Anda di halaman 1dari 4

Ringkasan

Latar Belakang: Rhinosinusitis (RS) adalah masalah umum pada anak-anak. Hanya sedikit penelitian yang diterbitkan dalam membandingkan rinosinusitis akut (ARS) dan rinosinusitis kronis (CRS) pada anak-anak.

Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan manifestasi klinis pada anak dengan ARS dan CRS.

Metode: menggunakan sample sebayakn Seratus lima puluh empat pasien dengan diagnosis klinis RS yang terdaftar. ARS didefinisikan sebagai gejala persisten selama lebih dari 10 hari tetapi kurang dari 4 minggu dan CRS didefinisikan sebagai gejala persisten selama lebih dari 8 minggu. Pasien diwawancarai untuk memperoleh data demografi dan temuan klinis. Temuan fisik dan penggunanan juga obat dicatat. Semua pasien menjalani studi radiografi, alergi dan pengujian imunologi dilakukan hanya pada kasus yang dipilih, kemudian semua data dibandingkan antara ARS dan kelompok CRS.

Hasil: Seratus tiga pasien diklasifikasikan sebagai pasien ARS dan lima puluh satu pasien CRS. Rata-rata ( SD) usia mereka adalah berkisar antara 5,9 3,3 tahun. Didapatkan juga Rhinitis alergi adalah penyakit penyerta paling sering pada kelompok rinosinusitis kronis. Keluhan utama yang paling sering dalam rinosinusitis akut dan kronis adalah batuk dan pilek, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam gejala antara kedua kelompok, kecuali untuk nyeri periorbital dan apnea pada saat tidur tidur yang ditemukan lebih sering pada kelompok kronis. Enam puluh lima persen dari ARS dan 58,8% dari CRS memiliki temuan x-ray normal. Hipertrofi adenoid ditemukan pada kelompok CRS dan ada peningkatan secara keseluruhan setelah 14,6 3.82 hari dan 22,35 5,04 hari (rata-rata) dengan pengobatan antibiotik di kelompok ARS dan kelompok CRS, tak satu pun dari pasien menjalani operasi sinus.

Kesimpulan: gejala yang paling umum dari RS adalah rhinorrhea dan batuk. Pasien dengan rhinitis alergi memiliki risiko lebih tinggi terkena rinosinusitis kronis. Pasien dengan ARS dan CRS berhasil diobati dengan pengobatan medis. (Asia Pac J Alergi Immunol 2012; 30:146-51)

Kata kunci: rinosinusitis akut, rhinosinusitis kronis, anak-anak, rinitis alergi, sinus radiografi

Pengantar

Rinosinusitis adalah masalah umum pada anak-anak dengan infeksi saluran pernapasan atas. Dalam sebuah studi umur anak 1-5 tahun dengan gejala infeksi pernapasan atas menetap, 9,3% memenuhi kriteria klinis rinosinusitis akut (yaitu 10 hari hidung tersumbat, keluar cairan atau batuk) 1, sedangkan rinosinusitis kronis ditemukan pada 19 % anak yang lebih dari 12 minggu dengan gejala infeksi saluran pernafasan atas.2 Rhinosinusitis masih sering kurang terdiagnosis dalam praktek pediatrik. Riwayat pasien dan gejala adalah hal yang penting untuk menegakkan diagnosis rinosinusitis.

Manifestasi klinis dari rinosinusitis pada anak-anak berbeda dengan pada orang dewasa. Ada juga manifestasi yang berbeda antara rinosinusitis akut dan kronis. Dalam penilitian rinosinusitis pada anak-anak, keluarnya cairan dari hidung dan batuk adalah gejala yang sering terjadi pada rhinosinusitis akut3 sementara rasa tidak nyaman dan pada nyeri wajah atau hidung tersumbat ditemukan lebih banyak pada kasus kronis rhinosinusitis.4 tidak terdiagnosisnya atau keterlambatan pengobatan rinosinusitis akut dapat menyebabkan rinosinusitis kronis atau banyak komplikasi seperti infeksi intrakranial, thrombo-phlebitis, osteomyelitis atau komplikasi orbital.5 Beberapa kondisi alergi seperti rhinitis alergi, asma dan sensitisasi alergen inhalan juga dikaitkan dengan rinosinusitis akut dan kronis pada anak-anak, 6 faktor risiko lain adalah faktor genetik, menurunnya daya tahan tubuh dan penyakit gastroesophageal reflux.

Hanya sedikit penelitian yang membandingkan rinosinusitis akut dan kronis pada anak-anak, terutama berkenaan dengan menyajikan gejala dan hasil pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan manifestasi klinis pada anak dengan rinosinusitis akut dan kronis. Kondisi atopik dan lainnya yang dapat mempengaruhi terjadinya rinosinusitis juga dicatat dan dibandingkan antara kedua kelompok pasien rinosinusitis. Obat yang digunakan dan hasil pengobatan juga dibandingkan antara kelompok.

Metode

Pasien dan radiografi sinus

Semua Anak (usia antara 1-15 tahun) dengan diagnosis klinis rhinosinusitis, berdasarkan adanya tanda dan gejala, direkrut dari klinik alergi pediatrik dan klinik rawat jalan pediatrik dari Rumah Sakit Thammasat University antara Januari-Desember 2010. Persetujuan untuk studi ini diberikan oleh Komite Etika Kelembagaan Fakultas Kedokteran, Universitas Thammasat. Rinosinusitis akut didefinisikan sebagai gejala pernafasan atas yang lebih dari 10 hari tetapi kurang dari 4 minggu 7 rinosinusitis kronis didefinisikan sebagai gejala pernafasan atas lebih dari 8 minggu .8 pemeriksaan yang dilakukan adalah Pemeriksaan fisik, rhinoskopi anterior dan menggunakan otoscope. Untuk konfirmasi diagnosis, radiographies dari sinus paranasal (Waters, Caldwell, dan pandangan lateral) juga dilakukan. Semua film radiografi dievaluasi oleh ahli radiologi yang benar-tidak tau informasi pasiennya. Kriteria untuk diagnosis radiografi rinosinusitis adalah penebalan mucoperiosteum lebih dari 4 mm, adanya air fluid level atau adanya opifikasi sinus.9-10 adanya hipertrofi adenoid juga dievaluasi menggunakan radiografi tengkorak lateral yang yang juga diperoleh dalam semua kasus. Kriteria untuk hipertrofi adenoid adalah lebih dari 50% penyempitan jalan nasofaring.1

Pasien serta pengasuhnya diwawancarai dengan menggunakan kuesioner untuk menggambarkan data demografi, kondisi medis pribadi, riwayat penyakit keluarga, alergi, paparan lingkungan dan masalah pada telinga, hidung dan tenggorokan pasien. Keluhan utama pasien yang sering adalah gejala saluran pernapasan bagian atas, karakteristik batuk , keluarnya cairan dari hiung dan temuan pemeriksaan fisik yang dibandingkan antara kelompok akut dan kronis Obat yang digunakanserta durasi pengobatan juga dicatat. Jenis dan durasi obat antibakteri dan ajuvan didasarkan pada penilaian dokter yang merawat.

Uji Prick Test dan tesImunologi

Pengujian tusuk kulit dilakukan pada kasus tertentu yang memiliki kecurigaan klinis rinitis alergi yang tidak ada respon terhadap pengobatan alergi. Aeroalergen umum yang dipilih untuk

pengujian skin prick adalah tungau debu rumah, kecoa, rumput, bulu kucing, jamur dan epitel anjing. Hasil positif didefinisikan sebagai ukuran bengkak yang 3 mm lebih besar daripada negatif control.12 pengujian imunologi (immunoglobulin serum dan tingkat subclass IgG) dilakukan pada pasien rinosinusitis kronis yang gejalanya tidak membaik dengan antibiotik oral dalam waktu 28 hari.

Analisis Statistik

Data dianalisis dengan menggunakan modul deskriptif program STATA. Perbandingan gejala, tanda-tanda, temuan radiografi dalam sinus paranasal dan hasil pengobatan antara kelompok akut dan kronis dilakukan dengan menggunakan Chi Squared dan tes Fisher. Tingkat signifikansi P <0,05, dengan menggunakan uji two tailed.