Anda di halaman 1dari 42

SISTEM MANAJEMEN PEMELIHARAAN JALAN ( PAVEMENT MAINTENANCE MANAGEMENT SYSTEM )

Permasalahan Jaringan Jalan di Indonesia (1)


Dari seluruh panjang jalan di Indonesia (333.103 km),

sebagian besar merupakan Jalan Kabupaten (68,83%), lihat gambar 1. Dari seluruh jaringan jalan di Indonesia, sebagian besar dalam kondisi kurang mantap (sedang), yaitu 43,20%, lihat gambar 2. Bila dibandingkan antara Kelas jalan dengan Kondisi Jalan ( lihat gambar 3 ), terlihat bahwa kondisi Jalan seluruhnya pada umumnya adalah SEDANG, yaitu 44,0% untuk jalan Nasional, 35,3% untuk jalan Propinsi, 26,4% untuk jalan Kabupaten, dan 87,0% untuk Jalan Kota. Sedangkan Jalan Tol seluruhnya dinyatakan dalam kondisi Baik (100,0% ).

Prosentase panjang jalan di Indonesia menurut kewenangannya


Jalan Kabupaten 68,83%

Jalan Kota 6,59%

Jalan Propinsi 14,05%

Jalan Nasional 10,30%

Jalan Tol 0,23%

Gambar 1
Sumber: Statistik Perhubungan, 2005

Prosentase panjang jalan di Indonesia berdasarkan kondisinya


Kurang mantap (sedang) 43,20% Tidak mantap (rusak ringan) 17,40%

Mantap (baik) 10,80%

Kritis (rusak berat) 28,60%

Gambar 2
Sumber: Ditjen Bina Marga, 2006

Prosentase data kondisi jalan di Indonesia menurut Kelas dan Fungsi Jalan
Data Kondisi Jaringan Jalan di Indonesia
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Nasional Propinsi Baik Sedang Kabupaten Rusak Ringan Perkotaan Rusak Berat Jalan Tol

Gambar 3
Sumber: Statistik Perhubungan, 2005

National Road in Indonesia


2009 Island Length Asphalt Rigid Aggregate

Sumatera Jawa+Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku+Malut Papua+Papua Barat Indonesia

10,588.92 10,284.87 5,620.76 5,618.63 1,874.85 1,871.15 5,705.97 4,504.24 7,091.50 6,646.39 1,443.67 937.489 2,303.16 1,075.57 34,628.83 30,938.35

304.047 2.126 3.701 1,201.73 445.109 506.181 1,227.59 3,690.48

Length of National Road per Province


12.000.00 10.000.00

8.000.00 Length (KM)

6.000.00

4.000.00

2.000.00

0.00 Sumatera Jawa+Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku+Malut Papua+Papua Barat

Island

Percentage of Road Length in Indonesia (2009)

6.65% 4.17% 30.58% Sumatera Jawa+Bali

20.48%

Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku+Malut Papua+Papua Barat 16.48% 16.23%

5.41%

National Road Pavement in Indonesia (2009)


12.000.00 10.000.00

8.000.00 Length (KM)

6.000.00

4.000.00 Asphalt Rigid

2.000.00

0.00

Aggregate

Island

National Road Data for every Province in Indonesia (2009)


Road Condition Island Length(Km) Good Not Good Road Lane Number 2 Lanes >2 Lanes Pavement Type Asphalt/Rigid Aggregate Capacity 8 Tons 10 Tons

Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia

1,782.78 2,098.05 1,200.09 1,126.11 820.4 1,290.24 530.65 736.44 1,004.16 122.38 1,140.69 490.4 1,297.63 168.81 1,899.21 501.64 601.83 1,273.02 1,575.32 1,714.95 876 1,539.70 1,267.39 616.24 1,806.46 1,577.95 529.59 1,293.87 985.46 458.21 1,794.95 508.21 34,628.83

1,637.38 1,871.78 1,048.10 948.76 785.84 1,221.67 516.94 706.39 931.59 122.38 1,119.33 330.8 1,288.25 168.81 1,891.71 486.96 558.05 1,148.60 1,182.93 1,184.48 750.09 1,216.26 1,129.25 613.24 1,496.46 1,524.08 493.46 1,009.16 649.61 330.73 795.59 424.88 29,583.52

145.4 226.27 151.99 177.35 34.56 68.58 13.71 30.06 72.57 0 21.36 159.6 9.38 0 7.5 14.68 43.78 124.42 392.39 530.47 125.91 323.45 138.14 3 310 53.88 36.13 284.71 335.85 127.48 999.36 83.33 5,045.31

1,676.52 1,962.04 1,138.23 1,066.37 786.97 1,270.16 517.16 736.44 950.16 0 821.15 424.64 965.83 95.81 1,680.13 462.74 589.35 1,270.01 1,553.69 1,711.08 845.56 1,457.31 1,266.39 616.24 1,804.68 1,541.99 529.59 1,290.94 984.48 458.21 1,752.85 500.15 32,726.86

106.26 136.01 61.86 59.74 33.43 20.09 13.49 0 54.01 122.38 319.55 65.76 331.8 73 219.08 38.9 12.49 3.01 21.63 3.87 30.44 82.39 1 0 1.78 35.96 0 2.93 0.98 0 42.1 8.06 1,901.97

1,697.64 1,995.70 1,174.62 1,055.09 820.4 1,290.24 529.51 736.44 985.24 122.38 1,140.48 490.4 1,295.72 168.81 1,899.21 501.64 601.83 1,269.32 1,155.56 1,126.05 871.79 1,350.85 1,198.30 616.24 1,741.67 1,569.68 514.28 1,006.23 627.9 309.59 720.09 355.48 30,938.35

85.14 102.35 25.47 71.02 0 0 1.14 0 18.92 0 0.22 0 1.91 0 0 0 0 3.7 419.77 588.9 4.21 188.85 69.1 0 64.79 8.27 15.31 287.64 357.56 148.62 1,074.86 152.73 3,690.48

384 824 520 256 208 496 184 256 288 0 1,216 48 688 32 2,016 368 392 856 384 408 504 368 496 176 616 808 184 408 320 176 456 88 14,424

290 320 250 160 170 100 50 0 80 0 410 300 1,390 220 790 120 50 30 110 20 90 380 10 0 10 300 0 130 10 0 10 50 5,850

Road Length In Indonesia per Province


NAD 1% 3% 4% 4% 1% 5% 2% 5% 6% 3% 3% 2% 2% 1% Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau

Jambi
Bengkulu Sumatera Selatan Kep. Bangka Belitung Lampung 1% DKI Jakarta Banten 0% Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta 4% Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur 2% 5% 4% 4% 3%

6%
2% 3% 4% 2% 1% 4%

4%

1%

5%

1%

Length (KM) 2.500.00 1.000.00 2.000.00 1.500.00 500.00 0.00 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat

Riau
Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung

DKI Jakarta
Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali

National Road Data in Indonesia(2009)

Province

Nusa Tenggara Barat


Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara

Gorontalo
Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara

Papua
Papua Barat

The Condition of National Road in Indonesia


Heavily Damage 9% Minor Damage 9% Good 41%

Mediocre 41%

Length (KM) 1400 1200 2000 1600 1000 1800 600 400 200 800 0 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta

Jawa Barat
Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua

National Road Condition In Indonesia (for every province)

Province Papua Barat

Good

Not Good

Length (KM) 2000 1000 2500

1500

500

0 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Province

National Road Surface Type in Indonesia

Gorontalo
Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara

Maluku
Maluku Utara Papua Papua Barat

Aggregate

Asphalt/Rigid

3. PENYELENGGARAAN JALAN

Pengaturan

Pembinaan - Penyusunan
pedoman dan standar teknis - Pelayanan - Pemberdayaan - Penelitian dan pengembangan

Pembangunan - Pemrograman
& penganggaran Perenc teknik Pelaks. konstr. Pengoperasian Pemeliharaan

Pengawasan - Tertib
pengaturan, pembinaan dan pembangunan

- Perumusan
kebijakan perenc. - Penyusunan perenc umum - Penyusunan peraturan per-uuan

Pasal 1
TN-UU38-Jalan 18

POSISI JARINGAN JALAN


RTRW Nas/Prov/Kab/Kot

SISTRANAS (Sistem Transportasi Nasional)

Transportasi LAUT

Transportasi DARAT

Transportasi UDARA Moda FERI & SUNGAI

Moda KERETA API

Moda JALAN RAYA

JARINGAN JALAN
19

DIAGRAM FUNGSI DAN STATUS JARINGAN JALAN


( UU-38 / 2004 + PP-15/2005 + PP-34/2006)

FUNGSI
Arteri Kolektor-1 SK Menteri PU

STATUS
Jalan NASIONAL (termasuk Jalan TOL) Jalan PROVINSI
SK Menteri PU

Sistem Jaringan Jalan PRIMER

Kolektor-2 Kolektor-3
Kolektor- 4 Lokal Lingkungan

SK Gubernur

SK Gubernur

Jalan KABUPATEN dan Jalan DESA

SK Bupati

Sistem Jaringan Jalan SEKUNDER

Arteri Kolektor Lokal Lingkungan

Jalan KOTA

SK Walikota

Catatan : - Fungsi Jalan Penetapan secara berkala dilakukan paling singkat 5 (lima) tahun. - Status Jalan Penetapan secara berkala dilakukan paling singkat 5 (lima) tahun. TN-UU38-Jalan

20

HUBUNGAN ANTARA HIRARKI KOTA KOTA DENGAN FUNGSI JALAN DALAM SISTEM JARINGAN JALAN PRIMER

Perkotaan PKN PKW PKL PKLing Persil

PKN Arteri Arteri Kolektor Lokal

PKW Arteri Kolektor Kolektor Lokal

PKL Kolektor Kolektor Lokal Lokal

PKLing Lokal Lokal Lokal Lokal

Persil
Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan

Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan

21

PKN

JALAN ARTERI PRIMER (JAP) JALAN ARTERI PRIMER (JAP) JALAN KOLEKTOR PRIMER (JKP) JALAN KOLEKTOR PRIMER (JKP) JALAN LOKAL PRIMER (JLP)

PKN

JALAN LOKAL PRIMER (JLP)

JALAN ARTERI PRIMER (JAP)

PKW

PKW

JALAN LOKAL PRIMER (JLP)

JALAN KOLEKTOR PRIMER (JKP) PKL

PKL

JALAN LOKAL PRIMER (JLP)


JALAN LOKAL PRIMER (JLP)

PK Lingkungan

JALAN LINGKUNGAN PRIMER (JLP)

SISTEM JARINGAN JALAN PRIMER

Persil 22

HUBUNGAN ANTARA KAWASAN PERKOTAAN DENGAN FUNGSI JALAN DALAM SISTEM JARINGAN JALAN SEKUNDER
Primer Kawasan ( F1 )
Primer (F1) Sekunder 1 (F2.1) Sekunder II (F2.2) Sekunder III (F2.3) Perumahan

Sekunder I (F2.1) Arteri Arteri Arteri Lokal

Sekunder II (F2.2) Arteri Kolektor Kolektor Lokal

Sekunder Perumahan III (F2.3) Kolektor Lokal Lokal Lokal Lokal Lokal Lingkungan

Arteri -

23

F1 Kawasa n Primer JALAN ARTERI SEKUNDER (JAS)

SISTEM JARINGAN JALAN SEKUNDER

JALAN ARTERI SEKUNDER (JAS)

F2,1 Kawasan Sekunder I

JALAN ARTERI SEKUNDER (JAS)

F2,1 Kawasan Sekunder I

JALAN ARTERI SEKUNDER (JAS)

JALAN ARTERI SEKUNDER (JAS)

JALAN LOKAL SEKUNDER (JLS)

F2,2 Kawasan Sekunder II

JALAN KOLEKTOR SEKUNDER (JKS)

F2,2 Kawasan Sekunder II

JALAN KOLEKTOR SEKUNDER (JKS)

JALAN LOKAL SEKUNDER (JLS)

F2,3 JALAN LOKAL Kawasa SEKUNDER (JLS) n Sekunde r III JALAN LOKAL SEKUNDER (JLS)

F2,3 Kawasa n Sekunde r III

Perumahan

JALAN LINGKUNGAN SEKUNDER (JLS)

Perumahan

24

SKETSA HIPOTESIS HIRARKI JALAN PERKOTAAN

Pelabuhan & Pergudangan

Bandar Udara Pergudangan Kawasan perdagangan regional

Kawasan Industri

Terminal angkutan barang

Perumahan Kawasan Sekunder Kawasan Primer Batas Perkotaan Sistem Jaringan Jalan Primer Jalan Arteri Sekunder Jalan Kolektor Sekunder Jalan Lokal Sekunder 25

PRINSIP UTAMA KLASIFIKASI JARINGAN JALAN


1.

Jaringan jalan memiliki 2 peran utama:


Memberikan aksesibilitas bagi wilayah dapat dijangkau dan dapat dikembangkan kegiatan sosial dan ekonominya Menyediakan mobilitas bagi kelancaran lalulintas kendaraan, orang, dan barang

2. Klasifikasi fungsi jalan secara umum terdiri dari:


a)

b)

c)

Jalan Arteri (A): yang diutamakan untuk melaksanakan peran mobilitas yang umumnya membutuhkan kapasitas dan kecepatan tinggi (jalan yang didesain dengan kinerja/performance jalan tinggi) Jalan Kolektor (K): yang difungsikan sebagai kolektor/ distributor, di mana fungsi aksesibilitas dan mobilitas diperankan secara merata Jalan Lokal (L): yang diutamakan untuk melaksanakan peran aksesibilitas bagi wilayah (kuncinya adalah pemerataan jangkauannya ke semua daerah)
26

SISTEM JARINGAN JALAN


Sistem jaringan jalan terdiri atas : - sistem jaringan jalan primer - sistem jaringan jalan sekunder

Dari UU-38 / 2004 Pasal 7

Sistem jaringan jalan primer:


merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional. menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan. Sistem jaringan jalan primer adalah sistem jaringan bersifat menerus yang memberikan pelayanan lalu lintas tidak terputus walaupun masuk ke dalam kawasan perkotaan.

Sistem jaringan jalan sekunder:


merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. Yang dimaksud dengan kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, serta kegiatan ekonomi.
27

PERTIMBANGAN DALAM PENETAPAN FUNGSI DAN STATUS JALAN


FUNGSI JALAN Sistem Jaringan Jalan Primer Sistem Jaringan Jalan Sekunder Arteri Primer (AP) Kolektor Primer (KP) Lokal Primer (LP) Lingkungan Primer Arteri Sekunder (AS) Kolektor Sekunder (KS) Lokal Sekunder (LS) Lingkungan Sekunder STATUS JALAN Jalan NASIONAL (termasuk jalan tol) Jalan Provinsi

Jalan KABUPATEN dan


Jalan DESA Jalan KOTA

Input: RTRWN, RTRWP, RTRW Kab/Kota, RPJM UU dan PP tentang LLAJ TATRANAS, TATRAWIL, TATRALOK Hasil studi jaringan Fungsi Jalan digunakan untuk: Penetapan Status Jalan Penetapan Kelas Jalan

Input: Ketetapan Fungsi Jalan Ketetapan Jalan Strategis (Nasional, Provinsi, Kab/Kota) Status Jalan digunakan untuk: Pembagian kewenangan penyelenggaraan jalan (TURBINBANGWAS) antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kab/Kota

28

DEFINISI FUNGSI JALAN


Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan menjadi : - jalan arteri

Dari UU-38 / 2004 Pasal 8

- jalan kolektor - jalan lokal - jalan lingkungan


- Jalan arteri, jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama, dengan ciri : - perjalanan jarak jauh - kecepatan rata-rata tinggi - jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. - Jalan kolektor, jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi, dengan ciri : - perjalanan jarak sedang - kecepatan rata-rata sedang - jumlah jalan masuk dibatasi - Jalan lokal, jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat, dengan ciri : - perjalanan jarak dekat - kecepatan rat-rata rendah - jumlah jalan masuk dibatasi - Jalan lingkungan, jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan, dengan ciri : - perjalanan jarak dekat
29

DIAGRAM HUBUNGAN FUNGSI DAN STATUS JALAN


FUNGSI JALAN SISTEM
Sistem Jaringan Jalan PRIMER

STATUS JALAN PENETAPAN


Kepmen PU

FUNGSI
(1) Arteri Primer (2) Kolektor Primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi

STATUS
Jalan NASIONAL ( termasuk jalan strategis Nasional dan Jalan TOL)

PENETAPAN
Kepmen PU

(1) Kolektor Primer yang tidak menghubungkan antar ibukota provinsi


(2) Lokal Primer (3) Lingkungan Primer Sistem Jaringan Jalan SEKUNDER (1) (2) (3) (4) Arteri Sekunder Kolektor Sekunder Lokal Sekunder Lingkungan Sekunder Keputusan Gubernur

Jalan PROVINSI (termasuk jalan strategis Provinsi)


Jalan KABUPATEN (termasuk strategis Kabupaten dan jalan sekunder dalam wilayah Kabupaten) Jalan KOTA

Keputusan Gubernur

Keputusan Bupati

Keputusan Walikota

Catatan: - Fungsi Jalan Penetapan secara berkala dilakukan paling singkat 5 (lima) tahun - Status Jalan Penetapan secara berkala dilakukan paling singkat 5 (lima) tahun
30

MATRIK SUMBER PENDANAAN PENYELENGGARAAN JALAN


Sumber Dana
Status Jalan

Nasional

Provinsi

Kabupaten

Kota

APBN
APBD-1

*)

*)

*)

APBD-2

DAU DAK

*) UU-38/2004 pasal 30 ayat (1.d) : dalam hal pemerintah daerah tidak mampu dst.
31

10. PENGELOMPOKAN JALAN MENURUT KELAS JALAN


(Pasal 10)

Kebutuhan pengaturan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas Diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) Pengaturan kelas berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan

Jalan bebas hambatan


Jalan raya Jalan sedang Jalan kecil

Freeway
Highway Road Street

Siklus Manajemen Jaringan Jalan


Penentuan Tujuan

Monitor dan Audit

Implementasi Aktifitas

Sistem Informasi Manajemen + (Database)

Penilaian Kebutuhan

Penentuan Kegiatan

Penentuan Biaya dan Prioritas

33

Policy
Maintenance Operation Planning

Programming

Construction Budgeting Land Acquisition Designing

Pre FS

F.S

FED

CONSTRUCTION

Physical Out-Put
O&M

Siklus Baku Penyelenggaraan Jaringan Jalan

Out-Come & Impact

Proses Planning, Programming & Budgeting dalam Manajemen Pembinaan Jaringan Jalan
- Pendataan, penyimpanan dan pengolahan data fisik jalan
- Segmentasi ruas jalan dan penentuan penanganannya - Mendapatkan alternatif penanganan sesuai data fisik segmen seluruh ruas jalan dalam area kerja - Menganalisa penanganan ruas jalan sesuai kaidah teknis - Mengidentifikasi kebutuhan pemeliharaan : B, PM dan RM - Mengalokasikan perkiraan alternatif pembiayaan yang tersedia - Mengindikasi nilai ekonomi (NPV) dari setiap penanganan - Penentuan penanganan setiap ruas jalan dalam area kerja - Merangkum pilihan-pilihan ruas jalan yang terprogram - Membuat DED perkerasan (RDS) dan DED non perkerasan dari ruas terprogram sebagai paket proyek - Mengevaluasi NPV dan IRR dari B dan PM ruas-ruas terprogram - Merangkum ruas jalan terprogram sebagai daftar usulan program proyek-proyek tahunan dan multi tahunan - Merangkum dan menyiapkan usulan pembiayaan paket proyek terprogram untuk proses lebih lanjut. - Proses kebijakan

Perencanaan

Pemrograman

Penganggaran

Manajemen Makro Pembinaan Jalan

Manajemen Jaringan Jalan (Road Network Development) Manajemen Penanganan, Pengoperasian dan Pemeliharaan Jaringan Jalan (Road Network Preservation) Manajemen Evaluasi Kinerja Jaringan Jalan (Road Network Performance Evaluation)

Road Network Requirement


Jaringan jalan yang efektif, efisien, dan rasional adalah jika dapat memberikan Total Pass-Km dan Ton-Km yang paling minimum, dan jaringannya mampu dipelihara secara berkesinambungan Sesuai dengan kemampuan pemerintah.
Road Preservation Cost/ Total Pass-Km, Ton-Km

Road Network Preservation Cost

Total Pass-Km,Ton-Km

Road Network density.

Objective function dari Pelayanan Jalan adalah :

Harus menghasilkan Total Transport Cost Minimum

Total Transport Cost


( Harus Minimum )

RNIC (Road Network Infrastructure Cost )


Total Transport Cost

RUC (Road User Cost)

RNIC/RUC

RNIC

Minimum TT COST

RUC
Optimum RNIQ (Road Network Infrastructure Quality) Road Network Quality

Ilustrasi Terjadinya In Efisiensi Investasi Di Bidang Jalan Akibat Penanganan Terlalu Dini Atau Telat RUC/RIC.
= Beban Pemerintah = Beban Publik

Transport Cost RIC

RUC Road Quality


PENANGANAN SEGMEN/RUAS YANG TELAT

PENANGANAN SEGMEN/RUAS YANG TERLALU DINI

PENANGANAN SEGMEN/RUAS YANG TEPAT WAKTU

Ilustrasi Terjadinya In Efisiensi Investasi Di Bidang Jalan Akibat Penanganan Yang Low atau Over Quality RUC/RIC.
= Beban Pemerintah = Beban Publik

Transport Cost RIC

RUC Road Quality


PENANGANAN SEGMEN/RUAS YANG LOW Q.

PENANGANAN SEGMEN/RUAS YANG OVER QUALITY

PENANGANAN SEGMEN/RUAS YANG TEPAT QUALITY.