Anda di halaman 1dari 25

BAB I ISI

I.1 Skenario Seorang ibu, istri seorang buruh tani dengan pakaian lusuh, membawa seorang anak perempuannya yang berumur 3 tahun ke dokter karena anak tersebut menderita panas dan diare.Ibu tersebut mengatakan sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan dokter tersebut.Menurut si ibu, dokter tersebut tidak ramah, tidak menjelaskan tentang penyakit anaknya secara jelas, juga tidak menjelaskan mengenai obat yang diberikan.Ia semakin kecewa karena ditarik bayaran yang cukup tinggi.

I.2 Klarifikasi Istilah (STEP 1) 1. Panas 2. Diare : keadaan dimana suhu tubuh diatas 380 celcius (diatas normal) : Suatu penyakit yang ditandai pengeluaran jumlah/ penurunan

konsistensi tinja selama 24 jam lebih dari 3x sehari yang disebabkan oleh virus/ jamur sehingga tinja berbentuk cair/lunak. 3. Dokter : Seorang tenaga kesehatan yang ahli dalam bidang kesehatan

dan mempunyai tugas untuk meingkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan mengobati dan menyembuhkan seorang yang sedang sakit. 4. Pelayanan : Sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang merupakan hak dan berupa fasilitas seperti sumber daya, infrastruktur dan obat agar seseorang merasa nyaman. 5. Kecewa : Perasaan yang timbul akibat adanya ketidaksesuaian harapan

dengan kenyataan.

Page 1

6. Penyakit

: keadaan dimana bentuk dan fungsi tubuh tidak berjalan

dengan normal sehingga menimbulkan gejala-gejala terhadap orang yang dipengaruhinya. 7. Obat : Bahan atau zat dari hewan, tumbuhan, mineral dan senyawa

kimia yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit, untuk menghambat proses penyakit dan menyembuhkan penyakit. 8. Bayaran Mahal : ketidak sesuaian antara pelayanan yang diberikan

dengan nominal yang diberikan. 1.3. Rumusan Daftar Masalah (STEP 2)

1. Apa kemungkianan penyebab penyakit diare dan panas? 2. Bagaimana cara mengatasi penyakit diare dan panas? 3. Apa tanda-tanda penyakit diare dan panas? 4. Apa yang menyebabkan ibu tersebut kecewa terhadap dokter tersebut? 5. Bagaimana seharusnya sikap seorang dokter terhadap pasien? 6. Apa saja hak pasien dalam pelayanan kesehatan? 7. Bagaimana peran agama dalam kasus dokter kurang ramah? 8. Apa kemungkinan-kemungkinan dokter tersebut tidak menjelaskan penyakit serta obat yang diberikan? 9. Apa kewajiban dokter kepada pasien?

Page 2

I.4 Analisis Masalah (STEP 3) 1. -Keadaan imun tubuh anak tersebut dalam keadaan lemah -Makan sembarang dan tigak hygenis -Anak tersebut terkena infeksi dalam sistem pencernaannya. -Asupan gizi yang berkurang -Dehidrasi (kekurangan cairan) 2. -Menjaga kebersihan dan tidak sembarangan memilih makanan -Mengkonsumsi suplemen makanan 3. - Sakit perut - Sering bolak-balik kamar mandi, frekuensinya lebih dari 3x sehari - Keadaan tinja lebih cair/lunak - Tubuh merasa lemah karena dehidrasi - Mual-mual, pusing, panas - Kalau anak masih kecil biasanya rewel (cengeng) 4. - Tidak menjelaskan tentang penyakit - Tidak menjelaskan tentang obat - Menarik bayaran yang mahal - Tidak ramah dan tidak memberikan kenyamanan kepada pasien - Fasilitas tidak mendukung 5. - Bersikap professional (mempunyai sikap yang standar sesuai dengan kompetensi - Menunjukan rasa hormat kepada pasien dan menjunjung 5s - Menunjukan rasa empati kepada pasien - Mengutamakan kepentingan pasien lebih dahulu daripada pribadi
Page 3

- Komunikasi yang efektif dengan pasien 6. - Mengetahui tentang penyakit dan obat yang diberikan - Mempunyai hak untuk menolak jika ada suatu tindakan yang akan dilakukan - Mendapatkan pelayanan yang dimaksud - Mengetahui informasi tarif yang dibayar

7. -Memenuhi hak dan kewajiban -Mengajarkan saling menghormati dan menghargai -Menjadi pendengar yang baik (ikhlas) -Mempunyai toleransi yang tinggi -Tidak mematok harga terlalu tinggi karena sama dengan mendzalimi pasien yang ekonominya rendah 8. -Mungkin dokter tersebut banyak pikiran -Sudah karakter dan sifatnya dokter tersebut -Dokter tersebut kurang professional -Menganggap pasien sudah tahu -Tidak memiliki etika yang baik terhadap pasien 9. -Bersikap professional dan empati -Memberikan informasi tentang penyakitnya -Memberikan informasi tentang tindakan yang akan dilakukan -Memberikan pelayanan sesuai standar -Menjelaskan tentang obat yang diberikan -Menerapkan 5S (Senyun, Salam, Sapa, Sopan, Santun) dan 3A(attitude, attitude, attitude)
Page 4

-Menanyakan keluhan -Memberikan sugesti yang baik terhadap pasien

I.5 Sistematika Masalah(STEP 4) Komunikasi efektif antara dokter dan pasien Tinjauan agama mengenai dokter kurang ramah Safety Pasien

Dokter Etika dan KODEKI Kurang Ramah Hukum Kesehatan

Profesionalisme Kedokteran

Hak dan Kewajiban Pasien

Page 5

I.6 Sasaran Belajar (STEP 5) 1. Hak dan Kewajiban Pasien 2. Hak dan Kewajiban Dokter 3. Etika dan Kode Etik Kedokteran Indonesia 4. Profesionalisme Kedokteran 5. Hukum Kesehatan 6. Safety Pasien 7. Komunikasi Efektif antara Dokter dan Pasien 8. Tinjauan agama mengenai dokter kurang ramah dilihat dari motivasi dan akhlak I.7 Penjelasan Sasaran Belajar (STEP 7) 1.a) Hak-hak Pasien : Hak memperoleh pelayanan medic yang benar dan layak, berdasarkan teori kedokteran yang telah teruji kebenarannya. Hak memperoleh informasi medic tentang tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter. Hak membrikan konsen (informed consent) atas tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter. Hak memutuskan hubungan kontraktual setiap saat (sesuai azas kepatuhan dan kebiasaan). Hak atas rahasia kedokteran. Hak memperoleh surat keterangan dokter bagi kepentingan pasien yang bersifat non yuridisial. Hak atas second opinion. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri dan hak untuk mati secara wajar. Memperoleh pelayanan kedokteran dan keperawatan secara manusiawi sesuai dengan standar profesi baik kedokteran maupun keperawatan. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran dan keperawawtan yang akan diikutinya.
Page 6

Menolak atau menerima keikutsertaannya lam riset kesehatan dan kedokteran. Dirujuk kepada dokter spesialis bila diperlukan. Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi. Memperoleh penjelasan tentang peraturan rumah sakit. Berhubungan dengan keluarga, penasihat rohani dan lain-lain. Memperoleh perincian biaya.

Hak-hak yang diatur disini adalah hak yang secara umum harus dihormati dan dipenuhi oleh pihak petugas kesehatan dan dokter.Namun selain itu dalam undangundang perlindungan konsumen, hak-hak pasien ini juga diatur secara khusus mengingat bahwa hubungan terapeutik tidak melulu merupakan hubungan manusia tetapi juga hubungan bisnis.Pasien disini dianggap sebagai pengguna jasa kesehatan atau konsumen dari produk-produk kesehatan seperti obat dan peralatan medis lainnya. Undang-undang ini mengatur hak pasien sebagai berikut : Hak atas kenyamanan, keamanan, dan kesehatan. Hak untuk memilih jasa pelayanan. Hak untuk memilih jasa pelayanan. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur. Hak untuk didengar pendapatnya. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa. Hak untuk dilayani dengan benar. Hak untuk mendapatkan kompensasi atau ganti rugi.

Hak-hak diatas apabila dipenuhi dengan baik ditambah dengan kehati-hatian dokter serta orientasi yang tidak terlalu komersial akan membuat banyak hal yang tidak diinginkan seperti malpraktik tidak akan terjadi. b)Kewajiban Pasien : Memeriksakan diri sedini mungkin kepada dokter. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter. Menandatangani nasihat dan petunjuk dokter. Menandatangai surat-surat Persetujuan Tindakan Medis atau Informed Consent (IC), surat jaminan dirawat dirumah sakit.
Page 7

Yakin pada dokternya dan yakin akan sembuh. Melunasi biaya perawatan di rumah sakit, biaya pengobatan serta honorarium dokter.

2. a)Hak-hak Dokter : Melakukan praktik dokter setelah memperoleh surat ijin dokter dan surat ijin praktik

Mendapatkan surat ijin untuk berpraktek dan surat tanda refistrasi adalah bentuk kesadaran untuk selalu siap menjalankan profesinya secara bertanggung jawab. Ijin ini memiliki fungsi kontroling atas praktek kedokteran yang dijalan sepenuhnya oleh negara.Hal ini dimaksudkan agar dokter maupun pasien sama-sama terlindungi kepentingannya ingin berpraktek, sudah selayaknya pemerintah memfasilitasi dengan baik dan mudah.Sebaliknya seorang dokter juga harus memiliki kemauan dan kesadaran untuk mengurus ijinnya sebelum melayani pasien. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasiennya tentang penyakitnya.

Informasi ini sangat dibutuhkan oleh dokter di dalam melakukan diagnose maupun terapi. Tingkatkan keberhasilan suatu pengobatan pun ditentukan oleh setiap inforasi yang diperoleh seorang dokter.Akurasi diagnosis dan terapi tentu membutuhkan data lengkap dari pasien. Maka seorang pasien tidak perlu malu untuk mengungkapkan apa saja yang menjadi keluhannya sehingga pengobatan yang dilakukan memperoleh hasil yang maksimal. Namun kadang kala dokter juga harus pandai meyakinkan pasiennya bahwa rahasi pasien aman ditangannya.Kesulitan yang sering timbul di dalam mendapatkan informasi ini adalah jika penyakit yang timbul menyangkut prilaku moral, seperti misalnya PMS (Penyakt Menular Seksual). Dokter harus mencari cara yang tepat agar pasien tidak merasa dihakimi dan merasa aman. Bekerja sesuai standar profesi Di dalam melakukan tugas kedokteran, ada hal-hal yang telah ditetapkan di dalam prosedur pengobatan. Oleh karena itu ada baiknya dokter dan pasien membicarakan terlebih dahulu prosedur seperti apa yang akan dijalani, sehingga baik

Page 8

pasien maupun dokter tidak akan mengalami kesulitan dan di dalam posisi saling mencurigai.

Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, huku, agam, dan hari nuraninya. Seorang dokter berhak untuk menolak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan hati nurani maupun keyakinan agamanya.Dan untuk itu seorang pasien tidak dapat menuntut seorang dokter karena menolak melakukan tindakan medis tertentu.Keyakinan dan hati nurani seorang dokter haruslah dihormati sebagai sebuah pertanggung jawaban moral yang harus dipikulnya. Pasien tidak berhak membebani dokternya dengan perasaan bersalah yang akan ditanggung seumur hidup. Misalnya aborsi. Beberapa orang dokter profile tetap akan menolak melakukan aborsi meskipun dengan alasan medis sekalipun, karena hal itu dianggap bertentangan dengan hati nurani dan keyakinannya bahwa setiap janin punya hak untuk dilahirkan apapun keadaannya. Keyakinan para dokter profile ini terletak pada penyelenggaraan Ilahi. Dimana setiap terjadinya kehidupan ada campur tangan kuat dari Tuhan. Maka meskipun ada indikasi medis yang menyebabkan harus dilakukan aborsi, para dokter ini cenderung memilih jalan membiarkan kehamilan terus berlangsung sampai Tuhan menentukan lain (janin meninggal alamiah di dalam kandungan ibunya, baru kemudian dicurret), sehingga baru dilakukan tindakan medis. Mengakhiri hubungan dengan pasiennya, jika menurut penilaiannya kerja sama dengan pasiennya tidak ada gunanya lagi kecuali dalam keadaan gawat darurat. Dokter mengetahui sampai seberapa jauh hubungan terapeutik dapat dilakukan.Jika hubungan itu sudah memberikan hasil yang positif maka dokter tidak perlu memperpanjang masa terapinya.Atau jika ternyata penyakit pasiennya mengarah pada bidang tugas yang tidak dikuasainya maka, doter boleh menghentikan hubungan terapeutiknya dan merujuk pada dokter yang lebih ahli.

Page 9

Hak atas privasi dokter. Seperti umumnya manusia, dokter memiliki kehidupan pribadi yang harus dihormati.Hubungan antara pasien dan dokternya adalah hubungan terapeutik dan bukan hubungan personal yang melibatkan emosi dan perasaan seseorang secara berlebihan. Oleh karena itu pasien harus membatasi sejauh apa hubungan ini dapat dijalin. Bukan hak pasien untuk mencampuri aspek pribadi dokternya.Misalnya masalah keluarganya, perceraian yang dialaminuya atau aspek pribadi lainnya diluar hubungan pengobatan. Ketentraman Bekerja Dokter adalah orang pertama yang bersinggungan dengan risiko untuk terpapar penyakit dari pasiennya.Oleh karena itu harus ada jaminan yang layak di dalam memberikan kenyamanan dan suasana kerja yang baik.Siapa yang harus menciptakan atmosfer kerja yang nyaman ini?Tentu saja pihak rumah sakit dimana dokter bekerja, sejawatnya para petugas kesehatan dan pasien.Pekerjaan yang penuh tekanan kadangkala menyebabkan tekanan psikis yang tidak ringan, maka dokter berhak atas ketentraman bekerja.Artinya semua pihak yang terlibat di dalam hubungan relasi dan terapeutik harus menjaga kondisi yang baik tanpa ancaman. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter. Surat-surat keterangan dokter ini dikeluarkan oleh dokter di dalam rangka menjaga kondisi kesehatan pasiennya. Maka keterangan yang tertulis di sana haruslah didasarkan atas kejujuran. Menerima imbalan jasa. Menjadi anggota perhimpunan profesi. Hak membela diri. b) Kewajiban Dokter : Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah kedokteran.

Setiap dokter diharuskan untuk tunduk pada ketentuan Hipokrates, dimana terdapat nilai-nilai moral sebagai ukuran.Tentu saja nilai yang ada terus diperbaharui pengertiannya sesuai dengan kemajuan jaman.
Page 10

Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi.

Ketentuan ini mewajibkan seorang dokter untuk selaku bertindak secara professional dan senantiasa mengembangkan ilmunya.Sehingga pekerjaan kedokteran tidak pernah lepas dari riset dan pengembangan ilmunya sendiri. Namun permasalahan yang muncul kemudian adalah bahwa kadangkala, seorang dokter sudah terlalu disibukkan dengan mengobati pasien, sehinggga kewajiban untuk melakukan riset dan penelitian pengobatan sering terabaikan Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi. Setiap dokter wajib melindugi makhluk insani.

Di dalam hal ini telah diuraikan di dalam bab sebelumnya, bahwa seorang dokter harus melindungi makhluk insani di dalam konteks keseimbangan. Artinya sepanjang kehidupan seseorang masih bisa diperjuangkan maka seorag dokter berkewajiban untuk mengupayakan kesembuhan secara maksimal.Namun apabila memang kemungkinan kehidupan sudah tidak mungkin lagi diberikan atau diupayakan, maka mengambil tindakan memaksakan kehidupan adalah suatu kesalahan.Jalan terbaik adalah upaya alamiah. Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus mengutamaka kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan menggunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan penderita. Menerima imbalan jasa. Menjadi anggota perhimpunan profesi.

Setiap dokter memiliki kewajiban untuk ikut serta di dalam perhimpunan profesi. Fungis perhimpunan ini adalah untuk saling bertukar informasi mengenai perkembangan ilmu kedokeran serta menjalin kerja sama baik untuk promosi kesehatan maupun peningkatan pedidikan kesehatan. Perhimpunan profesi ini sekaligus diharapkan mampu memberikan advokasi bagi angggotanya yang terlibat masalah dan dapat menjadi mediator bukannya menjadi perisai untuk menutupi kesalahan.
Page 11

Hak membela diri.

Tugas dan pekerjaan yang dipikul oleh seorang dokter bukannya tanpa resiko.Oleh karena itu seorang dokter boleh melakukan pembelaan diri apabila terlibat di dalam suatu permasalahan berkaitan dengan profesinya.Dokter juga berhak mendapatkan dukungan dari teman sejawatnya untuk membela dirinya untuk membuktikan kebenaran.Namun hak ini harus dilandasi dengan kejujuran dan ketulusan agar keadilan dapat ditegakkan. Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada penderita agar senantasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya. Setiap dokter wajib merahasiakan segala seuatu yang diketahuinya tentang seorang penderita, bahkan setelah penderrita meninggal dunia.

Merahasiakan penyakit pasien merupakan suatu keharusan bagi setiap petugas kesehatan terutama doter.Hal ini diatur agar keamanan dan kenyamanan pasien terjamin. Ketentuan ini juga memberika perlindungan hokum kepada pasien agar tidak mendapatkan perlakukan disktriminatif dari masyarakat senadainya masyarakat tahu jenis penyakit apa yang di derita pasien. Selain itu juga mencegah terjadinya penilain negative dan pengucilan terhadap pasien sehubungan dengan penyakit yang di derita. Setiap dokter wajib melakukan pertolonga darurat sebagai suatu tugas kemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

Meskipun seorang tidak sedang bertugas, namun ia wajib untuk melakukan tugas kemanusiannya jika terjadi kondisi gawat darurat. Jadi alasan untuk menolak pasien adalah suatu kesalahan yang besar di mata hokum. Setiap dokter tidak boleh mengambil alih penderita dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya.

Ketentuan ini mengatur bentuk penghormatan terhadap teman sejawat yang telah menangani pasiennya terlebih dahulu.Namun tidak pernah menutup kemungkinan untuk memberi saran pada tema sejawat berkait dengan pengobatan pasien jika diminta dan diperlukan.

Page 12

3. Etika dan Kode Etik Kedokteran Indonesia ETIKA KEDOKTERAN Etik Ethics berasal dari kata Yunani ethos yang berarti akhlak, adat kebiasaan, watak, perasaan, sikap, yang baik, yang layak. Menurut Kamus Kedokteran, etika adalah pengetahuan tentang perilaku yang benar dalm satu profesi Pekerjaan profesi umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pendidikan sesuai standar nasional Mengutamakan panggilan kemanusiaan Berlandasan etik profesi, mengikat seumur hidup Legal melalui perizinan Belajar sepanjang hayat Anggota bergabung dalam satu organisasi profesi

Ciri-ciri etik profesi adalah sebagai berikut. 1. Berlaku untuk lingkungan profesi 2. Disusun oleh organisasi profesi bersangkutan 3. Mengandung kewajiban dan larangan 4. Menggugah sikap manusiawi Etika merupakan kajian mengenai moralitas - refleksi terhadap moral secara sistematik dan hati-hati dan analisis terhadap keputusan moral dan perilaku. Etika kedokteran salah satu cabang dari etika yang berhubungan dengan masalah-masalah moral yang timbul dalam praktek pengobatan.

MENGAPA HARUS BELAJAR ETIKA KEDOKTERAN? Belajar etika akan menyiapkan mahasiswa kedokteran untuk mengenali situasi-situasi yang sulit dan melaluinya dengan cara yang benar sesuai prinsip dan rasional. Sangat sering, bahkan etika membuat standar perilaku yang lebih tinggi dibanding hukum, dan kadang etika memungkinkan dokter perlu untuk melanggar hukum yang menyuruh melakukan tindakan yang tidak etis.

Page 13

KESIMPULAN Pengobatan merupakan ilmu dan seni. Ilmu berhubungan dengan apa yang bisa diamati dan diukur, dan dokter yang kompeten mengenali tanda-tanda dari kesakitan dan penyakit dan mengetahui bagaimana mengembalikan kesehatan yang baik. Namun pengobatan ilmiah memiliki keterbatasan terutama jika berhubungna dengan manusia secara individual, budaya, agama, kebebasan, hak asasi, dan tanggung jawab. Seni pengobatan melibatkan aplikasi ilmu dan teknologi pengobatan terhadap pasien secara individual, keluarga, dan masyarakat sehingga keduanya tidaklah sama. Lebih jauh lagi bagian terbesar dari perbedaan individu, keluarga, dan masyarakat bukanlah non-fisiologis namun dalam mengenali dan berhadapan dengan perbedaanperbedaan ini di mana seni, kemanusiaan, dan ilmu-ilmu sosial bersama dengan etika, memiliki peranan yang penting. Bahkan etika sendiri diperkaya oleh disiplin ilmu yang lain, sebagai contoh, presentasi dilema klinis secara teatrikal dapat menjadi stimulus yang lebih baik dalam refleksi dan analisis etis dibanding deskripsi kasus sederhana. KODEKI
Di Indonesia, Kode Etik Kedokteran sewajarnya berlandasan etik dan norma-norma yang mengatur hubungan antara manusia , yang asas-asasnya terdapat dalam falsafah Pancasila, sebagai landasan idiil dan UUD 1945 sebagai landasan strukturil. Dengan maksud untuk lebih nyata mewujudkan kesungguhan dan keluhuran ilmu kedokteran, para dokter baik yang tergabung dalam perhimpunan profesi Ikatan Dokter Indonesia IDI maupun secara fungsional terikat dalam organisasi pelayanan, pendidikan, dan penelitian telah menerima Kode Etik Kedokteran KODEKI Ada 2 versi KODEKI, yaitu yang sesuai dengan Surat Keputusan Menkes RI No. 434/Menkes/SK/X/1983 dan sesuai dengan Surat Keputusan PB IDI. No. 221/PB/A4/04/2002. Keduanya serupa tetapi tidak sama dari segi substansial organisasi profesi bersangkutan, kita berpedoman pada KODEKI yang diputuskan PB IDI yang telah menyesuaikan KODEKI dengan situasi kondisi yang berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta dinamika etika global yang ada. KODEKI tersebut berbunyi sebgai berikut.

Kewajiban Umum Pasal 1 sampai Pasal 9 Kewajiban Dokter Terhadap Pasien Pasal 10 sampai Pasal13 Page 14

Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat Pasal 14 sampai Pasal 15 Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri Pasal 16 sampai Pasal 17

4.Profesionalisme Kedokteran Sikap professional seorang dokter ditunjukkan ketika dokter berhadapan dengan tugasnya (dealing with task), yang berarti mampu menyelesaikan tugastugasnya sesuai peran dan fungsinya;mampu mengatur diri sendiri seperti ketepatan waktu, pembagian tugas profesi dengan tugas-tugas pribadi yang lain (dealing with oneself);dan mampu menghadapi berbagai macam tipe pasien serta pasien serta mampu bekerja sama dengan profesi kesehatan yang lain (dealing with others). Di dalam proses komunikasi dokter-pasien, sikap professional ini penting untuk membangun rasa nyaman, aman, dan percaya pada dokter, yang merupakan landasa bagi berlangsungnya komunikasi secara efektif(Silverman,1998). Di dalam proses Sikap professional ini hendaknya dijalin terus-menerus sejak awal konsultasi, selama proses konsultasi berlangsung, dan di akhir konsultasi. Contoh sikap dokter ketika menerima pasien : Menyilakan masuk dan mengucapkan salam. Memanggil/menyapa pasien dengan namanya. Menciptakan suasana yang nyaman (isyarat bahwa punya cukup waktu, menganggap penting informasi yang akan diberikan, menghindari tampak lelah). Memperkenalkan diri, menjelaskan tugas/perannya (apakah dokter umum, spesialis, dokter keluarga, dokter paliatif, konsultan gizi, konsultan tumbuh kembang, dan lain-lain). Menilai suasana hati lawan bicara Memperhatikan sikap non-verbal (raut wajah/mimik, gerak/bahasa tubuh) pasien Menatap mata pasien secara profesional yang lebih terkait dengan makna menunjukkan perhatian dan kesungguhan mendengarkan. Memperhatikan keluhan yang disampaikan tanpa melakukan interupsi yang tidak perlu. Apabila pasien marah, menangis, takut, dan sebagainya maka dokter tetap
Page 15

menunjukkan raut wajah dan sikap yang tenang. Melibatkan pasien dalam rencana tindakan medis selanjutnya atau pengambilan keputusan. Memeriksa ulang segala sesuatu yang belum jelas bagi kedua belah pihak. Melakukan negosiasi atas segala sesuatu berdasarkan kepentingan kedua belah pihak. Membukakan pintu, atau berdiri ketika pasien hendak pulang.

5.HUKUM KESEHATAN Memahami dan mendalami hukum kesehatan akan memberi dan meningkatkan keyakinan diri tenaga kesehatan dalam menjalankan profesi kesehatan yang berkualitas dan selalu berada pada jalur yang aman,tidak melanggar etika,dan ketertiban hukum. Dalam kasus dokter tidak ramah menlanggar pasal- pasal sebagai berikut : Pasal 51 UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien 2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan Berdasarkan UU no.8 / 1999 tentang perlindungan konsumen Mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien. 6.SAFETY PATIENT KepMen nomor 496/Menkes/SKIV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit, yang tujua utamanya adalah tercapainya pelayanan medis prima di rumah sakit yang jauh dari medical error dan memberikan keselamatan bagi pasien. Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) yang berinisiatif melakukan pertemuan dan mengajak semua stakeholder rumah sakit untuk lebih memperhatikan keselamatan pasien di rumah sakit. Mempertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit untuk
Page 16

berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap kemanusiaan, maka dikembangkan sistem Patient Safety yang dirancang mampu menjawab permasalahan yang ada. Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil suatu tindakan yang seharusnya diambil. Menurut Hasting G, 2006, ada delapan langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan budaya Patient Safety : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Put the focus back on safety Think small and make the right thing easy to do Encourage open reporting Make data capture a priority Use system-wide approaches Build implementation knowledge Involve patients in safety efforts Develop top-class patient safety leaders

Aspek hukum terhadap Patient Safety : UU tentang Kesehatan dan UU tentang Rumah Sakit : 1. Keselamatan pasien sebagai Isu Hukum a. Pasal 53 (3) UU No.36/2009 Pelaksanaan pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan nyawa pasien. b. Pasal 32n UU No.44/2009 Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit. c. Pasal 58 UU No.36/2009 1) Setiap orang berhak menuntut G.R terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.

Page 17

2) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tinakan penyelematan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.

2. Tanggung Jawab Hukum Rumah Sakit a. Pasal 29b UU No.44/2009 Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. b. Pasal 46 UU No.44/2009 Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di rumah sakit. c. Pasal 45 (2) UU No.44/2009 Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelematkan nyawa manusia.

3. Bukan Tanggung Jawab Rumah Sakit Pasal 45 (1) UU No.44/2009 tentang Rumah Sakit : Rumah sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang komprehensif.

4. Hak Pasien a. Pasal 32 UU No.44/2009 Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dari kerugian fisik dan materi. b. Pasal 32 UU No.44/2009

Page 18

Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.

c. Pasal 3j UU No.44/2009 Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan. d. Pasal 32 UU No.44/2009 Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.

5. Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien Pasal 43 UU No.44/2009 1) Rumah Sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien. 2) Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan. 3) Rumah Sakit melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri. 4) Paporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan ditujukan untuk mengoreksi sistem dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien. Pemerintah bertanggung jawab megeluarkan kebijakan tentang keselamatan pasien. Keselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan lebih aman. Sistem terebut meliputi : a. b. c. d. Assessment risiko Identifikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien Pelaporan dan analisis insiden Kemampuan belajar dari insiden
Page 19

e. Tindak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko 7.Komunikasi Efektif antara Dokter dan Pasien Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan oleh kedua pihak, pasien dan dokter. Opini yang menyatakan bahwa mengembangkan komunikasi dengan pasien hanya akan menyita waktu dokter, tampaknya harus diluruskan. Sebenarnya bila dokter dapat membangun hubungan komunikasi yang efektif dengan pasiennya, banyak hal-hal negative dapat dihindari.Dokter dapat mengetahui dengan baik kondisi pasien dan keluarganya dan pasien pun percaya sepenuhnya kepada dokter. Kondisi ini amat berpengaruh pada proses selanjutnya. Pasien merasa tenang dan aman ditangani oleh dokter sehingga akan patuh menjalankan petunjuk dan nasihat dokter karena yakin bawa semua yang dilakukan adalah untuk kepentingan dirinya. Pasien percaya bahwa dokter terebut dapat membantu menyelesaikan masalah kesehatannya.Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak memerlukan waktu lama.Komunikasi efektif terbukti memerlukan lebih sedikit waktu karena dokter terampil mengenali kebutuhan pasien (tidak hanya ingin sembuh).Dalam pembrian pelayanan medis, adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien merupakan kondisi yang diharapkan sehingga dokter dapat melakukan manajemen pengelolaan masalah kesehatan bersama pasien, berdasarkan kebutuhan pasien.Namun disadari bahwa dokter dan dokter gigi di Indonesia belum disiapkan untuk melakukannya.Dalam kurikulum kedokteran dan kedokteran gigi, membangung komunikasi efektif dokterpasien belum menjadi prioritas.Untuk itu dirasakan perlunya memberikan pedoman (guidance) untuk dokter guna memudahkan berkomunikasi dengan pasien atau keluarganya, Melalui pehaman tentang hal-hal penting dalam pengembangan komunikasi dokter-pasien diharapkan terjadi perubahan sikap dalam hubungan dokter-pasien. Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dam pasiennya adalah untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien, dengan demikian lebih efektif dan efisien bagi keduanya(Kurtz, 1998). Menurut Kurzt (1998), dalam dunia kedokteran ada dua pendekatan komunikasi yang digunakan : Disease centered communication style

Page 20

Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda dan gejalagejala. Illness centered communication style

Komunikasi berdasarkan apa saja yang dirasakan pasien tentang penyakitnya yang secara individu merupakan pengalaman unik. Disini termasuk pendapat pasien, kekhawatirannya, harapannya, apa yang menjadi kepentingan serta apa yang dipikirkannya. Dengan kemampuan dokter memahami harapan, kepentingan, kecemasan serta kebutuhan pasien, patient centered communication style sebenarnya tidak memerlukan waktu lebih lama daripada doctor centered communication style. Keberhasilan komunikasi antara dokter dan pasien pada umumnya akan melahurkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya menciptakan satu kata tambahan bagi pasien yaitu empati. Empati itu sendiri dapat dikembangkan apabila dokter memiliki ketrampilan mendengar dan berbicara yang kduannya dapat dipelajari dan dilatih. Carma L. Bylund & Gregory Makoil dama tulisanya tentang Emphatic Communication in Physcian-Patient Encounter(2002), menyatakan betapa pentingnya empati ini dikomunikasikan. Dalam konteks ini empati disusun dalam batasan definisi berikut: Kemampuan kognitif seorang dokter dalam mengerti kebutuhan pasien(a physician cognitive capacitu to understand patients needs), Menunjukan afektifitas/sensififitas dokter terhadap perasaam pasien (an affective sensitivity to patients feelings). Kemampuan perilaku dokter dalam memperlihatkan/menyampaikan empatinya kepada pasien ( a behavioral ability to convey empathy to patient).

8.Tinjauan Agama tentang Dokter Kurang Ramah Dilihat dari Motivasi dan Akhlak Al Imam ibn Hazm (690-751 H) seorang ulama kenamaan di dalam kitabnya Zadul maad III/hal. 110 menulis, bahwa seorang dokter yang akan melakukan penelitian dan mengobati si sakit senantiasa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Memperhatikan dengan seksama macam penyakit penderita
Page 21

2. Memperhatikan dengan sungguh-sungguh gejala dan sebab-sebab timbulnya penyakit. 3. Memperhatikan keadaaan jasmaniah penderita apakah ia mampu untuk menjadi prang percobaan dan penelitian. 4. Memperhatikan dengan seksama perkembangan tubuh penderita sejak ia lahir sampai saat ini. 5. Memperhatika dengan seksama oembawaan penderita, apakah pembawaan sejak lahir ataukah bukan. 6. Memperhatikan usia penderita 7. Memperhatikan adat istiadat penderita. 8. Memeperhatikan musim tatkala penderita akan berobat, apakah negeri itu sedang dalam keadaan musim dingin atau panas. 9. Memperhatikan dengan seksama negeri tumpah darah pendefita karena mungkin perbedaan adat istiadat dan sebagainya. 10. Situasi udara pada saat sakit datang untuk konsul supaya dijadikan bahan penelitian juga. 11. Obat yang tidak sesuai dengan pasien perlu diperhatikan. 12. Memperhatikan obat yang tidak sesuai dengan penyakitnya. 13. Memperhatikan efektivitas obat, tingkatannya dan perbandingan antara efektivitas obat dan faal tuuh pasien. 14. Tujuan pengobatan ini, bukan hanya menghilangkan penyakit tersebut, tetapi berusha untuk tidak memperberat penyakitnya akibat efek samping obat. 15. Memberikan obat dengan dosi minimal, bila perlu dosis ditingkatkan. 16. Hendaknya diperhatikan, apakah penyakitnya tersebut, dapat diobati atau tidak. Kalau tidak dapat diobati, jangan berusaha mengobati karena tidak akan mendatangkan manfaat. Kalau mungkin dionati, apakah akan dapat dihilangkan supaya tidak terus tumbuh. Apa yang mungkin hendaknya dilaksanakan dengan bertawakal kepada Allah SWT 17. Jangan menggatap penyakit yang campuran untuk dikosongkan sebelum datang waktu masaknya. Kalau sudah masak, barulah dikosongkan. 18. Seorang dokter hendakny mengetahui tentang penyakit hati/fikiran, jiwa serta obat-obatnya. Mengetahui tentang itu, adalah pokok yang penting untuk mengobati tubuh. Setiap dokter harus mengisi hati si sakit dengan sifat-sifat yang baik, dengan bertawakal kepada Allah, rela menerima taqdirNya, seelalu megingatkanNya dan mengharapkan pertolonganNya, merendahkan diri di hadapanNya, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan dan suka beribadat kepadaNya. Inilah sebagian dari pada obat fikiran dan jiwa.
Page 22

19. Dokter hendaknya bersikap ramah dan lemah lembut terhadap pasien. Perlakukanlah pasien dengan sebaik-baiknya. 20. Dokter hendaknya mempergunakan segala macam pengobatan baik obat-obat alamiah, maupun obat-obat ilhaiyah (ajaran Allah SWT) dan memberikan harapan-harapan baik kepada pasien. Selanjutnya Ibn Hazm menyatakan bahwa, esensi dari adab kedokteran, harus senantiasa memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Memelihara kesehatan yang telah ada. Mengembalikan kesehatan yang terganggu. Menghilangkan atau mengurangkan penyakit. Sabar menghadapi bahaya yang lebih ringan, untuk menghilangkan bahaya lebih berat. Memilih cara pengobatan dengan manfaat yang lebih besar.

KESIMPULAN Penelitian terhadap diri manusia dan penyakit yang timbul pada dirinya dibolehkan Tuhan sepanjang itu dilakukan di atas tanggung jawab keilmuan dan memperlakukan mausia sebagai makhluk yang terhormat, sehingga diperlukan adab sopan santun dan mafulnya (manusia yang diteliti) memiliki kemerdakaan untuk menerima atau menolaknya, serta para peneletinya tidak diwajibkan memikul resiko apapun bila sesuatu bencana terjadi tanpa sepengetahuannya dan tidak karena kesengajaan. Beban moral adalah beban yang palong berat bagi siapapun yang bermoral dan beriman, bila melakukan sesuatu yang siapapun yang sesungguhnya bertentangan dengan hati nuraninya, karena itu pertanyaan kepada lubuk hati yang paling dalam, merupakan pertanyaan terakhir sebelum memohon kepada Tuhan, yang akan memberi kepastian terhadap pekerjaan yang akan dilakukannya. Rasulullah senantiasa berkata : Tanyalah hati nuranimu kemudian bertawakallah.

Page 23

BAB II PENUTUP

II. Kesimpulan Dalam pelayaan kesehatan setiap pihak selalu mempunyai hak dan kewajiban baik itu pelayan kesehatan (dokter, perawat,dll) dan yang dilayani (pasien, masyarakat,dll). Dalam kasus dokter kurang ramah ini, dokter tersebut tidak memenuhi kewajibannya sebagai dokter;memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan memberikan informasi tentang penyakit yang diderita pasien. Selain itu dokter tersebut tidak memenuhi hak yang seharusnya didapat oleh pasien.Sedangkan jika ditinjau dari sisi agama, dokter tersebut telah melanggar etika dan akhlak antara dokter dan pasien.Dokter yang baik adalah dokter yang bersikap profesional, memenuhi hak pasien, melaksanakannya kewajibannya sebagai dokter, dan mematuhi etika dokter-pasien di dalam agama.

Page 24

DAFTAR PUSTAKA Amri Amir & Jusuf Hanafiah.1999.Etika Kesehatan.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran Kedokteran dan Hukum

Dewi Alexandra Indriyanti.2008.Etika dan Hukum Kesehatan.Yogyakarta:Pustaka Book Publisher Komalawati, Veronica.2010.Commnity&Patient Safety Dalam Perspektif Hukum Kesehatan. Lestari, Trisasi. 2006. Konteks Mikro dalam Implementasi Patient Safety: Delapan Langkah untuk Mengembangkan Budaya Patient Safety. Buletin IHQN Vol II/Nomor.04/2006 Hal.1-3
Mertokusumo, Sudikno.1986.Mengenal Hukum.Liberty.Yogyakarta. Muhammad Mulyahadi Ali, dkk(EDS).2006.Komunikasi Efektif Dasar.Pasien Konsil Kedokteran Indonesia.Jakarta

Pabuti, Aumas.2011.Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien (KP) Rumah Sakit.Proceding of expert lecture of medical studentof Block 21st of Andalas University, Indonesia Panduang Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit(Patient Safety).2005
Prof. dr. M. Jusuf Hanafiah, Sp.OG. 2007. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Prof. John R. Williams.2005. Ethics Unit of the World Medical Association

Tim Keselamatan Pasien RS RSUD Panembahan Senopati. Patient Safety

Page 25