien merasa lebih baik dengan sumber protein intak, protein
dalam bentuk di- atau tripeptida dapat ditoleransi lebih baik oleh pasien kritis atau penderita
disfungsi gastrointestinal atau hipoproteinemia berat. Nitrogen dalam bentuk peptida diabsorpsi
lebih cepat dan merata dibanding nitrogen yang berasal dari asam amino bebas baik oleh usus
yang sehat maupun usus yang sakit.
Valin, leusin dan isoleusin merupakan asam amino esensial rantai cabang (BCAAs) yang
dimobilisasi dari otot rangka selama stres metabolik. Meski telah diteliti secara luas,
penggunaan formula enteral yang difortifikasi dengan BCAAs pada kadar yang lebih tinggi
dibanding yang berada dalam protein tidak serta merta lebih baik secara klinis.
L&)%K
Lemak adalah sumber energi utama yang memberikan asam lemak esensial dan membawa
vitamin larut lemak. Sebagai sumber energi primer, lemak dan karbohidrat secara umum
memiliki distribusi kalori yang bersilangan terkait satu sama lain. Contohnya, formula enteral
yang dirancang untuk mengatur respons glukosa darah atau produksi CO2 memiliki prosentase
yang lebih tinggi dari total kalori yang diturunkan dari lemak relatif terhadap karbohidrat,
sementara formula yang dirancang untuk disfungsi gastrointestinal mengandung prosentase
kalori total yang jauh lebih rendah dari lemak relatif terhadap karbohidrat. Lemak tidak berperan
secara bermakna terhadap osmolitas formula.
Komponen lemak dalam formula enteral biasanya terdiri dari berbagai kombinasi asam lemak
polyunsaturated (PUFAs), asam lemak monounsaturated (MUFA), trigliserida rantai sedang
(MCTs), produk lipid terstruktur, dan asam lemak n-3 (tabel 4). Asam lemak digambarkan
secara lebih terinci dalam BAB 4. "Karbohidrat, Protei dan Lemak".
ol%unsaturated 4att% a'id.
PUFAs memiliki sedikitnya l4 karbon panjangnya dan termasuk asam lemak esensial linoleat,
arakhidonat (n-6), dan asam linolenat (n-3). lntake harian sedikitnya sebesar 4 5 % dari kalori
sebagai asam lemak esensial yang disarankan untuk mencegah defisiensi.

Trigliserida rantai sedang (,CTs).
MCTs terdiri atas 3 molekul asam lemak rantai sedang (asam lemak tersaturasi dengan
panjang 6 l2 rantai karbon) yang melekat pada molekul glyserol. MTCs diabsorpsi secara
cepat oleh mukosa usus dan dibawa melalui portal ketimbang sirkulasi limfatis. Karena
absorsinya biasanya tidak tergantung pada lipase pankreas atau garam-garam empedu, MCT
bermanfaat bila terjadi gangguan absorpsi atau transport lipid. MCTs juga dioksidasi secara
cepat sehingga menjadi penting sebagai sumber energi.

roduk lemak terstruktur.
Produk-produk lemak terstruktur dibuat melalui transesterifikasi PUFA dan MCT menjadi
molekul gliserol yang sama. Berdasarkan penelitian tentang kinetika protein dan keseimbangan
nitrogen, kombinasi MCT dan trigliserida rantai panjang (LCT) berkaitan dengan perbaikan
protein sparing pada manusia maupun hewan. Bila diberikan dalam bentuk campuran MCT 75
% / PUFA 25 %, perbaikan protein sparing disertai peningkatan oksidasi lipid dan termogenesis.

S&R%*
Serat merupakan materi yang berasal dari tanaman yang resisten dicerna oleh enzim-enzim
pada traktus gastrointestinal manusia namun difermentasikan dalam kisaran tertentu oleh
mikroflora kolon. Namun, definisi ini tidak sepenuhnya benar karena didalamnya termasuk pula
tepung, bagian yang dianggap tidak secara normal dapat diserap diusus halus. Definisi yang
lebih tepat dari diet total serat yang merupakan gabungan dari selulosa, lignin, polisakarida non-
seluloid (hemiselulose, pectin, getah dan lendir) sangat bervariasi diantara sumber-sumber
serat lainnya. lntake serat yang dianjurkan adalah antara l0 l3 gr/ l000 kcal atau 20 35
gr/hari.
Serat juga dikelompokkan berdasarkan keunggulan fungsionalnya dapat larut maupun tak larut
(menunjukkan kelarutannya dalam traktus digestivus) atau dapat difermetasi dan tidak dapat
difermentasi. Pada kebanyakan kasus, serat yang dapat larut cenderung dapat difermentasi
dan serat yang tak dapat larut cenderung non fermentasi.
$erat terlarut.
Serat terlarut seperti getah dan pectin terfermentasi dalam kolon membentuk asam lemak rantai
pendek (SCFAs) asetat, butirat dan propionat. SCFAs kurang dari 6 korban panjangnya dan
menjadi substrat energi yang disukai untuk kolonosit. SCFAs juga memiliki efek tropik melalui
saluran intestinal.
SCFAs cepat diserap oleh mukosa kolon dan dimetabolisir untuk mendapatkan energi. Absorpsi
kolonosit SCFAs disertai oleh absorpsi natrium dan air, yang mana formula serat fortifikasi
dapat mengurangi insidens diare pada pasien yang diberi intake melalui tube. Diare juga
dihindari oleh karena serat dapat memperlambat waktu transit kolonik melalui proses yang
dimediasi kolesistokinin. Meskipun SCFAs yang dihasilkan melalui fermentasi dapat
menguntungkan, namun formula enteral berisi serat perlu digunakan secara hati-hati pada
pasien yang mengalami depresi motilitas gastrointestinal.

$erat tak larut .
Serat-serat tak larut seperti soy polisakarida, serat kacang polong, dan serat teh yang banyak
terdapat dalam massa diet. Soy polisakarida awalnya merupakan sumber serat yang paling
banyak digunakan pada formula enteral. Serat ini dapat meningkatkan output feses dan berat
feses. Juga dapat memperbaiki konsistensi feses dengan memberi sumber massa (bulk).
Tehnologi terkini telah meningkatkan jumlah dan tipe serat yang tersedia untuk digunakan
dalam formula enteral, sehingga memungkinkan untuk mencampurkan antara serat larut
dengan serat tak larut untuk mencapai efek fisiologis yang diinginkan. Disarankan agar intake
serat pada dewasa sehat terdiri atas 75 % tak larut dan 25 % larut.

6ruktooligosakarida (6-$).
FOS merupakan karbohidrat yang tak dapat dicerna yang difermentasikan dalam kolon menjadi
SCFA. Secara alamiah terdapat pada bawang merah, terigu (serealia), rumput-rumputan
(barley), pisang, tomat dan madu. FOS yang merupakan oligosakarida terdiri dari l molekul
sukrosa yang berikatan dengan satu, dua atau tiga unit fruktosa tambahan, tidak didegradasi
oleh cairan lambung pH rendah atau dicerna oleh enzim-enzim gastrointestinal. Serat ini tetap
intak melewati usus halus dan masuk kedalam usus besar dimana akan difermentasikan oleh
bifido bakteria dan mikroorganisme lainnya dalam kolon menjadi laktat dan SCFAs.
Bakteri bifido merupakan sekelompok bekteri yang menguntungkan yang penting dalam
menjaga keseimbangan ekologis secara optimal diusus bagian bawah. Bakteri ini mendominasi
dalam usus bayi dan bakteri terbanyak ketiga pada orang dewasa. Beberapa penelitian klinis
menunjukkan bahwa diet tambahan dengan FOS dapat meningkatkan jumlah bakteri bifido.
Proliferasi spesies bakteri bifido karena adanya FOS dan produksi zat fermentasi seperti laktat
asetat dapat menurunkan pH usus besar dan menimbulkan suasana yang buruk bagi bakteri
patogen seperti Clostridium dificile. Selanjutnya, FOS tidak digunakan oleh bakteri patogen
seperti Clostridium perfringens, Clostridium difficile dan Escherechia coli.

*iet serat dalam 4ormula 'air
Diantara manfaat potensial dari serat dalam formula enteral antara lain berkurangnya konstipasi
dan diare, mempertahankan mukosa usus, dan menurunkan angka kejadian hiperglikemia.

KL%SI+IK%SI +OR)(L% )%K%N%N &N*&R%L
Formula enteral dapat dikelompokkan berdasarkan kesesuaian penggunaannya dalam berbagai
kondisi klinis. Ada dua klasifikasi dasar antara lain;
l. Formula enteral standar yang sesuai bagi pasien yang memiliki fungsi gastrointestinal
yang normal.
2. Formula enteral formulasi khusus bagi pasien kritis yang membutuhkan protein yang
banyak, mengalami perubahan fungsi gastrointestinal, atau memiliki kebutuhan nutrisi
yang spesifik terhadap penyakitnya.
+orm-la enteral standar
Formula enteral standar biasanya digunakan pada pasien dengan fungsi gastrointestinal yang
normal. Formula ini menyediakan nutrisi lengkap dan seimbang, dan diformulasikan sebagai
sumber makanan tunggal untuk jangka lama. Formula enteral standar memiliki keseimbangan
antara protein, karbohidrat ( 50 % dari kalori total ) dan lemak ( 30 % dari kalori total ), dan
kemungkinan dapat di fortifikasi serat maupun tidak. Komponen protein biasanya merupakan
protein intak ( utuh ), seperti kasein atau isolat protein soy. Keuntungan lainnya dari formula
enteral standar antara lain :
l. Profil zat gizi konsentrat yang sesuai bagi pasien yang memiliki kapasitas intake dan
kebutuhan kalori yang menurun seiring penyakit kronis atau penuaan.
2. Sedikitnya l00 % RDl untuk Vitamin dan mineral dalam l200 l500 ml volume total.
3. Rasio kalori nitrogen l35 : l digunakan untuk meningkatkan keseimbangan nitrogen
positif untuk pasien yang menerima pemberian makanan dengan tube jangka panjang.
4. Campuran asam lemak yang sesuai rekomendasi terbaru < l0 % dari kalori total dari
lemak tersaturasi dan l0 % dari kalori total dari lemak polyunsaturated, dan sisanya dari
lemak monounsaturated.
5. Campuran serat terlarut dan tidak larut yang sesuai dengan rekomendasi terbaru dari l0
l3 gr/ l000 kcal dan membantu mempertahankan keseimbangan mikroorganisme
usus besar.
6. Fortifikasi dengan zat-zat gizi (-carotene, carnitine, "ultra trace mineral") dilaporkan
mengalami penurunan jumlah pasien dengan pemberian makanan feeding tube jangka
panjang.
Beberapa pasien dapat diuntungkan dari formula enteral standar dengan konsentrasi protein
yang lebih tinggi ( 25 % dari kalori ) relatif terhadap kalori total ( seperti, rasio keseluruhan non
protein terhadap kalori yang lebih rendah). Pasien-pasien ini sering mengalami luka seperti
ulkus tekanan atau peningkatan kebutuhan protein terkait dengan penuaan. Meskipun
kebutuhan kalori total pasien-pasien ini kemungkinan tidak meningkat, kadar protein yang lebih
tinggi perlu diberikan bersama dengan mineral ultratrace, zat gizi esensial khusus, dan rasio
potassium terhadap nitrogen yang sesuai dapat membantu penyembuhan luka.
+orm-la 2ang diran1ang -nt-k pasien kritis ata- 2ang mengalami per-ba!an 0-ngsi
gastrointestinal.
Formula ini biasanya menyediakan sejumlah komponen protein dalam bentuk peptida rantai
pendek atau sedang karena lebih mudah diserap dibanding protein utuh (intak) atau asam
amino bebas. Sebagaimana halnya, sejumlah komponen lemak yang sering tersedia dalam
bentuk MCT tidak memerlukan lipase pankreas atau garam empedu untuk dapat diabsorpsi.
Formula yang difortifikasi dengan mineral ultra trace dan zat gizi esensial memiliki keuntungan
tambahan.

en%akit kritis dan stres metabolik.
Cedera berat dapat mnyebabkan perubahan buruk dalam metabolisme. Perubahan ini
bervariasi sesuai dengan jenis trauma, status kesehatan sebelumnya, dan perawatan medis.
Hipermetabolisme yang dimediasi oleh hormon dan percepatan katabolisme seringkali
ditemukan setelah terjadi trauma. Perubahan metabolik lainnya yang biasa diamati setelah
cedera berat atau selama penyakit kritis antara lain :
Peningkatan laju metabolik basal dan ekskresi nitrogen
Perubahan keseimbangan cairan & elektrolit
Sintesis protein pada fase akut
Respon inflamasi
lmunosupresi
Traktus gastrointestinal seingkali dipengaruhi oleh cedera. Aliran darah dapat berkurang karena
perdarahan dan menyebabkan kehilangan oksigen dan zat-zat gizi yang dapat merusak sel
mukosa. Adanya nutrisi intraluminnal dapat membantu melindungi saluran cerna. Zat gizi
spesifik seperti glutamin dan arginin dapat memberi keuntungan tambahan karena terlibat
dalam berbagai proses metabolik termasuk diantaranya sistem kekebalan. Zat gizi enteral yang
sangat penting selama kondisi kritis maupaun saat terjadi stres metabolik antara lain beberapa
jenis dan jumlah protein, lemak dan karbihidrat, juga glutamin, arginin, -caroten, taurin,
canitin, vitamin E dan zinc (seng).
ldealnya formula enteral yang digunakan untuk pasien kritis atau stres metabolik dapat
diberikan sejumlah komponen protein dalam bentuk hidrolisis di- atau tripeptida.
Syarat lainnya yang perlu diperhatikan ketika memilih formula pada pasien ini mencakup antara
lain:
Prosentase kilokalori total yang lebih rendah dari lemak, dengan bagian lemak disuplai
dalam benuk MCT
Fortifikasi dengan ultratrace mineral dan zat-zat gizi esensial.
Rasio potassium terhadap nitrogen yang sesuai.
*is4ungsi gastrointestinal.
Pasien-pasien dengan disfungsi gastrointestinal biasanya tidak dapat mendigesti dan
mengabsorpsi zat gizi intake, terutama protein dan lemak. Untuk alasan ini, formula enteral
yang digunakan paling sering pada disfungsi gastrointestinal oleh yang menyediakan protein
dalm bentuk peptida dan asam amino bebas, dan memberikan kilokalori total lemak yang
rendah, dengan trigliserida rantai sedang sebagai sumber lemak primernya.
Pertimbangan relevan lainnya saat memilih formula untuk pasien ini termasuk mamfaat
potensial sejumlah glutamin tambahan, yang merupakan substrat metabolik penting untuk sel-
sel mukosa usus, dan arginin untuk meningkatkan sintesis kolagen luka dan protein dan
memperbaiki fungsi kekebalan seluler.

+orm-la enteral -nt-k pen2akit tertent- (spesi0ik)
Formula untuk penyakit spesifik dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan metabolik
dari suatu kondisi kronik dan untuk mengkompensasi adanya disfungsi organ dengan
memberikan kombinasi makronutrien yang optimal, serta mikronutrien dan ultra trace mineral.
Formula untuk penyakit spesifik ini juga mengandung zat gizi seperti arginin, taurin, dan
glutamin yang penting pada berbagai status penyakit.
Kebanyakan formula untuk penyakit spesifik ini dapat digunakan dalam bentuk suplemen
nutrisional oral sebagaimana pemberian enteral lewat tube. Formula enteral untuk penyakit
spesifik ini tersedia untuk kondisi berikut :
Intoleransi glukosa.
Tujuan utama terapi nutrisi bagi pasien dengan gangguan metabolisme insulin adalah untuk
mencapai dan mempertahankan kadar glukosa serum senormal mungkin. Karena cairan
karbohidrat konsentrasi tinggi lebih cepat diserap dibanding cairan yang berisi lemak sebagai
karbohidrat, kontrol glikemik yang lebih baik dicapai pada pasien dengan intoleransi glukosa
dengan menggunakan formula yang rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Penelitian
menunjukkan bahwa beberapa pasien memiliki respon glikemik post prandial yang lebih rendah
pada saat diberi nutrisi rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Pasien-pasien ini termasuk
diantaranya pasien diabetes mellitus tipe l dan 2, begitu pula pasien hiperglikemia terkait
dengan kondisi medis lainnya (termasuk penyakit pankreas, stres, diabetes yang diinduksi oleh
zat kimiawi atau obat-obatan dan sindrom genetika tertentu).

ro4il lemak.
Kelainan sekresi atau metabolisme insulin juga menyebabkan dislipidemia pada pasien
diabetes. Kelainan lemak ini merupakan faktor resiko tingginya penyakit aterosklerotik vaskular
yang cepat pada pasien diabetik. Hal ini disarankan agar asam lemak tersaturasi menyuplai <
l0 % dari energi total dan asam lemak polyunsaturated memberi tidak lebih dari l0 %. Sisa
energi disediakan oleh asam lemak monounsaturated. lntake kolesterol harian sebaiknya < 300
mg. hal ini menunjukkan bahwa dengan menggantikan beberapa karbohidrat dengan sumber
lemak yang kaya akan asam lemak monosaturasi dapat memberi kontrol glikemik yang lebih
baik tanpa meningkatkan faktor resiko penyakit kardiovaskular.
Serat dan myoinositol. Zat gizi lainnya yang membantu penatalaksanaan intoleransi glukosa
antara lain serat dan myoinositol. Formula dengan tambahan serat dapat membantu menjaga
fungsi usus normal dan penting bagi pasien dengan perubahan peristaltik saluran cerna akibat
neuropati diabetik. lntake serat yang disarankan adalah l0 l3 gr / l000 kcal.
Myoinositol merupakan alkohol siklik dengan struktur kimiawi yang menyerupai glukosa.
Pertimbangan myoinositol sebagai zat gizi esensial meningkat karena myoinositol trifosfat
merupakan kurir kedua bagi stimuli hormonal yang dimediasi reseptor dalam mobilisasi kalsium
intraseluler. Myoinositol juga merupakan substrat biosintesis phosphatidyl inositol dan
polyphospoinositide yang merupakan komponen esensial biomembran. Defisiensi myoinositol
berdampak pada munculnya nefropati dan neuropati diabetik. Fungsi myoinositol dalam
konduksi saraf adalah dengan memodulasi enzim sodium-potassium ATP-ase. Karena glukosa
dan myoinositol memiliki struktur yang mirip, dua substansi ini berkompetisi memperebutkan
transport pembawa kedalam jaringan. Kompetisi ini berakibat munculnya deplesi myoinositol
selektif pada saraf perifer dan glomerulus ginjal. Selanjutnya, pasien dengan diabetes melitus
akan kehilangan myoinositol secara berlebihan melalui urine.

Kegagalan perna0asan ak-t.
Kegagalan pernafasan akut dapat terjadi akibat adanya cedera langsung pada parenkim paru,
seperti kontusio, inhalasi zat toksik, atau trauma dada ; dapat pula disebabkan oleh cedera
tidak langsung seperti sepsis, shock, atau multipel trauma pada bagian lain dari tubuh.
Kerusakan paru-paru memiliki mekanisme kompleks dan mengakibatkan pelepasan sejumlah
mediator jaringan dan inflamasi. Aktifasi respons inflamasi melalui pelepasan produk seperti
faktor nekrosis dan tumor (TNF o), interleukin-8 (lL-8), leukotrin B4 (BT B4), oksidan-oksidan,
lekosit, dan enzim yang meningkatkan permeabilitas vaskuler, agregasi platelet, dan
pembekuan intravaskuler.
Hal ini dapat menyebabkan buruknya perfusi vaskuler, edema alveolar, dan yang paling parah
kegagalan pernafasan. Pada saat yang sama perekrutan sel-sel inflamasi pada sirkulasi lokal
meningkat, yang lebih lanjut dapat menimbulkan resiko fungsional dan struktural terhadap
jaringan paru.

2egulasi kerusakan paru melalui asam.asam lemak.
Dalam model kerusakan paru akut yang berbeda, bukti menunjukkan bahwa diet berisi
eicosapentaenoil acid (EPA), asam linoleat gamma (GLA) dan antioksidan dapat mengurangi
permeabilitas mikrovaskuler paru-paru, infiltrasi neutrofil dan sintesis eucasanoid. Selanjutnya,
hemodinamika kardiovaskuler, pertukaran gas, dan fungsi makrofage alveolar membaik dengan
diet tipe ini.

$uplementasi antioksidan.
lnflamasi paru-paru dapat menghasilkan metabolik oksigen toksik termasuk anion superoksida,
hidrogen peroksida, radikal hidroksil, dan asam hipoklorat. Radikal-radikal oksigen toksik ini
dapat merusak sel-sel parenkim dan sel endotel, peroksidasi lemak inisiasi, dan meningkatkan
permeabilitas vaskuler. Cedera paru akibat radikal oksigen toksik normalnya dapat dicegah
dengan antioksidan endogen yang berada dalam epitel. Antioksidan-antioksidan ini antara lain
protein serum seruloplasmin dan tranferin, vitamin C, vitamin E, -caroten dan glutathion
terededuksi. Beberapa penelitian terakhir telah mendokumentasikan perubahan kadar
seruloplasmin dan transferin, vitamin E, dan glutathion pada cairan bilasan bronkoalveolar dan
serum yang berasal dari pasien dengan cedera paru-paru. Temuan dari penelitian ini
menunjukkan bahwa beban oksidan diproduksi dari inflamasi paru-paru pada cedera paru dan
dapat melampaui antioksidan endogen dan berperan lebih jauh terhadap cedera. Suplementasi
dengan antioksidan eksogen termasuk dengan vitamin E, vit.c, -caroten, taurin, selenium dan
molybenum dapat memperlambat cedera paru yang terjadi akibat adanya inflamasi pulmonal
dan kemudian terjadi pelepasan metabolit oksigen toksik. Fungsi taurin sebagai antioksidan
utama menjaga permeabilitas membran yang disebabkan oleh oksidasi dan kerusakan bronki
yang disebabkan oleh NO2.

,odi4ikasi rasio karbo(idrat / lipid. Beberapa pasien dengan kondisi serius dapat mengalami
retensi CO2. Pada kasus ini, disarankan untuk mengurangi kalori total dan rasio karbohidrat
terhadap lemak untuk menurunkan produksi CO2.
Air.
Karena pasien dengan gagal pernapasan akut & COPD seringkali memerlukan
retriksi/pembatasan cairan dan diuresis, formula enteral yang dapat membantu adalah tinggi
kalori dan kandungan air yang rendah. Untuk pasien dengan retriksi cairan, formula yang
memberikan sedikitnya l00% RDl vitamin dan mineral dalam volume total yang rendah (<l400
cc) amat berguna.

6os4or.
Pasien yang bergantung pada ventilator cenderung mengalami hipofosfotemia dan
menimbulkan reduksi terhadap transport oksigen. Karena penurunan 2,3- difosfogliserat dalam
sel darah merah, afinitas oksigen terhadap hemoglobin meningkat, menyebabkan hipoksia
jaringan. Selanjutnya, ATP jaringan , yang merupakan campuran fosfat mayor kaya energi
untuk fungsi sel, menurun. Karena hifofosfotemia dilaporkan dapat menyebabkan kegagalan
pernafasan, perlu dilakukan perawatan untuk memastikan intake l00% RDl fosfor, dengan
tambahan suplementasi fosfor sesuai kebutuhan.

engalaman klinik.
Suatu penelitian yang dilakukan multisentra, pada pasien dengan ARDS sekunder karena
sepsis, pneumonia, trauma, atau cedera aspirasi menunjukkan bahwa penggunaan formula
enteral dengan EPA, GLA dan antioksidan dapat mereduksi waktu ventilasi mekanik dan
munculnya kegagalan parenkim yang baru, sebagai tambahan terhadap perubahan lain yang
dapat memperbaiki fungsi pernapasan. Penggunaan jenis formula ini berhubungan dengan
influx protein paru yang rendah, dan hitung netrofil rendah, begitu pula kadar pada lL-8, TNF o
dan LT B4 dibanding pasien-pasien yang menerima formula konvensional. Temuan ini
menunjukkan bahwa formula yang diperkaya dengan minyak tertentu dan antioksidan menjadi
adjuvan yang bermanfaat dalam penatalaksanaan pasien-pasien dengan inflamasi paru.

en2akit par- obstr-ksi kronik (CO#).
Banyak pasien dengan COPD dan kegagalan pernapasan menimbulkan gejala malnutrisi
bermakna yang mengakibatkan gangguan pada otot-otot pernapasan. Banyak dari pasien ini
terkena oleh karena retensi CO2 dan oksigen darah tereduksi. Salah satu tujuan terapi nutrisi
ini adalah untuk mereduksi kadar CO2 dalam darah. Serat karbohidrat, protein dan lemak
dimetabolisir, CO2 dihasilkan dan O2 dikonsumsi. Respiratory Quetient (RQ) menunjukkan
rasio CO2 yang dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi selama proses tersebut. CO2 yang
lebih banyak dihasilkan oleh metabolisme karbohidrat dibanding protein atau metabolisme
lemak. RQ untuk karbohidrat l.0 , protein 0.8 dan lemak 0.7.
Diet dengan proporsi kalori lebih tinggi dari lemak dibanding kalori dari karbohidrat dapat
mengurangi produksi CO2 dan quotient pernapasan dapat menurunkan kebutuhan oksigen
jaringan. Fenomena ini tampaknya hanya bermakan klinis pada saat pemberian sejumlah besar
kalori. Jenis formula ini diindikasikan untuk pasien yang memerlukan sejumlah besar kalori,
untuk pasien yang mengalami hiperkapnia sehingga menimbulkan insufisiensi pernapasan, dan
pada pasien dengan insufisiensi pernapasan yang mengalami kesulitan lepas dari ventilator
sehubungan dengan hiperkapnianya.

en2akit ginjal.
Pasien-pasien dengan penyakit, ginjal memerlukan evaluasi cermat mengenai kebutuhan
nutrisinya yang dapat dimodifikasi tidak hanya sehubungan dengan perkembangan penyakit,
namun juga menjadi terapi. Pada pasien yang menjalani dialisis, hilangnya protein yang
disebabkan oleh metode ini juga perlu dipertimbangkan.
Pasien sebelum dialisis seringkali mengalami retriksi intake protein lebih besar dibanding
pasien yang menjalani dialisis kronis. Sejalan dengan terganggunya fungsi ginjal, perlu reduksi
dalam suplai fosfor, cairan, potassium dan sodium untuk membatasi akumulasi mineral-mineral
ini dan mencegah terjadinya hipertensi.

2asio kilokalori nonprotein ter(adap nitrogen.
Secara umum, pasien ginjal diuntungkan dengan formula padat kalori. Karena formula ini dapat
meminimalkan volume cairan, memberikan rasio kilokalori nonprotein terhadap nitrogen (NPK :
N) yang cukup untuk menyerap nitrogen secara optimal dan mencegah uremia. Pada pasien
sebelum dialisis biasanya dipertahankan pada protein rendah, diet padat kalori yang membatasi
elektrolit dan cairan. Untuk menggunakan nitrogen secara optimal pada pasien predialisis, rasio
NPK : N yang sering digunakan adalah > 350 : l. Diet protein dapat dikurangi hingga pada l,2
gr/ kg/ hari saat pasien mulai menjalani dialisis kronik. Meskipun intake protein ini biasanya
dapat ditoleransi dengan baik, hal ini masih penting bagi pasien dialisis kronis untuk menjaga
rasio NPK : N ( l50 : l ) untuk optimalnya penggunaan nitrogen.

9itamin dan mineral.
Vitamin dan mineral yang sering dibatasi pada pasien penyakit ginjal stadium akhir ESRD
antara lain fosfor, magnesium, vitamin A, dan vitamin D. Sehubungan dengan potensi
terjadinya oxalosis, vitamin C sebaiknya tidak berlebihan. Pasien ESRD mendapat keuntungan
dari peningkatan pemberian vitamin B6 dan asam folat.

#lektrolit
Kebutuhan elektrolit pada pasien ESRD dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor klinis, antara
lain penyakit ginjal penyerta, kondisi penyerta lainnya, jumlah fungsi ginjal residual, dan
pengobatan sebelumnya. Untuk alasan ini, pemilihan formula makanan yang memiliki
kandungan elektrolit rendah dapat memudahkan tiap individu mendapatkan suplementasi
seperlunya.

Karbo(idrat dan lemak.
ESRD seringkali merupakan suatu penyakit sekunder terhadap DM yang lama. Oleh karena itu,
penting untuk mengevaluasi komponen karbohidrat dan lemak dalam formula feeding tube atau
suplemen oral. Pasien Diabetik dengan ESRD mendapatkan keuntungan dari formula yang
mendistribusikan kilokalori non protein yang sama antara karbohidrat dan lemak. Untuk
menghindari peningkatan kadar lipid serum, campuran lemak harus sesuai dengan
rekomendasi sebelumnya.

en2akit .ati.
Malnutrisi sering terjadi diantara pasien dengan penyakir hati berat. Status gizi amat
berhubungan dengan perjalanan klinis, terutama terhadap mortalitas pembedahan pada pasien
transplantasi. Fakta terakhir ini membuat dukungan nutrisi yang adekuat menjadi penting pada
pasien-pasien ini. Berbagai mekanisme yang terlibat dalam malnutrisi, antara lain penurunan
ingesti karena anorexia, merasa cepat kenyang karena asites, retriksi sodium, diet asupan yang
tidak diresepkan secara adekuat, efek samping pengobatan, dan berbagai derajat malabsorbsi
dan hipermetabolisme. Bila formula enteral polimer standar dapat diberikan pada pasien
dengan gagal hepar, maka ada beberapa kondisi yang dapat membantu oleh pemberian
formula ini.

$indrom asitik edematosa.
Sindrom ini secara signifikan dapat membatasi suplai sodium dan air, terutama pada saat
sindrom tidak merespon balik terhadap pengobatan. Oleh karena itu penting pada kasus-kasus
ini untuk menggunakan formula dengan konsentrasi kalori yang tinggi ( >l,5 kcal/ml ) dan
kandungan sodium rendah.

#nse4alopati ortal.$istemik ($#).
Pasien dengan sirosis hati biasanya mengalami status hiperkatabolik dan memerlukan suplai
protein tinggi untuk mencapai keseimbangan nitrogen positif. Berbeda dengan perkiraan,
kebanyakan pasien dengan insufisiensi hepatik mentoleransi suplai diet protein tanpa
munculnya PSE, terutama bila proteinnya disertai jumlah kalori nonprotein yang cukup untuk
mencegah katabolisme protein. Namun, terdapat sekelompok kecil pasien dengan PSE yang
tidak berespon terhadap terapi khusus atau timbul PSE bila diet protein dinaikkan untuk meraih
keseimbangan nitrogen positif. Peningkatan rasio kalori nonprotein terhadap nitrogen dalam
rangka untuk mengurangi pembentukan amonia dan urea dapat memperbaiki PSE dengan
menjaga protein diet dibawah kadar rekomendasi. Dalam situasi ini, formula yang diperkaya
dengan asam amino rantai cabang dapat digunakan meskipun manfaatnya masih
diperdebatkan. Kebanyakan pasien dengan insufisiensi hepar mengalami malabsorpsi pada
derajat tertentu menunjukkan ketidakcukupan sekresi garam empedu, pertumbuhan bakteri
usus berlebihan, atau insufisiensi pankreas. Absorpsi lemak dapat membaik dengan
menggantikan sejumlah lemak dalam formula dengan asam lemak rantai sedang.

Intoleransi glukosa.
Pasien dengan penyakit hati biasanya mengalami intoleransi glukosa pada derajat tertentu yang
utamanya disebabkan oleh resistensi insulin perifer. Formula yang tepat dapat digunakan untuk
penyakit hati harus berisi kompleks karbohidrat dan serat tambahan untuk membantu regulasi
gula darah.

9itamin dan tra'e elements.
Defisiensi vitamin disebabkan oleh berbagai mekanisme dan seringkali terjadi sehingga
penyediaan vitamin dan mineral yang adekuat merupakan salah satu faktor dalam terapi nutrisi
untuk penyakit hepar. Pasien dengan kolestasis lama biasanya mengalami malabsorpsi vitamin
larut lemak. Perlu dicatat bahwa pasien alkoholik dapat muncul defisiensi thiamin akut dengan
akibat gangguan neurologis yang ireversibel, terutama pada saat infus glukosa atau pemberian
makanan ulangan.
Defisiensi zink/ seng juga sering terjadi dan penggantian dapat menjadi kunci perbaikan klinis
pasien. Kolestasis menurunkan ekskresi tembaga dan disarankan agar memberi diet dengan
membatasi tembaga.

$erat.
Serat dalam formula dapat membantu untuk mengurangi absorpsi amonia dalam colon dan
mengurangi frekuensi konstipasi atau diare.

.I' : %I#S.
Pasien dengan HlV/ AlDS memiliki kebutuhan gizi spesifik sehubungan dengan proses
penyakit dan terganggunya status gizi pada gangguan imun. Pasien-pasien ini beresiko tinggi
untuk munculnya malnutrisi kalori protein (PCM) dan berbagai defisiensi zat gizi spesifik seperti
Vitamin E, vitamin C, asam folat, vitamin B6, vitamin Bl2, zat besi, zink dan selenium.

,alnutrisi Kalori rotein (C,)
PCM sering terjadi pada pasien HlV / AlDS dan merupakan tipe malnutrisi terkait sindrom
wasting yang sering terlihat pada populasi pasien ini. PCM berhubungan dengan :
0erkurangnya ukuran thymus
Hilangnya aktifitas sel NK
Hilangnya sel T helper CD4+
Berubahnya migrasi limfosit mukosa usus
Hilangnya aktifitas sistem komplemen.
Kebutuhan protein meningkat saat intake kalori terbatas seperti pada anorexia, rasa cepat
kenyang, auatu kesulitan mengunyah atau menelan. Pasien dengan HlV/ AlDS dapat dibantu
dengan formula enteral dengan banyak protein dan rasio NPK: N yang lebih rendah dari produk
enteral tinggi protein standar yang biasa tersedia.

Asam lemak N.).
Asam o linolenat dan turunan rantai panjangnya, asam docosahexanoat (DHA) dan asam
eicosapentanoat (EPA) merupakan asam-asam lemak N-3. Meningkatnya kejadian
menunjukkan bahwa asam lemak penting ini dan memiliki metabolisme yang berbeda.
Meskipun EPA secara struktural mirip dengan asam arakhidonat n-6, EPA membentuk
serangkaian 3 prostaglandin (tromboxan A3) dan 2 leukotrin, sementara asam arakhidonat
membentuk 2 seri prostaglandin (tromboxan A2) dan 4 seri lekotrin. Prostaglandin dan lekotrin
yang dihasilkan oleh asam lemak n-3 menimbulkan status anti agrgasi platelet dan netrofil yang
lebih bersifat vasodilator dibanding yang dihasilkan oleh asam lemak n-6. Diet tambahan
dengan asam lemak n-3 terkait dengan penurunan produksi prostaglandin seri 2 yang bersifat
imunosupresif dan memperbaiki respons imun yang dimediasi oleh sel. Untuk alasan ini,
formula yang berisi asam lemak n-3 dibanding n-6 bermanfaat bagi pasien dengan gangguan
sistem imun atau terhadap pasien yang mengalami respon inflamasi sistemik terhadap cedera
atau infeksi.(lihat BAB 4 untuk ulasan lengkap tentang asam lemak n-3 dan n-6).

Trigliserida rantai medium (,CT)
MCT memberikan ketersediaan sumber energi tanpa efek imunosupresif dari trigliserida n-6
rantai panjang.
MCT dapat dengan mudah diabsorpsi tanpa lipase pankreas atau garam empedu dan seringkali
digunakan untuk pasien dengan malabsorpsi dan maldigesti. MCT dapat berperan dalam
berperan dalam perbaikan pengosongan lambung dan absorpsi usus. Zat ini dapat dihidrolisis
sempurna pada mukosa usus dan lebih cepat dioksidasi dibanding asam lemak rantai panjang
oleh berbagai jaringan termasuk oleh hati, usus halus dan otot rangka.

$erat
Diet serat berguna dalam meregulasi fungsi usus terutama pada pasien-pasien diare. Pasien
dengan berak encer, jarang buang air, membentuk feses yang lebih baik dan waktu transit yang
lebih lama bila diet serat ditambahkan dalam makanan.

9itamin dan mineral
HlV/ AlDS terkait dengan defisiensi vitamin E, Vitamin C, asam folat, Vitamin B6 dan vitamin
Bl2, juga mineral besi, zink, dan selenium. Para dokter harus memastikan agar pasien HlV/
AlDS menerima formula enteral yang ditambahkan dengan zat gizi ini. Pemberian makanan
terhadap pasien-pasien ini juga termasuk ultratrace mineral, dan zat gizi esensial lainnya.

Lipodistro4i %ang terkait AI*$.
Patogenesis lipodistrofi yang terkait AlDS masih belum jelas. Digambarkan dengan adanya
anomali lemak serum dan redistribusi lemak tubuh. Lemak tubuh yang terdistribusi ini terdiri
atas akumulasi lemak dibagian bawah dan disamping perut, penurunan massa otot ekstremitas
atas dan bawah, pertumbuhan payudara pada wanita dan akumulasi lemak pada punggung
bawah. Kelainan lipid digambarkan dengan peninggian trigliserida, kolesterol total, VLDL dan
LDL juga peningkatan HDL. Sebagai tambahan , pasien mengalami perubahan glukosa darah,
resistensi terhadap insulin, dan peningkatan peptida C.
Lipodistrofi ini juga disebut lipodistrofi Crix Bell karena banyak pasien dengan kelainan ini
menjalani pengobatan dengan MSD Crixivan. Bagaimanapun sekitar 78 % pasien yang
mengalami gejala ini telah diobati sedikitnya satu inhibitor protease virus. Secara umum
gejalanya sangat mirip dengan sindrom cushing.
Pasien perlu disarankan agar berhenti merokok, mengurangi konsumsi lemak tersaturasi dan
olahraga teratur. Penting untuk menambah diet dengan asam lemak n-3 dan antioksidan untuk
mengurangi trigliserida dan mencegah oksidasi yang dimediasi penyakit arterial. Saran untuk
pengobatan rendah lemak bergantung penilaian medis dan perlu diberikan secara hati-hati
untuk mencegah ketidaksesuaian dengan obat lain.

ertimbangan. pertimbangan untuk e3aluasi 4ormula enteral k(usus. Saat memutuskan
untuk menggunakan tipe formula tertentu, perlu dipertimbangkan hal-hal dibawah ini :
Profil zat gizi perlu disesuaikan dengan anomali metabolik yang ada dengan kebutuhan
nutrisi khusus untuk situasi klinis tertentu.
Keputusan perlu didasarkan pada penelitian terkontrol, acak, dan perpektif (bukan studi
kasus).
lnformasi yang diperoleh dari model hewan hanya dapat digunakan secara terbatas
pada manusia.
Aplikasi klinis berdasarkan penelitian pada produk tertentu belum tentu baik untuk
produk lainnya.
lnformasi yang didapatkan pada penggunaan produk pada penyakit tertentu tidak dapat
disamakan dengan populasi lainnya (seperti hasil yang didapatkan dengan formula
tertentu yang diberikan terhadap pasien luka bakar tidak perlu diberikan pada pasien
trauma).
Saat mengevaluasi formula yang diberikan, diperlukan pengguanaan kriteria yang teliti
dalam penilaiannya.
$istem terbuka dan tertutup
Pemberian nutrisi enteral dapat dilakukan melalui sistem terbuka maupun tertutup. Sistem
terbuka menggunakan kantung tempat formula. Hal ini memudahkan manipulasi kandungan zat
gizi bila diperlukan. Sistem tertutup merupakan sebuah unit tersegel yang berisi formula enteral
yang tidak dapat ditambah lagi.
Keduanya memiliki keuntungan dan kerugian. Sistem terbuka lebih mudah terkontaminasi,
karena membutuhkan banyak penanganan dan formula harus dipersiapkan dalam jumlah kecil
untuk mencegah tergantung dalam waktu lama. Sehingga sistem terbuka memerlukan
pengawasan lebih ketat. Sistem tertutup tersegel pada saat proses pengepakan. Dan hal ini
untuk menjaga mutunya. Sistem ini dapat memengurangi kemungkinan manipulasi dan
kontaminasi, juga mengurangi penanganan dan sampah karena mudah digunakan. Namun,
sistem tertutup perlu penanganan secara hati-hati dan perlu mengikuti instruksi untuk
mencegah kontaminasi saat membuka kontainer. Begitu sistem dihubungkan, durasi pemberian
makanan antara 24 48 jam, tergantung mereknya. Setelah melewati waktunya, kontainer/
kantong tersebut harus dibuang.
Keputusan penggunaan sistem yang mana bergantung pada evaluasi oleh institusi atau rumah
sakit, sumber dana yang tersedia, kuantitas dan tipe formula, ketersediaan waktu dan staf ahli
gizi dan perawat terlatih.

K&SI)(L%N
Pemberian nutrisi enteral merupakan bentuk terapi nutrisi yang memuaskan dan bagian penting
bagi penatalaksanaan medis. Pemilihan formula penting untuk meningkatkan keuntungan nutrisi
dan toleransi terhadap makanan. Untuk memilih formula yang tepat, para dokter harus
memperhatikan kondisi klinis pasien termasuk diantaranya status penyakit yang ada
sebelumnya, kebutuhan metabolik, kapasitas pencernaan dan absorpsi dan lokasi dan
diameter feeding tube.
Formula enteral standar direkomendasikan pada pasien dengan fungsi gstrointestinal normal
yang tidak membutuhkan zat gizi tertentu. Untuk pasien dengan perubahan kebutuhan zat gizi
makro dan mikro akibat penyakit akut atau kronis, perlu pemilihan formula khusus. Formula ini
tersedia dalam bentuk kadar protein yang tinggi, berbagai derajat hidrolisis zat gizi makro atau
sejumlah zat gizi esensial yang diketahui menguntungkan terhadap kondisi klinis tertentu.
Kemajuan dalam formula enteral membantu keberhasilan pemberian makanan enteral dalam
berbagai kondisi klinis yang sebelumnya tidak dapat ditoleransi atau tidak memungkinkan,
terutama pada saat kritis.
R&+&R&NSI
Program manual Total Nutritional Therapy - TNT. Chapter l4
&eseimbangan Cairan, ($e!r#$i! "an Asam )asa
enda!-l-an
Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-
selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan
dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa.
Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup,
berkembang dan menjalankan tugasnya.
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di
sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut
homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan
keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume
cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini
dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan
dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.
Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur
keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut
berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion
hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh.
Komposisi Cairan *-b-!
Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang
60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu,
sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh
meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar
dibandingkan orang dewasa dan lansia.
Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh
berada di dalam sel (cairan intrasel/ClS) dan l/3 bagian berada di luar sel (cairan
ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES
atau l5% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari
total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh
cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi,
cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. lon Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan
ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial
karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma.
Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang
memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial,
sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan
normal, terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Bila terjadi
perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi perpindahan
cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali.
erpinda!an S-bstansi %ntar Kompartmen
Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Setiap zat
yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Bila substansi zat
tersebut dapat melalui membran, maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut.
Jika tidak dapat menembusnya, maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi
tersebut. Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat
melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya.
Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. Transport aktif
membutuhkan energi, sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi.
#i0-si
Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung
menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga
konsentrasi substansi partikel tersebut merata. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick's
law of diffusion). Faktor-faktor tersebut adalah:
l. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi.
2. Peningkatan permeabilitas.
3. Peningkatan luas permukaan difusi.
4. Berat molekul substansi.
5. Jarak yang ditempuh untuk difusi.
Osmosis
Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah
dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Hal ini karena
tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. Jadi bila konsentrasi zat
yang terlarut meningkatkan, konsentrasi air akan menurun.Bila suatu larutan dipisahkan oleh
suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda
konsentrasi zat terlarut, maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan
konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis.
+iltrasi
Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh
membran. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan
rendah. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan, luas
permukaan membran dan permeabilitas membran. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini
disebut tekanan hidrostatik.
*ransport akti0
Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari
daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan
seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa
Na-K.
Keseimbangan Cairan dan &lektrolit
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu volume
cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini
dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk
mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.
1. engaturan 3olume 'airan ekstrasel.
Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan
menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma.
Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang.
Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Untuk
mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada
keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. hal ini terjadi
karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan
lingkungan luarnya. Water turnover dibagi dalam: l. eksternal fluid exchange,
pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan 2. lnternal fluid exchange,
pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di
kapiler ginjal.
Memeperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya keseimbangan air,
keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan
keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan
jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi,
seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari
kebutuhan. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk
mempertahankan keseimbangan garam.
Ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara:
l. Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR).
2. Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal
Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan
darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di
tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan
volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri.Selain sistem Renin-
Angiotensin-Aldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan
reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi
peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal
meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal.
!. engaturan -smolaritas 'airan ekstrasel.
Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan.
semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi
solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi
(konsentrasi air lebih rendah).
Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus
membran plasma di intrasel dan ekstrasel. lon natrium menrupakan solut yang banyak
ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan
aktivitas osmotik cairan ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium bertanggung
jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang tidak merata dari ion
natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam
menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini.

Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:
Perubahan osmolaritas di nefron
Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas yang pada
akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan
di dukstus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300
mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air, sehingga
di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini
menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik.
Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif
memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air.
Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik.
Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada
tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di
keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH).
Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH).
Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di
hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis
vasopresin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan
berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di
duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks
duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke
vasa recta. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan
hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan.
selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas
cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk
perilaku untuk membatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali normal.
engaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan #lektrolit
Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan
oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan
keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus,
osmoreseptor di hypotalamus, dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan
dalam sistem endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan
cairan adalah Angiotensin ll, Aldosteron, dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan
reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh, maka
hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air.
perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan.Faktor lain
yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur, suhu
lingkungan, diet, stres, dan penyakit.
Keseimbangan %sam54asa
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan
tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4; pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH
<7,35>7,45 dikatakan alkalosis. lon H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh.
lon H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
l. Pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan
bikarbonat.
2. Katabolisme zat organik
3. Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme
lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi
melepaskan ion H.
Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain:
l. Perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf
pusat, sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas.
2. Mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh
3. Mempengaruhi konsentrasi ion K
bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti
nilai semula dengan cara:
l. Mengaktifkan sistem dapar kimia
2. Mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan
3. Mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan
Ada 4 sistem dapar:
l. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk
perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat
2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel
3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam
karbonat
4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.
sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jika dengan
dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan
dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam
darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian
mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal
mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan
menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia.
Ketidakseimbangan %sam54asa
Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu:
l. Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukkan
H2CO3 meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H.
2. Alkalosis metabolik, disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat
hiperventilasi. Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukkan ion H menurun.
3. Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru, diare
akut, diabetes melitus, olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal
ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas
meningkat.
4. Alkalosis metabolik., terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam
non-karbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi karena
kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Hilangnyaion H
akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat, sehingga
kadar bikarbonat plasma meningkat.
Untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsi pernapasan dan
ginjal sangat penting.
Kesimp-lan
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting, yaitu: volume
cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan
mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi
asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam
mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion
bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam
keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2
dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.
R&+&R&NSI
l. Sherwood, Lauralee. (2004). Human Physiology: From cells to system. 5th ed.
California: Brooks/Cole-Thomson Learning, lnc.
2. Silverthorn, D.U. (2004). Human Physiology: An lntegrated approach. 3th ed. San
Fransisco: Pearson Education.
Nu!risi +aren!era$
enda!-l-an
Nutrisi parenteral tidak menggantikan fungsi alamiah usus, karena itu hanya merupakan
jalan pintas sementara sampai usus berfungsi normal kembali.
Nutrisi parenteral di indikasikan sebagai " jalur subtistusi " bagi penderita dengan
saluran digestif yang tidak dapat dapat menerima dan mencerna makanan . Sedang "
jalur suplemen " di indikasikan bagi kasus luka bakar yang luas, contusio cerebri, trauma
ganda, dan sepsis dimana peningkatan kebutuhan enersi dan nutrisi sangat tinggi
dimana usus tidak dapat menampung volume makanan yang sangat dibutuhkan untuk
mengatasi katabolisme.
ertimbangan (m-m emberian N-trisi
Bantuan nutrisi parenteral bisa diberikan secara sentral parenteral nutrisi atau secara
perifer parentral nutrisi . Pemilihan antara Total Parenteral Nutrisi ( TPN) dan Perifer
parenteral Nutrisi (PPN) sangat tergantung pada resiko pemasangan sentral kateter,
lama pemberian sampai pada ditoleransi pemberian secara oral atau enteral serta
tergantung pada osmolaritas cairan nutrisi parenteral yang akan diberikan.
Pemberian bantuan nutrisi perifer hanya dapat mentolerir osmolaritas cairan nutrisi <
900 m osmol/L. Akan tetapi bisa saja walaupun jalur enteral su- dah tersedia , tetapi
terdapat kontraindikasi relatif untuk memberikan nutrisi enteral, terutama pada fase-fae
awal postpertif, maka untuk pasien ini parenteral nutrisi umumnya digunakan sebagai
bantuan nutrisi awal. Perinsipnya adalah : "Start Slow, Go Slow" dengan tujuan akhir
adalah pemberian secara enteral.
Keb-t-!an Cairan
Penderita dewasa pada umumnya sekitar 30-50ml / KgBB / hari.
Setiap kenaikan suhu l kebutuhan cairan bertambah l0 20 % dari kebutuhan harian.
Penderita dengan oligouria cairan yang diperlukan adalah lnsesible Water Lose (lWL)
ditambah produksi urine perhari. (lWL = l5 cc x Berat Badan)
Keb-t-!an &nergi
Energi expanditure harus dihitung agar keseimbangan nitrogen yang lebih baik dapat dicapai
dan dipertahankan. Metode yang digunakan untuk menghitung kebutuhan energi ada dua cara
yaitu:
-= Rumus 2arris%(enedict
Harris-Benedict mengkalkulasikan kebutuhan energy seseorang dalam keadaan istirahat,
nonstres, setelah puasa overnigt. Pada keadaan metabolic-stress, maka harus dikalikan stress
faktor.
R-m-s .arris ; 4enedi1t.
Pria : BEE = 66,47 + (l3,75 x BB) +(5.0 x TB (6,76 x U)
Wanita : BEE = 655,l + (9,56 x BB) +(l,85 x TB (4,68 x U)
BEE = K cal/ hari BB: kg TB: cm U: Tahun
Koreksi kebutuhan energi (kkal/hari) : 0asal #nerg% #&penditure (0##) & 6a'tor stress
6aktor stress
Koreksi kebutuhan energi dihitung sesuai tingkat hipermetabolisme :
Post operasi (tanpa komplikasi) l,0 l,l0
Fraktur tulang panjang l,l5 l,30
Kanker l,l0 l,30
Peritonitis/sepsis l,l0 l,30
lnfeksi serius/ multiple trauma l,20 l,40
Sindrom kegagalan organ multiple l,20 l,40
Luka bakar l,20 2,00
Trauma Kapitis l,6
2= Rule o7 1!um4
Dalam menghitung kebutuhan awal kalori, Sejumlah ahli menggunakan perumusan sederhana
Rule of $humb yaitu 25 30 kkal/kg/hari. Cara ini mudah digunakan tetapi tidak mengikuti
faktor usia, jenis kelamin atau komposisi tubuh sehingga kesalahan juga bisa terjadi.
#= Indirect%calorimetry dengan e&*ired gas analysis=
Walaupun memberi hasil yang lebih akurat tetapi oleh karena membutuhkan pemeriksaan
laboratorium, teknologi dan mahal maka jarang digunakan untuk perhitungan sehari-hari.
S-mber Kalori
Karbohidrat (50 70%)
Lemak (30 50%)
Karbo!idrat Sebagai S-mber &nergi
Asupan karbohidrat di dalam diet pada pasien kritis sebaiknya berkisar 45% - 60% dari
kebutuhan kalori
Setiap gram karbohidrat menghasilkan kurang lebih 4 kalori.
Beberapa jenis karbohidrat yang lazim menjadi sumber energi dengan perbedaan jalur
metabolismenya adalah : glukosa, fruktosa, sorbitokl, maltose, xylitol.
Dosis aman dari masing-masing karbohidrat:
Glikosa ( Dektrose ) : 6 gram / KgBB /Hari.
Fruktosa / Sarbitol : 3 gram / Kg BB/hari.
Xylitol / maltose : l,5 gram / KgBB /hari.
Campuran GFX ( Glukosa, Fruktosa Xylitol ) yang ideal secara metabolik adalah dengan
perban-dingan GFX = 4:2:l.
&m-lsi Lemak Intra,ena
Lemak dapat diberikan dalam bentuk nutrisi enteral ataupun parenteral sebagai emulsi
lemak.
l gram lemak menghasilkan 9 kalori, Pada pasien kritis sebaiknnya sekitar 20 35 %
dari kalori bersumber dari lemak.
Pemberian lemak intravena selain sebagai sumber asam lemak esensial (terutama
asam linoleat) juga sebagai subtrat sumber energi pendamping karbohidrat terutama
pada kasus stress berat
Bila lemak tidak diberikan dalam program nutrisi parenteral total bersama subtrat lainnya
maka defisiensi asam lemak rantai panjang akan terjadi kira-kira pada hari ketujuh
dengan gejala klinik bertahan sekitar empat minggu. Untuk mencegah keadaan ini
diberikan 500 ml emulsi lemak l0 ml paling edikit 2 kali seminggu.
Asam lema, esensial berperan dalam fungsi platelet9 penyembuhan lu,a9 sintesa
prostaglandin dan immunocompetence4 Oleh karena ada keuntungan bila diberikan
bersama-sama dengan glukosa sebagai sumber energi dianjurkan :; 3; < dari total
,alori diberi,an dari lema,=
Ada bukti infus lemak merata 24 jam lebih baik dan lebih dipilih dibanding pemberian
intermitten.
Direkomendasikan untuk tidak memberikan > 60% kalori total diambil dari subtrat lemak.
Sebagai pegangan jangan beri,an porsi lema, = 2 gr 1 ,g ## 1hari4
Sebaiknya lakukan pemeri,saan ,adar triglised plasma sebelum pemberian emulsi
lemak intravena sebagai data dasar.
Preparat emulsi lemak yang beredar ada dua jenis, konsetrasi l0% ( l k cal /ml ) dan 20
% ( 2 k cal/ ml ) dengan osmolalityas 2>; :3; m Osmol 1* sehingga dapat diberi,an
melalui perifer4
6ontra indi,asi absolut infus emulsi lemak adalah trigliserit ?;; mr1l 96olesterol 3;; mg1l
4 ,ontraindi,asi relatif - $rigeliderit :;; ?;; mg1l9 6olesterol :;; 3;; mg1l9
ganggguan berat faal ginjal dan hepar
Keuntungan Lemak sebagai sumber kalori :
Cepat Terhidrolisa
Cepat Dieliminasi Dari Darah
Mudah Diambil Oleh Jaringan
Mudah Dioksidasi
Lebih Mudah Menyebabkan Keseimbangan Nitrogen
Keuntungan lmunologis
Keb-t-!an rotein
Kebutuhan protein pada pasien sakit kritis sangat diperlukan mengingat bahwa
pemecahan protein cukup tinggi. Namun pemberian protein tidak mungkin akan bisa
menekan pemecahan protein, walaupun diberikan sangat berlebihan. Bahkan akan
merugikan dengan timbulnya azotemia.
Secara umum kebutuhan protein pada penderita sakit kritis -+, > #+, gr' Kg ((' !ari
yang terdiri dari asam amino esensial dan sedikitnya mengandung 45 % asam amino
rantai cabang (BCAA). Tanpa BCAA pemberian 2,l gram protein/ kg BB/ hari dan kalori
45 kcal/ kg BB/ hari masih belum adekuat, terbukti dengan masih adanya pelepasan
asam amino ke perifer terus menerus.
Guidelines 4or rotein Intake in Adults
Clini'al Condition 2ekommended Intake (g/kg/da%)
Healty adult, normal organ
fungtion
O,8
Post operative l,0 l,5
Sepsis l,2 l,5
Multiple trauma l,3 l,7
Major burn l,8 2,5
$he ASP7@ nutrition support practice manual4 Sil!er Spring M.9 ABBC4 American Society for
Parenteral and 7nteral @utrition
Retensi nitrogen sebanding secara proporsional dengan pemberian BCAA, sehingga memper-
baiki keseimbangan nitrogen. Pemberian BCAA l,0 l,5 gram/ KgBB/hari sudah memperbai,i
,eseimbangan nitrogen9 menai,,an jumlah limfosit9 memulih,an energi9 menstimulasi
,emota,sis9 mening,at,an ,adar transferin9 menurun,an e,s,resi : metil histidin4 *ebih lanjut
mengurangi ,ebutuhan o,sigen dan produ,si la,tat dan memperbai,i resistensi perifer .
Rasio Kalori Nitrogen
Atas dasar pertimbangan adanya intoleransi glukosa, resistensi insulin, dan peningkatan
penggunaan protein sebagai sumber energi pada pasien sakit kritis yang berada dalam
keadaan hipermetabolik, maka rasio kalori nitrogen suatu nutrisi harus disesuaikan .
Rasio 09. 3 0itrogen pada pasien kritis adalah ?$ > -2$ 3 -
l gr nitrogen setara dengan 6,25 gr protein
Pemberian glukosa harus dikurangi l0 l5 % ditambah insulin eksogen. Bila fungsi hati
dan ginjal masih baik maka protein diberikan 2,5 3,5 gram/ kg BB/ hari. Kombinasi ini
akan menghasilkan rasio kalori nitrogen berkisar 80 l00 kcal/ gr N. standar nutrisi
untuk pasien yang tidak mengalami hiperkatabolisme biasanya l50 200 kcal/ gr N
)ikron-trien
Pasien sakit kritis membutuhkan vitamin A, E, K, Bl (tiamin), B3 (niasin), B6 (piridoksin),
vitamin C, asam pantotenat dan asam folat yang lebih banyak dibandingkan kebutuhan
normal sehari-harinya.
Khusus tiamin, asam folat dan vitamin K mudah terjadi defisiensi pada TPN.
Dialisis ginjal bisa menyebabkan kehilangan vitamin yang larut dalam air.
Defisiensi besi, selenium, zinc, mangan dan copper sering terjadi pada pasien sakit
kritis.
Pemberian didasarkan kebutuhan setiap hari :
- Calcium : 0,2 0,3 meq / kg BB/ hari
- Magnesium : 0,35 0,45 meq / kg BB/ hari
- Fosfat : 30 40 mmol/ hari
- Zink : 3 l0 mg/ hari
Imm-non-trient
Perkembangan terbaru dalam tunjangan nutrisi diperkenalkannya immunonutrient .
Tiga grup nutrient utama yang termasuk dalam immunonutrient adalah:
Amino acids (arginine, glutamin, glycin )
Fatty acid.
Nucleotide.
Nutrient nutrient tersebut diatas adalah ingredients yang memegang peran penting dalam
proses "wound healing" peningkatan sistem immune dan mencegah proses inflamasi
kesemuanya essenstial untuk proses penyembuhan yang pada pasien-pasien critical ill sangat
menurun.
Regimen< engat-ran< dan R-matan N-trisi arental
Pada hari-hari pertama pemberian nutrisi parental, volume, dan konsentrasi larutan nutrisi
ditingkatkan secara bertahap (gradual), bergantung pada toleransi tubuh terhadap volume
cairan dan konsentrasi glukose yang masuk.
%. #engan Lar-tan #e/trose Saja
"A2I
K#
$1,0#2
$10$T2AT
:1,LA"
ml/ !+ ;am
N-N 2-T#IN
KAL-2I
(k.'al/ !+ ;am)
A$A,
A,IN-
(gr/ !+ ;am)
,-sm/ L
l RlNGER D 5%
DEXTROSE 5%
l000
l500
200
300
-
-
588
278
T-TAL !=FF =FF .
ll&lll RlNGER D 5%
DEXTROSE l0%
l000
l500
200
600
-
-
588
550
T-TAL !=FF ?FF
Vl RlNGER D 5% l000 200 - 588
Dst. DEXTROSE 20% l000 800
-
ll00
T-TAL !FFF 1FFF .
@#: @smolaritas ( 570 D 1100 ) = 740 m@>m ,masi" daat di!erikan le2at 'ena eri.er *ika diteteskan !ersama .
(e&trose 20< daat di#amur den%an Re%uler insulin 20 unit/ 500 ##

4. #engan Lar-tan #e/tose #an %sam %mino Le=at eri0er.
"A2I
K#
$1,0#2
$10$T2AT
:1,LA"
ml/ !+ ;am
N-N 2-T#IN
KAL-2I
(k.'al/ !+ ;am)
A$A,
A,IN-
(gr/ !+ ;am)
,-sm/ L
l RlNGER D 5%
DEXTROSE 5%
l000
l500
200
300
-
-
588
550
T-TAL !=FF =FF .
ll&lll ASAM AMlNO 2,5% + KH l0 %
DEXTROSE l0%
l000
l500
300
600
25
-
772
550
T-TAL !=FF EFF !=
lVDst.
Nya
ASAM AMlNO 2,5% + KH l0 %
DEXTROSE 20%
l000
l000
300
800
25
-
772
ll00
T-TAL !FFF 11FF != E+F
@#: semua sum!er su!strat menetes !ersama 24 *am, melalui 'ena eri.er
C. #engan Lar-tan #e/tose < %sam %mino Le=at 'ena Sentral.
"A2I
K#
$1,0#2
$10$T2AT
:1,LA"
ml/ !+ ;am
N-N 2-T#IN
KAL-2I
(k.'al/ !+ ;am)
A$A,
A,IN-
(gr/ !+ ;am)
,-sm/ L
l
RlNGER D5%
DEXTROSE 5%
l000
l500
200
300
-
588
550
T-TAL !=FF =FF .
ll&lll
ASAM AMlNO 5% + KH l0%
DEXTROSE l0%
l000
l500
400
600
50
-
l330
ll00
T-TAL !=FF 1FFF =F 1!1=
lV
Dst.
ASAM AMlNO 5% + KH l0%
DEXTOSE 20%
l000
l000
400
800
50
-
l330
ll00
T-TAL !FFF 1!FF =F 1!1=
NB: (e&trose 20< daat di%anti den%an 4R/)C@>8-0+/)@>8-EF+=C@+ (Crio.usin) $an% le!i" *aran% "ier%likemia dan tidak erlu
tam!a"an insulin.
#. Lar-tan Karbo!idrat ( +g/ )< %sam %mino 6 Lemak. (=ni adala" sistem CPN terlen%ka tetai *u%a terma"al )
"A2I
K#
$1,0#2
$10$T2AT
:1,LA"
ml/ !+
;am
N-N
2-T#IN
KAL-2I
(k.'al/ !+
;am)
A$A,
A,IN-
(gr/ !+
;am)
,osm/ L
l GLUKOSE l0%
ASAM AMlNO 2.7%
l500
l000
600
200
-
27
555
600
T-TAL !=FF ?FF !> >1/
ll GLUKOSE 20%
LlPlD l0%
ASAM AMlNO l0%
l000
500
500
800
500
-
-
-
50
lll0
300
900
T-TAL !FFF 1)FF =F ?==
lll GFX 42l
LlPlD l0%
ASAM AMlNO l0%
l000
500
l000
l667
500
-
-
-
l00
2l00
300
900
T-TAL !=FF 1//> 1FF 1=FF
lV
Dst.
Nya
GFX 42l
LlPlD 20%
ASAM AMlNO l0%
l000
500
l500
ll67
l000
-
-
-
l50
2l00
350
900
T-TAL )FFF !1/> 1=F 1)?F
emanta-an enderita
Kemajuan dan kemunduran keadaan umum penderita dipantau setiap harinya, termasuk
keseimbangan cairan dan elektrolitnya (bila fasilitas ada). Pemeriksaan laboratorium yang
diperlukan adalah :
l. Darah
a. Darah rutin: pemeriksaan hemaglobin, hemetokrik, leukosit, mula-mula dua kali seminggu
selanjutnya sekali seminggu.
b. Gula darah : setiap hari selama seminggu, kemudian dua kali seminggu.
c. Protein dan albumin : mula-mula dua kali seminggu, kemudian sekali seminggu.
2. Urine
Volume urine diukur setiap hari.
en2-lit *-njangan N-trisi.
Secara garis besar penyulit tunjangan nutrisi dapat kita kelompokkan kedalam penyulit
metabolik, infeksi, tromboflebitis, penyulit mekanik dan penyulit gastrointestinal.
l. en%ulit metabolik.Gangguan metabolisme disebabkan karena masuknya subtrat
(karbohidrat, protein) secara langsung kedalam vena siatemik yang dalam keadaan
normal lewat usus, subtrat ini ini melewati vena porta lebih dahulu, masuk kehepar dan
baru masuk ke sirkulasi sistemik. Penyulit metabolik bahkan dapat menjadi serius
apabila beban substrat melampaui kemampuan "metabolik patway" tubuh. Glukosa
didalam sirkulasi sistemik membutuhkan insulin untuk mencapai sel, sehingga
pemberian glukosa intravena akan meningkat kadar gula darah disamping merangsang
sekresi insulin lebih banyak. Kelebihan beban glukosa menyebabkan hiperglikemi dan
hiperosmolaritas serum. Kedua hal ini dapat menyebabkan kekacauan metabolisme
yang biasa kita lihat pada koma hiperglikemia atau koma hperosmoler. Disamping itu
dapat terjadi "osmotik diuresis" Yang akan mengacaukan keseimbangan cairan dan
elektrolit. Larutan karbohidrat pekat (20%) setiap botolnya dapat diberi insulin l ui setiap
5 gram dektose yang harus rajin digocok.
2. en%ulit in4eksi. Merupakan penyakit yang amat ditakuti pada pemberian nutrisis
parenteral. Suhu tubuh meninggi, leukositosis yang kadang-kadang disertai degan
glkosuria dapat merupakan tanda dini akan adanya septikemia.
3. en%ulit sepsis. Terjadi sebanyak 3 % dari penderita yang menerima nutrisi parenteral
yang kateternya diperlihara dengan baik. Sedangkan pada mereka yang katerternya
tidak dipelihara dengan baik kejadian sepsis dapat sampai 20%.
4. en%ulit t(romboplebitis. Tromboflebitis dapat terjadi karena iritasi cairan infus
terhadap dinding vena, melalui kontaminasi kuman dan karena proses peradangan
biasa. lritasi vena karena cairan akan terjadi apabila osmolaritas cairan infus diatas 300
m Osmol / liter dan makin makin tinggi osmolaritas ini makin cepat terjadinya flebitis,
trombosis atau tromflebitis
Penyulit tromboflebitis dapat dikurangi dengan cara :
Pemasangan katerter vena yang lebih kecil dari diameter vena.
Pemberian larutan nutrisi bersamaan melalui set transfusi bercabang.
Memindahkan infus setiap 3-4 hari ke vena yang berlawanan di lengan dan tidak ke kaki
Tidak memberikan larutan nutrisi dengan osmolaritas diatas 800 mOsmol/ liter melalui
vena perifer.
5. Penyulit mekanik. Emboli udara,perdarahan karena fungsi arteri, pneumotoraks dan
hemotoraks.

Kesala!an >ang Sering *erjadi ada arenteral N-trisi
l. ,enggunakan 3ena peri4er untuk 'airan pekat. Osmolritas plasma 300 mOsmol .
Vena perifer dapat menerima sampai maksimal 900 mOsmol . Makin tinggi osmolaritas
(makin hipertonis) maka makin mudah terjadi tromphlebitis, bahkan tromboembli. Untuk
cairan > 900 l000 mOsm, seharusnya digunakan vena setrral (vena cava, subclavia,
jugularis) dimana aliran darah besar dan dapat cepat dapat mengencerkan tetesan
cairan NPE yang pekat hingga tidak dapat sempat merusak dinding vena. Jika tidak
tersedia kanula vena sentral maka sebaiknya dipilih dosis rendah (larutan encer) lewat
vena perifer. Vena kali tidak boleh dipakai karena sangat mudah deep vein trombosis
dengan resiko teromboemboli yang tinggi.
2. ,emberikan protein tanpa kalori karbo(idrat %ang 'ukup. Sumber kalori yang utama
dan harus selalu ada adalah dektrose. Otak dan eritrosit mutlak memerlukan glukosa
setiap saat. Jika tidak tersedia terjadi glukoneogenesis dari subtrat lain. Kalori mutlak
dicukupi lebih dulu. Diperlukan deksrose 6 gram /kg/hari (300 gr) untuk kebutuhan
energi basal 25 kcal/kg. Asam amino dibutuhkan untuk regenerasi sel, sintesis ensim
dan viseral protein. Tetapi pemberian asam amino harus dilindungi kalori, agar asam
amino tersebut tidak dibakar menjadi energi (glukoneogenesis) $iap gram @itrogen
harus dilindungi A?; ,cal berupa ,arbohidrat4 Satu gram @itrogen setara D92? gram
protetin4 Protein 50 gr memerlukan ( 50 : 6,25 ) x l50 k cal = l200 kcal atau 300 gram
karbohidrat. 6alori dari asam amino itu sendiri tida, i,ut dalam perhitungan ,ebutuhan
,alori 4 % Eangan memberi,an asam amino ji,a ,ebutuhan ,alori belum dipenuhi(
3. Tidak melakukan pera5atan aseptik. Penyulit trombplebitis karena iritasi vena sering
diikuti radang/ infeksi. Prevalensi infeksi berkisar antara 2-30 % Kuman sering
ditemukan adalah flora kulit yang terbawa masuk pada penyulit atau ganti penutup luka
infus.
eng!entian N-trisi arenteral.
Penghentian nutrisi parentral harus dilakukan dengan cara bertahap untuk mencegah terjadinya
rebound hipoglkemia. Cara yang kami anjurkan adalah melangkah mundur menuju regimen hari
pertama. Sementrara nutrisi enteral dinaikkan kandungan subtratnya. Sesudah tercapai nutrisi
enteral yang adekuat (2/3 dari jumlah kebutuhan energi total) nutrisi enteral baru dapat
dihentikan.
Diposkan oleh lvan-Atjeh Anestesi Tidak ada komentar: