Anda di halaman 1dari 12

BAB 1 Latar belakang Culture shock merupakan fenomena yang akan dialami oleh setiap orang yang melintasi

dari suatu budaya ke budaya lain sebagai reaksi ketika berpindah dan hidup denganorangorang yang berbeda pakaian, rasa, nilai, bahkan bahasa dengan yang dipunyai olehorang tersebut (Littlejohn, 2004; Kingsley and Dakhari, 2006; Balmer, 2009). Littlejohn,dalam jurnal yang ditulisnya, meyatakan bahwa culture shock adalah fenomena yang wajar ketika orang bertamu atau mengunjungi budaya yang baru. Orang yang mengalami culture shock berada dalam kondisi tidak nyaman baik secara fisik maupun emosional.Sebuah jurnal menceritakan seorang siswa yang baru saja menyelesaikan sekolah menengah dan hendak melanjutkan ke universitas, untuk pertama dia akan bangga danmempersiapkan dirinya untuk memnghadap lingkungan kuliah yang baru. Dia akan mempersiakan dirinya untuk bertemu dengan orang-orang baru, antusiasme untuk belajar agar menuai kesuksesan dalam lingkungannya yang baru. Namun, pada akhirnya siswa tersebut, terhadap lingkungan barunya mengalamai ketidaknyamanan hingga membuatnya tidak lagi ingin melanjutkan kuliahnya (Balmer, 2009). Dari jurnal ilmiah ini bisa disimpulkan bahwa setiap siswa menjadi wajar jika mengalami culture shock sebagai akibat perpindahannya dari lingkungan sekolah menengah yang lama kelingkungan universitas yang baru. Kebiasaan-kebiasaan di lingkungan baru, seperti yangdiungkapkan Balmer, dapat menyebabkan tekanan dan berakibat pada kompetensiakademik siswa tersebut. Akan menjadi negative kalau culture shock tersebut tidak teratasi, dalam hali ini orang gagal untuk meyesuaikan dirinya dengan lingkungan barunya, dan menjadi depresi (Littlejohn, 2004; Kingsley and Dakhari, 2006; Balmer,2009). 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah yang telah diuraiakan diatas, untuk memperoleh suatu kesimpulan yang jelas maka perlu adanya peumusan masalah yang tepat dan mampu membatasi agar pembahasan lebih ringkas. Rumusan masalah tersebut diantaranya sebagai berikut: 1. Apa faktor penyebab terjadinya culture shock atau gegar budaya? 2. Apa efek atau akibat dari terjadinya culture shock? 3. Bagaimana solusi dari permasalahan culture shock tersebut?

1.3 TUJUAN MASALAH 1. mengetahui faktor penyebab terjadinya culture shock 2. mengetahui efek atau akibat dari terjadinya culture shock 3. mengetahui solusi dari permasalahan culture shock

BAB II

2.1 Pengertian Culture shock atau dalam bahasa indonesia gugat budaya adalah istilah psikologis untuk menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang menghadapi lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Istilah ini mengandung pengertian,adanya perasaan cemas, hilangnya arah, perasaan tidak tahu apa yang harus di lakukan atau tidak tahu bagaimana harus melakukan sesuatu yang dialami oleh individu tersebut ketika ia berada dalam suatu lingkungan yang secara kultur atau sosial baru. Faktor penyebab timbulnya Masalah Culture shock dari yang dominan hingga paling rendah, berikut ini penjabarannya: 1) Faktor pergaulan Pada faktor ini, individu cenderung mengalami ketakutan akan perbedaan pergaulan disetiap tempat yang baru. Ketakutan ini menjadikan individu merasa canggung dalam menghadapi situasi yang baru, tempat tinggal yang baru dan suasana yang baru. Akibat ketidak pahaman mengenai pergaulan ini, individu juga akan merasa terasing dengan orang-orang disekelilingnya yang dirasa baru baginya. 2) Faktor teknologi Dewasa ini perkembangan teknologi semakin melaju pesat. Perkembangan teknologi yang semakin mutakhir ini menyebabkan masyarakat harus selalu ingin berusaha untuk mengikuti perkembangan teknologi agar mampu bersaing di dunia global. Teknologi juga merupakan faktor penting dalam mempengaruhi timbulnya masalah culture shock. Individu merasa takut tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi di tempat tinggal barunya sehingga individu cenderung akan merasakan ketakutan. Individu disini dituntut untuk berpikir keras bagaimana caranya untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi serta mampu mengaplikasikannya dikehidupannya. 3) Faktor geografis Faktor geografis identik dengan keadaan geografis di daerah tersebut. Faktor geografis ini merupakan faktor lingkungan secara fisik, misalnya perbedaan cuaca,

perbedaan letak wilayah seperti daerah pantai dengan daerah pegunungan. Hal ini akan menyebabkan individu tersebut mengalami gangguan kesehatan. 4) Faktor bahasa keseharian Bahasa merupakan cerminan dari sebuah kebudayaan yang beradab. Bahasa tidak bisa dianggap dengan sebelah mata dewasa ini. Individu yang mengalami kekagetan terhadap budaya baru sering kali dihubungkan dengan faktor bahasa sebagai salah satu ketakutan yang cukup besar ketika akan menetap ditempat yang baru. Tidak menguasai atau bahkan tidak mengerti sama sekali bahasa merupakan suatu hal yang wajar yang menyebabkan timbulnya culture shock. 5) Faktor ekonomi Ketakutan terhadap biaya hidup yang berbeda yang memiliki kemungkinan lebih tinggi merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya culture shock. Ini merupakan hal umum yang terjadi bahwa setiap daerah di negara Indonesia memiliki kemampuan konsumsi yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang menyebabkan individu guncang ketika dihadapkan pada permasalahan tempat tinggal yang baru. Individu harus mulai berusaha, bersiap serta berwaspada mengantisipasi agar mampu bertahan hidup ditempat tinggal yang baru. 6) Faktor adat istiadat Faktor ini merujuk pada tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat di setiap daerah yang notebene memiliki ciri khas kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Untuk itu individu harus mampu beradaptasi dengan adat istiadat di daerahnya yang baru. Namun beradaptasi dengan adat istiadat yang baru bukanlah hal yang mudah bagi seorang pendatang, maka individu cenderung mengalami kekagetan budaya terutama dalam hal adat istiadat tersebut. 7) Faktor agama Agama dianggap sebagai salah satu penghambat individu dalam usahanya menyesuaikan di tempat tinggal yang baru. Individu mengalami ketakutan tersendiri terhadap agama yang menjadi perbedaan yang sangat rentan dan tidak bisa disatukan dengan mudahnya. 2.2 Solusi Pemecahan Masalah Culture shock Dari bebrapa faktor penyebab terjadinya culture shock, kelompok merumuskan solusi untuk mengatasinya. Antara lain yaitu : 1. Faktor pergaulan

Individu harus belajar membiasakan diri beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan barunya, dengan pembiasaan ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dari individu tersebut dalam bersosialisasi dengan orang-orang dan lingkungan barunya tersebut. Pergaulan yang baik akan membuat seseorang lebih mudah menjalani kehidupan sosialnya. 2. Faktor teknologi Dewasa ini teknologi semakin berkembang pesat dikalangan orang banyak, semakin pesat teknologi berkembang maka orang-orang dituntut untuk semakin keras mempelajari dan mengaplikasikan teknologi yang ada dalam kehidupannya. Seorang individu yang berada di lingkungan baru baginya pasti akan merasakan perbedaan teknologi yang berkembang di lingkungan tersebut, terlebih lagi apabila individu yang berasal dari daerah pelosok kemudian datang ke daerah yang cukup pesat perkembangan teknologinya. 3. Faktor geografis Faktor geografis dalam persentasenya memperoleh 18,60% dari keseluruhan total faktor penyebab terjadinya culture shock. Karena faktor geografis ini berkaitan erat dengan kondisi fisik lingkungan maka hal ini dapat diatasi dengan cara individu lebih menjaga kesehatan yang cenderung menurun ketika individu tersebut tinggal di suatu tempat tinggal yang baru, yang tentunya jauh berbeda dengan tempat tinggal semula. Pencegahan yang baik perlu dilakukan secara terus menerus agar individu tetap berada di kondisi yang prima dalam menjalani aktifitas sehari-hari. 4. Faktor bahasa keseharian Bahasa keseharian memiliki prosentase sebesar 17,30% dari keseluruhan faktor penyebab terjadinya culture shock. Untuk mengatasinya kelompok memberikan solusi diantaranya yaitu dengan menumbuhkan kemauan belajar bahasa kepada setiap individu ketika tinggal ditempat yang baru. Kemauan belajar bahasa tersebut bisa dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada teman yang memang berasal dari daerah tersebut untuk mengajarkan bahasa keseharian di daerah tersebut. 5. Faktor ekonomi Faktor ekonomi ini dapat diatasi dengan cara pengelolaan keuangan yang baik sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, agar individu dapat menyesuaikan pemasukan keuangan dengan pengeluarannya. Pada saat proses

pendidikan alan lebih baiknya individu juga melakukan program saving money, untuk mengatasi kebutuhan tidak terduga. 6. Faktor adat istiadat Pada dasarnya melekatnya kebudayaan terhadap seorang individu membutuhkan proses dan waktu, semua tidak terjadi begitu saja. Solusi menurut kelompok adalah individu harus lebih membuka dirinya terhadap adat istiadat, kebiasaan, tingkah laku yang umumnya terjadi dimasyarakat. Dengan cara tersebut diharapkan individu dapat lebih menghindari terjadinya culture shock/gegar budaya. 7. Faktor agama Faktor agama yang menyebabkan terjadinya culture shock ini hanya mendapat persentase sebesar 0.13 %. Artinya faktor agama tersebut dianggap tidak terlalu mendominasi terjadinya culture shock. Solusinya yaitu individu harus lebih meningkatkan sikap toleransinya antar umat beragama. 2.2 Tanda-tanda culture shock : Ada 5 tanda seseorang terkena culture shock,yaitu : 1. Terus-terusan berpikir negatif dan mulai membanding-bandingkan keadaan di tempat baru dengan kampung halaman. 2. Mulai frustasi, gampang marah dengan hal-hal kecil karena tidak bisa mengikuti pola hidup disana, menjadi malas bergaul dan memilih diam saja karena merasa tidak PD. 3. Mulai merasa sedih dan terasingkan walaupun saat itu sedang berada di tengah-tengah orang banyak. 4. Mulai kehilangan identitas dan ciri-ciri pribadi 5. Mulai merasa kurang sehat, jadi sering flu, pilek, demam, diare dsb 2.3 Shock Reaksi terhadap cultural shock bervariasi antara 1 individu dengan individu lainnya dan dapat muncul : 1. Antagonis / memusuhi terhadap lingkungan baru. 2. Rasa kehilangan arah 3. Rasa penolakan 4. Gangguan lambung dan sakit kepala

5. Homesick/rindu pada rumah/lingkungan lama 6. Rindu pada teman dan keluarga 7. Mersa kehilangan status dan pengaruh 8. Menarik diri 9. Menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah

2.5 Tingkatan Culture Shock

Fase optimistik, fase pertama yang digambarkan pada bagian kiri atas dari kurva U. Fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru.

Masalah cultural, fase kedua dimana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, sistem lalu lintas baru, sekolah baru dll.Fase ini biasanya diikuti dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam cultural shock. Orang menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan menjadi tidak kompeten.

Fase recovery, fase ketiga dimana orang mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru. Orang-orang danperistiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan.

Fase penyesuaian, fase terakhir pada puncak kanan U, orang telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, adaptasi khusus, pola komunikasi, keyakinan, dll) kemampuan untuk hidup dalam 2 budaya yang berbeda biasanya juga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Beberapa literatur yang lain menyarankan hal-hal berikut ini untuk mengatasi

culture shock dengan baik, yaitu antara lain: 1. Sebelum individu berangkat ke negara baru yang akan dimasukinya, ada baiknya apabila ia sudah terlebih dahulu membaca tentang negara tersebut dan budaya yang ada di negri tersebut. Hal ini akan membantu individu ini untuk lebih familier dengan negara yang akan dimasukinya, dan lebih siap untuk berhadapan dengan berbagai

perbedaan

yang

akan

dihadapinya

(www.ips.uiuc.edu/sao/students/curr-

cultureshock.html). 2. Mengelola pengharapan (manage expectations). Harapan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi bagaimana orang tersebut menginterpretasikan dan menilai suatu kejadian. Menjaga agar harapan sedapat mungkin realistis dan sesuai dengan . (www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445kenyataan serta kemampuan diri akan menjaga agar stress selalu dalam kondisi rendah. Berharap terlalu tinggi terhadap penduduk setempat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan individu itu sendiri hanya akan membuat individu tersebut merasa frustrasi). 3. Memiliki tujuan yang jelas akan kedatangan ke negri tersebut. Dengan terus mengingat dan memegang teguh tujuan awal datang ke negara tersebut, individu akan menjadi lebih siap untuk berjuang demi mencapai tujuannya. Hal ini juga akan menolong individu untuk terus memiliki fokus untuk melakukan hal terbaik dan terpenting selama di negri yang baru. Menjaga prioritas akan menolongnya mengatasi culture shock (www.ips.uiuc.edu/sao/students/curr-cultureshock.html). 4. Dalam penelitian Chapdelaine (2004) ditemukan bahwa tingginya kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk asli berhubungan dengan rendahnya culture shock. Interaksi akan lebih sulit untuk dilakukan apabila seseorang tidak memahami bahasa pengantarnya dengan baik. Oleh karena itu, penguasaan bahasa yang baik menjadi syarat penting untuk mengatasi culture shock. Jadi disarankan bagi individu untuk menguasai bahasa pengantar di negara tersebut untuk menghindarkan individu dari kondisi culture shock. (Guanipa,1998; www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445). 5. Bersedia untuk belajar kultur yang baru. Individu perlu menyadari bahwa kultur bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, tetapi sesuatu yang dipelajari (Guanipa, 1998). Hal yang dibawa sejak lahir adalah kemampuan individu untuk belajar kultur, apapun kultur itu. Oleh karena itu, kesediaan untuk belajar kultur yang baru akan membantu untuk mengatasi kesalahpahaman dan menolong teratasinya persoalan-persoalan sosial di tempat yang baru. Hal yang sama yang perlu dipahami adalah bahwa nilainilai yang selama ini telah dipelajari dari kulturnya yang lama bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak dan paling benar. Nilai dan keyakinan itu menjadi benar bagi individu karena proses sosialisasi yang dilakukan oleh orangtua individu padanya, melalui

pemberian hadiah dan hukuman sehingga individu meyakini kebenarnanya. Dengan demikian kesediaan untuk membuka diri, belajar dan menghargai kultur yang baru akan membuka jalan bagi individu untuk mengatasi culture shock yang dialaminya. 6. Mencoba menemukan kesamaan-kesamaan nilai-nilai antara kulturnya dengan kultur yang baru. Dengan menemukan kesamaan-kesamaan ini, individu akan menjadi lebih merasa dekat dengan negara baru yang didatanginya. Hal ini menimbulkan perasaan memiliki dan familier, sehingga mengurangi perasaan terasing yang dialami akibat culture shock (Guanipa, 1998). 7. Saat kemarahan dan frustasi-frustasi muncul terhadap kultur yang baru dan kecenderungan mengkritik kultur yang baru sangat kuat muncul, sebaiknya individu berhenti sejenak untuk berpikir dan menganalisa persoalan dengan lebih objektif (Guanipa, 1998), tidak melakukan generalisasi. Sangat penting juga menjaga pemikiran untuk tidak dengan gegabah melakukan stereotyping, bisa jadi kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang di tempat yang baru bukan masalah kultur, tetapi memang masalah watak dari individu tersebut. Dengan kata lain, individu harus menghindari mencampuradukkan masalah personal sebagai masalah kultur. Hal ini berarti, orang dengan watak yang mengganggu tsb. bisa saja ditemukan di kultur manapun, termasuk di kultur asalnya sendiri, sehingga tidak perlu menyalahkan negara baru sebagai pihak yang bertanggungjawab atas ketidaknyamanan yang dialaminya. 8. Memelihara dukungan sosial dan emosional. Ketika berada di lingkungan yang baru, seseorang membutuhkan orang-orang yang bersedia memberikan dukungan sosial. Dukungan sosial meliputi dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental (material), maupun dukungan informasi. Individu harus berusaha agar di tempat yang baru ini, ia memiliki orang-orang yang dapat memberikan dukungan-dukungan sosial yang diperlukan. Dukungan ini bisa diperoleh melalui orang-orang yang berasal dari satu negara (misalnya ada perkumpulan pelajar Indonesia di Amerika dll.), atau bisa diperoleh dari orang-orang dari lembaga pelayanan (misalnya di gereja biasanya ada divisi pelayanan mahasiswa/mahasiswa asing). Dengan mengikuti organisasiorganisasi tertentu individu bisa membuka network dan persahabatan dengan orangorang ini yang bisa memberikan dukungan sosial yang diperlukan

(www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445).

9. Membangun zona stabilitas. Yang dimaksud dengan zona stabilitas adalah segala sesuatu yang bisa membuat individu merasa nyaman dan relax. Hal ini bisa segala sesuatu yang berhubungan dengan hobi,atau hal-hal yang menyenangkan lainnya. Hal ini berarti bahwa selama di negara baru, individu tidak boleh melupakan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan yang bisa membuat individu merasa nyaman dan relax (www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445). 10. Beberapa orang menyarankan untuk memiliki jurnal harian. Dalam kondisi belum memiliki seorangpun yang bisa diajak bicara, mencurahkan kegelisahan pada jurnal harian akan membantu proses katarsis individu. Seringkali menuliskan hal-hal yang menggelisahkan dalam jurnal juga menolong individu untuk melihat persoalanpersoalan yang sesungguhnya yang mungkin tak akan tampak bila hanya tersimpan di dalam pikiran saja (www.juliaferguson.com/shock.html) 2.6 Perbedaan Culture Shock Di Berbagai Negara

Di India, " karet " berarti sepotong karet Anda gunakan untuk menghapus tulisan pensil, biasanya dikenal sebagai " penghapus " di AS. Sayangnya, " karet " biasanya mengacu pada kondom di Amerika Serikat .

Kami pergi ke universitas di Inggris untuk sementara waktu, dan suatu hari sesama mahasiswa datang ke laboratorium suami saya dan mengatakan ia melihat seorang profesor berjalan menyusuri lorong dengan Winchester. Suami saya sudah siap untuk memukul dek, tapi tidak ada orang lain tampak khawatir. Ternyata bahwa Winchester adalah termos besar di Inggris, bukan senapan seperti di sini di Amerika !

Di India, duduk dengan kaki disilangkan dianggap sebagai tanda hormat kepada orang lain. Ibuku mencubit kaki saya ketika saya duduk dalam posisi seperti itu aku tinggal di pedesaan Jepang sekarang. Saya pikir banyak kejutan budaya di sini lebih berkaitan dengan cara-cara yang Jepang tampaknya begitu dekat dengan budaya Amerika, namun begitu jauh. Jadi, itu adalah negara modern dengan lampu listrik - tetapi switch cahaya gaya yang berbeda dari yang AS. Carilah kemanapun Anda pergi ke Amerika Serikat, tombol lampu semua dipasang terbalik. Anda berjalan dan sampai ke sisi dalam gelap (setidaknya saklar masih di tempat yang tepat) dan menekan tombol ke bawah itu untuk menyalakannya - hanya

ketika Anda menemukan bahwa itu sudah dalam posisi "on". Ini lebih mengganggu daripada menemukan bahwa orang-orang berkendara di sisi jalan yang lain. Di paris,ketika kita keluar saat pagi dan berkata bonjourkepada setiap orang yang kita temui dan akan membalas bonjour juga.jika kita melakukan itu di New York,maka orang New York akan menjauhi anda karena mereka mengira kita akan menganiayanya. Di Asia jika kita bertemu dengan seseorang dan menatapnya terlalu lama,mereka menganggap kalau itu tidak sopan,tapi tidak untuk negara barat, mereka terbiasa untuk menatap mata terlalu lama dengan orang yang di temuinya.

2.7

Mengatasi Culture Shock


1. berpartisipasi dalam budaya baru 2. bersikap tegas dan belajar mengungkapkan perasaan 3. bersedia berbagi culture dan budaya 4. menahan judgement tentang budaya baru yang akan dimasuki 5. secara periodik menghubungkan diri dengan budaya asal 6. berhati hati dengan stereotype 7. tetap memelihara identitas diri dan budaya asal 8. tidak menginterpretasi budaya baru dengan budaya asal 9. belajar menggunakan perkakas budaya baru 10. mencari berbagai informasi tentang budaya baru 11. menjaga toleransi ambiguitas makna yang tercipta dari kedua budaya 12. tetap memelihara sens of humor 13. belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai harapan 14. tetap open minded

BAB III KESIMPULAN

Seiring dengan issue globalisasi baik di bidang pendidikan maupun di bidang tenaga kerja, yang mengharuskan individu untuk berinteraksi dengan budaya yang berbeda, issue mengenai culture shock tampaknya perlu dipandang dengan lebih serius daripada sebelumnya. Kalau tidak, dikawatirkan gangguan yang dialami karena culture shock bisa menjadi ancaman bagi kesehatan jiwa banyak masyarakat di dunia yang semakin sering melakukan aktifitas lintas budaya. Usaha untuk mengatasi culture shock, akhirnya tidak hanya harus dilakukan individu secara perseorangan, tetapi juga perlu ditangani secara professional dan serius oleh instansi atau lembaga yang terlibat dalam pertukaran antar budaya. Misalnya saja di sekolah internasional, yang memiliki siswa-siswa dari budaya yang berbeda tampaknya perlu menyediakan tenaga konselor dan program yang terarah untuk membantu penyesuaian diri siswa-siswi yang berasal dari budaya yang berbeda. Perhatian juga diperlukan bagi perusahaan yang memiliki para ekspatriat ataupun mengirimkan karyawannya untuk ditugaskan di tempat yang berbeda dari kultur asalnya, dengan pemberian pelatihan, pemahaman dan training yang sesuai, demi tercapainya produktifitas kerja karyawannya karena terbebas dari culture shock. Pada akhirnya, usaha dari berbagai pihak diharapkan dapat membuahkan hasil yang lebih memuaskan.