Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS PENGARUH LEVERAGE KEUANGAN, PROFITABILITAS DAN CASH POSITION TERHADAP DEVIDEND PAYOUT RATIO

(Studi Empiris pada Perusahan Go Public yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)/ THE EFFECT OF FINANCIAL LEVERAGE, PROFITABILITY AND CASH POSITION ON DEVIDEND PAYOUT RATIO (An empirical study on the companies which are listed at Indonesian Stock Exchange) Oleh Suryani Paulus Wardoyo Fakultas Ekonomi Universitas Semarang Abstrak Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari financial leverage, profitabilitas dan posisi kas terhadap deviden payout ratio, dari perusahaan yang melakukan go public dan terdaftar di BEI. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 21 perusahaan, sedangkan pemilihan responden/sampel dilakukan secara purposive sampling. Dari hasil pengujian terhadap semua variable menunjukan bahwa tidak satupun dari ketiga variable independen yang berpengaruh terhadap DPR. Disamping itu, Koefisien determinasi dari penelitian ini hanya mencapai sebesar 1,5 %. Kata kunci : finasial leverage, profitabilitas, posisi kas dan dividend payout ratio. Abstract The purpose of this study is to analysis the effect of financial leverage, profitability and cash position on devident payout ratio. The object of the study are the companies which are listed in Indonesian Stock Exchange. Total sample is 21 companies and purposive sampling is used. Conclusion of the study shown that all independen variable have no effect to DPR. Keyword : financial leverage, profitability, cash position and dividend payout ratio.

Latar Belakang Tujuan utama dari investor dalam menanamkan dananya ke dalam perusahaan yaitu untuk mencari pendapatan atau tingkat pengembalian investasi (return) baik berupa pendapatan deviden (deviden yield) maupun pendapatan dari selisih harga jual saham terhadap harga belinya (capital gain). Ross (1997) mendefinisikan deviden sebagai pembayaran kepada pemilik perusahaan yang diambil dari keuntungan perusahaan, baik dalam bentuk saham maupun tunai. Pembayaran deviden dalam bentuk tunai (kas) lebih banyak diinginkan investor daripada dalam bentuk lain, karena pembayaran deviden tunai membantu mengurangi ketidakpastian investor dalam aktivitas investasinya di dalam perusahaan.

Dalam hubungannya dengan pendapatan deviden, para investor umumnya menginginkan pembagian deviden yang relatif stabil, karena dengan stabilitas deviden dapat meningkatkan kepercayaan investor dalam menanamkan dananya kedalam perusahaan, sehingga mengurangi unsur ketidakpastian dalam investasi (Ang, 1997). Di sisi lain perusahaan yang akan membagikan deviden diharapkan pada berbagai macam pertimbangan anatara lain perlunya menahan sebagian laba untuk re-investasi yang mungkin lebih menguntungkan, kebutuhan dana perusahaan, likuiditas perusahaan, sifat pemegang saham, target tertentu yang berhubungan dengan rasio pembayaran deviden yang berhubungan dengan kebijakan deviden. Kebijakan deviden kas sebuah perusahaan memiliki dampak penting bagi banyak pihak yang terlibat di masyarakat (Suherli,2004). Bagi para pemegang saham atau investor, deviden kas merupakan tingkat pengembalian investasi mereka berupa kepemilikan saham yang diterbitkan perusahaan lain. Bagi pihak manajemen, deviden kas merupakan arus kas keluar yang mengurangi kas perusahaan. Perushaan yang memiliki kemampuan membayar deviden diasumsikan masyarakat sebagai perusahaan yang menguntungkan. Namun pertimbangan menjadi semakin rumit apabila kepentingan berbagai pihak diakomodasi. Di satu sisi ada pihak yang cenderung berharap pembayaran deviden lebih besar atau sebaliknya. Sederhan saja, umumnya pihak manajemen menahan kas untuk melunasi hutang atau meningkatkan investasi. Maksudnya pengurangan hutang akan mengurangi cash outflow berupa interest expanse dan investasi dapat memberikan pengembalian berupa cash inflow bagi perusahaan. Beberapa penelitian tentang faktor penentu kebijakan deviden telah dilakukan antara lain Partingthon (1989) (dalam Sunarto dan Andi kartika 2003) dalam penelitiannya menunjukkan beberapa variable yang mempengaruhi penentuan deviden yaitu profitabilitas, stabilitas deviden dan earning, likuiditas dan cash flow, investasi dan pembiayaan. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba merupkan indikator utama dari kemampuan perusahaan untuk membayar deviden, sehungga profitabilitas sebagai faktor penentu terpenting terhadap deviden (Litner, 1956 dalam Parthington, 1989). Bukti empiris yang menghubungkan profitabilitas dengan dviden dilakukan oleh Brittain, (1966) (dalam Parthington, 1989) menunjukkan bahwa profit sebagai proksi variable cash flow secara signifikan berpengaruh positif terhadap deviden. Tetapi hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Damayanti dan Achyani (2006) yang menyatakan

bahwa tidak ada satu variabelpun yang berpengaruh secara signifikan terhadap Devidend Payout ratio dan penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Sunarto dan Kartika (2003). Parthington (1989) (dalam Sunarto dan Andi Kartika, 2003) menunjukkan bahwa stabilitas deviden dan earning merupakan variable yang mempengaruhi preferensi investor untuk memperoleh deviden dimasa yang akan mendatang. Sementara variable likuiditas dan investasi berada pada peringkat bawahnya setelah variable stabilitas deviden dan earning yang berpengaruh terhadap pendapatan deviden dimasa yang akan datang (Brittain, 1966 dalam parthingtin, 1989). Sedangkan variabel pembiayaan (eksternal finance) dianggap sebagai kendala para manager terhadap pembayaran deviden sehungga para manajer cenderung tidak mempertimbangkan pembiayaan pada saat pembayaran deviden. Selanjutnya penelitian yang dilakukan Sutrisno (2001) menyatakan bahwa variabel independen cash position dan debt to equity ratio(DER) berpengaruh signifikan terhadap DPR. Hal ini disebabkan karena penentu dividend payout ratio secara teoritis sangat erat berhubungan dengan posisi kas perusahaan, jumlah kewajiban, dan besarnya laba ditahan. Penelitian dilakukan terhadap variabel cash position, growth potential, firm size, debt to equity ratio, profitability, dan dividend payout ratio. Tetapi hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Sudarsi (2002) dan Lisa Marlina dan Clara Danica (2009) yang menyatakan bahwa Cash Position tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio.

Rumusan Masalah Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, mengenai factor-faktor yang mempengaruhi Deviden Payout Ratio terdapat beberapa perbedaan hasil penelitian atau Reaserch Gap Berdasarkan fenomena gap maka perumusan masalah penelitiannya adalah Apakah Pembiayaan, Profitabilitas, Cash Position secara signifikan berpengaruh terhadap kebijakan Deviden Payout Ratio pada Perusahaan Go Public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009. Berdasrkan laporan keuangan variable-variabel tersebut dapat diidentifikasi

sebagai berikut: (1) Pembiayaan ( terutama yang diperoleh dari utang jamgka panjang plus hutang jangka pendek yang diukur dengan rasio leverage), (2) Profitabilitas (diukur dengan laba bersih setelah pajak), dan (3) Cash Position.

Kebijakan Deviden Dividen merupakan pembayaran dari perusahaan kepada para pemegang saham atas keuntungan yang diperolehnya. Kebijakan dividen adalah kebijakan yang berhubungan dengan pembayaran dividen oleh pihak perusahaan, berupa penentuan besarnya dividen yang akan dibagikan dan besarnya saldo laba yang ditahan untuk kepentingan perusahaan (Sutrisno, 2001). Robert Ang (1997) menyatakan bahwa deviden merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah pajak dikurangi dengan laba ditahan (retained earning) yang ditahan sebagai cadangan bagi perusahaan. Menurut Hanafi (2004), deviden merupakan kompensasi yang diterima oleh pemgang saham di samping capital gains. Deviden ini untuk dibagikan kepada para pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan.. cadangan yang di ambil dari Earning After Tax (EAT) dilakukan sampai cadangan mencapai minimum dua puluh persen dari modal yang ditempatkan. Modal yang ditempatkan adalah modal yang disetor penuh ditambah dengan modal yang belum disetor sehubungan dengan penerbitan saham baru seperti rights dan warran. Keputusan mengenai jumlah laba yang ditahan dan deviden yang akan dibagikan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Menurut Brigham (1983) menyebutkan ada tiga teori dari peferensi investor yaitu: 1. Devidend irrelevance theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa kebijakan deviden tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. Teori ini mengikuti pendapat Modigliani dan Miller yang menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya Deviden Payout Ratio (DPR) tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan risiko bisnis. Dengan demikian kebijakan deviden sebenarnya tidak relevan untuk dipersoalan. Peryataan Modigliani Miller ini didasarkan pada beberapa asumsi penting yang lemah seperti: a. b. c. d.
11

Pasar modal sempurna dimana semua investor adalah rasional. Tidak ada baiaya emisi saham baru jika perusahaan menerbitkan saham baru. Tidak ada pajak. Kebijakan investasi perusahaan tidak berubah.

Dalam kenyataannya: a. b. c. d. 2. Pasar modal yang sempurna sulit ditemukan. Biaya emisi saham baru pasti ada. Pajak merupakan sesuatu hal yang pasti ada. Kebijakan investasi perusahaan senantiasa berubah.

The Bird in the hand theory, Gordon dan Lintner yang menyatakan bahwa biaya modal sendiri akan naik jika Devidend Payout Ratio rendah. Hal ini dikarenakan investor lebih suka menerima deviden daripada capital gains. Menurut mereka, investor memandang devidend yield lebih pasti daripada capital gain yield. Pertimbangannya adalah Devidend Yield (D1/Po) adalah lebih pasti daripada capital gain yield (g). perlu diingat bahwa dilihat dari sisi investor, biaya modal sendiri dari laba ditahan (Ks) adalah tingkat keuntungan yang disyaratkan investor pada saham. Ks adalah keuntungan dari deviden (dividend yield) ditambah keuntungan dari capital gain. Modigliani dan Miller menganggap bahwa argument Gordon dan lintner ini merupakan suatu kesalahan menggunakan istilah The Birtd in the Hand Fallacy. Menurut Modigliani Miller, pada akhirnya investor akan kembali menginvestasikan deviden uang diterima pada perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki risiko yang hampir sama. Kritik atas teori tersebt dengan menunjukkan bahwa biaya emisi saham baru akan mempengarui nilai perusahaan. Modal sendiri bias berasal dari laba ditahan, biaya modal adalah Ks, tapi bila berasal dari emisi saham baru, biaya modal adalah Ke. D1 Ks = --------------------------- + g Po

D1 Ke = -------------------------- + g Po (1 F)

Dimana: Ks Ke D1 Po g F

: Biaya modal sendiri dari laba ditahan : Biaya modal dari emisi saham baru : Deviden setahun mendatang : Harga saham saat ini : Pertumbhan deviden/keuntungan : Flotation cost atau biaya emisi saham

Jika D1 = Po = g, maka Ke > Ks artinya perusahaan akan lebih suka menggunakan laba ditahan daripada saham baru. 3. Tax preference theory, teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan deviden dan capital gain maka para investor lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan dividend yield tinggi, capital gain rendah daripada saham yang dividend yield rendah, capital gain tinggi. Jika pajak atas deviden lebih besar dar pajak atas capital gain, maka perbedaan akan makin terasa. Jika manajemen percaya bahwa teori Deviden tidak relevan dari Modigliani Miller adalah benar, maka perusahaan tidak perlu memperdulikan berapa besar deviden yang harus dibagi. Jika mereka menganut teori The Bird in the Hand mereka harus membagi seluruh EAT dalam bentuk deviden. Dan bila manajemen cenderung mempercayai teori perbedaan pajak (Tax Differential Theory), mereka harus menahan seluruh Eat atau DPR = 0%. Jadi ketiga teori yang tela dibahan mewakili kurtub_kutub ektrim dari teori tentang kebijakan deniden. Sayangnya tes secara empiris belum memberikan jawaban yang pasti tentang teori mana yang paling benar. 4. Teori Signaling Hepotesis Ada bukti empiris bahwa jika ada kenaikan deviden, sering diikuti dengan kenaikan harga saham./ sebaliknya penurunan deviden pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini dapat dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai deviden

daripada capital gain. Tapi MM berpendapat bahwa suatu kenaikan deviden yang diatas diasanya merupakan suatu sinyal kepada para investor baha manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik deviden masa mendatang. Sebaliknya, suatu penurunan deviden atau kenaikan deviden yang dibawah kenaikan nprmal(biasanya) diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa sulit deviden waktu mendatang. Seperti teori deviden yang lain, teori Signaling Hypotesis ini juga sulit dibuktikan secara empiris, adalah nyata bahwa perubahan deviden mengandung beberapa informasi. Tapi sulit dikatakan apakah kenaikan dan penurunan harga setelah adanya kenaikan dan penurunan deviden semata-mata disebabkan oleh efek sinyal atau disebabkan preferensi terhadap deviden. Tujuan pembagian deviden adalah : a) Untuk memaksimumkan kemakmuran bagi para pemgang saham. Hal ini karena sebagian investor menanamkan danannya dipasar modal untuk memperolehdeviden dan tingginya deviden yang dibayarka akan mempengaruhi harga saham. Para investor percaya bahwa tingginya deviden yang dibayarkan berarti bahwa prospek perusahaan dimasa yang akan dating bagus. b) Untuk menunjukkan likuiditas perusahaan. Dengan dibayarkannya deviden, diharapkan kinerja perusahaan dimata investor bagus. c) Sebagian investor memandang bahwa resiko deviden lebih rendah disbanding resiko capital gain. d) Untuk memenuhi kebutuhan para pemegang saham akan pendapatan tetap yang digunakan untuk keperluan konsumsi. e) Deviden dapat digunakan sebagai alat komunikasi abtara manajer dan pemegang saham. Informasi secara keseluruhan tentang kondisi intern perusahaan sering tidak diketahui oleh investor sehungga melalui deviden pertumbuhan perusahaan dan prospek perusahaan bisa diketahui. Dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham ditinjau dari bentuknya ada 2 (dua) macam, yaitu (Ang, 1997) : 1. Dividen Tunai (Cash Dividend) Merupakan bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk cash (tunai). Tujuan dari pemberian dividen dalam bentuk tunai adalah untuk memacu kinerja saham dibursa efek, yang juga merupakan return dari para pemegang saham. Dividen tunai (cash dividend) umunya lebih menarik

bagi para pemgang saham dibandingkan dengan dividen saham (stock dividend). Yang perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya dividen kas ialah apakah jumlah uang kas yang ada mencukupi untuk pembagian dividen tersebut. 2. Dividen Saham (Stock Dividend) Merupakan bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk saham. Pemberian stock dividen tambahan sering dimaksudkan untuk menahan kas untuk membiayai aktivitas perusahaan yang dihubungkan dengan pertumbuhan perusahaan. 18 Dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham ditinjau dari jumlah yang dibayarkan, terdiri dari (Ang, 1997) : a. Kebijakan Dividen yang Stabil, Artinya jumlah dividen per lembar saham (DPS) yang dibayarkan setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun laba per lembar saham setiap tahunnya berfluktuasi. Beberapa alasan yang mendorong perusahaan menjalankan kebijakan dividen tersebut antara lain karena, (a) akan memberikan kesan kepada para pemodal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa mendatang dan (b) adanya golongan pemodal tertentu yang menginginkan kepastian dividen yang akan dibayarkan. b. Kebijakan Dividen dengan Penetapan Jumlah Dividen Minimal Ditambah Dividen Ekstra. Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar saham setiap tahunnya, dan jika terjadi peningkatan laba secara drastis atau keadaan keuangan yang lebih baik maka jumlah tersebut ditambah lagi dengan dividen ekstra. c. Kebijakan Dividen yang Konstan. Berarti jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan laba bersih yang diperoleh setiap tahunnya. Hal ini berarti dividen dianggap mempunyai isi informasi sebagai indikator prospek perusahaan (membaik atau memburuk), maka perubahan kebijakan dividen akan meningkatkan atau menurunkan harga saham hanya apabila hal tersebut ditafsirkan sebagai terjadinya perubahan prospek perusahaan. Pembayaran dividen akan menjadi alat monitoring sekaligus bonding bagi manajemen (Copeland dan Weston, 1992). Pembagian dividen akan membuat pemegang saham mempunyai tambahan return selain dari capital gain. Dividen juga membuat pemegang saham mempunyai kepastian pendapatan dan mengurangi agency cost of equity karena tindakan

perquisites, yaitu tindakan yang memunculkan biaya yang dikeluarkan tidak untuk kepentingan perusahaan, karena internal cash flow akan diserap untuk membayar dividen bagi pemegang saham. Didalam pembayaran dividen oleh emitten, emitten selalu mengumumkan secara resmi jadwal pelaksanakan pembayaran dividen tersebut, baik dividen tunai maupun dividen saham. Tanggal-tanggal yang perlu diperhatikan didalam pembayaran dividen adalah (Ang, 1997 ) : 1. Tanggal Deklarasi ( Declaration Date ), Merupakan tanggal resmi pengumuman oleh emitten tentang bentuk dan besarnya serta jadwal pembayaran dividen yang dilakukan. 2. Tanggal Pencatatan ( Date of Record ), Pada tanggal ini perusahaan melakukan pencatatan nama-nama pemegang saham. Para pemilik saham yang terdaftar pada daftar pemegang saham diberikan hak sedangkan pemegang saham yang tidak terdaftar pada tanggal pendaftaran tidak diberikan hak untuk memperoleh dividen. 3. Tanggal Eks-Dividen ( Ex Dividen Date ), Tanggal dimana perdagangan saham tersebut tidak melekat lagi hak untuk memperoleh dividen. 4. Tanggal Pembayaran ( Payment Date ), Tanggal ini merupakan saat pembagian dividen oleh perusahaan kepada pemegang saham yang telah mempunyai hak atas dividen. Jadi pada tanggal tersebut para investor sudah dapat mengambil dividen sesuai dengan bentuk dividen yang telah diumumkan oleh emitten (dividen tunai maupun deviden saham) Menurut Husnan (1996) kebijakan deviden menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, dan laba tersebut biasa dibagi sebai deviden atau laba yang ditahan untuk di investasikan kembali. Sedangkan Riyanto (1995), mendefinisikan kebijakan deviden bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada pemegang saham sebagai deviden atau untuk digunakan didalam perusahaan, yang berarti laba tersebut harus ditahan dalam perusahaan. Menurut Kolb (1983), kebijakan dividen penting karena 2 (dua) alasan, yaitu: 1) Pembayaran dividen mungkin akan mempengaruhi harga saham. 2) Pendapatan yang ditahan (retained earning) biasanya merupakan sumber tambahan modal sendiri yang terbesar dan terpenting untuk pertumbuhan perusahaan. Kedua alasan tersebut merupakan dua sisi kepentingan perusahaan yang agak kontroversial. Agar kedua kepentingan itu dapat terpenuhi secara optimal, manajemen

perusahaan seharusnya memutuskan secara hati-hati dan teliti kebijakan dividen yang harus dipilih. Kebijakan dividen perlu dianalisa dan diputuskan dengan lebih bijaksana, karena apabila dividen dibagikan kepada pemegang saham, maka hal ini akan mengurangi besarnya dana internal yang akan dipakai untuk memperluas operasi perusahaan. Dampak lebih jauh adalah pertumbuhan perusahaan akan menurun, sedangkan apabila dividen tidak dibagikan bisa jadi pemegang saham mempersepsikan bahwa perusahaan tersebut kekurangan dana yang selanjutnya menyebabkan harga sahamnya akan turun. Dengan demikian, kebijakan dividen harus dibuat dengan lebih bijaksana dalam kaitannya dengan struktur modal perusahaan. Ada beberapa teori yang dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan kebijakan dividen untuk perusahaan, sehingga dapat dijadikan pemahaman mengapa suatu perusahaan mengambil kebijakan dividen tertentu. Beberapa kendala yang dihadapi oleh perusahaan dalam membagikan dividen adalah: a. Kas yang Tidak Mencukupi, Dana perusahaan yang likuid harus dikaitkan dengan utangutang dan persediaan, jika tidak maka perusahaan akan mengalami kesulitan likuiditas pada saat perjanjian telah ditetapkan. b. Hambatan Kontrak, Karena kesulitan likuiditas atau pembiayaan, kreditur mungkin mensyaratkan pembatasan dividen sehubungan dengan perjanjian utang yang telah dibuat. Dalam kondisi seperti ini perusahaan akan menyetujui kontrak pembatasan dividen untuk menahan labanya agar dapat meningkatkan modalnya (Debt to Equity Ratio) dan agar dapat meningkatkan likuiditas perusahaan dalam pembayaran bunga yang telah ditetapkan. c. Aspek Legal, Pembayaran dividen dapat dikaitkan dengan persyaratan tertentu, misalnya batasan laba ditahan yang harus dipenuhi sebelum melakukan pembayaran dividen agar perusahaan tidak menyesatkan investor karena informasi yang dikandung oleh dividen akan memberikan tanda bagi para investor. Informasi tersebut akan digunakan sebagai pedoman dalam melakukan transaksi jual beli saham. Faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan keputusan bahwa perusahaan akan membayarkan dividend dan tidak akan menahan laba antara lain (Weston dan Copeland, 1997) : 1. Undang- Undang, Mengenai peraturan laba bersih yang menyatakan bahwa dividen dapat dibayar dari laba saat ini atau laba tahun lalu. Adanya larangan pengurangan modal untuk membayar dividen, hal ini dimaksudkan untuk melindungi pemberi

kredit. Peraturan kepailitan yang menyatakan bahwa jika perusahaan membayar dividen pada kondisi pailit artinya dana tersebut berasal dari pemberi kredit bukan dari laba bersih. 2. Posisi Likuiditas, Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha. Laba ditahan tahun-tahun lalu biasanya sudah diinvestasikan dalam bentuk pabrik dan peralatan, persediaan, dan aktiva lainnya, 23 dengan kata lain laba tersebut tidak disimpan dalam bentuk kas. Jadi meskipun suatu perusahaan mempunyai catatan mengenai laba, perusahaan mungkin tidak dapat membayar dividen karena posisi likuiditasnya. 3. Kebutuhan Pelunasan Hutang, Apabila perusahaan mengambil hutang untuk membiayai ekspansi atau untuk mengganti jenis pembiayaan lain, perusahaan menghadapi dua pilihan. Pilihan tersebut adalah perusahaan dapat membayar hutang itu pada saat jatuh tempo dan menggantikannya dengan jenis surat berharga lain, atau perusahaan dapat memutuskan untuk melunasi hutang tersebut. Jika keputusannya adalah membayar hutang tersebut maka ini biasanya perlu penahanan laba. 4. Pembatasan Dalam Perjanjian Hutang, Dividen pada masa yang akan datang hanya dapat dibayar dari laba yang diperoleh sesudah perjanjian hutang (jadi dividen tidak dapat dibayar dari laba tahun-tahun lalu). Dividen tidak dapat dibayarkan apabila modal kerja (aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar) dibawah suatu jumlah yang telah ditentukan. Perjanjian hutang, khususnya hutang jangka panjang seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. 5. Tingkat Ekspansi Aktiva, Semakin cepat suatu perusahaan berkembang, semakin besar kebutuhannya untuk membiayai ekspansi aktivanya. Jika kebutuhan dana dimasa depan semakin besar, maka perusahaan cenderung untuk menahan laba daripada membayarnya. 6. Tingkat Laba, Tingkat hasil pengembalian yang diharapkan akan menentukan pilihan relative untuk membayar laba tersebut dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham atau menahan laba tersebut yang digunakan untuk keperluan perusahaan. 7. Stabilitas Laba, Suatu perusahaan yang memiliki laba stabil seringkali dapat memperkirakan berapa besar laba dimasa yang akan datang. Perusahaan seperti ini biasanya cenderung membayar dividen dengan persentase yang lebih tinggi daripada

perusahaan yang labanya berfluktuasi. Perusahaan yang tidak stabil, tidak yakin apakah laba yang diharapkan pada tahuntahun yang akan datang dapat tercapai sehingga perusahaan akan lebih cenderung menahan sebagian besar laba saat ini. Dividen yang lebih rendah akan lebih mudah untuk dibayarkan apabila laba menurun pada masa yang akan datang. 8. Akses ke Pasar Modal, Perusahaan yang besar dan telah berjalan baik serta mempunyai catatan profitabilitas dan stabilitas, akan mempunyai akses yang mudah ke pasar modal. Sedangkan perusahaan yang baru, kecil dan bersifat mencoba akan lebih banyak mengandung resiko bagi penanam modal potensial. Kemampuan perusahaan untuk menaikkan modalnya atau dana pinjaman dari pasar modal akan terbatas dan perusahaan seperti ini harus menahan lebih banyak laba untuk membiayai operasinya. Jadi perusahaan yang sudah mapan cenderung untuk memberi tingkat pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil atau perusahaan yang baru. 9. Kendali Perusahaan, Pentingnya pembiayaan internal dalam usaha untuk

mempertahankan kendali perusahaan, akan memperkecil pembayaran dividen. 10. Posisi Pemegang Saham sebagai Pembayar Pajak, Posisi pemilik perusahaan sebagai pembayar pajak akan sangat mempengaruhi keinginannya untuk memperoleh dividen. 11. Pajak Atas Laba yang Diakumulasikan Secara Salah, Untuk mencegah pemegang saham yang hanya menggunakan perusahaan sebagai perusahaan penyimpan uang yang dapat digunakan untuk menghindari tarif penghasilan pribadi yang tinggi, peraturan perpajakan perusahaan menentukan suatu pajak tambahan khusus terhadap penghasilan yang diakumulasikan secara tidak benar. Setyawan (1995) mengelompokkan berbagai faktor yang mempengaruhi kebijakan pembagian dividen menjadi 2 faktor, yaitu : a. Faktor Internal, Faktor internal adalah faktor dari dalam perusahaan yang mempengaruhi kebijakan pembagian dividen, misalnya: likuiditas perusahaan, tingkat laba, dan kemampuan untuk meminjam dana. b. Faktor Eksternal, Faktor eksternal merupakan pengaruh yang berasal dari luar perusahaan, misalnya: pajak atau capital gain, akses ke pasar modal dan peraturan yang berlaku.

Dividend Payout Ratio Dividend Payout Ratio adalah perbandingan anatara dividend per share dengan earning per share (Ang, 1997). DPR merupakan presentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai cash dividend (Riyanto, 1995). Rasio pembayaran dividen (dividend payot ratio) menentukan jumlah laba yang dibagi dalam bentuk dividen kas dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Rasio ini menunjukkan persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham yang berupa dividen kas. Apabila laba perusahaan yang ditahan untuk keperluan operasional perusahaan dalam jumlah besar, berarti laba yang akan dibayarkan sebagai dividen menjadi lebih kecil. Sebaliknya jika perusahaan lebih memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka hal tersebut akan mengurangi porsi laba ditahan dan mengurangi sumber pendanaan intern. Namun, dengan lebih memilih membagikan laba sebagai dividen tentu saja akan meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham, sehingga para pemegang saham akan terus menanamkan sahamnya untuk perusahaan tersebut. Menurut Yuniningsih (2002) Dividen Payout Ratio (DPR) dapat dirumuskan sebagai berikut : DPS DPR = -----------EPS Dimana: DPS : Dividend Per Share EPS : Earning Per Share Leverage Keuangan Struktur keuangan adalah cara bagaimana perusahaan membiayai aktivitasnya (Weston

Copeland, 1996). Struktur keuangan terdiri terdisri dari hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal pemegang saham. Struktur modal adalah pembiayaan permanent yang terdiri

dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang saham. Pembiayaan ini terutama dana yang diperoleh dari hutang jangka panjang plus hutang jangka pendek yang diukur dengan rasio leverage (Sunarto dan Kartika, 2003). Laverage merupakan istilah yang digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan didalam memenuhi seluruh kewajiban financial suatu perusahaan. Faktor hutang mempengaruhi kebijakan perusahaan dalam pembayaran deviden pada shareholder. Dalam penelitian ini laverage diukur dengan

menggunakan rasio Debt to Total Asset (DTA). DTA merupakan rasio antara total hutang (total debt) baik hutang jangka pendek (current liability) dan hutang jangka panjang (long term debt) terhadap total aktiva (total asset) baik aktiva lancer (current asset) maupun aktiva tetap (fixed asset) dan aktiva lainnya (other asset) (Sunarto dan Kartika, 2003).

Total Hutang DTA = -----------------------Total Asset

Profitabilitas Profitabilitas adalah tingkat keuntunag bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya (Srisudarsi, 2002). Faktor ini juga memiliki pengaruh terhadap kebijakan deviden. Deviden adalah sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan. Oleh karena itu deviden akan dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban tetapnya yaitu bunga dan pajak. Oleh karena itu deviden yang diambilkan dari keuntungan bersih akan mempengaruhi Deviden Payout Ratio. Perusahaan yang semakin besar keuntungannya akan membayar porsi pendapatan yang semakin besar sebagai deviden. Dalam penelitian ini profitalitas di ukur dengan rasio Return On Invesment (ROI), yaitu rasio perbandingan antara Erning After Tax (EAT) dengan Total Investasi. EAT ROA = -----------------------Total Investasi

Cash Position Cash position atau posisi kas merupakan rasio akhir tahun dengan earning after tax (EAT) (Sri Sudarsi, 2002). Sutrisno (2001) menyatkan bahwaa posisikas suatu perusaaan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan, sebelum membuat keputusan untuk menentukan besarnya deviden yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Deviden merupakan cash out flow, dengan demikian makin kuatnya posisi kas perusahaan akan semakin besar kemampuan untuk membayar deviden (Riyanto, 2001:2002). Posisi kas dihitung berdasarkan perbandingan anatara saldo kas akhir tahun dengan laba bersih setelah pajak (Sutrisno, 2001). Sehingga Cash Position (CP) dapat di rumuskan sebagai berikut:

Saldo kas akhir Cash Position = -------------------------------------EAT

Pengaruh Leverage Keuangan terhadap Devidend Payout Ratio Pembiayaan ini terutama dana yang diperoleh dari utang jangka panjang plus utang jangka pendek, yang diukur dengan rasio leverage ( Sunarto dan Kartika, 2003). Leverage merupakan istilah yang digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan didalam memenuhi seluruh kewajiban financial suatu perusahaan. Faktor hutang mempengaruhi kebijakan perusahaan dalam pembayaran dividen pada shareholder. Dalam penelitian ini leverage menggunakan rasio Debt to Total Asset (DTA). DTA merupakan rasio antara total hutang (total debt) baik hutang jangka pendek (current liability) dan hutang jangka panjang (long term debt) terhadap total aktiva (total assets) baik aktiva lancar (current asset) maupun aktiva tetap (fixed asset) dan aktiva lainnya (other assets). Rasio ini menunjukan besarnya hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva yang digunakan oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas operasionalnya. Semakin besar rasio DTA menunjukkan semakin besar tingkat ketergantungan perusahaan terhadap pihak

eksternal (kreditur) dan semakin besar pula beban biaya hutang (biaya bunga) yang harus dibayar oleh perusahaan. Dengan semakin meningkatnya rasio DTA (dimana beban hutang juga makin besar) maka hal tersebut berdampak terhadap profitabilitas yang diperoleh perusahaan, karena sebagian digunakan untuk membayar bunga pinjaman. Dengan biaya bunga yang semakin besar, maka profitabilitas (Earning After Tax) semakin berkurang (karena sebagian digunakan untuk membayar bunga), maka hak para pegang saham (deviden) juga semakin berkurang (menurun). Teori ini didukung oleh Parthington (1989) dalam (Sunarto dan Kartika, 2003) yang menunjukkan bahwa tingkat hutang yang tinggi akan mempengaruhi pembayaran deviden yang semakin rendah. Dengan kata lain DTA berpengaruh negatif terhadap deviden. Sementara Pujiono (2002) meneliti tentang dampak kebijakan deviden terhadap harga saham pada waktu ex-devidend day menunjukkan bahwa leverage yang diukur dengan debt to equity ratio terbukti bahwa untuk sampel di Indonesia, leverage berpengaruh positif terhadap harga saham pada waktu ex-deviden day. Berdasarkan teori dan uraian tersebut maka dapat diajukan hipotesis aternatif kesatu: H 1 : Pembiayaan memiliki pengaruh negatif terhadap Devidend Payout Ratio.

Pengaruh Pofitabilitas terhadap Devidend Payout Ratio ROI merupakan ukuran efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktifa tetap yang digunakan untuk operasi. Semakin besar ROI menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, karena tingkat kembalian investasi (return) semakin besar (Sunarto dan Kartika, 2003). Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa return yang diterima oleh investor dapat berupa pendapatan deviden dan capital gain. Dengan demikian meningkatnya ROI juga akan meningkatkan pendapatan deviden. Sebagaiumana lazimnya pengukuran ROI didapat dari Earning After Tax (EAT) dan total investasi aktiva operasi. Besarnya EAT diperoleh dari laporan laba rugi, sedangkan total investasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah total aktiva tetap (bersih) yang digunakan untuk aktivitas operasi yang tercermin dalam laporan neraca (sisi aktiva/asset) (Sunarto dan Kartika, 2003).

Parthington (1989) dalam (Sunarto dan Kartika(2003) menunjukkan bahwa variabe investasi yang diukur dari aktiva tetap (bersih) operasi dapat digunakan untuk memprediksi kebijakn deviden kas. Apabila potensi profitabilitas makin meningkat maka kemampuan perusahaan untuk membayar deviden kepada pemegang saham makin terbatas sehingga rasio pembayaran deviden semakin rendah (Sri Sudarsi, 2002). Florentina (2001) dalam (Damayanti dan Achyani, 2006) menemukan bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh positif terhadap deviden payout ratio. Berdasarkan teori dan uraian tersebut maka dapat diajuka hipotesis alternatif kedua: H 2 : Profitabilitas memiliki pengaruh positif terhadap Devidend Payout Ratio. Pengaruh Cash Positions terhadap Devidend Payout Ratio Cash position atau posisi kas merupakan rasio akhir tahun dengan earning after tax (EAT) (Sri Sudarsi, 2002). Sutrisno (2001) menyatkan bahwa posisi kas suatu perusaaan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan, sebelum membuat keputusan untuk menentukan besarnya deviden yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Bagi perusahaan yang memiliki posisi kas yang semakin kuat akan semakin kuat kemampuannya untuk membayar deviden. Faktor ini merupakan faktor internal yang dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga pengaruhnya dapat dirasakan secara langsung bagi kebijakan deviden. Deviden merupakan cash out flow, dengan demikian makin kuatnya posisi kas perusahaan akan semakin besar kemampuan untuk membayar deviden. Sri Sudarsi (2002) menenunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai posisi kas yang tinggi akan berdampak positif terhadap kemampuan perusahaan untuk membayar deviden kepda pemegang saham untuk membayar deviden kepada pemegang saham yang lebih tinggi sehingga rasio pembayaran deviden juga tinggi. Teori ini juga didukung Sutrisno (2001) yang

menyatakan bahwa semakin tinggi posisi kas suatu perusahaan maka akan semakin tinggi pula kemampuannya untuk membayarkan deviden. Berdasarkan teori dan uraian tersebut maka dapat diajuka hipotesis alternatif ketiga: H 3 : Cash position memiliki pengaruh positif terhadap Devidend Payout Ratio.

Dengan melihat dari dasar teori yang telah diuraikan sebelumnya dan penelitianpenelitian terdahulu, maka variabel yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: devidend payout ratio, pembiayaan, profitabilitas, dan cash positions. Sehingga kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini dapat digambarkan seperti pada gambar 2.1 berikut ini:

GAMBAR 1 KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

Leverage Keuangan (DTA) H1

Profitabilitas (ROI)

H2

Devidend Payout Ratio (DPR)

Cash Position (CP)

H3

Sumber: Teori yang di kembangkan untuk penelitia

METODE PENELITIAN Definisi Operasional Tabel 1. Definisi Operasional No 1 Variabel DTA Definisi Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi total hutang dari total aktiva yang dimiliki perusahaan Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setelah pajak dari total investasi yang digunakan oleh perusahaan. Rasio perbandingan antara saldo kas akhir tahun dengan laba bersih setelah pajak Rasio perbandingan antara dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen kas dengan laba per lembar saham. Skala Rasio Total Hutang Total Aset Rasio EAT Total Investasi Rasio Saldo kas akhir EAT Rasio DPS EPS Pengukuran

ROI

Cash Position

DPR

Populasi dan Sampel Penelitian Populasi

Populasi merupakan keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai sifat atau kepentingan yang sama ( Hadi, 2001). Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau obyek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus (Santoso dan Tjiptono, 2001). Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) dalam periode 2007 2010 sebanyak 21 perusahaan.

Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu pemilihan anggota sampel dengan berdasarkan pada kriteria kriteria tertentu. Adapun kriteriakriteria yang digunakan dalam penelitian ini mencakup : 1. 2. 3. 4. Perusahaan go pblic yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) sejak tahun 2007. Perusahaan tersebut selalu menyajikan laporan keuangan setiap periode pengamatan. Perusahaan mengalami keuntungan (profit) setiap periode pengamatan. Perusahaan go publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang secara kontinyu membagikan deviden pada periode 2007 2009. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain (Husein Umar,1999:43). Data ini dapat diperoleh dari berbagai macam sumber (koran, majalah dan bursa efek). Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan keuangan emiten tahunan perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diambil dari buku Indonesian Capital Market Directory ( ICMD ) tahun 2010

Metode Analisis Analisis Regresi Berganda Teknik analisis data yang digunakan didalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda. Analisis regresi berganda adalah teknik statistik melalui koefisien parameter untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian terhadap hipotesis baik secara parsial maupun simultan, dilakukan setelah model regresi yang digunakan bebas dari pelanggaran asumsi klasik. Tujuannya adalah agar hasil penelitian dapat diinterpretasikan secara tepat dan efisien. Persamaan regresi tersebut adalah sebagai berikut : Y = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

Dimana : Y bo = Dividend payout ratio = Konstanta

b1b4 = Koefisien Regresi X1 X2 X3 = Pembiayaan (Laverage (DTA)) = Profitabilitas ( ROI ) = Cash Position Untuk mengetahui apakah model regresi benar benar menunjukkan hubungan yang signifikan dan representative atau disebut BLUE (Best Linier Unbiased Estimator), maka model tersebut harus memenuhi asumsi klasik regresi, untuk itu dilakukan uji : normalitas, heteroskedastisitas dan multikolinearitas. ANALISIS DATA Deskriptif Statistik variable Penelitian Berdasarkan hasil analisis deskriptif, maka Tabel 2 berikut ini akan ditampilkan karakreistik sampel yang akan digunakan di dalam penelitian ini meliputi jumlah sampel (N), rata-rata sampel (mean), nilai maksimum, nilai minimum serta standar devisiasi untuk masingmasing variable. Tabel 2 Hasil Analisis Descriptive Statistics
Descriptive Statistics N SQDPR SQDTA SQROI SQCP Valid N (listwise) 63 63 63 63 63 Minimum .07 .35 .10 .18 Maximum 1.55 .87 .63 3.98 Mean .5587 .6568 .3022 1.3797 Std. Deviation .22732 .13454 .10672 .78121

Sumber: data sekunder yang di olah Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 2 diatas diketahui bahwa rasio Deviden Payout Ratio (DPR) diperoleh rata-rata sebesar 0,5587. hal ini berati bahwa rata-rata kebijakan pembagian deviden tunai sebesar 0,5587 (55,87%) dari laba perlembar saham yang diperoleh perusahaan. Nilai maximum sebesar 1,55 (155%) yang berarti bahwa deviden tertinggi dari

perusahaan sampel dapat mencapai 155% dari laba per lembar saham yang diperoleh perusahaan. Sedangkan nilai minimum DPR adalah 0,07(7%) dari laba perlembar saham yang diperoleh Rasio Pembiayaan Debt to Total Asset (DTA) yang merupakan rasio total hutang dengan total asset perusahaan menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0,6568 (65,68%). Hal ini berati bahwa rata-rata perusahaan sampel memiliki hutang sebesar 0,6568 kali lebih besar dari total asset yang dimiliki perusahaan. Nilai maximumnya sebesar 0,87 kali yang berarti bahwa sampel tertinggi memiliki hutang sebesar 0,87 kali dari total asset dan nilai minimumnya sebesar 0,35 kali atau dimilikinya hutang sebesar 0,35 kali dari total asset yang dimiliki perusahaan.. Rasio Profitabilitas Return On Invesment (ROI) manunjukan nilai rata-rata sebesar 0,3022 (30,22%). Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan sampel mampu mendapatkan laba bersih sebesar 30,22% dari total asset yang dimiliki perusahaan dalam satu periode. Nilai minimum yaitu sebesar 0,10 (10%) yang berarti sampel terendah hanya mendapatkan laba bersih dari seluruh total asset yang dimiliki sebesar 10% dan nilai maximum diketahui sebesar 0,63 (63%). Rasio Cash Position yang merupakan rasio perbandingan antar saldo kas akhir tahun dengan laba bersih setelah pajak perusahaan menunjukkan nilai rata-rata sebesar

1,3797(1,3797%). Hal ini berarti bahwa rata-rata perusahaan sampel memiliki saldo kas akhir sebesar 1,3797 kali dari EAT yang dihasilkan perusahaan. Nilai maximum sebesar 3,98 kali yang berati bahwa sampel tertinggi saldo kas akhir sebesar 3,98 kali dari EAT yang di hasilkan perusahaan dan nilai minimumnya sebesar 0,18 kali. Uji Normalitas Data Uji ini bertujuan untuk menguji apakah data yang digunakan telah terdistribusi normal. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Metode yang lebih akurat untuk menguji normalitas adalah dengan uji Kolmogorov Smirnov, yaitu dengan melihat angka profitabilitas signifikan dimana data dapat disimpulkan berdistribusi normal jika angka signifikansinya lebih besar dari 0,05.

Tabel 3 Normalitas Data


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Zscore (SQDPR) N Normal Parameters Most Extreme Differences
a,,b

Zscore (SQDTA) 57 -.0179510

Zscore (SQROI) 57 -.0733163 .80734201 .103 .103 -.050 .780 .577

Zscore (SQCP) 57 -.0671787 .82783889 .129 .129 -.088 .976 .297

57 Mean Std. Deviation Absolute -.0859081

.77724460 1.03274144 .160 .134 .103 -.160 1.211 .106 .077 -.134 1.013 .257

Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber: data sekunder yang di olah

Dari Tabel uji Kolmogrov-Smirnov dapat dilihat bahwa angka signifikansi uji Kolmogrov-smirnov Zscore (SQDPR) sebesar 0,106, Zscore (SQDTA) sebesar 0,257, Zscore (SQROI) sebesar 0,577 dan Zscore(SQCP) sebesar 0,297 diatas nilai signifikan 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi terdistribusi secara normal. Uji Multikolinearitas Uji Multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya kolerasi antara variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya

multikolinearitas dalam suatu model regresi dapat diketahui dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dimana nilai tolerance mendekati 0,1 dan nilai VIF di atas 10 (Ghozali,2001).

Tabel 4 Hasil Uji Multikolinearitas


Coefficients
a

Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) Zscore(SQDTA) Zscore(SQROI) Zscore(SQCP) B -.071 .101 .223 -.055 Std. Error .104 .115 .171 .156

Standardized Coefficients Beta t -.684 .497 .134 -.058 .882 .382 -.350 .727

Collinearity Statistics Sig. Tolerance VIF

.759 .556 .640

1.317 1.798 1.562

.232 1.303 .198

a. Dependent Variable: Zscore(SQDPR)

Sumber : Data sekunder yang diolah Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 4 menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tolerance yang lebih dari 0,1 dan nilai VIF yang kurang dari 10. Hal ini berarti bahwa variabel-variabel penelitian tidak menunjukkan adanya gejala multikolinearitas dalam model regresi. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali,2001). Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada gambar scatterplot antara SRESID dan ZPRED. Gambar 2 Grafik Scatterplot

Beri Nilai