Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengetahuan tentang asuhan keperawatan muskuloskeleta makin dibutuhkan mahasiswa ataupun perawat selaku pemberi pelayan kesehatan. Pergeseran tingkat pendidikan pada dunia keperawatan di Indonesia menuju era profesionalisasi menjadikan asuhan keperawatan pada pola asuhan per sistem. Perkembangan asuhan keperawatan sistem muskoskeletal sendiri sejak lama tidak lepas dari bedah ortopedi, suatu disiplin ilmu dari bagian medis yang di Indonesia sekarang ini masih belum dikenal luas oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh keadaan masih adanya peranan yang cukup besar dari ahli urut tulang (khususnya di daerah), yaitu lebih dari 25% klien berobat ke ahli urut tulang/dukun patah tanpa memnadang derajat sosial dan pendidikan dan umumnya datang ke rumah sakit setelah timbul penyulit atau penyakit sudah dalam stadium lanjut. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, salah satu fungsi dari peranan perawat adalah mensosialisasikan pada masyarakat umum guna mencegah/menghindari hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Oleh karena itu, kami menyusun makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Muskuloskeletal: Gout dan Rheumatoid Arthritis. Dengan harapan sebagai perawat kita mampu memahami konsep penyakit yang dialami klien dengan gangguan sistem Muskuloskeletal, khususnya Gout dan Rheumatoid Arthristis, sehingga kita pun mampu memberi asuhan keperawatan yang tepat dan kontrahensif, yang meliputi pengenalan konsep anatomi fisiologi, dan patofisiologi sistem muskuloskeletal, pengkajian untuk menegakkan masalah keperawatan, perencanaan dan tindakan keperawatan, sampai mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada masalah sistem muskuloskeletal.

1.2 Tujuan Umum

Diharapkan agar Mahasiswa/i tingkat II Program Studi SI Keperawatan, mampu memahami tentang konsep asuhan keperawatan pada klien dengan Arthritis Guot dan Rheumatoid Arthritis.

1.3 Tujuan Khusus

1.

Mahasiswa dapat memahami anatomi dan fisiologi system musculoskeletal.

2. 3.

Mahasiswa dapat mengetahui konsep penyakit arthritis gout. Mahasiswa dapat mengerti tentang konsep asuhan keperawatan pada klien dengan arthritis gout.

4. 5.

Mahasiswa dapat mengetahui konsep penyakit rheumatoid arthritis. Mahasiswa dapat mengerti tentang konsep asuhan keperawatan pada klien dengan rheumatoid arthritis.

6.

Mahasiswa dapat mengaplikasikan konsep asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal : Arthritis Guot dan Rheumatoid Arthritis

1.4 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa definisi dari atritis gout ? Bagaimana etiologi dari penyakit arthritis gout ? Bagaimana manifestasi klinik pada klien dengan arthritis gout ? Bagaimana pemeriksaan penunjang pada penyakit rheumatoid arthritis? Bagaimana penatalaksanaan dari penyakit rheumatoid arthritis ? Bagaimana prognosis dari penyakit rheumatoid arthritis ?

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Artritis gout adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus, yaitu arthritis akut. Arthritis gout lebih banyak terdapat pada pria daripada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa menopause. 2.2 Etiologi Gejala arthritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan Kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam golongan kelainan metabolic. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetic asam urat yaitu hiperurisemia. Hiperurisemia pada penyakit ini terjadi karena : 1. Pembentukan asam urat yang berlebihan a. Gout primer metabolic, disebabkan sintesis langsung yang bertambah. b. Gout sekunder metabolic, disebabkan pembentukan asam urat berlebihan karena penyakit lain seperti leukemia, terutama bila diobati dengan sitostatika, psosiasis, polisitemia vera, dan mielofibrosis. 2. Kurangnya pengeluaran asam urat melalui ginjal a. Gout primer renal, terjadikarena gangguan ekskresi asam urat di tubuli distal ginjal yang sehat. Penyebabnya tidak diketahui. b. Gout sekunder renal, disebabkan oleh kerusakan ginjal, misalnya pada glomerulonefritis kronik atau gagal ginjal kronik. 3. Perombakan dalam usus yang berkurang. Namun, secara klinis hal ini tidak penting. 2.3 Manifestasi Klinis Secara klinis ditandai dengan adanya arthritis, tofi, dan batu ginjal. Yang penting diketahui bahwa asam urat sendiri tidak akan mengakibatkan
3

apa apa. Yang menimbulkan rasa sakit adalah terbentuk dan mengendapnya Kristal monosodium urat. Pengendapanya dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Oleh sebab itu, sering terbentuk tofi pada daerah daerah telinga, siku, lutut, dorsum pedis, dekat tendo Achilles pada metatarsofalangeal digiti I, dan sebagainya. Pada telinga misalnya, karena permukaannya yang lebar dan tipis serta mudah tertiup angin, kristal kristal tersebuit mudah mengendap dan menjadi tofi. Demikian pula di dorsum pedis, kalkaneus, dan sebagainya karena sering tertekan oleh sepatu. Tofi itu sendiri terdiri dari kristal kristal urat yang dikelilingi oleh benda benda asing yang meradang, termasuk sel sel raksasa. Serangan sering kali terjadi pada malam hari. Biasanya sehari sebelumnya pasien tampak segar bugar tanpa keluhan. Tiba tiba tengah malam terbangun oleh rasa sakit yang hebat sekali. Daerah khas yang sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari kaki sebelah dalam, disebut padogra. Bagian ini tampak membengkak, kemerahan, dan nyeri sekali bila disentuh. Rasa nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu, lalu menghilang. Sedangkan tofi itu sendiri tidak sakit, tapi dapat merusak tulang. Sendi lutut juga merupakan tempat predileksi kedua untuk serangan ini. Tofi merupakan penimbunan asam urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia, tulang rawan, bursa, dan jaringan lunak. Sering timbul di tulang rawan telinga sebagai benjolan keras. Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang timbul 5 10 tahun setelah serangan arthritis akut pertama. Pada ginjal akan timbul sebagai berikut : a. Mikrotofi, dapat terjadi di tubuli ginjal dan menimbulkan nefrosis. b. Nefrolitiasis karena endapan asam urat c. Pielonefritis kronis d. Tanda tanda aterosklerosis dan hipertensi

Tidak jarang ditemukan pasien dengan kadar asam urat tinggi dalam darah, tanpa adanya riwayat gout, yang disebut hiperurisemia asimtomatik. Pasien demikian sebaiknya dianjurkan mengurangi kadar asam uratnya karena menjadi factor risiko dikemudian hari dan kemungkinan terbentuknya batu urat di ginjal. 2.4 Pemeriksaan Penunjang Pada pemerikasaan laboratorium didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah (>6 mg%). Kadar asam urat normal dalam serum pada pria 8 mg% dan pada wanita 7 mg%. Pemeriksaan kadar asam urat ini akan lebih tepat lagi bila dilakukan dengan cara enzimatik. Kadang kadang didapatkan leukositosis ringan dan LED meninggi sedikit. Kadar asam urat dalam urin juga sering tinggi (500 mg%/liter per 24 jam). Di samping pemeriksaan tersebut, pemeriksaan cairan tofi juga penting untuk menegakkan diagnosis. Cairan tofi adalah cairan berwarna putih seperti susu dan kental sekali sehingga sukar diaspirasi. Diagnosis dapat dipastikan bila ditemukan gambaran Kristal asam urat (berbentuk lidi) pada sediaan mikroskopik. 2.5 Penatalaksanaan 2.5.1 Penatalaksanaan serangan akut Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam

penatalaksanaan pasien dengan serangan akut arthritis gout. Yang pertama bahwa pengobatan serangan akut dengan atau tanpa hiperurisemia tidak berbeda. Juga diperhatikan agar penurunan kadar asam urat serum tidak dilakukan tergesa gesa karena penurunan secara mendadak sering kali mencetuskan serangan lain atau mempersulit penyembuhan.

Obat yang diberikan pada serangan akut antara lain :

a.

Kolkisin, merupakan obat pilihan utama dalam pengobatan serangan arthritis gout maupun pencegahannya dengan dosis lebih rendah. Efek samping yang sering ditemui di antaranya sakit perut, diare, mual, atau muntah muntah. Kolkisin bekerja pada peradangan terhadap Kristal urat dengan menghambat kemotaksis sel radang. Dosis oral 0,5 0,6 mg per jam sampai nyeri, mual, muntah, atau diare hilang. Kemudia obat dihentikan, biasanya pada dosis4-6 mg, maksimal 8 mg. Kontraindikasi pemberian oral jika terdapat inflammatory bowel disease. Dapat diberikan intravena pada pasien yang tidak dapat menelan dengan dosis 2-3 mg/hari, maksimal 4 mg. Hati hati karena potensi toksisitas berat. Kontraindikasinya pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati. Dosis profilaksi 0,5-1 mg/hari. Hasil dari obat ini sangat baik bila diberikan segera setelah serangan.

b.

OAINS Semua jenis OAINS dapat diberikan, yang paling sering digunakan adalah indometasin. Dosis awal indomestasin 25-50 mg setiap 8 jam, diteruskan sampai gejala menghilang (5-10 hari). Kontarindikasinya jika terdapat ulkus peptikum aktif, gangguan fungsi ginjal, dan riwayat alergi terhadap OAINS. Kolkisin dan OAINS tidak dapat mencegah akumulasi asam urat, sehingga tofi, batu ginjal, dan arthritis gout menahun yang destruktif dapat terjadi setelah beberapa tahun.

c.

Kortikosteroid Untuk pasien yang tidak dapat memakai OAINS ora, jika sendi yang terserang monoartikular, pemberian intraartikular sangat efektif, contohnya triamsinolon 10-40 mg intraartikular. Untuk gout poliartikular, dapat diberikan secara intravena (metal prednisolon 40 mg/hari, tapering off 7 hari) atau oral (prednison 40-60 mg/hari, tapering off 7 hari). Mengingat kemungkinan terjadi arthritis gout bersamaan dengan arthritis septic, maka harus dilakukan aspirasi sendi dan sediaan apus Gram dari cairan sendi sebelum diberikan kortikosteroid.

d.

Analgesic, diberikan bila rasa nyeri sangat berat. Jangan diberikan Aspirin, karena dalam dosis rendah akan menghambat ekskresi asam urat dari ginjal dan memperbesar hiperurisemia.

e.

Tirah baring, merupakan suatu keharusan dan diteruskan sampai 24 jam setelah serangan menghilang. Arthritis gout dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.

2.5.2 Penatalaksanaan periode antara Bertujuan mengurangi endapan urat dalam jaringan dan menurunkan frekuensi serta keparahan serangan. a. Diet, dianjurkan menurunkan berat badan pada pasien yang gemuk, serta diet rendah purin (tidak usah terlalu ketat). Hindari alcohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan sarden, dagg kambing, dan sebagainya), termasuk roti manis. Perbanyak minum, pengeluaran urin 2 liter/hari atau lebih akan membantu pengeluaran asam uarat dan mengurangi pembentukan endapan di saluran kemih. b. Hindari obat- obatan yang mengakibatkan hiperurisemia, seperti tiazid, diuretic, aspirin, dan asam nikotinat yang menghambat ekskresi asam urat dari ginjal. c. Kolkisin secara teratur diindikasikan untuk : 1) Mencegah serangan gout yang akan dating.obat ini tidak mempengaruhi tingginya kadar asam urat namun

menurunkan frekuensi terjadinya serangan. 2) Menekan serangan akut yang dapat terjadi akibat perubahan mendadak dari kadar asam urat serum dalam pemakaian obat urikosurik atau alopurinol. d. Penurunan kadar asam urat serum Diindikasikan pada arthritis akut yang sering dan tidak terkontrol dengan kolkisin, terdapat endapan tofi atau kerusakan ginjal. Tujuannya untuk mempertahankan kadar asam urat serum di bawah 6 mg/dL, agar tidak terbentuk kristalisasi urat.

Ada 2 jenis obat yang dapat digunakan, yaitu kelompok urikosurik dan inhibitor xantin oksidase seperti alopurinol. Pemilihannya tergantung dari hasil urin 24 jam. Kadar di bawah 1.000 mg/hari manandakan sekresi asam urat yang rendah, sehingga harus diberikan obat urikosurik. Sedangkan untuk pasien dengan kadar asam urat lebih dari 1.000 mg/hari diberikan alopurinol karena terjadi produksi asam urat yang berlebihan. 1) Obat urikosurik, bekerja menghambat reabsorbsi tubulus terhadap asam urat yang telah difiltrasi dan mengurangi penyimpanannya, mencegah pembentukan tofi yang baru dan mengurangi ukuran yang telah terbentuk. Bila diberikan bersama kolkisin dapat mengurangi frekuensi serangan. Indikasinya adalah peningkatan frekuensi

serangan atau keparahannya. Tidak efektif untuk pasien dengan insufisiensi ginjal. Jangan diberikan pada pasien dengan riwayat batu asam urat. Jaga agar pengeluara urin pasien mencapai 2 liter/hari untuk mencegah pengendapan. Bila perlu ditambahkan obat alkalinisasi supaya pH di atas 6. Pilihan obatnya adalah : Probenesid, dosis awal 0,5 g/hari ditingkatkan secara bertahap menjadi 1-2 g/hari. Obat ini berkompetisi menghambat reabsorpsi urat oleh ginjal. Efek samping yang mungkin terjadi di antaranya mual, muntah, dan reaksi hipersensitif. Obat ini menghambat ekskresi penisilin, indometasin, dapson, dan asetazolamid. Sulfinpirazon, dosis awal 100 mg/hari, peningkatan bertahap menjadi 200-400 mg/hari. Dapat pula mengurangi agregasi dan memperpanjang masa hidup trombosit. Efek samping mual, muntah, dan dapat timbul ulkus peptic. Bensbromaron, merupakan kelompok terbaru. Obat ini meghambat penyerapan kembali asam urat pada bagian

proksimal tubulus renalis. Memiliki masa kerja yang panjang sehingga cukup diberikan satu kali sehari. Azapropazon, juga memiliki efek antiinflamasi. xantin oksidase atau alopurinol, bekerja

2) Inhibitor

menurunkan produksi asam urat dan meningkatkan pembentukan xantin serta hipoxantin dengan cara

menghambat enzim xantin oksidase. Indikasinya adalah pasien dengan produksi asam urat yang berlebihan, baik primer maupun sekunder, nefropati yang asli disebabkan asam urat, batu urat, tofi gout, dan pasien yang tidak responsive dengan pengobatan urikosurik. Tidak diberikan pada pasien hiperurisemia asimtomatik. Efek samping paling sering adalah pencetusan serangan gout akut. Kontraindkasi hanya untuk pasien dengan riwayat hipersensitif dengan gejala rash pruritus. Pada pasien hipersensitif ini dapat terjadi nekrolisis epidermal toksik yang fatal. Alopurinol diberikan dengan dosis awal 100 mg/hari selama 1 minggu. Dosis dinaikkan bila asam urat serum tetap tinggi. Biasanya diperlukan dosis per hari 200-300 mg. Terkadang dapat digunakan bersama obat urikosurik. Aropurinol akan meningkatkan waktu paruh probenesid, sementara probenesid meningkatkan ekskresi oropurinol. Oleh karena itu, alupurinol harus diberikan dalam dosis sedikit lebih tinggi sedangkan dosis probenesid lebih rendah.

2.6

Prognosis Tanpa terapi yang adekuat, serangan dapat berlangsung berhari hari,

bahkan beberapa minggu. Periode asimtomatik akan memendek apabila penyakit menjadi progresif. Semakin muda usia pasien pada saat mulainya penyakit, maka semakin besar kemungkinan menjadi progresif. Arthritis tofi kronik terjadi setelah serangan akut berulang tanpa terapi yang adekuat.pada pasien gout ditemukan peningkatan insidens hipertensi, penyakit ginjal, diabetes mellitus, hipertrigliseridema, dan aterosklerosis. Penyebabnya belum diketahui.

10

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GOUT

3.1

Pengkajian a. b. Identitas pasien. Keluhan utama. Nyeri pada daerah persendian. c. Riwayat kesehatan. Riwayat adanya faktor resiko : - Peningkatan kadar asam urat serum. - Riwayat keluarga positif. d. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajin fungsi muskuluskletal dapat menunjukan : - Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi. - Tofu dengan gout kronis. Ini temuan paling bermakna. - Laporan episode serangan gout. e. Pemeriksaan diagnostik. - Kadar asam urat serum meningkat. - Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat. - Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat. - Analisis cairan sinovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis. - Sinar X sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi.

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan kristal pada membrane sinovia, tulang rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
11

2. Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi sinovia, dan pembentukan panus. 3. Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk kakidan terbenuknya tofus. 4. Perubahan pola tidur b.d nyeri.

3.3 Rencana Dan Implementasi Keperawatan

Dx. I : Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane sinovia, tulang rawan arikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus. Tujuan keperawatan Kriteria hasil : :Nyeri berkurang, hilang, teratasi.

Klien melaporkan penelusuran nyeri. menunjukan perilaku yang lebiih rileks. memperagakan keterampilan reduksi nyeri. Skala nyeri 0 1 atau teratasi.

3.4 Intervensi

Rasional Mandiri

Kaji lokasi, intensitas,an tipe nyeri. Observasi kemajuan nyeri ke daerah yang baru. Kaji nyeri dengan skala0 4. Bantu klien dalam mengidentifikasi factor pencetus. Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri nonfamakologi dan non invasif. Ajarkan relaksasi: teknik terkait ketegangan otot rangka yang dapat mengurangi intensitas nyeri. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. Tingkatkan pengetahuaan tentang penyebab nyeri dan hubungan dengan berapa lama nyeri akan berlangsung.nHindarkan klien meminum alcohol, kafein, dan obat diuretik.

12

3.5 Kolaborasi Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian alopurinol Nyeri merupakan respon subjektif yangbdapat dikaji dengan menggunakan skala nyeri. Klien melaporkan nyeri biasanya di atas tingkat cedera. Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan dan peradangan pada sendi. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan farmakologilain menunjukan keefektifan dalam mengurangi nyeri. Akan melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen pada jaringan terpenuhi dan mengurangi nyeri. Mengalikan perhatian klien terhadap nyeri ke hal yang menyenangkan. pegetahuan tersebut membatu mengurangi nyeri dan dapat menbatumeningkatkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik pemakaian alkohol, kafein, dan obat-obatan diuretik akan menambah peningkatan kadar asam urat dalam serum. Alopurinol menghambat biosentesis asam urat sehingga menurunkan kadar asam urat serum.

Dx. II : Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi sinovia, dan pembentukan panus. Tujuan keperawatan dengan Kreteria hasil : : klien mampu melaksanakan aktifitas fisik sesuai kemampuannya.

o klien ikut dalam program latihan o tidak mengalami kontraktur sendi o kekuatan otot bertambah o klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas dan

mempertahankan koordinasi optimal.

13

3.6 Intervensi

Rasional Mandiri

Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan. Ajarkan klien melakukan latihan gerak aktif pada ekstermitas yang tidak sakit.

Bantu klien melakukan latihan ROM dan perawatan diri sesuai toleransi. Pantau kemajuan dan perkembangan kemamapuan klien dalam melakukan aktifitas

3.7 Kolaborasi Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien. Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktifitas. Gerakan aktif memberi masa tonus, dan kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan. Untuk mempertahankan fleksibilitas sendi sesuai kemampauan. Untuk mendeteksi perkembangan klien. Kemampuan mobilisasi ekstermitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi.

Dk. III : Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk kaki dan terbenuknya Tujuan perawatan Kriteria hasil : : Citra diri klien meningkat tofus.

Klien mampu mengatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang terjadi.

mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi mengakui dan menggabungkan perubhan dalam konsep diri dengan cara yang Akurat tanpa merasakan harga dirinya negatif.

14

3.8 Kolaborasi o Menetukan bantuan individual dalm menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi Kolaborasi denagn ahli neuropsikologi dan konseling bila da indikasi. o o o o o o Membantu klien melihat bahwa peraat menerima kedua bagian dari seluruh tubuh dan mulai menerima situasi baru. Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan. Menghidupkan kembali perasaan mandiri dn membatu

perkemabangan harga diri serta memengaruhi proses rehabilitasi. Dukungan perawat kepada klien dapat meningkat kan rasa percaya diri klien. Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan memahami peran individu dimasa mendatang. Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk

perkembangan perasaan.

DK

IV

:Perubahan

Pola

Tidur

b/d

Nyeri.

Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur.

3.9 Intervensi

Rasional

Tentukan kebiasaan tidurnya dan perubahan saat tidur. Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam pola lama dan lingkungan baru. Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat dan massage. Gunakan pagar tempat tidur sesuai indikasi ; rendahkan tempat tidur jika memungkinkan.

Kolaborasi dalam pemberian obat sedative, hipnotik sesuai dengan indikasi.

15

Mengkaji pola tidurnya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat. Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang berhubungan dapat berkurang

Membantu menginduksi tidur Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran dan tinggi tempat tidur, memberikan kenyamanan pagar tempat untuk membantu mengubah posisi.

Tidur tanpa gangguan lebih menim- bulkan rasa segar, dan pasien mungkin tidak mampu untuk kembali ke tempat tidur bila terbangun. Di berikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat.

3.10 Evaluasi

Hasil akhir yang diharapkan pada asuhan keperawatan klien gout adalah sebagai berikut : 1) Nyeri berkurang atau terjadi perbaikan tingkat kenyamanan. 2) Meningkatkan atau mempertahankan tingkat mobilitas. 3) Mengalami perbaikan citra diri. 4) Kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi.

16

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian tengah. Artritis pirai (gout) merupakan suatu sindrom klinik sebagai deposit kristal asam urat di daerah persendian yang menyebabkan terjadinya serangan inflamasi akut.Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit / penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan Kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal. Arthritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi nonbakterial yang bersifat sistemik, progresif, cenderung kronis yang menyerang beberapa sistem organ, dan paling sering ditemukan di sendi.Penyebab Artritis reumatoid masih belum diketahui secara pasti walaupun banyak hal mengenai patologis penyakit ini telah terungkap. Penyakit Artritis reumatoid belum dapat dipastikan mempunyai hubungan dengan factor genetik . namun, berbagai faktor (termasuk kecenderungan genetik) bisa mempengaruhi reaksi antoimun. Faktor faktor yang berperan antara lain adalah jenis kelamin, infeksi, keturunan dan lingkungan. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit Artritis reumatoid adalah jenis kelamin, keturunan, lingkungan, dan infeksi.

4.2

Saran

Diharapkan mahasiswa dapat memahami materi yang telah kami susun ini, dan dapat menginterpretasikan di dalam melakukan tindakan keperawatan dalam praktik, khususnya pada pasien yang menagalami gangguan sistem

17

muskuloskeletal, Gout dan Rheumatoid Arthritis, dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang sesuai.

18

DAFTAR PUSTAKA Lukman, Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jilid 1.Jakarta : Salemba Medika.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Aajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal. Cet.1. Jakarta : EGC.

Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Ed.6 ; Cet.1 ; Jil.II. Jakarta : EGC.

Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Cet. 1.Yogyakarta : Graha Ilmu. Suratun. 2008. Asuhan Keperawatan Klein Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Cet. 1.Jakarta : EGC.

Syaifiddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Ed.3 ; Cet. 1. Jakarta : EGC.

19