Anda di halaman 1dari 27

CASE REPORT DISCUSSION ANALISA KASUS DBD DENGAN PENDEKATAN HL.

BLUM
KOASS-IKM PERIODE 10-22 JUNI 2013 PUSKESMAS HALMAHERA SEMARANG

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dari tahun ke tahun berkembang dan menetap menjadi kasus endemik sepanjang tahun (Kasnodihardjo dkk., 2009)

Angka kematian DBD dari tahun ke tahun menurun secara konsisten, meskipun angka kesakitan cenderung meningkat.

Kesehatan individu atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor pokok, yaitu faktor perilaku, faktor genetik, faktor lingkungan, dan faktor pelayanan kesehatan.

Belum ditemukan obat untuk membunuh virus dengue ini, dan belum adanya vaksin yang efektif untuk mencegahnya, maka pencegahan penyebaran penyakit ini lebih ditujukan kepada pemberantasan nyamuk aedes aegypti sebagai vektor penyakit DBD (Chen dkk., 2009)

Perhatian terhadap faktor perilaku sama pentingnya dengan perhatian terhadap faktor lingkungan, khususnya dalam hal upaya pencegahan penyakit (Notoadmojo, 2007).

Kedua Faktor tersebut akan mempengaruhi keberadaan jentik nyamuk.

Surveilen epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam mendukung pengendalian dan penanggulangan penyakit menular, tidak terkecuali pada kegiatan pengendalian dan penanggulangan penyakit DBD Hasil kegiatan surveilans sangat dibutuhkan dalam menunjang aspek manajerial program penyakit DBD, dimana berperan dalam proses perencanaan, monitoring dan evaluasi dari program kesehatan yang ada (Ditjen P2PL Depkes RI, 2003).

bahwa pelaksanaan PE yang dilakukan oleh Dinkes dan jajarannya hanya mencapai 30% sampai 50 % saja dari kasus DBD yang dilaporkan (Kusnodiharjo dkk., 2009).

TUJUAN UMUM

Memperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap DBD berdasarkan pendekatan HL. Blum.
Memperoleh informasi mengenai faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya DBD. Memperoleh informasi mengenai faktor perilaku yang mempengaruhi terjadinya DBD. Memperoleh informasi mengenai faktor pelayanan kesehatan yang mempengaruhi terjadinya DBD. Memperoleh informasi mengenai faktor kependudukan yang mempengaruhi terjadinya DBD. Memberikan alternatif pemecahan masalah berdasarkan pendekatan HL.Blum terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya DBD.

TUJUAN KHUSUS

Lingkungan fisik. Macam tempat penampungan air (tempat penampungan air) sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti. Ketinggian tempat, Suhu udara Kelembaban udara Kecepatan angin, mempengaruhi juga suhu udara dan pelaksanaan pemberantasan vektor dengan cara fogging. Tata guna tanah, menentukan jarak dari rumah ke rumah. Pestisida yang digunakan, mempengaruhi kerentanan nyamuk. Kelembaban udara, mempengaruhi umur nyamuk.

Lingkungan biologi. Curah hujan akan mempengaruhi kelembaban udara dan menambah jumlah tempat perindukan nyamuk alamiah. Perindukan nyamuk alamiah di luar ruangan selain di sampah-sampah kering seperti botol bekas, kaleng-kaleng juga potongan bambu sebagai pagar sering dijumpai di rumah-rumah penduduk desa serta daun-daunan yang memungkinkan menampung air hujan merupakan tempat perindukan yang baik untuk bertelurnya Aedes aegypti. Kualitas air breeding place Jenis tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc dan ember. b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik dan lain-lain). c. Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu.

Umur. Pendidikan. Pengalaman. Sosial, ekonomi dan budaya.

Pengetahuan Tentang DBD

Sikap Tindakan Faktor Reinforcing Perilaku PSN Keluarga Teman sebaya Guru Majikan Petugas kesehatan

Informasi.
Lingkungan. Predisposing Factor Pengetahuan Keyakinan Nilai Sikap

Faktor Enabling Ketersediaan sumber daya kesehatan Keterjangkauan sumber daya kesehatan Prioritas dan komitmen masyarakat/pemerintah terhadap kesehatan Ketrampilan yang berkaitan dengan kesehatan

Pelayanan Kesehatan Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal, daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan mata yang masih terbatas. Penjaminan akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam undangundang dasar 1945, sejak tahun 2005 telah diupayakan untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut, melalui pelaksanaan kebijakan program jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat miskin. Genetik Demam Berdarah bukan merupakan penyakit yang diturunkan secara genetik.

A. Daftar Penderita (Pasien )


IDENTITAS PASIEN Nama No Registrasi Jenis kelamin Umur Berat badan Tinggi badan Agama Anak ke Alamat Nama Ayah Nama Ibu Pekerjaan Pendidikan Agama : An. Haris Wigitomo : 0001009603 : laki laki : 10 tahun : 45 Kg : 140 cm : Kristen :2 : Jl. Kanalsari Barat VIII No.41 Kelurahan Rejosari Semarang. : Alm. Anis Kumar : Sri Hartatik : Pedagang makanan keliling : Tamat SD : Kristen.

KELUHAN UTAMA: Demam


Riwayat Penyakit Sekarang Pasien demam tinggi 4 hari naik turun sebelum dibawa ke pusat pelayanan kesehatan. Pasien sudah minum obat penurun panas pada hari pertama dan kedua, setelah minum obat demam turun dan kemudian demam kembali dan pada hari ke-4 demam mendadak lebih tinggi dari hari-hari sebelumnya dan batuk disertai mual dan muntah-muntah, kemudian pasien dibawa ke PKM Halmahera dan dirawat inap selama 2 hari. Demam turun setelah minum obat, beberapa saat kembali demam tetapi tidak begitu tinggi dan muntah sudah berkurang. Pada hari ke-6 pasien mendadak demam kembali, dan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukan penurunan trombosit dan penurunan kadar hematokrit darah, oleh dokter PKM Halmahera yang bertugas pasien dirujuk ke RSUD Kota Semarang.

Data Lingkungan
Data Individu dan Keadaan Rumah Pasien merupakan anak kedua, pasien tinggal serumah dengan pak lek dan 4 anggota keluarga lain. Luas tanah yang digunakan untuk rumah adalah 42 m2 dihuni oleh 4 orang. Lantai rumah pasien lembab dan kurang bersih. Rumah pasien tidak memiliki ventilasi rumah. Ekonomi Orang tua merupakan seorang pedagang makanan keliling. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari cukup. Kondisi rumah terbuat dari bata, dalam rumah kurang cahaya, dan penataan rumah tidak teratur atau banyak barang yang ditumpuk berserakan. Biaya pengobatan ditanggung jawab oleh JAMKESMASKOT. Sosial Pasien sering bermain ketempat tetangganya. Budaya Lingkungan tempat tinggal pasien tidak rutin dilakukan kerja bakti.

Data Lingkungan
Masyarakat Pasien tinggal didaerah padat penduduk dimana tingkat kebersihan lingkungan buruk, ini terlihat dengan banyaknya jentik pada tempat penampungan air, selokan dengan air yang menggenang dan banyak barang-barang bekas berserakan. Hasil pemeriksaan 20 rumah yag diperiksa terdapat 3 rumah positif terdapat jentik nyamuk dan 17 rumah bebas jentik. Daerah tempat tinggal pasien sering terkena rob dan terjadi banjir. Tetangga tidak ada yang mengalami keluhan serupa.

Data Perilaku
Keluarga pasien membersihkan tempat penampungan air sebulan sekali. Keluarga pasien memiliki kebiasaan menggantung pakaian, kebiasaan menaruh barang-barang bekas seperti botol dan kaleng bekas yang ditaruh diluar rumah, tidur tidak memakai kelambu dan tidak menggunakan obat nyamuk. Setiap ada keluarga yang sakit selalu diperiksakan ke pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas pembantu dan puskesmas utama.

Data Akses Pelayanan Kesehatan Terdekat


Akses pelayanan terdekat adalah RS Telogorejo, RS Panti Wilasa, RS Bunda, RS Kusuma, Puskesmas Pembantu Bugangan, Puskesmas Halmahera. Cara tempuh dengan kendaraan roda dua. Petugas Puskesmas Halmahera. Pasien juga memiliki jaminan kesehatan berupa Jamkesmas Kota Semarang sehingga dapat digunakan untuk mendapatkan pelayanan keeshatan ketika sakit. Kader kesehatan kurang aktif dalam memberikan penyuluhan kesehatan tentang pemerantasan sarang nyamuk dan kurang rutinnya pemantauan jentik nyamuk oleh kader kesehatan.

Data Perkesmas
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Anggota Keluarga Alm. Anis Kumar Sri Hartatik Yohana K Haris Wigitomo Bambang Yunita Nophitasari Hub. dgn KK Ayah Ibu Sepupu Anak Pak lek Anak Bu lek Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Perempuan Laki-laki Laki-laki Perempuan Perempuan Umur 45 th 40 th 20 th 10 th 38 th 25 th 37 th Pendidikan Tamat SD Tamat SD Tamat SMA Tamat SMP Tamat SD Tamat SMP Pekerjaan Pedagang Wiraswasta Agama Kristen Kristen Kristen Kristen Kristen Kristen Kristen

37

Diagnosis DBD Demam Laboratorium

Masalah Lingkungan Lingkungan tempat tinggal pasien tidak rutin melakukan kerja bakti bersama Perumahan yang padat.

Masalah Perilaku: Kebiasaan mengurus bak kamar mandi sebulan sekali. Kebiasaan menggantung baju didalam rumah. Kebiasaan tidur tidak memakai kelambu. Kebiasaan tidur tidak menggunakan obat nyamuk. Kebiasaan menaruh barang-barang bekas diluar rumah.

Masalah Pelayanan Kesehatan


Kurangnya promosi kesehatan seperti penyuluhan tentang perilaku pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan secara rutin di Kanalsari Barat. Kurangnya kegiatan pemantauan jentik nyamuk secara rutin yang dilakukan oleh kader kesehatan di Kanalsari Barat.

Keluarga dan Masyarakat Sekitar Lingkungan Rumah Pasien Memberikan edukasi dan motivasi keluarga dan masyarakat sekitar lingkungan rumah pasien agar melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat pada kehidupan sehari-hari. Memberikan edukasi dan memotivasi keluarga dan masyarakat sekitar lingkungan rumah pasien untuk meningkatkan kesadaran keluarga akan pentingnya perilaku pemberantasan sarang nyamuk. Memotivasi keluarga dan masyarakat sekitar lingkungan rumah pasien untuk memperbaiki kondisi lingkungan rumah sehingga tercipta rumah sehat, salah satunya dengan membersihkan selokan dan saluran pembuangan limbah rumah tangga supaya tidak menggenang dan menjadi tempat perindukan nyamuk. Wujud kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah kerja bakti yang dilaksanakan secara rutin dua minggu sekali. Puskesmas Puskesmas melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan lebih meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektor. Kepada petugas P2M untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan secara terus menerus, sehingga masyarakat lebih paham akan arti pentingnya menciptakan dan menjaga kesehatan lingkungan, sehingga penyakit-penyakit yang timbul melalui kondisi lingkungan yang tidak sehat. Puskesmas diharapkan melakukan kunjungan rumah dan penyelidikan epidemiologi saat mendapatkan pelaporan kasus DBD. Puskesmas memotivasi kader juru pemantaun jentik (Jumantik) dengan memberikan reward agar pelaksanaan pemantauan jentik nyamuk dapat dilakukan secara rutin.

Dinas Kesehatan dan Pemerintah


Advokasi dan Pendampingan untuk meningkatkan komitmen ekskutif dan legislatif, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan media massa agar peduli dan bertindak nyata di lingkungannya untuk memperbaiki kondisi kesehatan lingkungan setempat. Melakukan kerja sama lintas sektoral terutama tata kota guna merencanakan lebih lanjut tentang perbaikan sarana drainase dan saluran alir di Lingkungan Kanalsari Barat setempat.

Implementasi oleh keluarga


Memberikan edukasi dan motivasi keluarga penderita agar meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) , dievaluasi dengan menggunakan kuesioner PHBS. Memberikan edukasi dan motivasi keluarga penderita agar meningkatkan perilaku pemberantasan sarang nyamuk DBD, dievaluasi dengan menggunakan kuesioner perilaku PSN dan ABJ > 95%.

Implementasi oleh Puskesmas


Meningkatkan kegiatan kunjungan rumah yang dirasa efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan terjadinya penyakit DBD. meningkatkan upaya promosi kesehatan secara terus menerus, sehingga masyarakat lebih paham akan arti pentingnya menciptakan dan menjaga kesehatan lingkungan, sehingga penyakit-penyakit yang timbul melalui kondisi lingkungan yang tidak sehat.

ABJ hasil survei lebih rendah dibandingkan target ABJ

kesimpulan

Saran
Kepada petugas P2M untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan secara terus menerus, sehingga masyarakat lebih paham akan arti pentingnya menciptakan dan menjaga kesehatan lingkungan, sehingga penyakitpenyakit yang timbul melalui kondisi lingkungan yang tidak sehat Peningkatan pengawasan dan pendampingan berkala saat kader jumantik terjun ke masyarakat untuk PSN DBD 3M Plus Peningkatan motivasi kader dengan adanya reward

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI