Anda di halaman 1dari 4

EFEKTIFITAS PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KOMPRES AIR HANGAT DAN RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENGETAHUAN DAN

SIKAP PENGONTROLAN NYERI REMATIK ATRITIS PADA LANSIA DI DESA XXX

oleh maulana rian krisandi J210100023

program studi ilmu keperawatan fakultas ilmu kesehatan universitas muhammadiyah surakarta 2013

A. Latar Belakang Masalah


Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan, serta kondisi sosial ekonomi yang semakin membaik menyebabkan semakin meningkatnya angka harapan hidup (life expectancy) dan dipengaruhi juga oleh majunya pelayanan kesehatan, penurunan angka kematian bayi dan anak, perbaikan gizi dan sanitasi serta peningkatan pengawasan terhadap penyakit infeksi (Nugroho, 2005). Hal ini menyebabkan perubahan struktur umur penduduk yng ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah lanjut usia (lansia). diseluruh dunia, saat ini jumlah golongan lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa manusia dengan usia rata -rata 60 tahun dan perkiraan para ahli pada tahun 2025 angka terus akan bertambah mancapai 1,2 milyar manusia lanjut usia (lansia). (Nugroho, 2008) Meningkatnya jumlah lanjut usia yang sangat pesat ini terjadi tidak hanya dinegara maju melainkan dinegara-negara yang sedang berkembang (Bustan, 2007). Menurut Bustan (2006), Penyakit atau gangguan yang menonjol pada kelompok lansia adalah: gangguan pembuluh darah (dari hipertensi sampai stroke), gangguan metabolik (Diabetes Meletus), gangguan Persendian (arthritis, encok dan terjatuh) dan gangguan psikososial (kurang penyesuaian diri dan merasa tidak efektif lagi).

Dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut usia yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 propinsi tahun 2006, diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita Lansia adalah penyakit sendi (52,3%), dan hipertensi (38,8%), anemia (30,7%) dan katarak (23%). Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyebab utama disabilitas pada lansia (komnas lansia 2010). (Darmojo 2006). Berdasarkan data di puskesmas kalijambe, lanjut usia di kecamatan kalijambe berusia 45-70 tahun berjumlah 3.325 jiwa. (puskesmas kalijambe 2013). Terdapat 472 jiwa lanjut usia yang mengalami penyakit rematik atritis dan 87 jiwa lanjut usia masih belum tahu bagaimana cara untuk mengontrol rasa nyeri yang diakibatkan oleh rematik atritis. Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari hasil wawancara terhadap 40 jiwa lanjut usia didesa banaran menunjukan bahwa 30 jiwa lanjut usia hanya menahan dan mengeluh kesakitan saat nyeri rematik muncul, terkadang meminta anak atau cucu nya memijat pada bagian yang sakit. Dari permasalahan diatas maka perlu kiranya diadakan penelitian yang dapat memberikan pengetahuan tentang pengontrolan rasa nyeri rematik atritis sehingga peneliti ingin meneliti efektifitas pemberian pendidikan kesehatan tentang kompres air hangat dan relaksasi nafas dalam terhadap pengetahuan dan sikap pengontrolan nyeri rematik atritis pada lansia.

DAFTAR PUSTAKA Bustan, M.N. 2006. Pengantar epidimologi. rineka cipta. Bandung Bustan M N, 2007,. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta. 2007 Darmojo, R.B & Martono, H.H. 2006 Geriatri. Edisi ke-3. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta Nugroho,W(2005). Manajemen Penataan Lingkungan untuk Pelayanan Sosial dan Asuhan Keperawatan Lanjut Usia diBerbagai Tingkat Pelayanan Kesehatan . Fakultas Ilmu Keperawatan UniversitasIndonesia.jakarta Nugroho,W. 2008 Keperawatan Gerontik & Geriatrik. EGC. Jakarta Data lansia Puskesmas kalijambe. 2013