Anda di halaman 1dari 13

KOROSI DAN CARA PENANGGULANGANNYA

I. Localized Corrosion
a) Homogen Corrosion Korosi homogen terjadi karena reaksi elektrokimia yang secara homogen terjadi karat ke seluruh bagian material yang terbuka. Proses Terjadinya Terjadi reaksi elektrokimia pada seluruh bagian material yang akan mengakibatkan materialnya menipis karena korosi merata, kehilangan tonage besar dan kecepatan korosinya tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya reaksi oksidasi dan reduksi secara merata.

Cara penanggulangan : Pemilihan material yang baik Coating Penambahan inhibitor Memasang cathodic protection Contoh : korosi ini dapat kita lihat pada badan kapal, atap seng, pilar-pilar pelabuhan dll.

Gambar 1. Korosi pada badan kapal

b) Galvanic Corrosion Korosi yang terjadi akibat adanya perbedaan potensial yang mengakibatkan adanya aliran elektron / listrik diantara kedua logam tersebut. Logam yang mempunyai tahanan korosi rendah (potensial rendah) akan terkikis dan logam yang tahanan korosinya tinggi (potensial tinggi) akan mengalami penurunan daya korosinya. Proses Terjadinya Elektron mengalir dari metal kurang mulia (Anodik) menuju metal yang lebih mulia (Katodik), akibatnya metal yang kurang mulia berubah menjadi ion-ion positif karena kehilangan electron. Ion-ion positif metal bereaksi dengan ion negatif yang berada di dalam elektrolit menjadi garam metal. Karena peristiwatersebut, permukaan anoda kehilangan metal sehingga terbentuklah sumur-sumur karat (Surface Attack) atau serangan karat permukaan. Cara pencegahan : Pemilihan logam yang sesuai Memperkecil rasio Memberikan isolasi Penerapan coating yang baik Penambahan inhibtor Pencegahan desain dengan material yang berbeda Contoh : korosi galvanic salah satunya adalah atap seng bergelombang yang mengalami korosi pada lapisan sengnya terlebih dahulu, logam baja tidak akan terkorosi selama masih ada lapisan seng dan secara elektrik masih terinteraksi. c) Crecive Corrosion Korosi yang terjadi pada celah dan permukaan tertutup lainnya dari suatu logam yang terlatak di media yang korosif (seperti di sambungan-sambungan) dan bisa terjadi pada material yang sama atau berbeda.

Gambar 2. Proses Korosi celah

Korosi celah dapat terjadi di lingkungan air asin jika celah menjadi deaerated, dan reaksi reduksi oksigen terjadi di luar dari mulut celah. Dengan kondisi tersebut, celah menjadi lebih asam, dan tingkat korosi meningkat seperti terlihat pada gambar 1. Proses Terjadinya Pada struktur baja dilaut, adanya celah diantara material mengakibatkan air laut masuk dan bereaksi menjadi katode dan material menjadi anode. Maka terjadi reaksi reduksi-oksidasi Oksidasi : Reduksi : M + 1e O2 + 2H20 + 4e 4OH-

Ion electron (e) yang dihasilkan dalam reaksi oksidasi akan digunakan oleh oksigen (O2) untuk mereduksi air (H2O) untuk menjadi ion OH. Dengan kata lain bahwa ion hidroksil (H+) dihasilkan pada setiap pembentukan ion logam M+. Karena tempatnya atau celahnya terbatas maka reaksi reduksi dari oksigen pada daerah tersebut habis sedangkan metal M terus bereksi. Cara pencegahan : Menggunakan sistem penyambungan pelat yang lebih baik Menutup sambungan dengan las menerus Peralatan harus diperiksa dan dibersihkan dari kotoran yang rawan terutama pada sambungan sambungan. Hindari pemakaian packing yang higroskopis. Pada saluran drainase hindari lengkungan yang tajam serta daerah genangan florida. Contoh : Contoh korosi Crevice adalah terjadinya korosi pada celah baut, pada klem sambungan pipa, penyangga pipa.

d) Intergranular Corrosion Intergranular corrosion merupakan jenis korosi yang sangat merugikan, karena bentuk dari jenis korosi tidak dapat dilihat secara langsung. Korosi ini hanya dapat dilihat melalui uji lab.Intergranular corrosion disebabkan karena susunan kristal pada suatu atom material mengalamai kekosongan maka akan berakibat mudahnya material mengalami korosi. Hal ini disebabkan adanya difusi media korosi logam yang meningkat sehingga media korosif dapat masuk kedalam grain boundary.

Proses Terjadinya Proses terjadinya korosi ini termasuk korosi yang disebabkan oleh perubahan sifat metalurgi, dimana ketika austenic SS berada pada temperature 425-850 oC (temperatur sensitasi) atau ketika dipanaskan dan dibiarkan mendingin secara perlahan (seperti halnya sesudah welding atau pendinginan setelah annealing) maka karbon akan menarik krom untuk membentuk partikel kromium karbida (chromium carbide) di daerah batas butir (grain boundary) struktur SS. Formasi kromium karbida yang terkonsentrasi pada batas butir akan menghilangkan/ mengurangi sifat perlindungan kromium pada daerah tengah butir. Sehingga daerah ini akan dengan mudah terserang oleh korosi. Secara umum SS dengan kadar karbon < 2 % relative tahan terhadap korosi ini. Ketidaksempurnaan mikrostruktur ini diperbaiki dengan menambahkan unsur yang memiliki afinitas (daya tarik) terhadap Karbon lebih besar untuk membentuk karbida, seperti Titanium (misal pada SS 321) dan Niobium (misal pada SS 347). Cara pencegahan : Casting Pada proses ini harus dilakukan dengan lajan mengecor logam dengan step yang benar, komposisi yang benar dan pendinginan yang benar sesuai dengan karakteristik masing-masing logam dan kegunaannya. Welding Dalam pencegahan terjadinya korosi intergranular akibat proses pengelasan maka perlu dilakukan beberapa hal yaitu:

Pemilihan elektrode yang benar Prosedur pengalasan yang benar Pendinginan yang benar e) Filiform Corrosion Korosi ini masih dalam keluarga korosi celah yang terjadi dibawah lapisan pelindung metal sehingga sering juga disebut under film corrosion. Serangan korosi serabut ini bersifat tidak umum dan tidak merusak komponen utama metal tapi hanya mempengaruhi atau merusak penampilan permukaan metal dimana permukaan dan penampilan kaleng makanan atau minuman merupakan hal pokok dalampemasaran. Sehingga meskipun korosi ini disinyalir tidak menimbulkan kerusakan isinya, namun omset penjualan jelas akan mengalami penurunan.

Proses Terjadinya Mekanisme terjadinya korosi ini merupakan kasus khusus untuk jenis korosi celah. Selama pertumbuhannya, pada bagian kepala unsur seperti H2O dan O2 dari udara luar secara osmosis. Kedua unsur ini selanjutnya bereaksi dengan ion Fe konsentrasi tinggi membentuk oksida Fe. H2O dan O2 ini akan berdifusi masuk kebagian kepala dan keluar dari bagian ekor secara terus menerus, korosi tertahan dibagian kepala dimana hidrolisa yang terjadi dibagian kepala menyebabkan lingkungan yang bersifat asam, sehingga korosi ini dapat menyebar secara otomatis. Cara Pencegahan : Menyimpan material berlapis metal (email) didalam kondisi kering Memberikan lapisan brittle film

f) Deposition Corrosion Korosi ini mempunyai pengertian yaitu bentuk halus sel galvanik yang dapat menghasilkan pitting dalam lingkungan cair ketika logam lebih katodik berlapis dari solusi ke permukaan logam. Mekanismenya seperi ini lembut Air melewati tembaga pipa air akan mengumpulkan beberapa ion tembaga. Jika air kemudian mengakui kapal galvanis atau aluminium, partikel-partikel logam tembaga akan piring keluar, yaitu deposit pada permukaan dan merangsang pitting oleh tindakan sel setempat Tindakan Plating ini, atau pengendapan korosi, mungkin faktor penting dalam korosi logam lebih reaktif di dekat bagian atas seri, misalnya magnesium, seng dan aluminium, ketika logam ini terakhir yang bersentuhan dengan larutan yang mengandung ion logam (terutama tembaga) menurunkan dalam seri. Tembaga ion dalam konsentrasi kurang dari satu bagian per juta telah diamati untuk memiliki dampak signifikan pada korosi aluminium dengan air. Logam seperti tembaga, yang dapat memperburuk korosi aluminium kadangkadang dirujuk sebagai logam berat dalam larutan. Fakta bahwa mereka lebih berat dari aluminium kurang signifikan daripada bahwa mereka menempati posisi menurunkan dari aluminium dalam serial electromotive atau galvanic.

g) Dealloying Corrosion Korosi Selektif adalah suatu bentuk korosi yang terjadi karena pelarutan komponen tertentu dari paduan logam (alloynya). Pelarutan ini terjadi pada salah satu unsur pemadu atau komponen dari paduan logam yang lebih aktif yang menyebabkan sebagian besar dari pemadu tersebut hilang dari paduannya. Material yang tertinggal telah kehilangan sebagian besar kekuatan fisiknya (karena berpori-pori). Selektif leaching nama lain dari Korosi Selektif- bisa terjadi dari sepasang panduan logam satu fasa dan juga dua fasa. Dalam paduan dua fasa, fasa yang kurang mulia akan meluruh terlebih dahulu. Bentuk korosi ini juga disebut pemisahan atau dealloying. Pemadu yang biasaanya terlarut dari paduan logamnya adalah seng (Zn) , alumunium (Al) , kobalt (Co) , nikel (Ni) , dan crom (Cr). Cara Pencegahan : Mengurangi keagresifan lingkungan misalnya dengan mengurangi kandungan oksigen terlarut (deaerasi). Menggunakan paduan yang lebih tahan misalnya kuingan merah (15% Zn). Penambahan 1 % Sn pada Brass 70-30. Penambahan inhibitor. Proteksi katodik.

h) Hydrogen Induced Cracking Ada beberapa kategori fenomena hidrogen yang dilokalisasi di alam. Atom hidrogen, dan tidak molekul, atom terkecil dan cukup kecil untuk menyebar dengan mudah melalui struktur logam. Ketika kisi-kisi kristal di kontak atau jenuh dengan atom hidrogen, sifat-sifat mekanis logam dan paduan yang banyak berkurang. Hidrogen atomik yang baru lahir dapat diproduksi sebagai reaksi katodik ketika spesies kimia tertentu hadir yang bertindak sebagai katalis negatif (yaitu racun) untuk rekombinasi atom hidrogen molekuler seperti yang ditunjukkan dalam persamaan berikut. 2H H2 Jika pembentukan molekul hidrogen ditekan, hidrogen atomik yang baru lahir dapat berdifusi ke interstices logam bukan diselamatkan McCharty yang berevolusi sebagai produk reaksi gas. Ada banyak spesies kimia yang racun ini rekombinasi (misalnya cyanides, arsen, antimon, atau selenium senyawa). Namun, spesies yang paling umum dijumpai adalah hidrogen sulfida (H2S), yang terbentuk dalam banyak alami dekomposisi, dan dalam banyak proses petrokimia.

i) Hydrogen Blistering Embrittlement dari logam atau paduan oleh atom hidrogen melibatkan ingress hidrogen menjadi komponen, suatu peristiwa yang serius dapat mengurangi keuletan dan kapasitas beban-bantalan, menyebabkan retak dan bencana kegagalan rapuh pada tekanan di bawah hasil stres bahan rentan. Hidrogen embrittlement terjadi di sejumlah bentuk tetapi fitur yang umum diterapkan tarik stres dan hidrogen dilarutkan dalam logam. Contoh embrittlement hidrogen cracking dari weldments atau mengeras baja ketika terpapar kondisi yang menyuntikkan hidrogen ke komponen. Saat ini fenomena ini tidak sepenuhnya dipahami dan hidrogen embrittlement deteksi, khususnya, tampaknya menjadi salah satu aspek yang paling sulit dari masalah. Embrittlement hidrogen tidak mempengaruhi semua bahan logam sama. Yang paling rentan yang tinggi kekuatan baja, titanium paduan dan paduan aluminium.

II. MECHANICALLY ASSISTED CORROSION 1) Stress Corrotion Cracking Stress Corrosion Cracking (SCC) adalah keretakan akibat adanya tergangan tarik dan media korosif secara bersamaan satu hal yang penting adalah harus dibedakannya antara SCC dengan Hydrogen-embrittlement dari perbedaan kondisi lingkungannya (Environtmental Variable) Retak-retak stress corrosion mempunyai penampilan brittle farcture sebagai akibat dari proses korosi local. Ada dua jenis SCC yaitu: Intergranular, yang bergerak sepanjang grain boundaries Transgaranular, peregrakan tidak nyata preferensi (pilihan) boundarinya Keretakan biasanya mengarah tegak lurus terhadap tegangan. Untuk keadaan khusus seperti kondisi tegangan biaxial maka arah penjalaran retak cenderung random / acak. Kondisi pencabangan retak dapat terjadi tergantung pada struktur dan komposisi metal serta lingkungannya. Mekanisme : 1. Mekanisme Metalurgi Dislocation yang bersesuaian Pola (patern) pada stainless steel cenderung kedalam planar. Stressaging dan mikro segragation. Di dalam stress yang tersimpan dari stainless steel yang bersifat austenic, terjadi aliran plastik jerky. Kejadian ini adalah gabungan antara pemisahan secara mikro dari senyawa atom dan kerusakan dinamis dalam struktur kristal. - Adsorbtion. Permukaan aktif menyerap dan berinteraksi dengan ikatan yang dibatasi pada ujung retak, meneyababkan pengurangan kekuatan ikatan dan mengarah pada perambatan retak. 2. Mekanisme Dissolution Stress Accelerated Dissolution Peran utama dari deformasi plastik adalah untuk mempercepat proses dissolution formasi lapisan tipis pada dinding retak. Karena perambaan retak, lapisan tipis pada dinding retak dianggap sebagai katodik. Panambahan elemen mulia Pemecahan lapisan tipis Pemindahan ion klorida -

3. Mekanisme Hidrogen - Hybride formation - Hydrogen embrittlement 4. Mekanisme Mekanik Tunnel pitting dan tearing Corrosion product welding

Cara Pencegahan : Menurunkan tegangan dibawah treshold jika ada. Ini dapat dilakukan dengan annealing pada kasus residual stress, penebalan seksi atau pengurangan beban. Mengeliminasi jenis lingkungan kritis dengan jalan gasification, demineralization atau distillation. Merubah campuran adalah jalan lain yang mungkin jika lingkungan ataupun tegangan tidak dapat dirubah. Penggunaan cathodic protection terhadap struktur dengan panambahan tenaga luar . Penambahan inhibitor jika mungkin kedalam sistem. Coating, kadang digunakan dan tergantung pada keadaan lingkungan logam. Shot peening.

2) Corrosion Fatigue Kegagalan karena fatique corrosion terjadi pada tegangan dibawah yield point dan setelah adanya pembebanan cyclic. Reak merambat sampai luas penampang lintang dari ligam berkurang sampai pda titik dimana ultimate strenght dilalui dan brittle fracture terjadi secara cepat. Corrosion fatique didefinisikan sebagai penurunan dari ketahanan fatique akibat adanya media yang bersifat korosif. Mengenai gambar kedua jenis korosi yaitu korosi tegangan dan korosi kelelahan dapat disimak seperti pada gambar 2. dibwah ini.

Gambar 3. SCC dan fatique corrosion 3) Fretting Corrosion Fretting menggambarkan korosi yang terjadi pada daerah bersinggungan diantara material dibawah beban akibat getaran dan slip. Fretting ini berupa lubang atau alur dalam metal yang mengalami korosi disekelilingnya. Fretting corrosion merusak komponen metalik dan menghasilkan oksida debris. Seizing dan Galing sering terjadi bersamaan hilangnya toleransi dan penghilangan bagian-bagian yang berpasangan. Fretting dapat mengakibatkan fatique fracture ketika komponen yang hilang itu menyebabkan adanya strain yang berlebihan dan lubang dibentuk oleh aksi fretting sebagai penambahan tegangan. Fretting corrosion terjadi jika: Interface harus dalam kondisi pembebanan Getaran atau gerakan relative yang berulang diantara dua permukaan harus terjadi. Beban dan gerakan relative dari interface harus mampu menghasilkan slip atau deformasi pada permukaan. Mekanisme : - Teori Wear Oxydation Konsep ini berdasarkan pada peneglasan dingin atau fusi yang terjadi pada interface permukaan metal yang mengalami tekanan, dan salama gerakan relative titik kontaknya terputus dan fragmen dari metalnya berpindah. Fragmen ini menyebabkan terjadinya oksidasi. Proses ini berulang dengan menghasilkan pengikisan metal dan akumulasi dari sisa oksida. Jadi hipotesa wear oxidation ini berdasar pada penggunaan gesekan yang menyebabkan kerusakan dan oksidasi merupakan efek selanjutnya.

- Terori Oxydation Water Konsep ini didasarkan pada hipotesa bahwa banyak permukaan metal yang dilindungi dari oksidasi atmosfir oleh suatu lapisan tipis oksida yang ada pada lapisan metal tersebut. Ketika metal mangalami kontak dibawah pembebanan dan gerakan relative yang berulang, lapisan oksida terputus pada titik tertinggi dan menghasilkan oksida debris. Jadi teori ini didasarkan pada konsep oksidasi yang dipercepat akibat gesekan. Cara Pencegahan : Dengan oli atau gemuk berviskositas rendah. Menaikkan harga kekerasan dari salah satu atau kedua material yang bersinggungan. Menaikkan gesekan antara material-material yang dipasangkan dengan memperkasar permukaan . Menggunakan gasket untuk meredam getaran dan memindahkan oksigen pada permukaan bantalan. Menaikkan beban untuk mengurangi slip antara pasangan-pasangan material. Menurunkan beban pada permukaan bantalan. Jika keadaaan memungkinkan, naikkan kecepatan relative antara bagianbagian untuk mengurangi serangan korosi.

III. Velocity Induced Corrosion 1) Erosion Corrosion Korosi erosi adalah penambahan atau percepatan keburukan sifat material karena gerakan relative antara fluida korosif dan permukaan metal. Secara umum gerakan ini sangat cepat dan pengaruh pemakaian secar mekanik atau abrasi yang rumit. Hasil dari erosi korosi termasuk pelindung permukaan dari metal dan campurannya. Beberapa tipe media korosif yang menyebabkan erosi korosi meliputi; gas, larutan encer, system organic dan metal cair. Semua peralatan yang diekspos gerakan fluida adalah sasaran korosi erosi, missal: system pipa, katup, pompa, propeller dan lain-lain. Sejak korosi diperlakukan dalam proses korosi erosi semua faktor yang mempengaruhi korosi harus dipertimbangkan. Korosi ini terjadi akibat adanya aliran turbulen atau aliran dengan viskositas atau kekentalan fluida cukup tinggi. Oleh karena itu lapisan film yang terdapat pada setiap permukaan logam akan selalu hilang jika terkena aliran fluida ini. Jika alirannya laminar maka korosi yang ditimbulkannay tidak

terlalu serius, namun jika alirannya turbular maka akan menambah kecepatan korosi. Cara Pencegahan : - Memilih material dengan ketahan korosi baik metode ini menekankan pada pemilihan bahan - Perancangan (design) Kerugian korosi dapat dikurangi dengan design yang baik, seperti penambahan diameter pipa membantu dari segi mekanik dalam hal pengurangan kecepatan dan membuat aliran yang terjadi adalah aliranlaminar. Penambahan diameter yang streamline dapat efek benturan fluida terhadap permukaan material dengan design yang baik dapat mengurangi biaya perawatan - Perubahan pada lingkungan Deareation dan penambahan inhibitor adalah merupakan metode yang efektif tetapi dalam beberapa hal tidak efisien dari segi ekonomis untuk meminimumkan kerugian akibat korosi erosi. Suhu lingkungan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya korosi, berdasarkan hal tersebut maka harus diusahakan menurunkannya setiap saat. - Coating Penambahan coating dapat menahan dengan kuat antara metal dengan lingkungannya. Hal ini kadang-kadang bermanfaat namun tidak selalu dapat mengatasi masalah korosi. Pengerasan permukaan atau pengelasan everlap dapat membantu menyediakan suatu permukaan yang mempunyai tahan korosi yang baik. - Cathodic protection Metode ini dapat membantu mengurangi pengaruh korosi tetapi belum dapat diterapkan secara luas untuk mengatasi korosi erosi. 2) Cavitation Kavitasi merupakan bentuk khas dari korosi erosi. Kerugian kavitasi disebabkan oleh formaso vapour buble dekat permukaan metal. Kerugian kavitasi terjadi pada hidrolik turbin, propeller, pompa dan permukaan dimana kecepatan dan tekanan aliran terjadi. Kerusakan kavitasi dijelaskan dalam beberapa langkah sebagai berikut: Bentuk kavitasi buble pada perlindungan film Pecahnya buble dan kerusakan film Kerusakan permukaan metal dan perubahan bentuk film Bentuk kavitasi yang baru satu titik

Secara grafis hal ini dapat dijelaskan seperti tertera pada gambar 3.berikut ini.

Gambar 4. Mekanisme korosi kavitasi Pada gambar di atas diumpamakan sebuah impeller pompa berputar searah jarum jam. Maka pada titik pusat atau poros impeller akan kehabisan partikel yang berakibat tekanan di poroso (Pp) menjadi kecil. Sedangkan tekanan (Ps) di sisi luar impeller menjadi lebih besar dibandingkan dengan tekanan didaerah poros tersebut. Fluida yang terserap dari luar tekanannya adalah sama dengan tekanan udara luar. Karena fluida ini masuk kedalam daerah tekanannya lebih kecil maka akan timbul gelembung udara. Gelembung yang berada di poros akan terlempar keluar (sisi) impeller. Dengan kondisi tekanan yang tinggi akan berakibat gelembung tersebut pecah dan melukan permukaan logam. Dengan demikian korosi inilah yang disebut dengan korosi kavitasi.