Anda di halaman 1dari 2

BISNIS DAN PELAYANAN DALAM KEHIDUPAN MAYARAKAT DI MASA SEKARANG DIANA BUDI PRASETIYONINGRUM, YUNI ASIH RUSTANTI, EKO

ADE NURDIANTO, BANI ADAM ANINDYA Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Purwokerto

ABSTRAK Menurut Griffin dan Ebert (1996), bisnis dijabarkan sebagai aktifitas yang menyediakan barang/jasa yang diperlukan oleh konsumen. Sedangkan menurut Allan Afuah (2004), bisnis ialah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Lain halnya dengan definisi pelayanan kesehatan, dimana menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo Pelayanan Kesehatan adalah sebuah sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuannya adalah preventif dan promotif dengan sasaran masyarakat. Sedangkan menurut Levey dan Loomba (1973), Pelayanan Kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan masyarakat. Tidak bisa kita pungkiri bahwa apotek selain berperan sebagai tempat pelayanan kesehatan juga merupakan suatu tempat bisnis. Dalam fungsinya sebagai unit pelayanan kesehatan, fungsi apotek adalah menyediakan obatobatan yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Sedangkan fungsi apotek sebagai institusi bisnis yaitu apotek bertujuan untuk memperoleh keuntungan, dan hal ini dapat dimaklumi mengingat investasi yang ditanam pada apotek dan operasionalnya juga tidak sedikit. Kadang kala dalam pengelolaan apotek, banyak apotek yang hanya mengejar keuntungan besar dengan mengambil jalan pintas, seperti memberikan fee kepada dokter atau menggantikan apoteker dengan tenaga substandar pelayanan. Memberi fee kepada dokter umumnya akan menaikan harga obat dan pada akhirnya pasien yang akan dirugikan. Selain itu masyarakat seakan-akan diuntungkan karena harga obat di apotek secara tidak langsung mengalami penurunan karena biaya tenaga kerja yang murah, tetapi dampak kualitas pelayanan yang rendah justru dapat menyebabkan kerugian yang lebih besar. Oleh karena itu apotek tidak diperbolehkan untuk beriklan. Karena dikawatirkan dapat menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat karena apotek akan cenderung mengutamakan sisi bisnis dan bukannya mengutamakan sisi kemanusiaan. Bisnis apotek seharusnya tetap dilakukan atas dasar pelayanan dan kemanusiaan. Dalam pelayanan kesehatan obat bukan hanya komoditi ekonomi atau dagang semata tetapi juga komoditi sosial. Obat dan perbekalan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sosial, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas dagang semata, dan juga tidak dipromosikan secara berlebihan serta menyesatkan. Oleh karena itu pemerintah wajib melaksanakan pembinaan, pengawasan dan pengendalian obat untuk menjamin pengobatan yang rasional. Sedangkan apoteker bertanggung jawab atas mutu obat, sementara itu masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar tentang obat. Dalam evolusi perkembangan pelayanan farmasi telah terjadi pergeseran orientasi pelayanan farmasi dari orientasi terhadap produk menjadi orientasi terhadap kepentingan pasien. Fungsi apoteker dalam pelayanan bukanlah sekedar meracik obat, tetapi juga

memberikan informasi obat yang aman dan benar. Selain itu apoteker juga memiliki peran dalam bidang bisnis karena saat ini dalam pengelolaan apotek sering kali apoteker terjebak antara mencari laba dan pelayanan. Seharusnya didalam pengelolaan apotek yang di jual adalah pelayanan, dan masyarakat membeli pelayanan tersebut. Untuk itu apoteker seharusnya berlomba-lomba membuat pelayanan yang baik agar masyarakat tertarik dan apoteker dapat mendapatkan jasa yang banyak dari pelayanan. Tetapi pada kenyataannya, sebagian masyarakat memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah yang lebih mengutamakan harga dan belum menuntut pelayanan yang memuaskan. Tetapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan oleh apoteker untuk melakukan pelayanan yang melanggar peraturan, justru karena tingkat pendidikan kesehatan pada sebagian masyarakat yang masih rendah seharusnya para apoteker tetap menerapkan TATAP (Tiada Apoteker Tiada Pelayanan). Kata Kunci: Bisnis, Pelayanan, Obat, Fungsi Apoteker