Anda di halaman 1dari 26

5/11/2012

Civil Engineering Diploma Program Vocational School Gadjah Mada University

Nursyamsu Hidayat, Ph.D.

Gambar Situasi Skala 1:1000

Penentuan Trace Jalan

Penentuan Koordinat PI & PV

Perencanaan Alinyemen Vertikal

Perencanaan Alinyemen Horisontal

Coba Tikungan Full Circle

R > Rmin

Yes

Pakai Tikungan Full Circle

No

Coba Tikungan Spiral Circle - Spiral


No

Lc > 20

Yes

Pakai Tikungan Spiral Circle - Spiral

No

Pilih Tikungan Spiral - Spiral

Perencanaan Super Elevasi

Perencanaan Pelebaran Perkerasan Pada Tikungan

Perencanaan Kebebasan Samping

Gambar Penampang Melintang


Yes

Gambar Perencanaan: Plan Profil Memanjang Penampang Melintang

Source: .

5/11/2012

Adalah aspek-aspek perencanaan bagian-bagian jalan (trase, lebar, tikungan, landai, & jarak pandangan) dan juga kombinasi dari bagian-bagian tersebut sesuai dengan tuntutan dan sifat-sifat lalu lintas dengan tujuan untuk menciptakan hubungan yang baik antara waktu dan ruang dengan kendaraan agar dicapai efisiensi, keamanan dan kenyamanan secara optimal dalam batas-batas kelayakan ekonomi. Perencanaan geometrik terkait dengan arus lalu lintas, perencanaan konstruksi jalan berkaitan dengan beban lalu lintas. Perencanaan geometrik merupakan tahap lanjutan setelah proses perancangan (planning). Proses planning berkaitan dengan analisis pengaruh jalan terhadap perkembangan wilayah, sifat lalu lintas yang harus dilayani, & kualitas pelayanan.

Source: .

Sangat mempengaruhi perencanaan bagian-bagian jalan Keadaan tanah dasar mempengaruhi lokasi dan bentuk geometrik jalan Tanah dasar jelek atau air tanah yang tinggi maka mungkin trase harus pindah atau perlu timbunan tinggi Di daerah dengan curah hujan tinggi perlu lereng melintang lebih besar atau alinyemen jauh lebih tinggi dari tanah asli. Untuk daerah datar perlu perencanaan drainase yang baik Daerah pegunungan mempengaruhi pemilihan lokasi dan bagianbagian jalan lainnya, bahkan type jalan. Daerah pertanian dan industri banyak kendaraan truk yang berbeda dengan daerah pemukiman atau wisata dimana banyak mobil penumpang Jalan di rural area banyak kendaraan kecepatan tinggi yang perlu syarat perencanaan lebih berat dibanding jalan untuk urban area yang didominasi kendaraan kecepatan rendah Pemilihan trase di rural lebih bebas dari pada di perkotaan.

Source: .

5/11/2012

Standar perencanaan adalah ketentuan yang memberikan batasan-batasan dan metode perhitungan agar dihasilkan produk yang memenuhi persyaratan. Standar perencanaan geometrik untuk ruas jalan di Indonesia biasanya menggunakan peraturan resmi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga tentang perencanaan geometrik jalan raya. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga dengan terbitan resmi No. 038 T/BM/1997 American Association of State Highway and Transportation Officials. 2001 (AASHTO 2001).
5

Kendaraan Rencana adalah kendaraan yang dimensi dan radius putarnya dipakai sebagai acuan dalam perencanaan geometrik. Kendaraan Rencana dikelompokkan ke dalam 3 kategori:
(1) Kendaraan Kecil, diwakili oleh mobil penumpang; (2) Kendaraan Sedang, diwakili oleh truk 3 as tandem

atau oleh bus besar 2 as; (3) Kendaraan Besar, diwakili oleh truk-semi-trailer.
6

5/11/2012

Dimensi Kendaraan Rencana


Kategori kend. Rencana Kend Kecil Kend Sedang Kend Besar Dimensi Kend. (cm) t 130 410 410 L 210 260 260 P 580 1210 2100 Tonjolan (cm) depan 90 210 120 blkg 150 240 90 Radius putar min 420 740 290 maks 730 1280 1400
R tonjolan (cm)

780 1410 1370

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

Radius Putar Kendaraan Kecil

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota

5/11/2012

SMP adalah angka satuan kendaraan dalam hal kapasitas jalan, di mana mobil penumpang ditetapkan memiliki satu SMP.
No 1 Jenis Kendaraan Sedan, jeep, station wagon Datar/ Perbukitan 1.0 Pegunungan 1.0

2
3

Pick-Up, bus kecil, truck kecil Bus dan truck besar

1.2 2.4
1.2 5.0

1.9 3.5
2.2 6.0
9

Volume lalu lintas menunjukkan jumlah kendaraan yang melintasi satu titik pengamatan dalam satu satuan waktu (hari, jam, menit). Volume lalu lintas yang tinggi membutuhkan lebar perkerasan jalan lebih besar sehingga tercipta kenyamanan dan keamanan dalam berlalu lintas. Sebaliknya jalan yang terlalu lebar untuk volume lalu lintas rendah cenderung membahayakan karena pengemudi cenderung mengemudikan kendaraannya pada kecepatan yang lebih tinggi sedangkan kondisi jalan belum tentu memungkinkan. Disamping itu juga mengakibatkan peningkatan biaya pembangunan jalan yang tidak pada tempatnya/ tidak ekonomis (Sukirman, 1994).
10

5/11/2012

Satuan volume lalu lintas yang umum dipergunakan sehubungan dengan penentuan jumlah dan lebar jalur adalah:
1. Lalu lintas harian rata-rata

2. Volume jam perencanaan

11

Lalu lintas harian rata-rata adalah volume lalu lintas rata-rata dalam satu hari (Sukirman,1994). Cara memperoleh data tersebut dikenal dua jenis lalu lintas harian rata-rata, yaitu lalu lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) dan lalu lintas harian ratarata.

12

5/11/2012

LHRT adalah jumlah lalu lintas kendaraan rata-rata yang melewati satu jalur jalan selama 24 jam dan diperoleh dari data selama satu tahunan penuh. LHRT = jumlah Lalulintas dalam 1 tahun/365

13

Sedangkan LHR adalah hasil bagi jumlah kendaraan yang diperoleh selama pengamatan dengan lamanya pengamatan LHR = Jumlah Lalulintas selama pengamatan/lamanya pengamatan
Pengamatan dilakukan pada interval-interval waktu yang

cukup menggambarkan fluktuasi arus lalu lintas selama satu tahun. Hasil LHR yang dipergunakan adalah harga rata-rata dari perhitungan LHR beberapa kali

14

5/11/2012

Volume Lalu Lintas Harian Rencana (VLHR) adalah prakiraan volume lalu lintas harian pada akhir tahun rencana lalu lintas dinyatakan dalam SMP/hari. Volume Jam Rencana (VJR) adalah prakiraan volume lalu lintas pada jam sibuk tahun rencana lalu lintas, dinyatakan dalam SMP/jam VJR digunakan untuk menghitung jumlah lajur jalan dan fasilitas lalu lintas lainnya yang diperlukan.
15

VJR = VLHR * (K/F) K (Faktor K) : faktor volume lalulintas jam sibuk F (Faktor F) : faktor variasi tingkat lalulintas perseperempat jam dalam satu jam

16

5/11/2012

VLHR > 50,000 30,000 50,000 10,000 30,000 5,000 10,000 1,000 5,000 < 1,000

FAKTOR - K (%) 46 68 68 8 10 10 12 12 16

FAKTOR F (%) 0.9 - 1 0.8 1 0.8 1 0.6 - 0.8 0.6 0.8 < 0.6

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

17

1)

Kecepatan rencana, VR, pada suatu ruas jalan adalah kecepatan yang dipilih sebagai dasar perencanaan geometrik jalan yang memungkinkan kendaraankendaraan bergerak dengan aman dan nyaman dalam kondisi cuaca yang cerah, lalu lintas yang lengang, dan pengaruh samping jalan yang tidak berarti. Untuk kondisi medan yang sulit, VR suatu segmen jalan dapat diturunkan dengan syarat bahwa penurunan tersebut tidak lebih dari 20 km/jam.

2)

18

5/11/2012

Tabel VR sesuai klasifikasi fungsi dan klasifikasi medan jalan


Kecepatan Rencana (VR) (km/jam) Fungsi Arteri Kolektor Lokal Datar 70 -120 60 90 40 - 70 Bukit 60 -80 50 60 30 - 50 Pegunungan 40 70 30 50 20 - 30
19

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

20

10

5/11/2012

Daerah manfaat jalan (DAMAJA)


1. lebar antara batas ambang pengaman

konstruksi jalan di kedua sisi jalan, 2. tinggi 5 meter di atas permukaan perkerasan pada sumbu jalan, dan 3. kedalaman ruang bebas 1,5 meter di bawah muka jalan.

21

Daerah milik jalan (DAMIJA)


Damija dibatasi oleh lebar yang sama dengan Damaja

ditambah ambang pengaman konstruksi jalan dengan tinggi 5 meter dan kedalaman 1.5 meter

Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA)


Ruang Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) adalah ruang

sepanjang jalan di luar Damaja yang dibatasi oleh tinggi dan lebar tertentu, diukur dari sumbu jalan
1. 2. 3. jalan Arteri minimum 20 meter, jalan Kolektor minimum 15 meter, alan Lokal minimum 10 meter.

Untuk keselamatan pemakai jalan, Dawasja di daerah

tikungan ditentukan oleh jarak pandang bebas.

22

11

5/11/2012

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

23

Jalur lalin dapat terdiri dari beberapa lajur Tipe-tipe jalur lalin:
1. 2. 3. 4.

1 jalur-2 lajur-2 arah (2/2 TB) 1 jalur-2 lajur-1 arah (2/1 TB) 2 jalur-4 lajur-2 arah (4/2 B) 2 jalur-n lajur-2 arah (n/2 B), n = jumlah lajur.

Lebar jalur sangat ditentukan oleh jumlah dan lebar lajur peruntukannya.. Lebar jalur minimum adalah 4.5 meter, memungkinkan 2 kendaraan kecil saling berpapasan.
24

12

5/11/2012

1 Jalur 2 lajur 2 arah (2/2 TB)

1 Jalur 2 lajur 1 arah (2/1 TB)

2 Jalur 4 lajur 2 arah (4/2 B)


25

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

26

13

5/11/2012

27

Lajur adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dibatasi oleh marka lajur jalan, memiliki lebar yang cukup untuk dilewati suatu kendaraan bermotor sesuai kendaraan rencana. Lebar lajur tergantung pada kecepatan dan kendaraan rencana, yang dalam hal ini dinyatakan dengan fungsi dan kelas jalan
Fungsi Arteri Kelas I II, III A Lebar Lajur Ideal (m) 3.75 3.50

Kolektor
Lokal

III A, III B
III C

3.00
3.00
28

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

14

5/11/2012

Jumlah lajur ditetapkan dengan mengacu kepada MKJI berdasarkan tingkat kinerja yang direncanakan, di mana untuk suatu ruas jalan dinyatakan oleh nilai rasio antara volume terhadap kapasitas yang nilainya tidak lebih dari 0.80 Untuk kelancaran drainase permukaan, lajur lalu lintas pada alinemen lurus memerlukan kemiringan melintang normal sebagai berikut :
2 - 3% untuk perkerasan aspal dan perkerasan beton; 4 - 5% untuk perkerasan kerikil

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

29

Bahu jalan adalah bagian jalan yang terletak di tepi jalur lalin dan harus diperkeras Fungsi bahu jalan:

Lajur lalin darurat, tempat berhenti

sementara/parkir darurat Ruang bebas samping bagi lalulintas Penyangga sampai untuk kestabilan perkerasan

Kemiringan bahu jalan normal 3 5 %


30

15

5/11/2012

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

31

Median adalah bagian bangunan jalan yang secara fisik memisahkan dua jalur lalu lintas yang berlawanan arah. Fungsi median :

Jalan 2 arah dengan 4 lajur atau lebih perlu dilengkapi median.

memisahkan dua aliran lalu lintas yang berlawanan arah; ruang lapak tunggu penyeberang jalan; penempatan fasilitas jalan; tempat prasarana kerja sementara; penghijauan; tempat berhenti darurat (jika cukup luas); cadangan lajur (jika cukup luas); dan mengurangi silau dari sinar lampu kendaraan dari arah yang berlawanan.

32

16

5/11/2012

Median dapat dibedakan atas:


(1) Median direndahkan, terdiri atas jalur tepian dan

Lebar minimum median terdiri atas jalur tepian selebar 0,25-0,50 meter dan bangunan pemisah jalur Perencanaan median yang lebih rinci mengacu pada Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga,Maret 1992.
33

bangunan pemisah jalur yang direndahkan. (2) Median ditinggikan, terdiri atas jalur tepian dan bangunan pemisah jalur yang ditinggikan.

Bentuk Median Median ditinggikan Median direndahkan

Lebar min (m) 2.0 7.0

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

34

17

5/11/2012

Fasilitas pejalan kaki berfungsi memisahkan pejalan kaki dari jalur lalu lintas kendaraan guna menjamin keselamatan pejalan kaki dan kelancaran lalu lintas. Jika fasilitas pejalan kaki diperlukan maka perencanaannya mengacu kepada Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Maret 1992

35

36

18

5/11/2012

Jarak Pandang adalah suatu jarak yang diperlukan oleh seorang pengemudi pada saat mengemudi sedemikian sehingga jika pengemudi melihat suatu halangan yang membahayakan, pengemudi dapat melakukan sesuatu untuk menghidari bahaya tersebut dengan aman. Dibedakan dua Jarak Pandang, yaitu Jarak Pandang Henti (Jh) dan Jarak Pandang Mendahului (Jd).

37

Jh adalah jarak minimum yang diperlukan oleh setiap pengemudi untuk menghentikan kendaraannya dengan aman begitu melihat adanya halangan di depan. Setiap titik di sepanjang jalan harus memenuhi Jh. Jh diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halangan 15 cm diukur dari permukaan jalan. Jh terdiri atas 2 elemen jarak, yaitu:
jarak tanggap (Jht) adalah jarak yang ditempuh oleh

kendaraan sejak pengemudi melihat suatu halangan yang menyebabkan ia harus berhenti sampai saat pengemudi menginjak rem; dan jarak pengereman (Jhp) adalah jarak yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan sejak pengemudi menginjak rem sampai kendaraan berhenti. 38

19

5/11/2012

Jh, dalam satuan meter, dapat dihitung dengan rumus:

VR = kecepatan rencana (km/jam) T = waktu tanggap, ditetapkan 2,5 detik g = percepatan gravitasi, ditetapkan 9,8 m/det2 f = koefisien gesek memanjang perkerasan jalan aspal, ditetapkan 0,35-0,55.

39

Jarak pandang henti minimum


VR (km/jam) 120 250 100 175 80 120 60 75 50 55 40 40 30 27 20 16

Jh minimum (m)

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota , 1997

40

20

5/11/2012

Jd adalah jarak yang memungkinkan suatu kendaraan mendahului kendaraan lain di depannya dengan aman sampai kendaraan tersebut kembali ke lajur semula Jd diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halangan adalah 105 cm.

41

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

42

21

5/11/2012

Jd, dalam satuan meter ditentukan sebagai berikut: Jd = d1 + d2 + d3 + d4 d1 = jarak yang ditempuh selama waktu tanggap (m), d2 = jarak yang ditempuh selama mendahului sampai dengan kembali ke lajur semula (m), d3 = jarak antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang datang dari arah berlawanan setelah proses mendahului selesai (m), d4 = jarak yang ditempuh oleh kendaraan yang datang dari arah berlawanan, yang besarnya diambil sama dengan 2/3 d2 (m).

43

Jd yang sesuai dengan VR dapat ditetapkan sbb:


VR (km/jam) Jd (m) 120 800 100 670 80 550 60 350 50 250 40 200 30 150 20 100

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

Daerah mendahului harus disebar di sepanjang jalan dengan jumlah panjang minimum 30% dari panjang total ruas jalan tersebut.
44

22

5/11/2012

Daerah bebas samping di tikungan adalah ruang untuk menjamin kebebasan pandang di tikungan sehingga Jh dipenuhi. Daerah bebas samping dimaksudkan untuk memberikan kemudahan pandangan di tikungan dengan membebaskan obyekobyek penghalang sejauh E (m), diukur dari garis tengah lajur dalam sampai obyek penghalang pandangan sehingga persyaratan Jh dipenuhi

45

Daerah bebas samping di tikungan dihitung berdasarkan rumus-rumus sebagai berikut: 1. Jarak Pandang< Panjang Tikungan ( Jh<Lt) :

R = Jari jari tikungan (m) Jh = Jarak pandang henti (m) Lt = Panjang tikungan (m)

46

23

5/11/2012

Jh<Lt

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

47

2.

Jarak Pandang > Panjang Tikungan (Jh>Lt) :

R = Jari jari tikungan (m) Jh = Jarak pandang henti (m) Lt = Panjang tikungan (m)

48

24

5/11/2012

2.

Jarak Pandang > Panjang Tikungan (Jh>Lt) :

Source: Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997

49

Nilai E, dalam satuan meter, telah ditetapkan dan ditabelkan dengan pembulatan-pembulatan untuk Jh<Lt dan Jh>Lt. Tabel tersebut dapat dipakai untuk menetapkan E.

50

25

5/11/2012

Dept. PU., 1997. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Direktorat Jenderal Bina Marga Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004. Tentang Jalan

51

26