Anda di halaman 1dari 11

Diabetes Mellitus Diabetes mellitus adalah suatu penyakit gangguan metabolik menahun yang ditandai oleh kadar glukosa

darah yang melebihi normal. Klasifikasi Diabetes Mellitus Klasifikasi diabetes mellitus menurut American Diabetes Association (ADA, 2004) adalah: a. Diabetes Mellitus tipe 1 ( Insulin Dependent Diabetes Mellitus atau IDDM) Bentuk diabetes, yang hanya menyumbang 5-10% dari mereka dengan diabetes, yang sebelumnya dicakup oleh istilah diabetes tergantung insulin, diabetes tipe I, atau diabetes anak-anak onset, hasil dari kehancuran autoimun seluler-dimediasi dari - sel-sel pankreas. Penanda dari kehancuran kekebalan sel-sel termasuk autoantibodi pulau, autoantibodi terhadap insulin, autoantibodi untuk dekarboksilase asam glutamat (GAD), dan autoantibodi untuk tirosin fosfatase IA-2 dan IA2. Satu dan biasanya lebih dari autoantibodi hadir dalam 85-90% dari individu ketika hiperglikemia puasa pada awalnya terdeteksi. Juga, penyakit ini memiliki asosiasi yang kuat HLA, dengan linkage ke gen DQA dan DQB, dan ini dipengaruhi oleh gen DRB. HLA-DR/DQ alel ini dapat berupa predisposisi atau protektif (Ghosh, 2008).

b. Diabetes Mellitus tipe 2 ( Non Insulin Independent Diabetes Mellitus atau NIDDM) Bentuk diabetes, yang menyumbang 90-95% dari mereka dengan diabetes, sebelumnya disebut sebagai diabetes non-insulin-dependent, diabetes tipe II atau diabetes onset dewasa, meliputi individu-individu yang memiliki resistensi insulin dan biasanya memiliki relatif (bukan mutlak) .Setidaknya kekurangan insulin pada awalnya, dan sering

sepanjang masa hidupnya, orang-orang ini tidak memerlukan pengobatan insulin untuk bertahan hidup (Ghosh, 2008).

c. Diabetes Mellitus Gestasional Diabetes mellitus gestasional didefinisikan sebagai tingkat intoleransi glukosa dengan onset atau pengakuan pertama selama kehamilan. Definisi berlaku terlepas dari apakah insulin atau modifikasi diet hanya. Diabetes mellitus gestasional mempersulit 4% dari seluruh kehamilan di Amerika Serikat, mengakibatkan 135.000 kasus per tahun. Prevalensi mungkin berkisar dari 1 sampai 14% dari kehamilan, tergantung pada populasi yang diteliti. Diabetes mellitus gestasional merupakan hampir 90% dari seluruh kehamilan rumit oleh diabetes. Penurunan toleransi glukosa terjadi secara normal selama kehamilan, khususnya di trimester ketiga (Ghosh, 2008).

d. Jenis lainnya yang spesifik. Kelainan spesifik yang menyebabkan diabetes mellitus yaitu defek genetik pada fungsi sel beta akibat mutasi, defek genetik pada fungsi insulin, penyakit pada eksokrin pankreas, endokrinopati, obat atau kimia diabetes induksi, infeksi dan sindrom genetik yang terkait dengan diabetes mellitus (sindroma Down, sindroma Klinefelter, sindrom Wolframs, sindrom Turner) (Harrison, 2005). b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi DM a) Faktor Demografi Hasil data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (2013), diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun sebesar 133 juta jiwa

dengan prevalensi DM, pada daerah urban sebesar 14,7% dan daerah rural 7,2%. Dengan pola pertumbuhan penduduk diperkirakan pada tahun 2030 akan ada 194 juta penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM, pada urban 14.7% dan rural 7,2%, maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang diabetes di daerah urban 8,1 juta di daerah rural (Perkeni,2006). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 dari 24.417 responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa Tinggi (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa). Sebanyak 1,5% mengalami DM yang terdiagnosis dan 4,2% DM yang tidak

terdiagnosis. Wanita lebih banyak dibandingkan pria dan lebih sering ditemukan pada golongan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. b) Genetika Diabetes mellitus adalah penyakit yang cenderung diwariskan dan bukanlah penyakit menular. Para pakar yang menyelidiki kembar identik dan silsilah keluarga pasien diabetes menemukan bahwa keturunan merupakan faktor risiko diabetes mellitus yang penting (Bilous,2002). Seorang anak akan mempunyai risiko diabetes mellitus bila oraang tuanya mempunyai riwayat penyakit diabetes mellitus. Risiko seorang anak mendapat diabetes mellitus adalah 15% bila salah seorang tuanya menderita diabetes mellitus dan kemungkinan 75% bilamana kedua orang tuanya menderita diabetes mellitus (DITJEN PP & PL, 2008). Adanya riwayat diabetes mellitus dalam keluarga, memperbesar risiko seseorang sebagai penderita diabetes mellitus di kemudian hari, bila dibandingkan dengan mereka tanpa riwayat diabetes dalam keluarga. c) Aktivitas Fisik dan Olahraga Aktivitas fisik seseorang sangat berpengaruh terhadap kesehatannya. Kurang gerak atau hidup santai merupakan faktor risiko pencetus diabetes mellitus (Sukardji dalam Soewondo, 2007). Olahraga dapat

mengurangi resistensi insulin sehingga kerja insulin lebih baik dan mempercepat pengangkutan glukosa masuk ke dalam sel untuk kebutuhan energi. Olahraga juga dapat menurunkan glukosa darah dalam beberapa jam, kadang lebih lama (Tandra,2007).

d) Stres Stres adalah segala situasi dimana tuntuan nonspesifik mengharuskan seseorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Potter & Perry, 2005). Reaksi stress dapat bersifat positif maupun negatif. Reaksi stres yang positif seperti melakukan latihan jasmani sewaktu berolahraga atau memacu seseorang untuk berusaha dengan lebih baik. Sedangkan reaksi negatif yang bersifat fisik sperti jantung berdebardebar, otot tegang, sakit kepala, diare dan gangguan makan. Reaksi stres yang bersifat negatif berpengaruh terhadap kondisi kesehatan jasmani dan kejiwaan (Soewondo, 2007). Pada orang dengan keadaan stres mempunyai risiko menderita diabetes lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak dalam keadaan stres. Hal ini terjadi jika orang yang dengan keadaan stres memberikan reaksi negatif yaitu seseorang mengalami gangguan secara emosional, makan yang tidak terkendali, jarang atau tidak olahraga, dan tubuh memproduksi hormon yang dapat menghambat kerja insulin yang dapat

mengakibatkan kadar gula darah meningkat ((Ghosh, 2008). Kondisi tersebut bila tidak dikendalikan, maka gangguan yang akan terjadi akan bertambah berat, sehingga dapat menimbulkan tekanan darah tinggi, kadar glukosa meningkat, kolesterol meningkat dan daya tahan tubuh menurun (Soewondo, 2007). e) Konsumsi Serat Serat adalah bagian dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh. Serat terdiri dari dua jenis yaitu serat larut seperti pectin dan guargum serta serat tidak larut seperti sellulose dan bran

(Suyono,2007). Serat larut bersifat larut dalam air dan membentuk suatu

materi seperti gel. Makanan seperti oatmeal dan biji-bijian (kacang, apel, beri dan buah lainnya) sangat tinggi kandungan serat larutnya. Jenis serat yang ditemukan dalam biji-bijian dan beberapa tumbuhan disebut juga sebagai insoluble fiber dan insulin dalam mengatur gula darah di dalam tubuh. Sedangkan serat tidak larut bersifat tidak larut dalam air dan dapat melewati sistem pencernaan secara keseluruhan. Riset membuktikan bahwa serat memiliki efek kuat terhadap pengendalian gula darah (Journal Diabetes Care, 2006). f) Konsumsi Alkohol Alkohol tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker payudara, tetapi juga menambah berat badan dan memperbanyak lipatan perut. Alkohol yang masuk ke dalam tubuh akan dipecah menjadi asetat yang dapat menyebabkan proses pembakaran kalori dari lemak dan gula terhambat dan akhirnya berat badan susah berkurang. Studi terkini menyebutkan kebiasaan minum alkohol berhubungan dengan

peningkatan ukuran lingkar pinggang, bahkan mengonsumsi alkohol dalam jumlah sedikit sekalipun dapat memperlebar bagian perut (Suyanto, 2010). g) Kebiasaan Merokok Merokok adalah musuh terbesar kesehatan. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan radikal bebas yang dapat merusak sel beta pankreas di dalam tubuh. Kerusakan sel beta pankreas ini dapat mengakibatkan resistensi insulin. Merokok yang dapat menyebabkan resistensi insulin akan mengakibatkan terjadi peningkatan kadar gula darah yang berisiko terjadinya diabetes mellitus (Norma,2007). h) Pola tidur Seseorang yang tidur kurang dari enam jam semalam tidak bisa mengatur kadar gula darah secara efisien, sehingga meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung (Holistic Health Solution, 2011). Kurang tidur akan mningkatkan kerja hormon adrenalin dan dapat

meningkatkan jumlah glukosa darah. Tidur dengan durasi singkat

meningkatkan hormon perangsang nafsu makan ghrelin sampai 28% sehingga berefek pada perilaku makan (Holistic Health Solution, 2011). i) Pola Makan Pola makan yang benar dapat menurunkan risiko diabetes. Pola makan harus disesuaikan dengan jam biologis tubuh karena jam biologis erat hubungannya dengan jenis hormon yang bekerja di dalam tubuh pada jam tertentu. Pagi hari, kadar gula darah akan menurun karena glukosa banyak dipakai oleh hati saat tidur untuk proses detoksidikasi. Hal ini mengapa sarapan sangat penting dan sebaiknya mengonsumsi makanan yang manis dan mengonsumsi buah untuk mengisi energi. Siang hari, hormon tubuh dominan adalah hormon adrenalin yang lebih memerlukan zat gizi yang ada di makanan sumber protein. Malam hari, hormon yang lebih aktif adalah hormon melatonin dan serotonin yang membuat tubuh relaks. Zat gizi yang membantu aktivitas hormon ini adalah karbohidrat (Holistic Health Solution, 2011). j) Gaya hidup yang kebarat-baratan yaitu: 1) pendapatan per kapita, 2) restoran cepat saji, 3) hidup santai, 4) obesitas, 5) riwayat DM gestational, 6) riwayat melahirkan bayi dengan berat berlebihan. k) Penyakit infeksi dan gizi (Suyono, 2007). Program Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Untuk mencapai tujuan pengendalian DM, perlu ditetapkan kebijakan teknis sebagai berikut: 1. Menetapkan standar, norma, pedoman, kriteria kesehatan dan prosedur kerja dengan mengacu pada pedoman dan peraturan yang berlaku. 2. Menyelenggarakan pengendalian DM melalui pencegahan dan

penanggulangan faktor risiko, penemuan dan tatalaksana kasus secara tepat, surveilans epidemiologi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) DM.

3. Mengembangkan dan meningkatkan surveilans epidemiologi di sarana kesehatan sebagai bahan informasi dan perencanaan program

pengendalian DM. 4. Meningkatkan kemampuan petugas dan masyarakat serta mengupayakan ketersediaan sarana dan prasana dalam pengendalian DM. 5. Meningkatkan jejaring lintas program, lintas sektor dan stake holder terkait baik di Pusat maupun Provinsi, dan kabupaten/kota. 6. Menumbuhkembangkan potensi masyarakat kearah kemandirian melalui pendekatan kelembagaan di tingkat desa/kelurahan. 7. Meningkatkan peran pemerintah Provinsi, kabupaten/kota dan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi upaya pengendalian DM. Strategi Untuk mencapai keberhasilan program secara efektif dan efisien, perlu dikembangkan strategi pelaksanaan kegiatan yaitu: 1. Pengendalian DM berdasarkan fakta (evidence based) dan skala prioritas. 2. Melaksanakan sosialisasi dan advokasi pada pemerintah, pihak legislatif dan stake holder serta pemerintah daerah. 3. Melakukan pembinaan dan monitoring serta evaluasi program

pengendalian DM. 4. Intensifikasi upaya pencegahan dan penanggulan faktor risiko, surveilans epidemiologi, penemuan dan tatalaksana kasus serta KIE DM. 5. Meningkatkan kemitraan melalui jejaring kerja baik nasional, regional maupun internasional. 6. Pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan berbagai kelompok masyarakat di desa/kelurahan seperti posyandu, poslansia dan dll. 7. Meningkatkan peran dan fungsi sesuai kewenangan daerah serta memanfaatkan sumber daya pusat melalui sistem penganggaran.

Kegiatan Kegiatan pokok pengendalian DM berdasarkan berbbagai upaya pencegahan penyakit baik primer, sekunder, maupun tersier dapat dilihat pada tabel 1. UPAYA PENCEGAHAN Sasaran Populasi sehat Populasi risiko Kasus DM Kasus Komplikas i DM Kegiatan Pokok Pengendalian Diabetes Penggerakkan peran serta masyarakat dalam PHBS. Penggerakkan peran serta masyarakat dalam deteksi dan tindak lanjut dini faktor risiko DM. Penggerakkan peran serta masyarakat dalam deteksi dan tindak lanjut dini kasus DM. Pelayanan spesialistik dan sub spesialistik efisien dan efektif pasien dengan komplikasi DM. Tujuan/manfaat Mencegah timbulnya faktor risiko DM. Mawas diri Mawas diri terhadap faktor risiko DM. terhadap terjadinya DM. Mawas diri terhadap komplikasi DM. Koordinator/penanggun g Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal Mencegah . Mencegah Mencegah kematian akibat DM. PRIMER SEKUNDER SEKUNDER TERTIER

terjadinya DM. adanya komplikasi DM.

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.

jawab

Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan

Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan

Pelayanan Medik.

Pelayanan Medik.

Jejaring kerja

Penanggungjawab adalah pengelola program pengendalian DM di setiap administrasi pemerintahan khususnya sektor kesehatan. Kemitraan: lintas program terkait, lintas sektor terkait, organisasi profesi seperti PERKENI, PEDI, Perguruan Tinggi, organisasi masyarakat.

Tabel 1: Pengendalian Diabetes Mellitus Secara Terintegrasi dan Komprehensif Berdasarkan Upaya Pencegahan

Penyakit Kanker Kanker sering dikenal masyarakat sebagai tumor, walaupun tidak semua tumor adalah kanker. Ada dua golongan tumor/neoplasma yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Penyakit kanker merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan adanya sel/jaringan abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat terkendali dan dapat menyebar ke tempat lain dalam tubuh penderita. Program Pengendalian Penyakit Kanker Upaya Pengendalian Penyakit Kanker Kegiatan pengendalian penyakit kanker adalah kegiatan kesehatan masyarakat yang dirancang untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit kanker dan kualitas hidup dari penderita melalui upaya-upaya yang sistematis dan sesuai dengan kondisi setempat berdasarkan data (evidence based) dengan cara pencegahan, deteksi dini, pengobatan dan perawatan palliatif dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.

Pembangunan Kesehatan di Indonesia dilaksanakan dengan mengacu kepada pencapaian visi Indonesia Sehat 2010 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2005 tentang RPJMN 2005-2009. Sesuai Rencana Strategi DEPKES tahun 20052009, untuk mencapai Visi Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat dan mengembang misi Membuat Masyarakat Sehat. Tujuan Pengendalian Penyakit Kanker Tujuan Umum Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit kanker,

memperpanjang umur harapan hidup serta meningkatkan kualitas hidup penderita. Tujuan Khusus 1. Menggerakkan masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit kanker. 2. Melaksanakan deteksi dini pada kelompok masyarakat berisiko penyakit kanker. 3. Melaksanakan deteksi dini pada kelompok masyarakat berisiko penyakit kanker. 4. Melaksanakan penegakan diagnosis dan tatalaksana penderita penyakit kanker yang berkualitas sesuai dengan standar profesi. 5. Mewujudkan jejaring kerja di setiap tingkat administrasi baik lintas program, lintas sektor serta mitra potensial di masyarakat. 6. Mengkoordinasikan kegiatan pengendalain penyakit kanker secara nasional dan berjenjang. 7. Menyediakan kebijakan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan penyakit kanker yang berpihak pada kelompok masyarakat miskin dan berisiko.

Pokok-Pokok Kegiatan Sehubungan dengan keterbatasan sumber daya yang ada kegiatan pengendalian penyakit kanker pada saat ini diprioritaskan jenis penyakit kanker leher rahim, payudara, leukemia pada anak dan retinoblastoma dan kanker paru, dengan tidak mengabaikan penyakit kanker lainnya. Kegiatan ini dilakukan secara komprehensif dan simultan dari pencegahan primer yaitu pengendalian faktor risiko dan peningkatan Komunikasi Informasi Edukasi serta Immunisasi. Pencegahan sekunder dilakukan dengan cara deteksi dini dan penatalaksanaan pada penderita penyakit kanker stadium dini. Kegiatan pencegahan tersier dilaksanakan melalui kegiatan penatalaksanaan pada penyakit kanker yang membutuhkan fasilitas yang lebih lanjut seperti dilakukan pada kasus kanker stadium lebih lanjut dan diikuti dengan pelayanan paliatif.