Anda di halaman 1dari 56

[STANDAR

PELAYANAN KAMAR
OPERASI]
Disusun oleh : dr. H. Hakiki Akbari
SURAT KEPUTUSAN

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM BUDI LUHUR

Nomor : 001/III/ Dir/RSBL/SK/2009

Perihal : Falsafah dan Tujuan Kamar Operasi RSBL

Lampiran :

Direktur Rumah Sakit Budi Luhur

Menimbang : Perlunya penertiban dan konsolidasi internal seluruh aspek


pelayanan dan pengelolaan Rumah sakit secara keseluruhan

Mengingat : 1. SK menkes No.67781/RS/63 tahun 1963 tentang syarat-syarat


pokok Rumah sakit swasta

2. Daftar Tata cara dan syarat pendirian / Pembangunan dan


penyelenggaraan Rumah sakit swasta

3. SK Badan Pendiri Yayasan Kesehatan Budi Luhur


No.446/01/YKBL/SK/Sek/07 tentang pengangkatan Direktur Rumah
Sakit Budi Luhur

Memutuskan

Menetapkan :

Falsafah Kamar Operasi RSU. Budi Luhur :

Memberikan pelayanan Kamar Operasi kepada pasien, keluarga pasien


dan masyarakat secara profesional dan holistik, dengan mengedepankan
nilai nilai kemanusiaan dan solusi tanpa membeda bedakan bangsa, suku,
agama, dan dilaksanakan oleh seluruh perawat RSU. Budi Luhur secara
cepat, ramah, dan ilmiah

Tujuan Pelayanan Kamar Operasi RSU. Budi Luhur :

Memberikan Pelayanan kamar Operasi yang bermutu tinggi, efektif dan


efisien kepada pasien, keluarga pasien dan masyarakat di RSU Budi Luhur
Cirebon

Ditetapkan di Cirebon
Pada tanggal 04/03/2009

Direktur Rumah Sakit BudiLuhur

(dr. H. Hakiki Akbari )

TATA RUANG DAN BANGUNAN


KAMAR OPERASI DAN KAMAR
BERSALIN
• LOKASI
○ Lokasi OK dan VK harus mudah di capai dari bagian lain dan satu sama lain

• BENTUK
○ Sudut-sudutnya todak bolehtajam, baik sudut lantai, dinding maupun langit –
langit
○ Dinding, lantai dan langit-langit terbuat dari bahan yang keras, tidak berpori,
tahan api, kedap air tidak mudah kotor, tidak licin, tidak mempunyai
sambungan, warna terang.\, mudah dibersihkan dan tidak ada tempat
menampung debu
• UKURAN
○ Ukuran minimal 30 – 40 m2, maksimal 55 – 60 m2 tinggi plafon minimal 2,5
m, maksimal 3,65 m

• PINTU
○ Sebaiknya bentuk pintu sliding, namun bila pintu swing, maka pintu harus
selalu tertutup dengan menggunakan penutup otomatis
○ Ukuran pintu minimal 1,2 X 2,10 m
○ Pintu harus selalu terawat, dan tidak boleh mengeluarkan suara

• JENDELA
○ Harus ada kaca tembus pandang agar orang dari luar dapat melihat
keadaan di dalam kamar bedah tanpa harus masuk

• VENTILASI
○ Memakai AC dilengkapi filter dan sistem ultraclean luminay airflow
○ Suhu diatur antara 19 – 22 oC dan kelembaban udara 50 – 60 %
• SISTEM PENERANGAN
○ Lampu ruangan memakai lampu pijar putih tertanam di dalam langit-langit
sehingga tidak menampung debu dan mudah dibersihkan
○ Pencahayan ruangan sesuai peraturan pencahayaan pada buku ini
○ Lampu operasi merupakan lampu khusus yang terdiri dari beberapa lampu
yang fokusnya dapat diatur, tidak panas, terang, tidak menyilaukan dan tidak
menimbulkan bayangan

• SISTEM GAS
○ Sistem gas sebaiknya dibuat sentral memakai sistem pipa
○ Sistem pipa melalui bawah lantai atau diatas langit-langit
○ Dibedakan sistem pipa O2 dan Nitrogen Oksida

• SISTEM LISTRIK
○ Harus ada sistem penerangan darurat dan sistem listrik cadangan
○ Bila dalam kamar bedah ada beberapa titik penyambungan aliran listrik,
maka sebaiknya dibedakan sirkuitnya sehingga bila terjadi gangguan listrik
pada satu titik, maka bisa dipindahkan ke titik lainnya

• SISTEM KOMUNIKASI
○ Harus ada sistem komunikasi dengan ruangan lain di dalam RS dan ke luar
RS

• INTRUMENTASI
○ Semua peralatan harus mobile, mempunyai roda atau diletakkan diatas
trolley beroda
○ Semua alat sebaiknya terbuat dari stainless steel dan mudah dibersihkan
A. SISTEM ZONASI DI KOMPLEKS OK-VK

KM Sphk
VK RR R inst OK 1
HW

Koridor
R. Sterilisasi

OK 2 RGP
R. Duduk
RG

Dpr
R. Istirahat
KM

• ZONA 1 : Zona Bebas terbatas ditandai dengan warna hijau


• ZONA 2 : Zona Bersih (Clean Zone) ditandai dengan warna kuning
• ZONA 3 : Zona Semi Steril ditandai dengan warna oragne
• ZONA 4 : Zona Steril ditandai dengan warna merah

No Variabel Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 KET

1 Pakaian -Pakaian luar -Pakaian luar Petugas OK -Tim Operasi


OK masih OK masih boleh wajib memakai memakai jas
boleh dipakai dipakai. Tidak pakaian operasi
boleh lebih khusus OK
dalam dari zona lengkap -Petugas OK
-Pakaian ini. Pergantian dengan memakai
khusus OK pakaian OK – masker dan Handschoen
tidak boleh Pakaian Luar head cover
lebih luar dari OK disini
zona ini

2 Alas Kaki -Alas Kaki luar Alas kaki OK Alas Kaki Alas Kaki
OK masih bisa harus mulai Khusus OK khusus OK
di pakai. Tidak dipakai saja saja
boleh lebih
dalam dari zona
ini, pergantian
alas kaki luar-
OK disini

-Alas Kaki OK
tidak boleh lebih
luar dari zona ini

3 Bed Boleh masuk Hanya sampai Tidak boleh Tidak boleh


Pasien Recovery Room masuk masuk
boleh masuk

4 Brankar Boleh masuk. Boleh masuk Boleh masuk Boleh masuk


OK Tidak boleh untuk keluar
lebih luar dari lagi
zona ini

5 Petugas Boleh masuk Boleh masuk Boleh Masuk Tidak boleh


luar OK dengan masuk
memakai
pakaian
pelindung,
masker dan
head cover

6 Lain2 -Berbatas Pintu Berbatas pintu Syarat tata


dari luar dengam zona / Ruangan
kompleks OK ruangan lain sesuai
standard
-Berbatas Pintu
dari Zona /
ruangan lain
A. ORGANISASI KAMAR OPERASI

STRUKTUR ORGANISASI
RUMAH SAKIT BUDI LUHUR
Direktur Rumah Sakit
Dr. H. Hakiki Akbari

Sekertariat/Administrasi/
KaBag Keperawatan KaBag Medis KaBag Non Medik Komite Medik
Pemeliharaan
Zr. Inyanah Dr. Hj. Tresnawaty, SpB Ny. Hj. Kuraesin Dr. H. Soebarno K, SpB
Muhamad Fajar, SE

Keperawatan
Unit Rawat Inap Unit Rawat Jalan Kebersihan Keindahan Keuangan Pendidikan & Pelatihan Komite Rekam Medik
Rawat Inap
Zr. Inyanah Zr. Inyanah Tosin Supardi Ny. Hj. Kuraesin Dr. H. Hakiki Akbari Dr. H. Hakiki Akbari
Zr. Inyanah

Keperawatan
Unit OK Unit VK Keamanan Kendaraan Gizi Informasi/Humas Komite Etik
Rawat Jalan
Zr. Onih F Bd. Ratih Aos Aos Marfuah Dr. H. Hakiki Akbari Dr.Hj. Tresnawaty,SpB
Zr. Inyanah

Keperawatan OK Unit UGD Unit HCU Kesling Laundry Rekam Medik Kendali Mutu
Zr. Onih F Zr. Yulia Bd. Onih F Supardi Tosin Zr. Inyanah Ny. Hj. Kuraesin

Keperawatan VK Unit Radiologi Unit Farmasi Konsultan Teknik Linen Surveillance


Bd. Ratih Darmadi Rita Slamet Br.Nana Carinah Darmadi

Keperawatan UGD Kepegawaian


Zr. Yulia Muh. Fajar, SE

Keperawatan HCU
Bd. Onih F

Kepala Unit
Kamar
Operasi
UNIT DIKLAT RSBL

ADMINISTRASI FARMASI/PENGADAAN

LINEN
PERALATAN DAN
INSTRUMENTASI

KOMITE MEDIK
LINEN

PENGENDALIAN
INFEKSI NOSOKOMIAL

ANESTESI

Personnel
Spesialis Bedah
• Dr. H. Soebarno Kartawinata, SpB
• Dr. H. Eddy Suhardi Sarim, SpB, Finacs
• Dr. Hj. Tresnawaty, SpB, Mkes

Spesialis Kebidanan dan Kandungan


• Dr. H. Doddy Sismayadi, SpOG
• Dr. Samsudin, SpOG

Spesialis Ortopedi dan Trauma


• Dr. Aryono Adiputranto, SpBO, Finacs
• Dr. H. Iwan Hermawan, SpOT, Finacs

Spesialis Urologi
• Dr. H. M. Tauchid, SpU
• Dr. Galuh A, SpU

Spesialis Bedah mulut


• Drg. Bambang wijanarko, SpBM
Spesialis THT
• Dr. Sunaryo Sumitro, SpTHT

Spesialis Mata
• Dr. Hj. Fayca Aryono, SpM

Spesialis Anestesi
• Dr. H. Eman Kuswandi, SpAn
• Dr. Hj. Iranima Hermawan, SpAn

Dokter Umum
• Dr. H. Hakiki Akbari
• Dr. Finalia Nurhidayati

Paramedik
• Zr. Onih Fathonih
• Bd. Ratih Am Keb
• Zr. Yulia
• Zr. Dewi
• Zr. Enok
• Bd. Sherly
• Bd. Fitri
• Zr. Eka
A. TATA KERJA KAMAR OPERASI

PERSIAPAN TINDAKAN OPERASI

1. Persiapan Pasien Operasi


A. Serah terima pasien

Rumah Sakit Serah Terima Pasien Pra & Pasca Operasi

Budi Luhur 29/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur

Pengertian : Tata cara serah terima pasien yang akan dioperasi antara
perawat ruangan dan staf kamar operasi.

Tujuan :
– Diketahui program pengobatan dan pelaksanaan operasi oleh
petugas ruangan dan kamar operasi agar pelaksanaan
operasi bisa berhasil dengan baik dan mengutamakan
keselamatan pasien.
– Menyiapkan obat-obatan, alat-alat, darah dan persiapan
khusus lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang
pelaksanaan operasi tersebut.
Kebijakan : Petugas ruangan dan petugas kamar operasi bertanggung
jawab atas persiapan pasien calon operasi ini.

Prosedur :

1. Petugas ruangan mengetahui jadwal operasi


2. Petugas ruangan mempersiapkan area operasi sesuai prosedur yang berlaku.
3. Petugas ruangan mengisi berita acara.
4. Petugas ruangan mempersiapkan semua catatan medik pasien termasuk
surat izin operasi untuk dibawa bersama pasien ke ruang operasi.
5. Petugas ruangan menyertakan perlengkapan penunjang operasi misalnya :
persediaan obat-obatan atau persediaan darah yang diperlukan saat operasi
dilakukan yang akan dibawa bersama pasien ke kamar operasi.
6. Setengah jam sebelum jadwal operasi atau setelah ada panggilan dari
petugas kamar operasi, pasien dibawa ke kamar operasi dengan memakai
tempat tidur yang dipakai di ruangan.
7. Serah terima pasien pra operasi dilakukan di ruang transfer.
8. Petugas ruangan menyerahkan pasien disertai berita acara serah terima
yang ditanda tangani oleh petugas ruangan dan petugas kamar operasi dan
ditulis dalam buku register kamar operasi.
9. Petugas kamar operasi memeriksa kelengkapan berita acara, kelengkapan
identitas, catatan medik pasien, keadaan umum pasien, surat izin tindakan
dan kelengkapan penunjang lainnya seperti obat-obatan dan persediaan
darah.
10.Kejadian khusus dan pengobatan selama operasi berlangsung dicatat dalam
berita acara oleh asisten operasi / omloop.
11.Setelah operasi selesai, asisten menyiapkan berita acara, catatan medik
pasien.
12.Pasien dipersiapkan untuk serah terima dengan petugas ruangan.
13.Serah terima dilakukan di ruang transfer, petugas kamar operasi
menyerahkan pasien beserta semua kelengkapannya yang ditandai dengan
penandatanganan berita acara serah terima pasien pasca operasi.

A. Persiapan fisik
Pasien harus dalam kondisi aman untuk dilakukan operasi yang
ditandai oleh
○ Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil
pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen
RSBL menunjukkan kondisi dalam batas toleransi
○ Dilakukan pemeriksaan penunjang yang lengkap, meliputi
pemeriksaan laboratorium hematologi, kimia klinik, dan lainnya,
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan EKG, dan pemeriksaan lain
yang diperlukan dengan hasil pemeriksaan penunjang dalam
batas normal atau dalam batas toleransi / aman
○ Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen penyakit dalam dan
atau dokter konsulen anestesi dan atau dokter konsulen lainnya
menyatakan pasien dapat dioperasi
○ Bila diperlukan dilakukan persiapan terhadap pasien untuk
menunjang kelancaran operasi, seperti pemasangan infus,
lavement, puasa, istirahat total, pemasangan Supportif seperti
O2, Foley catheter, NGT , dll.
○ Pasien dalam keadaan bersih, bila perlu sudah mandi, pakaian
dari RS, bersih.
○ Diberikan antibiotik perioperatif sesuai petunjuk dokter

A. Persiapan mental
○ Pasien harus memahami maksud dan tujuan operasi serta resiko
yang harus dihadapi dalam menjalani operasi ini. Lakukan
Informed Consent sesuai prosedur.
○ Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar
menghadapi tindakan operasi yang akna dijalaninya. Pasien
diminta untuk berdoa menurut keyakinannya masing-masing.
○ Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung
secara moril.

A. Persiapan area operasi

Pengertian : Tata cara mempersiapkan area pada tubuh pasien yang akan
dilakukan operasi.

Tujuan : Menyiapkan area operasi untuk menghindari dari infeksi nosokomial.

Kebijakan :

– Adanya rencana operasi yang ditentukan oleh dokter


operator yang diketahui oleh dokter ruangan, petugas
ruangan dan bagian keuangan.
– Petugas ruangan yang bertanggung jawab atas persiapan
pasien calon operasi ini.
Prosedur :
1. Petugas ruangan mengetahui rencana operasi dari pasien tersebut.
2. Petugas ruangan mengetahui jenis operasi yang akan dilakukan sehingga
bisa mengetahui area mana yang perlu dipersiapkan.
3. 2 jam sebelum jadwal operasi ditentukan, petugas ruangan mempersiapkan
area operasi.
4. Selain itu diperhatikan higiene pasien : mulut, kuku, rambut dan kulit.
5. Persiapkan area operasi dengan dilakukan pencukuran di area operasi yang
cukup luas dengan mempertimbangkan keperluan untuk perluasan luka
operasi.
6. Pencukuran menggunakan pisau cukur searah dengan rambut kemudian
dicuci dengan sabun sampai bersih.
7. Setelah dilakukan pencukuran, pasien dimandikan dan dikenakan pakaian
khusus dan memakai tutup kepala.
8. Perhiasan, gigi palsu, kontak lens dan lain-lain harus sudah ditanggalkan dan
diserahkan pada keluaga.

Persiapan Kamar Operasi

Pembersihan Rutin
Pembersihan Harian
• Setiap hari seluruh permukaan lantai kompleks OK – VK di
bersihkan dan di desinfeksi
• Setiap hari dilakukan pemeriksaan prasarana seperti
penyediaan air bersih, kelistrikan, pencahayaan, ventilasi,
dsb
• Setelah dibersihkan dilakukan sterilisasi ruangan dengan
lampu ultraviolet secara terus menerus hingga saat
dibersihkan keesokan harinya.
• Pelaksana adalah tim pemeliharaan, dan penanggung
jawab adalah Kepala OK dan Kepala VK

Pembersihan Mingguan
• Seluruh permukaan dinding Kamar Operasi dibersihkan
dengan air mengalir dan didesinfeksi
• Lantai dibersihkan dengan air mengalir / disemprot , dicuci
dengan detergent, di keringkan dan didesinfeksi
• Seluruh permukaan lain seperti permukaan lampu operasi,
trolley anestesi, Kabel-kabel dan selang , cuff, Tabung O2,
Tabung N2O, meja obat, kursi, AC dll dibersihkan dan
didesinfeksi
• Kamar mandi dibersihkan
• Semua peralatan sterilisasi dibersihkan
• Dilakukan rutin dan teratur seminggu sekali .
• Pelaksana adalah tim pemeliharaan dan penanggung
jawab adalah kepala OK dan Kepala VK

Pembersihan Bulanan

• Dilakukan Pemeriksaan dan penilaian kondisi dan fungsi


serta inventarisasi dan kondisi sarana fisik bangunan,
prasarana dan peralatan serta obat-obatan di kompleks OK
– VK
• Semua bahan medis yang disterilisasi kering diperiksa
kapasitas formalinnya
• Semua hasil pemeriksaan dilaporkan di rapat bulanan

Pembersihan pra dan pasca operasi


Pembersihan Pra Operasi
• Bila jadwal operasi dilaksanakan setelah dilakukan
pembersihan rutin maka ruangan bedah tidak perlu
dibersihkan lagi
• Bila jadwal operasi sebelum dilaksanakan pembersihan
rutin, maka segera dilakukan pembersihan ruangan
Operasi dan sekitarnya.

Pembersihan Pasca Operasi


• Cipratan pada dinding dibersihkan dan didesinfeksi
• Lantai dibersihkan dan di desinfeksi
• Meja Operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Bebaskan
pengunci roda, lantai dibawah meja operasi dibersihkan
dan didesinfeksi. Roda meja operasi digelindingkan ke
atas cairan desinfektan bolak balik. Setelah selesai semua,
kembalikan meja operasi ke posisi semula dan kunci
rodanya.
• Semua kabel dan selang alat yang beada di dalam
ruangan bedah dibersihkan
• Alat-alat penunjang seperti suction, cauter meja instrumen
bila terkontaminasi cairan tubuh pasien dibersihkan dan
dibawa keluar OK. Hati hati kontaminasi roda. Bila perlu
roda dibersihkan sebelumnya.
• Setelah selesai, ruangan operasi ditutup dan lampu UV
dinyalakan
• Bersihkan koridor dan ruangan lainnya
• Penanggung Jawab adalah paramedik yang bertugas di OK

Persiapan lain pra operasi

• Nyalakan AC suhu dibawah 27o C


• Nyalakan lampu penerangan
• Siapkan lampu operasi

Persiapan instrumen, Linen dan peralatan lain

Persiapan Instrumen
• Persiapan instrumen dilakukan oleh instrumenter dibantu oleh Omloop
dan Asisten dua. Bila Operasi cito, maka persiapan dapat dilakukan
oleh paramedik jaga rawat inap
• Instrumenter mengetahui rencana tindakan operasi.
• Bila diperlukan instrumenter bisa melihat langsung pasien sehingga
mendapatkan gambaran tentang segala kebutuhan di ruang operasi
• Instrumen , dan omloop berbagi tugas mempersiapkan instrumen, alat
dan ruangan
• Instrumen yang akan dipakai dikeluarkan dan disusun pada trolley.
• Jenis instrumen dan jumlah disesuaikan standar .
• Instrumen diperiksa kelayakan pakainya. Pastikan kebersihannya.
• Instrumen dikelompokkan per jenis instrumen.
• Pastikan semua kunci instrumen terbuka.
• Lakukan sterilisasi
• Sterilisasi dapat dilakukan dengan steam pressure (autoclave) atau dry
heat ( UV+panas) sesuai prosedur.
• Siapkan nampan yang sudah dialasi duk steril, Siapkan Trolley yang
sudah dialasi Duk steril berlapis
• Keluarkan instrumen, letakkan pada nampan kemudian pindahkan
pada trolley. Teknik dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga jarak
antara bahan medik atau instrumen yang keluar dari sterilisator
dengan trolley sependek mungkin dan setertutup mungkin dari
kemungkinan kontaminasi pasca sterilisasi
• Susun sedemikian rupa sehingga instrumen mudah disediakan secara
berurutan sesuai urutan tindakan.
• Tutup trolley denganduk sehingga instrumen diatas trolley tertutup
seluruhnya.

Persiapan Linen

• Instrumenter dibantu omloop menyiapkan sejumlah linen sesuai


kebutuhan jenis tindakan operasi
• Jenis linen disesuaikan dengan standar
• Lakukan sterilisasi. Sterilisasi linen harus sudah selesai sebelum
instrumen
• Nampan dan Trolley diberi alas linen steril. Bila perlu berlapis 2.
• Letakkan linen pada trolley
• Tutup trolley dengan linen steril
SKEMA ALUR PENGELOLAAN INSTRUMEN

TINDAKAN

Instrumen pasca
tindakan

DEKONTAMIN
ASI

PROSES PENCUCIAN BIASA

PENGERINGAN

Packing / set Non packing

STERILISASI DI
PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN
Skema pengelolaan Linen
SKEMA ALUR PENGELOLAAN LINEN KOTOR

LINEN KOTOR

Linen Non Linen


Infeksius Potential
Infeksius

DEKONTAMINAS
I

DESINFEKSI

PROSES PENCUCIAN BIASA

PENGERINGAN , PERBAIKAN, PENYETRIKAAN, PACKING

Linen Non Tindakan Linen Tindakan

STERILISASI DI
PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN
Persiapan Personil Kamar Operasi

1. Dokter operator menentukan pasien untuk dioperasi, memberitahukan


paramedik tentang waktu operasi.
2. Paramedik melaporkan kepada dokter anestesi untuk meminta persetujuan
waktu operasi.
3. Paramedik mengatur / mengusahakan kesepakatan waktu antara dokter
operator dan dokter anestesi.
4. Jika waktu operasi sudah disepakati, paramedik memberitahukan staf kamar
operasi lainnya.
5. Paramedik mengusahakan staf kamar operasi selengkap mungkin.
6. Staf kamar operasi segera mempersiapkan operasi.

Penunjukkan personil kamar operasi

1. Paramedik jaga menentukan paramedik yang akan ditugaskan


di kamar operasi
2. Diusahakan paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang
sudah berpengalaman di kamar operasi
3. Diusahakan Paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang
sedang tidak tugas jaga rawat inap /UGD
4. Diusahakan paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang
sedang tidak libur
5. Paramedik yang ditugaskan di OK datang paling lambat 30
menit sebelum jadwal operasi.
6. Jika diperlukan paramedik jaga ruang rawat inap/UGD
membantu menyiapkan instrumentasi dan ruangan OK
7. Selalu konfirmasi dan pastikan semua siap hadir tepat pada
waktunya
Pembagian tugas personil OK

1. Scrub Nurse ( Instrumenter)

Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril


mengelola semua kebutuhan instrumentasi sebelum, selama
dan setelah operasi

Tanggung jawab : menjaga keutuhan dan efisisensi derah


steril dengan menyediakan instrumen dan supply steril yang
diperlukan

Syarat :
– Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
– Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan
dan kemungkinan kegawatan
– Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
– Mengenal karakteristik operator

Tugas :

Sebelum Operasi

– Bersama omloop menyiapkan instrumen dan alat-alat


termasuk benang jahit, jarum, juga ketersediaan
obat2an anestesi, dan cairan
– Memeriksa ulang kesiapan instrumentasi , pastkan
susunan berdasarkan urutan tindakan operasi.
– Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dan
sarung tangan steril dengan teknik yang benar
– Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo
– Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan
antiseptik kulit. Berdiri pada disisi operator / asisten
satu saat melakukan antiseptik kulit.
– Membantu menutup pasien dengan duk steril
– Menyiapkan dan memberikan instrument

Selama Operasi
– Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba
membaca keperluan operator satu langkah lebih
dahulu.
– Selalu tersedia kasa di daerah operasi. Sediakan pada
wadah tertentu seperti nerbekken.
– Ingat! Kelompokkan kasa dalam satu ikatan dengan
jumlah yang tertentu. Buka lah bundel satu persatu bila
diperlukan agar tidak tercampur satu sama lain. Hitung
selalu kasa yang tersedia di area operasi dan kasa yang
sudah terpakai. Buang Kasa yang sudah terpakai pada
tempat sampah infeksius
– Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering
– Instrumen tidak boleh menumpuk tapi harus tersusun.
– Jangan biarkan darah mengering pada instrumen
– Meminta supply alat tambahan kepada omloop
– Bila sarung tangan bolong atau robek atau tertusuk,
segera diganti
– Posisi tubuh harus tegak, tidak bolah bersandar pada
meja instrumen.
– Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa ,
instrumen, jarum.

Pasca Operasi

– Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril ,


keringkan dengan kasa kering
– Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dan
kasa steril dan difixir dengan plester / Hypafix
– Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai
tertinggal
– Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan
chlorine 0,5%, biarkan selama10 menit. Rendam secara
sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit instrumen
yang direndam.
– Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam
– Sebelum dicabut, kanul dan selang harus selalu di
spooling / bilas dengan air chlorine 0,5% dan air bersih
– Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum
dilepaskan. Jangan lepas handschoen sebelum semua
pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai
prosedur buku ini.
– Bila ada spesimen yang sudah disiapkan Omloop, dicek
kembali .

1. Asisten utama (asisten satu)

Pengertian : Petugas yang mebantu operator


melaksanakan operasi

Tanggung jawab : terlaksananya operasi dengan baik dan


aman.

Syarat :
– Dokter/Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
– Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan
dan kemungkinan kegawatan
– Mampu mengelola pasien gawat
– Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
– Mengenal karakteristik operator
– Teliti dan cekatan
– Diutamakan berpengalaman

Tugas :
Sebelum operasi
– Berkomunikasi dengan operator mengenai rencana
tindakan operasi dan kemungkinan komplikasi
– Memastikan identitas pasien dan kelengkapan
administrasi
– Memeriksa pasien yang akan di operasi
– Memastikan kelengkapan instrumen dan peralatan
– Memastikan kesiapan kegawatan
– Memastikan kesiapan anestesi
– Memastikan kesiapan fasilitas ruangan operasi
– Membantu memposisikan pasien
– Membantu operator melakukan antiseptik
– Membantu operator menutupi pasien dengan duk steril
– Berkomunikasi dengan anestesi tentang kesiapan
tindakan operasi dan kondisi pasien
– Cuci tangan bedah dan mengenakan jas operasi

Selama Operasi

– Membantu operator dalam setiap tindakan yang


dilakukan
– Memberikan lapang pandang yang baik pada area
operasi dan bersih sepanjang operasi
– Memantau dan meminimalisir perdarahan
– Mengawasi kondisi pasien dan berkomunikasi dengan
anestesi
– Mengawasi kinerja instrumenter dan asisten dua
– Mengantisipasi kebutuhan operator baik kebutuhan
personal maupun kebutuhan tindakan operasi
selangkah di depan operator
– Bertindak sebagai manajer dari tim pendukung operasi

Sesudah operasi

– Membantu menutup luka, membersihkan pasien


– Membantu anestesi mengamankan pasien
– Membantu transport pasien
– Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien
– Berkomunikasi dengan operator tentang follow up
pasien

1. Asisten madya (asisten dua)


Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril
membantu operator dan asisten utama selama operasi

Syarat :
– Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik

Tugas :

Sebelum Operasi

– Bersama omloop menyiapkan instrumen dan alat-alat


termasuk benang jahit, jarum, juga ketersediaan
obat2an anestesi, dan cairan
– Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dan
sarung tangan steril dengan teknik yang benar
– Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo
– Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan
antiseptik kulit. Berdiri pada disisi operator / asisten
satu saat melakukan antiseptik kulit.
– Membantu menutup pasien dengan duk steril

Selama Operasi

– Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba


membaca keperluan operator satu langkah lebih
dahulu.
– menghitung selalu kasa yang tersedia di area operasi
dan kasa yang sudah terpakai. Buang Kasa yang sudah
terpakai pada tempat sampah infeksius
– Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering
– Membantu sehingga Instrumen tidak boleh menumpuk
tapi harus tersusun.
– Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa ,
instrumen, jarum.

Pasca Operasi

– Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril ,


keringkan dengan kasa kering
– Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dan
kasa steril dan difixir dengan plester / Hypafix
– Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai
tertinggal
– Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan
chlorine 0,5%, biarkan selama10 menit. Rendam secara
sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit instrumen
yang direndam.
– Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam
– Membantu malakukan spooling / bilas kanul dan selang
dengan air chlorine 0,5% dan air bersih
– Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum
dilepaskan. Jangan lepas handschoen sebelum semua
pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai
prosedur buku ini.
– Membantu kegiatan omloop dan instrumenter

1. Circuler (Omloop)

Nama jabatan : Sirkuler / Omloop

Pengertian : Petugas kamar operasi yang tidak steril


( tidak memakai jas operasi tidak memakai
handschoen steril)

Tanggung jawab: membantu memenuhi seluruh kebutuhan


kamar operasi, operator, anestesi, instrumenter dan
pasien sebelum, selama dan sesudah operasi.
Membantu team yang steril dengan supply yang
steril

Syarat :

– Paramedik/bidan terlatih secara intern RS


– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
– Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan
dan kemungkinan kegawatan
– Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
dan letak penyimpanan instrumen dan bahan medik
lain dalam kompleks OK
– Cekatan dan inisisatif

Tugas :
Sebelum Operasi

– Cuci tangan bedah tapi tidak memakai jas dan


handschoen steril. Handschoen dapat yang steril tapi
tidak dijaga sterilitasnya.
– Memeriksa kebersihan ruangan , membersihkan
ruangan jika belum dibersihkan
– Membantu mempersiapkan instrumen bersama
instrumenter
– Identifikasi pasien dan serah terima pasien, memastikn
kelengkapan administrasi
– Membantu transport pasien senyaman mungkin
– Mengganti pakaian pasien
– Membantu memposisikan pasien di meja operasi
– Menyambungkan alat 2 ke supply listrik,
menyambungkan selang dan kabel steril dengan alat
yang non steril spt suction atau diatermi
– Membantu team steril mengenakan apron, jas operasi,
sepatu goggle
– Mengisi buku catatan operasi, catatan pasien, formulir
pemeriksaan, dsb

Selama Operasi

– Melihat jalannya operasi dan selalu memenuhi alat ,


supply atau instrumen yang dibutuhkan team
– Menghitung kasa yang dipakai
– Memperhatikan kebutuhan pasien semisal pasien
kedinginan, infus habis , posisi dsb
– Selalu berkomunikasi dengan seluruh tim . Bila keluar
ruangan agar memberitahukan instrumenter
– Menerima spesimen dengan baik dan mengelolanya
dengan benar
– Membantu kebutuhan personal tim steril seperti
menghapus keringat, menghapus cipratan darah,
membenahi pakaian , menyediakan alas kain pada
lantai dsb
– Menjaga agar ruang operasi selalu bersih , rapi, dan
nyaman

Setelah Operasi
– Menyediakan waskom chlorine 0,5% untuk cuci
handschoen operator, melepaskan jas operasi
– Memasangkan plester pada kasa/dressing
– Membersihkan pasien dari darah dan kotoran lainnya
dari tubuh.
– Memakaikan pakaian pasien dengan baik
– Transport pasien ke ruang pemulihan bersama penata
anestesi atau serah terima pasien dengan petugas
rawat inap.
– Menyiapkan laporan operasi, formulir pemeriksaan, atau
resep , serta konsumsi untuk operator
– Membantu instrumenter membersihkan alat dan
instrumen
– Membersihkan ruangan operasi dan menyiapkan
ruangan operasi

A. Transport Pasien

• Pasien diantarkan ke Ruang operasi oleh paramedik


ruangan rawat inap
• Tergantung kondisi pasien, pasien dapat diantar dengan
membawa bed atau dengan kursi roda
• Dilakukan serah terima berita acara tindakan operasi
antara paramedik ruangan dengan petugas OK, besaerta
status pasien dan obat-obatan yang diperlukan
• Petugas OK memeriksa kembali kelengkapan administrasi
dan identitas pasien
• Setelah dinilai lengkap, pasien dibawa ke koridor transport
pasien untuk kemudian dipindahkan ke brankar OK
• Lakukan pemindahan senyaman mungkin
• Setelah pasien diatas brankar, possikan senyaman
mungkin, bed pasien dikeluarkan. Pasien dibawa ke koridor
ruang recovery
• Ganti semua pakaian dengan duk bersih, lepaskan semua
perhiasan, beri penutup kepala, lakukan senyaman
mungkin sesuai tata krama. Tenangkan pasien.
• Setelah selesai, pasien ditransport ke ruang operasi,
pindahkan pasien ke meja operasi senyaman mungkin.
Posisikan senyaman mungkin.
• Semua suportif diperiksa kelancarannya : IV line, urine
catheter, O2, Pasang manset Tekanan darah, pasang pulse
oxymetri, nyalakan pulse oksimeter/ECG Monitor

PELAKSANAAN TINDAKAN OPERASI


Surgical Scrub

Pengertian :
Adalah cara cuci tangan bedah yang dilakukan sebelum operasi

Tujuan :

Mencegah terjadinya infeksi dari tangan kepada pasien selama


operasi

Kebijakan :

– Cuci tangan dilakukan ditempat cuci tangan khusus


– Air yang digunakan adalah air tanah yang mengalir dan
sudah teruji secara biologis
– Antiseptik yang digunakan adalah Chlorhexidine tanpa
diencerkan

Prosedur :

1. Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan


2. Pastikan bagian lengan pakaian OK tidak terlalu dekat ke siku
3. Buka keran, biarkan air mengalir sejenak
4. Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, alirkan air
sedemikian rupa sehingga seluruh permukaan jari-jari,
telapak tangan, punggung tangan, pergelangan dan lengan
bawah terbasuh dan air mengalir ke arah siku
5. Lakukan pada lengan yang satunya.
6. Keluarkan Chlorhexidine secukupnya dengan tangan satu dan
menampungnya dengan tangan lainnya
7. Lakukan tujuh langkah pencucian tangan :
– Gosok-gosokkan kedua telapak tangan
– Gosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan jari
saling terkait diantara jari sedemikian rupa sehingga
sela jari terkena
– Gosok-gosok punggung tangan yang satu dengan
telapak tangan yang lain , kaitkan jari diantara jari
tangan yang lain sehingga sela jari terkena, lakukan
secara bergantian
– Letakkan punggung jari-jari tangan yang satu dengan
telapak tangan yang lain dengan jari saling mengunci
lalu gosok-gosok sedemikian rupa sehingga ujung jari-
jari tangan yang satu membersihkan buku-buku jari
tangan yang lain
– Gosok-gosok ibu jari tangan yang satu dengan telapak
tangan yang lain secara berputar, lakukan bergantian
– Kuncupkan tangan yang satu sehingga semua ujung jari
bertemu, lalu gosok-gosokkan ke telapak tangan yang
satunya, secara berputar ke kiri dan ke kanan, lakukan
bergantian
– Gosok-gosok seluruh permukaan pergelangan tangan
hingga sepertiga tengah lengan bawah oleh telapak
tangan yang lain, lakukan bergantian

1. Seluruh proses 7 langkah tadi dilakukan selama 1 menit, bisa


dibagi2 per langkah atau lagkah tadi dilakukan berulang2
2. Biarkan keran air terbuka dan air mengalir sepanjang proses
cuci tangan tadi
3. Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bilaslah seluruh
tangan dan lengan dengan air mengalir sedemikian rupa
sehingga seluruh permukaan terbasuh dan buih dari
antiseptik terbasuh
4. Lakukan 7 langkah cuci tangan seperti diatas dengan
antiseptik chlorheksidin sekali lagi.
5. Tutup keran dengan menggunakan siku
6. Pertahankan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bila perlu
jabatkan kedua tangan. Posisi tangan jangan terlalu tinggi
jangan terlalu dekat dengan wajah.
7. Kenakan jas operasi dan Handschoen dengan lengan dan
tangan masih terbalur antiseptik

Surgical gown

1. Pakaian OK dan APP tim operasi sesuai prosedur


2. Jas wajib dipakai pada setiap operasi sedang hingga besar/
luar biasa
3. Setelah cuci tangan selesai, dan petugas sudah di dalam
ruang operasi, buka Ikatan jas operasi
4. Kenakann jas dengan memasukkan tangan dan lengan
kedalam lengan jas yang sesuai. Genggam ujung lengan jas
dengan tangan.
5. Biarkan omloop mengikatkan tali di bagian belakang jas
6. Ikatlah tali pada lengan jas sehingga ujung lengan jas melekat
pada pergelangan
7. Kenakan Handschoen dan posisikan tangan selalu diatas
pusar
8. Ingat, walaupun sudah memakai jas, bagian pusar ke bawah
tetap dianggap non steril.

Handgloving

1. Kenakan Handschoen secara hand to hand Glove to glove


2. Handschoen selalu dalam keadaan bagian lengan terlipat
keluar.
3. Ambil handshoen kanan dengan tangan kiri dengan
memegang bagian lipatan handschoen kanan yang
merupakan sisi yang melekat ke kulit
4. Masukkan tangan kanan hingga semua jari masuk ke
tempatnya masing masing. Lepaskan tangan kiri dan biarkan
handschoen masih dalam keadaan terlipat ditangan kanan
5. Ambil handschoen kiri dengan menggunakan tangan kanan
yang sudah memakai handschoen dengan mengaitkan jari
tangan kanan ke dalam lipatan, yaitu sisi yang kelak akan
menghadap ke luar, tidak melekat ke kulit
6. Masukkan tangan kiri hingga jari-jari masuk ketempatnya
masing masing. Dengan jari tangan kanan yang masih
mengait ke lipatan handschoen kiri, lipatan kemudian di buka
sedemikian rupa sehingga bagian lengan handschoen
menutupi sepertiga distal lengan bawah tangan kiri.
7. Jari tangan kiri mengait ke lipatan handschoen kanan pada
sisi yang kelak menghadap keluar, kemudian membuka
lipatan sedemikian rupa sehingga sepertiga distal lengan
bawah kana tertutup handschoen
8. Posisikan tangan diatas pusar

Posisikan tubuh pasien

• Posisi Anestesi
○ Anestesi Umum
Bila dilakukan anestesi umum, maka sebelum anestesi umum
pasien sudah diposisikan terlentang. Posisikan senyaman
mungkin. Ikat tungkai pada bagian atas lutut. Posisi lengan
terlentang dan terikat pada penyanggah.
○ Anestesi spinal
Bila dilakukan anestesi spinal, maka posisi anestesi spinal adalah
duduk dengan tungkai lurus ke depan atau uncang-uncang pada
kedua sisi bed operasi, tangan diletakkan pada bed atau tungkai
dengan posisi palmar diatas, lemas, kepala tertunduk.
○ Posisikan pasien sesuai kebutuhan operasi setelah anestesi
selesai.

• Posisi Terlentang
○ Setelah proses anestesi selesai, maka posisi lengan disesuaikan
kebutuhan apakah akan terlentang dan terikat pada
penyanggah, atau terlipat dibawah kepala, atau lurus disamping
tubuh pasien, Tungkai biasanya lurus dan terikat pada bagian
atas lutut, tambahan-tambahan lain semisal penyanggah bahu,
penyanggah panggul dsb disesuaikan kebutuhan

• Posisi Litothomi
○ Posisi bokong pasien pada batas bagian badan dan tungkai bed
operasi. Siapkan penyanggah tungkai di sisi kiri dan kanan batas
tersebut.
○ Letakkan pelindung / pad pada penyanggah tungkai, lalu
letakkan bagian belakang lutut pada penyanggah, sedemikian
rupa sehingga bagian perineum terekspos dengan baik dan
tungkai terposisikan dengan nyaman.
○ Posisikan lengan terlentang dan terikat pada penyanggah
○ Tutup pasien dengan baik

• Posisi miring
○ Posisi pasien miring kiri atau kanan sedemikian rupa sehingga
area operasi terekspos dengan baik, jalan nafas dan anestesi
tidak terganggu, dan posisi pasien stabil tidak dapat jatuh ke
posisi depan atau belakang.

• Posisi tengkurap
○ Idem posisi miring.
Antiseptik area operasi

• Dengan bantuan sponge clamp / klem kassa / penser klem,


balurkan Betadine ke area operasi menggunakan kassa steril
• Bila area operasi dinilai kotor , terkontaminasi, misal pada
fraktu daerah ekstremitas, terutama tungkai, apalagi fraktur
terbuka, area operasi dapat dicuci dulu dengan NaCl 0,9%
steril dengan atau tanpa larutan savlon sebelum dibalur
betadine. Pencucian dilakukan oleh omloop menggunakan
handschoen non steril.
• Balurkan mulai titik tengah area operasi berputar kekiri atau
ke kanan terus makin luas sedemikian rupa sehingga area
yang terbalur betadine cukup luas dan jauh dari area operasi.
• Bila terpaksa membalur dengan arah lurus, maka balurkan
menjauh area operasi.
• Betadine yang dibalurkan harus cukup banyak, tidak tipis-
tipis. Pada area operasi pembaluran dapat dilakukan berkali-
kali disertai sedikit tekanan agar kasa sekaligus berfungsi
membersihkan kulit juga.
• Buanglah kasa ke tempat sampah bila betadine yang terdapat
pada kasa tinggal sedikit. Ganti kasa dengan yang baru
sebelum memulai membalur lagi.
• Daerah sela-sela selangkangan dbalur terakhir. Klem kasa
yang sudah dipakai membalur daerah selangkangan tidak
boleh dipakai lagi sebelum disteril ulang,
• Setelah selesai antisepsis, klem kasa dipisahkan dengan alat
lain dan dianggap non steril.
• Bila sudah ditutup dengan duk, betadine pada area operasi
dibersihkan dengan alkohol 70%

Menutup area operasi

• Setelah Proses antisepsis selesai, batasi area operasi dengan


duk steril.
• Pertama tutup bagian tungkai hingga batas bawah area
operasi. Pada posisi lithotomi tutup bagian alas bokong dan
bagian bawah bed.
• Bila menggunakan duk bolong, maka langkah selanjutnya
hanya memakai duk bolong ini.
• Bila menggunakan duk biasa, maka setelah bagian tungkai,
maka tutup bagian atas pasien hingga batas atas area
operasi. Hati-hati duk menutupi wajah pasien
• Setelah itu tutup bagian samping tubuh pasien hingga batas
lateral area operasi kiri dan kana. Fiksasi duk dengan doek
klem. Posisikan doek klem supaya tidak menonjol /
mengganggu pelaksanaan operasi.
• Lapisi bagian bawah dengan duk satu lagi sehingga bila
bagian bawah dipakai menyimpan instrumen tidak mudah
melorot atau basah dan terkena bed operasi.

Beberapa petunjuk selama operasi

• Menggunakan hak
○ Agar tercipta lapang pandang yang baik sisi luka perlu ditarik ke
arah luar atau atas.
○ Gunakan hak yang sesuai dengan ukuran luka operasi dan
kedalaman lapang pandang yang dibutuhkan. Contoh untuk
ekstirpasi FAM mungkin hanya dibutuhkan hak Gigi atau
langenbeck kecil saja. Untuk Hernia mungkin perlu hak Roche
dan langenbeck saja, Untuk hysterctomy pada yang kurus bisa
hanya blaas hak saja atau hak cangku / langenbeck besar pada
orang gemuk dsb.
○ Selalu lepaskan hak dari area operasi bila tangan operator
masuk, karena selain bisa menghalangi tangan juga
menyebabkan sakit pada tangan operator
○ Perhatikan arah operator , gerakkan / pindahkan hak untuk
memberi lapang pandang yang lebih baik bila diperlukan

• Membersihkan darah
○ Untuk darah yang menggenang, gunakan suction dengan canul.
○ Untuk perdarahan yang banyak dan cepat dapat menggunakan
suction tanpa kanul. Hindari tangan terlalu dekat dengan area
operasi / menghalangi pandangan.
○ Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang sempit /
dangkal, gunakan kasa depper kecil / terlipat pada klem kasa
○ Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang dalam /
luas, gunakan kasa depper besar / tak terlipat / bendera pada
klem kasa. Gunakan hanya 1 kasa saja untuk mencegah
ketinggalan.
○ Menggunakan kasa depper adalah dengan di tekan-tekankan,
bukan di usap / gosokan pada luka karena gesekan bisa
menimbulkan kembali perdarahan, terutama pada daerah yang
rapuh
○ Ingat usahakan selalu area operasi dalam keadaan yang kering
dan bersih.
○ Gunakan kasa untuk membersihkan area operasi dan instrumen
dari bekuan darah.

• Menghentikan perdarahan
○ Harus pro aktif dalam menghentikan perdarahan. Bedakan
perdarahan yang merembes dari jaringan, mengalir dari
pembuluh vena dan menyemprot dari pembuluh arteri
○ Perdarahan yang merembes dari jaringan yang robek / di sayat,
berasal dari pembuluh darah kecil. Coba lakukan pembersihan
dengan kasa. Biasanya lama-kelamaan berhenti sendiri.bila
masih, coba lakukan penekanan dengan kasa selema beberapa
detik.
○ Bila tampak perdarahan mengalir, atau tidak berhenti dengan
tekanan, mungkin berasal dari pembuluh vena yang ukurannya
kecil sampai besar. Darah yang mengalir biasanya lebih gelap
dan tidak ada pullsasi. Gunakan klem untuk menjepit pembuluh
darah. Biarkan beberapa saat. Bila perdarahan berhenti, maka
tidak perlu dijahit/ cauter. Tapi bila masih ada perdarahan, maka
jepit ulang dengan klem untuk selanjutnya dijahit / diikat/ atau
dibakar dengan cauter.
○ Pengikatan / penjahitan perdarahan pada bagian tubuh yang
menetap dalam tubuh menggunakan plain gut atau chromic gut.
Untuk bagian tubuh yang akan dibuang, menggunakan silk/seide.
○ Cauterisasi dengan menempelkan ujung pen pada klem. Tekan
tombol coagulate untuk membakar pembuluh darah selama
beberapa detik hingga tampak bagian yang dijepit menghitam.
Hindari klem atau cauter menempel pada jaringan epidermis
kulit. Lepskan klem, perhatikan apakah perdarahan berhenti.

• Tentang Jarum
○ Selalu memegang benda tajam seperti bisturi atau jarum
dengan alat, baik pinset,klem atau naldfulder.
○ Jarum dapat dipakai kembali sedangkan bisturi harus dibuang
ditempat sampah benda tajam.

jenis jarum menurut mata jarumnya


○ Jarum taper bermata jaru bulat, bila ditusukkan tidak merobek
jaringan yang ditembusnya. Digunakan untuk menjahit jaringan
lunak dibawah jaringan kutis. Kecuali pada jaringan yang keras
seperti cervix uteri, kelenjar payudara yang displastik, bisa
dipakai jarum cutting dengan pengawasan perdarahan.
○ Jarum Cutting bermata jaru segi tiga, bila ditusukkan akan
merobek jaringan yang ditembusnya sehingga bisa menimbulkan
perdarahan. Digunakan untuk menjahit kulit atau jaringan yang
keras.
○ Jarum non traumatik, yaitu jarum yang langsung terhubung
dengan benang diujung belakang /pangkalnya. Tidak memiliki
lubang jarum sehingga dapat menembus jaringan dengan mulus.
Misal jarum pada benang dalam kemasan sachet.
○ Ekor benang pada lubang jarum jangan terlalu pendek sehingga
mudah lepas atau terlalu panjang sehingga mengganggu
penjahitan. Standar panjang ekor benang adalah 4 – 5 cm.

• Tentang benang
○ Mengambil benang dalam kaset harus menggunakan naldfulder
atau klem . tarik sebanyak 2 kali panjang naldfulder atau kira-
kira 40cm. Atau sesuaikan dengan kebutuhan / karakter
operator.
○ Mengambil benang dari sachet juga menggunakan naldfulder.
Buka lipatan dan ambil jarum dengan nalfulder, dan tarik hingga
benang keluar seluruhnya.
○ Secara umum benang operasi dibagi menjadi 2 golongan besar
yaitu benang absorbable ( dapat diabsorpsi) dan non absorbable
( tidak diabsorpsi)
○ Benang yang dapat diabsorpsi dapat dicerna tubuh untuk
kemudian hancur oleh proses radang / inflamasi / reaksi tubuh
sendiri sehingga hubungan antar 2 sisi bisa saja lepas . Jangka
waktu penghancuran ini berbeda beda berkisar antara 3 hari
hingga 3 bulan.
○ Benang yang non absorpsi tidak dapat dicerna tubuh. Bisa
bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun karena bersifat
Inert ( tidak menimbulkan / merangsang reaksi tubuh) digunakan
untuk kulit atau jaringan dibawah kulit yang sukar sembuh.
○ Contoh benang absorpsi adalah plain gut, chromic gut ,
Polyglycolic acid (dexxon / Atramat / polysorb) poligaktin ( Safil,
safi quick)
○ Contoh benang non absorpsi adalah silk / seide, nilon (monosof ,
Dermalon ), Polypropylen ( Prolene , mersilene)
○ Ukuran benang bermacam-macam, pemakaiannya tergantung
kebutuhan / jenis operasinya.

• Tentang gunting
○ Semua instrumen yang memiliki bagian yang diperuntukkan jari
seperti gunting, klem, dsb di pegang dengan memasukkan ibu
jari pada lubang yang satu dan jari manis pada lubang yang lain.
Jari telunjuk dan tengah menopang instrumen dan membantu
mengarahkan instrumen
○ Dalam hal gunting, untuk menjaga agar tangan tidak goyah yang
bisa berakibat fatal, maka jari pada tangan kiri ikut membantu
menopang gunting saat pengguntingan dilakukan

PASCA OPERASI
Pengelolaan Pasien

Perawatan luka operasi


• Segera setelah selesai tindakan operasi, area operasi dicuci bersih
dengan NaCL 0,9% steril. Pembersihan dilakukan mulai dari luka
sayatan meluas kesekitarnya.
• Luka operasi ditutup dengan kasa kompres betadine , lalu kasa steril
polos. Fixasi kasa dengan Hypafix atau plester
• Setelah masuk rawat inap perawatan luka sebagaimana standar
asuhan keperawatan

Membersihkan Pasien dan memberikan pakaian

• Setelah area operasi dan sekitarnya dibersihkan pasien dipindahkan ke


brankar dengan hati-hati.
• Bersihkan bagian tubuh pasien yang menempel pada bed operasi
dengan air bersih dan washlap. Miring-mairingkan pasien
untukmencapai bagian itu.
• Sambil dibersihkan, pakaian pasien diiapkan. Kenakan pakaian pada
pasien, beri sarung atau kain bersih, serta selimuti ia.
• Pasien pindah ke bed pasien dalam keadaan sadar / tidak, pakaian dan
tempat tidur rapi.

Recovery Room (RR) dan Pengawasan di ruang rawat inap

• Tempatkan pasien dalam RR sampai pasien sadar betul.


• Petugas OK melaksanakan tugas pasca operasi sambil mengawasi
pasien. Setelah selesai atau setelah pasien stabil dan sadar betul ,
pasien ditranfer ke rawat inap.
• Kemungkinan lain adalah setelah selesai operasi pasien langsung
ditransfer ke rawat inap dan ditempatkan di HCU untuk beberapa jam
sampai pasien sadar betul dan diawasi petugas rawat inap. Bila sudah
sadar betul / stabil, dapat dipindahkan ke ruangan inapnya.

Pengelolaan Linen

• Segera dekatkan waskom berisi Chlorine 0,5%, untuk cuci handschoen


operator. Mintalah operator melepaskan handschoen untuk direndam
pada waskom tsb.
• Segera buka jas operasi operator. Letakkan didalam ember linen kotor
berpenutup.
• Semua duk dimasukkan ke ember linen kotor. Jangan biasakan
menjatuhkan duk di lantai.
• Jika ada kain alas kaki dilantai juga dimasukkan ke dalam ember tsb.
• Jika apron terbuat dari plastik saja dan tidak ada bagian yang
menyerap cairan tubuh pasien cukup dibersihkan dengan cairan
chlorine saja. Tapi bila terbuat dariparasit dan atau ada bagian yang
menyerap cairan tubuh pasien, harus diperlakukan sebagaimana linen.
• Pakaian OK setelah berganti pakaian diletakkan didalam ember. Jangan
dibiasakan berserakan dilantai
• Penutup kepala dan masker dibuang kedalam tempat sampah
infeksius. Selanjutnya Transport Linen kotor dalam ember tertutup
menggunakan trolley khusus dengan jalur yang sudah ditentukan,
langsung ke ruang laundry. Jangan berhenti atau mampir ke mana-
mana.
• Linen diolah di ruang laundry sesuai prosedur.

Pengelolaan Instrumen

• Segera rendam instrumen kedalam larutan chlorine 0,5% yang


terdapat dalam wadah / ember plastik.
• Sebaiknya instrumen direndam sekaligus, jangan sedikit-sedikit.
• Rendam selama 10 menit. Bila instrumen direndam sedikit-sedikit,
maka hitungan 10 menit sejak instrumen terakhir dimasukkan.
• Rendam sampai seluruh instrumen terendam seluruhnya, jangan lupa
membuka pengunci instrumen
• Untuk selang dan atau kanul, maka sebelum direndam dilakukan
spooling dulu dengan larutan chlorine 0,5% untuk kemudian direndam
selama 10 menit.
• Setelah 10 menit lakukan pencucian dengan detergent dan pembilasan
dengan air bersih mengalir dan penyikatan jika diperlukan. Untuk
kanul dispooling dengan air detergent dan dispooling dengan airbersih
dan dibilas.
• Keringkan dengan menggunakan handuk bersih atau dianginkan
menggunakan hairdryer
• Bila instrumen termasuk dalam packing, maka setelah kering
dilakukan packing kembali dan dilakukan sterilisasi segera. Bila
instrumen tidak termasuk yang di packing maka instrumen disimpan
dalam lemari kaca yang dilengkapi kantung karbon hidrophilik dan
penerangan sekaliguss pemanasan dengan lampu pijar 10 Watt.
Pengelolaan Peralatan dan Fasilitas

• Bed Operasi
○ Seluruh permukaan bed operasi dibersihkan dengan chlorine
0,5%
○ Buka kunci roda, dan pindahkan bed agar lantai dibawah bed
bisa dibersihkan. Gulirkan roda diatas genangan larutan chlorine
bolak balik, keringkan lantai, kemudian kembalikan bed ke
tempat semula dan di kunci roda

• Trolley
○ Perlakuan sama dengan bed operasi.
○ Trolley diletakkan di ruang peralatan

• Brankar dan standar


○ Perlakuan sama dengan bed operasi.
○ Standar diletakkan di ruang peralatan, brankar di koridor
transport / RR

• Lampu Operasi
○ Seluruh permukaan lampu operasi dibersihkan dengan chlorine
0,5%
○ Periksa adakah bola lampu yang rusak. Segera laporkan kepada
bagian pemeliharaan untuk segera diganti.

• Alat anestesi
○ Permukaan trolley di bersihkan dengan chlorine 0,5%
○ Vaporizer ditutup, O2 dan N2O ditutup.
○ Facemask di bersihkan denganchlorine 0,5%
○ Selang, canule, ETT, mayo diperlakukan sebagaimana instrumen.

• Monitor EKG
○ Matikan monitor ECG, cabut kabel dari stekker
○ Gulung dengan bai semua kabel dan letakkan pada
gantungannya.
• AC
○ Matikan AC

Pengelolaan Ruangan

• Lantai dibersihkan dengan chlorine 0,5%


• Dinding dibersihkan dengan chlorine 0,5%
• Tempat cuci tangan diperiksa kebersihannya
• Spoolhoek diperiksa kebersihannya
• Ruang ganti pakaian dan Ruang dokter diperiksa kebersihannya
• Kamar mandi diperiksa
• Ruang instrumen diperiksa
• Ruang RR diperiksa
• Ruang sterilisasi diperiksa.

Pengelolaan spesimen

Hal-hal yang harus diperhatikan pada penanganan specimen adalah


label yang benar, pengawetan (preserverasi) dan pengiriman yang
benar, sebab bila pemberian label yang salah atau specimen tertukar
dapat berari menentukan diagnose yang salah untuk dua orang pasien.
Hilangnya specimen dapat berarti tidak dapat menentukan diagnose
atau harus dilakukan pengambilan specimen baru dengan
kemungkinan tidak mendapatkan specimen yang sama jenisnya
dengan yang hilang.
Oleh karena itu semua specimen harus diamankan kecuali dokter
memintanya untuk membuang.
a. Prosedur penanganan specimen
1. Tangani specimen dengan hati-hati
2. Instrumenter mengkonfirmasikan lagi dengan dokter mengenai
sifat specimen dan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan,
kemudian periksa ulang dengan om loop sebelum menyerahkan
kepada on loop.
3. Om loop menyimpannya ke dalam tempat yang tepat, seperti
kantong plastik, stoples dan sebagainya yang steril.
4. Berikan label yang memuat :
a. Nama pasien
b. Nomor C.M. ( Catatan Medik )
c. Tanggal Operasi
d. Nama specimen

1. Apabila diambil lebih dari satu specimen, specimen-specimen itu


harus diberi nomor label sesuai dengan urutan diangkatnya dan
tempatkan dalam tempat yang terpisah kecuali dokter meminta
untuk menyimpan dalam satu wadah.
2. Organ-organ yang solid seperti : hati, limpa, uterus, dan lain-lain
biasanya dipotong dahulu oleh Dokter sebelum disimpan pada
tempat yang sudah berisi pengawet.
3. Organ yang berbentuk pipa seperti : jaster, Colon, Vesica Winara
harus dibuka dulu agar bahan pengawet mengenai sisi luar dan
dalamnya.
4. Jangan membuat trauma pada jaringan specimen seperti biopsi
nosofaringeal.
5. Tidak boleh memasukkan dengan paksa ke dalam tempat yang
sempit.
6. Jangan membuang specimen kecuali Dokter memintanya untuk
dibuang.

a. Prosedur khusus Penanganan Specimen untuk Pemeriksaan Histologi


1. Rendam specimen dalam formalir 10% (0 cc larutan formalir
kadar 40% dalam 90 cc air )
2. Tutup rapat-rapat tempat specimen tadi untuk mencegah
penguapan bahan pengawet.

a. Prosedur Khusus penanganan Specimen Untuk Kultur.


1. Simpan dalam stoples atau tabung pemeriksaan / test tube yang
steril oleh instrumenter.
2. Tidak boleh diberi bahan pengawet, karena jaringan harus dalam
keadaan segar dan seperti asalnya.
3. Idealnya specimen untuk kultur dikirim segera kalau tidak
specimen tersebut harus disimpan oleh kotak yang bersuhu
ruangan, untuk mempertahankan agar jumlah bakteri tetap
sampai kultur dilakukan.
a. Prosedur Khusus Penanganan Specimen untuk Frozen Section
1. Pastikan bahwa bagian ahli, Patologi sudah diberitahu
sebelumnya, biasanya sehari sebelumnya diberitahu oleh dokter
ahli bedah yang akan mengoperasi pasien.
2. Perintahlah seseorang untuk bersiap-siap pergi mengantarkan
specimen ke bagian Patologi Anatomi.
3. Ingatkan dokter untuk mengisi formulir Histologi dengan tepat,
misalnya riwayat klinis dan penemuan operasi.
4. Simpan specimen dalam wadah yang sudah diberi label. Untuk
pemeriksaan ini tidak perlu bahan pengawet.
5. Tuliskan nomor telepon yang harus dihubungi oleh ahli oleh
patologi pada sebelah kanan atas formulir sehingga hasil dapat
diperoleh dengan cepat.
6. Specimen dikirimkan ke Laboratorium P.A.
7. Catatkan hasil pemeriksaan dengan nama pasien nomor catatan
medik, bila cocok laporkan segera ke dokter.
8. Jika specimen dikembalikan ke kamar bedah, rendam specimen
itu dalam formulir tandai pada tempat specimen itu “Frosen
section sudah dilakukan”.

a. Prosedur Khusus Penanganan Specimen Untuk Difoto.


1. Tempatkan specimen pada sebuah tempat yang datar, kalau
perlu yang dilapisi duk.
2. Sebelum dilakukan pemeriksaan specimen tidak boleh diberi
bahan pengawet.
a. Prosedur khusus Penanganan Benda Asing.
1. Simpan dalam kotak kontainer seperti stoples, kemudian
kembalikan pada pasien, benda asing ini dapat berupa : tulang
ikas, gigi palsu, dan sebagainya.
2. Benda asing jika perlu dibungkus dengan kertas kasa, kemudian
masukkan ke dalam wadah/stoples, catat dalam buku catatan
benda asing, kemudian serahkan kepada polisi sebagai tanda
polisi mengambilnya ia harus menandatangani catatan tadi.
3. Data yang dibentuk dalam tubuh dimasukkan ke dalam kantong
plastik tanpa bahan pengawet dan diberi label. Tanyakan pada
dokter apakah data tersebut diperlukan oleh analisa atau
diserahkan ke keluarganya.
Catatan :

• Semua specimen harus dikirimkan dengan formulir yang tepat dan


sudah ditandatangani.
• Specimen pada bagian yang menular misalnya : Hepatitis B harus
ditangani lebih hati-hati.
• Simpan specimen ini pada stoples yang berlabel khusus, sehingga
orang-orang yang menanganinya akan lebih hati-hati.

DEKONTAMINASI, DESINFEKSI , STERILISASI

A. DEFINISI

Pada dasarnya, ada banyak usaha kita untuk meminimalisir potensi infeksi di
RSBL dalam rangka pengendalian infeksi nosokomial.
Dari sekian banyak usaha tersebut tidak ada satupun yang bisa secara mandiri
dipergunakan tanpa dibantu usaha lain, tidak ada satu pun cara yang bisa digunakan
untuk semua komponen benda hidup dan benda mati. Semua merupakan suatu
kesatuan usaha yang bertujuan satu : Menghilangkan sebanyak mungkin
mikroorganisme dalam proses interaksi pasien –RS dalam proses pelayanan medis di
RS.
Secara umum usaha-usaha tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Dekontaminasi
Adalah suatu proses / kegiatan yang berusaha menghilangkan kontaminasi
suatu benda oleh benda lain yang potensial menjadi sumber infeksi yang sekaligus juga
menghilangkan sebagian mikroorganisme penting.
Desinfeksi
Adalah suatu proses / kegiatan yang berusaha membasmi sebagian besar
mikroorganisme pada benda mati. Pengertian yang sama pada makhluk hidup disebut
Antisepsis.

Sterilisasi
Adalah suatu proses yang berusaha membasmi semua mikroorganisme pada
benda mati.

B. DEKONTAMINASI

Di RSBL Proses dekontaminasi dilakukan paling awal yaitu segera setelah benda
terpapar atau potensial terpapar dengan cairan tubuh pasien yang potensial
mengandung mikroorganisme yang berbahaya. Dekontaminasi dapat juga dilakukan
sebagai tindakan pencegahan .

Pelaksana:

Handschoen dan instrumen : Paramedik/Bidan/Aspar

Linen : Bagian laundry

Perlengkapan :

Pasca operasi / Pasca bersalin : masih memakai APP dan memakai sarung
tangan karet / Rumah tangga

Petugas laundry memakai APP sesuai prosedur pengelolaan linen kotor

Dekontaminasi dapat dilakukan dengan beberapa tahap :

Tahap 1 : jika benda mati terkontaminasi cairan atau jaringan tubuh pasien dalam
bentuk yang lebih padat, atau keras, atau jumlah banyak . Biasanya
dilakukan pada linen, sedangkan instrumen dan peralatan jarang
terkontaminasi dengan kondisi seperti diatas. Contoh : Linen
terkontaminasi stoolcell, atau feces , atau sisa makanan akibat muntah.
Sebab dikhawatirkan bahan desinfektan yang selanjutnya akan
diberikan bisa berkurang efektifitasnya jika bereaksi dengan bahan2 tsb.

Cara :

Dilakukan pencucian pada daerah yang terpapar saja dengan bantuan


air mengalir yang kuat / disemprot dan dibantu penyikatan.
Dilaksanakan oleh paramedis sebelum linen ditransfer ke laundry.

Dilaksanakan di spoolhoek di OK / VK/ UGD/ HCU / Verbedding.

Tahap 2 : Dengan merendam instrumen / alat / linen dalam larutan chlorine 0,5%
selama 10 menit.

Tahap ini dapat membasmi kuman hingga 80% termasuk Virus HIV,
HBV dan HCV

Cara membuat larutan chlorine :

a. Menggunakan Bayclin
1 bagian bayclin + 9,5 bagian air bersih

b. Menggunakan Presept
5 gram Presept setiap liter air

c. Menggunakan Kaporit 60%


1 ons / 100 gram kaporit + 12 liter air bersih

d. Menggunakan Kaporit 0,5%


14 gram kaporit setiap liter air bersih

Cara merendam :

a. Untuk instrumen dan handschoen Dilaksanakan di spoolhoek di OK / VK/ UGD/ HCU


/ Verbedding. Untuk Linen dilaksanakan di Ruang Laundry.
b. Untuk Instrumen dan handschoen larutan chlorine disediakan dalam wadah plastik.
Beri tanda ketinggian pada wadah tersebut untuk tiap kenaikan 1 liter airnya. Wadah
untuk Handschoen dan instrumen terpisah. Untuk Linen , larutan chlorine disediakan
dalam bak cuci.
c. Handschoen sebelum dilepaskan dicuci dahulu dalam larutan chlorine, baru
dilepaskan sesuai aturan dan direndam dalam keadaan terbalik.
d. Instrumen direndam dalam keadaan terbuka kuncinya, dan sebaiknya direndam
sekaligus tidak sedikit2. Sebab sifat korosif chlorine, maka masalah lama
perendaman menjadi penting. Bila direndam sedikit-sedikit, maka hitungan 10 menit
dimulai sejak instrumen terakhir dimasukkan.
e. Linen langsung direndam dalam bak berisi larutan chlorine, serta diaduk-aduk
sebentar agar semua linen terbasahi dengan baik.
f. Rendam selama 10 menit.
g. Instrumen kemudian diangkat, dicuci dan disikat dengan air detergent, dan dibilas
dengan air mengalir
h. Handschoen diangkat, dicuci dan dikucek dengan air detergent, dan dibilas bersih
dengan air mengalir
i. Linen diangkat, diperas, dan dibilas bersih dengan air mengalir.
j. Selanjutnya sesuai prosedur pengelolaan masing-masing.

Catatan :Larutan chlorine 0,5% dapat juga dipakai sebagai usaha desinfeksi dengan membasuh
permukaan seperti permukaan lantai, kaca, meja , meja operasi.

A. DESINFEKSI

Desinfeksi di RSBL dilakukan dengan beberapa cara : Menggunakan bahan kimia,


dengan perebusan, dan desinfeksi ruangan dengan sinar Ultra violet

Desinfeksi dengan bahan kimia


Syarat bahan desinfektan yang baik :
Potensi desinfeksi / antisepsis baik / kuat, spektrum luas
Tidak bersifat toksik / karsinogenik / korosif / iritatif/ non alergenik
Mudah didapat, harga ekonomis

No Jenis Karakteristik Penggunaan

1 Sabun Antiseptik Antiseptik lemah Cuci tangan biasa


Efektif melepaskan
kotoran pada tubu atau
benda mati
2 Karbol (phenol) Desinfektan kuat Mengepel Lantai
Cresol (Lysol) Iritable dan toksik dan dinding keramik

3 Iodine/Betadine Spektrum luas, Antisepsis area


antisepsis/desinfektan tindakan / operasi
sedang
Tidak begitu toksik, tidak Desinfeksi darurat
iritatif,tidak korosif instrumen
Terpengaruh darah
Ekonomis

4 Alkohol 70% Antisepsis dan desinfektan Antisepsis tubuh


kuat, spektrum luas Desinfeksi darurat
Tidak terlalu toksik, sedikit instrumen
iritatif, mudah menguap,
tidak korosif, mdh terbakar
Harga ekonomis

5 Chlorhexidine Antiseptik kuat, makin kuat Cuci tangan bedah


jika dicampur alkohol atau
detergent Merendam
Tidak toksik instrumen
Relatif ekonomis

6 H2O2 (Hidrogen Peroksida) Antiseptik lambat, namun Membersihkan linen


karena melepaskan ion dari darah
dapar membasmi kuman
anaerob
Iritatif pada luka
ekonomis

7 Formalin antisepsis dan desinfektan Mengawetkan


kuat spesimen
sangat iritatif dan
karsinogenik Desinfeksi
Bila dicampur alkohol bisa handschoen daur
sporisidal ulang
ekonomis
Desinfeksi
instrumen

8 Glutaraldehyde (Cidex) antiseptik kuat dan cepat Merendam


2 menit -10 menit instrumen, rubber/
Sporisidal 10 jam selang
Tahan 14 hari
iritatif
Mahal

9 Chlorine Dengan kadar ppm yang Desinfeksi semua


tepat dapat bersifat alat, instrumen,
desinfektan kuat hingga linen, permukaan
sporisidal
Agak toksik
Iritatif dan korosif
ekonomis

Contoh penggunaan Presept


Desinfeksi Linen 5g untuk 20 L air direndam selama 1 jam
Desinfeksi Lantai 5g untuk 20L air sebagai air pel
Desinfeksi Alat makan 5g untuk 20L air direndam 1 menit

Desinfeksi dengan cara merebus

Panaskan air hingga mendidih, masukan instrumen / alat , rendam selama 20 – 30


menit.
Angkat instrumen/alat dan tiriskan

Desinfeksi Ruangan dengan sinar Ultra Violet


Keluarkan semua alat mobile. Setelah ruangan dibersihkan dan didesinfeksi
permukaan, ruangan ditutup dan lampu UV dinyalakan terus menerus selama 24 jam

B. STERILISASI

Ada 4 cara sterilisasi yang dilaksanakan di RSBL

1. Sterilisasi Steam pressure (Uap Bertekanan) dengan Autoclave

Alat Auto Clave


a. Katup pengaman
b. Indikator tekanan
c. Katup pembuka
d. Tutup autoclave
e. Baut
f. Kunci wing
g. Gasket /pelapis
h. Container
i. Tangki sterilisasi
j. Tatakan berlubang
k. Tabung pemanas
l. Lampu Indikator
m. Keran pengeluaran
n. Alat pembuka mur

Cara Penggunaan :

A. Pengemasan
Kemas / bungkus benda yang akan disterilisasi dengan baik. Susun paket-paket
tersebut pada tatakan berlubang dalam tangki sterilisasi, sisakan jarak diantara
paket2 tsb agar pemanasan dapat tersebar dengan baik.

B. Penambahan air
Tambahkan 4 liter air bersih kedalam tanki utama. Selama proses sterilisasi, air akan
menguap secara bertahap dan level air akan menurun. Jadi air yang dimasukkan
harus cukup sedemikian sehingga menegah tabung pemanas terbakar karena air
dibawah level tabung pemanas.

C. Penyegelan
Masukkan tangki sterilisasi kedalam tanki utama. Sisipkan pipa lunak yang terdapat
pada tutup ke celah setengah lingkaran disisi tangki nsterilisasi. Kemudian tutup.
Paskan posisi antara cekungan pada tutup dengan yang pada tangki utama. Dan
kuatkan penutupan dengan kunci wing searah jarum jam sedemikian sehingga
kedap udara.

D. Pemanasan
Colokkan kabel listrik ke stekker PLN, maka tabung pemanas akan menjadi makin
panas. Selama pemanasan, katup pengeluaran dalam posisi terbuka, sampai
tampak adanya uap menyemprot keluar, maka katup pengeluaran ditutup. Indikator
tekanan akan segera bergerak searah jarum jam petanda tekanan di dalam tangki
makin naik.

E. Sterilisasi
Ketika tekanan mencapai batas yang diharapkan, mulailah hitung waktu yang
dibutuhkan untuk sterilisasi. Lihatlah tabel dibawah ini. Ingat, tekanan dalam tanki
tidak boleh dibawah 0,14Mpa, dan bila kita tidak mengontrol tekanan dengan
menyesuaikan voltase listrik, katup pengaman akan membuka sendiri bila tekanan
melebihi 0,165Mpa.

Jenis benda Waktu tekanan Suhu

Benda Karet 15 0,1-0,11 121

Linen 30-45 0,1-0,15 121-126

Instrumen 15 0,1-0,15 121-126

Cairan dlm botol 20-40 0,1-0,15 121-126

F. Pengeringan
Benda-benda seperti instrumen, linen, dsb akan seger kering dengan cepat. Setelah
sterilisasi selesai, bukalah katup pemuangan. Ketika jarum indikator menunjukkan
angka 0, tunggu 1 – 2 menit lalu buka penutupnya dan teruskan pemanasan hingga
10 – 15 menit untuk menguapkan sisa air. Kemudian matikan pemanas dengan
menekan saklar ke posisi OFF.

G. Pendinginan
Jika yang disterilisasi adalah cairan, maka tidak akan cepat kering. Karenanya
jangan segera membuka katup pembuangan ketika waktu sterilisasi selesai, untuk
menghindari cairan yang mendidih itu tumpah atau meledakkan wadahnya. Karena
itu ketika sterilisasi selesai, matikan listriknya, dan biarkan tangki mendingin, sampai
jarum indikator tekanan menunjukkan angka 0. Tunggu beberapa menit, kemudian
buka katup pembuangan , lalu buka penutup.

H. Pemeliharaan
• Sebelum dioperasikan, periksalah apakah airnya cukup (4liter lebih) dan level air
diatas tabung pemanas
• Ketika memulai pemanasan, buka dulu katup pembuangan untuk mengeluarkan
udara dingin dalam tanki, kalau tidak, udara akan menghambat panas dan efek
sterilisasi akan terganggu.
• Jika ingin mensterilkan cairan, tempatkan cairan kedalam botol kaca tahan
panas hingga 3/4nya saja. Tutup botol dengan kain dan kasa dan ikat dengan
tali. Jangan menggunakan sumbat karet atau kayu, karena botolnya bisa pecah.
Letakkan botol diatas wadah metal yang lebih besar, sehingga bila botol pecah
pecahan tidak berhamburan.INGAT ! jngan langsung membuka katup
pembuangan ketika waktu sterilisasinya selesai.
• Jangan mecampur bahan yang akan disterilisasi yang berbeda waktu
sterilisasinya. Atau berbeda jnis seperti cairan dengan linen, misalnya.
• Setelah sterilisasi selesai dan jarum indikator tekanan menunjuk ke angka 0,
kalau tidak bisa membuka penutupnya, bukalah katup pembuangan untuk
membiarkan udara luar masuk ke dalam tanki.
• Periksa secra berkala kondisi autoclave
• Lebih bagus lagi jika air yang digunakan adalah air ion atau air suling.
• Ganti gasket / pelapis secara periodik
• Buanglah air jika autoclave tidak digunakan lagi.
• Pastikan jarum menunjuk ke angka 0 sebelum pemanasan dimulai.

1. Sterilisasi kering dengan Sterilisator Kombinasi UV-Heat

Sterilisator Kering UV-Heat :

a. Pintu penutup
b. Jendela
c. Pengatur Suhu
d. Timer
e. Lampu Indikator panas
f. Lampu Indikator UV
g. Tombol start UV
h. Selektor UV / Heat
i. Fuse/sikring

Cara penggunaan :

A. Pengemasan
Kemas / bungkus benda yang akan disterilisasi dengan baik. Susun paket-paket
tersebut pada Rak , sisakan jarak diantara paket2 tsb agar pemanasan dapat
tersebar dengan baik. Tutup pintu.

B. Sterilisasi
Aturlah panas yang ingin kita capai, Nyalakan lampu UV dengan menekan tombol
GL start. Aturlah waktu yang ingin kita pakai sesuai standar sterilisasi pada tabel.
Jika suhu yang kita inginkan tercapai, maka lampu indikator akan menyala.
Hitunglah waktunya.

Jenis benda Waktu Suhu

Benda Karet 15-20 120

Linen 30-45 120

Instrumen 15-20 120

C. Pemeliharaan
• Bersihkan dan keringkan bagian dalam sterilisator setelah selesai pemakaian.
• Pintu harus selalu tertutup
• Periksa kondisi sterilisator secara berkala

1. Sterilisasi dengan bahan Kimia.


Bahan Kimia yang digunakan adalah Glutaraldehyde (Cidex)

Cara :
• Cara ini digunakan untuk instrumen dan rubber yang berlumen seperti selang
yang perlu disimpan dlam keadaan selalu siap pakai.
• Cidex membasmi bakteri vegetatif dalam 2 menit
• Cidex membasmi kuman TBC dalam 10 menit
• Cidex membasmi spora dalam 10 jam
• Efektifitas bertahan selama 14 hari
• Iritatif thd kulit sehingga pemakaian instrumen harus memakai handschoen dan
harus dibilas dengan air steril sebelum digunakan.

1. Pelaksanaan Sterilisasi

a. Sterilisasi Instrumen dalam wadah tray berpenutup


• Menggunakan Sterilisator kering.
• Susun instrumen yang akan disteril pada rak atas, wadah tray dan tutup pada rak
bawah.
• Setelah selesai sterilisasi, wadah dikeluarkan, masukkan instrumen ke dalam
tray menggunakan korentang yang juga disteril bersama.
• Ambil tutup tray dan tutup wadah.
• Beri label tanggal pelaksanaan sterilisasi.
a. Sterilisasi Instrumen dalam packing duk
• Menggunakan Sterilisator kering
• Instrumen yang disimpan dalam packing /paket disusun dalam duk kemudian
ditutup dengan cara menggulung duk pada kumpulan instrumen tsb.
• Packing diperkuat dengan selotip / label dengan tulisan tanggal pelaksanaan
steril.
• Masukkan ke dalam sterilisator diatas rak.
• Setelah selaesai, paket disimpan kembali dalam lemari / wadah tertutup.
a. Sterilisasi Handschoen
• Menggunakan sterilisator kering
• Setelah handschoen ditiriskan, dan kering, handschoen kemudian diberi sedikit
talcum powder, dan dilipat sebagaimana kondisi saat masih baru.
• Letakkan duk sebagai alas tromol/pembungkus handschoen
• Susun handschoen dalam tromol , pisahkan kiri dan kanan
• Buka kisi-kisi tromol.
• Tutup tromol dan kunci
• Setelah selesai sterilisasi, kisi-kisi ditutup, tromol diberi label tanggal
pelaksanaan sterilisasi.
a. Sterilisasi Linen
• Menggunakan autoclave
• Jika linen akan didistribusikan ke ruangan2, duk disimpan dalam tromol.
• Linen disusun sebaiknya dalam bentuk gulungan2.sehingga ada ruang diantara
tiap linen. Jika disusun dalam bentuk lipatan, maka disusun dengan berjajar,
bukan menumpuk.
• Buka Kisi-kisi tromol , lalu lakukan sterilisasi sesuai petunjuk autoclave.
• Setelah selesai tromol diangkat dan kisi-kisi ditutup.
• Tromol diberi label tanggal pelaksanaan steril.
• Jika linen hendak langsung dipakai, linen dapat langsung disimpan dalam tanki
sterilisasi dan baru dimasukkan ke dalam autoclave.
a. Sterilisasi Kasa / verband
• Menggunakan sterilisator kering atau autoclave
• Susun kasa dalam tromol dengan posisi berjajar bukan menumpuk
• Buka kisi-kisi , tutup tromol, lakkukan sterilisasi.
• Setelah selesai, tutp kisi-kisi , tromol diberi label tanggal pelaksanaan sterilisasi.
a. Sterilisasi Rubber
• Menggunakan autoclave, dryheat atau cidex
• Tidak menggunakan wadah
a. Sterilisasi air
• Menggunakan autoclave
• Air disimpan didalam botol kaca, berpenutup sumbat kain atau kasa
• Botol ditaruh diatas wadah logam
• Lakukan sterilisasi sesuai petunjuk autoclave.
• Setelah selesai, botol diangkat, sumbat di perkuat dengan plester/hypafix.

Administrasi
Beberapa catatan administratif yang harus dilengkapi :

1. Formulir Persetujuan Tindakan Medik


2. Formulir Informed Consent
3. Formulir Berita Acara serah terima pasien Operasi
4. Formulir hasil pemeriksaan laboratorium
5. Formulir Laporan Operasi
6. Formulir Perincian Kamar Operasi
7. Buku Register Kamar Operasi
8. Formulir pengumpulan data Indikator mutu pelayanan Kamar Operasi