Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN BIOKIMIA KI Percobaan 2 Pemisahan Protein Putih Telur dengan Fraksinasi (NH4)2SO4

Nama NIM Kelompok

: Imana Mamizar : 10511066 :5

Nama Asisten : Robby Zidny (20511304) Tanggal Percobaan : 24 September 2013 Tanggal Pengumpulan : 1 Oktober 2013

LABORATORIUM BIOKIMIA PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

Pemisahan Protein Putih Telur dengan Fraksinasi (NH4)2SO4 I. Tujuan Percobaan Melakukan pemisahan protein pada putih telur dan menganalisis masing-masing fraksi nya berdasarkan perbedaan berat molekulnya II. Teori Dasar Proses pengendapan protein dengan penambahan garam sedikit demi sedikit ke dalam larutan sampai jenuh atau disebut dengan istilah salting out. Pada saltinmg out, prinsipnya adalah protein akan kurang larut ketika berada pada konsentrasi garam yang tinggi yang diakibatkan oleh kekurangan yang air yang semula digunakan untuk mensolvasi protein diganti untuk menghidrasi ion-ion garam yang larut. Penambahan garam ke dalam larutan protein ini memiliki pengaruh yang berbeda terhadap masing-masing protein, sehingga protein yang mengalami kelarutan paling rendah akan mengendap terlebih dahulu . Metode salting out ini bergantung pada 2 fenomena fisik yang penting, yaitu penghentian dari daya tarik dari permukaan protein oleh ion garam dan perpindahan air dari sekitar molekul protein oleh kompetisi dari ion garam dengan air.

III.

Data Pengamatan Proses sentrifugasi ke-

Pengamatan

Gambar

Terlihat endapan yang terbentuk masih sangat sedikit Gambar 1 (fraksi 0-20%)

Protein yang mengendap pada tahap ini sudah lebih banyak dibandingkan tahap sebelumnya Gambar 2 (fraksi 20-50%)

Proses sentrifugasi ke-3 menghasilkan endapan yang terbanyak Gambar 3 (fraksi 50-70%)

Pengamatan setelah dianalisis dengan SDS-PAGE

A.Fraksi 50-70% B. Fraksi 20-50% IV. Pembahasan Pada percobaan ini, pengendapan protein yang terdapat pada larutan putih telur dilakukan dengan penambahan garam ammonium sulfat yang disebut dengan prinsip salting out. Penambahan garam ammonium sulfat dilakukan secara bertahap yang bertujuan untuk menyeleksi berdasarkan kelarutan protein dalam air. Semakin banyak gugus polar maka kelarutan protein dalam air akan semakin tinggi. Protein yang mengendap terlebih dahulu berarti memiliki gugus polar yang lebih sedikit. Dan apabila pada protein tersebut memiliki gugus polar lebih banyak, maka dibutuhkan garam yang lebih banyak untuk mengendapkannya. Proses pengendapan protein dipercepat dengan proses sentrifugasi. Proses sentrifugasi berprinsip bahwa benda diputar secara horizontal pada jarak tertentu sehingga zat yang memiliki berat molekul lebih besar akan bergerak ke dasar tabung dan zat yang memiliki berat molekul lebih kecil akan bergerak ke bagian atas tabung. Sehingga endapan protein akan terpisah dari cairannya. Dari hasil pengamatan, bisa dilihat bahwa pada penambahan garam hingga 20 % jenuh hanya diperoleh endapan

protein yang sangat sedikit yang disebut fraksi 0-20%. Seiring dengan penambahan garam yang bertambah banyak, dihasilkan pula endapan yang semakin banyak. Selain dihasilkan endapan, dihasilkan pula supernatant. Supernatan tersebut kemudian diproses lagi dengan penambahan garam ammonium sulfat sampai 50% jenuh dan sampai 70% jenuh. Endapan yang dihasilkan semakin banyak yaitu. fraksi 20-50% dan yang terakhir adalah fraksi 50-70% . Setiap fraksi endapan yang telah dilarutkan dalam buffer tris pH 7, kemudian dianalisis menggunakan SDS-PAGE. SDS PAGE, singkatan dari Sodium Dodecyl Sulfate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis, merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan prinsip elektroforesis. Pemisahan dilakukan dengan menambahkan medan listrik, dimana terjadi aliran muatan dari muatan negative ke positif. Terdapat dua layer gel di dalam SDS-PAGE. Layer pertama disebut stacking gel yang berfungsi untuk peletakan well atau sumur untuk tempat analisi protein dan layer kedua disebut separating gel yang berfungsi sebagai tempat terjadinya proses pemisahan protein. Pada stacking gel, pH dibuat 6,8 yang bertujuan untuk membuat protein berada dalam keadaan zwitter ion. Saat protein memasuki separating gel, yang pH nya dibuat 8,8 , muatan protein akan menjadi negative sehingga proses elektroforesis bisa berlangsung. Protein yang bermuatan negative akan menuju ke kutub positif yang berada di bagian bawah gel. Protein dengan ukuran molekul yang lebih besar akan tertahan di bagian atas gel dan protein dengan ukuran molekul yang lebih kecil akan lebih mudah masuk menembus gel yang merupakan polimer acrylamide. Proses elektroforesis sangat bergantung pada tegangan dan waktu analisis. Jika kita memberikan tegangan yang tinggi, maka proses pemisahan akan berlangsung secara cepat namun hasilnya kurang bagus, oleh karena itu perlu adanya pengaturan waktu agar proses pemisahan protein berlangsung dengan baik dan protein berhasil terpisahkan dengan baik pula. Hasil yang didapat melalui proses SDS-PAGE, dapat dilihat pada gambar, poin B adalah hasil fraksi 20-50% dihasilkan 2 pita tebal, artinya terdapat 2 jenis protein di dalam fraksi tersebut. Jenis protein pada pita paling atas menunjukkan protein tersebut lebih berat daripada protein yang lain. Pada fraksi 50-70 % yang terlihat pada gambar, dihasilkan pula 2 pita tebal, namun dengan intensitas yang berbeda. Artinya jenis protein pada pita A dan B sama, namun hanya jumlahnya saja yang berbeda.

V.

Kesimpulan Dari hasil pemisahan diperoleh 2 jenis protein pada fraksi 20-50% dan 2 jenis protein juga pada fraksi 50-70%

VI.

Daftar Pustaka

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dananalisis/sentrifugasi/ diakses tanggal 30 September 2013

Anda mungkin juga menyukai