Anda di halaman 1dari 14

TENTIR BIOKIMIA MODUL MUSKULOSKELETAL

SIE PEND FARMAKOLOGI DAN BIOKIMIA 2010

METABOLISME OTOT Otot Jenis otot secara histologis terbagi memnjadi 3, yaitu otot skelet (rangka), otot polos dan otot jantung. Dan secara umum kontraksi setiap otot tergantung pada protein aktin dan myosin (dalam hal ini yang berperan adalah myosin tipe II) yang ada di dalam otot.

Untuk gambar diatas ini mungkin udah nggak asing lagi kan???, itu adalah gambaran histologi jaringan otot rangka. Berhubung sudah dibahas di histoo, jadi yang dibahas struktur kimianya saja yaa... Otot terdiri dari banyak fasikula (fasikulus), kemudian di dalam fasikula ada yang namanya serat otot yang juga merupakan tempat melekatnya nucleus. Nahh dalam serat otot ada yang namanya myofibril yang jumlahnya banyak untuk satu serat otot. Myofibril ini (yang di dalam gambar kotak berwarnma biru) terdiri dari banyak

sarkomer. Satu sarkomer terletak di antara 2 garis Z, dan setiap sarkomer memiliki area terang (pita I {isotrop} yang banyak mengandung protein aktin {pada gambar warna kuning}) dan area gelap (pita A {anisotrop} yang banyak mengandung protein myosin{pada gambar warna merah} dan tambahan untuk pada otot myosin yang berperan adalah myosin tipe II). Pada filament aktin ada/terdapat troponin dan tropomyosin yang keduanya berpengaruh pada pergerakan otot( itu dari filament aktin aja yaa..). kemudian pada filament myosin terdapat banyak molekul myosin. Nah untuk satu molekul myosin terdiri dari bagian ekor, 2 subunit kecil dan 2 kepala globuler yang mengandung NH3 (lihat aja gambarnya pasti tahu, hhe..)
+

Mekanisme kontraksi pada otot Fase yang pertama adalah fase inisial. Pada fase ini, kepala myosin melekat pada aktin. Nah, ketika ATP terikat, kepala myosin tersebut melepaskan diri dari aktin (efek plastisitas ATP). Setelah itu, kepala myosin menghidrolisis ikatan ATP menjadi ADP dan Pi, tapi awalnya menahan kedua produk reaksi tersebut. Pembelahan ATP menyebabkan ketegangan alosterik di kepala myosin. Lalu kepala myosin membentuk ikatan baru dengan molekul aktin tetangga (di tempat lain yang dekat).

Selanjutnya aktin ini menyebabkan pelepasan Pi, dan tak lama kemudian ADP juga dirillis. Ini mengubah ketegangan alosterik di kepala myosin menjadi perubahan konformasi yang bertindak seperti gaya mengayuh.

Pengaturan kontraksi otot A. NEUROMUSCULAR JUNCTION (slide 6 n 7)

setiap satu otot rangka dipersarafi oleh serabut saraf besar dan bermielin yang berasal dari motor neuron besar pada kornu anterior medulla spinalis. Setiap ujung-ujung saraf itu akan membentuk junction atau taut dengan otot (bayangin otot itu (cowok) n saraf itu (cewek) pegangan tangan). Nah, taut/junction (cowok cewek yang pegangan tangan) itulah yang dinamakan Neuromuscular Junction. Hehe.. Ok.. lanjut.. (ada api pasti ada asap *asap ya bukan asep. Nah, seperti peribahasa tersebut, Jika ada stimulus maka akan terjadi potensial aksi dengan syarat stimulus tersebut harus mencapai ambang rangsang). Potensial aksi ini berasal dari motor neuron dan dihantarkan sampai terminal akson. Jika, potensial aksi sampai ke terminal akson, maka akan mengaktifkan Ca2+ voltage gated channel, sehingga kalsium akan masuk ke dalam terminal akson dan menyebabkan pecahnya vesikel-vesikel neurotransmitter sehingga terjadilah eksositosis (pengeluaran) neurotransmitter. Neurotransmitter yang berperan dalam kontraksi otot rangka adalah asetilkolin. Asetilkolin akan berdifusi kedalam celah sinaps dan berikatan dengan reseptor nikotinik di permukaan plasma membran (sarkolemma). Nah akibat peristiwa ini, terbukalah kanal ion. Jadi ion Na+ jadi bisa masuk dan terjadilah kontraksi otot.

B. RETIKULUM SARKOPLASMA (slide 8,9) Saat fase istirahat konsentrasi Ca2+ dalam sarkoplasma sangat rendah, dan didalam Retikulum Sarkoplasma jauh lebih tinggi. hal ini terjadi karena didalam Retikulum

sarkoplasma punya enzim Ca2+ transporting ATP-ase dan enzim caksequestrin yang sifatnya mudah berikatan dengan Ca2+ (sepertinya cinta caksequestrin dengan Ca2+ sudah terlampau besar ya.. hmm..) Adanya Potensial aksi membuat Ca2+ dapat masuk ke dalam sarkoplasma. Proses ini awalnya terjadi karena transfer potensial aksi ke dalam Retikulum Sarkoplasma melalui T-tubules. Akibatnya, canal Ca2+ di Retikulum sarkoplasma terbuka dan Ca2+ dalam dalam Sarkoplasma Retikulum Sarkoplasma dilepaskan. Akhirnya, konsentrasi Ca2+ meningkat, dan terjadilah kontraksi otot.

C. Pengaturan oleh Calcium (slide 10,11)

Pada saat otot Relaksasi, troponin & tropomyosin mencegah interaksi aktin & myosin head. Perlu diketahui temen (cak ile) Tropomiosin adalah suatu molekul fibrosa yang terdiri dari dua rantai alfa dan beta. Troponin adalah molekul yang terdiri dari 3 polipeptida. Troponin terbagi menjadi 3 subunit (T,C,I). (liat gambar) Troponin T : mengikat tropomiosin dan dua komponen troponin lainnya. Troponin I : menghambat interaksi F-aktin-miosin dan juga mengikat komponen-komponen troponin lain. Troponin C : adalah polipeptida pengikat-kalsium penting yang secara struktural dab fungsional analog dengan kalmodulin (suatu protein pengikat-kalsium penting yang tersebar luas di alam) Pelepasan Ca2+ dari Retikulum Sarkoplasma ke dalam sarkoplasma diikat oleh Troponin subunit C. Kompleks troponin dan tropomiosin yang sebelumnya menghalangi pertemuan aktin dan myosin akan terbuka (luluh akhirnya si troponin.. horee.. kalsium memang mak comblang sejati. Hho.) dan akhirnya aktin dan myosin akan bertemu dan saling menempel (akhirnya mereka dipertemukan.. hhu) sehingga terjadi inisiasi kontraksi. Saat Kontraksi selesai, Ca2+ masuk kembali ke dalam Retikulum Sarkoplasma melalui transpor aktif.

PROSES KONTRAKSI OTOT Nah, ini rangkuman tahap-tahap yang terjadi waktu proses kontraksi otot : 1. Sarkolema terdepolarisasi. Awalnya, sarkolema (membran sel otot) tereksitasi oleh potensial aksi yang berasal dari motor-end plate. 2. Potensial aksi tadi kemudian disalurkan ke dalam tubulus pengeluaran Ca Calsequestrin). 3. Kanal Ca2+ terbuka, Ca2+ yang bebas kemudian lari ke sarkoplasma. Konsentrasi Ca2+ yang awalnya dibawah 10-7 mol/L langsung naik hingga 10-5 mol/L. 4. Tempat-tempat pengikatan Ca2+ di TpC dengan cepat diisi oleh Ca2+. TpC lalu berinteraksi dengan teman-temannya, TpI dan TpT, untuk mengubah konformasi. 5. Troponin mengakibatkan tropomiosin bergeser, jadi kepala miosin bisa terikat ke aktin. Dimulai deh siklus kontraksinya.
2+

T dan kanal

pada Retikulum Sarkoplasma (masih ingat nggak kenapa Ca2+

numpuknya di RS? Yap, karena si Ca2+ tuh terikat dengan protein pengikatnya si

KONTRAKSI BERHENTI 1. Relaksasi terjadi jika kadar Ca2+ pada sarkoplasma turun sampai di bawah 10-7 mol/L akibat pompa balik Ca2+ ke dalam RS oleh Ca2+ ATPase. 2. Akibatnya, TpC kehilangan Ca2+, terjadi perubahan konformasi balik ke posisi semula dimana Troponin dan Tropomiosin akan menghambat ikatan antara kepala miosin dan aktin. 3. Dengan adanya ATP, kepala miosin akan terlepas dari aktin. Berhentilah kontraksinya..

METABOLISME OTOT Ada 2 tipe serat otot rangka, red fiber (Tipe I, kedut lambat) dan white fiber (tipe II, kedut cepat). Serabut tipe I tampak merah karena mengandung mioglobin yang berfungsi untuk menyimpan oksigen pada gugus heme, berbeda dengan serabut tipe II yang tidak memiliki mioglobin. Perbedaan secara lengkap ada pada tabel berikut RED FIBER (TYPE I) Kerja lambat, mempertahankan kontraksi yang relatif menetap Metabolisme sebagian besar aerob Tergantung suplai O2 Sumber ATP dari asam lemak ( dipecah melalui -oxidation, the tricarboxylic acid cycle, and the respiratory Chain ) dan glukosa darah Mengandung banyak mioglobin WHITE FIBER (TYPE II) Kerja cepat, kontraksi kuat Aerob dan anaerob Tidak tergantung supply O2 Sumber ATP berasal dari glikolisis anaerob (pemecahan glikogen) Menghasilkan laktat

Proporsi kedua tipe serabut bervariasi di antara otot tubuh, bergantung pada fungsi dan latihan. Diagram perbandingan metabolisme energinya silahkan dipahami sendiri ya teman-teman, diliatin doang juga gapapa kok.. ^^

METABOLISME CREATIN Creatine atau yang nama lainnya N-methylguanidoacetic acid berserta bentuk phosporilatednya si creatin fosfat berguna sebagai buffer ATP, istilahnya mempertahankan jumlah ATP pada metabolisme otot, yah namanya juga buffer hehee..ok lanjut..potensi kimia dari CP dan ATP ini sama jadi sama2 dapat di ubah menjadi ADP untuk kebutuhan energi, karna merupakan buffer ATP maka jika terjadi kelebihan ATP maka Creatin bersama ATP akan membentuk creatin fosfat yang dikatalisir oleh creatin kinase (ada kinase2nya brarti ini enzim) Pada saat kelaparan ternyata tubuh kita menggunakan protein untuk menghasilkan energi, jadi pertama-tama protein ini di pecah menjadi asam amino kemudian dibawa ke hati, nah di dalam hati ini kerangka2 karbon dari asam amino ini dikonversi atau di ubah menjadi bahan pembentuk energy dengan melalui siklus asam trikarboksilat sebagai perantaranya, setelah itu metabolit amphibolic tersedia untuk metabolisme energy dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari bahan yng bukan glukosa, ingat genesis artinya penciptaan). Tapi tidak selamanya tubuh akan menggunakan protein untuk menghasilkan energi, karna protein juga terbatas dalam tubuh, sehingga jika kelaparannya berlanjut otak akan mengganti protein menjadi benda keton untk penghasil

energi. Untuk sintetis dan degradasi protein otot ada yang mengaturnya, yaitu hormon testosteron dan kortisol, kedua hormon ini bekerja secara antagonis, kortisol mendegradasi protein otot, sedangkan testosteron mensintesis protein otot, itulah kenapa laki2 trlihat lebih berotot meskipun tdk pernah latihan dibandingkan dengan perempuan hahaah.. anabolic sintetis mirip dengan testosteron biasa digunakan oleh para atlet, entah itu utk pembentukan otot atau pun mendapatkan tenaga yang ekstra..

Nah bisa d lihat pada gambar di atas, kalo lapar maka tubuh akan menggunakan protein, trus tanda panah testosteron dan cortisol itu menunjukan sintesis dan degradasi protein, asam amino yang di pakai bkan cman dari otot saja, tapi bsa juga dari darah, lihat yang kotak biru itu, itu menunjukan hanya kerangka karbonnya aja yang d pake, sedangkan NH2 nya utuk sintesis asam amino lagi, setelah melalui suatu siklus maka bahannya sudah siap utk pembentukan energi dan glukoneogenesis..

METABOLISME KALSIUM A. Fungsi Kalsium dalam lingkup Muskuloskeletal (slide 2) 1. Fungsi sebagai penunjang Kalsium sama fosfat yang mengedap dan terpolimerasi akan terbentuk hidroksiapatit (zat penyusun kekuatan tulang) 2. Fungsi kontraktil (sebagai bagian dari alat gerak) kalsium sebagai mak comblang aktin n myosin. Hehe.. membantu terbukanya kompleks troponin-tropomiosin, sehingga aktin dan myosin dapat bertemu dan menyebabkan kontraksi otot 3. Fungsi konduktibilitas impuls berperan dalam proses transmisi impuls saraf, yaitu membuka vesikel neurotransmitter untuk di eksositosis dari terminal akson dan kemudian diterima oleh reseptor pada sarkolemma. 4. Fungsi umum intrasel sebagai caraka ke 2 (2nd messenger) peran kalsium dalam kontraksi otot 5. sebagai kofaktor berbagai protein/E dapat jalankan fungsi biologis contoh : Ikatan antara kalsium dan kalmodulin berperan penting dalam mengaktivasi berbagai enzim yang penting untuk fisiologis tubuh. B. Apabila fungsi diatas dihubungkan dengan jaringan penyusun sistem musculoskeletal, maka : (slide 3) 1. Fungsi penunjang : tulang & rawan 2. Fungsi kontraktil/lokomosi : otot 3. Fungsi konduktibilitas : saraf 4. Fungsi umum caraka 2 (second messenger) : ditemukan pada seluruh sel tubuh C. Fungsi sebagai kofaktor : (slide 4) 1. Di luar sel : kalsium berfungsi dalam penggumpalan darah serta aktivasi komplemen (C) 2. Di dalam sel : berbagai protein intrasel untuk dapat laksanakan berbagai fungsinya memerlukan Ca2+ (ex. Kalmodulin) Peran penunjang dari Ca Sebagai penunjang, Ca2+ terutama berperan dalam tulang dan tulang rawan. Dalam menjalankan fungsi penunjangnya, Ca2+ berada dalam bentuk garam fosfat yaitu Ca3(PO4)2. Kristal kalsium fosfat sangat keras, sehingga mampu menahan tekanan dalam arah sejajar dengan sumbu tulang. Bukti yang nampak adalah gigi (walau bukan bagian musculoskeletal, kata slidenyaa, hhe).

Sistem alat gerak dan Kalsium Gerak membedakan hewan dengan tumbuhan (walaupun tumbuhan bergerak tapi bukan gerakan aktif). Gerak dapat berarti sebagai perubahan orientasi (perpindahan kedudukan). Untuk dapat bergerak atau menggerakkan massa, perlu didukung (secara pasif dan aktif) oleh sesuatu yaitu pastinya penggerak donk. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa yang berperan pada gerak secara aktif adalah otot, dan yang berperan secara pasif adalah tulang (rangka). Rangka tidak dapat digerakkan bila hanya sendiri (tunggal), maka dari itu memerlukan tulang yang lain. Tulang ada beberapa bagian yang bebas satu sama lain dan ada pula yang disambungkan. Nama sambungannya itu adalah sendi. Untuk mendukung gerak tersebut rangka (tulang) harus keras dan kuat. Sifat ini (keras dan kuat) dimanfaatkan pula untuk melindungi alat-alat dalam tubuh (organ) bagian dalam yang lunak dan sangat penting. REMODELLING TULANG Pengendapan tulang dan resorpsi tulang dalam keadaan normal berlangsung bersamaan sehingga tulang terus-menerus mengalami remodelling. Remodelling ini ternyata punya 2 tujuan: (1) menjaga tulang agar tetap efektif dalam fungsi mekanisnya, dan (2) membantu mempertahankan kadar Ca2+ plasma. Begini prosesnya.. 1. Deposisi dan mobilisasi Ca2+ pada tulang diatur oleh hormon dan hormonelike signaling substances yang dipengaruhi oleh maturasi dan aktivitas dari sel tulang. 2. Osteoblas mengeluarkan matriks organik ekstrasel tempat mengendapnya si kristal hidroksiapatit, dan kolagen tipe I. 3. Osteoklas nggak mau kalah, dia mengsekrekresikan ion H+ untuk melarutkan kristal hidroksiapatit dan collagenase yang akan menguraikan matriks organik yang udah dibuat sama osteoblas. 4. Biarpun fungsinya berlawanan, tapi osteoblas dan osteoklas bisa saling mengaktivasi dengan cara melepaskan sitokin dan Growth Factor, tujuannya agar pengendapan dan resorpsi tulang tetap seimbang. 5. Hormon Ca2+ seperti Calcitriol, Hormon Paratiroid, dan Calcitonin mempengaruhi interaksi antara osteoblas dan osteoklas.

Calcitriol dan Calcitonin mengubah sel prekursor osteoblas (sel stroma pada sumsum tulang) menjadi osteoblas. Hormon paratiroid meningkatkan pelepasan Ca2+ dengan meningkatkan pelepasan sitokin oleh osteoblas. Sitokin akan menstimulasi pembentukan osteoklas dari sel prekursor (makrofag). Calcitonin menghambat proses ini dengan cara meningkatkan pembentukan osteoblas. Estrogen normalnya menghambat stimulasi diferensiasi osteoklas oleh osteoblas. Jadi kalo estrogen turun, jumlah osteoklas akan bertambah banyak sehingga resorpsi tulang lebih besar daripada pembentukannya makanya sering terjadi osteoporosis pada wanita yang udah menopause.

HOMEOSTASIS KALSIUM Metabolisme Ca2+ seimbang pada orang dewasa yang sehat. Kurang lebih dibutuhkan 1 gram kalsium setiap harinya dan tubuh menyerap sekitar 300 mg. Jumlah yang sama akan dieksresikan lagi melalui saluran pengeluaran. Kalsium tubuh dapat dikeluarkan dari tulang dan disimpan dalam tulang. Tulang berperan sebagai reservoir besar yang dapat melepaskan kalsium, bila konsentrasi kalsium ekstrasel/plasma darah berkurang dan menyimpan kalsium bila kelebihan kadar kalsium dalam plasma darah meningkat. Gitu.. hehe.. nah, contoh produk yang banyak kandungan kalsiumnya yaitu susu dan produk susu seperti keju, yoghurt, dsb.. Kadar kalsium di dalam tubuh bisa seimbang juga karena regulasi dari 3 hormon yaitu, Kalsitrol, hormone paratiroid, dan kalsitonin. Kalsitrol dan hormone paratiroid akan bekerja sinergis, sedangkan kalsitonin akan bekerja secara antagonis dengan keduanya.. :D idealnya

di dalam plasma darah, kadar kalsium plasma sekitar 80-100 mg dan di dalam plasma kalsium itu ada ion kalsium yang kadar idealnya sekitar 2,4 mEq/L. (mksudnya terdapat ion kalsium 2,4 mEq dalam setiap 1 liter plasma kalsium)

Peptida hormone paratiroid terdiri dari 84 asam amino. hormon paratiroid dan hormone kalsitrol steroid saling bekerja sama dan akan memicu proses langsung maupun tak langsung peningkatan level Ca2+ di darah. Sedangkan antagonist hormone paratiroid yaitu kalsitonin (terdiri dari 32 asam amino) akan menurunkan level Ca2+ di dalam darah.. *hmm.. namanya aj udah antagonis psti kerjany juga berlawanan.. ok.. hehe.. Proses Homeostasis Kalsium ni.. Nah, Pada saat tubuh pada kondisi hipokalsemia, kadar kalsium turun sehingga rasio Ca:P juga turun (misal 0,5:1). *kan g seimbang tu, klo seimbang Ca : P 1:1. Mekanisme homeostasis pun terjadilah.. jeng-jeng..lanjut :D kelenjar Parathyroid pun mensekresi paratiroid hormon dan ginjal akan mensintesis vitamin D (calcitriol) sebagai respon turunnya kadar kalsium tubuh Mekanisme untuk menaikkan kadar kalsium dalam darah pun

terjadi. Di tulang terjadi pelepasan kalsium dan fosfat, di usus akan terjadi peningkatan absorbsi kalsium dan fosfat. Hasil akhirnya, terjadi peningkatan kadar kalsium dan Fosfat dalam darah (rasio 1:1,5). Nah, ternyata mekanisme tersebut masih belum bisa menyeimbangkan kembali. Keadaan hiperfosfatemia ini diatasi oleh tubuh dengan peningkatan ekskresi phosphat melalui urin. Cuuurrr yah.. pipis deh.. nah, sekarang, Rasio kalsium dan phosphat pun kembali seimbang. Nah lain lagi cerita kalo hiperkalsemia. Jadi, kalsiumnya kebanyakan di dalam ada tubuh ion-ion kalsium ini akan menstimulasi sel-sel C yang terdapat di kelenjar tiroid untuk menghasilkan kalsitonin. hormone kalsitonin bekerja dengan prinsip menghambat osteoklas yang kerjaannya menyerap kalsium tulang untuk diedarkan ke plasma darah dan menghambat penyerapan kalsium di usus dan ginjal, sehingga kalsium dapat dikeluarkan dengan mudah melalui urin.. syurr.. kalsium keluar bersama urin dan kadar kalsium kembali seimbang.. Sekiann.