Anda di halaman 1dari 3

1. Definisi Amnion Amnion (selaput ketuban) merupakan membran internal yang membungkus janin dan cairan ketuban.

Selaput amnion ini licin, tipis, ulet dan transparan. Selaput amnion melekat erat pada korion. Selaput ini menutupi permukaan fetal plasenta sampai pada insersio tali pusat dan kemudian berlanjut sebagai pembungkus tali pusat yang tegak lurus hingga umbilikus janin (Helen, 2001) Amnion merupakan lapisan membran paling dalam yang membungkus cairan amnion (Manuaba, 2008)

2. Pembentukan Cairan Amnion Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion. Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh kulit janin dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam memproduksi cairan amnion. Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan amnion. Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal, akan menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan pada

janin, seperti atresia esophagus, atau anensefali, akan menyebabkan polihidramnion (Fakhrudin, 2009).

3. Fungsi Cairan Amnion Fungsi cairan amnion menurut Lily Yulaikhah (2009) ialah sebagai : a) Proteksi : melindungi janin terhadap trauma dari luar b) Mobilisasi : memungkinkan ruang gerak bagi janin c) Homeostasis : menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan asam-basa (pH) dalam rongga amnion untuk suasana lingkungan yang optimal bagi janin. d) Mekanik : menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh ruangan intrauterine (terutama pada persalinan) e) Pada Persalinan : membersihkan atau melicinkan jalan lahir dengan cairan steril sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir.

4. Volume Cairan Amnion Cairan amnion pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada setiap minggu usia kehamilan bervariasi, secara umum volume bertambah 10 ml per minggu pada minggu ke-8 usia kehamilan dan meningkat menjadi 60 ml per minggu pada usia kehamilan 21 minggu, yang kemudian akan menurun secara bertahap sampai volume yang tetap setelah usia kehamilan 33 minggu.Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan

normal. Pada kehamilan postterm jumlah cairan amnion hanya 100 sampai 200 ml atau kurang (Fakhrudin, 2009).

5. Kelainan Cairan Amnion Menurut Sulaiman Sastrawinata (2005) terdapat dua kelainan cairan amnion : a. Hidramnion Dikatakan hidramnion apabila cairan amnion melebihi 2000 cc. Hidramnion bisa terjadi karena produksi air ketuban bertambah dan pengaliran air ketuban terganggu. Gejala yang terjadi pada keadaan hidramnion ialah sesak napas, regangan dinding rahim yang menimbulkan nyeri, palpasi janin sulit dan bunyi jantung sulit terdengar. b. Oligohidramnion Oligohidramnion merupakan keadaan dimana air ketuban kurang dari 500 cc. Oligohidramnion kurang baik untuk pertumbuhan janin karena pertumbuhan dapat terganggu oleh perlekatan antara kulit janin dan amnion atau karena janin mengalami tekanan dinding rahim. Gejala yang ditimbulkan ialah rahim lebih kecil tidak sesuai dengan usia kehamilannya dan bunyi jantung janin sudah terdengar sebelum bulan ke lima.

A. Korion Korion adalah membran ekstra-embrionik yang tersusun dari lapisan eksternal trofoblas yang diperkuat mesoderm (Ethel, 2008). Korion merupakan membran tebal, tidak tembus cahaya, dan rapuh berasal dari trofoblas. Bersama lapisan korionik membentuk dasar plasenta (Dwi Ratna, 2009)