Anda di halaman 1dari 8

Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan atas hartawan Muslim

suatu kewajiban zakat yang dapat menanggulangi kemiskinan. Tidaklah mungkin terjadi
seorang fakir menderita kelaparan atau kekurangan pakaian, kecuali oleh sebab
kebakhilan yang ada pada hartawan Muslim. Ingatlah, Allah SWT akan melakukan
perhitungan yang teliti dan meminta pertanggungjawaban mereka dan selanjutnya akan
menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih". [Al-Hadis]

Iblis "Bapaknya Tauhid"?


Senin, 04 Desember 2006

Lebih 37 ulama menghukumi Ibnu Arabi sebagai kafir dan murtad. JIL memujinya
dan menganggap ia pelopor “Pluralisme Agama. Apakah mereka lebih hebat dari ulama?

Oleh: Hizbullah Mahmud *

Muhyiddin Ibnu Arabi, yang juga dikenal dengan nama Ibnu Suraqah dan Syaikhul Akbar,
dilahirkan di Murcia, Spanyol Tenggara pada tanggal 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M,
dan meninggal di Damaskus, Suriah, pada tahun 638 H/1240 M. Beliau adalah tokoh sufi
yang sangat berpengaruh hampir diseluruh dunia Islam hingga sekarang. Terkenal dengan
ajaran "wahdatul wujud" yang penuh kontroversial dan menunai banyak kritik, selain itu
beliau juga mengemukakan pendapat lain yang tidak kalah kontroversialnya.

Lebih jauh, beliau berpendapat bahwa Iblis adalah "bapaknya Tauhid" dikarenakan tidak mau
bersujud kepada nabi Adam, sebagaimana kisah dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 34:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada
Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk
golongan orang-orang yang kafir".

Menurut para mufasirin, kata sajada (sujud) dalam ayat diatas tidak mesti berarti
menyembah, bahkan para ulama sepakat bahwa sujud malaikat kepada Adam bukanlah sujud
untuk menyembah. Seperti halnya orang Islam yang bersujud menghadap Ka’bah, tidak berarti
dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan menyembah Allah swt
dengan menghadap ke Ka’bah. Begitu juga para malaikat sujud menghadap Adam demi
melaksanakan perintah Allah swt, dan mereka sebenarnya sedang sujud dan menyembah Allah
swt, bukan menyembah Adam.

Ibadah sendiri berarti mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya,
sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji, dia diperintahkan untuk
mencium hajar aswad dan melempar jumrah yang disimbolkan sebagai Iblis, amalan-amalan
ini disebut ibadah karena melaksanakan perintah Allah.(Tafsir Sya’rawi : Juz: 1 Hal: 254)

Makna lain dari kata sajada adalah penghormatan. Imam Qurtubi menyebutkan ijma’ ulama
bahwa sujud malaikat kepada Adam bukanlah sujud untuk menyembah .( Tafsir Qurtubi : Juz 1
Hal: 201)

Sujud para malaikat kepada Adam bisa kita masukkan dalam katagori "sujud penghormatan".
Sujud penghormatan ini kita dapatkan juga dalam kisah nabi Yusuf as. Pada waktu nabi Yusuf
as sudah menjadi menteri di Mesir, saudara-saudaranya beserta kedua orang tua-nya datang
mengunjunginya, kemudian mereka bersujud di depan nabi Yusuf as sebagai bentuk
penghormatan kepadanya , sebagaimana firman Allah swt :" Dan ia menaikkan kedua ibu-
bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud" ( QS
Yusuf : 100 )

Sujud penghormatan ini, merupakan syari'at atau ajaran umat-umat terdahulu, kemudian
setelah datangnya Islam, syari’at ini dihapuskan.

Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, bahwasanya ia berkata :
"Ketika saya datang ke Syam, aku melihat orang-orang kristen sujud kepada para pemimpin
dan pendeta mereka, dan aku menganggap engkau wahai Rasulullah saw orang yang paling
berhak untuk kami sujud kepada-mu. Berkata Rasulullah saw : tidak , kalau saya boleh
perintahkan manusia bersujud kepada manusia, niscaya saya perintahkan seorang istri sujud
kepada suaminya, karena besarnya hak suami kepadanya" (HR Tirmidzi)

Sebagian ulama mengambil istinbat (kesimpulan) dari ayat ini, bahwa orang yang
meninggalkan shalat dan tidak mau sujud kepada Allah sekali saja, niscaya dia dihukumi
sebagai orang kafir, sebagaimana yang terjadi pada diri Iblis. Ini bagi yang meninggalkan
shalat sekali, bagaimana kiranya orang yang secara sengaja meninggalkan shalat bekali-kali.

Qiyas Yang Tertolak

Iblis menolak sujud kepada Adam, karena dia merasa lebih baik dari Adam. Dia menganggap
bahwa unsur Api, lebih baik daripada unsur Tanah. Qiyas yang digunakan Iblis di atas adalah
qiyas yang tertolak. Ini berdasarkan empat alasan :

Pertama, Qiyas seperti ini tidak bisa diterima , karena bertentangan dengan teks Al Qur’an.
Dalam kaidah ushul disebutkan bahwa qiyas jika berhadapan dengan teks, secara otomatis
telah tertolak.

Kedua, tidak benar kalau api itu lebih baik dari tanah, bahkan sebaliknya tanah itu lebih baik
dari api, karena tanah mempunyai sifat yang ringan sedang api sifatnya merusak dan
membakar. Tanah juga bersifat membangun dan menumbuhkan biji-biji yang ditanam di
dalamnya, Jika anda ingin melihat fungsi tanah, lihatlah taman yang hijau , dipenuhi dengan
pohon yang rindang, dihiasi dengan buah-buhan yang lezat dimakan, nyaman dipandang,
setiap orang merasa betah tinggal di dalamnya. Ini semua menunjukkan bahwa tanah jauh
lebih baik dari api.

Ketiga, taruhlah, kita terima bahwa api lebih baik daripada tanah, akan tetapi hal itu tidak
menunjukkan bahwa Iblis lebih baik dari Adam . Karena bisa saja terjadi induknya baik, tapi
keturunannya jelek. Kita dapatkan banyak orang tua yang baik, tetapi anaknya rusak dan bejat
.

Keempat, sebenarnya kalau saja Iblis mau jujur, mestinya dia merasa malu, karena pada waktu
dia menolak untuk sujud kepada Adam, disitu terdapat makhluk yang lebih tinggi derajatnya
yaitu malaikat, karena mereka diciptakan dari cahaya. Walaupun begitu mereka mau bersujud
ketika diperintah Allah, seharusnya --secara akal sehat-- yang lebih rendah derajatnya ikut
sujud juga. Akan tetapi begitulah Iblis, dia sombong dan menolak untuk sujud .

Hukum Meremehkan Perintah Allah

Rasa takabbur dan sombong merupakan sifat yang sangat tercela. Pertama kali yang
mempunyai sifat ini adalah Iblis. Seseorang yang mempunyai sifat seperti ini akan dijauhkan
dari syurga .

Rasulullah saw bersabda; "Tidak masuk syurga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sebiji
sawi dari perasaan sombong, seorang sahabat bertanya : Wahai Rasulullah saw : Seseorang
senang memakai baju yang indah dan sandal yang indah, apakah yang demikian itu termasuk
sombong ? Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai yang
indah-indah, akan tetapi hakekat sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan
manusia". (HR Imam Muslim)

Dari sini, para ulama secara sepakat menyatakan bahwa siapa saja yang meremehkan perintah
Allah dan Rosul-Nya, maka hukumnya adalah kafir, Sebagaimana yang dilakukan Iblis.(Tafsir
Qurtubi juz: 1 hal: 203)

Dikarenakan drastisnya penyelewangan yang ditampilkan maka tidak kurang dari 37 ulama
menghukuminya sebagai kafir dan murtad. Diantara ulama tersebut adalah ulama-ulama besar
yang dikenal sampai kini "Ibnu Daqieq Al-‘ Ied, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,
Qadhi ‘Iyadh, Al-‘Iraqi, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Al-Jurjani, Izzuddin Ibn Abdis Salam, An-
Nawawi, Adz-Dzahabi, Al-Balqini".

Anehnya, oleh kelompok JIL, Ibnu Arabi malah diklaim sebagai sosok "sufi liberal" dan
pelopor paham “Pluralisme Agama.” Pemikirannya sangat disanjung-sanjung dan diterima
tanpa adanya sikap kritis, ketenarannya sampai melebihi para ulama yang mengkafirkannya.
Innalillahi wa inna lilai raajiuun.

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al Azhar Fakultas Syari'ah Islamiyah. Tulisan


disarikan dari buku "Al Qur'an dan Kehidupan" oleh: Ahmad Zein An Najah MA.

Tauhid, Hamka, dan Al Qur'an


Rabu, 20 Desember 2006
Islam adalah agama nabi Ibrahim juga agama nabi-nabi bani Israil. Tidak
mungkin sama antara orang-orang yang mempercayai kenabian Muhammad dengan
yang tidak bahkan melecehkannya

Oleh: Nuim Hidayat

Ada sebuah hadis yang sahih, dirawikan dari Abd bin Humaid dari ar Rabi’ bin
Anas...bahwa seketika (suatu ketika) orang bertanya kepada Rasulullah, tentang siapa
yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat. Lalu Rasulullah menjawab:”Yang
dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai ialah Yahudi dan yang dimaksud orang-
orang yang sesat ialah Nasrani.” (Hamka, Tafsir Al Azhar, Juzu’1:93)

Begitulah Buya Hamka menafsirkan surat al Fatihah ayat 7, yang berbunyi: “Jalan
orang-orang yang Engkau kurniai nikmat atas mereka, bukan (jalan) orang-orang yang
telah dimurkai atas mereka dan bukan jalan orang-orang sesat.”

Jadi, kalau kita ingin melihat pendapat Hamka tentang Kristen, Yahudi dan agama-
agama lain selain Islam, alangkah adilnya bila kita melihat pendapat Hamka kepada
ayat-ayat yang lain. Sebagaimana kalau kita ingin melihat tafsir Al Qur’an pada suatu
kata, alangkah kelirunya bila kita main cuplik satu dua ayat, tapi tidak mau melihat
ayat-ayat lainnya.
Sudah lama kalangan pluralis (Islam liberal) menjadikan surah Al Baqarah ayat 62 dan
Al Maidah ayat 69 sebagai senjata mereka untuk membela bahwa agama-agama lain
di luar Islam bukan jalan yang sesat. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-
orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang
benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Maidah
: 69). Ayat hampir sama terdapat pula dalam surat Al Baqarah ayat 62.

Mereka beralasan, bahwa disitu hanya disebut kalimat “beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal saleh”, sebagai syarat untuk masuk surga. Tidak disebut disitu
kalimat “beriman kepada Nabi Muhammad” sebagai syarat untuk jalan keselamatan.

Cara penafsiran seperti ini sebenarnya sangat aneh, kalau tidak mau dikatakan
ngawur. Karena ada beberapa ayat yang hanya menyebut beriman kepada Allah dan
hari kemudian, tapi ada kaitannya dengan iman kepada Rasul. Dalam surat al Ahzab
dinyatakan: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. 33:21). “Sesungguhnya pada mereka itu
(Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang
mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barangsiapa
yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha
terpuji.” (QS. 60:6).

Selain itu banyak ucapan Rasulullah saw. yang terkenal hanya menyebutkan iman
kepada Allah dan hari Akhir. Misalnya: “Barangsiapa iman kepada Allah dan hari Akhir,
maka hormatilah tamunya.” Ada pula: “Barangsiapa iman kepada Allah dan hari Akhir,
maka hormatilah tetangganya.” Bagaimana Anda menafsirkan hadits seperti ini?

Selain itu ayat-ayat Al Qur’an untuk menyebut masalah keimanan –termasuk iman
kepada Nabi Muhammad saw—kadang-kadang hanya menyebut iman saja, kemudian
iman kepada Allah saja, iman kepada hari kiamat, iman kepada Rasul dan kadang
menyebut lengkap rukun iman (selain iman kepada takdir yang disebut dalam hadits
Rasulullah saw.). “Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya
dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul -Nya. (Mereka
mengatakan):"Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain)
dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan:"Kami dengar dan kami ta'at". (Mereka
berdoa):"Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (QS.
Al Baqarah 285)

Terus bagaimana kaum pluralis memahami ayat di bawah ini. Yaitu dalam surat al
Maidah disini hanya menyebut “Hai orang-orang yang beriman”, siapakah yang
dimaksud di situ apakah orang Islam saja atau orang-orang non Islam juga? Firman
Allah swt: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah
pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka
menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS.
5:51). Juga firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS.
2:153). Ratusan ayat Al Qur’an yang menyebut iman –yang maknanya Islam ini—
dengan lafadz “aamanu” saja.

Agama Tauhid

Dalam Al Qur’an dan Hadits telah dijelaskan secara gamblang, bahwa seluruh agama
Nabi dan Rasul adalah Islam. Maknanya tidak satu nabi pun beragama Nasrani,
Yahudi, Majusi atau lainnya. Hadits Rasulullah saw : “Kami semua nabi-nabi, agama
kami sama, aku orang yang paling dekat kepada putera Maryam, karena tidak ada
satu pun nabi antara aku dan dia.” (HR Bukhari-Muslim). “Nabi-nabi adalah
bersaudara, agama mereka satu, meskipun ibu-ibu mereka berlainan.” (Lebih lanjut
lihat buku “Tren Pluralisme Agama” karya Dr. Anis Malik Thoha, GIP, 2005. Buku ini
mendapat penghargaan sebagai karya ilmiah terbaik “Ismail al Faruqi Publications
Award” dari IIUM, Kuala Lumpur).

Firman Allah swt: “Ketika Tuhan-nya berfirman kepadanya:"Tunduk patuhlah (Islam


lah)!" Ibrahim menjawab:"Aku tunduk patuh (berislam) kepada Tuhan semesta
alam.Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula
Ya'kub. (Ibrahim berkata):"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama
ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Adakah
kamu hadir ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada
anak-anaknya:"Apa yang kamu sembah sepeninggalku". Mereka menjawab:"Kami
akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il, dan Ishaq,
(yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya menjadi Muslim (tunduk kepada-Nya)".
(QS. 2:131-133).

Jadi jelas disitu, Islam adalah agama nabi Ibrahim. Juga Islam adalah agama nabi-nabi
bani Israil lainnya. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya
(ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan
perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah
(Muslim)...” (QS. Al Maidah 44).

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia:"Siapakah
yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah" Para
hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab:"Kamilah penolong-penolong (agama)
Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang berserah diri (Muslim)”. (QS. Ali Imran 52).

Karena itu Syekh Ibn Arabi menyatakan: “Syariat-syariat semuanya adalah cahaya,
dan syariat Muhammad saw. diantara cahaya-cahaya ini ibarat seperti cahaya
matahari di antara cahaya bintang-bintang. Ketika matahari muncul reduplah cahaya-
cahaya bintang-bintang tersebut dan terserap kedalam cahaya matahari. Maka
sirnanya cahaya-cahaya tersebut ibarat dinaskhnya syariat-syariat dengan syariat
Muhammad saw. dengan tetap eksisnya hakikat syariat-syariat tersebut, sebagaimana
tetap eksisnya cahaya bintang-bintang. Oleh karena itu kita diwajibkan mengimani
semua rasul. Dan semua syariat mereka adalah benar, dan tidak dinaskh karena batal
atau salah sebagaimana yang diduga orang-orang bodoh. Maka semua jalan (syariat)
mengacu pada jalan (syariat)nya Nabi saw. Seandainya para rasul hidup pada
zamannya (Nabi Muhammad saw.) niscaya mereka akan mengikutinya sebagaimana
syariat mereka mengikuti syariatnya.”

Walhasil, karena Yahudi dan Nashrani tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad saw,
maka batallah keimanan mereka. Tidak mungkin sama antara orang-orang yang
mempercayai kenabian Nabi Muhammad dengan yang tidak mempercayai, bahkan
melecehkannya. Allah Maha Pengampun sekaligus Maha Keras Siksaan-Nya.
Lihatlah contoh di dunia ini, tidak semua orang tampan, tidak semua orang punya mata
dan tidak semua orang kaya. Keadilan Allah tidak bisa kita ukur dengan akal semata
di dunia ini. Keadilan Allah akan terbukti di akherat nanti. Wallahu aziizun hakiim.*

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Jurnal Al Insan-GIP

Mengapa Al-Quran Berbahasa Arab?


Rabu, 27 September 2006
Setiap saat, lahir orang-orang alim yang mampu menghapal isi kandungan
Kitab Suci Al-Quran. Hatta, orang buta atau anak kecil. Itulah bedanya dengan Kitab
Suci lain [Lanjutan Universalitas Al-Qur’an bagian 2- habis]

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *)

“Mengapa Al-Quran diturunkan kepada seorang Nabi yang miskin dan buta huruf
(ummiy)? Mengapa tidak diberikan kepada pembesar Mekkah maupun Tha’if saja?”
Pertanyaan seperti ini sering terjadi. Sama hal nya dengan pernyataan, “Mengapa Al-
Qur’an berbahasa Arab?”

Banyak dalil yang mengungkap hal ini. Diantaranya; QS. 12: 2, 14: 4, 13: 37, 16: 103,
19: 97, 20: 113, 26: 193-195, 26: 198-199, 39: 28, 41: 3, 41: 44, 43: 3, 44: 58, dan 46 :
12.

Boleh dikata, hampir semua ayat tersebut menyatakan, bahwa Al-Qur’an itu diturunkan
dalam “bahasa Arab”. Adalah keliru jika karena Allah menurunkan Al-Quran ke dalam
bahasa Arab kemudian dikatakan “tidak universal”.

Kenapa Allah memilih bahasa Arab? Bukan bahasa lain? Barangkali itu adalah hak
Allah. Meski demikian, pilihan Allah mengapa Al-Quran itu dalam bahasa Arab bisa
dijelaskan secara ilmiah.

Pertama, sampai hari ini, bahasa yang berasal dari rumpun Semit yang masih
bertahan sempurna adalah bahasa Arab. Bahkan Bible (Old Testament) yang diklaim
bahasa aslinya bahasa Ibrani (Hebrew) telah musnah, sehingga tidak ada naskah asli
dari Perjanjian Lama.

Meskipun begitu, menurut Isrâ’il Wilfinson, dalam bukunya Târîk al-Lughât al-
Sâmiyyah (History of Semitic Language), seperti yang dikutip Prof. Al-A‘zamî, ternyata
bahasa asli PL itu tidak disebut Ibrani.

Bahasa pra-pengasingan (pre-exilic language) yang digunakan oleh Yahudi adalah


dialek Kanaan dan tidak dikenal sebagai Ibrani. Orang-orang Funisia (atau lebih
tepatnya, orang-orang Kanaan) menemukan alfabet yang benar pertama kali ± 1500
S.M, berdasarkan huruf-huruf ketimbang gambar-gambar deskriptif.
Semua alfabet yang berturut-turut seterusnya adalah utang budi pada, dan berasal
dari, pencapaian Kanaan ini. (Prof. Dr. M.M. Al-A‘zamî, The History of The Qur’ânic
Text from Revelation to Compilation (edisi Indonesia), terjemah: Sohirin Solihin, dkk.,
GIP, 2005, hlm. 259).

New Testament (Gospel, Injil) yang diklaim bahasa aslinya adalah bahasa “Yunani”
juga sudah hilang, sehingga tidak ada naskah asli dari Injil. Bahkan, ini bertentangan
dengan bahasa Yesus, yang sama sekali tidak paham bahasa Yunani. Bukankah ini
‘mencederai’ saktralitas Injil yang diklaim sebagai ‘firman Tuhan’?

Kedua, bahasa Arab dikenal memiliki banyak kelebihan: (1) Sejak zaman dahulu kala
hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup, (2) Bahasa Arab
adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan
keakhiratan, (3) Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjungsi),
yang amat luas hingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan, yang demikian itu tak
terdapat dalam bahasa lain. (Lihat, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag, edisi revisi,
Juli 1989, hlm. 375 (foot-note).

Ketiga, Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. dalam bahasa Arab yang
nyata (bilisanin ‘Arabiyyin mubinin), agar menjadi: mukjizat yang kekal dan menjadi
hidayah (sumber petunjuk) bagi seluruh manusia di setiap waktu (zaman) dan tempat
(makan); untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya: dari kegelapan
“syirik” kepada cahaya “tauhid”, dari kegelapan “kebodohan” kepada cahaya
“pengetahuan”, dan dari kegelapan “kesesatan” kepada cahaya “hidayah”.

Tiga poin itu berjalan terus atas izin Allah sampai dunia ini hancur, yakni Risalah
(Islam), Rasul (Muhammad SAW) dan Kitab (Al-Qur’an)). (Lihat, Prof. Dr. Thaha
Musthafa Abu Karisyah, Dawr al-Azhar wa Jami‘atihi fi Khidmat al-Lughah
al-‘Arabiyyah wa al-Turats al-Islamiy, dalam buku Nadwat al-Lughah al-‘Arabiyyah,
bayna al-Waqi‘ wa al-Ma’mul, 2001, hlm. 42).

Karena Islam itu satu risalah (misi) yang “universal” dan “kekal”, maka mukjizatnya
harus retoris (bayaniyyah), linguistik (lisaniyyah) yang kekal. Dan Allah telah berjanji
untuk memelihara Al-Qur’an, seperti yang Ia jelaskan, “Sesungguhnya Kami yang
menurunkan al-Dzikra (Al-Qur’an) dan Kami pula yang memeliharanya.” (Qs. 15: 9).

Keempat, menurut Syeikhu’l-Islam, Ibnu Taimiyah, “Taurat diturunkan dalam bahasa


Ibrani saja. Dan Musa ‘alayhissalam tidak berbicara kecuali dengan bahasa itu. Begitu
juga halnya dengan al-Masih: tidak berbicara tentang Taurat dan Injil serta perkara lain
kecuali dengan bahasa Ibrani. Begitu juga dengan seluruh kitab. Ia tidak diturunkan
kecuali dengan “satu bahasa” (bilisanin wahidin): dengan bahasa yang dengannya
diturunkan kitab-kitab tersebut dan bahasa kaumnya yang diseru oleh para rasul.

Seluruh para Nabi, menyeru manusia lewat bahasa kaumnya yang mereka ketahui.
Setelah itu, kitab-kitab dan perkataan para Nabi itu disampaikan: apakah
diterjemahkan untuk mereka yang tidak tahu bahasa kitab tersebut, atau orang-orang
belajar bahasa kitab tersebut sehingga mereka mengerti makna-maknanya. Atau,
seorang utusan menjelaskan makna-makna apa yang dengannya ia diutus oleh Rasul
dengan bahasanya...” (Lihat, Ibnu Taimiyah, al-Jawb al-Shahih liman Baddala Dina’l-
Masih (Jawaban Yang Benar, Bagi Perubah Agama Kristus), (Cairo: Dar Ibnu al-
Haytsam, 2003, jilid 1 (2 jilid), hlm. 188-189).
Sebagaimana Taurat dan Injil, Al-Quran diturunkan dalam satu bahasa, bahasa
kaumnya. Bedanya, kenabian yang ada sebelum Islam, hanya diperuntukkan pada
kaum tertentu atau zaman tertentu (lokalitas) saja. Nuh misalnya, hanya diutus kepada
kaumnya (QS. 7: 59); Hud kepada kaumnya (QS. 7: 65); Shaleh kepada kaumnya (QS.
7: 73); Luth kepada kaumnya (QS. 7: 80); Syu‘aib kepada kaumnya (QS. 7: 85); dan
Musa kepada Fir‘aun dan para punggawanya (QS. 7: 103).

Dakwah Nabi SAW di “Ummu’l-Qura”, sebagaimana arti yang sudah dijelaskan


panjang lebar, bukan hanya dalam pengertian Mekkah semata. Juga bukan hanya
untuk orang Quraisy, tidak pula untuk Jazirah Arabia saja, tapi untuk seluruh alam.
(Baca QS. 25: 1, 34: 28, 7: 158, dan 9: 33).

Jika kalangan Nasrani menganggap Al-Quran tidak universal, maka, seharusnya yang
lebih tidak universal justru Bible.

Meski bahasa Arab adalah bahasa yang rumit, namun bukanlah hal susah bagi umat
Islam menghapalkannya. Ini berbeda dengan kitab suci lain, sebagaimana Bible
misalnya. Keuniversalan Al-Quran lainnya, dibuktikan dengan bagaimana Allah
menjaganya melalui orang-orang alim dan yang memiliki kelebihan dalam
menghapalkannya (tahfiz). Meski terdiri dari ribuan ayat, dalam sejarah, selalu saja
banyak orang mampu menghapalkannya secara cermat dan tepat. Hatta, ia orang buta
atau anak kecil sekalipun. Al-Quran, mudah dihapal atau dilantunkan dengan gaya
apapun. Diakui atau tidak, ini berbeda dengan Bible atau Injil.

Karena itu, setiap usaha apapun untuk menambah atau mengurangi Al-Quran baik
yang dilakukan kalangan orientalis atau orang kafir dalam sepanjang sejarah selalu
saja ketahuan. Jangan heran bila banyak umat Islam tiba-tiba ribut gara-gara ada Al-
Quran palsu atau sengaja dipalsukan sebagaimana terjadi dalam kasus “The True
Furqon.” Barangkali itulah cara Allah menjaganya.

Dan hebatnya, para penghapal Al-Quran, setiap saat selalu saja lahir dan bisa
ditemukan di seluruh dunia. Untuk yang seperti ini, di Indonesia, bahkan sudah mulai
banyak dijadikan sebagai pesantren-pesantran formal.

Sebaliknya, bagi kita, belum pernah terdengar ada orang Kristen atau Yahudi yang
hapal keseluruhan kitab suci mereka. Bahkan termasuk pendeta atau pastur sekalipun.
Mengapa bisa demikian? Saya kira Anda lebih tahu jawabannya. Wallahu a‘lamu bi al-
shawab. []

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Tafsir-Hadits di Universitas Al-Azhar, peminat


Qur’anic Studies and Christology.