Anda di halaman 1dari 5

Istilah somatoform berasal dari bahasa Yunani.

Soma artinya tubuh; dan gangguan somatoform adalah kelompok penyakit yang luas dan memiliki tanda serta gejala yang berkaitan dengan tubuh sebagai komponen utama. Gangguan ini mencakup interaksi pikirantubuh; di dalam interaksi ini, dengan cara yang masih belum diketahui, otak mengirimkan berbagai sinyal yang memengaruhi kesadaran pasien dan menunjukkan adanya masalah serius di dalam tubuh. Di samping itu, perubahan ringan neurokimia, neurofisiologi, dan menunjukkan adanya masalah serius di dalam tubuh. Di samping itu, perubahan ringan neurkimia, neurofisiologi dan neuroimunologi dapat terjadi akibat mekanisme otak atau jiwa yang tidak diketahui yang menyebabkan penyakit. Menurut DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) memasukkan lima gangguan somatoform spesifik, yaitu 1) Gangguan somatisasi, ditandai dengan banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ; 2) Gangguan konversi, ditandai dengan satu atau dua keluhan neurologis; 3) hipokondriasis, ditandai dengan lebih sedikit fokus gejala daripada keyakinan pasien bahwa mereka memiliki suatu penyakit spesifik; 4) Gangguan dismorfik tubuh, ditandai dengan keyakinan yang salah atau persepsi yang berlebihan bahwa suatu bagian tubuhnya cacat; dan 5) Gangguan nyeri, ditandai dengan gejala nyeri yang hanya disebabkan, atau secara signifikan diperberat faktor psikologis.

Gangguan Somatisasi Gangguan ini ditandai dengan banyak gejalala somatik yang tidak dapat dijelaskan dengan adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Gangguan ini biasanya dimuai sebelum usia 30, dapat berlanjut hingga tahunan, dan dikenali sebagai kombinasi gejala nyeri, gastrointestinal, seksusal, serta pseudoneurologis. Gangguan somatisasi berbeda dengan gangguan somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan banyaknya sistem organ yang terlibat (contohnya gastrointestinal dan neurologis). Gangguan ini bersifat kronis dan disertai penderitaan psikologis yang signifikan, hendaya fungsi sosial dan pekerjaan, serta perilaku mencari bantuan medis yang berlebihan. Etiologi Faktor Psikososial Formulasi psikososial melibatkan interpretasi gejala sebagai komunikasi sosial, akibatnya adalah menghindari kewajiban (contoknya harus pergi ke tempat kerja yang tidak disukai), mengekspresikan emosi (contohnya marah kepada pasangan), atau menyimbolkan suatu

perasaan atau keyakinan (contohnya nyeri di usus). Interpretasi gejala psikoanalitik yang kaku bertumpu pada hipotesis bahwa gejala-gejala tersebut menggantikan impuls berdasarkan insting yang ditekan. Prespektif perilaku pada gangguan somatisasi menekankan bahwa pengajaran orang tua, dan adar istiadat dapat mengajari beberapa anak untuk lebih melakukan somatisasi daripada orang lain. Di samping itu sejumlah pasien dengan gangguan simatisasi datang dari keluarga yang tidak stabil dan mengalami penyiksaaan fisik. Faktor Biologis dan Genetik Sejumlah studi mengemukakan bahwa pasien memiliki perhatian yang khas dan hendaya kognitif yang menghasilan persepsi dan penilaian input somatosensorik yang salah. Hendaya ini mencakup perhatian mudah teralih, ketidak mampuan mengjabituuasi stimulus berulang, pengelompokan konstruksi kognitif dengan dasar impresionistik, hubungan parsial dan sirkumstansial, serta kurangnya selektivitas, seperti yang ditunjukkan sejumlah studi potensial bangkitan. Sejumlah terbatas studi frontalis dan hemisfer nondominan. Data genetik menunjukkan bahwa gangguan somatisasi dapat memiliki komponen genetik. Gangguan somatisasi cenderung menurun di dalam keluarga dan terjadi pada 10 hingga 20 persen kerabat perempuan derajat pertama pasien dengan gangguan somatisasi. Di dalam keluarga ini, kerabat laki-laki derajat pertama rentan terhadap penyalahgunaan zat dan gangguan kepribadian antisosial. Satu studi melaporkan bahwa angka kejadian bersama 29 persen pada kembar monozigot dan 10 persen pada kembar dizigot, menunjukkan adanya efek genetik. Penelitian sitokin, suatu area baru studi ilmu neurologi dasar, dapat relevan dengan gangguan somatisasi dan gangguan somatoform lain. Sitokin adalah molekul pembawa pesan yang digunakan sistem imun untuk berkomunikasi di dalam dirinya dan dengan sistem sarafm termasuk otak. Contoh sitokin adalah interleukin, faktor nekrosis tumor, dan interferon. Beberapa percobaan pendahuluan menunjukkan bahwa sitokin dapat berperan menyebabkan sejumlah gejala nonspesifik penyakit, terutama infeksi, seperti hipersomnia, anoreksia lelah, dan depresi. Walaupun belum ada data yang menyokokng hipotesis, pengaturan abnormal sistem sitokin dapat mengakibatkan sejumlah gejala yang ditemukan pada gangguan somatoform.

Diagnosis

Untuk diagnosis gangguan somatisasi, DSM-IV-TR mengharuskan awitan gejala sebelum usia 30 tahun. Selama perjalanan gangguan, pasien harus memiliki keluhan sedikitnya empat gejala nyeri, dua gejala gastrointestinal, satu gejal;a seksual, dan satu gejala pseudoneurologis, yang seluruhnya tidak dapat dijelaskan dnegan pemeriksaan fisik atau laboratorium. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Somatisasi A. Riwayat banyak keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama suatu periode beberapa tahun dan menyebabkan pencarian terapi atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting lain yang siginfikan. B. Masing-masing kriteria berikut ini harus dipenuhi, dengan setiap gejala terjadi pada waktu kapanpun selama perjalanan gangguan : 1. Empat gejala nyeri : riwayat nyeri yang berkaitan dengan sedikitnya empat tempat atau fungsi yang berbeda (cth,. Kepala, abdomen, punggung, sendi, ekstremitas, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungans eksual, atau selama berkemih) 2. Dua gejala gastrointestina : riwayat sedikitnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri (cth., mual, kembung, muntah, selain selama hamil diare, atau intoleransi terhadap beberapa makanan yang berbeda) 3. Satu gejala sekrual : riwayat sedikitnya satu gejala seksual atai reproduksi selain nyeri (cth., ketidakpedulian terhadap seks, disfungi ereksi atau ejakulasi, menstruasi tidak teratus, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang hamil) 4. Satu gejala pseudoneurologis : riwayat sedikitnya satu gejala atau defisit yang mengesankan keadaan neurologis tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan lokal, kesulitan menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi raba atau nyeri, penglihatan ganda, buta, tuli, kejang, gejala disosiatif seperti amnesia, atau hilang kesadaran selain pingsan) C. Baik (1) atau (2): 1. Setelah penelitian yang sesuai, setiap gejala kriteria B tidak dapat dijelaskan secara utuh dengan keadaan medis umum yang diketahui atau efek langsung suatu zat (cth., penyalahgunaan obat, pengobatan)

2. Jika terdapat keadaan medis umum, keluhan fisik, atau hendaya sosial atau pekerjaan yang diakibtakn jauh melebihi yang diperkirakan dari anamnesis, pemeriksaan fisik. Atau temuan laboratorium D. Gejala dihasilkan tanpa disengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau malingering). Gambaran klinis Pasien dengan gangguan somatisasi memiliki banyak keluhan somatik dan riwayat medis yang rumit dan panjang. Mual dan mutah (selain selama kehamilan), kesulitan menelan, nyeri di lengan dan tungkai, napas pendek tidak berkaitan dengan olah raga, amnesia, dan komplikasi kehamilan serta menstruasi adalah gejala yang pling lazim ditemui. Pasien sering menyakini bahwa mereka telah sakit selama sebagian besar hidup mereka. Gejala pseudoneurologis mengesankan, tetapi tidak patognomonik, untuk adanya gangguan neurologis. Menurut DSM-IV-TR, gejala pseudoneurologis mencakup gangguan koodinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan lokal, kesulitan menelan atau benjolan di tenggorok, afonia, retensi urine, halusinasi, hilangnya sensasi raba atau nyeri, penglihatan ganda, buta, tuli, kejang, atau hilang kesadaran selain pingsan. Penderitaan psikologis dan masalah interpersonal menonjol pada gangguan ini; ansietas dan depresi adalah keadan psikiatri yang paling sering. Ancaman bunuh diri lazim ada tetapi bunuh diri yang sesungguhnya jarang terjadi. Jika terjadi bunuh diri biasanya sering terkait penyalahgunaan zat. Riwayat medis pasien sering berbelit-belit, samar, tidak pasti, tidak konsisten, dan kacau. Pasien secara klasik, tetapi tidak selalu, menggambarkan keluhannya dengan cara yang dramatik, emosional, dan berlebihan, dengan bahasa yang jelas dan berwarna; mereka dapat bingung dengan urutan waktu dan tidak dapat membedakan dengan jelas gejala saat ini dengan yang lalu. Pasien perempuan dengan gangguan somatisasi dapat berpakaian dengan cara yang ekshibisionistik. Pasien dapat dianggap sebagai seseorang yang tidak mandiri, terpusat pada diri sendiri, haus pemujaan, dan manilipulatif. Diagnosis Banding Klinis harus menyikirkan keadaan medis nonpsikiatri yang dapat mejelaskan gejala pasien. Sejumlah gangguan medis sering menujukkan kelainan yang sementara dan nonspesifik pada kelompok usia yang sama. Gangguan medis ini mencakup sklerosis multiple (MS), miastenia gravis, systemic lupus erythematosus (SLE), acquired immune deficiency syndrome (AIDS),

porfiria akut intermiten, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, dan infeksi sistemik kronik. Awitan berbagai gejala somatik pada pasien yang berusia lebih dari 40 tahun harus dianggap disebabkan oleh keadaan medis nonpsikiatrik sampai pemeriksaan medis yang mendalam telah dilengkapi. Banyak gangguan jiwa dipertimbangkan dalam diagnosis banding, yang dipersulit pengamatan bahwa sediktinya 50 persen pasien dengan gangguan somatisasi juga memiliki gangguan jiwa lain bersamaaan. Pasien dengan gangguan depresif berat, gangguan ansietas menyeluruh, dan skizofrenia semuanya dapat memiliki keluhan awal yang berpusat pada gejala somatik. Meskipun demikian, pada semua gangguan ini, gejala depresi, ansietas, atau psikosis akhirnya mendominasi keluhan somatik. Walaupun pasien dengan gangguan panik dapat mengeluhkan banyak gejala somatik yang berkaitan dengan serangan paniknya, mereka tidak terganggu oleh gejala somatik diantara serangan panik. Di antara semua gangguan somatoform, hipokondriasis, gangguan konversi, dan gangguan somatisasi nyeri, pasien dengan penyakit tertentu, sedangkan pasien dengan gangguan somatisasi mengkhawatirkan banyak gejala. Gejala gangguan konversi terbatas pada satu atau dua sistem neurologis bukannya gejala gangguan somatisasi yang sangat beragam. Gangguan nyeri terbatas pada satu atau dua keluhan gejala nyeri.

Perjalanan Gangguan dan Prognosis Gangguan somatisasi adalah gangguan yang bersifat kronis dan sering membuat tak berdaya. Menurut definisi