Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KEGIATAN MAGANG BIDANG PSIKOLOGI PENDIDIKAN PERIODE JANUARI FEBRUARI 2013 DI SEKOLAH LUAR BIASA NEGERI SEMARANG

Disusun oleh: Ratri Dewi Anggraini M2A009028

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Magang Berdasarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan dan

pengajaran tinggi merupakan penanggung jawab bagi terbentuknya manusia yang memiliki kecakapan dalam ilmu pengetahuan, mengabdi pada masyarakat sehingga dapat berperan serta dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Berbagai bentuk usaha atau kegiatan ilmiah dilakukan oleh perguruan tinggi baik di dalam lingkungan pendidikan tinggi maupun di masyarakat. Salah satu mata kuliah keahlian yang dimiliki oleh Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro adalah Praktek Magang di institusi, perusahaan atau industri yang sesuai dengan bidang keilmuan yang diberikan. Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan perkembangan daya pikir manusia. Perkembangan tersebut memicu perkembangan dan kemajuan zaman. Persaingan untuk menjadi yang terbaik menjadi sebuah hal yang tidak bisa dihindari, sehingga menimbulkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkompeten, yang mampu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Tuntutan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi. Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan sebagai upaya peningkatan untuk pengembangan sumber daya manusia. Sebuah

pendidikan yang tidak hanya membekali anak didik dengan teori, tetapi juga penerapannya di lapangan. Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah dipelajari, sehingga kualitas mahasiswa sebagai agen penerus bangsa dapat bertambah dan lebih matang. Kegiatan magang yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro sebagai upaya untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah dan merealisasikan program kerja. Kegiatan yang juga merupakan syarat sidang skripsi, memiliki manfaat untuk masyarakat dan 1

mahasiswa. Pertama, kegiatan magang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi instansi berupa sumbangsih pemikiran dari disiplin ilmu psikologi yang kiranya dapat menjadi masukan dan pertimbangan instansi terkait. Manfaat kedua, yaitu mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro mendapatkan suatu pengalaman yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

B.

Tujuan Magang 1. Tujuan umum a. Menciptakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro yang berkompeten di bidangnya. b. Praktikan magang mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu psikologi yang diperoleh di bangku kuliah, dalam dunia kerja. c. Mempersiapkan praktikan magang untuk menjadi seorang tenaga kerja yang handal. 2. Tujuan khusus a. Memenuhi syarat untuk mengikuti ujian skripsi. b. Mengetahui metode pembelajaran di SLB Negeri Semarang. c. Mengetahui implementasi psikologi pendidikan di SLB Negeri Semarang.

C.

Manfaat Magang 1. Manfaat untuk mahasiswa a. Mendapatkan pengalaman yang dijadikan sebagai media

pembelajaran bagi praktikan. b. Memberikan informasi untuk praktikan selanjutnya, khususnya di bidang psikologi pendidikan, sehingga mampu melaksanakan magang dengan lebih baik.

2.

Manfaat untuk Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro a. Dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk peningkatan kegiatan magang selanjutnya, khususnya di bidang psikologi pendidikan. b. Menjalin hubungan silaturahmi dan kerja sama antara Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dengan SLB Negeri Semarang.

3.

Manfaat untuk SLB Negeri Semarang a. Memberikan kontribusi non fisik berupa tenaga dan ilmu, untuk keberlangsungan aktivitas pembelajaran di SLB Negeri Semarang. b. Memberikan masukan untuk proses pendidikan bagi siswa SLB Negeri Semarang. c. Menjalin hubungan silaturahmi dan kerja sama antara Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dengan SLB Negeri Semarang.

BAB II DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum Instansi Nama Lembaga : SLB Negeri Semarang NIS NPWP : 280540 : 00 595 835 0 517 000

Penyelenggara : Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Lokasi : Jalan Elang Raya No.2 Mangunharjo Tembalang Semarang 50272 Telpon : 024-70781106 Fax (024-76744365) Kepala Sekolah : Drs. Ciptono

1.

Sejarah SLB Negeri Semarang Berawal dari SD Bina Harapan pada tahun 2000 yang merupakan sekolah khusus anak-anak slow leaner, kemudian berubah menjadi sekolah anak-anak mengalami kesulitan belajar. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum umum dan kurikulum SLB. Tahun 2002, berubah menjadi SD Bina Harapan Kelas Khusus yang menerima siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). SLB Negeri Semarang dirintis sebagai sekolah unit baru pada tahun 2004 dengan biaya awal 1.350.000.000 untuk membangun ruang kelas, mushola, perpustakaan, ruang ketrampilan, ruang tata usaha dan ruang kepala sekolah. Setahun kemudian, yaitu tahun 2005, siswa SD Bina Harapan Kelas Khusus adalah cikal bakal SLB Negeri Semarang yang merupakan milik pemerintah provinsi Jawa tengah. Tahun 2006, SLB Negeri Semarang mulai mendapatkan anggaran operasional dari pemerintah provinsi.

SLB Negeri Semarang merupakan sekolah sentra, yang terdiri dari PAUD,TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB, alumni SMALB dari beberapa SLB di semarang. Terdapat delapan bengkel kerja, yaitu a. Otomotif b. Kriya kayu, c. Tata boga d. Tata busana e. Tata kecantikan f. Komputer (ICT) g. Seni musik h. Pertamanan

2.

Visi dan Misi SLB Negeri Semarang a. Visi Terwujudnya pelayanan anak berkebutuhan khusus yang berbudi luhur terampil dan mandiri. b. Misi Memberikan pelayanan yang prima dan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak berkebutuhan khusus secara maksimal, agar mampu hidup mandiri dan berguna bagi masyarakat.

3.

Struktur Organisasi SLB Negeri Semarang

Bagan 1. Struktur organisasi sentra PK dan PLK SLB Negeri Semarang

Bagan 2. Struktur organisasi bengkel kerja SLB Negeri Semarang

Bagan 3. Struktur organisasi komite SLB Negeri Semarang periode 2008-2009

4.

Bidang-Bidang Kerja SLB Negeri Semarang a. Kepala Sekolah Memimpin penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran dan tenaga

membina tenaga kependidikan, siswa, teknisi

administrasi sekolah. Tugas dan tanggung jawab Kepala Sekolah, sebagai berikut 1) Merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi dan

mengevaluasi seluruh proses pendidikan di sekolah meliputi aspek edukatif dan administratif. 2) Menetapkan dan menandatangani kebijakan mutu, pedoman mutu, SOP (Standard Operating Procedures). 3) Memastikan adanya sasaran pada level sekolah mulai SDLB, SMPLB, SMALB dan memastikan pencapaian kinerja atas sasaran yang telah ditetapkan. 4) Menunjuk dan menandatangani pengangkatan Wakil

Manajemen dan tim internal audit. 5) Mendelegasikan wewenang tertentu kepada Wakil Kepala Sekolah atau pejabat lain yang ditunjuk terkait efektifitas penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. 7

6) Menyetujui dan menandatangani penyediaan sumber daya. 7) Memimpin rapat tinjauan manajemen. 8) Menetapkan keputusan terkait efektifitas penerapan SMM ISO 9001 : 2000.

b.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum Membantu Kepala Sekolah dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai kondisi dan rencana pengembangan sekolah. Tugas dan tanggung jawab Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, sebagai berikut 1) Menyusun KTSP dan pengembangannya. 2) Menyediakan perlengkapan/format administrasi guru yang berkaitan dengan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). 3) Menyusun pembagian tugas guru. 4) Menyusun jadwal pelajaran. 5) Mengkoordinasikan pembuatan soal ujian dan pelaksanaan ujian. 6) Mengkoordinasikan kegiatan ujian akhir. 7) Menyusun laporan pelaksanaan pengajaran secara berkala. 8) Mengarahkan penyusunan program satuan pelajaran. 9) Mengkoordinasikan pelaksanaan KBM yang ditekankan pada pelajaran 3M (Membaca, Menulis, Menghitung). 10) Mengkoordinasikan pelaksanaan KBM keterampilan terpadu.

c.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan Membantu Kepala Sekolah dalam memimpin kegiatan di bidang kesiswaan. Tugas dan tanggung jawab Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan, yaitu 1) Menyusun program pembinaan kesiswaan. 2) Menyelenggarakan administrasi kesiswaan.

3) Menyediakan perlengkapan/format administrasi guru yang berkaitan dengan kesiswaan. 4) Mengkoordinasikan kegiatan siswa untuk urusan ke luar dan ke dalam sekolah. 5) Mengkoordinasikan kegiatan penerimaan siswa baru. 6) Menyusun data-data kesiswaan. 7) Membuat daftar praktikan ujian akhir untuk diserahkan kepada urusan kurikulum. 8) Mengkoordinasikan kegiatan upacara. 9) Menyelenggarakan peringatan hari besar agama/nasional yang dilaksanakan sekolah. 10) Mengelola UKS (Unit Kesehatan Sekolah). 11) Mengkoordinasikan kegiatan ekstra kurikuler. 12) Berhak menolak siswa baru yang kurang memenuhi syarat.

d.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Masyarakat Membantu kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan di bidang kehumasan. Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Masyarakat mempunyai tugas dan tanggung jawab, antara lain 1) Merencanakan, mengkoordinasikan pelaksanaan survey

kepuasan pelanggan. 2) Mengkoordinasikan tindak lanjut atas umpan balik, saran-saran dari siswa baik individu maupun melalui himpunan. 3) Menyebarluaskan informasi tentang anak berkebutuhan khusus dan sekolah kepada masyarakat dan instansi terkait. 4) Menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam

penyelenggaraan pelayanan tuntas untuk memandirikan siswa. 5) Mengkoordinasikan kegiatan penerimaan tamu yang

berkunjung ke sekolah. 6) Mengatur dan menyelenggarakan hubungan sekolah dengan orang tua siswa.

7) Mengkoordinasikan kegiatan sosial kemasyarakatan. 8) Melayani dan mengkoordinasikan kegiatan observasi dan praktik mengajar/PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) bagi mahasiswa/instansi terkait.

e.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana Menyelenggarakan kegiatan pengadaan barang dan jasa yang diperlukan untuk mendukung terselenggaranya proses pendidikan dan pengajaran. Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana mempunyai tugas dan tanggung jawab, sebagai berikut 1) Melakukan inventarisasi barang keperluan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). 2) Merencanakan dan melakukan pengecekan barang keperluan KBM. 3) Melaksanakan proses pengadaan barang. 4) Menyelenggarakan administrasi dan pelaksanaan pengelolaan sarana dan prasarana: pencatatan, pemeliharaan, penyaluran, pengamanan, pengembangan, penghapusan. 5) Pengelolaan laboratorium. 6) Penyaluran barang keperluan KBM.

f.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Bengkel Sebagai koordinator dalam mengelola Pusat Latihan Kerja bagi siswa/tamatan SLB dari berbagai jenis ketunaan. Wakil Kepala Sekolah Urusan Bengkel mempunyai tugas dan tanggung jawab, antara lain 1) Bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan siswa/tamatan siswa SLB yang menggunakan fasilitas alat-alat dari center workshop.

10

2) Ikut bertanggung jawab atas pemeliharaan sarana dan prasarana yang termasuk dalam inventaris dari center workshop. 3) Melaporkan/mengusulkan kepada Sarana dan Prasarana

apabila terdapat peralatan center workshop yang rusak atau memerlukan pemeliharaan khusus. 4) Melakukan pemeliharaan dan perawatan rutin atas peralatan yang ada di center workshop. 5) Mengusulkan penambahan kebutuhan peralatan untuk

pengembangan center workshop. 6) Melakukan pengecekan atas peralatan hasil pengadaan yang diterima dari bagian sarana dan prasarana. 7) Menyiapkan materi pengajaran dan pelatihan keterampilan bagi para siswa dan guru menurut bidang kerampilan masingmasing. 8) Melakukan bimbingan dan pengajaran keterampilan bagi siswa dan guru. 9) Berhak memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan perbaikan peralatan bengkel. 10) Berhak menentukan pilihan jenis ketrampilan siswa sesuai dengan hasil assessment ketrampilan

g.

Koordinator Satuan Pendidikan Koordinator mempunyai tugas utama mengkoordinasi guru dalam mengajar, membimbing dan atau melatih siswa. Tugas dan tanggung jawab Koordinator Satuan Pendidikan, antara lain 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas tepat pada waktunya. 3) Mengkoordinir para guru yang menjadi tanggung jawabnya.

11

4) Memberi informasi kepada guru yang menjadi tanggung jawabnya. 5) Mengadakan koordinasi dengan para guru di tingkat satuan lain. 6) Mengadakan koordinasi dengan koordinator lain. 7) Melaporkan perkembangan atau rujukan praktikan didik yang tidak memenuhi kompetensi.

h.

Tata Usaha Tugas utama dari Tata Usaha yaitu melakukan administrasi kependidikan, selain itu beberapa tugas dan tanggung jawab lainnya: 1) Melaksanakan tata usaha sekolah. 2) Merencanakan pengadaan dan pengelolaan ATK (Alat Tulis Kantor). 3) Penyusunan RKA (Rencana Kegiatan Anggaran). 4) Menyelesaikan laporan-laporan sekolah. 5) Menyelesaikan persuratan. 6) Menyelesaikan urusan rumah tangga sekolah. 7) Pengurusan kepegawaian. 8) Pengetikan soal-soal TPB (Tes Prestasi Belajar) / Ujian Akhir / Ujian Sekolah. 9) Pengetikan PAK jabatan guru.

i.

Guru Kelas Tugas utama seorang Guru Kelas yaitu melaksanakan pendidikan dan pengajaran dalam satu kelas melalui seperangkat cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian tertentu. Tugas dan tanggung jawab lainnya, antara lain 1) Mengelola kelas baik teknis administratif maupun edukatif.

12

2) Membuat Silabi, program tahunan, program semester, rencana pelaksanaan belajar dan administrasi guru. 3) Memberikan masukan kepada guru pembimbing lainnya tentang siswa yang ada di bawah asuhannya. 4) Melakukan kerjasama dengan orang tua siswa dalam meningkatkan keberhasilan belajar siswa. 5) Membuat sasaran untuk kelas yang dipimpinnya. 6) Memonitor dan memastikan sasaran tercapai sesuai target kinerja dan jangka waktu yang telah ditetapkan. 7) Mengumpulkan dan menganalisis data hasil evaluasi. 8) Menyimpan dan memelihara rekaman-rekaman yang terkait dengan proses pendidikan/pengajaran.

j.

Guru Bidang Studi Guru mempunyai tugas utama mengajar, membimbing, dan/atau melatih siswa. 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas mengajar tepat pada waktunya. 3) Membuat silabi, program tahunan, program semester, rencana pelaksanaan belajar dan administrasi guru. 4) Mengadakan evaluasi belajar terhadap: cara belajar siswa, hasil proses belajar mengajar, dan kegiatan siswa di luar sekolah/pekerjaan rumah. 5) Ikut bertanggung jawab atas kelancaran jalannya pelajaran serta ketertiban dan kebersihan sekolah. 6) Mencintai anak didik dan tugasnya. 7) Bersikap sopan, ramah dan terbuka. 8) Meningkatkan pengetahuan dan kecakapan profesinya. 9) Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohaninya.

13

10) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan dan program sekolah.

k.

Pengasuh Pengasuh mempunyai tugas utama menjaga, mengantar, merawat siswa yang membutuhkan, kemudian tugas dan tanggung jawab lainnya: 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas tepat pada waktunya. 3) Datang lebih awal pukul 07.00 WIB untuk mengawasi siswa yang sudah datang. 4) Mengantar siswa ke tempat terapi atau musik. 5) Mendampingi siswa ke kamar kecil. 6) Menunggu dan mengawasi siswa yang belum pulang atau dijemput.

l.

Pramusaji Pramusaji mempunyai tugas utama menyiapkan, menyajikan seperangkat minuman. Tugas dan tanggung jawab lainnya, sebagai berikut 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas tepat pada waktunya. 3) Datang pukul 06.00 WIB untuk menyiapkan/menyajikan minuman sebelum pukul 07.30 WIB. 4) Menjaga dan membersihkan lingkungan bengkel otomotif, pertukangan, boga dan dua kamar kecil. 5) Membuat dan menyajikan bermacam-macam kebutuhan konsumsi rapat.

14

m. Keamanan Keamanan mempunyai tugas utama menjaga keamanan dan ketertiban sekolah. Tugas dan tanggung jawab lainnya, sebagai berikut 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas tepat pada waktunya. 3) Membuat jadwal piket intern keamanan. 4) Melaksanakan piket sesuai dengan jadwal. 5) Membuat buku tamu. 6) Mencatat semua kejadian yang ada. 7) Membersihkan lingkungan tempat piket saat jam kerja.

n.

Terapis Terapis mempunyai tugas utama menerapi dan melatih siswa, selain itu terapis juga memiliki tugas dan tanggung jawab lainnya: 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas tepat pada waktunya. 3) Membuat program terapi. 4) Mengadakan evaluasi tentang keadaan anak. 5) Ikut bertanggung jawab atas kelancaran jalanannya terapi. 6) Bersikap ramah, sopan dan terbuka. 7) Meningkatkan pengetahuan dan kecakapan profesinya. 8) Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani. 9) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan dan program sekolah.

15

o.

Kebersihan Petugas kebersihan mempunyai tugas utama menjaga

kebersihan. Tugas dan tanggung lainnya, yaitu 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas tepat pada waktunya. 3) Membersihkan ruang kelas, kantor guru, kelas ketrampilan. 4) Membersihkan taman, lapangan, menata lingkungan sekolah. 5) Mengganti atau memperbaiki taman. 6) Melaporkan kondisi yang menjadi tanggung jawab. 7) Monitoring keindahan lingkungan sekolah.

p.

Asisten Guru Asisten mempunyai tugas utama membantu mengajar, membimbing dan atau melatih siswa. Tugas dan tanggung jawab asisten guru yang lain, yaitu 1) Senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang dikandung Pancasila. 2) Berada di sekolah setiap hari kerja dan menunaikan tugas tepat pada waktunya. 3) Membantu guru kelas. 4) Mencintai anak didik dan tugasnya. 5) Bersikap sopan, ramah dan terbuka. 6) Ikut bertanggung jawab atas kelancaran jalannya pelajaran serta ketertiban.

B.

Pelaksanaan Magang 1. Jenis dan Bentuk Kegiatan Magang Kegiatan magang di SLB Negeri Semarang merupakan kegiatan magang di bidang Psikologi Pendidikan, dimana praktikan dituntut

16

untuk mampu mempraktikkan ilmu dan pengetahuan psikologi yang telah diterima di bangku perkuliahan untuk menjadi observer, interviewer, pendamping, dan motivator bagi para siswa di SLB Negeri Semarang. a. Observer :Mengamati tingkah laku siswa (dan guru) saat

kegiatan belajar mengajar maupun terapi, serta bertujuan agar mampu mengklasifikasikan jenis gangguan pada siswa. b. Interviewer :Melakukan wawancara singkat dengan guru kelas dan terapis, terkait dengan materi pembelajaran, serta teknik-teknik menangani siswa-siwa dengan berbagai macam gangguan. c. Pendamping :Menjadi asisten guru dengan memberikan

pendampingan kepada siswa, ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. d. Motivator :Memberikan kata-kata yang dapat menumbuhkan

semangat belajar siswa dan memberikan nasehat serta solusi bagi masalah-masalah yang dihadapi siswa.

2.

Prosedur Kerja a. Orientasi Praktek magang di SLB Negeri Semarang dimulai dengan melakukan orientasi lembaga atau sekolah yang didampingi oleh Ibu Fanie Dipa Pawakaningsih, S.Pd, M.Pd, selaku supervisor praktikan di SLB Negeri Semarang. b. Pelaksanaan magang Kemudian selama dua puluh hari kerja, masing-masing praktikan melakukan kegiatan magang sesuai dengan jadwal penempatan kelas yang telah ditetapkan oleh supervisor.

Penempatan praktikan di kelas yang berbeda pada setiap minggunya bertujuan untuk mengarahkan mahasiswa agar lebih mendalami berbagai jenis ketunaan yang dimiliki siswa SLB Negeri Semarang, serta dapat mengerti bagaimana cara

17

menghadapi siswa dengan jenis gangguan tertentu. Walaupun telah ditetapkan jadwal, praktikan diperbolehkan untuk melakukan praktek magang di kelas manapun yang dikehendakinya, dengan tetap memberi laporan kepada supervisor. Sehingga dapat dikatakan, bahwa pihak SLB Negeri Semarang memberikan kebebasan (fleksibilitas), namun tetap bertanggung jawab kepada praktikan. Kegiatan magang selama dua puluh hari, dapat diuraikan secara singkat, sebagai berikut

Tabel 1. Kegiatan Magang di SLB Negeri Semarang No. 1. Hari/Tanggal Senin/14 Januari 2013 s.d. Sabtu/19 Januari 2013 2. Praktek (SMPLB) Aktivitas magang di kelas autis

Senin, Rabu, Sabtu/21, 23, Praktek magang di kelas tuna daksa 26 Januari 2013 (SDLB) Praktek magang di kelas TK-C (tuna grahita) Mendampingi anak-anak tuna rungu (SMALB) mengadakan pameran hasil karya atau kerajinan tangan anak-anak SLB Negeri Semarang di Balai Diksus

3.

Senin, Rabu, Kamis/28, 30, 31 Januari 2013

4.

Selasa, Jumat, Selasa/22, 25, 29 Januari 2013

5.

Jumat/1 Februari 2013 s.d. Praktek Sabtu/2 Februari 2013

magang

(observasi

dan

interview) di Pusat Terapi ABK Praktek magang dan praktek terapi patterning di kelas pengembangan Penarikan praktikan

6.

Senin/4 Februari 2013 s.d. Selasa/5 Februari 2013

7.

Rabu/6 Februari 2013

Praktikan juga diwajibkan mengikuti tata tertib praktikan magang yang berlaku di SLB Negeri Semarang, antara lain

18

1) Hari Senin hingga Jumat diharuskan mengikuti apel pagi, sehingga praktikan masuk pukul 07.00-12.00 WIB atau sampai kegiatan belajar mengajar di kelas berakhir. Untuk kelas pengembangan dan tuna daksa, kelas berakhir pukul 10.00 WIB, kemudian untuk hari Sabtu, praktikan masuk pukul 08.00-10.00 WIB. Sedangkan untuk kegiatan pendampingan anak tuna rungu saat mengadakan pameran, selesai hingga acara pameran berakhir. Kehadiran praktikan dikoordinasikan dengan mengisi daftar hadir yang telah disediakan oleh supervisor. 2) Pakaian untuk praktikan, yaitu mengenakan jas almamater, baju berkerah (tidak kaos), celana panjang non jeans atau rok, dan sepatu. c. Pelaporan Setiap harinya, praktikan diwajibkan untuk membuat catatan mengenai kegiatan yang dilakukan masing-masing berupa jurnal harian, dengan format laporan yang telah ditentukan oleh supervisor. d. Monitoring Pada hari tertentu, diadakan supervisi atau monitoring antara supervisor dengan praktikan. e. Penarikan Kegiatan magang diakhiri dengan penarikan oleh Bapak Imam Setyawan, S.Psi, M.A, selaku dosen pembimbing magang, bersama pihak SLB Negeri Semarang yang diwakilkan oleh Ibu Fanie Dipa Pawakaningsih, S.Pd, M.Pd.

3.

Hasil a. Metode pembelajaran Metode pembelajaran di kelas autis, tuna daksa, dan TK-C berlangsung satu arah, dimana guru yang aktif dan siswa hanya

19

menerima apa yang diberikan oleh guru. Proses pembelajaran tidak berlangsung kaku. Terkadang terjadi tanya jawab antara guru dan siswa, misalnya guru menanyakan kabar siswa dan menanggapi siswa-siswi yang ingin berbicara. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas, proses pendidikan di SLB Negeri Semarang mengacu pada prosentase 60% praktek dan 40% teori. Siswa diarahkan untuk mengikuti kelas-kelas ketramplian sesuai dengan minat atau bakat siswa. Mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa juga tidak berstandar kompetensi, sehingga kompleksitas teori-teori yang diberikan tidak sama dengan sekolah pada umumnya. Pembelajaran mengikuti kemampuan siswa, bukan menuntut siswa agar mencapai suatu standar kompetensi. 1) Kelas autis besar Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah

dilakukan, praktikan mendapatkan hasil identifikasi jenis gangguan pada siswa-siswi di kelas SMPLB tersebut, bahwa yang dimaksud siswa autis adalah siswa yang memiliki gangguan perkembangan pervasif. Gangguan perkembangan pervasif memiliki ciri-ciri hendaya yang signifikan pada perilaku dan fungsi di berbagai area perkembangan, dan yang termasuk dalam klasifikasi gangguan perkembangan pervasif adalah autisme, gangguan Asperger, gangguan Rett, dan gangguan disintegratif masa kanak-kanak (Nevid, dkk, 2005). Praktikan bertugas di kelas SMPLB yang terdiri dari siswa Asperger dan siswa tuna grahita. Alasan praktikan

mengidentifikasikan siswa Asperger, bukan siswa autis, karena terdapat perbedaan di antara keduanya. Gangguan Asperger berbeda dengan autisme, karena gangguan Asperger tidak melibatkan defisit yang signifikan pada kemampuan bahasa dan kognitif (APA, 2000; Szatmari, dkk, 2000). Terbukti

20

bahwa siswa masih mampu berinteraksi dan kemampuan kognitifnya berada di atas rata-rata kelas. Siswa dengan gangguan perkembangan pervasif (Asperger) dijadikan satu kelas dengan siswa tuna grahita, dengan alasan sosialisasi. Jumlah siswa di kelas tersebut adalah 15 anak, yang terdiri atas 6 siswa Asperger dan 7 siswa tuna grahita. Tampak jelas bagaimana interaksi antara siswa Asperger dengan siswa tuna grahita. Apabila siswa Asperger bertingkah laku semaunya, siswa tuna grahita akan mengingatkan. Perilaku siswa yang memiliki gangguan perkembangan pervasif dapat mengganggu pembelajaran, konsentrasi sehingga siswa diperlukan lainnya saat proses yang

pendampingan

intensif. Guru harus merespon setiap perilaku siswa Asperger, yang mana berpengaruh pada keberlangsungan KBM.

Sebaiknya, di dalam kelas, guru dibantu asisten guru, agar dapat mengurangi terganggunya proses KBM karena tingkah laku siswa. 2) Kelas tuna daksa Tuna daksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir. Tingkat intelegensi anak tuna daksa yang berumur antara 3 tahun sampai 16 tahun: IQ anak tuna daksa antara (range) 35-138, rata-rata (mean) anak tuna daksa adalah IQ 57, anak polio mempunyai rata-rata intelegensi yang tinggi yaitu IQ 92, anak yang TBC tulang rata-rata IQ 88, anak yang cacat congenital rata-rata IQ 61, anak yang spastic rata-rata IQ 69, dan anak cacat pada pusat syaraf rata-rata IQ 74 (Somantri, 2006).

21

Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan praktikan, terdapat perbandingan antara jumlah guru dan siswa di kelas tuna daksa, yaitu 1:5. Metode pembelajaran, seperti belajar membaca, menulis, dan mewarnai diberikan secara berulang-ulang setiap harinya. Pengulangan materi

pembelajaran memiliki tujuan agar dapat meningkatkan koordinasi antara syaraf pusat dengan motorik siswa. Guru kelas didampingi oleh asisten guru untuk membantu siswa yang ingin ke kamar mandi dan kebutuhan siswa lainnya. 3) Kelas TK-C (tuna grahita) Tuna grahita yaitu keadaan individu yang mengalami hambatan perkembangan mental mencakup aspek inteligensi, sosial, dan fungsi-fungsi mental (Somantri, 2006). Skor IQ pada individu tuna grahita atau retardasi mental kira-kira <70 (APA, 2000). Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh praktikan, di kelas TK-C terdiri atas beberapa anak yang memiliki gangguan down syndrome, autisme, ADHD. Tampak jelas bahwa di kelas TK-C, guru kelas membutuhkan bantuan untuk menghadapi tingkah laku anak-anak. Metode pembelajaran di kelas TK-C secara garis besar sama dengan pra sekolah pada umumnya. Kegiatan

pembelajaran meliputi bermain, bernyanyi, menulis, dan mewarnai. Anak-anak diajari ketrampilan hidup sehari-sehari, seperti melepas alas kaki pada tempatnya dan berdoa sebelum dan berakhirnya KBM. Guru kelas dibantu asisten guru untuk menangani anak-anak yang sulit untuk mengikuti KBM, khususnya yang memiliki ADHD (Attention-Deficit

Hyperactivity Disorder). Anak-anak ADHD memperlihatkan impulsivitas, tidak adanya perhatian, dan hiperaktivitas yang dianggap tidak sesuai dengan tingkat perkembangan mereka

22

(Nevid, dkk, 2005), kemudian ciri-ciri pada anak yang memiliki gangguan ADH, antara lain a) Tampak tidak dapat duduk dengan tenang, gelisah, dan bergerak-gerak di kursi b) Mengganggu kegiatan anak-anak lain c) Mudah marah d) Dapat melakukan perilaku yang berbahaya, seperti berlari ke jalan tanpa melihat b. Peran orang tua Orang tua atau kerabat terdekat anak mendampingi anak selama proses pembelajaran berlangsung, di luar kelas. Orang tua mengontrol tingkah laku anak di sekolah, seperti mengontrol makanan yang anak makan saat istirahat, memayungi anak saat hujan, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak dapat anak lakukan secara mandiri. Orang tua juga mengantarkan anak-anak untuk menjalani terapi. Tampak jelas apabila peran orang tua sangatlah penting bagi proses pendidikan anak, namun terdapat fakta yang menarik, bahwa masih ada anak tuna daksa yang berkursi roda yang tidak didampingi oleh orang tua ataupun kerabat terdekat anak selama sekolah berlangsung. Ada pula orang tua yang menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah saat proses KBM, termasuk kebutuhan anak yang tidak dapat dilakukan secara mandiri, seperti buang air. c. Treatment SLB Negeri Semarang memfasilitasi siswa-siswa untuk mendapatkan penanganan terapi, secara gratis, di Pusat Terapi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang berada di lingkungan sekolah. Siswa ditangani oleh terapis-terapis profesional. Beberapa terapi diberikan secara individual sesuai dengan kondisi anak.

23

Jenis-jenis terapi yang diberikan (http://www.slbn-smg.sch.id/), antara lain 1) Terapi okupasi Terapi okupasi umumnya menekan pada kemampuan motorik halus, selain itu terapi okupasi juga bertujuan untuk membantu seseorang agar dapat melakukan kegiatan keseharian, aktifitas produktifitas dan pemanfaatan waktu luang. Terapi okupasi diperlukan oleh anak atau orang dewasa yang mengalami kesulitan belajar, hambatan motorik (cedera, stroke, traumatic brain injury), autisme, sensory processing disorders, cerebral palsy, down syndrome, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), genetic disorders, Aspergers

syndrome, kesulitan belajar, keterlambatan wicara, gangguan perkembangan (Cerebal Palsy), PDD (Pervasive Developmental Disorder), dan keterlambatan tumbuh kembang lainnya. 2) Terapi sensori integrasi Sensori integrasi berarti kemampuan untuk mengolah dan mengartikan seluruh rangsang sensoris yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respons yang terarah. Layanan terapi ini dapat diterapkan pada: anak dengan gangguan perilaku, ASD (Autism Spectrum Disorder), down syndrome, ADD / ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), Aspergers Syndrome, kesulitan belajar,

keterlambatan wicara, gangguan perkembangan (Cerebal Palsy), PDD (Pervasive Developmental Disorder) dan keterlambatan perkembangan lainnya. 3) Terapi wicara Terapi wicara adalah layanan terapi yang membantu bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi

24

atau ganguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapi wicara bertujuan untuk membantu seseorang yang mengalami gangguan komunikasi, seperti a) Anak-anak dengan gangguan berbahasa reseptis (tidak mengerti) b) Anak-anak dengan gangguan berbahasa ekspresif (sulit mengungkapkan keinginannya dalam berbicara) c) Anak-anak dengan gangguan tumbuh kembang khusus (autisme, down syndrome, tuna rungu-wicara) d) Anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara (speech delay) e) Anak-anak yang mengalami gangguan artikulasi gagap (stuttering), cadel, dan sebagainya f) Anak-anak dan orang dewasa yang baru selesai menjalani operasi celah bibir (cleft lip / sumbing) dan celah langit-langit (cleft palate). g) Serta gangguan bahasa pada orang dewasa seperti pasca stroke yang mengalami kehilangan berbahasa (Afasia). 4) Terapi ADL (Activity Daily Living / Aktifitas Keseharian) Salah satu bentuk layanan terapi yang membantu anak-anak untuk dapat melakukan aktifitas keseharian seperti makan, minum, berpakaian, bersepatu, bersisir, mandi, aktifitas

toileting, dan sebagainya, secara mandiri. Layanan terapi ADL dapat diterapkan bagi anak

berkebutuhan khusus, sehingga anak dapat mandiri dalam kesehariannya. 5) Terapi perilaku Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan. Fokus

25

penanganan dalam terapi perilaku terletak pada pemberian reinforcement pada anak. Layanan terapi ini umumnya diperuntukan untuk anak dengan gangguan perilaku, pemusatan pemikiran dan

hiperaktifitas (ADHD), ADD, maupun autisme. 6) Orthopegagog (remedial teaching) Orthopedagog adalah terapi untuk mengatasi kesulitan belajar khusus pada anak. Umumnya metode ini digunakan pada anak dengan Kesulitan Belajar dan Lamban Belajar. Layanan terapi ini juga dapat diterapkan pada anak dengan gangguan: a) Disleksia (ketidakmampuan mengeja dan menulis) b) Disgrafia (kesulitan menulis dan berbicara) c) Diskalkulia (kesulitan berhitung) d) Disfasia (kesulitan berbahasa verbal) e) Disortografia (kesulitan dalam mengeja kata) f) Disnomia (kesulitan dalam menggunakan kata yang tepat untuk sebuah benda) 7) Fisioterapi Fisioterapi merupakan salah satu jenis layanan terapi fisik yang menitikberatkan untuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat gerak atau fungsi tubuh yang terganggu yang kemudian diikuti dengan proses atau metode terapi gerak. Layanan fisioterapi umumnya bagi anak dengan keterbatasan fisik, ketunaan tubuh/tuna daksa serta anak cerebal palsy dan untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan atau gangguan pada kemampuan motorik kasar, pasien pasca stroke yang memerlukan pemulihan kondisi fisiknya, serta trauma lain yang menyebabkan penampilan fisik terganggu.

26

8) Terapi musik Terapi musik adalah salah satu bentuk terapi yang bertujuan meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Layanan terapi ini diperuntukkan bagi semua ketunaan yang ada, serta pada gangguan perkembangan anak seperti autisme, ADHD, down syndrome, dan lainnya. 9) Terapi akupresur dan akupuntur Akupresur adalah salah satu bentuk terapi dengan

memberikan pemijatan dan stimulasi pada titik-titik tertentu pada tubuh. Layanan terapi ini bertujuan untuk mengurangi bermacam-macam sakit dan nyeri serta mengurangi ketegangan, kelelahan dan penyakit. Akupuntur merupakan salah satu bentuk dari pembedahan dengan menusukkan jarum-jarum ke titik-titik tertentu di badan. Layanan akupresur dan akupuntur dapat menyembuhkan sakit dan nyeri yang sukar disembuhkan seperti nyeri punggung, spondilitis, kram perut, gangguan neurologis, artritis, serta gangguan dalam kesulitan tidur, hiperaktifitas, kesulitan makan, obesitas, dan lainnya. Ada pula terapi khusus yang dilakukan di kelas pengembangan, yang diberikan pada anak-anak tuna daksa (cerebral palsy), yaitu terapi patterning. Terapi patterning atau Doman-Delacato

Technique, dikembangkan oleh seorang terapis fisik, G. Doman, R. Doman, dan C. Delacato. Sensori integrasi dan stimulasi ada di dalam terapi patterning, sehingga apabila terapi dilakukan secara teratur akan menstimulasi perkembangan fungsi otak (Miller, 2007).

27

Penanganan terapi patterning di SLB Negeri Semarang, diberikan oleh guru yang telah mengikuti pelatihan. Pelaksanaan dari terapi patterning membutuhkan lima orang terapis (guru) dimana masing-masing terapis memegang dan menggerakkan anggota tubuh anak cerebral palsy: kepala, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri. Sesuai hitungan masing-masing terapis melakukan pola gerakan pada anggota tubuh secara bersamaan. Misalnya, pada awal terapi, anggota tubuh diposisikan: kepala ditolehkan ke kiri, tangan kiri ditekuk ke atas, tangan kanan ke bawah, kaki kanan ditekuk ke atas hingga paha menyamping ke arah luar, dan kaki kiri diluruskan ke bawah. Ketika hitungan dimulai, semua terapis menggerakkan anggota tubuh anak dengan arah yang berlawanan dengan posisi awal, dan begitu seterusnya selama lima menit atau sesuai kebutuhan. Terjadi perbedaan pendapat antara guru kelas pengembangan satu dan dua mengenai posisi kaki. Sebaiknya dilakukan sinkronisasi antara guru kelas pengembangan, demi tercapainya tujuan terapi patterning yang dilakukan.

4.

Kendala yang Dihadapi dan Upaya untuk Memecahkannya a. Komunikasi Kendala komunikasi terjadi ketika praktikan berkomunikasi dengan anak tuna rungu. Keterbatasan kosa kata dan tata bahasa yang kurang baik membuat kesalahpahaman berkomunikasi antara praktikan dan siswa. Upaya yang dilakukan, yaitu 1) Mengatakan apa yang dimaksud dengan pelan-pelan dan jelas, karena siswa membaca bibir. 2) Berkomunikasi lewat media, seperti menulis di kertas atau handphone. 3) Melakukan pendekatan yang baik dengan sesekali mengajak bercanda satu sama lain.

28

4) Meminta salah satu siswa untuk mengajari bahasa isyarat. b. Emosi Anak berkebutuhan khusus tidak jarang menunjukan emosi dan ego yang berlebihan, sebagai contoh salah satu anak tuna daksa yang mengambil kamera praktikan dan tidak mau

mengembalikannya. Solusi untuk menghadapi ego anak-anak, yaitu praktikan berusaha dengan sabar memberikan perhatian penuh kepada para siswa, mendengarkan keluh kesah dan cerita mereka, serta memberikan pengertian tentang mana yang baik dan mana yang buruk.

29

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Kesimpulan dari kegiatan magang bidang psikologi pendidikan di SLB Negeri Semarang, sebagai berikut 1. Proses pendidikan di SLB Negeri Semarang mengacu pada prosentase 60% praktek dan 40% teori. SLB Negeri Semarang menyediakan beberapa kelas ketrampilan untuk para siswa, antara lain: kelas menggambar, kelas musik, kelas otomotif, kelas kriya kayu, kelas tata busana, kelas tata boga, kelas batik, kelas kecantikan, dan lain sebagainya. 2. Pengajar atau tenaga ahli di SLB Negeri Semarang adalah pengajar yang berkompeten atau memiliki latar belakang pendidikan perguruan khusus sekolah luar biasa, sehingga mampu memberikan metode pengajaran dan menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus dengan tepat dan optimal, namun SLB Negeri Semarang kekurangan pengajar yang berkompeten. 3. Proses pendidikan dalam sekolah luar biasa, meliputi kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, terapis, psikolog, dan ahli medis. Pihak sekolah bekerja sama dengan orang tua siswa agar mengarahkan bakat atau ketrampilan apa yang dimiliki oleh siswa, sehingga orang tua juga memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan anak. Pihak sekolah juga bekerja sama dengan profesi lainnya (terapis, psikolog, ahli medis), namun hanya sebatas memberikan pelayanan penanganan bagi siswa. 4. Sekolah luar biasa memiliki perbedaan dengan sekolah pada umumnya. Perbedaan yang signifikan adalah materi pembelajaran yang tidak membutuhkan suatu standar kompetensi dan pendampingan yang intensif untuk siswa.

30

B.

Saran 1. Saran bagi praktikan selanjutnya Bagi praktikan selanjutnya, sebaiknya mempersiapkan materi-materi mengenai anak berkebutuhan khusus dengan matang, sehingga mampu melakukan penyesuaian diri dengan subjek dan lingkungan sekitarnya. 2. Saran bagi Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Bagi pihak Fakultas, diharapkan salah satu bentuk kegiatan magang, yaitu observasi anak berkebutuhan khusus dan treatment-nya, dapat dijadikan sebagai materi perkuliahan. Hal tersebut bertujuan agar praktikan di lapangan, telah mampu menyesuaikan diri dengan subjek dan lingkungan sekitar. 3. Saran bagi SLB Negeri Semarang a. Disarankan kepada pengajar agar mengekslporasi lebih banyak lagi mengenai metode pengajaran dan cara menangani siswa secara tepat dan optimal, berdasarkan jenis-jenis gangguan pada siswa. b. Sebaiknya pihak sekolah berkolaborasi dengan terapis, psikolog, dan ahli medis, untuk mendapatkan informasi kondisi biologis maupun psikologis siswa secara integral, sehingga dapat melakukan proses pendidikan dengan metode-metode yang tepat guna bagi siswa sesuai dengan kondisi siswa. c. Mensosialisasikan kepada orang tua siswa, bahwa peran orang tua atau keluarga sangatlah penting bagi proses pendidikan anak. Diperlukan kerjasama dari pihak keluarga, seperti pendampingan selama proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah, pengulangan pembelajaran di rumah, dan pengarahan ketrampilan anak.

31