Anda di halaman 1dari 22

RINGKASAN MATERI PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Pendidikan lingkungan hidup merupakan salah satu faktor penting untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan hidup dan merupakan sarana yang penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang dapat melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pendidikan lingkungan dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dalam mencari pemecahan dan pencegahan timbulnya masalah lingkungan. Menirut anonim (2007), Pendidikan lingkungan tidak akan merubah situasi dan kondisi lingkungan yang rusak menjadi baik dalam waktu yang singkat, melainkan membutuhkan waktu,proses, dan sumber daya. Atas dasar itulah pendidikan lingkungan sedini 1.2 mungkin perlu diupayakan agar dapat meminimalisirkerusakan-kerusakan lingkungan RUMUSAN MASALAH Di dalam menyusun makalah ini penyusun menemukan beberapa permasalahan, yang susuna dalam rumusan masalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 1.3 Keadaan Geografi dan Lingkungan Perkembanga pendidikan Lingkungan di Indonesia Kendala Pengelolaan Lingkungan Hidup TUJUAN 1. Mengetahui keadaan lingkungan sekarang 2. Mengetahui perkembanga pendidikan Lingkungan di Indonesia Mengetahui kendala penelolaan lingkungan hidup dan memberikan solusinya

BAB II PEMBAHASAN

Indonesia menghadapi pembanganan yang berdampak pada masalah lingkungan dan bencana alam. beberapa masalah yang serius terkait dengan aspek lingkkungan hidup yaitu : 1. Kerusakan lingkungan hidup 2. Pengangguran dan kemiskinan 3. Pengaruh perubahan iklim global 4. Krisis air, pangan dan energi 5. Bencana alam dan konflik sosial

Berbagai contoh kerusakan lingkungan hidup, yaitu adanya lebih dari 60 DAS kritis di Indonesia, meningkatnya lahan kritis, pencemaran, kerusakan lingkungan hunian kota oleh banjir, intrusi, bencana alam yang menimbulkan kerugian harta, jiwa dan rusaknya infrastruktur kota serta pemukimkan. Gempa bumi dan tsunami di Aceh, gempa di DIY, Jateng, Maluku, Manokwari, Jakarta menimbulkan masalah yang tidak mudah diselesaikan dalam waktu yang singkat. Masalah sosial ekonomi masyarakat yaitu pengangguran di Indonesia 10% dari jumlah penduduk dan kemiskinan 14%, isu perubahan iklim yang berdampak pada kenaikan suhu dan lingkungan, naiknya muka air laut yang membahayakan bagi kehidupan kota-kota di tepi pantai.

1. Geografi dan Lingkungan Geografi merupakakn ilmu yang mempelajari aspek geosfere dalam hubungannya dengan lingkungan kehidupan di muka bumi. Pada masa awal geografi ortodok mempelajari aspek geosfere secara deskriptif dan kemudia berkembang menjadi geografi sitematik yang menekankan pada pendekatan keuangan, kelingkungan dan kompleks wilayah. Geografi mencakup kajian atmosfer, litosfer, pedosfer, hidrosfer, biosfer, dan atroposfer. berdasarkan objek material yang dikaji maka geografi dapat merupakan induk ilmu bagi bidang-bidang kajian terkait seperti klimatologi, meteorologi, survei sumberdaya

alam dan air, mineral, lahan, hutan, dan lainnya. Materi dasar geografi amat terkait dengan lingkungan hidup. Geografi saat ini amat berperan pada pendidikan dan pembangunan di Indonesia dengan objek formalnya lingkungan, ruang dan wilayah. Oleh karena itu geografi mempunyai aplikasi penting dibidang lingkungan hidup, tataruang dan pembangunan wilayah dengan memanfaatkan teknologi Pengindraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). 2. Perkembanga pendidikan Lingkungan di Indonesia Pendidikan lingkungan di Indonesia menghadapi maslah yang amat serius bila dibandingkan dengan pendidikan lingkungan dan aplikasinya dalam kehidupan masyarakat di negara maju. Apabila dibandingkandengan pendidikan di Singapura yang dimulai dari pendidikan dasar dan dilanjutkan hingga pendidikan tinggi, pendidikan lingkungan di Indonesia belum nyata berdampak positif pada kemandirian pengelolaan lingkungan hidup. Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan dasar ini maka tahun 1982 diterbitkan UUPL No. 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan lagi menjadi Undang Undang Nomor 23 tahun 1997. Pada era tahun 1980 inilah pembangunan lingkungan hidup mulai dikembangkan yang selanjutnya berdampak pada pendidikan lingkungan hidup di Indonesia, perubhan kurikulum geografi dari SD sampai dengan SMA ada tambahan muatan tentang lingkungan hidup. Mengkritisi perjalanan pendidikan lingkungan dan implementasinya dalam pembangunan lingkungan hidup di Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa geografi melandasi muatan kurikulum pendidikan lingkungan yang mengintegrasikan aspek abiotik, biotik dan kultural mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

3. Lingkungan dan Ekosistem Lingkungan adalah sesuatu di sekitar manusia baik berupa benda maupun non benda yang dapat mempengaruhi dan di pengaruhi oleh sikap ataupun tindakan manusia. Dalam Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan serta makhluk hidup lain. Lingkungan hidup merupakan suatu ekosistem yang dari waktu kewaktu terus berkembang, saling berinteraksi, integrasi, dan interdepensi. Perkembangan ini menimbulkan perubahan aspek fisik, biologi dan sosial. Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara uth menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas dan produktivitas lingkungan hidup. Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan komponen tak hidup pada suatu tempat yang berinteraksi membentuk kesatuan yang teratur. 4. Pengelolaan Lingkungan Hidup Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997, tentang pengetahuan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkesinambungan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Pengelolaan lingkungan merupakan usaha secara sadar untuk memelihara dan atau untuk memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar hidup dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Upaya pengelolaan lingkungan hidup harus berpegang pada azas pelestarian dan konservasi sumberdaya dengan azas pemanfaatan yang serasi dan seimbang dengan tatanan lingkungan. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dan jasa lingkungan harus diawali dengan melakukan penilaian secara menyeluruh terhadap ekosistem sumberdaya beserta jasa-jasa yang ada didalamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatannya,

kemudian merencanakan dan mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya untuk mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Pemanfaatan sumber daya alam harus secara bijaksana dan menjamin ketersediaannya secara berkelanjutan dengan tetap memelihara dan meningkatkan nilai dan keanekaannya. adaptasi manusia terhadap alam merupakan cerminan adanya aktivitas dan keterkaitan manusia terhadap alam dalam memanfaatkan ruang. Dengan berkembangnya keinginan, tuntutan kesejahteraan dan teknologi maka manusia berusaha untuk menguasai alam. Dengan kemajuan teknologi maka ruang gerak manusia dalam memanfaatkan sumberdaya pun semakin bertambah luas. Berdasarkan proses tersebut maka timbul paradigma baru dalam pengelolaan lingkungan yaitu pembangunan berkelanjutan. Berikut diuraiakan masalah, kendala, strategi, dan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup

Permasalahan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pertambahan penduduk yang tinggi yang menyebabkan tingginya tekanan pada lingkungan. Bertambahnya aktivitas pembangunan yang cenderung mempengaruhi lingkungan alamiahnya. Gunung dan bukit yang gundul menyebabkan erosi, longsor dan banjir serta sedimentasi di bagian bawah. Kondisi daerah resapan hilang atau berkurang fungsinya. banyaknya limbah-limbah dari industri, kendaraan peternakan, domestik, pertanian dan lain. Pencemaran, lahan kritis dan bencana alam. Pengangguran, kemiskinan dan kesehatan masyarakat.

Kendala Pengelolaan Lingkungan Hidup


1. 2. 3. 4. Masalah jumlah penduduk tinggi dan persebarannya. Ketersediaan sumberdaya alam juga terbatas Penguasaan teknologi yang tidak ramah lingkungan Kualitas sumberdaya manusia terbatas, kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan rendah.

5. 6.

Belum siapnya pemerintah daerah dan masyarakat dalam era otonomi daerah Belum sepenuhnya para pelaku pembangunan bervisi pendekatan sistem dalam pemecahan masalah lingkungan.

Permasalahan Lingkungan Hidup Mendesak Yang perlu ditangani


1. 2. 3. 4. Pencegahan dan rehabilitasi kerusakan sumber daya alam dan tatanan lingkungan hidup. Pelestarian dan pengembangan ppotensi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Pengendalian pencemaran dan dampak lingkungan. Pengembangan kelembagaan, kemampuan sumberedaya manusia, peran serta masyarakat, dukungan sisterm data dan informasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 5. Peran Pendidik dalam Menciptakan Masyarakat Sadar Lingkungan Pendidikan mempunyai kompetisi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan dan sumberdya sesuai dengan ciri keilmuan yang bersifat hubungan alam dengan kehidupan, maka guru dapat memberikan penyadaran dalam melestarikan fungsi lingkungan, yang dilakukan melalui beberapa cara yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Memberikan masukan kebijakan kepada pemerintah dalam penanganan lingkungan hidup. Pendidikan, pelatihan, seminar, saresehan dibidang lingkungan hidup, masalah dan penanganannya. Pengabdian, penelitian dalam bidang lingkungan hidupuntuk berbagai kasus lingkungan. Pembinaan kelembagaan pengheloolaan lingkungan hidup. aksi sosial bersama masyarakat untuk menangani lingkungan di setiap wilayah. 6. Mengenal masalah lingkunga hidup di kabupaten Kuningan Kabupaten Kuningan secara geografis terletak pada bentang ekosistem sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Kerucut dan puncak Vulkanik Lereng atas dan puncak vulkanik lereng kaki vulkaniok dataran lereng kaki vulkanik

5. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Lembah-lembah vulkanik dan perbukitan. Beberapa masalah lingkungan yang sangat penting diantisipasi penanganannya adalah : Bencana longsor dan erosi Penggundulan hutan akibat konversi lahan Pendangkalan / sedimentasi waduk Kerusakan lahan lindung Menurunnya fungsi resapan di lereng gunung Ciremai Pencemaran oleh limbah ternak Penambangan pasir yang berdampak pada degradasi lingkungan. Pengelolaan masalah lingkungan di kabupate perlu di integrasikan dengan tata ruang wilayah dengan melibatkan peran masyarakat, swasta, pemerintah dan lembaga peduli lingkungan. Pendidikan lingkungan melalui program model sekolah berwawasan lingkungan, model sekolah peduli lingkungan di Kabupaten Kuningan dapat diterapkan di SD, SLTP, SMA. Dinas Pendidikan perlu bekerjasama sengan Badan Lingkungan Hidup untuk program sekolah model lingkungan. Dengan pendekatan pendidikan lingkungan di semua sekolah negeri dan swasta di kabupaten Kuningan diharapkan dapat direalisasikan.

BAB III PENUTUP 1.1 Kesimpulan Indonesia menghadapi pembanganan yang berdampak pada masalah lingkungan dan bencana alam. beberapa masalah yang serius terkait dengan aspek lingkkungan hidup yaitu : 1. Kerusakan lingkungan hidup 2. Pengangguran dan kemiskinan 3. Pengaruh perubahan iklim global 4. Krisis air, pangan dan energi 5. Bencana alam dan konflik sosial

Melihat kondisi diatas maka pemerintah mengeluarkan Undang Undang No. 23 Tahun 1997, tentang pengetahuan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkesinambungan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Pengelolaan lingkungan merupakan usaha secara sadar untuk memelihara dan atau untuk memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar hidup dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Pendidikan mempunyai kompetisi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan dan sumberdya sesuai dengan ciri keilmuan yang bersifat hubungan alam dengan kehidupan, maka guru dapat memberikan penyadaran dalam melestarikan fungsi lingkungan, yang dilakukan melalui beberapa cara yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Memberikan masukan kebijakan kepada pemerintah dalam penanganan lingkungan hidup. Pendidikan, pelatihan, seminar, saresehan dibidang lingkungan hidup, masalah dan penanganannya. Pengabdian, penelitian dalam bidang lingkungan hidupuntuk berbagai kasus lingkungan. Pembinaan kelembagaan pengheloolaan lingkungan hidup. Aksi sosial bersama masyarakat untuk menangani lingkungan di setiap wilayah.

1.2 Saran Dalam melakukan aktivitas Pendidikan Lingkungan Hidup, disarankan untuk melakukan tahapan perencanaan dan persiapan, yang meliputi : Pendalaman materi, penyusunan modul, dan persiapan materi. Hal-hal yang dilakukan dalam perencanaan kegiatan pendidikan lingkungan hidup adalah : 1. Tujuan Umum/khusus Tujuan adalah hal-hal yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan. Tujuan merupakan hal besar/umum yang ingin di wujudkan, sedangkan tujuan khusus adalah pencapaian secara spesifik/khusus.

2. Tentukan tema Tema kegiatan merupakan aspek utama dari kegiatan yang akan dilakukan. 3. Pilih obyek Obyek merupakan hal yang ingin diamati. 4. Susunan alur kegitan Alur kegiatan merupakan rincian tahapan kegiatan secara terstruktur. 5. Persiapan alat Bantu Alat dan bahan adalah rincian peralatan dan bahan-bahan yang diperlukann dalam melakukan kegian PLH. 6. Pelaksanaan kegiatan Merupakan pelaksanaan yang sesuai dengan waktu dan metoda yang telah ditentukan. 7. Evaluasi kegiatan Evalusai menegaskan cara melakukan menilaian terhadap indicator keberhasilan kegiatan. Disini dituliskan apa dan ba

Menyusun Modul Pendidikan Lingkungan Hidup


13 November 2005 by timpakul 3 Comments modul

Dalam melaksanakan aktivitas pendidikan lingkungan hidup, disarankan untuk melakukan tahapan perencanaan dan persiapan, yang meliputi: pendalaman materi, penyusunan modul, dan persiapan kegiatan. Hal-hal yang dilakukan dalam perencanaan kegiatan pendidikan lingkungan hidup adalah: 1. Tentukan tujuan umum-khusus 2. Tentukan tema 3. Pilih obyek 4. Susun alur kegiatan 5. Persiapkan alat bantu 6. Pelaksanaan kegiatan 7. Evaluasi kegiatan Penyusunan modul PLH Non Formal dilakukan setelah ditemukan tema yang akan dijadikan sebagai sentral topik pendidikan lingkungan hidup. Adapun struktur dari modul PLH sekurangnya meliputi: 1. Tema Kegiatan Tema kegiatan merupakan aspek utama dari kegiatan yang akan dilakukan. Misalnya saja tema Panas Dingin untuk menggambarkan kondisi di kawasan hutan dan di kawasan tak berhutan. 2. Tujuan Umum/Khusus
Tujuan adalah hal-hal yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan. Tujuan umum merupakan hal besar/umum yang ingin diwujudkan, sedangkan tujuan khusus adalah pencapaian secara spesifik/khusus. Misalnya: Tujuan umum: Mengetahui fungsi hutan. Tujuan khusus: mengetahui fungsi hutan sebagai pelindung

3. Alat dan Bahan


Alat dan bahan adalah rincian peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan PLH. Sangat disarankan untuk melakukan pendataan serinci mungkin agar tak ada yang terlupakan saat pelaksanaan kegiatan.

4. Obyek
Obyek merupakan hal yang ingin diamati (bila ada)

5. Waktu

Waktu menunjukkan lamanya kegiatan akan dilakukan. Dalam penulisan waktu, juga dapat dilakukan bersama dengan penulisan setiap setiap tahapan alur yang akan dilaksanaan. Semakin detail akan sangat membantu bagi fasilitator PLH.

6. Metoda
Metoda merupakan penggambaran umum terhadap metoda yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan. Misalnya diskusi, permainan, dll.

7. Alur kegiatan
Alur kegiatan merupakan rincian tahapan kegiatan secara terstruktur.

8. Evaluasi
Evaluasi menegaskan cara melakukan penilaian terhadap indikator keberhasilan kegiatan. Disini dituliskan tentang apa dan bagaimana evaluasi dilakukan.

9. Catatan
Catatan fasilitator merupakan bagian terakhir yang menjadi tambahan bila saja ada hal-hal penting yang belum masuk dalam bagian lain di modul. Catatan juga berfungsi sebagai pengingat bagi fasilitator PLH.

Menulis itu mudah


13 November 2005 by timpakul 3 Comments modul

MENULIS. Bukanlah hal yang sangat sulit dilakukan. Berlatih dan berlatih adalah cara untuk mewujudkannya. Menulis sebuah pengalaman (termasuk dalam melakukan penelitian) merupakan hal yang menyenangkan, apalagi bila ada yang membaca dan berkomentar atas tulisan yang dibuat. Menulis adalah salah satu bentuk penyampaikan informasi (komunikasi) kepada orang lain. Menuliskan pengalaman Usahakan untuk tidak terbelenggu dengan keterbatasan. Menulis harus membebaskan pikiran dari rasa takut dan rasa salah. Tuliskanlah apa yang ingin ditulis. Setelah itu baru dilakukan penyempurnaan yang dapat dilakukan secara bersama-sama dengan kawan ataupun secara sendiri. Hindari rasa takut dikritik dan diberi saran. Karena kritik dan saran merupakan pemacu agar tulisan dapat menjadi lebih baik. Untuk diketahui, dalam membuat sebuah tulisan setidaknya mengetahui siapa yang akan membaca tulisan anda, media apa yang akan dipergunakan, dan kira-kira berapa lama pembaca akan meluangkan waktu untuk membaca tulisan anda.

Sangat disarankan untuk menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh sebagian besar orang. Menggunakan bahasa lokal, bila tulisan diperuntukkan bagi sebuah kelompok masyarakat lokal yang memiliki bahasa sama, adalah sangat disarankan. Apa saja yang bisa membuat tulisan menjadi menarik? Ada beberapa hal yang menjadikan tulisan menjadi menarik dilihat dan dibaca. Misalnya dengan mengaitkan dengan kondisi terbaru, mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari, serta menampilkan hal-hal baru. Hal lain yang membuat orang tertarik membaca tulisan adalah dengan ditampilkannya gambar (termasuk foto). Namun penting diingat agar tidak terlalu banyak menampilkan gambar dan foto yang tidak berkaitan dengan tulisan yang dibuat. Merangkai tulisan Dalam menuliskan pengalaman (penelitian), disarankan untuk menyampaikan informasi sejak pada baris awal tulisan. Namun diusahakan agar dalam satu paragrap hanya menampilkan satu hal yang ingin disampaikan. Dan dalam satu tulisan, tutuplah dengan beberapa baris sebagai kesimpulan dari cerita yang ingin disampaikan.
Pendidikan Lingkungan Hidup Lingkungan hidup dan manusia merupakan komponen yang saling ketergantungan. Lingkungan hidup terdiri dari lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Lingkungan biotik adalah lingkungan yang terdiri dari komunitas makhluk hidup, seperti tumbuhan dan hewan. Sedangkan lingkungan abiotik adalah lingkungn yang terdiri atas benda-benda tak hidup, seperti cahaya, suhu, udara, air, tanah, mineral dan kelembapan. Manusia memerlukan lingkungan hidup untuk mendukung aktivitas sehari-hari dan lingkungan memerlukan manusia agar hasil dari lingkungan hidup tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, karena lingkungan hidup sangat penting bagi manusia maka manusia harus melestarikannya dan memanfaatkannya secara bijak. Untuk itu, manusia perlu dibekali Pendidikan Lingkungan Hidup sejak dini agar dapat secara benar memperlakukan lingkungan di sekitarnya. Hal ini juga ditegaskan dengan adanya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 1996 yang kemudian direvisi pada bulan Juni 2005. Penandatanganan MOU tersebut bermakna sebagai usaha untuk mengupayakan bagaimana kecintaan terhadap lingkungan dapat dijadikan sebagai muatan pendidikan bagi siswa didik sejak usia dini pada pendidikan formal. Karena segala yang tersusun atau terstruktur sejak awal, diharapkan dapat memberikan hasil atau pencapaian yang lebih baik dalam pengelolaan lingkungan hidup. Ada berbagai macam pengertian Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Menurut konvensi UNESCO pada tahun 1997, Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menciptakan suatu masyarakat dunia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masalah-masalah yang terkait didalamnya serta memiliki pengetahuan, motivasi,

komitmen dan keterampilan untuk bekerja baik secara perorangan maupun kolektif dalam mencari alternatif atau memberi solusi terhadap permasalahan lingkungan hidup yang ada sekarang dan untuk menghindari timbulnya masalah-masalah lingkungan hidup yang baru. Menurut Yusuf (1994) Pendidikan Lingkungan Hidup adalah proses pengembangan apresiasi akan saling ketergantungan antara manusia dengan biofisik dan binaannya sehingga terbina sikap dan nilai mau memelihra keselarasan hubungan antara komponen-komponen lingkungan hidup. Lalu menurut Soeriatmadja pada tahun 1997, Pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses yang bertujuan untuk mengembangkan kesadaran umat manusia akan lingkungan hidup dengan seluruh permasalahan yang terdapat didalamnya. Jadi, dapat disimpulkan pengertian Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah suatu proses yang memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat yang sadar akan lingkungan hidup dengan memperhatikan masalah-masalah lingkungan hidup yang terjadi dan mampu memberikan solusi untuk mengatasinya.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) juga mempunyai visi dan misi. Visi Pendidikan Lingkungan Hidup yaitu terwujudnya manusia yang memiliki pengetahuan, kesadaran dan keterampilan untuk berperan aktif dalam rangkaa melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Sedangkan misi Pendidikan Lingkungan Hidup antara lain:

Mengembangkan kebijakan pendidikan nasional yang berparadigma lingkungan hidup Meningkatkan akses informasi pendidikan lingkungan hidup secara merata Meningkatkan sinergi antar pelaku pendidikan lingkungan hidup Mengembangkan kapasitas kelembagaan pendidikan lingkungan hidup

Pendidikan lingkungan hidup diarahkan kepada aspek sikap dan perilaku siswa didik untuk memahami pentingnya lingkungan bagi kehidupan dan bagaimana mencintai dan menjaga lingkungan sehingga menjadi nilai yang tertanam dalam keseharian mereka. Dengan adanya Pendidikan Lingkungan Hidup yang diajarkan, maka diharapkan dapat mendorong dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat menumbuhkan kepedulian, komitmen untuk melindungi dan memperbaiki

serta memanfaatkan lingkungan hidup secara arif, juga dapat menciptakan pola perilaku baru yang bersahabat dengan lingkungan hidup dan mampu mengembangkan etika lingkungan. Lingkungan hidup saat ini kualitasnya sudah buruk sudah berbeda dengan lingkungan hidup pada zaman sebelumnya. Ini akibat dari pertambahn penduduk yang meningkat dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Pencemaran terjadi dimana-mana dan membuat manusia khawatir akan keadaan lingkungan hidup. Melihat permasalahan lingkungan hidup yang terjadi saat ini berkembang pesat dan kompleks, diharapkan Pendidikan Lingkungan Hidup ini mampu memberikan kontribusi untuk kualitas lingkungan hidup yang lebih baik. Perlu diingat sekali lagi bahwa lingkungan dan manusia saling ketergantungan, saling membutuhkan satu sama lain. Jadi, manusia harus mulai dari sekarang untuk lebih bijak mengelola lingkungan hidup agar di masa depan anak cucu kita dapat merasakan kualitas lingkungan hidup yang baik.

sumber gambar : http://easyurl.net/e660c

Related Keyword: PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP: BELAJAR DARI PENGALAMAN DAN BELAJAR DARI ALAM Drs. Yusuf Hilmi Adisendjaja, M.Sc. 1) dan Dra. Oom Romlah 2) Abstrak Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) mulai tahun ajaran 2007/2008 dijadikan muatan lokal di sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak sampai dengan Sekolah Menengah Atas. Kebijakan Dinas Pendidikan yang dipelopori oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan instruksi walikota Bandung merupakan kebijakan yang membahagiakan dan membanggakan. Kebijakan ini sekarang diikuti oleh beberapa kota di Jawa Barat. Kebijakan ini dilakukan untuk menanggulangi masalah lingkungan, khususnya lingkungan perkotaan yang semakin mengkhawatirkan. Menyikapi kebijakan ini ada beberapa kekhawatiran berkaitan dengan efektivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan PLH. Kekhawatiran ini didasarkan atas pengalaman masa lalu saat Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah secara terintegrasi ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran pada tahun 1984. Hasilnya dipertanyakan dengan kondisi kerusakan lingkungan yang terus berlanjut sampai sekarang. Makalah ini merupakan gagasan yang akan mencoba memberikan masukan untuk pelaksanaan pembelajaran PLH agar lebih efektif. Bagaimana pembelajaran PLH sebaiknya dilaksanakan agar mencapai tujuan yang sudah dicanangkan? Tujuan mulok PLH adalah mengubah perilaku dan pola pandang masyarakat ke arah positif terkait dengan masalah lingkungan. Program mulok juga dimaksudkanuntuk mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan akan lingkungan sejak dini. Pertanyaan yang sudah dituliskan di atas akan dicoba diurai dengan kajian pustaka sehingga ditemukan beberapa pendekatan pembelajaran PLH yang lebih efektif. Masalah lingkungan merupakan masalah nyata yang dihadapi manusia dan disebabkan pola perilaku manusia yang tidak selaras dengan lingkungan. Oleh karena itu tujuan PLH mengubah perilaku sudah sangat tepat, tetapi dengan pendekatan seperti apa mengubah perilaku itu? Dengan belajar dari alam dalam memelihara lingkungannya yaitu dengan prinsip keberlanjutan dan menerapkan beberapa pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa aktif secara mental sesuai dengan filsafat kontruktivis seperti pembelajaran berbasis masalah, pemecahan masalah, inkuiri,

pembelajaran kontekstual dan klarifikasi nilai diharapkan pembelajaran PLH menjadi lebih efektif. Selain filosofi dan pendekatan yang sesuai juga diperlukan guru yang tidak hanya menguasai konsep dasar pengetahuan lingkungan tetapi juga menguasai konsep dasar manusia. Hal ini diperlukan karena tujuan utama PLH adalah mengubah pola perilaku manusia. Kata kunci: Pendidikan lingkungan hidup, prinsip keberlanjutan, konstruktivis

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 1

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP: BELAJAR DARI ALAM DAN PENGALAMAN


Drs. Yusuf Hilmi Adisendjaja, M.Sc. 1) dan Dra. Oom Romlah 2)

Pendahuluan
Kebijakan pemerintah dalam hal ini walikota Bandung menginstruksikan muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup (mulok PLH) di Kota Bandung merupakan terobosan yang tepat walaupun terlambat. Instruksi ini disambut baik oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan menerapkan mulok tersebut mulai tahun ajaran 2007/2008. Penerapan ini diharapkan akan menjadi percontohan bagi seluruh tingkatan sekolah di Propinsi Jawa Barat. Menurut wakil Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, penerapan mulok ini diharpkan dapat mengubah perilaku dan pola pandang masyarakat ke arah positif terkait persoalan lingkungan hidup. Tujuan utama program ini adalah mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan akan lingkungan sejak dini. Alasan diadakannya program ini tidak terlepas dari berbagai masalah lingkungan hidup di Kota Bandung. Masyarakat yang tinggal di kota Bandung khususnya dan kota-kota besar di seluruh Indonesia umumnya sudah terbiasa dengan masalah lingkungan: bertumpuknya sampah, pencemaran udara, kebisingan, sungai berwarna warni dan bau, kekeringan di musim kemarau, banjir di musim hujan, penurunan permukaan air tanah bahkan intrusi air laut. Kebiasaan dalam keseharian yang dihadapi terkait masalah lingkungan tersebut menyebabkan masyarakan menjadi tidak atau kurang peduli terhadap masalah lingkungan. Ketidakpedulian ini muncul akibat berbagai sebab, salah satu diantaranya adalah kurangnya pendidikan. Oleh karena itu, penerapan mulok PLH diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat khususnya masyarakat pendidikan dan pada gilirannya masyarakat pada umumnya terhadap masalah lingkungan yang dihadapi, meningkatkan peran serta aktif masyarakat dalam menanggulangi masalah lingkungan hidup. Hal ini tentu sasaran dalam jangka panjang dan akan tercapai bila ada kesungguhan dalam pelaksanaan pembelajaran dan dukungan penuh dari pemerintah. Tanpa keduanya tidaklah mungkin dapat dicapai. Untuk itu apakah proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah sudah tepat dan efektif? Apakah guru-gurunya sudah memiliki kesiapan, kemampuan, dan keterampilan untuk mengajarkan PLH? Apakah sekolah/dinas pendidikan mendukung sepenuhnya program tersebut dengan menyediakan segala fasilitas dan kebutuhan untuk pelaksanaan program?

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 2 Pendidikan Lingkungan Hidup sebenarnya sudah dilaksanakan sejak 25 tahun yang lalu dengan nama Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) dengan cara mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain. Namun hasilnya tidak berhasil karena berbagai masalah diantaranya yang sudah disebutkan di atas. Tentu belajar dari pengalaman, kegagalan atau ketidakberhasilan ini jangan terulang lagi. Agar tidak terulang maka diperlukan kesungguhan pemerintah dalam menunjang program mulok ini dengan mempersiapkan gurunya melalui pelatihan. PLH memiliki

karakteristik tersendiri sehingga gurunyapun harus disiapkan, demikian juga dengan segala perangkat dan fasilitas untuk melaksanakan program.

Masalah Lingkungan
Pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan meningkatnya segala kebutuhan baik perorangan maupun kebutuhan sosial. Setiap individu selalu ingin memenuhi kebutuhannya demikian juga dengan pemerintah dituntut untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh semua penduduk. Pemenuhan kebutuhan inilah yang memunculkan masalah lingkungan. Dengan kata lain masalah lingkungan muncul karena keinginan untuk memenuhi kebutuhan baik secara perorangan maupun sosial. Masalah dapat diartikan segala sesuatu yang merintangi atau menghalangi keinginan manusia. Masalah juga merupakan kesenjangan antara kenyataan dan harapan atau ekspektasi yang semestinya didapatkan. Masalah lingkungan adalah kondisi-kondisi dalam lingkungan biofisik yang menghalangi pemuasan atau pemenuhan kebutuhan manusia untuk kesehatan dan kebahagiaan (James & Stapp, 1974). Masalah lingkungan yang dihadapi sekarang diakibatkan oleh tindakan manusia sendiri yang tidak pernah puas akan kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan yang tidak pernah puas inilah yang mengakibatkan kerusakan lingkungan. Di dalam pemenuhan kebutuhannya sudah tidak pernah mempedulikan lagi orang lain dan lingkungan asal kebutuhannya terpenuhi, itulah nafsu manusia serakah. Masalah lingkungan yang dihadapi sekarang sudah sangat parah dan oleh karena itu pemecahannyapun tidak cukup hanya dilakukan oleh kelompok tertentu. Masalah lingkungan merupakan masalah seluruh bangsa di dunia terutama di negaranegara berkembang termasuk Indonesia. Pemecahan masalah lingkungan yang dihadapi sekarang bukan hanya tanggung jawab pendidik tetapi juga ahli hukum, dokter, politikus, dan profesi lainnya yang terlibat dalam masalah lingkungan termasuk peneliti. Pemecahan masalah lingkungan bukan hanya merupakan tanggung jawab

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 3 pemerintahan suatu negara, suatu kota tetapi menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia yang hidup di planet bumi ini. Masalah lingkungan suatu kota atau suatu negara selalu berkaitan dengan kota atau negara lain karena memang bumi ini hanya satu dan saling berhubungan walau dipisahkan oleh batas kota atau batas Negara.

Pemecahan Masalah Lingkungan dengan Belajar dari Alam


Apa yang seharusnya kita lakukan untuk memecahkan masalah lingkungan tersebut dan agar kita tetap dapat hidup selaras dengan alam? Untuk dapat memecahkan masalah lingkungan, pada prinsipnya ada tiga langkah utama yang dapat ditempuh, yaitu: Pertama menyadari adanya masalah. Sebenarnya setiap orang sudah tahu adanya masalah lingkungan yang ada di sekelilingnya, lokal, regional, nasional bahkan internasional tetapi semua kebingungan harus berbuat apa. Kedua, adalah analisis masalah untuk mengidentifikasi akar penyebab (root causes) munculnya masalah. Akar penyebab dari semua permasalahan lingkungan adalah: ledakan penduduk (overpopulation), konsumsi yang berlebihan (overconsumption), ketidakefisienan, prinsip linieritas, ketergantungan akan bahan bakar minyak, dan mentalitas untuk tetap mempertahankan kebiasaan. Ketiga, mengembangkan strategi untuk mengoreksi masalah yang ada dan mencegah terjadinya lagi di masa yang akan datang. Penanggulangan masalah lingkungan yang ada mungkin kurang menyentuh masyarakat secara menyeluruh tetapi hanya berupa penanggulangan jangka pendek saja. Misalnya untuk menanggulangi meningkatnya kebutuhan air dibangun bendungan baru. Pembuatan bendungan baru sebenarnya menghancurkan aliran sungai, mengurangi habitat organisme, mengurangi sumber rekreasi alami, memerlukan energi

dan sumber daya untuk membangun. Semestinya penanggulangannya harus melalui pemecahan yang menekankan prinsip keberlanjutan (sustainable) yaitu dengan melakukan efisiensi penggunaan air oleh setiap orang, melakukan daur ulang air dan mengurangi pertumbuhan penduduk. Pemecahan dengan memegang prinsip keberlanjutan akan melindungi sungai dan habitat liar, melindungi sumber rekreasi alami, menggunakan energi dan sumber lain yang lebih kecil. Hidup selaras dengan alam hanya akan dicapai jika setiap orang memahami prinsip keberlanjutan dan melaksanakan etika lingkungan. Prinsip keberlanjutan memiliki implikasi kemampuan untuk mempertahankan. Dalam konteks ekologis, prinsip keberlanjutan berarti hidup sejalan dengan daya dukung biosfir. Daya dukung biosfir adalah kemampuan alam untuk menyediakan makanan dan sumber daya lainnya serta

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 4 mengasimilasikan sisa buangan seluruh organisme yang hidup. Krisis lingkungan yang sekarang kita rasakan akibatnya adalah karena kehidupan manusia sudah melebihi daya dukung lingkungan tempat kita hidup. Menurut Chiras (1993) prinsip keberlanjutan ini meliputi: konservasi (conservation), pendaurulangan (recycling), penggunaan sumber daya yang dapat dibarukan (renewable resource use), pengendalian populasi (population control) dan restorasi (restoration). Prinsip keberlanjutan ini sebenarnya dapat kita pelajari dari alam secara langsung yaitu pada ekosistem alam. Prinsip konservasi, ekosistem alam tetap ada karena organisme menggunakan sumber daya secara efisien dan umumnya hanya menggunakan sumber daya yang dibutuhkan saja. Prinsip daur ulang, ekosistem tetap ada karena mendaur ulang nutriens, air, dan materi lain yang vital untuk kelangsungan hidup. Prinsip penggunaan sumber daya yang dapat dibarukan, organisme hidup dengan hanya menggunakan sumber yang dapat dibarukan dan hal ini penting untuk keberlanjutan ekosistem. Prinsip pengendalian populasi, ekosistem mampu menahan organisme yang hidup di dalamnya karena ada beberapa bentuk pengendalian populasi. Pengendalian populasi di alam diantaranya diakibatkan oleh cuaca buruk, predasi, kompetisi, dan kekuatan alam lainnya. Ekosistem alam mampu bertahan karena adanya proses regenerasi melalui proses suksesi. Alam memiliki kemampuan merestorasi sendiri sehingga mampu mendukung kelangsungan hidup. Sebaliknya, manusia menggunakan sumber daya secara tidak efisien, membuang bahan buangan dan sampah, menggunakan sumber daya secara tidak terkendali dan menggunakan sumber daya yang tidak dapat dibarukan, pertambahan penduduk yang tidak terkendali, dan manusia melakukan perusakan alam tanpa memperbaikinya. Untuk menangani masalah ini bukan hanya memberlakukan kebijakan pemerintah (misalnya hukum) tetapi yang lebih penting adalah pengubahan gaya hidup setiap manusia. Sekali lagi karena masalah lingkungan adalah tanggung jawab semua manusia yang hidup. Gaya hidup yang dapat memecahkan masalah adalah gaya hidup yang memegang prinsip keberlanjutan dan menerapkan etika lingkungan di dalam kehidupannya serta menerapkan prinsi 4R, yaitu: Reduce (mengurangi penggunaan sumber daya alam), Reuse (menggunakan kembali sumber daya yang masih dapat digunakan), Recycle (mendaur ulang bahan), dan replanting (menanam kembali). Prinsip etika lingkungan (Chiras, 1993) adalah: Pertama, bumi memiliki persediaan sumber daya alam yang terbatas dan harus digunakan oleh semua organisme. Kedua, manusia merupakan bagian dari alam oleh karena itu harus tunduk kepada hukum-hukum alam dan tidak kebal terhadap hukum alam tersebut. Manusia

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 5 bukan merupakan puncak pencapaian alam tetapi merupakan anggota dari jaringan

kehidupan yang saling berhubungan sehingga harus patuh kepada hukum-hukum dan keterbatasan-keterbatasan alam. Ketiga, keberhasilan manusia terletak dalam bentuk kerjasama dengan kekuatan-kekuatan alam bukan mendominasi alam. Keempat, ekosistem yang berfungsi baik dan sehat adalah sangat penting bagi semua kehidupan. Menurut Chiras (1992) masyarakat yang mampu mempertahankan dan memelihara lingkungan (sustainable society) memiliki karakter: sangat alami (very nature), berpikir dan bertindak menyeluruh (holistic), selalu mengantisipasi kemungkinan yang ditimbulkan (anticipatory), dan semua keputusannya selalu menekankan kepada biosfer keseluruhan dan selalu mengantisipasi semua akibat yang ditimbulkan menembus ruang dan waktu. Bila masyarakat dalam hidup di lingkungannya berpedoman kepada prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan serta menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle) dan untuk sekarang perlu ditambah dengan satu R lagi (replanting) maka masalah lingkungan akan dapat dihindarkan.

Tujuan dan Pembelajaran PLH untuk Membangun gaya hidup


Masalah lingkungan disebabkan karena ketidakmampuan mengembangkan sistem nilai sosial, gaya hidup yang tidak mampu membuat hidup kita selaras dengan lingkungan. Membangun gaya hidup dan sikap terhadap lingkungan agar hidup selaras dengan lingkungan bukan pekerjaan mudah dan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Oleh karena itu jalur pendidikan merupakan sarana yang tepat untuk membangun masyarakat yang menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan. Jalur pendidikan yang bisa ditempuh mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai dengan Perguruan Tinggi. Oleh karena itu tujuan jangka panjang PLH adalah mengembangkan warga negara yang memiliki pengetahuan tentang lingkungan biofisik dan masalahnya yang berkaitan, menumbuhkan kesadaran agar terlibat secara efektif dalam tindakan menuju pembangunan masa depan yang lebih baik, dapat dihuni dan membangkitkan motivasi untuk mengerjakannya (Stapp, et al.1970) Pendidikan Lingkungan Hidup memiliki tujuan seperti yang dirumuskan pada waktu Konferensi Antar Negara tentang Pendidikan Lingkungan pada tahun 1975 di Tbilisi, yaitu: meningkatkan kesadaran yang berhubungan dengan saling ketergantungan ekonomi, sosial, politik, dan ekologi antara daerah perkotaan dan pedesaan; memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, sikap tanggung jawab, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melindungi dan meningkatkan lingkungan; menciptakan pola baru perilaku

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 6 individu, kelompok dan masyarakat secara menyeluruh menuju lingkungan yang sehat, serasi dan seimbang. Tujuan pendidikan lingkungan tersebut dapat dijabarkan menjadi enam kelompok, yaitu: a. Kesadaran, yaitu memberi dorongan kepada setiap individu untuk memperoleh kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan dan masalahnya. b. Pengetahuan, yaitu membantu setiap individu untuk memperoleh berbagai pengalaman dan pemahaman dasar tentang lingkungan dan masalahnya. c. Sikap, yaitu membantu setiap individu untuk memperoleh seperangkat nilai dan kemampuan mendapatkan pilihan yang tepat, serta mengembangkan perasaan yang peka terhadap lingkungan dan memberikan motivasi untuk berperan serta secara aktif di dalam peningkatan dan perlindungan lingkungan. d. Keterampilan, yaitu membantu setiap individu untuk memperoleh keterampilan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah lingkungan. e. Partisipasi, yaitu memberikan motivasi kepada setiap individu untuk berperan serta secara aktif dalam pemecahan masalah lingkungan. f. Evaluasi, yaitu mendorong setiap individu agar memiliki kemampuan mengevaluasi pengetahuan lingkungan ditinjau dari segi ekologi, social,

ekonomi, politik, dan faktor-faktor pendidikan. (Adisendjaja, 1988). Berdasarkan tujuan di atas, tersirat bahwa masalah lingkungan hidup terutama berkaitan dengan manusia, bukan hanya lingkungan. Oleh karena itu dalam pengembangan program PLH harus ditujukan pada aspek tingkah laku manusia, terutama interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya dan kemampuan memecahkan masalah lingkungan. Dengan demikian guru PLH tidak cukup hanya dengan memiliki pemahaman tentang lingkungan, tetapi juga harus memiliki pemahaman mendasar tentang manusia (James & Stapp, 1974). Setiap teori dalam PLH harus merupakan peleburan dari dua kelompok pengetahuan tersebut. Selanjutnya, tujuan PLH harus sejalan dengan tujuan pendidikan secara umum. Sangat tidak realistik memikirkan pendidikan manusia dalam segmen-segmen. Hal penting lainnya adalah membantu manusia merealisasikan potensinya. Kegagalan PKLH yang lalu karena lembaga pendidikan formal terlalu menekankan kepada pencapaian individu untuk bersaing menjadi yang terbaik untuk mendapatkan penghargaan. Akibatnya individu menjadi egocentris dan sulit untuk menempatkan dirinya menjadi bagian kecil dari sistem yang lebih besar, baik sistem sosial maupun sistem alami padahal persepsi terhadap kedua sistem (sosial dan alami)

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 7 serta persepsi ekologis yang esensial untuk pemecahan masalah lingkungan (Dabusaputro, 1981). Lebih jauh beliau menuliskan bahwa sistem pendidikan yang ada tidak memberi kontribusi untuk penggunaan keterampilan yang semestinya dan bakat yang diperlukan untuk menghargai diri (self-esteem) juga untuk pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat. Terlalu menekankan kepada intelegensi. Dengan demikian hal paling penting dalam menanggulangi masalah lingkungan adalah perubahan mendasar sikap manusia terhadap lingkungan. Jika tujuan PLH ditekankan kepada perubahan sikap maka langkah pembelajaran yang dapat ditempuh adalah dengan menghadapkan siswa kepada permasalahan lingkungan yang ada. Setelah itu lanjutkan klarifikasi nilai, yaitu siswa diberikan kesempatan untuk menilai kondisi, membuat pilihan pemecahan dari alternatif yang tersedia dan menentukan langkah pemecahan. Sikap akan dapat terbentuk melalui cara tersebut dan diperkuat dengan memperbanyak contoh oleh guru (Harlen, 1992) Guru PLH khususnya dan bahkan semua guru memiliki peran penting di dalam menyukseskan program PLH, membangun gaya hidup dan menanamkan prinsip keberlanjutan dan menerapkan etika lingkungan. Bagaimana guru PLH mencapai tujuan PLH dan membangun gaya hidup yang selaras dengan lingkungan? Guru memulai dengan menampilkan permasalahan (belajar berbasis masalah) lingkungan yang dihadapi dalam dunia kehidupan seharihari di sekitar siswa kemudian dilanjutkan dengan diskusi aktif untuk mencari akar permasalahan dan dilanjutkan dengan langkah pemecahan masalah. Langkah berikutnya adalah menampilkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan melalui diskusi aktif di dalam kelas. (Adisendjaja, 2008). Guru dapat mendorong siswa untuk memperluas kemampuan dalam mengimplementasikan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan dengan memberi contoh-contoh. Prosedur ini merupakan salah satu cara pembelajaran yang menekankan kepada keterlibatan siswa agar mampu mengonstruksi pengetahuan dan keterampilannya. Cara ini sejalan dengan filsafat konstruktivisme Dalam proses pembelajarannya, PLH jangan dijadikan sebagai topik hafalan tetapi harus dikaitkan dengan dunia nyata yang dihadapinya sehari-hari (kontekstual) dan dunia nyata ini harus dijadikan obyek kajian dalam konsep PLH. Obyek kajian PLH ada di lingkungan sekitar sekolah. Setiap sekolah memiliki lingkungan yang berbeda

sehingga akan semakin menarik karena keragamannya. Walaupun obyek kajiannya berbeda namun tujuan pembelajarannya tetap sama.

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 8 Pendidikan Lingkungan Hidup dapat diajarkan dengan menerapkan pendekatan konteksual. Penerapan pendekatan kontekstual (CTL) dalam kelas langkahnya adalah sebagai berikut: (Depdiknas, 2003) 1. Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilannya. 2. Melaksanakan kegiatan inkuiri (dengan siklus observasi, bertanya, berhipotesis, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan). 3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok, kelompok kecil, kelompok kelas sederajat atau mendatangkan ahli). 5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. (guru berperan sebagai model dalam melakukan sesuatu, misal pembibitan tanaman, pendaur ulangan, dsb) 6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan (misal pernyataan langsung tentang yang diperoleh pada pembelajaran, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran, diskusi atau hasil karya). 7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) seperti menilai kegiatan dan laporan, PR, kuis, karya siswa, laporan, jurnal, hasil tes, dan karya tulis). PLH dapat diajarkan melalui berbagai cara seperti observasi, diskusi, kegiatan atau praktek lapangan, praktek laboratorium, laporan kerja praktek, seminar, debat, kerja proyek, magang dan kegiatan petualangan. Hal yang perlu diingat adalah jangan hanya ceramah tentang konsep sehingga siswa hanya mendengarkan dan pasif. Cara ini tidak akan bermakna tetapi sebaliknya siswa harus dilibatkan secara aktif mentalnya agar dapat mengonstruksi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilannya yang pada gilirannya akan dapat diterapkan dalam kehidupannya dan ditransfer kepada orang lain. Tempat yang dapat dijadikan obyek kajian sangat bervariasi: lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, lingkungan perkotaan, pasar, terminal, selokan, sungai, sawah, taman kota, lapangan udara, pembangkit tenaga atom, danau, instalasi pengolahan air minum, pengolahan sampah, pipa buangan rumah tangga, tempat pembuangan sampah dan lingkungan lain di sekitar atau dekat sekolah. Masalah yang dapat diangkat jadi topik pembelajaranpun sangat beragam mulai dari masalah sampah rumah tangga, sampah industri, penggunaan deterjen, pestisida, pupuk buatan, aerosol dan spray, pencemaran tanah, air, udara, kekurangan air, banjir,

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 9 penurunan air tanah, penggundulan hutan, hutan dan taman kota, bahkan illegal loging. Tentu masalah yang diangkat sesuaikan dengan kemampuan dan tingkatan berpikir siswa. Siswa TK dan SD bahkan kelas 7-8 harus yang bersifat konkrit sesuai dengan tahap perkembangan berpikirnya yang operasional konkrit. Mengacu kepada filsafat konstruktivis, proses belajar dikatakan terjadi pada diri siswa jika informasi yang diterima terintegrasi dalam keyakinan siswa dan siswa berperan aktif dalam proses belajar. Belajar merupakan konstruksi aktif makna-makna dalam diri siswa. Dengan demikian siswalah yang harus membangun konsepnya (Hein, 1991; Black & McClintock, 1995). Siswa harus lebih aktif di dalam menemukan jalur belajarnya. Dengan keterlibatan siswa yang maksimum dalam belajarnya maka siswa akan memiliki wawasan yang lebih mapan.

Langkah pembelajaran berdasarkan filsafat konstruktivis adalah sebagai berikut (Black & McClintock, 1995) adalah: 1. Observasi, siswa melakukan observasi situasi yang sebenarnya 2. Konstruksi interpretasi, siswa mengonstruksi interpretasinya berdasarkan observasi dan mengonstruksi argumen untuk kesahihan atau validitas interpretasinya. 3. Kontekstualisasi, siswa mengakses latar belakang dan materi kontekstual dari berbagai cara, sumber untuk membantu interpretasi dan argumentasi. 4. Magang kognitif, siswa berperan sebagai siswa yang magang kepada gurunya untuk menguasai observasi, interpretasi, dan argumentasi. 5. Kolaborasi, siswa berkolaborasi dalam observasi, interpretasi dan kontekstualisasi. 6. Interpretasi majemuk, siswa mendapatkan keluwesan kognitif dengan menunjukkan interpretasi yang beragam. 7. Manifestasi majemuk, siswa mendapatkan hal yang dapat ditransfer dengan melihat manifestasi multiple dari interpretasi yang sama Dengan demikian jika konsep atau materi ajar PLH diajarkan dengan cara tersebut di atas yaitu dengan melibatkan siswa secara aktif (bukan hanya mengisi LKS tetapi aktif secara mental) maka diharapkan terbentuk siswa yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang peduli terhadap masalah lingkungan dan mampu berperan aktif dalam memcahkan masalah lingkungan, memiliki kemampuan menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan dalam kehidupan sehariharinya. Pengetahuan dan pengalaman siswa dapat ditularkan kepada orang lain

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1) Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia dan 2) SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut 10 seperti kepada orangtuanya, saudara-saudaranya, teman bermain di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan demikian akan terbangun masyarakat yang peduli dan mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan. Jika masyarakat mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan maka masalah lingkungan dapat diatasi.

Penutup
Pendidikan Lingkungan Hidup perlu mendapatkan perhatian, dukungan dari semua pihak, kesungguhan pemerintah dan guru agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan yaitu membangun masyarakat yang peduli lingkungan dan mampu berperan aktif dalam memecahkan masalah lingkungan. Di dalam proses pembelajaran PLH, siswa harus dilibatkan secara aktif (terlibat proses mentalnya) dalam mengonstruksi pengetahuan, sikap dan keterampilannya. Filosofi yang harus digunakan dalam pembelajaran adalah konstruktivis dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBL), pembelajaran kontekstual (CTL), inkuiri, dan klarifikasi nilai. Penekanan pembelajaran bukan pada penguasaan konsep tetapi pengubahan sikap dan pola pikir siswa agar lebih peduli terhadap masalah lingkungan, mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan. Oleh karena itu dalam pengembangan program PLH harus ditujukan pada aspek tingkah laku manusia, terutama interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya dan kemampuan memecahkan masalah lingkungan. Dengan demikian guru PLH tidak cukup hanya dengan memiliki pemahaman tentang lingkungan, tetapi juga harus memiliki pemahaman mendasar tentang manusia. Dengan cara-cara ini diharapkan siswa mendapatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan secara lebih bermakna, mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menularkan kepada lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Melalui cara ini akan terbentuk masyarakat yang memiliki sikap positif, peduli terhadap lingkungandan mampu berperan aktif dalam memecahkan masalah lingkungan serta mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika

lingkungan dalam kehidupannya,

Yusuf Hilmi Adisendjaja


1)