Anda di halaman 1dari 3

Remy Sylado, Hadir atau Tersingkir

http://kultur-majalah.com/index.php/sosok-musik/386-remy-silado-hadir...

T eras

Kabar

Film

Musik

Sastra

Seni Rupa

T ari

T eater

Tradisi & Folklore

Sosok

Esai

Kelana

Peristiwa

Remy Sylado, Hadir atau Tersingkir

Written by Benny Benke BERBICARALAH tentang apa saja, dengan bahasa apapun dengan Yapi Panda Abdiel T ambayong. Maka sastrawan, teaterwan, penyair, pelukis, wartawan, musisi, dramawan dan budayawan yang sohor dengan nama Remy Sylado itu akan mengembalikan pertanyaan yang Anda ajukan dengan tajam, dalam dan semua jawaban itu, berangkat dari berbagai macam data yang diaketahui dan kuasai dengan baik. Jika Anda ingin berbicara tentang musik, atau lebih spesifik tentang historiografi musik keroncong misalnya, maka sang munsyi atau ahli bahasa kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945, itu dengan lancar akan bercerita tentang muasal keroncong. Atau jika ada pertanyaan tentang dunia teater, seni rupa, film, hingga sejarah bangsa China kali pertama sampai mampir ke Indonesia sekalipunbahkan dengan tidur punsepertinya Remy mampu memberikan jawaban yang mampu memuaskan kedahagaan ilmu pengetahuan Anda. Ya, salah satu pelopor puisi mbeling Indonesia itu, memang nyaris mengetahui dan menguasai semua hal. Makanya dengan sangat keras dia menolak jika ada seseorang atau sekelompok orang memintanya hanya untuk menekuni sebuah bidang. Hal itu sangat tidak berlaku dalam kamus hidupnya, sebab membatasi atau mengkhususkan sebuah bidang bagi seseorang sama saja dengan menghina akal sehat dan kemampuan manusia, yang dalam banyak hal mempunyai kemampuan luar biasa, di luar kesadaran manusia itu sendiri. Paling tidak demikianlah yang terjadi dengan Leonardo da Vinci (1452 1519) yang dikenal dunia sebagai seorang arsitek, musisi, penulis, pematung, hingga pelukis yang sangat adilihung dan jenius. Demikian halnya dengan Remy yang karyanya terbentang dari puisi, novel, naskah drama, pementasan teater, lagu hingga film. T ak terhitung lagi karya jurnalistik dan karya ilmiah yang tersebar di berbagai koran dan majalah di Indonesia. Mari kita ambil contoh sedikit tentang pemahamannya di bidang musik keroncong. Dalam sebuah even rilis sebuah album Keroncong Rohani milik penyanyi Anastasia Astutie dan Mus Mulyadi, Remy bernarasi banyak tentang muasal musik yang sangat ngelangut itu. Apakah musik yang kadung diidentikkan dengan penikmat kaum tua itu berasal dari Portugis? Bukan. Sekeyakinannya, musik keroncong adalah musik asli Indonesia. "Sejarah keroncong yang benar lahir di Tugu, dan tidak berasal dari Portugis," katanya di Jakarta pada Jumat (17/2/2012) malam dalam rilis Album ke-2 keroncong rohani bahasa Indonesia dan Jawa, milik salah satu penyanyi keroncong senior Indonesia, Anastasia Astutie yang berjudul "Hatiku Percaya, Pitados ing Gusti". Sebelum sampai di Tugu, T anjung Priok Jakarta, masih menurut Remy, musik keroncong dibawa oleh Merke seorang budak dari Gowa, Sulawesi Selatan. Meski pada mulanya musik keroncong identik dengan Moreska, atau musik asli bangsa Mor (Bangsa Arab yang beragama Islam). Dan pada mulanya lagi keberadaan keroncong dibuat untuk merukunkan Islam dan Kristen. Justru sebaliknya, di Potugis malah tidak ada musik keroncong. "Karena keroncong asli ada instrumen kencrungnya. Dan karenanya, harmoni musik keroncong itu pada mulanya harmoni musik gereja Protestan," imbuh dia. Pendapat Remy itu diperkuat oleh pengajar filsafat dan budayawan Romo Mudji Sutrisno yang mengatakan, pada perjalanannya lebih jauh, akhirnya membuat bahasa Jawa menjadi salah satu penjaga setia musik keroncong. "Sebab musik keroncong membawa keteduhan. Dan pola musik keroncong paling dekat dengan rakyat," ujar Romo Mudji kala itu. Oleh karena itu, ketika tiga legenda musik keroncong, yaitu Anastasia Astutie, Waljinah dan Mus Mulyadi merilis album keroncong rohani bahasa Indonesia dan Jawa, dia menyatakan kegembiraannya. Meski Remy sangat menyadari sekali di album yang merangkum 10 lagu religi, itu di matanya bukan berarti tanpa cela. Sepengamatannya, meski Anastasia mampu menyanyi keroncong dengan sangat baik, tapi tidak semua lagu mampu dianyanyikan dengan pas dan laras. "Satu hal yang harus dimengerti semua penyanyi, dia harus bisa menyanyi dengan pas dan laras. Karena musik punya keterbasan jiwa dan tubuh yang disebut psikosomatik," katanya. Jika berbicara tentang musik, yang notabene sangat diakuasai karena dia juga pernah menjadi redaktur majalah hiburan Aktuil di Bandung sejak tahun 1970 hingga beberapa tahun kemudian, apalagi jika berbicara tentang dunia susastra. Ambillah contoh sebentar tentang bagaimana sangat mengertinya dia tentang para pelaku sastra sebelum dirinya. Hal itu terlihat ketika dia turut mendedah jejak pemikiran dua dari sedikit sastrawan besar Indonesia: Achdiat Karta Mihardja dan Marius Ramis Dajoh. T atkala Balai Pustaka menerbitkan kembali roman karya Achdiat dan kumpulan puisi karya almarhum Marius Ramis Dajoh, yang lebih tenar dengan nama MR. Dajoh dan dirilis di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta, Selasa (21/12/ 2004), Remy dengan detil mampu 'membaca' karya MR. Dajoh dengan bening. Jika roman karya Achdiat berjudul Debu Cinta Bertebaran dimata Ajip Rosidi sebagai penimbang, dinilai tak ubahnya sebuah roman gagasan, yang jika dibaca rasanya seperti membaca sebuah tajuk rencana di koran-koran. Maka, kumpulan puisi MR. Dajoh berjudul Bunga Bakti yang diterbitkan ulang Balai Pustaka, menurut dia secara kosa kata sangat miskin. Remy Sylado menyimpulkan hal itu, setelah menyelami dan memahami makna instrinsik dan eksentrik buku kumpulan puisi MR Dajoh. Dibutuhkan pendalaman bahasa yang digunakan penyairnya pada masa penulisnya, yaitu bahasa Melayu Minahasa, menjadi sangat penting. "Karena, saya juga harus mundur 90 tahun ke belakang untuk menyelami setiap syair yang almarhum tuliskan yang dianggap modern pada waktu itu,'' katanya. Meski secara jujur dia juga mengakui, kendala perbedaan zaman dan miskinnya kosa kata (diksional) yang digunakan oleh penyair yang wafat pada 15 Mei 1975, itu juga mengakibatkannya enggan berkomentar terlalu banyak terhadap Bunga Bakti. Rupanya, nasehatnya, sebagai penimbang karya sastra dibutuhkan juga kebijaksanaan untuk mampu menimbang kemampuan diri sendiri, sebelum menimbang karya orang lain. Selain faktor kehati-hatian. Dan kehati-hatian itu juga berlaku ketika dia turut mendukung Renny Djajoesman menggelar Konser Musik Multimedia T embang Harmoni, yang berniat menyatukan dan melaraskan 5 penata musik terkemuka Indonesia. Via bendera Renny Djajoesman Enterprise (RDE) hajatan itu, mengandeng sejumlah seniman terkemuka Indonesia. Sejumlah karya abadi milik Koes Plus, Gombloh, Eros Djarot, Yockie Soeryo Prayogo sampai Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pencipta lagu, dibaca ulang oleh lima konduktor: Addie MS, Dwiki Dharmawan, Yockie Suryo Prayogo, Andi Riyanto dan Oni Krisnerwinto. Selain melibatkan sejumlan nama penyanyi lainnya seperti Sandy Sondoro, Harvey Malaiholo, Fariz RM, Vidi Aldiano, Dira Sugandhi, Joy T obing, Cici Paramida, Rafika Duri, Dharma Oratmangun, Andi/rif, Rio Febrian, Brothers & Co dan sejumlah nama lainnya. Remy mengatakan kala itu (18/7/2012) dengan melaraskan musisi muda dengan sejumlah musisi senior seperti Ireng dan Kiboud Maulana, Idris Sardi, Barce Van Haouten, sampai Gita Wiryawan, yang dikenal sebagai Menteri Perdagangan, dalam konser ini yang digelar pada 11-12 September di Hall D2 Convention Jakarta International Expo-Kemayoran, sepengamatannya sebagai pemerhati musik, "Perlu kritik musik yang benar-benar mengetahui celah-celah musik, " katanya. Atas alasan itulah, imbuh dia, "Saya ada di sini," katanya. Hal itu sengaja dialakukan, karena, menurut dia, "(wartawan musik Indonesia) biasanya hanya memuji-muji musisi dari Korea dengan segala kekagumannya." Padahal, katanya lagi, "Kritikus dari pers sangat penting untuk melakukan pembandingan-pembandingan musikalitas".

Jika berbicara musik katam, sastra purna, bicara apalagi yang menarik dengan penguasa bahasa Yunani, Ibrani, Arab, Inggris dan China. Di luar bahasa daerah seperti bahasa Jawa dan Sunda, Makassar, T otempoan, Bugis, Menado juga Ambon itu? Bicaralah sembarang tentang apa saja, bahkan berbicaralah tentang persinggungan antara etnik Tionghoa dan orang Jawa serta penduduk pribumi Indonesia lainnya kepadanya. Maka, layaknya guru ngaji yang alim, dengan hanif dia mampu bertutur dengan runut dan mengesankan. Sepenceritaanya, persinggungan antaretnik di Indonesia, khususnya dengan etnik Tionghoa, ternyata sudah berlangsung sangat lama dan tua. Bahkan proses meliyankan antara etnik Tionghoa dan orang Jawa sepenceritaan Remy sangat bisa jadi setua usia Nusantara. Di kediamannya di bilangan Cipinang, Jakarta Timur, yang sangat etnis dan didominasi cat berwarna hitam dan putih penulis produktif itu menceritakan saga hubungan etnik Tionghoa dan orang Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Mengapa kebanyakan orang Jawa atau Indonesia, menganggap orang atau etnik Tionghoa sebagai orang lain atau liyan (the others)? Menurut Remy sejarah perseteruan itu telah berjalan panjang, tua dan sekaligus kusut. Pertikaian itu, bahkan tidak hanya terjadi di tahun 1998 di Jakarta, sebelumnya di tahun 1963 di Bandung, juga terjadi hal serupa. "T api barangkali pangkalnya dimulai ketika Kubilai khan mengirim utusan untuk meminta upeti kepada Kertanegara." Dengan dalih Kertanegara adalah taklukan Cina. Padahal Kubilai Khan sendiri bukan Cina. Dari situlah mulai timbul rasa geram, sebab orang Jawa harus takluk kepada Cina, sebuah negara jauh dari Utara. Makanya, kupingnya Mengki (utusan Kubilai Khan) dipotong Kertanegara, yang akhirnya membuat Kubilai Khan mengirim pasukan lagi ke Kartanegara, yang sudah diganti Raden Wijaya. Selanjutnya pada tahun 1405 terjadi lagi dalam masa pemerintahan Majapahit Wikaramardana yang menghabisi tentara Cina yang datang ke Tuban yang datang bersama Cheng Ho, yang membawa agama baru, yaitu Islam. Sementara pada saat itu, sepenuturan Remy, agama Jawa adalah sinkritisme antara Hindu-Budha. Inilah yang menjadi akar perseteruan antara Jawa dan Cina, meski banyak lagi perseteruan lainnya dari dulu, yang tidak sempat tercatat sejarah. Tapi intinya, dari dulu terdapat kegeraman antara Jawa dan Cina. Dan pada saatnya nanti, ada lagi kegeraman terhadap orang Cina, dengan pembantaian 10.000 orang China di Batavia oleh Belanda. Tepatnya oleh Gubernur VOC Adrian Valkenier pada tahun 1740. Dari rangkaian tahun 1740 itu, di Lasem, Jateng setahun kemudian, dibentuk pasukan tentara Cina dibawah pimpinan saudagar genteng, yaitu T a Phe Chiang dan We Eng Kiat, yang akhirnya bertempur dengan Belanda di Semarang pada 1742 dengan sebutan Perang Kuning. Dicatat, pada perang itu, orang China lagi-lagi dibantai Belanda. Hingga akhirnya mereka berdua, mundur sampai Welahan, Jepara, dan mati di sana. "Makanya kalau kita ke Welahan ada tapekong atau patung T a Phe Chiang dan We Eng Kiat dengan Return to T op pakaian perang Dinasti Manchuria.

You 1 dari 3 created this PDF from an application that is not licensed to print to novaPDF printer (http://www.novapdf.com)31/01/2014 14:03

Remy Sylado, Hadir atau Tersingkir

http://kultur-majalah.com/index.php/sosok-musik/386-remy-silado-hadir...

Lalu mengapa sampai terjadi pembantaian yang sangat mengerikan seperti itu? Karena ada peran Pakubuwono II, yang membocorkan kepada Belanda, akan ada tentara Cina yang akan menyerang Belanda di Semarang. Pembantaian itu sampai terjadi karena Natakusumo mempunyai plot menggantikan Pakubowono II dengan cucu Sunan Mas, yang notabene Cina; namanya Mas Garendi, yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Kuning. Maka geramlah Pakubowono karena mengetahui ada plot yang hendak menggantikan dia, "Kok seorang Cina? Nah dari sini, nantinya ada pembalasan dari pihak Cina dengan penghancuran Keraton Kartosuro." Penghancuran Kartosuro oleh Cina itu terkenal dalam babad Tanah Jawi dalam bab Negara Kartusoro, yang akhirnya pindah ke Surakarta. Itu dikenal juga sebagai goro-goro Cina, makanya orang pribumi makin dendam kepada orang Cina. Dan ihwal dendam itu terbawa 100 tahun kemudian, ketika giliran Diponegoro membantai Cina dengan pengumuman terlebih dahulu. Isinya, yang tidak mau patuh kepada dirinya pada tahun 1828 itu, maka, "Pateni kabeh". Mengapa Diponegoro sampai membantai Cina? Kasusnya, menurut Remy, sangat banyak pada saat itu. Seperti kasus pajak, jalan tol dan yang paling membuat Diponegoro muntab, karena dia tahu siapa yang membunuh adiknya, Habengkubowono IV atau Raden Mas Ibnu Jarot adalah orang Cina, dengan cara diracun. Dan orang Cina yang meracun itu bernama Setyodiningrat. Sebuah nama pemberian Rafles kepada pemilik nama asli T an Djin Sing. Tan Djin Sing yang diberi pangkat Rafles sebagai Setyodiningrat inilah yang membunuh Hamangkubuwono IV, sekaligus diberi mandat untuk menarik pajak di seantero Ngayogjakarta Diningrat. Padahal, sebagaimana dicatat sejarah resmi pajak itu makin membuat geram orang Jawa. Sebab, bahkan ada pajak bernama pajak Pacumpleng (pajak pintu atau pajak rumah) yang tinggi nilainya. "Bahkan menggendong anak di luar rumah terkena pajak waktu itu!"

Gambaran pembantaian orang-orang Cina di Batavia pada 1740 (Sumber: jakarta.go.id)

Tapi yang paling membikin murka orang Jawa pada waktu itu, karena terbunuhnya Hamengkubuwono IV, yang akhirnya membuat Diponegoro memberikan ultimatum kepada orang-orang Cina di sekitar Kedu. Tapi di luar bagian pembantaian yang dilakukan orang Jawa, masih banyak sekali yang kecil-kecil tentang persinggungan Jawa dengan Cina. Bahkan di Aceh persinggungan itu juga terjadi, ketika orang Aceh menganggap bahasa yang digunakan orang Cina menyinggung orang Aceh. karena nilia seperti ngrasani dan ngelek-ngelek (menjelek-jelekkan) orang Aceh. Hal itu juga di ceritakan dalam buku Daradjatun tentang perdagangan di Aceh. Lebih lanjut dia bercerita, ihwal stigma masyarakat Indonesia terhadap etnik Tionghoa selalu seragam misalnya menganggap mereka hanya sebagai binatang ekonomi--? Meski kita juga sangat mengetahui etnik Tionghoa pun heterogen? Dan bukankah mereka berasal dari nenek moyang yang plural sehingga menghasilkan orang-orang Tionghoa masa kini yang plural juga? Maka dengan runut Remy berkisah. Sebetulnya, menurut dia, kalau kita melihat sumbangan Cina yang benar, itu terjadi ketika seorang Guru Besar dari Cina bernama Hwi Ming datang ke Borobudur, Magelang pada dinasti Syailendra masih menjadi raja. Hwi Ming yang berdiam di Borobudur selama 1 tahun empat bulan, menyumbangkan pengajaran tentang Titi Laras Slendro. Titi Laras Slendro itu, sepenceritaannya, asalnya dari Cina yang disebut Kwa Meng Tiao. Yang setelah sampai ke Jawa bernama Titi Laras Slendro, yang sebelumnya di Jawa hanya kenal Pelog. "Nah, guru agung Budha inilah yang memperkenalkan hal itu kepada orang Jawa." Kwa Meng Tiao dalam musik barat juga sangat berpengrauh, yang nantinya disebut kromatik (Skala kromatik adalah suatu skala yang berjarak setengah nada, seperti A,A#,B,C,C#,D, dan seterusnya.) Jadi kalau nada-nadanya kita padankan dengan Solmisasi bunyinya menjadi do re mi so la do re mi. Orang Sunda menyebut itu sebagai Salendro Mandalungan, artinya slendronya Cina. T api tetap salendronya menggunakan nama raja Syaliendra. "Itu sumbangan besar orang Cina pertama di Jawa," tekannya. Hebatnya lagi, di saat itu pula tata kerawitan di Jawa mengenal gong. Nah, gong itu pasti digantung menggunakan naga. Dan naga adalah simbol kebesaran Cina. Dan hebatnya gong, jika dipukul pada setiap nada, jatuhnya pada nada do. Gong dipukul pada saat nada re, makanya jadinya tetap nada do. Makanya secara tidak sadar orang Jawa mempunyai bahasa membenarkan, dengan istilah nge-gongi. Itu karena gong mampu menyeragamkan setiap bunyi menjadi satu, atau dibenarkan. Itulah sumbangan Cina pertama pertama. T api, kalau dikaitkan dengan terma binatang ekonomi itu urusan lain. Pertanyaannya, menurut dia, apakah kita juga tidak sebagai bintang ekonomi? Sebab di dalam kebinatangan ekonomi, "Yang berlaku di situ hadir atau tersingkir." Pribuminya tidak hadir dan tersingkir karena, menurut dia, "Kalah ulet, kalah pinter, dan malas kok." Selain itu, Penajaman anti-Cina itu juga harus dilihat pada konteks penganak emasan orang Cina oleh Belanda pada tahun 1856 tentang Kedudukan Kewarganegaraan, yang menempatkan Belanda sebagai warga negara pertama, kemudian Cina, baru manusia pribumi. Sebenarnya Belanda mengambil kebijakan itu untuk membalas jasa, sekaligus menghapus kesan atas pembantaian orang Cina di Batavia pada saat itu. Sekaligus sebentuk pengakuan bahwa orang Belanda sekalipun kalah dalam hal dunia perdagangan dengan orang Cina. Selain itu, pribuminya juga harus mengakui pada saat itu pemalas. Meski sebenarnya orang Cina bukan hanya pedagang,pemikir kebudayaan dan filsufnya juga banyak. Lalu, bagaimana seharusnya kita memosisikan etnik Tionghoa? Rumusan Remy sebenarnya sangat sederhana. "Kita harus sama-sama menerima." Dalam pengertian, bahwa bangsa Indonesia itu bukan banga asli. Ketika kita menerima terminologi yang dipopulerkan oleh Profesor Adolf Bastian tahun 1884 tentang kata Indonesia, setelah sempat kata Indonesia dipakai pada tahun 1848 oleh Logan dari Inggris. Dan mahasiswa Indonesia yang di Belanda memakai terminologi itu, yang tadinya hanya dipakai untuk konteks entografi kemudian menjadi bahasa politik. Yang pengertiannya sebuah bangsa yang dijajah Belanda dan menuntuk kemerdekaan. Nah, kata Indonesia harus disepakati bahwa kita ini imigran. Bahkan dalam banyak penelitian, ternyata menyebutkan nenek moyang kita berasa dari Yunan. Yang sekarang berada di Selatan Cina. Hal itulah yang harus kita sepakati bahsa Indonesia adalah bangsa besar yang inter-rasial, inter-tribal tetapi punya nasionalisme. Berdasarkan kedaulatan dari Sabang sampai Merauke. "Jadi kita semestinya sama-sama belajar dengan orang Cina, dengan menghilangka batas-batas itu. Termasuk orang Cinanya juga harus menghilangkan prasangka itu, termasuk pribuminya." Jadi, jika ada pertanyaan turunan bagaimana etnik Tionghoa memosisikan dirinya, jawabannya harus sama? Tanpa ragu, sosok yang semakin matang dan tampak seperti guru itu menjawab,"Benar sekali. Kita harus sama-sama menghilangkan prasangka. Dan harus juga dari pihak Cina menghilangkan kata Wana." Orang Cina Indonesia menyebut pribumi itu wana. Artinya: pribumi goblok dan primitif. Istilah itu membuat geramkan? Itu adalah kata penghinaan, sama halnya penghinaan orang Malaysia menyebut kita dengan Indon. Jadi, harus sama-sama. Karena ini akan menyangkut juga peristilahan Tionghoa atau Cina. Misalnya Kedutaan Cina di Jakarta meminta kita supaya menulis Cina menjadi China, hal itu, menurut dia, harus diseminarkan betul. Karena, diksi China itu berasal dari bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia. Dan semua itu bergantung juga pada rasa penerimaannya. Intinya, harus dilepaskan perasaan prasangka jika disebut Cina sama saja dengan menghina. Sebab di Malaysia kata Cina itu artinya bagus. Sampai-sampai ada peribahasa "Jangan memperjuali Cina", yang artinya; jangan mengajari orang pintar. Dan ada sejumlah kosakata dalam bahasa Indonesia yang menggunakan entri Cina seperti kamus bahasa Mohamad Zain, akan banyak sekali kita temukan kata Cina. "Kita nggak mungkin bilang "Petai China", "Tinta China", "Kampung China", "Pondok China", hingga "Bidara China". Wong yang betul petai cina, tinta cina, kampung cina, pondok cina dan bidara cina. Apalagi pondok Tionghoa itu lebih kacau. Atau kalau perlu pakai bahasa baku yang berlaku di Cina yaitu, Cung kuok. Kalau terma Tiongkok mempunyai sejarah yang lebih tidak mengenakkan dengan Indonesia, karena persoalan PKI.

Masih belum cukup pertanyaan tentang etnis Cina kepada Remy? Sehingga belum cukup untuk membuktikan bahwa dia sangat menguasai kesejarahan etnis Cina di Indonesia. Baik, kita susul lagi dengan pertanyaan selanjutnya, seperti misalnya, jika dikomparasikan dengan perlakuan etnik Tionghoa di negara jira Malaysia, posisi Indonesia di mana? Sepamahamannya, jika dibanding dengan negeri jiran Malaysia,"Indonesia jauh lebih maju," katanya tangkas. Di Malaysia, etnis Cina diperlakukan lebih tidak adil. Persoalan anti-Cina hanya soal pendapatan. Itu hanya persoalan orang-orang kere yang tidak mau sinau tapi mau sugih seperti Cina, hal itulah itulah yang sangat berbahaya. Jadi yang perlu diperhatika negara adalah jangan membuat orang menjadi kere. Begitu terjadi kemiskinan, pasti ada perasaan anti terhadap orang kaya, dan ndelalah (kebetulan) yang kaya adalah orang Cina. Salah kaprahnya di sini. Coba jika orang pribumi hidup kecukupan, pasti tidak terjadi seperti ini. Kalaupun di Indonesia terjadi lagi kerusuhan anti Cina seperti dulu, Indonesia akan mengalami kemunduran. Sebab Amerika Serikat saja presidennya sudah orang kulit hitam. Jadi apa salahnya kalau presidennya Cina, dan memenuhi syarat, "Kenapa nggak? Ya to." (Negara) Chili saja berani mempercayakan presidennya kepada orang (keturunan) Jepang. Mungkin ngomong seperti ini pamali, tapi sebagai wacana boleh dong? Sebab kalau kita mau berbicara tentang keutuhan kebangsaan, hal itu menjadi sebuah keniscayaan. Nyatanya mereka orang-orang pinter dan menonjol, jadi sewajarnya kita belajar dari mereka. "Bahkan nabi Muhammad pun mengajarkan umatnya untuk belajar sampai ke Cina." Jadi jangan hanya dilihat dagangnya, sebab diantara mereka banyak juga kaum intelektualnya. Oleh karena itu, selama masih ada prasangka seperti itu, akan sulit mensetarakan diantara kita. Meski kita tahu prasangka itu lahir dari bawah dan purba sekali. Turunannya, selama pemerintah tidak menata orang miskin menjadi orang berkecukupan, tetap akan timbul kecemburuan, dan dendam kepada orang kaya. Sekali lagi, dendamnya kepada orang kaya, yang ndelalah Cina. Ditambah lagi agamanya tidak sama dengan agama mayoritas. Jadi persoalannya sangat kompleks sekali. Payahnya, bahaya ini tidak di tangkap pemerintah. Bahkan organisasi-organisai kemasyarakatan yang membahayakan kerukunan masyarakat malah dipelihara dengan cara membiarkan mereka melakukan kerusakan oleh negara. Untung saja kita masih punya organisai masyarakat seperti NU misalnya. Jadi, masalah tidak tuntasnya masalah ke-Cina-an berpulang pada pengelolaan bernegara bangsa ini. Meski kita tahu di Malaysia jauh lebih diskriminatif terhadap orang Cina. Dan kita harus menyadari, pembangunan kota di Indonesia siapa yang membangun? "Cina! Gedung-gedung tinggi yang secara fisikal dicatat sebagai penanda negeri yang maju siapa yang melakukan itu? Cina!".

Seterusnya....mau berbicara apa lagi kita kepada Remy jika semua persoalannya mampu diarangkum dengan jitu? Dan sampai saat inipun dia terus mengasah keilmuan, kebijaksaan, dan semua aspek yang membuatnya melewati hari dengan baik, laras dan sangat berarti. Dengan terus menulis novel yang mengangkat dan bertema keIndonesian, dengan melakukan observasi data layaknya seorangan sejarawan dan peneliti. Maka jangan heran jika Anda suatu saat bersiborok dengannya kala berada di Perpustakaan Nasional, bahkan sangat mungkin untuk sekedar 'gosek' atau mengais data di banyak perpustakaan di Eropa. Itulah Remy Sylado. Yang masih mempunyai elan vital yang sangat luar biasa dalam hidupnya yang cemerlang.

Riwayat Singkat Remy Sylado Di Mana Saja dan Bisa Apa Saja. Yapi Panda Abdiel T ambayong kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945 adalah manusia yang pepak. Lengkap. Dia, yang biasa menulis namanya dengan angka 23761, yang diambilnya dari chord pertama lirik lagu "All My Loving" milik The Beatles, akhirnya mengeja namanya dengan Re-my Sy-la-do. Sebagai manusia yang pepak, dia bisa menjadi apa saja yang dia suka. Dari seorang sastrawan, teaterwan, penyair, pelukis, wartawan, musisi, dramawan hingga budayawan. Return toalias T op Nama aliasnya juga ada beberapa. Dari Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel atau Japi T ambayong dan beberapa

You 2 dari 3 created this PDF from an application that is not licensed to print to novaPDF printer (http://www.novapdf.com)31/01/2014 14:03

Remy Sylado, Hadir atau Tersingkir

http://kultur-majalah.com/index.php/sosok-musik/386-remy-silado-hadir...

lainnya. Kemampuan berbahasanya juga menciutkan nyali. Oleh karenanya dia menjelma seorang munsyi yang disegani. Pengembaraan pendidikannya membentang dari Semarang, Solo, Bandung, Jakarta dan masih banyak tempat lagi. Demikian halnya dalam lapangan pekerjaan, dia adalah guru sekaligus mursyid di Akademi Sinematografi, Institut T eater dan Film, juga Sekolah Tinggi T eologi. Oleh karenanya, karyanya membentang dari kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman populer, buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Di antaranya dari karya berjudul Gali Lobang Gila Lobang (1977), Kita Hidup Hanya Sekali (1977), Orexas, dasar-dasar Dramaturgi (studi/kajian 1981), Cau-Bau Kan (1999), Kerygma (Kumpulan Sajak 1999), Kembang Jepun (2003), Paris Van Java (novel 2003), Sam Po Kong- Perjalanan Pertama (2004), Kerygma dan Martyria (2004), Boulevard De Clichy : Agonia Cinta Monyet (2006), Pangeran Diponegoro : Menggagas Ratu Adil Jilid 1 (Novel, 2007), Kamus Bahasa dan Budaya Manado (2007). Kemudian Menggagas Ratu Adil Jilid 2 (Novel, 2008), Jalan Tamblong (Kumpulan Drama Musik, 2010), Hotel Pro Deo (2010), Sebuah Libretto Sang FX, Namaku Mata Hari (2010), Catatancatatan Dasar Seni kreatif Seorang Aktor (studi /kajian, 2000), Siau Ling (drama 2001), Kerudung Merah Kirmizi (2002), 123 Ayat T entang Seni (2012) dan akan segera menyusul beberapa karya barunya, yang saat ini masih digarapnya dengan marathon penuh disiplin dan dedikasi. Dan semua karya itu, lahir dari mesin ketik ajaibnya, yang berkawan dengan tip ex andalannya. Menulis bagi Remy tampaknya seperti mondar-mandir dari ruang kerjanya ke dapur rumah belaka, untuk sekedar menyiapkan kopi dan makanan ala kadarnya. Karya tulis itu, diluar karyanya turut berakting di dunia seni peran seperti berlakon di film Pelarian (1973), Dua Kribo (1977), Mawar Cinta Berduri Duka (1981), Tinggal Sesaat Lagi (1986), Akibat Kanker Payudara (1987), Dua Dari Tiga Laki-Laki (1989), Blok M (1990), T aksi (1990), Gadis Metropolis (1992), hingga Tutur Tinular IV (1992) dan Capres (Calo Presiden) (2009). Sedangkan dalam dunia Sinetron, dia pernah dilibatkan dalam sinetron Siti Nurbaya (1994), Mahkota Majapahit (1994), dan Bunga Sutra (1997). Jadi, ketika sudah berjalan ke mana saja, dan melakukan apa saja, penghargaan dengan sendirinya menghampirinya. Dari penghargaan Piagam Apresiasi dari Walikota Surakarta (1989), memenangi Khatulistiwa Literary Award (2002) via novel Kerudung Merah Kirmizi hingga Tirto Adhi Soerjo Award (2008), dan Braga Award (2009) serta masih banyak lagi yang akan dan sudah diaterima tentunya. Bahkan baru-baru ini, dia telah mempertunjukkan karya terbarunya berupa Drama Sejarah berjudul "1832" di Graha Bhakti Budaya T aman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Selasa (30/10) kemarin. Yang dimainkan oleh kelompok teater binaannya Dapur T eater Remy Sylado. Karya berikutnya; segera menyusul segera dalam berbagai macam bentuk dan rupa. (BB) Like Add comment
JComments

Share

27

Share

Tweet

Sosok

Tiada Nama Seharum Bing

Sumber: gondz.deviantart.co PESAWAT terbang yang membawa Titiek Puspa belum lagi mendarat di... Remy Sylado, Hadir atau Tersingkir

Twitter Facebook

Majalah Kultur
Like 359 people like Majalah Kultur.

Facebook social plugin

Teras

Sosok

Remy Sylado, Hadir atau Tersingkir

Redaksi |Ketentuan Penggunaan Info Berlangganan | Hubungi Kami | Webmail Copyright 2012. All Rights Reserved.

Return to T op

You 3 dari 3 created this PDF from an application that is not licensed to print to novaPDF printer (http://www.novapdf.com)31/01/2014 14:03