Anda di halaman 1dari 18

FRISKA DOREENDA PUTRI, S.

KED
70 2009 002
PEMBIMBING :
dr. SEVERINA ADELLA, Sp.OG

BAGIAN KEBIDANAN DAN ILMU PENYAKIT KANDUNGAN


FK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2013

MIOMA UTERI

Definisi
Tumor jinak yang tumbuh di uterus, terdiri terutama otot polos
dengan jaringan penunjang, berbatas tegas tapi tidak
berkapsul
INSIDENS
Insidens terjadinya mioma uteri sebesar 4 11 % daris eluruh
wanita. Mioma uteri berkembang pada usia reproduksi
sehingga wanita pada usia 30 an tahun mempunyai insidens
20 25 % dan akan meningkat menjadi 40 50 % pada usia
40 50 an. Hanya 0.13 % yang terus berkembang pada usia
menopause dimana harus dipikirkan adanya keganasan.
Insidens di Indoensia 2,93 11,7 %. Selain itu pada ras kulit
hitam insidens ini akan meningkat 3 9 kali disbanding ras
kulit putih

MIOMA UTERI

ETIOLOGI
Etiologi yang pasti dari mioma uteri belum diketahui secara pasti
FAKTOR RISIKO
- Ras kulit hitam
ras kulit hitam mempunyai faktor risiko terjadinya mioma uteri 3 - 9 kali lipat
disbanding ras kulit putih.
- Faktor genetik
Hubungan keluarga juga berpengaruh dimana pasien dengan mioma uteri
lebih sering terdapat keluarga yang juga menderita mioma uteri.
- Paritas
Paritas juga merupakan faktor risiko terjadinya mioma uteri, dimana pada
nulipara tua faktor risiko meningkat hingga 5 kali dibandingkan
multipara.
- Obesitas
Wanita obesitas juga mempunyai faktor risiko lebih besar untuk terjadinya
mioma uteri disbanding wanita kurus, hal ini dihubungkan dengan
konversi hormone androgen menjadi hormone estrogen oleh lemak
aromatase.

MIOMA UTERI

PATOGENESIS
Mioma uteri terbukti merupakan suatu tumor uniseluler (monoclonal) yang
dapat tumbuh baik soliter maupun multiple, dan membesar akibat pengaruh
hormone estrogen dan progesterone.
Penelitian menunjukkan bahwa tumor ini berkembang akibat pengaruh
hormone estrogen, dimana diketahui bahwa mioma uteri mempunyai
reseptor estrogen lebih banyak sehingga kosnentrasi estradiol lebih tinggi
20% pada mioma uteri dibandingkan pada uterus normal.
Hormone progesterone juga berpengaruh untuk terjadinya mioma uteri, dimana
akibat hormone progesterone terjadi overexpressed dari messenger dari
asam ribonukleat pada mioma uteri (connexin-43) yaitu suatu gap junction
protein yang dibentuk oleh 17 - estradiol sehingga memicu pembentukan
estrogen lebih banyak dibandingkan uterus normal. Selain itu juga
menunjukkan jumlah sel mitotic yang lebih banyak pada kasus mioma uteri
terutama pada fase proliferasi dari siklus menstruasi. 2,4
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa growth factor termasuk
didalamnya insulin like growth factor (IGF-1) berpengaruh dengan
menstimulasi respon dari tumor ini terhadap hormone seks, tapi cara kerja
yang pasti belum diketahui.2
Meyer mengemukaan asal dari mioma uteri adalah dari sel imatur bukan
selaput otot yang matur.

MIOMA UTERI

PATOLOGI
Mioma uteri umumnya multiple, walaupun dapat juga soliter,
berbentuk lobus yang irregular, mempunyai pseudokapsul dan
dapat dibedakan dari jaringan miometrium dengan mudah. Tumor
ini dapat dengan mudah diangkat dari jaringan miometrium
sekitarnya.
makroskopis tampak berwarna putih kemerahan, warnanya lebih
terang daripada jaringan miometrium, permukaan halus,
konsistensinya dari lunak (bila ada degenerasi kistik), kenyal,
hingga keras membatu (bila ada klasifikasi dan degenerasi
membatu).
Bila massa tumor dibelah terdiri dari berkas otot polos dan jaringan
ikat yang tersusun seperti konde / pusaran air dan disebut whorl
lika pattern dengan pseudokapsul

MIOMA UTERI

mikrokospis selain tampak gambaran whorl lika pattern, tampak selsel yang bergabung menjadi dengan satu seperti gelendong
benang, mempunyai nucleus sel yang memanjang dengan satu
bentuk dan ukuran
Perubahan Sekunder
- Degenerasi atrofi
Terjadi sesudah menopause maupun sesudah kehamilan dimana
ukuran dari massa tumor menjadi mengecil.
- Degenerasi Hialin
Terjadi terutama pada usia lanjut dimana massa tumor kehilangan
struktur aslinya dan bercampur dengan area berwarna kuning,
lunak, dan bersifat seperti gelatin akibat perubahan dari hialin.
- Degenerasi Kistik
Perubahan lebih lanjut dari degenerasi lialin, pada massa tumor
terdapat ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agaragar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan
limfe sehingga menyerupai limfangioma. Akibat konsistensi yang
lunak maka sulit dibedakan dengan kista ovarium.

MIOMA UTERI

Degenerasi membatu (calcareous degeneration)


Terjadi pada usia lanjut terutama pada mioma subserosa, terjadi gangguan
dalam sirkulasi massa tumor dan mengakibatkan adanya endapan
kalsium karbonat dan kalsium fosfat muncul area-area yang mempunyai
konsistensi keras secara radiografis memberikan gambaran honeycomb
appearance atau mulberry appearance, bila kondisi ini berlanjut sehingga
deposit kalsium memenuhi seluruh massa tumor dan konsistensinya menjadi
keras seperti batu disebut sebagai wombstones, sangat mudah dilihat secara
radiografis
Degenerasi Septik
Bila sirkulasi massa tumor menjadi tidak adekuat yang menyebabkan terjadi
nekrosis dari massa tumor pada area utamanya sehingga terjadi infeksi. Diikuti
gejala nyeri akut, nyeri tekan dan febris.
Degenerasi Merah (carneous degeneration)
Terjadi saat kehamilan dan masa nifas. Akibat trombosis dan kongesti dari
vena massa tumor sehingga terjadi nekrosis jaringan tumor, terjadi
penumpukan pigmen hemosiderin dan hemofusin yang memberikan warna
merah pada massa tumor seperti daging mentah. Biasanya disertai nyeri,
massa tumor tampak membesar, nyeri pada perabaan.

Jenis Mioma Uteri :


Intra mural
- 54 %
Subserosum - 48,2 %
Submukosum
- 6,1 %
Intraligamenter
- 4,4 %
( Benson & Pernolls, 2001 )
bentuk lain :
Pedunculated (bertangkai)
Wandering Mioma (parasit)

Simon H. Uterine Fibroids,2000

Gejala Klinis :
- Mungkin tanpa gejala
- Keluhan sangat tergantung dari lokasi, arah pertumbuhan,
jenis, besar dan jumlah mioma.
20-50% mioma menimbulkan keluhan (Hillard- Novaks
2002)
- Rasa penuh / berat pada perut bagian bawah sampai teraba
benjolan yang padat kenyal
- Gangguan haid atau perdarahan abnormal dari uterus
(klasik) : Meno-metroraghi, Kejadian : 44%
- Gangguan akibat penekanan mioma ( dismenore, nyeri perut
bagian bawah, nyeri pinggang (65%), disuria (14%),
inkontenesia urin, retensi urin, konstipasi (13%), edem
tungkai, varises.

Pemeriksaan dan Diagnosis :


Anamnesa riwayat penyakit
Palpasi abdomen : tumor di daerah atas pubis atau abdomen
bagian bawah dengan konsistensi padat-kenyal, berdungkul,
tidak nyeri, berbatas tegas, mobil (jika tidak ada perlekatan).
Pmk bimanual : tumor menyatu atau berhubungan dengan
uterus.
Pemeriksaan dengan sonde uterus (mioma intramural
menyebabkan kavum uterus menjadi luas).

Mioma uteri dengan kehamilan


Bila terjadi kehamilan, maka mioma akan memberikan
masalah lagi yaitu : meningkatnya kejadian abortus (41%),
munculnya his lebih awal atau his yang tidak terkoordinasi,
lahir prematur, obstruksi kanalis servikalis, kelainan letak
bayi serta perdarahan postpartum.
Kehamilan dapat menimbulkan perubahan mioma uteri :
- Mioma membesar ( Tm 1 )
- Degenerasi merah saat hamil dan masa nifas
- Torsi (mioma pedunkulata ) dengan gejala sindrom
abdomen akut

MIOMA UTERI

Mioma uteri hubungannya dengan infertilitas


Kejadian : 27-55%
Mekanisme :
Obstruksi mekanik dari serviks atau tuba
Perubahan pada bentuk kavum uteri (penambahan
panjang uteri)
Iritasi pada mioma akibat perubahan degenerasi
Kontraktilitas uteri terganggu
Gangguan vaskularisasi endometrium dan
gangguan endokrinologi endometrium.

Diagnosis Banding :
Kehamilan
Tumor Solid Ovarium
Adenomiosis ( Endometriosis )
Kanker uterus
Tumor Solid Pelvis non ginekologis
Kelainan bawaan uterus
Pemeriksaan Penunjang :
Dilatasi & Kuretase bertingkat pada penderita yang
disertai dengan perdarahan untuk menyingkirkan
patologi lain pada endometrium (hiperplasi endometrium
atau adenokarsinoma endometrium).
Ultrasonografi (besar, jumlah dan lokasi mioma)
Pemeriksaan patologi anatomi bahan operasi.

Terapi :
Tergantung pada : besar kecilnya mioma, ada tidaknya
keluhan/ komplikasi dan usia + paritas.
Observasi : jika besarnya uterus sama atau kurang dari
ukuran uterus pada kehamilan 12 minggu tanpa disertai
penyulit lain. Pengawasan dilakukan tiap 3 bulan sekali.
Apabila terjadi pembesaran atau timbul komplikasi
dipertimbangkan tindakan operatif.

Bila disertai keluhan/ komplikasi perdarahan :


Koreksi anemia dengan transfusi sampai HB > 10 gr%
Kuretase dikerjakan bila HB > 10 gr% kecuali pada
perdarahan yang profuse.
Tujuan kuret : menghentikan perdarahan & untuk
pemeriksaan patologi anatomi guna menyingkirkan
kemungkinan keganasan atau penyakit lain.
Setelah kuretase, jika tidak ada keganasan tindakan
selanjutnya tergantung usia dan paritas pasien :
Usia < 35 th, pingin anak terapi
konservatif
Usia > 35 th , cukup anak tindakan
operatif

Miomektomi (jika fungsi reproduksi diperlukan dan


secara teknis memungkinkan). Kekambuhan
pasca miomektomi : 15-30% (Benson-Pernoll)
Histerektomi :
Besar tumor > uterus hamil 12 mg ( ada/ tdk keluhan)
Reproduksi tidak diperlukan
Pertumbuhan tumor sangat cepat
Perdarahan yang membahayakan penderita (hemostasis)

Penyulit :
Perdarahan
Anemia
Infeksi
Perlengketan pasca miomektomi
Torsi pada yang bertangkai
Degenerasi merah sampai nekrotik
Degenerasi ganas ( miosarkoma )
Degenerasi hialin dan degenerasi kistik
Infertilitas
Perawatan RS :
Jika ada perdarahan hebat/ anemia gravis
Jika direncanakan operasi