Anda di halaman 1dari 29

UPAYA PELESTARIAN BUDAYA BALI DI GARUDA WISNU KENCANA

Disusun sebagai salah satu syarat mengikuti Ulangan Kenaikan Kelas XII tahun ajaran 2012 / 2013

Disusun oleh : Nama Kelas : Sodikun : XI IPS 4

No. Absen : 28 Program : IPS

MADRASAH ALIYAH NEGERI TEGALREJO MAGELANG 2012 / 2013

HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis ini telah diperiksa dan disahkan oleh Dewan Pemeriksa Madrasah Aliyah Negeri Tegalrejo pada :

Hari

: Jumat

Tanggal : 14 Juni 2013 Di : Tegalrejo Magelang

Kepala Sekolah

Pembimbing

Ali Masyhar, S.Ag, M.SI NIP : 197109041999031002

Dra. Ida Ariyani NIP : 1976812281998032001

ii

MOTTO

Baik dalam penampilan, aktif dalam kegiatan Kesombongan akan membuat kehancuran Kegagalan adalah cambuk keberhasilan Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana Menunda adalah awal dari kegagalan Belajar tekun adalah kunci dari keberhasilan

iii

HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis ini penulis persembahkan untuk ayah dan ibu tercinta, untuk seluruh staf guru serta semua yang telah memberikan dorongan moral maupun materi, dan tak lupa teruntuk almamaterku MAN Tegalrejo.

iv

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, hidayah, dan inayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis ini dengan tanpa halangan suatu apapun. Karya tulis ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus sebagai prasyarat kenaikan kelas. Judul karya tulis yang saya susun dalam penelitian ini adalah UPAYA PELESTARIAN BUDAYA BALI DI GARUDA WISNU KENCANA . Dalam penyusunan karya tulis ini, saya banyak mendapat bantuan dan bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu saya menyampaikan terimakasih kepada : 1. Bapak Ali Masyhar, S.Ag, M.SI, selaku kepala MAN Tegalrejo yang telah memberikan pengantar ijin penelitian. 2. Ibu Dra. Ida Ariyani, selaku Wali kelas XI IPS 4 yang telah memberikan petunjuk dan motivasi karya tulis ini. 3. Bapak / Ibu guru pembimbing yang telah memberikan banyak pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan karya tulis ini. 4. Orang tua saya tercinta dan keluarga saya. 5. Teman-taman saya tercinta kelas XI IPS 4 yang memberikan banyak inspirasi kepada penulis. 6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang berperan dalam proses penyusunan karya tulis ini.

Semoga seluruh amal dan kebaikan semua pihak yang membantu mendapat balasan dari Allah SWT. Amin. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, oleh karna itu saya mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan karya tulis ini.

Akhirnya saya berharap mudah-mudahan karya tulis ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi adik-adik kelas sebagai sumber dan bahan penelitian selanjutnya.

Penyusun

Sodikun

vi

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............ i HALAMAN PENGESAHAN .............. ii HALAMAN PERSEMBAHAN............................... iii HALAMAN MOTTO........ iv HALAMAN KATA PENGANTAR . .......... v HALAMAN DAFTAR ISI....... vii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .. 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ........ 1 D. Metode Pengumpulan Data . 2 E. Sistematika Penulisan .. 2 BAB II : LANDASAN TEORI A. Definisi Budaya ... 3 B. Definisi Pelestarian .. 4 C. Definisi Garuda Wisnu Kencana ..... 5 BAB III : GAMBARAN UMUM GWK A. Sejarah Singkat Berdirinya GWK ... 6 B. Letak Geografis Wisata GWK . 7 C. Makna Taman GWK dizaman Modern ... 7 D. Keunikan dan daya tarik Taman GWK....... 9 E. Koleksi Taman GWK .... 10 BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN WISATA GWK A. B. Dampak positif pariwisata ... 13 Dampak negatif pariwisata .. 14

vii

BAB V

: PENUTUP A. B. Kesimpulan 16 Saran saran .. 17

DAFTAR PUSTAKA... 18 LAMPIRAN .... 19

viii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Bali adalah salah satu pulau kecil milik Indonesia yang terletak di sebelah timur pulau Jawa. Pulau ini banyak menyimpan berjuta-juta kebudayaan yang menjadi jati diri negeri ini, disanalah para turis lokal maupun asing banyak mengeluarka biaya maupun waktu demi melihat dan mengetahui apa gerangan yang sebenarnya tersimpan pada pulau yang biasa disebut pulau Dewata ini. Tak dapat di pungkiri bahwa pulau Bali memiliki semacam daya tarik bagi siapapun yang berkeinginan akan singgah ke sana, baik dari segi keindahan panorama alamnya maupun dari segi budaya yang sangat di pelihara dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Pada kesempatan ini penulis akan membagikan sedikit pengalaman mengenai salah satu tempat pariwisata yang kebetulan memiliki 2 unsur pemikat daya tarik wisatawan yang telah disebutkan diatas, yaitu unsur NATURAL dan CULTULAR, tempat yang lebih lazim disebut sebagai TAMAN BUDAYA GARUDA WISNU KENCANA B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sejarah GWK ? 2. Dimana letak GWK ? 3. Apa keunikan GWK ?

C. Tujuan dan kegunaaan Penulisan 1. Mengenal sejarah GWK 2. Mengetahui letak GWK 3. Mengetahui keunikan GWK

D. Metode Pengumpulan Data Dalam Pembuatan karya tulis ini, penulis menggunakan beberapa metode penulisan, antara lain : 1. Studi lapangan Penulis memperoleh data dengan melakukan penelitian dengan mengamati langsung keadaan objek wisata. 2. Wawancara Penulis memperoleh data dengan melakukan wawancara langsung dengan gaide Bali dan pihak pihak yang terkait dengan penelitian. 3. Internet Penulis mengumpulkan data dan informasi dari buku - buku dan situs - situs di internet yang terkait dengan penelitian.

E. Sistematika Pembahasan Pada bagian awal berisi : halaman judul, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, dan daftar isi. Pada BAB I berisi : Pendahuluan, yaitu menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, manfaat penulisan, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan. Pada BAB II berisi : Landasan Teori, yang terdiri dari : definisi budaya, definisi pelestarian dan definisi Garuda Wisnu Kencana Pada BAB III berisi : Gambar Umum, yang terdiri dari : sejarah singkat berdirinya GWK, letak geografis GWK, makna taman GWK dizaman modern, keunikan dan daya tarik taman GWK serta koleksi taman budaya GWK Pada BAB IV berisi : Analisis Hasil Penilitian, yaitu menjelaskan

tentang dampak positif pariwisata dan dampak negatif pariwisata. Pada BAB V berisi : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

Pada bagian akhir meliputi daftar pustaka dan lampiran lampiran.

BAB II LANDASAN TEORI


A. Definisi Budaya Budaya atau kerbudayaaan berasal dari bahasa sansekertra yaitu Budahyah yang merupakan jamak dari buddhi ( budi / akal ) diartikan sebagai hal hal yang berkaitan degan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut Culture Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya. Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri citra yang memaksa itu mengambil bentuk bentuk yang berbeda dalam budaya, citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota anggotanya dengan pedoman penilai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang di pinjam anggota anggota yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermatabat dan pertalian dengan hidup mereka. Hofstede ( ilmuwan pesikologi ) mengatakan bahwa budaya adalah pengerak manusia, tanpanya manusia sekedar hidup tanpa makna Sinobu kitayama menganalogika peran budaya bagi manusia seperti peran air bagi ikan, tanpa air ikan akan mati. Manusia pun akan menjadi bukan manusia ( tanpa budaya ) sebagaimana air menentukan kehidupan ikan budaya pun menentukan seperti apa kehidupan yang akan dijalani manusia. Air yang berbeda akan membuat perilaku ikan berbeda, demikian juga budaya yang akan membuat manusia berbeda.

Dengan demikian, budayalah yang menjadikan suatu rangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan

memungkinkannya meramal perilaku orang lain. B. Definisi pelestarian Pelestarian dalam kamus bahasa Indonesia ( Eko, 2006 ) berasal dari kata dasar lestari yang artinya tetap selama lamanya tidak berubah. Kemudian, dalam kehidupan penggunaan bahasa Indonesia pengunaan awalan pe dan akhiran an yang artinya digunakan untuk menggambarkan proses atau upaya ( kata kerja ) Jadi berdasarkan kata kunci Lestari di tambah awalan pe dan akhiran an, maka yang dimaksud pelestarian adalah upaya untuk membuat sesuatu tetap selama lamanya tidak berubah. Bisa juga didefinisikan sebagai upaya untuk mempertahankan sesuatu supaya tetap sebagaimana adanya. Merujuk pada definisi pelestarian dalam kamus bahasa Indonesia di atas, maka penulis mendefinisikan bahwa yang dimaksud pelestarian budaya adalah upaya untuk mempertahankan supaya budaya tetap sebagaimana adanya. Salah satu tujuan diadakannya pelestarian budaya adalah juga untuk melakukan refalitasi budaya ( penguatan ). Mengenal refitalisasi budaya prof. A.Chaedur Al Wasilah mengatakan ada 3 langkah, yaitu : 1. Pemahaman untuk menimbulkan kesadaran 2. Perencanaan secara kolektif 3. Pembangkitan kreatifitas kebudayaan Pada definisinya, pelestarian adalah sebuah upaya yang berdasar. Dan dasar ini disebut juga faktor faktor yang mendukung baik itu dari dalam maupun luar hal yang dilestarikan. Maka dari itu sebuah proses atau tindakan pelestarian mengenal strategi ataupun teknik yang didasarkan pada kebutuhan dan kondisinya masing masing.

C. Definisi Garuda Wisnu Kencana Garuda Garuda adalah putra Dewi Winata dan yang membebaskan Dewi Winata dari kutukan Dewi Kaldu dengan mengorbankan dirinya sebagai wahana Dewa Wisnu atau Garuda adalah burung besar sebagi perlambang kebebasan sekaligus pengabdian tanpa pamrih. Wisnu Wisnu adalah Dewa Wisnu yang oleh masyarakat Bali dianggap sebagai kekuatan utama pemeliharaan alam semesta, dan juga yang menjadikan Garuda sebagai wahananya. Kencana Kencana adalah suatu kendaraan atau wahana yang dimiliki Dewa Wisnu yaitu burung Garuda.

BAB III GAMBARAN UMUM GARUDA WISNU KENCANA

A. Sejarah Singkat Berdirinya GWK Sejarah berdirinya Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana bermula dengan datangnya seorang begawan yang mempunyai dua istri, yang bernama Dewi Kaldu dan Dewi Winata. Dari kedua istri tersebut tidak dikaruniai seorang anakpun, tetapi justru dianugerahi dua buah telur. Kemudian istri pertama memilih telur yang berisi seratus anak. Beberapa hari kemudian, telur milik Dewi Kaldu pun menetas dan berupa ular. Dewi winata pun merasa iri karena telur miliknya belum menetas. Kemudian memecahkan salah satu telurnya dan menetas berupa burung, burung itu dibari nama Jatayung. Karena prematur, maka burung itu hanya dapat bertahan hidup selama dua puluh hari dan akhirnya mati. Diapun merasa sedih lalu dia pun menunggu salah satu telurnya menetas pada waktunya. Kemudian telur itu menetas berupa burung yang diberi nama Garuda. Dewi Winata dan Dewi Kaldu pun membuat perjanjian yang berisi jika kalah harus mengurus keseratus anak Dewi Kaldu. Dia pun merasa diperbudak oleh Dewi Kaldu. Dan untuk membebaskannya, putra Dewi Winata yang bernama Garuda harus mengambil air suci Dewa Wisnu dengan syarat Garuda harus menjadi syarat Dewa Wisnu. Kemudian Garuda menyetujuinya. Dan akhirnya Dewi Winata pun terbebas dari ancaman Dewi Kaldu. Tetapi, sayangnya putra kesayangannya harus menjadi wahana Dewa Wisnu. Untuk mengenang pengorbanan Garuda kepada ibunya, tempat tersebut diberi nama Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana yang menjadi obyek wisata terkenal di Bali.

B. Letak Geografis Taman Budaya GWK Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana terletak di Bukit Ungasan, Jimbaran, Bali. Patung ini merupakan karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Monumen ini dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi ikon bagi pariwisata Bali dan Indonesia. Patung tersebut berwujud Dewa wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemeliharaan (sthithi), yang mengendarai Burung Garuda. Tokoh Garuda dapat dilihat di kisah Garuda dan Kerajaannya yang berkisah mengenai rasa bakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu. Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua, hingga Tanah Lot. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia dan mengalahkan Patung Liberty. Garuda Wisnu Kencana yang terletak diatas dataran tinggi batu kapur padas dan menatap kawasan wisata dipesisir selatan Bali dan berjarak 25 km dari Denpasar atau 25 km dari Bandara Ngurah Rai. Garuda Wisnu Kencana adalah jendela seni dan budaya di Pulau Dewata yang memiliki latar belakang alami serta panorama yang sangat mengagumkan. Dengan luas 250 ha akan merangkum semua kegiatan budaya Bali disini. Pengunjung Garuda Wisnu Kencana akan menyaksikan kemegahan monumental dan kekhusukan spiritual yangmana kesemuanya disempurnakan dengan sentuhan modern dengan fasilitas dan pelayanan yang tepat guna.

C. Makna Taman Budaya GWK di Zaman Modern Di zaman yang serba modern, dibalik kemegahan yang dimiliki, Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana ternyata memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan di zaman modern ini, yang antara lain :

1.

Perwujudan Masa Modern Tradisi Kuno Wisnu _ Simbol Hindu yang melambangkan kekuatan utama pemelihara alam semesta yang mendominasi kawasan ini. Diwujudkan sebagai patung berukuran raksasa dibuat dari kuningan dan tembaga dengan ketinggian mencapai 22 meter, menjadikan figur ini sebagai perwujudan modern sebuah kebudayaan dan tradisi kuno. Wujud yang menyertainya adalah Garuda, seekor burung besar yang menjadi kendaraan Dewa Wisnu yang melambangkan kebebasan sekaligus pengorbanan tanpa pamrih. Gapura Batu _ beberapa buah pilar batu cadas alami setinggi 25 meter yang berdiri kokoh yang akan ditatah dengan berbagai ornamen yang diambil dari kisah dramatis Ramayana yang menjadi sumber inspirasi pertunjukan seni Bali. Pahatan ukiran latar belakang relief bercorak seni pahat pewayangan (Kayon atau Gunungan)yang sangat khas Bali dan Jawa.

2.

Sebuah Lokasi Kunjungan Spiritual Berdekatan dengan patung Dewa Wisnu terdapat Parahayangan Somaka Giri, sebuah mata air keramat darimana air mengalir yang terdapat kandungan mineral-mineral utama. Keberadaan air dipuncak bukit padas kapur ini memang merupakan sebuah keajaiban yang belum dapat dijelaskan secara ilmiah, sehingga menjadikannya tempat kunjungan spiritual dan meditasi. Air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan telah dipergunakan luas dikalangan penduduk setempat dalam upacara memohon hujan untuk mendapatkan panen yang baik. Keberadaan Parahyangan Somaka Giri sangat menggugah naluri seseorang dalam mencari pencerahan pikiran lahir dan batin.

3.

Tempat Untuk Berbagai Kesempatan Dengan curah hujan yang relatif rendah namun terbuka untuk dapat menikmati hembusan angin tropis, fasilitas yang dimiliki Garuda Wisnu Kencana menjadi sangat ideal. Amphiteatre dengan kapasitas 800 tempat duduk dan tatanan acoustic kelas I, merupakan tempat yang tidak tertandingi untuk pagelaran seni budaya. Lotus Pond yang dikelilingi pilar-pilar batu cadas serta berlatar belakang Burung Garuda menjadikan areal berkapasitas 7500 orang ini sangat dramatis untuk berbagai perhelatan akbar. Sebagaimana arena upacara desa-desa di Bali, street theatre merupakan tempat yang sangat tepat untuk berbagai prosesi, fashion show dan berbagai pertunjukan bergerak. Tempat untuk beramah-tamah yang paling ideal adalah Plaza Kura-Kura, yang memiliki kapasitas sampai 200 orang. Sebagai tambahan, yang terbuka untuk umum, Exhibition Gallery yang memiliki luas 200 m2 terdapat 10 m2 halaman terbuka didalamnya.

4.

Santap Malam Dibawah Naungan Bintang Sejumlah cafe dan restoran menyediakan layanan tata boga yang lengkap, dari makanan kecil, hidangan ringan hingga banquets. Layanan on-site catering yang tersedia mampu melayani hingga 2000 porsi, dengan berbagai hidangan Indonesia, Oriental atau hidangan

Internasional yang dapat disesuaikan dengan tema dan lokasi tertentu.

D. Keunikan dan Daya Tarik Taman Budaya GWK Terletak diatas dataran tinggi batu kapur padas dan menatap kawasan wisata dipesisir selatan Bali, Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana adalah jendela seni dan budaya Pulau Dewata yang memiliki latar belakang alami dan panorama yang sangat mengagumkan. Dengan jarak tempuh 15 menit dari Bandara Ngurah Rai dan kurang dari satu jam dari perhotelan utama, Garuda Wisnu Kencana menjadi salah satu tujuan utama berbagai pertunjukan kesenian, pameran dan konferensi atupun kunjungan santai

bahkan kunjngan spiritual. Monument ini dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi ikon bagi pariwisata Bali dan Indonesia. Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berada pada ketinggian 146 meter diatas permukaan tanah atau 263 meter diatas permukaan laut. Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung ini merupakan symbol dari misi penyelamatan dunia dan lingkungan. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar didunia dan mengalahkan patung liberty. Kawasan seluas 250 ha ini merangkum berbagai kegiatan seni budaya, tempat pertunjukan serta berbagai layanan tata boga. Sebagaimana istanaistana Bali pada zaman dahulu. Pengunjung Garuda Wisnu Kencana akan menyaksikan kemegahan monumental dan kekhusukan spiritual yang mana kesemuanya disempurnakan dengan sentuhan modern melalui fasilitasfasilitas dan pelayanan yang tepat guna. Kendatipun datang sebagian dari ribuan pengunjung sebuah event kebudayaan ataupun seorang diri untuk sekedar menikmati hidangan ringan dan minuman sembari menyaksikan matahari terbenem, keindahan alam dan budaya Bali serta keramah tamahan penduduknya.

E. Koleksi Taman Budaya GWK 1. Wisnu Plaza Wisnu Plaza adalah tanah tertinggi di kawasan Garuda Wisnu Kencana yang merupakan bagian dari Patung Garuda Wisnu Kencana, yaitu Dewa Wisnu. Pada hari tertentu, akan ada kinerja tradisional Bali dengan megah patung Wisnu sebagai latar belakang. Karena lokasinya cukup tinggi, pengunjung dapat melihat panorama sekitarnya patung Wisnu. Sebagai titik pusat, Wisnu Plaza dikelilingi oleh air mancur dan air sumur suci didekatnya yang katanya tidak pernah kering bahkan pada musim kemarau.

10

Parahyangan Somaka Giri ditempatkan di sebelah patung Wisnu. Ini tempat air berada yang secara historis telah dipercaya oleh rakyat daerah tersebut sebagai berkah dengan kekuatan magis yang kuat untuk menyembuhkan penyakitnya dan meminta pertolongan dewa hujan selama musim kemarau.

2. Stree Theatre Street Theatre adalah titik awal dan akhir kunjungan ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Disini pengunjung dapat menemukan souvenir Bali dan Marchandhise Garuda Wisnu Kencana khususnya di GWK Souvenir dan Bali Art. Selain itu pengunjung dapat mencicipi makanan yang baik dengan harga istimewa hanya di pengadilan makanan Makanan Teater dan The Beranda dengan paket all you can it.

3. Lotus Pond Lotus Pond adalah area out door terbesar yang ada di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, bahkan Bali. Selama bertahun-tahun Garuda Wisnu Kencana telah dipercaya acara berskala nasional maupun internasional, seperti konser musik dan pertemuan inernasional. Lotus Pond adalah tempat yang unik dengan pilar batu kapur disisi dan patung megah Garuda sebagai latar belakang. Lotus pond berawal dari teratai, teratai adalah simbol utama keindahan, kemakmuran dan kesuburan. Dewa Wisnu juga selalu membawa bunga teratai di tangannya dan hampir semua Dewa dari Dewa Hindu duduk diatas bung teratai ataupun membawa bunga teratai. Beberapa fakta menarik bahwa teratai tumbuh di air, memiliki akar dalam ilus atau lumpur, dan menyebarkan bunga di udara bebas. Dengan demikian, teratai melambangkan kehidupan manusia. Akar teratai tenggelam dalam lumpur melambangkan kehidupan manusia. Akar teratai tenggelam dalam lumpur melambangkan kehidupan material. Tangkai melawatkan melalui air melambangkan eksistensi dunia abstrak. Bunga

11

mengambang diatas air dan membuka kelangit adalah emble mtical spiritual. 4. Indraloka Garden Taman ini diberi nama Indraloka Garden setelah surga Dewa Indraloka Garden adalah salah satu tempat favorit di Garuda Wisnu Kencana untuk mengadakan pesta kecil dan menengah, seperti perkumpulan dan pernikahan, pengunjung dapat melihat pemandangan Bali dari atas Indraloka Garden. 5. Amphitheatre Amphitheatre adalah tempat didalam ruangan untuk pertunjukan khusus dengan akustik kelas VVIP. Setiap sore pengunjung bisa menonton tari Kecak dengan gratis mulai jam 18.30 19.30 WITA. Seringkali tari Kecak ini dikolaborasikan dengan tarian daerah lainnya. 6. Tirta Agung Tirta Agung adalah ruangan luas sempurna untuk acara menengah, pengunjung juga dapat menunjungi Patung Tangan Wisnu, bagian dari Patung Garuda Wisnu Kencana yang terletak didekatnya.

12

BAB IV ANALISIS PENELITIAN


Suatu obyek wisata dibangun dengan tujuan untuk memperoleh suatu keuntungan. Karena didunia ini tidak ada yang sempurna, selain memiliki dampak yang positif, tentu juga menimbulkan dampak negatif meskipun dalam jumlah yang sedikit. Begitu juga dengan dibangunnya Garuda Wisnu Kencana pasti juga berdampak positif dan negatif dari segi ekonomi dan pemerintahan, segi pendidikan, segi sosial dan segi kemasyarakatan.

A. Dampak Positif 1. Segi Ekonomi dan Pemerintahan Didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai daya tarik Garuda Wisnu Kencana sangat bagus, sehingga banyak wisatawan yang mengunjunginya mancanegara. Dengan adanya wisatawan yang mengunjungi Garuda Wisnu Kencana maka pemasukan atau pendapatan Pemerintah Daerah Bali akan meningkat. Selain itu dapat memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar obyek wisata Garuda Wisnu Kencana, yaitu dengan menjual pernak pernik yang mereka buat, seperti barang-barang kerajinan yang khas Bali dan lain-lain. baik wisatawan domestik maupun wisatawan

2. Segi Sosial dan Kemasyarakatan Dengan adanya pertunjukan kesenian di obyek wisata Garuda Wisnu Kencana bagi masyarakat sekitar membuktikan bahwa masyarakat masih konsisten untuk mlestarikan kebudayaan dan Garuda Wisnu Kencana menjadikan obyek wisata yang dapat mempersatukan budaya, tradisi, dan adat-istiadat yang telah berumur ratusan bahkan ribuan tahun dengan

13

teknologi global yang berkembang saat ini. Selain itu, dengan dibukanya obyek wisata Garuda Wisnu Kencana dapat mengurangi presentasi pengangguran disekitar obyek wisata.

3. Segi Pendidikan Para pengunjung umumnya bagi pelajar atau mahasiswa bisa untuk menambah wawasan pengalaman, bisa juga untuk mengenal adat-istiadat masyarakat Bali.

B. Dampak Negatif 1. Segi Ekonomi dan Pemerintahan Semua obyek wisata tidak selamanya mengalami ramai pengunjung. Begitu juga dengan obyek wisata Garuda Wisnu Kencana, ada kalanya sepi dari pengunjung. Keadaan ini membuat pemasukan Garuda Wisnu Kencana berkurang, padahal biaya yang dikeluarkan untuk merawat dan membangun patung-patung yang belum jadi memerlukan biaya yang sangat besar. Dengan berkurangnya pemasukan membuat pihak pengelola Garuda Wisnu Kencana mengeluarkan uang yang banyak untuk biaya tersebut, sehingga pemasukan ke kas Negara berkurang atau tidak sama sekali.

2. Segi Sosial dan Kemasyarakatan Para wisatawan yang mengunjungi Garuda Wisnu Kencana tidak hanya dari daerah sekitar, tetapi dari berbagai daerah, bahkan dari mancanegara dan mereka sering membawa kebiasaan hidup mereka. Hal ini membuat masyarakat daerah disekitar Garuda Wisnu Kencana menjadi terpengaruh dari kebiasaan yang dibawa oleh para wisatawan tersebut. Padahal kebiasaan tersebut ada yang baik dan buruk. Apabila mereka telah terpengaruh kebiasaan buruk tersebut akan merubah sikap sosial masyarakat. 3. Segi Pendidikan

14

Garuda Wisnu Kencana sebagai tempat rekreasi, disana juga banyak anak muda yang berpacaran, dan semua itu bisa berpengaruh terhadap akhlak atau moral para pengunjung lainnya, terutama kalangan pelajar.

15

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana adalah obyek wisata yang terletak di Bukit Ungasan, Jimbaran, Bali. Patung ini merupakan karya pematung terkenal asal Bali, I Nyoman Nuarta. Patung ini berwujud patung Garuda yang senantiasa menjadi tunggangan Dewa Wisnu. Hal ini sebagai bukti kebebasan dan rasa pengorbanan yang tiada henti. Dan apabila pembangunan terselesaikan, patung ini akan mengalahkan Patung Liberty sebagai patung terbesar didunia. Garuda Wisnu Kencana menjadi salah satu tujuan utama berbagai pertunjukan kesenian , pameran, dan konferensi ataupun kunjungan santai bahkan kunjungan spiritual. Area obyek wisata ini berada pada ketinggian 146 meter diatas permukaan tanah atau 263 diatas permukaan laut. Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua, hingga Tanah Lot. Patung ini merupakan simbol dari misi penyelamatan dunia dan linkungan. Kawasan seluas 250 ha ini merangkum berbagai kegiatan seni budaya, tempat pertunjukan, serta berbagai layanan tata boga. Sebagaimana istana-istana Bali pada zaman dahulu, pengunjung akan menyaksikan kemegahan monumental dan kekhhusukan spiritual yang mana kesemuanya disempurnakan dengan sentuhan modern melalui fasilitas dan pelayanan yang tepat guna. Kendatipun datang sebagai bagian dari ribuan pengunjung sebuah event kebudayaan maupun seorang dri sekedar untuk menikmati hidangan ringan dan minuman sembari menyaksikan matahari terbenam, keindahan alam dan budaya Bali serta keramah tamahan penduduknya.

16

B. Saran Setelah penulis melakukan penelitian, terdapat kritik dan saran yang penulis ingin sampaikan, yang antara lain : 1. Pembangunan obyek wisata Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana dan sekitarnya mohon untuk segera diselesaikan sehingga semakin banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjunginya. 2. Mohon untuk toilet diperbanyak lagi, karena semakin banyaknya pengunjung tentu juga tidak sedikit pengunjung yang ingin buang air kecil atau buang air besar. Lampu penerangan harap diperbanyak sehingga pengunjung dapat mengunjungi obyek wisata Garuda Wisnu Kencana sampai puas.

17

DAFTAR PUSTAKA
Penyusun.dkk 2013 analisa langsung objek wisata GWK Astika. Ketut Sudhana. 2009. Analisis Kebudayaan. Jakarta : Depdikbud www.mitrabaliagung.com allaboutbaliIndonesia.blogspot.com

18

LAMPIRAN

19

20