Anda di halaman 1dari 8

Essay Yang Berhubungan Dengan Efektivitas Gastric Lavage Pada Kasus Keracunan Organofosfat Akut Di Igd

Oleh: Nurul Hidayati PR

PENDAHULUAN Pestisida adalah zat yang digunakan untuk membunuh dan membasmi serangga. Penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat mengakibatkan efek samping keracunan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan terdapat 64.893 kasus keracunan pestisida setiap tahunnya. (Raini Mariana, 2007) Salah satu jenis pestisida yang sering menimbulkan keracunan adalah pestisida jenis organofosfat. Pestisida organofosfat banyak menimbulkan masalah terutama di daerah pedesaan di negara negara berkembang. Dimana diperkirakan pestisida organofosfat telah membunuh 200.000 orang didunia setiap tahunnya. ( Edlleston Michael et al, 2008 ) Sedangkan di indonesia pada tahun 1996 data Departemen Kesehatan tentang monitoring keracunan pestisida organofosfat dan karbamat pada petani penjamah Pestisida organofosfat dan karbamat di 27 provinsi Indonesia

menunjukkan 61,82% petani mempunyai aktivitas kolinesterase normal, 1,3% keracunan berat, 9,98% keracunan sedang dan 26,89% keracunan ringan. (Raini Mariana, 2007) Gastric lavage adalah salah satu treatmen yang bisa dilakukan untuk menolong orang dengan kasus keracunan pestisida organofosfat sebagai cara dekontaminasi lambung. Akan tetapi masih banyak perdebatan keefektivitasan gastric lavage karena komplikasi yang mungkin muncul dan kemungkinan sembuh yang sedikit. ( Edlleston Michael et al, 2004 )

TINJAUAN KONSEP Definisi Organofosfat Organofosfat adalah senyawa atau komponen yang biasa digunakan sebagai pestisida, herbisida dan agen kimia lain yang dapat merusak syaraf dalam bentuk gas. ( Paudyal, 2008 ) Organofosfa adalah insektisida ester asam fosfat atau tiofosfat. Merupakan racun pembasmi serangga yang paling toksisk secara akut terhadap hewan bertulang belakang termasuk mamalia. ( Raini Mariana, 2007 ) Jalan Masuk Pestisida Pestisida dapat masuk kedalam tubuh melalui kulit (dermal), pernafasan (inhalasi) atau mulut (oral). Pestisida akan segera diabsorpsi jika kontak melalui kulit atau mata. Absorpsi ini akan terus berlangsung selama pestisida masih ada pada kulit. Kecepatan absorpsi berbeda pada tiap bagian tubuh. Perpindahan residu pestisida dan suatu bagian tubuh kebagian lain sangat mudah. Jika hal ini terjadi maka akan menambah potensi keracunan. Residu dapat pindah dari tangan kedahi yang berkeringat atau daerah genital. Pada daerah ini kecepatan absorpsi sangat tinggi sehingga dapat lebih berbahaya dari pada tertelan. Paparan melalui oral dapat berakibat serius, luka berat atau bahkan kematian jika tertelan. Pestisida dapat tertelan karena kecelakaan, kelalaian atau dengan sengaja. ( Raini Mariana, 2007 ) Mekanisme Toxic Organofosfat Mekanisme racun organofosfat berawal dari adanya inhibisi yang irreversibel dari asetilkolinestarase maupun posporilasi dari enzime yang aktif. Hal ini menyebabkan akumulasi pada asetilkolin yang selanjutnya menyebabkan over aktifasi pada reseptor kolinergik di neuromuskular junktion di sistem saraf otonom dan sistem syaraf pusat. ( Paudyal, 2008 ) Pestisida golongan organofosfat dan karbamat memiliki aktivitas

antikolinesterase seperti halnya fisostigmin, neostigmin, piridostigmin, distigmin, esterasamfosfat, estertiofosfat dan karbamat. Cara kerja semua jenis pestisida organofosfat dan karbamat sama yaitu menghambat penyaluran impuls saraf dengan cara mengikat kolinesterase, sehingga tidak terjadi hidrolisis asetilkolin. ( Raini Mariana, 2007 )

Uji Cholinesterase Salah satu cara untuk mendiagosa kebenaran terjadinya keracunan organofosfat adalah dengan cara menguji kadar cholinestarase dalam darah. Pengujian kadar cholinestarase bertujuan untuk mendapatkan gambaran pestisida pada seseorang sehingga dapat menentukan intervensi yang spesifik. ( Edlleston Michael at al, 2008 ) Penurunan aktivitas kolinesterase hingga menjadi 60% akan

menyebabkan timbulnya gejala yang tidak spesifik seperti pusing, mual, lemah, sakit dada dan Iain-lain. Pada umumnya gejala dan kelainan neurologik muncul setelah terjadinya penghambatan 50% atau lebih aktivitas kolinesterase. Menurut WHO, penurunan aktivitasi kolinesterase sebesar 30% dari normal Menunjukkan telah terjadi pemaparan organofosfat dan petani perlu

diistirahatkan hingga kadar kolinesterase normal. Aktivitaskolinesterase ini tergantung dari kadar kolinesterase yang aktif dalam darah. ( Raini Mariana, 2007 )

( Edlleston Michael at al, 2008 )

Gejala Keracunan Organofosfat Lelah, sakit kepala, pusing, hilang selera makan, mual, kejang perut, diare, penglihatan kabur, keluar: airmata, keringat, air liur berlebih, tremor, pupil mengecil, denyut jantung lambat, kejang otot (kedutan), tidak sanggup berjalan, rasa tidak nyaman dan sesak, buang air besar dan kecil tidak terkontrol, inkontinensi, tidak sadar dan kejang-kejang. ( Raini Mariana, 2007 )

Pengobatan Menurut Paudyal, 2008. Ada 2 macam threatment yang diberikan dalam kondisi kegawatan. Yaitu general suportiv threatment dan pemberian atropin. General suportiv threatment Dalam situasi kegawatan atau emergency, prinsip penanganan yang dilakukan pada pasien keracunan hampir sama dengan kegawatan pada kasus lain. Yaitu menkaji secara cepat airway, breathing, dan sirkusi. Pada pasien yang tidak sadar dan muntah, posisikan dalam posisi lateral. Kepala di bawah dengan leher ekstensi untuk mencegah terjadinta aspirasi. Kepatenan airway harus tetap dipertahankan. Gunakan endotracheal intubasi bila perlu pada kondisi pasien yang tidak berespon atau tidak sadar. Jangan lupa untuk mengecek dan memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh. Jauhkan benda-benda terdekat yang juga terkontaminasi racun dari pasien, misalnya pakaian pasien. Lalu segera bilas dengan sabun dan air bersih pada kulit yang kemungkinan besar terpapar racun. Mencegah terjadinya penyerapan racun organofosfat melalui pori-pori kulit. Gastric lavage atau kumbah lambung dilakukan pada pasien yang mengalami keracunan organofosfat pada saluran pencernaan tidak lebih dari 2 jam. Hal ini mungkin bisa menolong atau mencegah terjadinya penyerapan racun melalui saluran pencernaan. Namun dalam hal ini kumbah lambung yang dilakukan manual dengan cara merangsang atau menstimulasi terjadinya muntah dengan cara meminumkan air sabun atau zat lainnya sangat tidak disarankan karena sangat merugikan. Resiko yang mungkin terjadi karena gastric lavage adalah hipoksia, spasme otot-otot laring dan gangguan pada sistem airway.

Atropin Atropin merupakan pengobatan yang sudah dilakukan sejak lama karena memberikan efek yang cukup jelas pada sesitem syaraf. Ada banyak variasi dosis atropin dari berbagai macam sumber. Salah satunya adalah jika terdapat tanda-tanda sebagai berikut : o o o o o HR > 80x/mnt Dilatasi pupil Ketiak kering Tekanan darah systole > 80 mmHg Kemungkinan adanya tanda-tanda wheezing pada suara nafas

Kita bisa memberikan 3-5 ampul atropin secara bolus dengan tiap ampulnya mengandung 0.6 mg atropin.

PEMBAHASAN Pada wilayah tertentu misalnya cina, gastric lavage merupakan intervensi pertama yang dilakukan di rumah sakit akan tetapi dengan indikasi dan aturan tertentu. Gastric lavage harus segera dilakukan pada pasien dengan keracunan organofosfat pada sistem pencernaan 1-2 jam setelah mengalami keracunan. kondisi pasien pun sudah dirumah sakit, dan sudah dalam keadaan stabil ABC nya. Pasien juga harus dalam kondisi sadar karena tindakan

memerlukanpersetujuan untuk mengurangi terjadinya kesalahpahaman akan komplikasi yang terjadi.

Gastric lavage dilakukan setelah pasien selesai dilakukan resusitasi dan antidot. Kondisi pasien harus sudah stabil dan sudah dilakukan pemberian oksigen yang mencukupi, pengobatan dengan atropi dan oxime. Selain itu gastric lavage tidak boleh dilakukan dengan cara manual melainkan harus dengan petunjuk-petunjuk yang jelas dan standard operasional yang sesuai. Keefektivan gastric lavage memang belum dapat di bahas secara keseluruhan dan masih harus dipelajari. Akan tetapi tak ada yang mengetahui dan dapat memperkirakan seberapa banyak racun masuk kedalam saluran pencernaan dan akan tersarap kedalam aliran darah tubuh manusia. Oleh karena itulah ada banyak peneliti sepakat melakukan gastric lavage sesegera mungkin setelah terjadi keracunan untuk mencegah hal-hal lain yang lebih buruk. ( Edlleston Michael at al, 2008 ) PENUTUP Kesimpulan Keracuna pestisida organofosfat merupakan kasus kegawatan yang

berbahaya, karena organofosfat dapat diabsorbsi di seluruh bagian tubuh dan memiliki kecepatan berbeda pada masing-masing bagian tubuh yang efeknya akan segera memblokade sistem syaraf. Ada 2 macam terapi yang bisa dilakukan yaitu general suportiv threatment dan pemberian atropin. Pemberian tindakan gastric lavage masuk dalam general suportiv threatment. Meskipun keefektifan kumbah lambung belum dapat dijelaskan dengan jelas, tetapi dapat diambil kesimpulan bahwa bila gastric lavage merupakan pilihan utama yang harus dilakukan maka harus dilakukan denga aturan dan tekhnik yang tepat. Dilakukan sesegera mungkin, pastikan ABC pasien sudah terpenuhi, pasien sudah stabil, sudah dilakukan tindakan-tindakan intensiv seperti resusitasi, pemberian antidot, oksigen, atropin dan tentunya mendapat persetujuan dilakukannya tindakan. Saran o Untuk tenaga kesehatan agar lebih berhati-hati dalam

menentukan intervensi. Jika gastric lavage merupakan pilihan utama maka kita harus melakukan sesuai standart yang baik. o Untuk mahasiswa keperawatan agar lebih banyak menggali halhal yang berhubungan dengan gastric lavage, karena seperti yang

telah diketahui sebenarnya gastric lavage memiliki perana penting untuk dilakukan akan tetapi masih perlu di pelajari lagi bagaimana tingkat efektivitasnya. o Untuk masyarakat umum lebih-lebih yang bekerja dilingkuangan yang berhubungan dengan pestisida organofosfat agar lebih berhati-hati dalam bekerja, menggunakan alat pelinding diri yang sesuai untuk mencegah terjadinya keracunan.

REFERENSI 1. Eddleston Michael, Buckley A Nick, Eyer Peter at al. Management of Acute Organophosphorus Pesticide Poisoning. Jurnal of thelance.com Vol 371 February 16, 2008 2. Paudyal. Organophosphorus Poisoning. Jurnal of J Nepal Med Assoc 2008;47(172):251-8 3. Raini Mariana. Toksikologi Pestisida Dan Penanganan Akibat Keracunan Pestisida. Jurnal dari Media Litbang Kesehatan Volume XVII Nomor 3 Tahun 2007