Anda di halaman 1dari 13

7.

Proteksi dengan sistem pilot

7.1 Aplikasi sistem pilot


Proteksi dengan sistem pilot dikembangkan untuk menutupi kelemahan distance relay agar dapat bekerja lebih selektif untuk gangguan yang berada pada daerah proteksi (protection zone) yang berlainan, tetapi mempunyai besar impedansi yang sukar dibedakan oleh distance relay tersebut seperti terlihat pada gambar 7.1.

Pada gambar 7.1 impedansi gangguan ZF1 ZF2 sehingga reaksi relay jarak (Z) akan sama untuk kedua gangguan tersebut. Hal mengakibatkan relay kurang selektif , karena relay jarak (distance relay) bukan restricted protection atau bukan unit protection relay. Unit protection relay yang telah dibahas sebelumnya adalah differensial relay. Bila konsep differensial relay diterapkan untuk kasus di atas maka relay akan menjadi lebih selektif, lihat gambar 7.2.
F1 CT1
A B

F2 CT2

Trip A
+

Trip B

Gambar 7.2 Reaksi relai jarak dengan konsep diffrensial relay terhadap gangguan F1 dan F2

Konsep differensial relay adalah membandingkan besaran arus yang masuk ke line dan yang keluar dari line. Konsep yang sama dipakai oleh protection signaling atau pilot relaying. Pada pilot relaying yang dibandingkan adalah sinyalsinyal dari dua atau lebih pilot relay yang membentuk satu system pilot relaying . Pilot relay merupakan kombinasi antara protection relay dengan system komunikasi, dimana protection relay berfungsi sebagai fault detector dan response dari protection relay tersebut ditransmit dengan memanfaatan system komunikasi yang tersedia, ke pilot relay lainnya. Karena aplikasi pilot relaying, terutama pada line protection, maka pada umumnya relay proteksi yang dipakai adalah relay jarak (distance relay).

Protection Signalling 69

7.2 Pembagian relay pilot berdasarkan media penghantar informasi


Berdasarkan media penghantar atau saluran komunikasi yang digunakan maka relay pilot umumnya dibagi menjadi: a. Wire Pilot, terdiri dari yang menggunakan : - Communication Cable (kabel komunikasi) - Fibre Optic b. Power Line Carrier Pilot ( PLC Pilot ) c. Microwave Pilot (Radio Frequency Pilot )

7.2.1 Wire Pilot


7.2.1.1 Wire Pilot yang menggunakan Communication Cable (Kabel Komunikasi) Sistem ini sama dengan komunikasi telepon dengan menggunakan kabel komunikasi. Jalur komunikasi yang digunakan dapat diperoleh dari: a. Perusahaan listrik sendiri Media komunikasi dapat dilakukan dengan cara: 1. Underground pilot cables (Saluran komunikasi kabel bawah tanah) Salah satu masalah dari jenis pilot cables ini adalah biaya pemasangan yang menjadi sangat mahal apabila belum tersedia jalur kabel. 2. Overhead pilot cables (Saluran komunikasi kabel udara) Untuk jenis ini bisa dilakukan dengan membuat tiang tersendiri bagi jalur kabel pilot ataukah mereka ditumpangkan pada menara atau tiang untuk power cables (kabel daya). Untuk pilihan kedua terkadang dilakukan dengan membuat suatu kabel yang menggabungkan fungsi kabel sebagai kabel tanah dan juga kabel pilot yang dikenal sebagai overhead-pilot earth wire. Namun permasalahan yang timbul jika kabel pilot berada dalam satu tiang adalah munculnya induksi antara kabel daya dan kabel pilot b. Perusahaan telekomunikasi Sistem ini dilakukan dengan mengadakan kerjasama dengan pihak telekomunikasi yaitu menyewa saluran telekomunikasi mereka.

Permasalahan yang dihadapi jika menggunakan media kabel untuk komunikasi antara lain: 1. Saluran komunikasi tersebut rawan gangguan. 2. Jarak penyaluran yang pendek ( hanya 16 km ~ 24 km ) 3. Untuk jarak penyaluran yang panjang maka perlu tambahan booster di titik-titik tertentu. 4. Adanya biaya tambahan terutama jika menyewa media komunikasi dari perusahaan telekomunikasi. Bandwidth yang digunakan antara 0 kHz sampai dengan 4 kHz.

7.2.2 Power Line Carrier

Protection Signalling 70

B LT CT VT A Tx Rcv Keterangan: CT = Current transformer/ trafo arus VT = Voltage transformer/ trafo tegangan Tx = Transmitter Rcv = Receiver LT = Line Trap Gambar 7.3 Power Line Carrier Tx Rcv B Coupling Capacitor LT CT VT

Gambar 7.3 adalah gambar rangkaian sederhana dari power line carrier pilot, transmitter berfungsi sebagai pengirim sinyal dan receiver berfungsi berfungsi sebagai penerima sinyal dari sisi lawan. Power line carrier adalah salah satu bentuk transmisi komunikasi, dengan merambatkan sinyal pada jaringan transmisi daya listrik, dimana komunikasi antara kedua ujung saluran ditumpangkan pada frekuensi tinggi ( frekwensi pembawa ) dengan menggunakan frekuensi sinyal 10 kHz sampai dengan 490 kHz. PLC system dengan output power 10 W masih effektif s/d jarak +/- 160 km, untuk output 100 W masih effektif s/d +/- 240 km. Untuk merealisasikan jaringan komunikasi pada jaringan transmisi daya listrik ini diperlukan peralatan kopel (coupling equipment) seperti terlihat pada gambar 7.3 seperti: Line Trap dan Coupling Capacitor dan Line Matching Unit yang berfungsi menyesuaikan impedansi antara impedansi saluran dan impedansi peralatan PLC agar redaman terhadap sinyal yang dikirim sekecil mungkin. Adapun fungsi utama dari LineTtrap pada jaringan PLC adalah: memberikan impedansi yang tinggi terhadap frekuensi tinggi ( radio frequency ) dan impedansi yang dapat diabaikan pada frekuensi daya (Power Frequency / 50 ~ 60 Hz ). Hal ini menyebabkan signal dengan frekwensi tinggi terperangkap antara kedua ujung line. Biasanya untuk proteksi hanya dipakai satu bandwith dengan lebar bandwith sebesar 4 kHz, dengan waktu transmit selama 5 millidetik. Berikut rangkaian line trap yang diserikan dengan saluran transmisi tegangan tinggi:
L

Line Trap Power Line Carrier Communication

Coupling Capacitor

Gambar 7.4 Line Trap untuk membatasi Carrier Signal

Sedangkan Coupling capasitor adalah kondensator yang bekerja pada tegangan tinggi sebagai penghubung antara sisi tegangan tinggi ke sisi tegangan rendah bagi peralatan transmisi komunikasi PLC. Coupling capasitor mempunyai impedansi yang rendah untuk frekwensi tinggi, berfungsi melewatkan arus dengan frekuensi tinggi yang membawa informasi komunikasi dan dan sebaliknya mempunyai impedansi yang tinggi untuk frekwensi 50 Hz/ 60 hz, sehingga mencegah masuknya tegangan tinggi frekuensi 50 hz atau 60 hz ke peralatan terminal PLC atau metering. Jadi Coupling capasitor mempunyai fungsi kebalikan dari line trap. Line Matching Unit (LMU) atau yang biasa juga dikenal dengan line tuners terdiri dari tiga komponen utama, yaitu : protective unit, tuning units dan impedance matching transformer. Fungsi Line Matching Unit adalah menyesuaikan impedansi antara impedansi saluran dan impedansi peralatan PLC agar redaman dari sinyal yang dikirim sekecil mungkin. Berikut ini diagram hubungan komponen-komponen LMU dan coupling capasitor (gambar 7.5) :

Protection Signalling 71
R S T

Coupling Capasitor Coupling Capasitor

Protective Unit Tuning Units

Protective Unit Tuning Units

Protective Unit Tuning Units

LMU

Impedance Matching transformer

LMU

Impedance Matching transformer

Impedance Matching transformer

Hybrid Transformer To PLC

ke PLC

ke PLC

Penyambungan Fasa ke Tanah

Penyambunga Fasa - fasa

Gambar 7.5 Konfigurasi penyambungan LMU

1.

Ada beberapa macam konfigurasi dari peralatan kopel ini, antara lain: Konfigurasi satu fasa ke tanah ( phase to ground or single phase coupling) Pada konfigurasi ini line trap dipasang pada salah satu fase saja dan return path adalah tanah atau overhead ground wire. Sehingga keandalan komunikasi berkurang apabila saluran transmisi tersebut terganggu atau ditanahkan karena ada pekerjaaan pada salah satu fasa yang ber-jaringan PLC maka komunikasi tidak akan berfungsi.
R S T Line Trap Penghantar SUTT

Coupling Capasitor

LMU

ke Terminal PLC Gambar 7.6 Metoda Penyambungan Fasa ke Tanah

2.

Konfigurasi fasa ke fasa ( phase to phase coupling) Line trap dipasang pada dua fasa, jadi baik sending path maupun return path memakai konduktor saluran (line conductor). Konfigurasi ini lebih handal dibandingkan dengan konfigurasi sebelumnya karena apabila terjadi hubung tanah pada salah satu fasa untuk PLC maka sinyal tidak akan terpengaruh.

Protection Signalling 72

R S T
Line Trap

Penghantar SUTT

Coupling Capasitor

LMU

ke terminal PLC Gambar 7.7 Metoda penyambungan fasa ke fasa

3.

Konfigurasi line to line coupling Konfigurasi ini adalah yang paling ideal, karena apabila salah satu line ada pekerjaan atau gangguan maka line yang masih normal atau sehat masih bisa diandalkan untuk saluran komunikasi PLC.

Penghantar 1, SUTT

Line Trap

R S T Line Trap

Penghantar 2, SUTT

coupling capasitor

LMU

ke terminal PLC Gambar 7.8 Metoda penyambungan antar penghantar

7.2.1.2 Fibre Optik Pilot (Kabel Serat Optik) Akhir-akhir ini penggunaan kabel serat optik menjadi makin populer, karena dengan serat optik, saluran menjadi sangat banyak. Sebuah kawat serat optik dapat mempunyai 8000 saluran. Kabel serat optik, bukan suatu penghantar listrik, tidak dipengaruhi oleh medan listrik maupun medan magnet sehingga sangat baik digunakan untuk komunikasi dalam protection signalling. Serat optik (fiber optic) dapat menyampaikan informasi pada frekuensi dengan panjang gelombang cahaya tampak (memiliki kapasitas informasi yang besar yaitu 500 MHz)1 atau diatasnya). Komunikasi ini menjanjikan keandalan baik untuk transmisi jarak pendek maupun jarak jauh. Dan tidak sensitifnya terhadap gangguan suara dan gangguan listrik

Power Systems Contrtol, Torsten Cegrell

Protection Signalling 73

Penggunaan komunikasi serat optik dalam proteksi umumnya untuk transmisi saluran jarak pendek apabila PLC tidak cocok untuk digunakan. Metode pemasangan kabel serat optik yaitu: 1. tertanam langsung dalam tanah 2. terpasang pada tiang-tiang 3. mempunyai support tersendiri pada menara kawat high voltage tenaga listrik. 4. terpasang di dalam over head groundwire 5. dililit pada kawat fasa atau pada kawat tanah.

CB1

Saluran Transmisi

CB2

Relai

Relai

RCVR1

XMTR1 FO Mod FO XMTR/ RCVR

XMTR2

RCVR2

FO Demod

Fiber optic core

FO Mod FO XMTR/ RCVR

FO Demod

Gambar 7.9 Fiber Optic Pilot

keterangan : RCVR XMTR FO Demod FO Mod

: receiver : transmitter : Fiber Optic Demodulator : Fiber Optic Modulator

7.2.3 Microwave pilot (Radio Frequency)


Microwave pilot bekerja pada bandwidth antara 150 MHz dan 20 GHz. Komunikasi dengan menggunakan microwave ini biasanya digunakan pada saluran transmisi panjang dimana PLC tidak dapat menyediakan saluran komunikasi (channel) yang cukup, atau digunakan sebagai komunikasi kedua disamping PLC. Keuntungannya : 1 Komunikasi tidak akan terganggu oleh gangguan dan jika ada pemeliharaan pada penghantar, karena terpisah dari saluran daya. 2 Tersedianya lebar frekuensi (bandwidth) lebar yang besar memungkinkan proses signalling menjadi lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan media yang lain. 3 Biayanya relatif lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan media komunikasi kabel. 4 Penambahan pelayanan dapat disediakan dengan relatif lebih mudah dengan biaya rendah (misalnya penambahan channel). Kelemahannnya : harus bekerja dengan kondisi line of sight path. Sehingga untuk daerah berbukit-bukit, harus memakai repeater, hal ini menyebabkan: menjadi lebih mahal menurunkan keandalan

Protection Signalling 74

Dari gambar 7.9 terlihat sinyal nada audio (audio-tone signals) terlebih dahulu melalui peralatan modulatordemodulator sebelum ditransmisikan pada frekuensi microwave .
CB1 Saluran Transmisi CB2

Relai

Relai

RCVR1

XMTR1 MW Mod MW XMTR/ RCVR MW XMTR/ RCVR

XMTR2 MW Mod

RCVR2 MW Demod

MW Demod

Gambar 7.10 Microwave Pilot Protection

Keterangan: RCVR XMTR MW Demod MW Mod

: Receiver : Transmitter : Microwave Demodulator : Microwave Modulator

7.3 Pembagian relay pilot berdasarkan cara kerja


Selain pembagian pilot relay yang berdasarkan media komunikasi communication link), pilot relay dapat dibagi pula atas konsep operasinya, yaitu sebagai Blocking Pilot dan Tripping Pilot. Pada Blocking Pilot, proses trip untuk CB dimana pilot bersangkutan diletakkan akan di-blok apabila ada signal yang dikirim (transmitted) oleh pasangannya dan diterima oleh pilot yang bersangkutan. Sedangkan pada Tripping Pilot, proses trip hanya akan terjadi apabila sinyal yang dikirim (tranmitted) oleh pasangannya diterima oleh pilot yang bersangkutan. Adapun dasar pemilihan penggunaannya antara lain adalah : 1. Blocking pilot digunakan bilamana media komunikasi bagian integral dari saluran (line) yang diproteksi, misalnya plc pilot. 2. Tripping pilot digunakan bilamana media komunikasi merupakan bagian terpisah dari line yang diproteksi, misalkan microwave pilot, wire pilot atau fibre optic pilot.

7.3.1 Blocking Pilot System Protection


Salah satu blocking pilot system adalah Directional Comparison Blocking Pilot System. Sistem ini merupakan sistem pilot tertua yang penggunaannya dimulai pada tahun 1930-an dan sampai saat ini masih digunakan secara luas. Pada sistem ini arah dari aliran arus pada kedua terminal dibandingkan. Untuk gangguan internal (berada dalam daerah proteksi/zone protection), arus gangguan akan mengalir dari bus kedalam saluran, dan kondisi akan menghasilkan perintah trip. Sedangkan gangguan external (berada di luar daerah proteksi), informasi yang menyatakan arus gangguan mengalir ke-luar terminal digunakan untuk memblok proses trip. Pilot tipe ini, menggunakan signal dari pendeteksi gangguan ( fault detector/protection relay) untuk berfungsi sebagai blocking pilot. Umumnya adalah relay jarak (distance relay) untuk gangguan fasa (phase fault), dan directional instantenous overcurrent relays untuk gangguan ke tanah (ground fault). Berikut ini gambaran dari prinsip dasar operasi dari directional comparison blocking pilot systems.

Protection Signalling 75

Ro
B

saluran

F1

F2
B

Zone Protection

a. Diagram Sistem Daya dan Setting Relai

Ro B

: Overreaching, di-set pada zone 2 yaitu 120% ZLine : Blocking, di-set pada zone 4 ( Backward Zone ) yaitu 40% ZLine

R f1

R f1

Pilot Channel
B1 AND G1 T f1 T f1 AND H1 B2

Ro1

AND G2 Timer

AND

Ro2

Trip

Trip

Timer

H2

GI - G

GI - H

b.. Diagram Logika

POSITIF
Ro

Stop Blocking Signal


Cs RR Cs

Initiate Blocking Signal

Blocking Signal Receiver


52T

RR
52a

NEGATIF

c. Diagram Kontak Gambar 7.11 Rangkaian operasi directional comparison blocking pilot system

Keterangan : Cs RR 52T 52a : Carrier Starting relay : Receiver Relay : CB Trip Coil atau Trip relay : Kontak Bantu CB

Untuk gangguan internal (F1) yaitu pada saluran GH (lihat gambar III.1.a dan III.1.b), tidak ada sinyal yang akan ditransmisikan dari kedua terminal dan relay G akan memerintahkan CB1 untuk membuka. Demikian pula dengan relay H akan memerintahkan CB2 untuk membuka, penjelasan ini dapat dilihat pada tabel 8.1:

Protection Signalling 76

Tabel 7.1 Tabel Blocking scheme untuk gangguan Internal

Bus

Ro

NOT Ro

XMTR (NOT RO AND B)

RCVR

NOT RCVR

Output (NOT RCVR AND Ro)

G H

1 1

0 0

0 0

0 0

0 0

1 1

1 1

Keterangan: Output 0 = PMT tidak trip Output 1 = PMT trip Contoh operasi dari directional comparison blocking pilot untuk gangguan yang berada di sebelah kanan bus G (F2) : Relay 2 pada bus H : Ro2 tidak beroperasi sedangkan B2 beroperasi sehingga gerbang AND H1 menghasilkan keluaran 1 yang menyebabkan transmitter dapat mengirimkan sinyal ke stasiun G. Adapun gerbang AND H2 yang kedua input-nya 0 tidak menghasilkan keluaran yang memerintahkan CB2 untuk bekerja. Relay 1 pada bus G : Receiver menerima sinyal dari G sehingga keluaran dari gerbang AND G2 adalah 0 sehingga tidak ada perintah trip pada CB1 meskipun Ro1 beroperasi. Penjelasan di atas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 7.2 Tabel Blocking scheme untuk gangguan external
NOT Ro XMTR (NOT RO AND B) NOT RCVR Output (NOT RCVR AND Ro)

Bus

Ro

RCVR

G H

1 0

0 1

0 1

0 1

1 0

0 1

0 0

Prinsip ini juga berlaku untuk gangguan di sebelah kiri bus G. Contoh di atas memberikan gambaran bahwa untuk gangguan external, sinyal blok akan dikirim untuk mencegah CB trip (karena gangguan berada di luar daerah proteksi). Adapun kontak logika dasar (basic contact logic) untuk relai elektromekanik pada gambar 7.11.c prinsipnya sama dengan solid-state relay yang telah digambarkan sebelumnya. Untuk gangguan internal, fault detector dalam hal ini Ro beroperasi untuk menghentikan pengiriman sinyal blok. Jika tidak ada sinyal blok yang diterima dari stasiun lawan, kontak relai R akan tetap tertutup, sehingga proses trip akan tetap terjadi. Sedangkan koil Cs menyediakan beberapa ms sebagai waktu koordinasinya. Sedangkan untuk gangguan di luar terminal yaitu F2, akan dilihat oleh H yang akan mengirim sinyal blok sehingga koil R energize dan membuka kontak R. Hal ini menyebabkan proses trip diblok, walaupun Ro bekerja (operate).

Protection Signalling 77

7.3.2 Transfer Trip Pilot Protection


Transfer trip pilot protection didesain untuk menyediakan proses trip yang cepat (high-speed tripping) terhadap gangguan sepanjang saluran yang diproteksi, karena tidak ada delay time (waktu tunda) untuk proses trip-nya. Contoh transfer trip pilot protection antara lain : - Permissive Underreaching Transfer Trip Protection (PUTT) - Permissive Overreaching Transfer Trip Protection (POTT) 7.3.2.1 PUTT Sistem ini disebut sebagai permissive karena dua unit relai digunakan yang bekerjasama untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Ro 1 Ru 1
1

line F1 Ru2

Ro 2

Zone Protection
Ru = Underreaching, diset pada zone 1 = 80 90 % Zline Ro = Overreaching, diset pada zone 2 = 120 -140 % Z line

a. Diagram sistem daya dan relay setting


f1 f1 Pilot Channel

TA
Ru1 OR A

RB

Trip

Trip

OR B f2

Ru2

RB

f2
Pilot Channel b. Solid State Logic Diagrams Non-permissive Underreaching Transfer Trip
f1

TB

f1

TG

Pilot Channel

RH

Ru1 Ro1 AND G

OR G

Trip Trip
OR H

AND H

Ro2 Ru2

f2 RG

f2

Pilot Channel c. Solid State Logic Diagrams Permissive Underreaching Transfer Trip

TH

Protection Signalling 78

Positif Ro Ru RR Sinyal Trip ke terminal lawan


RR

Sinyal Trip dari sisi lawan 52a


52T

Negatif d. Diagram Kontak Logik Gambar 7.12 Prinsip operasi PUTT

Sistem permissive ini merupakan pengembangan dari sistem non permissive (gambar 7.12.b) yang hanya memiliki Ru sebagai fault detector, dimana semua gangguan external tidak akan menyebabkan beroperasinya Ru, sebaliknya untuk gangguan yang berada di daerah overlap - yaitu perpotongan antara daerah Ru1 dan Ru2 - membuat fault detector Ru akan beroperasi dan memerintahkan CB-nya masing-masing untuk trip. Namun sistem ini tidak luas digunakan karena dibutuhkannya pengamanan saluran, untuk mencegah operasi yang salah dari receiver sehingga dapat menghasilkan keluaran yang tidak benar. Misalkan terjadi suatu keadaan transient pada daerah proteksi saluran dan receiver mendeteksinya sebagai suatu pengiriman sinyal, kondisi ini dapat menghasilkan suatu proses trip. Karena proses trip pada non-permissive (gambar 7.12.c) ditentukan oleh receiver dan Ru, maka jika salah satunya bernilai satu (1) maka proses trip akan terjadi. Oleh karena itu untuk kasus seperti di atas, CB akan trip walaupun gangguan tidak terjadi pada penghantar yang diproteksi. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkanlah sistem permissive (gambar 7.12.c) dengan menambahkan overeaching fault detector (Ro) sehingga meskipun receiver bernilai satu (1) tetapi jika Ro bernilai nol (0) maka proses trip tidak akan terjadi. Jadi overeaching fault detector (Ro) ikut berperan dalam proses trip tidaknya CB. Untuk relai elektromekanik, operasinya digambarkan seperti pada 7.12.d. Fault detector Ru berfungsi mengirim sinyal trip ke sisi lawan untuk menutup kontak R, sedangkan Ro berfungsi untuk mengawasi proses trip pada sisi lawan. Sebagai contoh gangguan yang terjadi di F (seperti pada gambar 7.12.a), maka relai G langsung memerintahkan CB 1 untuk trip, dan mengirimkan sinyal trip ke H. Penerimaan sinyal trip ditambah dengan operasi dari overreaching fault detector Ro pada H (Ro2) menghasilkan perintah trip untuk CB2 seperti terlihat pada tabel 7.3: Tabel 7.3 PUTT untuk gangguan internal AND1 (Ro AND RCVR) 0 1 Output (AND1 OR Ru) 1 1

Bus G H

Ro 1 1

Ru 1 0

XMTR RCVR (Ru) 1 0 0 1

7.3.2.2 Permissive overeaching transffered trip (POTT) Sistem ini menggunakan dua signalling channel, atau kedua relai bekerja pada frekuensi yang berbeda, dan dibandingkan dengan PUTT, sistem ini memiliki lebih banyak keuntungannya untuk proteksi saluran, karena proses trip yang cepat (fast tripping) tetap terjadi untuk resistansi gangguan yang lebih tinggi (higher resistance fault) sepanjang saluran dibandingkan PUTT. Penggunaan power line carrier (PLC) tidak direkomendasikan digunakan sebagai media komunikasi untuk sistem ini, untuk menghindari terganggunya sinyal akibat gangguan yang terjadi pada suatu penghantar yang juga menjadi media untuk pengiriman sinyal, mengingat bahwa sinyal yang diterima menentukan proses trip. Media yang lebih cocok adalah microwave, karena sinyal gangguan tidak berpengaruh terhadap pengiriman sinyal. Adapun penggunaan serat optik kurang cocok untuk digunakan sebagai media komunikasi pada sistem ini karena jarak komunikasi serat optik tanpa repeater adalah 50-100 km atau dengan kata lain media serat optik lebih cocok digunakan untuk saluran yang pendek, sedangkan daerah proteksi dari sistem POTT adalah zone 2.

Protection Signalling 79

Ro1 CB
1

saluran

CB
2

Ro2

Zone Protection a. Diagram sistem daya dan setting relai


f1 Pilot Channel f1

TG

RH

Ro1

AND G

Trip Trip f2 f2
AND H Ro2 Pilot Channel

RG

TH

b. Solid State Logic Diagrams Permissive overrreaching Transfer Trip

Positif

Ro
Sinyal Trip ke terminal lawan RR

Sinyal Trip dari terminal lawan

RR 52a
52T

Negatif

c. Diagram Kontak Logik Gambar 7.13 Prinsip operasi dasar POTT

Untuk gangguan yang berada di sebelah kiri bus G yang masih terjangkau oleh Ro2 (lihat gambar 8.13.a dan 8.13.b), Ro1 relai tidak akan beroperasi sehingga tidak ada sinyal yang dikirim dari transmitter G ke receiver H yang menyebabkan CB2 tidak bisa operate. Walaupun Ro2 dapat menjangkau fault tersebut dan transmitter H mengirim sinyal ke receiver G, namun karena Ro1 tidak bekerja sehingga CB1 pun tidak akan trip. Proses ini sama untuk gangguan yang berada disebelah kanan bus H yang masih terjangkau oleh Ro1. Hal ini menunjukkan bahwa kedua terminal memblok proses tripping untuk gangguan external. Sedangkan untuk gangguan yang berada di dalam daerah proteksi (internal fault), kedua Ro1 dan Ro2 akan bekerja, sehingga kedua transmitter akan mengirim sinyal ke terminal lawan, sehingga kedua receiver pun menerima masukan yang selanjutnya akan menghasilkan keluaran trip untuk kedua CB. Pada gambar 7.13.c diagram kontak logika (contact logic diagram) memperlihatkan prinsip kerja POTT dengan menggunakan relai elektro- mekanik yang prinsipnya sama dengan solid state relay, dimana Ro akan beroperasi untuk gangguan pada saluran yang diproteksi, atau gangguan yang masih terjangkau oleh Ro, dan selanjutnya mengirim sinyal trip ke sisi lawan untuk menutup kontak R. Jika gangguan berada di dalam saluran yang diproteksi maka kedua Ro akan kerja dan mengirim sinyal serta akan menghasilkan perintah trip. Tapi untuk gangguan yang berada di luar daerah proteksinya (external fault) salah satu Ro akan tidak beroperasi, dan Ro inilah yang tidak akan mengizinkan proses trip dan tidak mengirim sinyal trip sehingga sisi lawan pun tidak akan mengalami proses trip. Dari penjelasan di atas jelas bahwa pada PUTT maupun POTT, saluran komunikasi menjadi sangat penting untuk menentukan bekerja tidaknya sistem proteksi karena pengiriman sinyal gangguan dibutuhkan untuk proses trip

Protection Signalling 80

jika gangguan terjadi di dalam daerah proteksi (Zone protection). Adapun untuk external fault maka sinyal yang diterima dari sisi lawan dibutuhkan untuk mencegah terjadinya over-trip.