Anda di halaman 1dari 11

PENGEMBANGAN PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI BIDANG INDUSTRI PEMBUATAN PATUNG ASMAT

Oleh: Kendra Wardhani K. Rahma Santhi Taruni I Komang Candra Wiguna Ni Kadek Ridoi Rahayu (0820025012) (0820025029) (0820025045) (0820025062)

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2009

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan paper program K3 pada bidang industri rumah tangga ini tepat pada waktunya. Paper ini disusun dalam rangka melengkapi nilai tugas Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Penulis mengharapkan semoga paper ini dapat memberikan informasi dan memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh Pekerja di sector industri rumah tangga, khususnya bagi pekerja di pembuatan patung asmat. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. dr. Partha Muliawan, M.Sc (OM) selaku dosen pembimbing yang telah membantu dalam penyusunan paper ini. 2. Rekan-rekan satu kelompok yang telah meluangkan waktu dan

menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam pembuatan paper ini. 3. Teman-teman sekalian yang tidak dapat kami sebutkan namanya satu persatu. Penulis menyadari bahwa paper ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan rendah hati penulis sangat menghargai saran dan kritik yang membangun dalam rangka penyempurnaannya. Penulis berharap semoga paper ini dapat memberikan sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan.

Denpasar, 03 Desember 2009

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas kesehatan dan keselamatan kerja, moral dan kesusilaan serta perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. Dalam hal ini, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal serta untuk memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang nampaknya sedang dalam tahapan perubahan dalam bidang ekonomi di mana dulu Indonesia mengandalkan sektor pertanian sebagai sektor utama ekonomi kini mulai beralih menuju sektor industri. Hal ini dikarenakan potensi sektor industri yang dimiliki oleh Indonesia sebenarnya sangat besar mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah serta tenaga kerja yang banyak. Secara umum industri di Indonesia dapat dibagi menjadi 2 berdasarkan jumlah produksi serta tenaga kerja yang dimiliki, yaitu industri berskala besar serta industri kecil menengah yang kemudian lebih dikenal dengan industri rumahan. Di Indonesia sendiri industri kecil menengah mulai berkembang dengan pesat karena industri ini banyak mendapatkan dukungan dari pemerintah dan hanya membutuhkan modal yang kecil akan tetapi dapat menyerap tenaga kerja yang banyak sehingga dianggap sebagai solusi terhadap permasalahan pengangguran di Indonesia. Salah satu dari industri kecil menengah tersebut adalah industri pembuatan patung asmat. Patung asmat merupakan patung yang menggambarkan mumi yang ada di Papua. Di Bali industri pembuatan patung asmat ini sempat berkembang pesat, banyak industri pembuatan patung asmat yang menjamur terutama di daerah pedesaan karena di

pedesaan banyak terdapat tenaga kerja murah namun terampil dalam pahatan. Dalam industri pembuatan patung asmat, nampaknya banyak pengusaha yang kurang memperhatikan kesehatan serta keselamatan kerja para pekerjanya, padahal dalam pembuatan patung asmat sendiri banyak melibatkan kegiatan yang mengancam keselamatan serta kesehatan pekerja, baik ancaman dari lingkungan kerja maupun ancaman dari proses kerja karena pada proses pembuatan patung asmat digunakan bahan alat serta bahan yang cukup berbahaya bagi kesehatan. Ancaman dari alat kerja misalnya dari penggunaan alat yang tajam seperti gergaji dan pahat yang berisiko membuat pekerja terluka, ancaman dari bahan misalnya pada cat yang dipakai untuk mengecat patung asmat karena bahan kimia yang terkandung dalam cat dapat menyebabkan berbagai penyakit kronik terutama jika terpapar dalam waktu yang lama. Pelaksanaan program-program K3 merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja sebagai salah satu bentuk upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta bebas pencemaran lingkungan menuju peningkatan produktivitas sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Dalam pelaksanaan K3 tersebut maka diperlukan suatu program yang dapat menjaga kesehatan dan keselamatan pekerja sehingga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja. Berdasarkan hal tersebut maka penulis mengangkat tema tersebut dalam paper berjudul Program K3 dalam Industri Pembuatan Patung Asmat ini.

1.2

Rumusan Masalah
1.3.1

Apa sajakah

masalah K3 yang terjadi pada pekerja di industri

pembuatan patung asmat ?


1.3.2

Program K3 apa sajakah yang dapat dilakukan pada pekerja di industri pembuatan patung asmat ?

1.3

Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui berbagai permasalahan K3 pada industri kecil

menengah secara umum dan industri pembuatan patung asmat pada umumnya. 1.3.2 Untuk mengetahui program K3 apa saja yang dapat dilaksanakan pada industri kecil menengah pada umumnya dan industri pembuatan patung asmat pada khususnya.

1.4

Metodologi

Dalam penulisan paper digunakan beberapa metode, antara lain: Pengamatan Lapangan Pengamatan secara langsung terhadap pekerja di industri pembuatan patung asmat yang terdapat di Desa Muncan Penelusuran pustaka Memperoleh data-data dari berbagai literatur baik dari buku maupun internet mengenai berbagai permasalahan pekerja patung serta program K3 yang mungkin dapat dilaksanakan. Wawancara Dilakukan kepada pekerja dalam industri pembuatan patung asmat di Desa Muncan.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Kegiatan Kerja Pada Industri Patung Asmat

Ada beberapa kegiatan kerja yang dilakukan oleh pekerja pada industri pembuatan patung asmat di Desa Muncan, antara lain adalah sebagai berikut: Pemotongan kayu Pemahatan Pembakaran kayu yang telah dipahat yang dikenal dengan istilah ngantik Pengampelasan Pengecatan

2.2

Masalah K3 Pada Industri Pembuatan Patung Asmat

Pada industri pembuatan patung asmat di Desa Muncan, terdapat beberapa masalah terkait kesehatan kerja, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Tidak Menggunakan APD Saat Bekerja Para pekerja yang bekerja pada industri patung asmat seringkali tidak mengenakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja sehingga dapat mengancam kesehatan dan keselamatan para pekerja. Misalnya pada pekerja pemotong kayu dan pemahat yang tidak menggunakan selop tangan saat bekerja sehingga meningkatkan risiko untuk terluka, begitu pula pada pekerja pengamplas, pembakar serta pengelap patung yang tidak menggunakan masker, padahal debu dari pengampelasan serta asap pembakaran bisa meningkatkan risiko penyakit saluran pernafasan. 2. Alat Kerja Serta Fasilitas Yang Kurang Memadai Pada industri patung asmat yang kami amati ternyata banyak pekerja yang

menggunakan peralatan yang kurang layak pakai terutama pada alat yang dipakai untuk ngantik, peralatan tersebut banyak yang sudah rusak dan pegangannya rentan lepas namun pekerja masih tetap menggunakannya sehingga terkadang apabila alat ngantik tersebut lepas dari pegangan maka apinya akan mengenai pekerja dan mengakibatkan luka bakar. Selain itu kurangnya fasilitas pendukung seperti tempat duduk bagi pekerja, mengakibatkan pekerja terkadang harus sampai membungkuk. 3. Mempekerjakan Pekerja Anak Pada industri patung asmat, kebanyakan pengusaha mengambil pekerja anak yang rata-rata berusia antara 10 sampai 15 tahun, alasannya karena gaji pekerja anak lebih murah dan mereka tidak terlalu menuntut. Hal ini sebenarnya berisiko pekerja itu sendiri, karena baik dari segi pengalaman serta kondisi fisik membuat pekerja kesulitan menggunakan alat kerja yang memang dedesain untuk pekerja dewasa, sehingga pekerja anak akan lebih cinderung mengalami kecelakaan kerja terutama yang bekerja memotong kayu dan membakar kayu yang telah dipahat. 4. Lemahnya Sistem Pengawasan Lemahnya sistem pengawasan terhadap pekerja juga merupakan salah satu permasalahan K3 dalam industri kecil. Kebanyakan pengusaha hanya mengawasi pekerja yang bertugas memahat, sedangkan pekerjaan yang lebih berisiko untuk terjadinya kecelakaan seperti pemotongan kayu serta ngantik malah lebih jarang diawasi karena dianggap pekerjaan yang mudah. 5. Kurangnya Komunikasi Antara Pekerja Dengan Pengusaha Kurangnya komunikasi antara pekerja dengan pengusaha menyebabkan

ketidaksesuaian atau ketimpangan di dalam bekerja. Artinya di sini bahwa pekerja kurang mengetahui bagaimana apa langkah yang harus ditempuh agar sesuai dengan harapan pengusaha, begitu pula pengusaha akan kesulitan memahami apa saja yang diperlukan pekerja agar dapat meningkatkan kualitas produksinya. 6. Tidak Adanya Pengecekan Kesehatan Terhadap Pekerja

Tidak adanya pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara rutin terhadap para pekerja yang bekerja pada industri patung asmat menyebabkan pengusaha tidak mengetahui apakah ada pekerjanya yang sakit dan apakah perlu diberi perawatan atau sekadar istirahat. Apabila kesehatan para pekerja tidak dijaga akan menurunkan produktivitas baik dari kualitas maupun kuantitas. 7. Pekerja Seringkali Bekerja Berlebihan Pada industri patung asmat, seringkali jumlah produksi yang mereka hasilkan tergantung dari permintaan pasar, hal ini membuat pekerja bekerja secara tidak teratur, ketika permintaan akan patung sepi, pekerja hanya bekerja sampai siang, tapi ketika permintaan pasar meningkat terkadang pekerja harus bekerja sampai larut malam.

2.3

Solusi Program Pengembangan K3

Adapun program k3 yang dapat dilaksanakan pada industri pembuatan patung asmat adalah: 1. Menerapkan Program Keamanan Pada Para Pekerja Program keamanan dapat dilakukan dengan cara menggunakan APD. Penggunaan APD seperti sarung tangan, sepatu, penutup kepala, masker dan baju merupakan hal yang sangat penting. Dengan menggunakan APD para pekerja akan terhindar atau terlindung dari zat zat berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan dan juga bahan bahan yang dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan saat bekerja. 2. Menerapkan Program Pengawasan Secara Berkesinambungan Pengawasan terhadap pekerja saat bekerja merupakan hal yang sangat penting. Dengan pengawasan secara berkesinambungan, para pekerja tidak dapat bekerja seenaknya dan bekerja sesuai prosedur. Selain itu juga komunikasi antara pekerja dengan pengusaha dapat berlangsung baik sehingga pekerja dapat mengetahui

langkah kerja selanjutnya. 3. Menerapkan Program Pemeriksaan Kesehatan Pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja secara teratur perlu dilakukan. Dengan pemeriksaan kesehatan secara teratur dapat mengetahui tingkat kesehatan para pekerja. Pemeriksaan kesehatan baik dilakukan sebelum bekerja dan selesai bekerja. 4. Penyediaan Fasilitas Kerja Yang Memadai Penyediaan fasilitas kerja berupa alat alat kerja, tempat istirahat, tempat makan, tempat menaruh alat-alat berat dan kendaraan merupakan hal yang penting. Penyediaan fasilitas yang lengkap dan memadai dapat meningkatkan produktivitas kerja. 5. Program pengaturan lingkungan kerja agar aman dan kondusif Mengatur lingkungan kerja sedemikian rupa sehingga nyaman untuk bekerja dan pengaturan tempat tempat untuk menaruh alat lata kerja yang berat dan kendaraan. Selain itu dengan pemasangan lampu penerangan saat bekerja.

BAB III PENUTUP

3.1

Simpulan

Pekerja di industri pembuatan patung asmat ini sangat rentan mengalami masalah dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja. permasalahan yang dihadapi meliputi tidak menggunakan APD saat bekerja, alat kerja serta fasilitas yang kurang memadai,

mempekerjakan pekerja anak, lemahnya sistem pengawasan, kurangnya komunikasi antara pekerja dengan pengusaha, tidak adanya pengecekan kesehatan terhadap pekerja, pekerja seringkali bekerja berlebihan. Oleh karena itu dapat diberikan beberapa solusi untuk menghadapi permasalahan tersebut. Antara lain : Menerapkan program keamanan pada para pekerja, Menerapkan program pengawasan secara berkesinambungan, Menerapkan program pemeriksaan kesehatan, Penyediaan fasilitas kerja yang memadai, Program pengaturan lingkungan kerja agar aman dan kondusif.

3.2

Saran

Saran yang dapat diberikan antara lain, agar pemerintah lebih menjamin dan memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan dan keselamatan para pekerja. Kepada para pengelola perusahaan agar lebih memperhatikan faktor-faktor berisiko yang dapat mengganggu proses produksi serta berdampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Dan saran kepada pekerja, agar lebih menyadari dan mengetahui cara-cara untuk melindungi dirinya pada saat bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Tersedia: http://www.tiraaustenite.com/. (Akses : 24 November 2009) Anonim. 2008. Bahan berbahaya dalam cat dinding. Tersedia:

http://shandikahirawan.wordpress.com. (akses : 24 November 2009) Anonim. 2008. Kesehatan dan keselamatan kerja. Tersedia:

http://www.scribd.com/. (akses : 24 November 2009) Anonim. 2008. Pengaruh K3 terhadap semangat kerja karyawan. Tersedia: http://penyakit.infogue.com/. (akses: 24 November 2009) Muliawan, partha. 2004. Buku Ajar Dasar-Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. PS.IKM, FK Unud : Denpasar

Anda mungkin juga menyukai