Anda di halaman 1dari 15

TUGAS BAHASA INDONESIA MAKALAH KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP PASIEN KRONIS

Disusun Oleh: Anbar Ajeng Kurniawan : 220110130039

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2013

DAFTAR ISI

Kata pengantar..............................................................................................2 BAB I LATAR BELAKANG.................................................................................3 RUMUSAN MASALAH............................................................................ 3 TUJUAN...................................................................................................... 3

BAB II
Pengertian komunikasi..................................................................................4 Cara komunikasi............................................................................................4 Pengertian penaykit kronis............................................................................5 Fase kehilangan pada penyakit kronik dan teknik komunikasi.....................6 Menyampaikan berita buruk..........................................................................7 Respon klien terhadap penyakit kronik..........................................................8 Konsep kehilangan........................................................................................ 9 Konsep duka cita...........................................................................................10

BAB III
Penutup......................................................................................................... 13 Kesimpulan................................................................................................... 13 Saran............................................................................................................. 13 Daftar pustaka............................................................................................... 14

KATA PENGANTAR Assalamualakum warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulilah puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang masih senang tiasa memberikan rahmatnya kepada kita semua yaitu nikmat kesehatan untuk bisa menyelesaikan, dan membaca makalah yang berjudul komunikasi terapeutik pada pasien kronis. Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu saya dalam proses menyelesaikan makalah ini terutama kepada orang tua saya yang telah memberikan dukungan serta motivasinya. Saya menyadari banyak kesalahan yang mendasar dalam makalah ini.Oleh karena itu saya menerima kritik dan saran yang membangun untuk hasil makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pembaca akhir kata saya mengucapkan terima kasih.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosialkultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan dasar manusia. Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam kondisi sehat dan sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Sedangkan asuhan yang diberikan berupa bantuan-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. Dengan itu saya mengangkat judul : Komunikasi Terapeutik pada Pasien Kronis 1.2 Rumusan Masalah a. Apa yang di maksud dengan penyakit kronis? b. Bagaimana cara menyampaikan berita buruk pada pasien kronis? c. Bagaimana cara komunikasi terapeutik pada pasien kronis? 1.3 Tujuan a. Menjelaskan tentang pengertian penyakit kronis b. Memberikan pemaparan secara jelas mengenai penyampaian berita buruk terhadap pasien kronis. c. Menjelaskan bagaimana komunikasi terapeutik dengan penderita penyakit kronis

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah pertukaran informasi, pikiran, ide, dan perasaan diantara dua atau lebih individu. Komunikasi Terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiantannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Menjelang ajal atau sakaratul maut adalah suatu keadaan dimana menurut akal sehat tidak ada harapan lagi bagi klien untuk sembuh terminal illings (wolf/witzel/furngs. 1984 : 661). 2.2 Cara Komunikasi a. Komunikasi Verbal Menggunakan kata-kata yang diungkapkan atau ditulis. Hal yang harus diperhatikan : Kesederhanaan : Kalimat yang digunakan harus sederhana, mudah dimengerti, singkat dan jelas. Kejelasan : Komunikasi jelas dengan apa yang diungkapkan dan yang diekspresikan oleh wajah serta gerakan tubuh. Tepat waktu dan relevan : Perawat harus peka terhadap kebutuhan yang sedang dirasakan oleh pasien. b. Komunikasi Non Verbal Komunikasi yang menyangkut ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan sikap tubuh. Hal yang perlu diperhatikan : Ekspresi wajah : Wajah, terutama mata, dan mulut dapat mengekspresikan macammacam emosi seperti kegemberiaan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, malu, dan seterusnya. Gerakan Tangan Gerakan tangan adalah suatu komunikasi yang penuh arti. Gerakan tangan bisa mengkomunikasikan macam-macam perasaan.

2.3 Pengertian penyakit kronis Penyakit kronis di definisikan sebagai kondisi medis atau masalah kesehatan yang berkaitan dengan gejala gejala atau kecacatan yang membutuhkan penatalaksanaan jangka panjang, sebagian dari penatalaksanaan ini mencakup belajar untuk hidup dengan gejala kecacatan, sementara itu pula ada yang menghadapi segala bentuk perubahan identitas yang di akibatkan oleh penyakit. 2.4 Fase kehilangan pada penyakit kronis dan tekhnik komonikasi Tiap fase yang di alami oleh pasien kritis mempunyai karakteristik yang berbeda. Sehingga perawat juga memberikan respon yang berbeda pula. Dalam berkomunikasi perawat juga harus memperhatikan pasien tersebut berada di fase mana, sehingga mudah bagi perawat dalam menyesuaikan fase kehilangan yang di alami pasien. a. Fase Denial ( pengngikaran ) Reaksi pertama individu ketika mengalami kehilangan adalah syok. Tidak percaya atau menolak kenyataan bahwa kehlangn itu terjadi dengan mengatakan Tidak, saya tidak percaya bahwa itu terjadi . Bagi individu atau keluarga yang mengalami penyakit kronis, akan terus menerus mencari informasi tambahan. Reaksi fisik yang terjadi pada fase pengingkaran adalah letih,lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah dan tidak tau harus berbuat apa. Reaksi tersebut di atas cepat berakhir dalam waktu beberapa menit sampai beberapa tahun. Teknik komunikasi yang di gunakan : Selalu berada di dekat klien Pertahankan kontak mata b. Fase anger ( marah ) Fase ini di mulai dari timbulnya kesadaran akan kenyataan yang terjadinya kehilangan. Individu menunjukkan perasaan yang meningkat yang sering di proyeksikan kepada orang yang ada di sekitarnya, orang-orang tertentu atau di tunjukkan pada dirinya sendiri. Tidak jarang dia menunjukkan perilaku agresif, bicara kasar, menolak pengobatan, dan menuduh perawat atau pun dokter tidak becus.

Respon fisik yang sering terjadi pada fase ini antara lain, muka merah, nadi cepat, gelisah, dan susah tidur. Teknik komunikasi yang di gunakan : Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaannya. c. Fase bargening ( tawar menawar )
Apabila individu sudah mampu mengungkapkan rasa marahnya secara intensif, maka ia akan maju pada fase tawar menawar dengan memohon kemurahan Tuhan. Respon ini sering di nyataka dengan kata kata kalau saja kejadian ini bisa di tunda, maka saya akan selalu berdoa . apabila proses berduka ini di alami keluarga, maka pernyataan seperti ini sering di jumpai kalau saja yang sakit bukan anak saya .

Teknik komunikasi yang di gunakan : Memberi kesempatan kepada pasien untuk menawar. Menanyakan kepada pasien apa yang di inginkan. d. Fase depression Individu fase ini sering menunjukkan sikap antara lain menarik diri, tidak mau berbicara, kadang kadang bersikap sebagai pasien yang sangat baik dan menurut atau dengan ungkapan yang menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga. Gejala fisik yang sering di perlihatkan adalah menolak makan, susah tidur, dan letih. Teknik komonikasi yang di gunakan : Jangan mencoba menenangkan klien. Biarkan klien dan keluarga mengekspresikan kesedihannya. e. Fase acceptance ( penerimaan ) Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Fase menerima ini biasanya di nyatakan dengan kata kata ini apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh? Apabila individu dapat memulai fase fase tersebut dan masuk pada fase damai atau penerimaan, maka dia akan dapat mengakhiri proses berduka dan mengatasi perasaan kehilangannya secara tuntas. Tapi apabila individu tetep berada pada salah satu fase dan tidak sampai pada fase penerimaan. Jika mengalami kehilangan lagi sulit baginya masuk pada fase penerimaan. Teknik komunikasi yang di gunakan perawat adalah: meluangkan waktu untuk klien dan sediakan waktu untuk mendiskusikan perasaan keluarga terhadap keadaan pasien. 6

2.5 Menyampaikan berita buruk langkah langkah nya adalah : a. Persiapan Pahami anda sendiri sebagai perawat dan siapkan diri anda dengan berbagai macam informasi. Yang paling baik dalam menyampaikan berita buruk adalah dengan bertemu langsung dengan orang yang kita tuju. Menyampaikan dengan tidak jelas dan menakutkan hendaknya di hindari seperti : ibu sri, datanglah segera, saya mempunyai sesuatu yang harus saya katakan kepada anda Selain itu alangkah lebih baiknya jika perawat menyediakan tempat duduk bagi perawat, dokter dan orang yang akan di ajak bicara, duduk dan tampakkan bahwa anda memberikan perhatian dan tidak dalam keadaan tergesa gesa. Cegah berbicara sambil berlari atau di tempat yang tidak semestinya misal : koridor rumah sakit yang banyak orang. Beritahukan rekan anda bahwa anda tidak bisa di ganggu selagi anda menyampaikan berita kepada pasien. Atur suara agar anda terlihat normal, tidak panik dan bergetar. b. Membuat hubungan Buatlah percakapan awal, walaupun anda mengira bahwa orang yang akan anda ajak bicara sudah memiliki firasat apa yang akan anda sampaikan. Beberapa tugas penting di awal : Percakapan awal Perkenalkan diri anda dan orang orang bersama anda, jika di sana terdapat orang yang belum di ketahui oleh perawat maka cari tahu siapa dia. Kaji status resipien ( orang yang anda tuju untuk di kabarkan dengan kabar buruk) Tanyakan kabar atau kenyamanan dan kebutuhannya. Anda harus mengkaji tentang pemahaman resipien terhadap situasi. Hal ini akan membantu perawat dalam membuat transisi dalam menyampaikan kabar buruk dan akan membantu perawat dalam mengkaji persepsi pasien terhadap keadaan. Perawat dapat mengutarakan pertanyaan seperti mengapa tes itu di lakukan?

c. Berbagi cerita Ada kiasan bahwa kabar buruk adalah seperti bom. Yang radiasinya akan mengenai semua yang ada lingkungannya. Bicara pelan Berikan peringatan awal saya takut saya mempunyai kabar yang kurang baik untuk anda.... Sampaikan berita yang akan di sampaikan, jika itu adalah suatu diagnosa, minta dokter untuk menyampaikannya langsung. Kalimat hendaknya singkat dan beberapa kalimat pendek saja. b. Akibat dari berita Tunggu reaksi dan tenang Misal : menangis, pingsan dan lain lain. Liat dan berikan respon sebagai tanda empati Dan perawat bisa menyampaikan saya paham, hal ini sulit bagi anda. Apa yang ada dalam pikiran anda saat ini? Ikuti dan perhatikan resipien selanjutnya Anda dapat membantu resipien agar dapat menguasai kontrol dengan menanyakan apakah anda membutuhkan informasi baru atau kita bisa bicara di kemudian? Berikan perhatian dan hormati perasaan dan kebutuhan diri perawat Sering kali perawat merasa berat hati dan merasa stres ketika menyampikan berita buruk. Oleh karena itu berbagi pengalaman dan perasaan terhadap teman sejawat sangat di perlukan dan bisa sebagai support sistem bagi diri anda sendiri untuk menenangkan diri dengan bermeditasi dan berdoa. 2.6 Respon Klien Terhadap Penyakit Kronik Penyakit kronik dan keadaan terminal dapat menimbulkan respon Bio-Psiko-SosialSpritual ini akan meliputi respon kehilangan. a. Kehilangan kesehatan Respon yang ditimbulkan dari kehilangan kesehatan dapat berupa klien merasa takut , cemas dan pandangan tidak realistik, aktivitas terbatas.

b. Kehilangan kemandirian Respon yang ditimbulkan dari kehilangan kemandirian dapat ditunjukan melalui berbagai perilaku, bersifat kekanak-kanakan, ketergantungan c. Kehilangan situasi

Klien merasa kehilangan situasi yang dinikmati sehari-hari bersama keluarga dan kelompoknya. d. Kehilangan rasa nyaman Gangguan rasa nyaman muncul sebagai akibat gangguan fungsi tubuh seperti panas, nyeri. e. Kehilangan fungsi fisik

Contoh dampak kehilangan fungsi organ tubuh seperti klien dengan gagal ginjal harus dibantu melalui hemodialisa. f. Kehilangan fungsi mental

Dampak yang dapat ditimbulkan dari kehilangan fungsi mental seperti klien mengalami kecemasan dan depresi, tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir efisien sehingga klien tidak dapat berpikir secara rasional. g. Kehilangan konsep diri Klien dengan penyakit kronik merasa dirinya berubah mencakup bentuk dan fungsi sehingga klien tidak dapat berpikir secara rasional (bodi image) peran serta identitasnya. Hal ini dapat akan mempengaruhi idealism diri dan harga diri rendah h. Kehilangan peran dalam kelompok dan keluarga

2.7 Konsep kehilangan Kehilangan (loss) adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang belum ada, baik senagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan dan kecenderungan akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan respon terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respons individu tehadap kehilangan sebelumnya.

Kehilangan dapat memiliki beragam bentuk, sesuai nilai dan prioritas yang dipengaruhi oleh lingkungan seseorang yang meliputi keluarga, teman,,masyarakat, dan budaya. Kehilangan yang nyata(aktual loss) adalah kehilangan orang atau objek yang tidak lagi bisa dirasakan, dilihat, diraba, atau dialami oleh seseorang. Kehilangan yang (perceived loss) merupakan kehilangan yang sifatnya unik menurut orang yang mengalami kedudukan, seperti kehilangan harga diri atau percaya diri Jenis kehilangan: a. Kehilangan objek eksternal (misalnya kecurian atau kehancuran akibat bencana alam)

b. Kehilangan lingkungan yang di kenal (misalnya berpindah rumah, dirawat di rumah sakit, atauberpindah pekerjaan) c. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti( misalnya pekerjaan, kepergian anggota keluarga atau teman dekat) d. Kehilangan suatu aspek diri (misalnya anggota tubuh dan fungsi psikologis atau fisik) e. Kehilangan hidup (misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat , atau diri sendiri)

2.8 Konsep duka cita Berduka (grieving) merupaka reaksi emosioanal terhadap kehilangan. Hal ini diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspektal budaya, dan keyakinan spiritualyang dianut. Sedangkan istilah (bereavement) mencakup berduka dan berkabung (mourning) yaitu perasaan di dalam dan reaksi keluar orang yang ditinggal. Berkabung ada lah periode penerimaan terhadap kehilang dan berduka. Hal ini terjadi masa kehilangan dan sering dipengaruhi oleh kebudayaan atau kebiasaan.

10

Jenis duka cita: 1. Berduka normal, terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan. (misalnya, kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menarik diri dari aktivitas untuk sementara 2. Berduka antisipatif, yaitu prosesmelepas diri yang muncul sebelum kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, ketika menerima diagnosis terminal, seseorang akan memulai proses perpisahan dan menyelesaikan berbagai urusan dunia sebelum ajalnya tiba. 3. Berduka rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ketahap berikutnya, yaitu tahap berduka normal 4. Berduka tertutup, yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka, contohnya kehilangan pasangan hidup karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua tiri. Respon berduka Respon berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap sebagai berikut ( Kubler-Ross,dalam Potter & perry, 1997):

Tahap pengingkaran. Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak, mengerti, atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. Sebagai contoh, orang tua keluarga dari orang yang menerima diagnosis terminal akan terus berupaya mencari informasi tambahan. Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernapasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah, dan sering kali individu tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berlangsung dalam beberapa menit hingga beberapa tahun.

11

Tahap Marah. .Pada tahap Ini Individu Menolak Kehilangan . Kemarahan yang timbul sering diproyeksikan kepada orang Lain atau dirinya sendiri .Orang yang mengalami kehilangan juga tidak jarang menujukan perilaku agresif ,berbicara kasar,menyerang orang lain,menolak pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat tidak kompeten. Respofisik n yang sering terjadi,antara lain muka merah,denyut nadi cepat,gelisah,susah tidur,tangan mengepal,dan seterusnya. Tahap Tawar-menawar. Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan dapat dan mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah-olah kehilangan tesebut dapat di cegah. Individu mungkin berupaya untuk melakukan tawar-menawar dengan memohon kemurahan Tuhan. Tahap Depresi.Pada tahapan ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri,kadang-kadang bersikap sangat penurut,tidak mau bicara ,menyatakan keputusasaan,rasa tidak berharga ,bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri.Gejala fisik ysng di tunjukan,antara lain menolak mankanan,susah tidur dan letih. Tahap Penerimaan. Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan.

Pikiran yang selalu berpusat pada objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerrima kenyataan kehilangan yang di alaminya dan mulai memandang ke depan. Gambaran tentang obyek atau orang yang hilang akan mulai di lepaskan secara bertahap perhatiannya akan beralih pada objek yang baru.Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan nenerima dengan perasaan damai ,maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas.

11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Jadi komunikasi terapeutik itu sangatlah penting untuk pasien,keluarga pasien serta yang merawatnya agar pasien merasa nyaman berada dalam proses penyembuhannya khususnya pada pasien kronis yang mempunyai fase-fase dalam menghadapi penyakitnya butuh pemahaman yang lebih untuk bisa berkomunikasi dengan pasien tersebut. 3.2 Saran Sebagai calon perawat profesional, alangkah lebih baik nya jika dalam memberikan asuhan keperawatan menggunakan teknik teknik komonikasi terapeutik secara benar dan bijaksana sehingga terciptalah generasi generasi penerus yang berkualitas.

13

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI Pusdiknakes. 995. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan dan Penyakit kronik dan terminal Jakarta: Depkes RI. Potter & Perry (2005). Fundamental keperawatan, Edisi 5 . Jakarta : EGC http://www.scribd.com/doc/45819001/Pengertian-Komunikasi-Terapeutik#download

14