Anda di halaman 1dari 3

PERKEMBANGAN dunia sastera hari ini banyak dipengaruhi oleh pemahaman teknologi yang meletakkan kesemua disiplin ilmu

dalam satu kelompok tanpa sempadan yang jelas. Di sebalik fenomena ini, disiplin sastera khususnya dalam menghadapi cabaran ini memerlukan satu pendekatan atau teori kritikan yang bersifat global dan mampu merentas disiplin-disiplin lain. Ini kerana dunia global memperlihatkan tanda-tanda dunia semakin mengecil dan sasteranya semakin membesar. Kecanggihan teknologi membolehkan bahan-bahan bacaan sastera disebarkan dalam waktu yang sangat singkat. Oleh itu, satu bentuk kritikan (teori) yang benar-benar bersifat global harus diketengahkan sehingga mampu menyelaraskannya dengan perkembangan kesusasteraan. Pensyarah Jabatan Persuratan Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof. Madya Dr. Abdul Rahman Napiah (Mana Sikana) menjelaskan pada alaf ini muncul 12 teori sastera yang sentiasa berkembang. Antaranya strukturalisme, feminisme, teori Marxis, kritisme psikoanalisis, dekonstruksi, new historisisme dan teori pascakolonial. ''Pengelompokan atau klasifikasi teori-teori sastera ini akan membantu kita lebih memahami organisasi dan struktur teori-teori sastera pascamoden atau di zaman global ini. ''Kesemua teori ini, sebilangan besarnya masih berdominasi, dan ada yang mengembangkan kekuasaannya seperti studi gaya dan studi budaya,'' katanya. Namun menurutnya, dalam melihat perkembangan teori-teori sastera global ini, paling penting ialah sikap pengkritik sastera tempatan. Ini kerana di zaman global beberapa faktor perlu disedari. Pertama, beberapa buah teori dan pendekatan moden dalam kesusasteraan telah mati dan hampir terkubur. Kedua, teori-teori global itu dikembangkan kerana iringan dengan pelbagai teks baru yang anti-realisme, metafiksyen, new histriografik, realisme magis dan sebahagiannya mula kukuh dalam pengkreatifan tanah air. Dalam hal ini menurut beliau, teori-teori moden sudah tidak sesuai dengannya, maka tuntutan penjabaran teori-teori global dan pascamoden sangat diperlukan. Ketiga, sebahagian daripada teori itu bertentangan dengan tradisi kepercayaan kita terutamanya falsafah, sejarah dan ideologinya. Misalnya teori Marxis yang sama sekali menolak ketuhanan. Keempat, teori sastera adalah suatu hagemoni dan kolonialisme baru. Wacana intelektualismenya mengarah kepada kekuasaan. Menurut beliau, kehadiran teori-teori baru itu dianggap sebagai penjajahan budaya, justeru teori sastera di dalamnya membawa ciri-ciri penaklukan sehingga teori dianggap sebagai penjajahan bentuk baru yang lebih bahaya dari penjajahan politik. Kelima, penciptaan teori tempatan oleh sarjana-sarjana tanah air. Meskipun begitu, sebagai sesuatu yang baru, teori-teori ini memperlihatkan beberapa kelemahan yang tidak terelakkan. ''Tetapi dalam hal ini, teori-teori global itu pun banyak kelemahannya. Yang penting bagaimanakah sikap kita terhadap teori sendiri? Atau pun apakah yang dikatakan teori itu benar-benar teori? ''Pengkaji sastera memainkan peranan penting dalam hal ini. Begitu juga masyarakat sastera seluruhnya. Khalayak kita boleh memberi pelbagai pandangan yang menarik,'' jelas Mana. Di atas hal-hal inilah menurutnya, para sarjana tempatan harus mendirikan sikap dan pandangan terhadap teori-teori sastera zaman global yang menuntut kita lebih cerdik dan waspada. Oleh itu, kita harus berfikiran terbuka. Tidak semestinya teori-teori global tidak boleh disebarkan dalam pembinaan sastera tempatan dan teori tempatan juga ada yang hanya sekadar gagasan serta belum 'matang' untuk disebarkan. Oleh: AZMAN ISMAIL

Teori Poskolonial atau teori Pasca Kolonial merupakan respon dari penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara Eropa terhadap negara-negara dunia ketiga, seperti Afrika dan Asia. Asumsi utama dari teori Poskolonial adalah menawarkan sebuah framework untuk menganalisa dan memahami lebih dalam tentang penindasan manusia, sama halnya dengan teori-teori yang lain: Feminism, Queer (gay and lesbian), dan Marxism (Tyson, 1999). Namun, karena Poskolonial ini timbul karena penjajahan, maka opresi (penindasan) dalam konteks ini merupakan dominasi politik dari suatu populasi tertentu. Framework yang dibangun oleh Poskolonial meliputi bagaimana ideologi para penjajah beroperasi secara politik, sosial, budaya, dan psikologi, terhadap kelompok jajahannya. Melakukan hegemoni dan menekan kelompok terjajah untuk menginternalisasi nilai-nilai kaum penjajah. Disisi yang lain, Poskolonial juga menampilkan bagaiman upaya resistensi yang dilakukan oleh kaum yang terjajah untuk melawan opresi yang dialaminya. Meskipun para penjajah telah hengkang dari tanah jajahan yang mereka kuasai bukan berarti mereka tidak meninggalkan harta karun yang melekat amat dalam bagi kaum yang pernah mereka jajah: cultural colonisation. Cultural colonisation adalah nilai-nilai budaya yang diajarkan secara terus menerus oleh kaum penjajah karena mereka menganggap bahwa kaum terjajah tidak memiliki budaya yang tinggi seperti yang mereka miliki dan memandang rendah budaya lain. Para ex-penjajah ini telah meninggalkan warisan psikologis pada kaum jajahannya: self-image yang negatif dan alienasi dari budaya asli mereka yang sekian lama dilarang dan tidak dianggap bernilai. Koloni berasal dari bahasa Latin colere yang artinya menanam, menggarap, membiakkan. Secara harfiah dapat didefinisikan sebagai sekumpulan manusia di suatu tempat yang secara politis dikuasai sepenuhnnya atau sebagian oleh kelompok/negara lain. Kolonisasi dapat dijelaskan sebagai proses pendudukan oleh suatu bangsa atas bangsa yang lainnya dengan melakukan dominasi politik, sosial, dan budaya. Superioritas kaum penjajah ini dicerminkan dari teknologi yang mereka ciptakan dan miliki, mereka memandang dirinya beginilah seharusnya peradaban manusia. Kesenjangan yang diciptakan didasari etnosentrisme (Eurocentrism) yang mengklaim bahwa penduduk asli (kaum terjajah) adalah kaum barbar yang tidak memiliki peradaban, tidak memiliki sistem pemerintahan, agama, dan adat istiadat. Oleh karena itu, kaum tersebut harus diberikan peradaban. Penghakiman kepada semua yang berbeda dengan apa yang mereka miliki melahirkan konsep othering, yaitu antara us (kita) dan them (mereka), dimana us lebih superior dari them. Kecenderungan yang hampir selalu muncul dari sebuah penjajahan adalah banyak dari orang-orang terjajah yang meniru perilaku penjajahnya, misalnya dalam konteks pakaian, ucapan, kebiasaan, dan gaya hidup. Poskolonial menyebut fenomena ini sebagai mimikri. Upaya ini dilakukan agar diterima oleh budaya kolonial yang dimiliki oleh kaum penjajah, selain itu juga disebabkan oleh ketidakberdayaan kaum terjajah karena mereka telah

terprogram sebagai kaum yang inferior. Hal ini yang kemundian oleh Poskolonial digarisbawahi sebagai konsep double consciousness atau double vision. Yaitu bagaimana seseorang terjebak dalam dua budaya yang berbeda: budaya kolonial dan komunitas asli. Keadaan tersebut melahirkan sebuah perasaan asing di negeri sendiri (unhomed