Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

Hubungan

seksual

merupakan

kebutuhan

manusia

sejalan

dengan

tingkat pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Hubungan seksual yang dilakukan terutama bersama pasangan harus merupakan pengalaman yang menyenangkan sehingga menimbulkan perasaan bahagia. Hal ini didapat bila hubungan intim dilakukan atas kesepakatan bersama tanpa dipaksakan. Kebersamaan yang membahagiakan dan berdasarkan keinginan dari kedua belah pihak khususnya pada pasangan yang telah menikah akan mengakibatkan kehamilan merupakan suatu keadaan yang diharapkan dan dinantikan sebagai bagian dari tujuan menikah. Sesuai dengan persyaratan yang diajukan oleh WHO (World Health Organization) bahwa hubungan seksual meskipun dilakukan oleh pasangan suami istri yang telah menikah tetap harus memenuhi beberapa ketentuan. Ketentuan tersebut yang utama yaitu aman, sehat, menyenangkan dan tanpa paksaan. Hubungan seksual bila dilakukan dalam masa kehamilan, seoptimal mungkin diusahakan tidak mengganggu kehamilan..1 Perubahan yang dapat terjadi pada aktivitas seks adalah pada masa hamil. Keinginan seks pada waktu hamil sebagian besar tidak berubah, bahkan sebagian kecil makin meningkat, berkaitan dengan meningkatnya hormon esterogen. Oleh karena itu hubungan seks waktu hamil, bukan merupakan halangan. Pada kehamilan makin tua teknik pelaksanaannya agak sulit, karena perut makin membesar, pada saat itu wanita dapat memilih posisi siku-lutut. Menjelang 2 minggu persalinan,

dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seks, karena dapat terjadi ketuban pecah dan merangsang persalinan. Pada waktu hamil hubungan seks harus dihindari bila ada riwayat keguguran berulang, hamil dengan perdarahan, hamil dengan tanda infeksi, kehamilan dengan ketuban yang telah pecah, atau hamil dengan luka di sekitar alat kelamin luar.2

HUBUNGAN SEKSUAL DALAM KEHAMILAN

Pada umumnya hubungan seksual diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati-hati.3 Hubungan seksual tidak boleh dilakukan selama 6

minggu sebelum dan 6 minggu sesudah persalinan.4 Pada akhir kehamilan, karena kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul, hubungan seksual sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan memicu perdarahan.3 Bila dalam anamnesis ada abortus sebelum kehamilan yang sekarang, sebaiknya hubungan seksual ditunda sampai kehamilan 16 minggu. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk, serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil.3 Gravida dengan riwayat infertilitas atau abortus habitualis dan primi tua sebaiknya dianjurkan tidak berhubungan seksual dalam kehamilan muda.

Perdarahan, walaupun sedikit merupakan kontraindikasi untuk berhubungan seksual.4 Tubuh memerlukan waktu untuk pulih ke keadaan normal seperti sebelum hamil, entah anda melahirkan melalui vagina atau dengan operasi. Banyak Dokter menyarankan untuk menunggu setidaknya 6 minggu post partum sebelum mulai berhubungan intim. Periode ini memberi waktu bagi mulut rahim untuk kembali menutup dan jahitan atau perlukaan untuk sembuh.4 Namun demikian, nasehat dan larangan lebih mudah diberikan dan sangat sulit waktu pelaksanaan. Misalnya, sang suami masih muda usia atau nafsu birahinya memang lebih besar dari pria rata-rata terlebih bila baru menikah, sedang istrinya

sudah hamil tua. Dalam hal demikian dapat dianjurkan jalan keluar, apabila sang suami tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya, yaitu dengan manipulasi ekstragenital dengan tangan sang istri (seperti pada masturbasi), atau penis digosokgosokkan diantara kedua payudara atau diantara kedua paha yang dirapatkan (koitus interfemora). Sebagai bahan pelumas dapat dipakai air ludah, paraffinum liquidum atau gliserinum. Yang penting ialah bahwa sang suami mendapat gratifikasi seksual. Manipulasi tersebut di atas masih dapat dianggap sebagai variasi hubungan seksual dalam batas-batas normal karena keadaan yang memaksa/mengharuskan demikian. Setelah kurang lebih empat puluh hari pasca persalinan hubungan seksual dapat dilakukan seperti biasa lagi.4 Mengenai posisi hubungan seksual saat kehamilan pada awal kehamilan anda dapat melakukan hubungan seksual dengan posisi yang anda pilih, tetapi saat perut semakin membesar posisi yang biasa dilakukan akan menjadi tidak nyaman lagi.sebaiknya ibu hamil menghindari posisi berbaring terlentang ketika melakukan hubungan seksual karena rahim akan menekan vena besar. Jadi posisi misionaris atau pria diatas tubuh wanita tidak lagi nyaman untuk perut yang sudah membesar. Ada beberapa posisi yang terbaik yang dianjurkan selama kehamilan yaitu: posisi wanita diatas, posisi duduk dan posisi bercinta dari samping.5,6 Posisi hubungan seksual yang sangat tidak dianjurkan dilakukan terutama bagi wanita hamil tua (trimester III) adalah posisi hubungan seksual wanita dibawah. Hal ini karena pada posisi ini akan mengakibatkan sentuhan langsung yang berulang ulang dari penis pada porsio dapat menyebabkan iritasi serviks.4

Faktor-faktor fisik yang mempengaruhi dorongan seksual 7 Kelelahan Morning sicknes (mual dan muntah) Perut membesar Ketegangan alat genitalia Payudara tegang

Faktor-faktor emosional yang mempengaruhi dorongan seksual7 Takut Keguguran Takut orgasme Takut infeksi

Komplikasi berhubungan seks dalam kehamilan8 Faktor risiko terjadinya komplikasi dalam berhubungan seksual selama masa kehamilan antara lain: 1. Mempunyai riwayat abortus atau terdapat ancaman abortus. 2. Riwayat persalinan premature (kurang 37 minggu) atau tanda tanda yang menunjukan risiko persalinan premature (kontraksi uterus) 3. Perdarahan pervaginam 4. Kebocoran cairan ketuban. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi selama berhubungan seks dalam masa kehamilan termasuk perdarahan, penyakit radang panggul. Perdarahan dari jalan lahir

saat kehamilan biasanya tergolong ringan. Namun bagaimanapun juga hal ini berkaitan dengan abortus spontan, persalinan prematur, dan bayi lahir dengan berat badan rendah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Pengetahuan dan sikap tentang hubungan seksual selama kehamilan. Available from: http://id.scribd.com/doc/66468790/BAB-I-Pengetahuan-Dan-

Sikap-Tentang-Hubungan-Seksual-Selama-Kehamilan. Di unduh tanggal 25 mei 2013. 2. Ida Ayu C.M, Ida Bagus F.M, Ida Bagus G.M. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Editor Monica Ester. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 2006. Hal 23-24. 3. Wiknjosastro H, Saifuddin A. B, Rachimhadhi T. Ilmu Kebidanan. Ed. 3; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 1997:130,160. 4. Prawirhardjo S, Wiknjosastro H. Psikosomatik dan seksologi. Dalam:

Wiknjosastro H, editor. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 1999: 618-9. 5. Suririnah, Kehamilan Dan Persalinan. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.2008. Hal 117-21. 6. Jane M, Kehamilan. Penerbit Erlanga. Jakarta. 2003. Hal 52. 7. Jaka. Seks Dalam Kehamilan. Available from http://www.djaka.com/2010. accesed on march 27th 2011 8. Gokyildiz S, Beji NK. The effects of pregnancy on sexual life. Journal of sex and marital therapy; 2005;31(11):201-15.