Anda di halaman 1dari 23

ZOONOSIS

Dipublikasi pada Agustus 9, 2012 oleh egivet10uh

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, zoonosis merupakan penyakit hewan yang dapat menular ke manusia, menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan menyebabkan kematian. Sekurangkurangnya sejak abad 23 SM, pada zaman Babilonia, orang telah mulai menyadari adanya penyakit zoonosis ini. Sejak saat itu mulai disadari pula bahwa pengendalian penyakit ini dapat berhasil, bila dalam pelaksanaannya diarahkan pada rantai penularan yang bukan saja pada lingkungan hewan dan habitatnya, tetapi juga pada manusia, baik sebagai sasaran akhir maupun sasaran lanjutan. Jenis penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia ini, untuk pertama kali diberi istilah zoonosis oleh Virchow. Asal penyakit bisa dari hewan ke manusia dan bisa pula dari manusia ke hewan. Penyakit yang menular dari hewan ke manusia dikelompokkan sebagai penyakit anthropozoonosis dan sebaliknya dari manusia ke hewan disebut zooanthroponosis. Karena pembatasan kedua istilah tersebut sering tidak dapat dilakukan dengan tegas, istilah zoonosis tetap digunakan, baik untuk penyakit yang menular dari hewan ke manusia, atau sebaliknya yang menular dari manusia ke hewan.

Agen penyakit yang menyebabkan penyakit zoonosis dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteria, rickkettsia, clamedia, protozoa, dan sebagainya. Penyakit zoonosis dapat pula disebabkan oleh organisme yang lebih tinggi lagi tingkatannya, misalnya parasit cacing, beberapa jenis jamur dan oleh beberapa ektoparasit. Beberapa contoh penyakit zoonosis yang penting dapat dilihat pada Tabel 4.

Pada dasarnya penyakit zoonosis yang disebabkan oleh jasad renik di luar kelompok parasit seperti virus, bakteria, rickettsia dan lain-lain, baik yang berada dalam hewan maupun manusia adalah merupakan agen penyakit yang sama dan sama-sama pula patogenisitas dan virulensinya. Sedangkan pada penyakit zoonosis yang disebabkan oleh parasit baik endoparasit seperti protozoa, cacing, maupun ektoparasit seperti bangsa tungau, kutu dan lainnya, bentuk penularannya pada hewan dan manusia merupakan suatu kesatuan proses siklus hidup. Dengan demikian, keadaan parasit di alam bebas, kemudian dalam tubuh hewan dan selanjutnya dalam tubuh manusia, adalah merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan. Proses penularan penyakit zoonosis parasit dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya, merupakan peristiwa yang lebih rumit dibandingkan dengan proses penularan yang disebabkan mikroorganisme lainnya. Oleh karena itu, dalam usaha pengendalian penyakit zoonosis parasit, pengetahuan mengenai habitat untuk masing-masing fase infeksi dan perkembangannya perlu

diketahui dengan baik. Selain itu, untuk mengoptimalkan pengendalian, tentunya pengetahuan mengenai parasitnya sendiri harus dikuasai pula. Selain itu, terkait dengan inang yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup agen penyakitnya, zoonosis dapat dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

direct zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit hanya memerlukan satu vertebrata sebagai inang antara (intermediate host). Penularan agen penyakit terjadi secara langsung, yaitu agen penyakit menginfeksi hewan, kemudian pindah ke manusia. Contoh: penyakit rabies, brucellosis, trichinosis.

cyclo zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit memerlukan dua atau lebih inang vertebarata. Contoh: penyakit taeniasis dan penyakit hidatid. meta zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit memerlukan inang vertebrata dan invertebrata. Contoh: penyakit fasioliosis. sapro zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit memerlukan satu inang antara dari bahan organik atau bahan hidup yang tidak berjiwa sebagai reservoir. Contoh: penyakit cutaneus larva migran.

Selanjutnya beberapa istilah berikut perlu diketahui, sehubungan dengan kejadian, penularan, dan timbulnya penyakit yang diakibatkan karena sifat atau karakteristik dari agen penyakit yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Penyakit: suatu akibat yang ditimbulkan oleh suatu agen penyakit yang menyebabkan gangguan fisiologik dari suatu inang. Infeksi: masuknya agen penyakit berupa mikroorganisme atau organisme lain ke dalam inang. Infeksious: sifat atau kemampuan dari agen penyakit untuk berpindah dari satu inang ke inang yang lain. Infektivitas: derajat kemampuan dari suatu agen penyakit untuk menyebabkan infeksi atau untuk hidup dan berkembang dalam tubuh inang. Virulensi: derajat keparahan penyakit yang disebabkan oleh agen penyakit yang mempunyai kekuatan infeksi yang diukur dengan laju fatalitas. Patogenisitas: derajat kemampuan suatu agen penyakit untuk menimbulkan penyakit. Toxisitas:derajat kemampuan suatu agen penyakit untuk mengeluarkan zat racun atau toxin. Antigenesitas: derajat kemampuan tubuh inang untuk meproduksi antoibodi atau kekebalan terhadap infeksi suatu agen penyakit. Invasifness: derajat kemampuan agen penyakit untuk memasuki tubuh inang. Latensi: kemampuan suatu agen penyakit untuk bersembunyai pada inangnya sehingga susah terdeteksi. Periode inkubasi: waktu yang diperlukan mulai dari masuknya agen penyakit ke dalam tubuh inang sampai terlihatnya awal gejala.

Periode prepaten: waktu yang diperlukan mulai masuknya agen penyakit ke dalam tubuh inang sampai dapat dideteksi sebelum gejala terlihat.

Beberapa Penyakit Zoonosis Penting pada Hewan

Penyakit

Penyebab

Agen Penyakit

Hewan Rentan / Sumber Penular sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, babi kucing

Cara Penularan ke Manusia kontak dengan hewan atau hasil hewan

Anthrax

Bakteria

Bacillus anthracis

Bartonellosis

Bakteria

Bartonella henselae

lewat cakaran, gigitan, jilatan kontak langsung dengan plasenta, fetus, cairan/ organ reproduksi

Brucellosis

Bakteria

Brucella abortus Brucella suis Brucella canis Brucella ovis Brucella melitensis

sapi babi anjing domba kambing, domba

Erysipelas Leptospirosis

Bakteria Bakteria

Erysipelothrix rhusiopathiae

babi, ikan, unggas

kontak langsung kontak langsung atau tidak langsung dengan sumber penular

Leptospira interrogans urin (sapi, babi, anjing, tikus)

Listeriosis

Bakteria

Listeria monocytogenes bahan asal hewan per-os lewat seperti susu dan hasil makanan, minuman olahan seperti keju atau kontak (sapi, domba) Burkholderia pseudomallei tanah berair dan tercemar tinja rodensia pembawa agen penyakit per-oral lewat makanan, lewat kulit, saluran pernafasan

Melioidosis

Bakteria

Psittacosis

Bakteria

Chlamydia psittaci

bangsa burung terutama dalam FamPsittacidae

kontak langsung dengan burung tertular

Demam Q

Rickettsia

Coxiela burnetti

sapi, domba, lewat inhalasi kambing, susu segar, percikan (droplet) caplak Babi, ayam, sapi, kerbau, kambing, domba, burung, hewan liar, hewan kesayanagn per-os melalui bahanbahan tertular oleh tinja penderita

Salmonellosis

Bakteria

Salmonella sp.

Streptococcosis

Bakteria

Streptococcus equi daging dan ekskreta subspecies babi tertular zooepidemicus, Streptococcus suis tipe 2 Microspora sp., Trichophyton sp.

secara kontak langsung dan tidak sengaja per-os

Ringworm

Jamur

Anjing, kucing, kontak langsung tanah yang tercemar dengan hewan, tanah dan barang tercemar

Ebola

Virus

Virus Ebola, Fam: Filoviridae

diduga kuat virus kontak langsung tersebar di alam dengan ekskrekta bebas pada satwa liar satwa primata kontak langsung dengan penderita lewat artropoda / nyamuk Culex tritaeniorhyncus,dan jenis arthropoda lain kontak langsung dengan daging babi atau ekskreta babi tertular kontak langsung dengan jaringan hewan tertular

Flu Burung/ Virus Avian Influenza Japanese Encephalitis Virus

Virus Influenza Tipe A, unggas (ayam, ubtype H5N1 burung, itik) Virus RNA, Fam: Flaviviridae, Genus: Flavivirus Virus Golongan Paramyxovirus babi dan beberapa bangsa burung

Penyakit Nipah

Virus

babi, kelelawar diduga bertindak sebagai reservoir

Orf

Virus

Virus Fam. Poxviridae, domba, kambing Genus Parapoxvirus

Rabies

Virus

Virus Fam. Rhabdoviridae Ascaris suum

anjing, kucing, kera

lewat gigitan hewan penderita per-os, manusia menelan larva per-os lewat makanan atau minuman tercemar

Ascariasis

Parasit Cacing

babi

Balantidiosis

ParasitProtozoa Balantidium coli

feses dan potongan usus babi

Cutaneus larva migrans

Parasit Cacing

Larva nematoda tanah yang tercemar kontak kulit dengan (Ancylostoma caninum, lava nematode dari larva III yang ada di A. brazilienze) anjing, kucing tanah Sarcoptes sp. hewan kesayangan (anjing, kucing) sapi babi kontak langsung karena kedekatan per-os dengan mengkonsumsi daging yang mengandung kista

Scabies

Parasit Tungau

Taeniasis

Parasit Cacing

Taenia saginata Taenia solium

Toxoplasmosis

Parasit Protozoa Toxoplasma gondii

oocyt yang telah per-os lewat tinja mengalami sporulasi kucing atau daging dalam tinja kucing yang menagandung kista Jaringan sapi yang mengandung prion, terutama otak dan sumsum tulang belakang per-os

Sapi Gila

Prion

Suatu molekul protein tanpa asam inti

BERIKUT BEBERAPA DESKRIPSI MENGENAI PENYAKIT ZOONOSIS PADA HEWAN 1. 1. Zoonosis Bersifat Eksotik Eksotik artinya penyakit yang hanya ada pada Negara tertentu dan tidak menyebar secara meluas ke Negara lain. 1. a. Ebola Penyebab penyakit ini adalah virus dari genus ebola virus dan familinya filoviridae. Karakteristik dari virus ini, morfologi filamennya panjang dan dikelilingi lemak serta mempunyai

envelop. Ebola virus mempunyai morfologi yang sama dengan marburg virus karena familinya yang sama yaitu filoviridae serta gejala klinis yang sama. Ebola adalah ancaman luas untuk gorila dan simpanse di Afrika Tengah, dan mungkin sudah menyebar ke manusia dari orang-orang yang makan binatang yang terinfeksi. Sekarang menular dari manusia ke manusia, melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, dan telah membunuh beberapa ratus orang di setiap beberapa wabah pada pertengahan 1970-an. Gejala klinis penyakit ebola muntah, diare, luka pada tubuh, pengeluaran darah internal dan eksternal dan demam. Rata-rata kematiannya sangat tinggi yaitu 50-90%, penyebab utama kematian adalah hipopolemik syok dan kegagalan jatung. Sejak ditemukan ebola tidak ada vaksinnya untuk treatmen. Ebola dibagi menjadi tiga yaitu zaire ebola virus, reston ebola virus dan ivori coast ebola virus. 1. b. Nipah virus

Nipah virus merupakan virus zooonotik yang baru, ditemukan pada tahun 1999, penyakit ini menular pada manusia melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi. Nipah virus familinya paramyxovidae. Pola transmisinya mempunyai dua model transmisi yaitu transmisi dari hewan ke hewan dan transmisi dari hewan ke manusia. Kontak terbuka dengan jaringan atau body fluids yang terkontaminasi dari hewan yang terinfeksi. Antibody dari nipah ditemukan pada babi, hewan domestik lain dan hewan liar. Peran dari babi adalah penyebaran infeksi pada hewan lain yang belum tertular. Masa inkubasi dari nipah virus antara 4 dan 18 hari, terdapat kasus infeksi yang tidak mempunyai gejala (subklinikal). Gejala klinis kasus ini mirip dengan gejala influenza dengan demam tingi dan nyeri sendi (mialgia), penyakit ini inflamasi ke otak (encephalitis), mengantuk, konvulsi dan koma. 50% dari gejala ini menimbulkan kematian. 1. c. Rift valley fever (RVF)

RVF bersifat zoonosis, kasus penyakit ini pada hewan dan manusia dengan morbiliti dan mortalitas yang tinggi. Virus RVF ini vektornya adalah nyamuk yang merupakan epizootik potensial (epidemik pada hewan) dan pada manusia epidemik terlihat dari virus baru pada satu area yang terdapat vektornya. RVF merupakan genus dari phlebovirus dengan famili bunyaviridae. Vektor dari RVF melalui gigitan nyamuk, berasal dari species nyamuk yang merupakan vektor transmisi RVF pada daerah berbeda dengan species nyamuk yang berbeda disebut pre dominan vektor, nyamuk Aides adalah contohnya, virus ini terdapat pada pakan hewan yang terinfeksi dan mampu bertransmisi secara transovarial (trasmisi virus dari nyamuk betina yang terinfeksi pada telurnya), jadi generasi baru infeksi nyamuk terdapat pada telur. Banyak type dari hewan yang terinfeksi dari RVF dan kejadian penyakit pada umumnya hewan domestik seperti ternak, domba, unta, kambing dan burung liar dari endemik area yang beradaptasi kekondisi lokal. Hewan dengan umur yang berbeda mempunyai tingkat kejadian penyakit yang berbeda. Lebih dari 90% anak domba terinfeksi RVF mengalami kematian, sedangkan domba dewasa hanya 10%, aborsi hewan yang bunting 100%. RVF pada manusia bersifat epizootik, manusia terinfeksi RVF melalui gigitan nyamuk atau melalui kontak dengan darah, cairan tubuh lain

atau organ dari hewan yang terinfeksi, kontak lain melalui pemotongan hewan yang terinfeksi dan juga melalui susu hewan yang terinfeksi. Virus ini infeksi pada manusia melalui inokulasi (pada kulit yang terluka atau pisau pemotongan daging yang terinfeksi). Melalui infeksi dengan darah yaitu transmisi dari laboratorium yang terinfeksi. 1. d. SARS Virus

SARS virus mempunyai tipikal yang mirip dengan pneumonia dan influenza, familinya paramyxoviridae. Virus ini diinokulasi dari Macaca fascicularis coronaviridae, selain itu virus ini juga familinya coronaviridae. Corona virus memiliki famili yang luas dengan envelop ikatan tunggal positif standar RNA virus yang bereplikasi dalam sitoplasma sel dari inang definitif. Virus ini ditemukan pada feces dan urin dari stable dengan temperatur ruangan. 1-2 hari pasien menderita diare dengan pH lebih tinggi dari normal. Dalam supernatan dari kultur sel yang terinfeksi terdapat konsentrasi virus setelah 21 hari pada suhu 40C dan 800C. Setelah 48 jam dengan temperatur ulang konsentrasi virus direduksi dengan satu tempat. Corona virus ditemukan pada hewan liar yang dijual untuk konsumsi manusia, corona virus ditemukan pada musang (Paguma larvata) dan species hewan lainya. Vaksinnya untuk respiratori corona virus infeksi seperti infeksi bronchitis virus pada ayam, dan transmisi gastroenteritis corona virus dari babi serta Feline Infectious Peritonitis virus (FIP). 1. 2. Zoonosis bersifat Endemik

Endemik adalah suatu keadaan dimana penyakit secara menetap berada dalam masyarakat pada suatu tempat / populasi tertentu. Epidemik ialah mewabahnya penyakit dalam komunitas / daerah tertentu dalam jumlah yang melebihi batas jumlah normal atau yang biasa.Sedangkan pandemik ialah epidemik yang terjadi dalam daerah yang sangat luas dan mencakup populasi yang banyak di berbagai daerah / negara di dunia. 1. a. Flu babi

Flu babi (Inggris:Swine influenza) adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virusOrthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenza virus A. Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1H1N2, H3N1,] H3N2, and H2N3. Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi. 1. b. Flu Burung Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, dan

manusia. Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 9 varian H dan 14 varian N. Virus flu burung yang sedang berjangkit saat ini adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 3-5 hari. Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas alih-alih jalur migrasi burung liar. Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga. Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah. 1. 3. A. a. Zoonosis bersifat sporadis Bakteri Enterobacter sakazakii

Bakteri ini merupakan bakteri batang, Gram negatif dari family Enterobacteriaceae, dan digolongkan sebagai bakteri koliform. Bakteri ini bersifat motil (memiliki peritrichous flagella), tidak membentuk spora, memproduksi koloni berpigmen kuning. Sebelum tahun 1980, bakteri ini disebut sebagai yellow-pigmented Enterobacter cloacae (INFOSAN 2005). Bakteri ini dapat dimusnahkan pada suhu di atas 70 C. Habitat alami bakteri ini tidak diketahui pasti. E. sakazakii dapat dideteksi pada usus manusia sehat, serta dapat pula ditemukan di usus hewan dan lingkungan. E. sakazakii merupakan bakteri patogen yang bersifat oportunistik. Bakteri ini menyebabkan meningitis, sepsis, bakterimia, dan necrotizing enteritis pada bayi (Kim et al. 2007). Tingkat mortalitas dari infeksi E. sakazakii ini mencapai 20 50%. 1. b. Toxoplasmosis Penyakit ini ditakuti oleh kaum wanita karena menyebabkan kemandulan atau selalu keguguran bila mengandung. Bayi yang lahir dengan kondisi cacatpun juga dapat di sebabkan oleh penyakit ini. Penyakit Toxoplasmosis disebarkan oleh satwa bangsa kucing, misalnya kucing hutan, harimau atau juga kucing rumahan. Penularan kepada manusia melalui empat cara yaitu: 1. Secara tidak sengaja menelan makanan atau minuman yang telah tercemar Toxoplasama. 2. Memakan makanan yang berasal dari daging yang mengandung parasit Toxopalsma dan tidak dimasak secara sempurna/setengah matang. 3. 4. Penularan lain adalah infeksi penyakit yang ditularkan melalui placenta bayi dalam kandungan bagi ibu yang mengandung. Cara penularan terakhir adalah melalui transfusi darah. Salmonellosis 5. c.

Bakteri Salmonella masuk ke tubuh penderita melalui makanan atau minuman yang tercemar bakteri ini. Akibat yang ditimbulkan bila terinfeksi bakteri Salmonella adalah peradangan pada saluran pencernaan sampai rusaknya dinding usus. Akibatnya penderita akan mengalami : 1. Diare 2. Sari makanan yang masuk dalam tubuh tidak dapat terserap dengan baik 3. Penderita akan tampak lemah dan kurus. Racun yang dihasilkan oleh bakteri Salmonella menyebabkan kerusakan otak, organ reproduksi wanita bahkan yang sedang hamilpun dapat mengalami keguguran. Satwa yang bisa menularkan penyakit salmonella ini antara lain: primata, iguana, ular, dan burung.

ZOONOSIS
Dipublikasi pada Agustus 9, 2012 oleh egivet10uh

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, zoonosis merupakan penyakit hewan yang dapat menular ke manusia, menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan menyebabkan kematian. Sekurangkurangnya sejak abad 23 SM, pada zaman Babilonia, orang telah mulai menyadari adanya penyakit zoonosis ini. Sejak saat itu mulai disadari pula bahwa pengendalian penyakit ini dapat berhasil, bila dalam pelaksanaannya diarahkan pada rantai penularan yang bukan saja pada lingkungan hewan dan habitatnya, tetapi juga pada manusia, baik sebagai sasaran akhir maupun sasaran lanjutan. Jenis penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia ini, untuk pertama kali diberi istilah zoonosis oleh Virchow. Asal penyakit bisa dari hewan ke manusia dan bisa pula dari manusia ke hewan. Penyakit yang menular dari hewan ke manusia dikelompokkan sebagai penyakit anthropozoonosis dan sebaliknya dari manusia ke hewan disebut zooanthroponosis. Karena pembatasan kedua istilah tersebut sering tidak dapat dilakukan dengan tegas, istilah zoonosis tetap digunakan, baik untuk penyakit yang menular dari hewan ke manusia, atau sebaliknya yang menular dari manusia ke hewan.

Agen penyakit yang menyebabkan penyakit zoonosis dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteria, rickkettsia, clamedia, protozoa, dan sebagainya. Penyakit zoonosis dapat pula disebabkan oleh organisme yang lebih tinggi lagi tingkatannya, misalnya parasit cacing, beberapa jenis jamur dan oleh beberapa ektoparasit. Beberapa contoh penyakit zoonosis yang penting dapat dilihat pada Tabel 4.

Pada dasarnya penyakit zoonosis yang disebabkan oleh jasad renik di luar kelompok parasit seperti virus, bakteria, rickettsia dan lain-lain, baik yang berada dalam hewan maupun manusia adalah merupakan agen penyakit yang sama dan sama-sama pula patogenisitas dan

virulensinya. Sedangkan pada penyakit zoonosis yang disebabkan oleh parasit baik endoparasit seperti protozoa, cacing, maupun ektoparasit seperti bangsa tungau, kutu dan lainnya, bentuk penularannya pada hewan dan manusia merupakan suatu kesatuan proses siklus hidup. Dengan demikian, keadaan parasit di alam bebas, kemudian dalam tubuh hewan dan selanjutnya dalam tubuh manusia, adalah merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan. Proses penularan penyakit zoonosis parasit dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya, merupakan peristiwa yang lebih rumit dibandingkan dengan proses penularan yang disebabkan mikroorganisme lainnya. Oleh karena itu, dalam usaha pengendalian penyakit zoonosis parasit, pengetahuan mengenai habitat untuk masing-masing fase infeksi dan perkembangannya perlu diketahui dengan baik. Selain itu, untuk mengoptimalkan pengendalian, tentunya pengetahuan mengenai parasitnya sendiri harus dikuasai pula. Selain itu, terkait dengan inang yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup agen penyakitnya, zoonosis dapat dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

direct zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit hanya memerlukan satu vertebrata sebagai inang antara (intermediate host). Penularan agen penyakit terjadi secara langsung, yaitu agen penyakit menginfeksi hewan, kemudian pindah ke manusia. Contoh: penyakit rabies, brucellosis, trichinosis.

cyclo zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit memerlukan dua atau lebih inang vertebarata. Contoh: penyakit taeniasis dan penyakit hidatid. meta zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit memerlukan inang vertebrata dan invertebrata. Contoh: penyakit fasioliosis. sapro zoonosis: untuk kelangsungan siklus hidupnya, agen penyakit memerlukan satu inang antara dari bahan organik atau bahan hidup yang tidak berjiwa sebagai reservoir. Contoh: penyakit cutaneus larva migran.

Selanjutnya beberapa istilah berikut perlu diketahui, sehubungan dengan kejadian, penularan, dan timbulnya penyakit yang diakibatkan karena sifat atau karakteristik dari agen penyakit yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Penyakit: suatu akibat yang ditimbulkan oleh suatu agen penyakit yang menyebabkan gangguan fisiologik dari suatu inang. Infeksi: masuknya agen penyakit berupa mikroorganisme atau organisme lain ke dalam inang. Infeksious: sifat atau kemampuan dari agen penyakit untuk berpindah dari satu inang ke inang yang lain. Infektivitas: derajat kemampuan dari suatu agen penyakit untuk menyebabkan infeksi atau untuk hidup dan berkembang dalam tubuh inang. Virulensi: derajat keparahan penyakit yang disebabkan oleh agen penyakit yang mempunyai kekuatan infeksi yang diukur dengan laju fatalitas. Patogenisitas: derajat kemampuan suatu agen penyakit untuk menimbulkan penyakit.

Toxisitas:derajat kemampuan suatu agen penyakit untuk mengeluarkan zat racun atau toxin. Antigenesitas: derajat kemampuan tubuh inang untuk meproduksi antoibodi atau kekebalan terhadap infeksi suatu agen penyakit. Invasifness: derajat kemampuan agen penyakit untuk memasuki tubuh inang. Latensi: kemampuan suatu agen penyakit untuk bersembunyai pada inangnya sehingga susah terdeteksi. Periode inkubasi: waktu yang diperlukan mulai dari masuknya agen penyakit ke dalam tubuh inang sampai terlihatnya awal gejala. Periode prepaten: waktu yang diperlukan mulai masuknya agen penyakit ke dalam tubuh inang sampai dapat dideteksi sebelum gejala terlihat.

Beberapa Penyakit Zoonosis Penting pada Hewan

Penyakit

Penyebab

Agen Penyakit

Hewan Rentan / Sumber Penular sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, babi kucing

Cara Penularan ke Manusia kontak dengan hewan atau hasil hewan

Anthrax

Bakteria

Bacillus anthracis

Bartonellosis

Bakteria

Bartonella henselae

lewat cakaran, gigitan, jilatan kontak langsung dengan plasenta, fetus, cairan/ organ reproduksi

Brucellosis

Bakteria

Brucella abortus Brucella suis Brucella canis Brucella ovis Brucella melitensis

sapi babi anjing domba kambing, domba

Erysipelas Leptospirosis

Bakteria Bakteria

Erysipelothrix rhusiopathiae

babi, ikan, unggas

kontak langsung kontak langsung atau tidak langsung dengan sumber penular

Leptospira interrogans urin (sapi, babi, anjing, tikus)

Listeriosis

Bakteria

Listeria monocytogenes bahan asal hewan per-os lewat seperti susu dan hasil makanan, minuman olahan seperti keju atau kontak (sapi, domba) Burkholderia pseudomallei tanah berair dan tercemar tinja rodensia pembawa agen penyakit bangsa burung terutama dalam FamPsittacidae per-oral lewat makanan, lewat kulit, saluran pernafasan

Melioidosis

Bakteria

Psittacosis

Bakteria

Chlamydia psittaci

kontak langsung dengan burung tertular

Demam Q

Rickettsia

Coxiela burnetti

sapi, domba, lewat inhalasi kambing, susu segar, percikan (droplet) caplak Babi, ayam, sapi, kerbau, kambing, domba, burung, hewan liar, hewan kesayanagn per-os melalui bahanbahan tertular oleh tinja penderita

Salmonellosis

Bakteria

Salmonella sp.

Streptococcosis

Bakteria

Streptococcus equi daging dan ekskreta subspecies babi tertular zooepidemicus, Streptococcus suis tipe 2 Microspora sp., Trichophyton sp.

secara kontak langsung dan tidak sengaja per-os

Ringworm

Jamur

Anjing, kucing, kontak langsung tanah yang tercemar dengan hewan, tanah dan barang tercemar

Ebola

Virus

Virus Ebola, Fam: Filoviridae

diduga kuat virus kontak langsung tersebar di alam dengan ekskrekta bebas pada satwa liar satwa primata kontak langsung dengan penderita lewat artropoda / nyamuk Culex tritaeniorhyncus,dan

Flu Burung/ Virus Avian Influenza Japanese Encephalitis Virus

Virus Influenza Tipe A, unggas (ayam, ubtype H5N1 burung, itik) Virus RNA, Fam: Flaviviridae, Genus: Flavivirus babi dan beberapa bangsa burung

jenis arthropoda lain Penyakit Nipah Virus Virus Golongan Paramyxovirus babi, kelelawar diduga bertindak sebagai reservoir kontak langsung dengan daging babi atau ekskreta babi tertular kontak langsung dengan jaringan hewan tertular lewat gigitan hewan penderita per-os, manusia menelan larva per-os lewat makanan atau minuman tercemar

Orf

Virus

Virus Fam. Poxviridae, domba, kambing Genus Parapoxvirus

Rabies

Virus

Virus Fam. Rhabdoviridae Ascaris suum

anjing, kucing, kera

Ascariasis

Parasit Cacing

babi

Balantidiosis

ParasitProtozoa Balantidium coli

feses dan potongan usus babi

Cutaneus larva migrans

Parasit Cacing

Larva nematoda tanah yang tercemar kontak kulit dengan (Ancylostoma caninum, lava nematode dari larva III yang ada di A. brazilienze) anjing, kucing tanah Sarcoptes sp. hewan kesayangan (anjing, kucing) sapi babi kontak langsung karena kedekatan per-os dengan mengkonsumsi daging yang mengandung kista

Scabies

Parasit Tungau

Taeniasis

Parasit Cacing

Taenia saginata Taenia solium

Toxoplasmosis

Parasit Protozoa Toxoplasma gondii

oocyt yang telah per-os lewat tinja mengalami sporulasi kucing atau daging dalam tinja kucing yang menagandung kista Jaringan sapi yang mengandung prion, terutama otak dan sumsum tulang belakang per-os

Sapi Gila

Prion

Suatu molekul protein tanpa asam inti

BERIKUT BEBERAPA DESKRIPSI MENGENAI PENYAKIT ZOONOSIS PADA HEWAN 1. 1. Zoonosis Bersifat Eksotik Eksotik artinya penyakit yang hanya ada pada Negara tertentu dan tidak menyebar secara meluas ke Negara lain. 1. a. Ebola Penyebab penyakit ini adalah virus dari genus ebola virus dan familinya filoviridae. Karakteristik dari virus ini, morfologi filamennya panjang dan dikelilingi lemak serta mempunyai envelop. Ebola virus mempunyai morfologi yang sama dengan marburg virus karena familinya yang sama yaitu filoviridae serta gejala klinis yang sama. Ebola adalah ancaman luas untuk gorila dan simpanse di Afrika Tengah, dan mungkin sudah menyebar ke manusia dari orang-orang yang makan binatang yang terinfeksi. Sekarang menular dari manusia ke manusia, melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, dan telah membunuh beberapa ratus orang di setiap beberapa wabah pada pertengahan 1970-an. Gejala klinis penyakit ebola muntah, diare, luka pada tubuh, pengeluaran darah internal dan eksternal dan demam. Rata-rata kematiannya sangat tinggi yaitu 50-90%, penyebab utama kematian adalah hipopolemik syok dan kegagalan jatung. Sejak ditemukan ebola tidak ada vaksinnya untuk treatmen. Ebola dibagi menjadi tiga yaitu zaire ebola virus, reston ebola virus dan ivori coast ebola virus. 1. b. Nipah virus

Nipah virus merupakan virus zooonotik yang baru, ditemukan pada tahun 1999, penyakit ini menular pada manusia melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi. Nipah virus familinya paramyxovidae. Pola transmisinya mempunyai dua model transmisi yaitu transmisi dari hewan ke hewan dan transmisi dari hewan ke manusia. Kontak terbuka dengan jaringan atau body fluids yang terkontaminasi dari hewan yang terinfeksi. Antibody dari nipah ditemukan pada babi, hewan domestik lain dan hewan liar. Peran dari babi adalah penyebaran infeksi pada hewan lain yang belum tertular. Masa inkubasi dari nipah virus antara 4 dan 18 hari, terdapat kasus infeksi yang tidak mempunyai gejala (subklinikal). Gejala klinis kasus ini mirip dengan gejala influenza dengan demam tingi dan nyeri sendi (mialgia), penyakit ini inflamasi ke otak (encephalitis), mengantuk, konvulsi dan koma. 50% dari gejala ini menimbulkan kematian. 1. c. Rift valley fever (RVF)

RVF bersifat zoonosis, kasus penyakit ini pada hewan dan manusia dengan morbiliti dan mortalitas yang tinggi. Virus RVF ini vektornya adalah nyamuk yang merupakan epizootik potensial (epidemik pada hewan) dan pada manusia epidemik terlihat dari virus baru pada satu area yang terdapat vektornya. RVF merupakan genus dari phlebovirus dengan famili bunyaviridae. Vektor dari RVF melalui gigitan nyamuk, berasal dari species nyamuk yang merupakan vektor transmisi RVF pada daerah berbeda dengan species nyamuk yang berbeda disebut pre dominan vektor, nyamuk Aides adalah contohnya, virus ini terdapat pada pakan hewan yang terinfeksi dan mampu

bertransmisi secara transovarial (trasmisi virus dari nyamuk betina yang terinfeksi pada telurnya), jadi generasi baru infeksi nyamuk terdapat pada telur. Banyak type dari hewan yang terinfeksi dari RVF dan kejadian penyakit pada umumnya hewan domestik seperti ternak, domba, unta, kambing dan burung liar dari endemik area yang beradaptasi kekondisi lokal. Hewan dengan umur yang berbeda mempunyai tingkat kejadian penyakit yang berbeda. Lebih dari 90% anak domba terinfeksi RVF mengalami kematian, sedangkan domba dewasa hanya 10%, aborsi hewan yang bunting 100%. RVF pada manusia bersifat epizootik, manusia terinfeksi RVF melalui gigitan nyamuk atau melalui kontak dengan darah, cairan tubuh lain atau organ dari hewan yang terinfeksi, kontak lain melalui pemotongan hewan yang terinfeksi dan juga melalui susu hewan yang terinfeksi. Virus ini infeksi pada manusia melalui inokulasi (pada kulit yang terluka atau pisau pemotongan daging yang terinfeksi). Melalui infeksi dengan darah yaitu transmisi dari laboratorium yang terinfeksi. 1. d. SARS Virus

SARS virus mempunyai tipikal yang mirip dengan pneumonia dan influenza, familinya paramyxoviridae. Virus ini diinokulasi dari Macaca fascicularis coronaviridae, selain itu virus ini juga familinya coronaviridae. Corona virus memiliki famili yang luas dengan envelop ikatan tunggal positif standar RNA virus yang bereplikasi dalam sitoplasma sel dari inang definitif. Virus ini ditemukan pada feces dan urin dari stable dengan temperatur ruangan. 1-2 hari pasien menderita diare dengan pH lebih tinggi dari normal. Dalam supernatan dari kultur sel yang terinfeksi terdapat konsentrasi virus setelah 21 hari pada suhu 40C dan 800C. Setelah 48 jam dengan temperatur ulang konsentrasi virus direduksi dengan satu tempat. Corona virus ditemukan pada hewan liar yang dijual untuk konsumsi manusia, corona virus ditemukan pada musang (Paguma larvata) dan species hewan lainya. Vaksinnya untuk respiratori corona virus infeksi seperti infeksi bronchitis virus pada ayam, dan transmisi gastroenteritis corona virus dari babi serta Feline Infectious Peritonitis virus (FIP). 1. 2. Zoonosis bersifat Endemik

Endemik adalah suatu keadaan dimana penyakit secara menetap berada dalam masyarakat pada suatu tempat / populasi tertentu. Epidemik ialah mewabahnya penyakit dalam komunitas / daerah tertentu dalam jumlah yang melebihi batas jumlah normal atau yang biasa.Sedangkan pandemik ialah epidemik yang terjadi dalam daerah yang sangat luas dan mencakup populasi yang banyak di berbagai daerah / negara di dunia. 1. a. Flu babi

Flu babi (Inggris:Swine influenza) adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virusOrthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenza virus A. Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Gejala

virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1H1N2, H3N1,] H3N2, and H2N3. Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi. 1. b. Flu Burung Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, dan manusia. Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 9 varian H dan 14 varian N. Virus flu burung yang sedang berjangkit saat ini adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 3-5 hari. Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas alih-alih jalur migrasi burung liar. Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga. Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah. 1. 3. Zoonosis bersifat sporadis A. a. Bakteri Enterobacter sakazakii

Bakteri ini merupakan bakteri batang, Gram negatif dari family Enterobacteriaceae, dan digolongkan sebagai bakteri koliform. Bakteri ini bersifat motil (memiliki peritrichous flagella), tidak membentuk spora, memproduksi koloni berpigmen kuning. Sebelum tahun 1980, bakteri ini disebut sebagai yellow-pigmented Enterobacter cloacae (INFOSAN 2005). Bakteri ini dapat dimusnahkan pada suhu di atas 70 C. Habitat alami bakteri ini tidak diketahui pasti. E. sakazakii dapat dideteksi pada usus manusia sehat, serta dapat pula ditemukan di usus hewan dan lingkungan. E. sakazakii merupakan bakteri patogen yang bersifat oportunistik. Bakteri ini menyebabkan meningitis, sepsis, bakterimia, dan necrotizing enteritis pada bayi (Kim et al. 2007). Tingkat mortalitas dari infeksi E. sakazakii ini mencapai 20 50%. 1. b. Toxoplasmosis Penyakit ini ditakuti oleh kaum wanita karena menyebabkan kemandulan atau selalu keguguran bila mengandung. Bayi yang lahir dengan kondisi cacatpun juga dapat di sebabkan oleh penyakit ini. Penyakit Toxoplasmosis disebarkan oleh satwa bangsa kucing, misalnya kucing hutan, harimau atau juga kucing rumahan. Penularan kepada manusia melalui empat cara yaitu:

1. Secara tidak sengaja menelan makanan atau minuman yang telah tercemar Toxoplasama. 2. Memakan makanan yang berasal dari daging yang mengandung parasit Toxopalsma dan tidak dimasak secara sempurna/setengah matang. 3. 4. Penularan lain adalah infeksi penyakit yang ditularkan melalui placenta bayi dalam kandungan bagi ibu yang mengandung. Cara penularan terakhir adalah melalui transfusi darah. Salmonellosis 5. c.

Bakteri Salmonella masuk ke tubuh penderita melalui makanan atau minuman yang tercemar bakteri ini. Akibat yang ditimbulkan bila terinfeksi bakteri Salmonella adalah peradangan pada saluran pencernaan sampai rusaknya dinding usus. Akibatnya penderita akan mengalami : 1. Diare 2. Sari makanan yang masuk dalam tubuh tidak dapat terserap dengan baik 3. Penderita akan tampak lemah dan kurus. Racun yang dihasilkan oleh bakteri Salmonella menyebabkan kerusakan otak, organ reproduksi wanita bahkan yang sedang hamilpun dapat mengalami keguguran. Satwa yang bisa menularkan penyakit salmonella ini antara lain: primata, iguana, ular, dan burun
1. ^
a b c d e f g

Soejodono, Roso (2004). Zoonosis. Bogor: Laboratorium Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan

IPB. 2. ^ Acha, PN; Szyfres B (2003). Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals 3rd Edition Volume III Parasitoses. Washington: Pan American Health Organization. 3. ^ Krauss,, H; A. Weber, M. Appel, B. Enders, A. v. Graevenitz, H. D. Isenberg, H. G. Schiefer, W. Slenczka, H. Zahner (2003). Zoonoses. Infectious Diseases Transmissible from Animals to Humans 3rd Edition, 456 pages. Washington DC: American Society for Microbiology. ISBN 1-55581-236-8. 4. ^
a b c d

Brown, C (2004). "Emerging Zoonoses and Pathogens of Public Health Significance-an

overview". Re Sci Tech Off Int Epiz 23 (2): 435442. 5. ^


a b

Morse, SS (2004). "Factors and Determinants of Disease Emergence". Rev. Sci. Tech. Office

Internationale de Epizootica 23: 443451. 6. ^


a b c

(Inggris) Cliver, D. O., S. M. Matsui, dan M. Casteel. 2006. Infections with Viruses and Prions. Di

dalam: H. P. Riemann dan D. O. Cliver, Editor. Foodborne Infections and Intoxications. Amsterdam: Elsevier. Halaman 367-416. 7. ^ Kusumamihardja, S. 1992. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak Piaraan di Indonesia. Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor

Zoonosis dimana proses penularannya memerlukan perkembangan bukan pada hewan seperti tanaman pangan, tanah atau bahan organic lainnya. Contoh beberapa penyakit jamur dan larva migrans.

PENDAHULUAN Cutaneus Larva Migran (CLM) adalah penyakit infeksi kulit parasit yang sudah dikenal sejak tahun 1 1874 . Awalnya ditemukan pada daerah daerah tropikal dan subtropikal beriklim hangat, saat ini karena kemudahan transportasi keseluruh bagian dunia, penyakit ini tidak lagi dikhususkan pada daerah 2 3 daerah tersebut . Creeping itch atau rasa gatal yang menjalar, merupakan karakteristik utama dari CLM . Faktor resiko utama bagi penyakit ini adalah kontak dengan tanah lembab atau berpasir, yang telah 1 terkontaminasi dengan feces anjing atau kucing . Penyakit ini lebih sering dijumpai pada anak anak dibandingkan pada orang dewasa. Pada orang dewasa, faktor resiko nya adalah pada tukang kebun, petani, dan orang orang dengan hobi atau aktivitas yang berhubungan dengan tanah lembab dan 2 berpasir . DEFINISI Kelainan kulit yang merupakan peradangan berbentuk linear atau berkelok kelok, menimbul dan 4 progresif, disebabkan oleh invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing . SINONIM 4 Cutaneous larva migrans, creeping eruption, dermatosis linearis migrans , sandworm disease (di Amerika Selatan larva sering ditemukan ditanah pasir atau di pantai), strongyloidiasis (creeping eruption pada punggung). ETIOLOGI Penyebab umum dari CLM adalah; o Ancylostoma braziliense (cacing pada anjing dan kucing), penyebab paling sering. o Ancylostoma caninum (anjing) penyebab paling banyak kedua setelah a.braziliense. o Uncinaria stenocephala (anjing ) 2 o Bunostomum phlebotomum (sapi) Penyebab yang lebih jarang ditemukan adalah: o Ancylostoma ceylonicum dan Ancylostoma tubaeforme (kucing) o Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (manusia) o Strongyloides papillosus (kambing) dan Strongyloides westeri (kuda) 2 o Pelodera (Rhabditis) strongyloides 4 o Castrophillus (the horse bot fly) dan cattle fly (Lalat)

PATOGENESIS Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing dan kucing, yaituAncylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Selain itu dapat pula disebabkan oleh larva dari beberapa jenis lalat, seperti Castrophillus (the horse bot fly) dan cattle fly. Biasanya larva ini merupakan stadium ketiga siklus hidup. Nematoda hidup pada hospes (anjing, kucing atau babi), ovum terdapat pada kotoran binatang dan karena kelembapan berubah menjadi larva yang mempu mengadakan penetrasi kekulit. Larva ini tinggal di kulit berjalan jalan tanpa tujuan sepanjang dermo 4 epidermal, setelah beberapa jam atau hari, akan timbul gejala di kulit .

Gambar 1. (A) Siklus hidup cacing (B) Fotomikrograf kulit yang menunjukkan nematoda creeping eruption dalam terowongan dengan pembesaran 480x (Kirby Smith, et al)

Reaksi yang timbul pada kulit, bukan diakibatkan oleh parasit, tetapi disebabkan oleh reaksi inflammasi 3 dan alergi oleh sistem immun terhadap larva dan produknya . Pada hewan, Larva ini mampu menembus dermis dan melengkapi siklus hidupnya dengan berkembang biak di organ dalam. Sedangkan pada manusia, larva memasuki kulit melalui folikel, fissura atau menembus kulit utuh menggunakan enzim protease, tapi infeksi nya hanya terbatas pada epidermis karena tidak memiliki enzym collagenase yang 2 dibutuhkan untuk penetrasi kebagian kulit yang lebih dalam . GEJALA KLINIS 4 Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas . Mula mula , pada point of entry, akan timbul papul, kemudian diikuti oleh bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear atau berkelok kelok (snakelike appearance bentuk seperti ular) yang terasa sangat gatal, menimbul dengan lebar 2 3 mm, 2,3,4 panjang 3 4 cm dari point of entry, dan berwarna kemerahan . Adanya lesi papul yang eritematosa ini 4 menunjukkan larva tersebut telah berada dikulit selama beberapa jam atau hari . Rasa gatal dapat timbul 2 paling cepat 30 menit setelah infeksi, meskipun pernah dilaporkan late onset dari CLM . Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelok- kelok, polisiklik, serpiginosa, menimbul dan membentuk terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa sentimeter 4 dan bertambah panjang beberapa milimeter atau beberapa sentimeter setiap harinya . Umumnya pasien hanya memiliki satu atau tiga lintasan dengan panjang 2 5 cm. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari, sehingga pasien sulit tidur. Rasa gatal ini juga dapat berlanjut, meskipun larva telah mati.

Gambar 2 (A) dan (B) Terowongan CLM pada kaki. (C) Terowongan yang disertai krusta.

Terowongan yang sudah lama, akan mengering dan menjadi krusta, dan bila pasien sering menggaruk, dapat menimbulkan iritasi yang rentan terhadap infeksi sekunder. Larva nematoda dapat ditemukan terperangkap dalam kanal folikular, stratum korneum atau dermis Tempat predileksi adalah di tempat tempat yang kontak langsung dengan tanah, baik saat beraktivitas, duduk, ataupun berbaring, seperti di tungkai, plantar, tangan, anus, bokong dan paha juga di bagian 6 tubuh di mana saja yang sering berkontak dengan tempat larva berada . DIAGNOSIS Berdasarkan bentuk yang khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok 4 kelok, menimbul dan terdapat papul atau vesikel di atasnya .

Gambar 3. (A) CLM dengan waktu infeksi 2 minggu (B) dan (C) Lesi pada gambar A diperbesar.

1. 2. 3. 4.

DIAGNOSIS BANDING Skabies: Pada skabies terowongan yang terbentuk tidak sepanjang seperti pada penyakit ini Dermatofitosis : Bentuk polisiklik menyerupai dermatofitosis Dermatitis insect bite : Pada permulaan lesi berupa papul, yang dapat menyerupai insect bite Herpes zooster : Bila invasi larva yang multipel timbul serentak, papul papul lesi dini dapat menyerupai 4 herpes zooster PROGNOSA Penyakit ini dapat sembuh sendiri setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Pengobatan dimaksudkan untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa ketidaknyamanan pasien. 5 Umumnya pengobatan selalu memberikan hasil yang baik .

MORTALITAS Mortalitas karena penyakit ini belum pernah dilaporkan. Kebanyakan kasus larva migran sembuh 3 sendiridengan atau tanpa pengobatan, dan tanpa diikuti efek samping jangka panjang apapun . MORBIDITAS Morbiditas dikaitkan dengan pruritus hebat dan kemungkinan infeksi bakterial sekunder. Sangat jarang sekali, dapat terjadi migrasi ke jaringan dalam, seperti ke paru dan usus, yang dapat menyebabkan 3 penumonitis (Loefflers Syndrome), enteritis, myositis (nyeri otot)

Gambar 4. Terowongan yang sudah mengalami infeksi sekunder (Kirby Smith, et al)

LANGKAH LANGKAH PENCEGAHAN Di Amerika serikat, telah dilakukan de-worming atau pemberantasan cacing pada anjing dan kucing, dan 5 terbukti mengurangi secara signifikan insiden penyakit ini Larva cacing umumnya menginfeksi tubuh melalui kulit kaki yang tidak terlindungi, karena itu penting 5 sekali memakai alas kaki, dan menghindari kontak langsung bagian tubuh manapun dengan tanah . PENATALAKSANAAN Modalitas topikal seperti spray etilklorida, nitrogen cair, fenol, CO2 snow, piperazine citrate, dan elektrokauter umumnya tidak berhasil sempurna, karena larva sering tidak lolos atau tidak mati. Demikian pula kemoterapi dengan klorokuin, dietiklcarbamazine dan antimony jugatidak berhasil. Terapi pilihan 2 saat ini adalah dengan preparat antihelmintes baik topikal maupun sistemik .

SISTEMIK (ORAL) Tiabendazol (Mintezol), antihelmintes spektrum luas. Dosis 50 mg/kgBB/hari, sehari 2 kali, diberikan berturut turut selama 2 hari. Dosis maksimum 3 gram sehari, jika belum sembuh dapat diulangi setelah 4 beberapa hari. Sulit didapat. Efek sampingnya mual, pusing, dan muntah . 4 2. Solusio topikal tiabendazol dalam DMSO, atau suspensi tiabendazol secara oklusi selama 24 48 jam . Dapat juga disiapkan pil tiabendazol yang dihancurkan dan dicampur dengan vaseline, di oleskan tipis pada lesi, lalu ditutup dengan band-aid/kasa. Campuran ini memberikan jaringan kadar antihelmints yang cukup untuk membunuh parasit, tanpa disertai efek samping sistemik. 4 3. Albendazol (Albenza), dosis 400mg dosis tunggal, diberikan tiga hari berturut turut . 4. Ivermectin (Stromectol) 1. AGEN PEMBEKU TOPIKAL

1.

Cryotherapy dengan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama 45 detik sampai 1 menit, selama 2 4 hari berturut turut . 4 2. Nitrogen liquid 3. Kloretil spray, yang disemprotkan sepanjang lesi. Agak sulit karena tidak diketahui secara pasti dimana 4 larva berada, dan bila terlalu lama dapat merusak jaringan disekitarnya . 4. Direkomendasikan pula penggunaan Benadryl atau krim anti gatal (Calamine lotion atau Cortisone) 4 untuk mengurangi gatal .

DISKUSI
Diagnosa penyakit ini dapat ditegakkan hanya dari pemeriksaan fisik dengan melihat bentuk yang khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok kelok, dan menimbul. Kemudian, dari anamnesa yang mendukung diagnosa adalah adanya riwayat kontak dengan tanah sebelum keluhan ini dirasakan, yaitu saat pasien berkebun. Pemeriksaan penunjang lain yang disebutkan dalam kepustakaan adalah biopsi, tapi hal ini sangat jarang dilakukan, dan pada kasus ini tidak diperlukan karena tidak ada gejala yang mengarah pada penyakit lain. Terapi yang dipilih adalah tindakan khusus, yaitu penyemprotan dengan klor etil sebanyak masing masing dua kali pada kunjungan I dan II. Karena keluhan yang dirasakan tidak hilang, pada kunjungan III dilakukan elektrokauterisasi pada lesi (sepanjang terowongan yang menimbul) dan setelah itu dilakukan penyemprotan dengan klor etil sebanyak dua kali lagi. Masing masing penyemprotan dilakukan selama 2 menit hingga tampak lapisan putih, dan diantara nya ada selang waktu 15 menit. Tujuan penyemprotan dengan klor etil pada prinsipnya adalah untuk membekukan dan mematikan larva Penyemprotan dengan klor etil memang tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan, karena posisi pasti larva tidak bisa dipastikan, sifat terapi ini adalah hit-or-miss. Namun, ini merupakan alternatif cara yang cepat untuk mengakhiri pertumbuhan terowongan. Disebutkan dalam salah satu kepustakaan, terapi pilihan saat ini adalah dengan memberikan antihelmintes baik secara topikal (dengan oklusi) maupun sistemik. Pada kasus ini, mungkin tidak dilakukan pemberian antihelmintes sistemik untuk menghindari efek samping obat antihelmintes sistemik. Disamping itu pasien datang dengan lesi awal (3 hari setelah keluhan dirasakan), sehingga diharapkan infeksi dapat diakhiri dengan semprotan klor etil di poliklinik. Sedangkan pemakaian tiabendazol topikal secara oklusi empat kali sehari mungkin sulit dilakukan pasien di rumah. Pasien ini dijadwalkan untuk kunjungan ke IV, tapi pasien tidak kembali untuk kontrol ulang.

Daftar Pustaka
1. 2. Anonymous. Cutaneous Larva Migrans: The Creeping Eruption. Diunduh dari Jusych, LA. Douglas MC.Cutaneous Larva Migrans: Overview, Treatment and Medication. Diunduh dari www.emedicine.com. Pada tanggal 29 Desember 2009. Update terakhir 20 November 2009. 3. Anonymous. Clinical Presentation in Humans. Diunduh dari www.stanford.edu/group/parasites/parasites2002/cutaneous_larva_migrans/clinical%20presentation.html pada tanggal 29 Desember 2009 4. Aisah S. Creeping Eruption dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Penerbit Fakultas Kedokteran FKUI. 125-6 (2007)

5.

Dugdale,DC. Diunduh dari www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001454.htm Update terakhir 12 Maret 2008 6. Anonymous. Cutaneous Larva Migrans. Diunduh www.en.wikipedia.org/wiki/Cutaneous_larva_migrans

dari

saprozoonosis Sebuah zoonosis agen yang membutuhkan baik host vertebrata dan nonanimal (makanan, tanah, tanaman) waduk atau situs perkembangan untuk menyelesaikan siklus. Istilah kombinasi dapat digunakan, seperti saprometazoonoses untuk infeksi kebetulan, ketika metaserkaria encyst pada tanaman, atau saprocyclozoonoses untuk ... saprozoonosis saprozoonosis Sebuah penyakit hewan yang membutuhkan baik host vertebrata dan nonanimal (makanan, tanah, tanaman) waduk atau situs perkembangan untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Contohnya antara lain: botulisme, lumpuh, penyakit sering fatal, disebabkan oleh konsumsi makanan yang terkontaminasi dengan racun preformed. ... Sebuah zoonosis yang agen penyebab membutuhkan kedua host vertebrata dan reservoir nonanimal atau situs perkembangan untuk menyelesaikan siklus hidupnya. definisi: 1. Sebuah zoonosis, agen yang membutuhkan baik host vertebrata dan nonanimal (makanan, tanah, tanaman) waduk atau situs perkembangan untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Istilah kombinasi dapat digunakan, seperti saprometazoonoses untuk infeksi kebetulan, ketika metaserkaria encyst pada tanaman, atau saprocyclozoonoses untuk infestasi kutu, agen th yang bagian lengkap dari siklus hidup mereka di dalam tanah. Sebuah zoonosis agen yang membutuhkan baik host vertebrata dan nonanimal (makanan, tanah, tanaman) waduk atau situs perkembangan untuk menyelesaikan siklus. Istilah kombinasi dapat digunakan, seperti saprometazoonoses untuk infeksi kebetulan, ketika metaserkaria encyst pada tanaman, atau saprocyclozoonoses untuk infestasi kutu, yang agen bagian lengkap dari siklus hidup mereka di dalam tanah. Negara Asal: busuk + G. Zoon, hewan, + nosos, penyakit (5 Maret 2000)