Anda di halaman 1dari 79

OSMOREGULASI DAN SISTEM EKSKRESI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

OLEH KELOMPOK 6
RISKI FAUZIAH INDRI PRATIWI NIKMATUL FITRIYAH (110210103003) (110210103007) (112010103008)

OSMOREGULASI
Secara umum proses osmoregulasi adalah upaya atau kemampuan untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara di dalam tubuh dan lingkungannya melalui mekanisme pengaturan tekanan osmose. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya.

Berdasarkan kemapuannya menjaga tekanan osmotik tubuh, dikenal adanya hewan osmoregulator dan osmokonformer.

1. Osmokonformer
Osmokonformer merupakan hewan yang tidak mampu mempertahankan tekanan osmotik di dalam tubuhnya, oleh karena itu hewan harus melakukan berbagai adaptasi agar dapat bertahan di dalam tempat hidupnya. adaptasi dapat dilakukan sepanjang perubahan yang terjadi pada lingkungannya tidak terlalu besar dan masih ada dalam kisaran konsentrasi yang dapat diterimanya. Jika perubahan lingkungan terlalu besar maka hewan yang melakukan osmokonfermer tidak dapat bertahan hidup di tempat tersebut.

2. Osmoregulator
Osmoregulator adalah organisme yang menjaga osmolaritasnya tanpa tergantung lingkungan sekitar. Oleh karena kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat hidup di lingkungan air tawar, daratan, serta lautan. Di lingkungan dengan konsentrasi cairan yang rendah, osmoregulator akan melepaskan cairan berlebihan dan sebaliknya (Ramdan, 2011).

Ada dua macam regulasi osmotik(osmoregulasi), yaitu : 1. regulasi hipoosmotik 2. regulasi hiperosmotik. 3. Regulasi isoosmotik

Mekanisme Osmoregulasi
Dalam proses inti osmoregulasi, terjadi suatu peristiwa osmosis, dimana perpindahan cairan yang encer ke cairan yang pekat shingga akan tercipta suatu kondisi konsentrasi yang sama dan disebut dengan isotonis. Isotonis adalah dua macam larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama (isoosmotik)

Bila kadar zat terlarut dalam lingkungan air meningkat atau volume air menurun, hewan akan mengadakan tanggapan atau rangsangan dengan salah satu cara diantara dua cara itu yaitu menyesuaikan kadar cairan tubuhnya dengan kadar lingkungannya (osmokonformer) atau mempertahankan kadar cairan tubuhnya meskipun kadar lingkungannya berubah (osmoregulator).

Tekanan osmotik berbanding lurus konsentrasi osmotik, sehingga apabila tekanan osmotik tinggi, maka larutan konsentrasi osmotik juga akan tinggi. Sehingga akan diperoleh larutan yang Hiperosmotik (larutan yang mempunyai konsentrasi osmotik lebih tinggi daripada larutan yang lain) dan larutan yang Hipoosmotik (larutan yang memiliki konsentrasi osmotik lebih rendah daripada larutan lainnya.)

Osmoregulasi Invertebrata Air Laut


Beberapa hewan seperti ubur-ubur, Polychaeta, dan cumi-cumi memiliki konsentrasi ion-ion yang relatif sama dengan air laut. Keberadaan ion-ion tertentu dalam beberapa hewan Invertebrata memang dijaga agar lebih tinggi ataupun lebih rendah dari kondisi air laut dengan tujuan tertentu.

Osmoregulasi Invertebrata Air Tawar dan Payau


Pada hewan Invetebrata cairan dalam tubuhnya masih bersifat hiperosmotik dan tidak ada yang bersifat osmokonformer. Invertebrata air tawar dan payau ini menghadapi 2 masalah osmoregulasi: a. air masuk ke dalam tubuhnya mengikuti gradien kadar b. kehilangan garam tubuhnya

Osmoregulasi Invertebrata Darat


1. Serangga Serangga menghadapi kehilangan dalam tubuhnya dengan cara meningkatkan impermeabelitas kulitnya. Tempat kehilangan uap air adalah pada spirakelnya. Organ-organ osmoregulatori Invertebrata menggunakan mekanisme filtrasi, reabsorpsi dan sekresi yang secara prinsip mirip dengan mekanisme ginjal membentuk urin.

2. Osmoregulasi cacing tanah, keong dan siput Cacing tanah adalah Anelida yang telah beradaptasi hidup di tanah yang basah, dimana stres osmotik terletak diantara air tawar dan udara Cacing dapat beradaptasi dari air dipindah ke tanah atau udara kering, ia dapat mentoleransi kehilangan 50-80% air tubuhnya. Misalnya Lumbricus terrestris secara aktif mengabsorpsi ion-ion, dapat memproduksi ionion encer yang secara esensial hiperosmotik terhadap darahnya

Keong dan siput mempunyai permukaan tubuh berdaging yang sangat permeabel. Misalnya Helix aspera akan kehilangan air hampir secepat penguapan pada permukaan air seluas permukaan tubuhnya. Keong dan siput memiliki toleransi terhadap kehilangan air tinggi sedangkan tekanan osmotik interval bervariasi secara luas tergantung pada kandungan air habitatnya. Banyak keong darat secara rutin mengeluarkan suatu zat yang mengandung sisa nitrogen sebagai asam urat.

Osmoregulasi Ikan Air Laut


Ikan air laut yang hiposmotik menghadapi masalah kehilangan air tubuh, dan sekaligus menghadapi masalah masuknya zat-zat terlarut ke dalam tubuhnya karena gradien konsentrasi. Permukaan tubuh, terutama permukaan insangnya agak permeabel terhadap air. Air banyak hilang melalui insang, urin, feses. Untuk mengganti air yang hilang maka ikan laut banyak minum air. Konsentrasi garam dalam tubuhnya meningkat, maka garam harus dikeluarkan dalam konsentrasi lebih tinggi daripada air laut.

Ikan air laut

Osmoregulasi Ikan Air Tawar


Cairan yang berada dalam ikan air tawar bersifat hiperosmotik, sedangkan cairan yang berada di lingkungannya bersifat hiposmotik. Kulitnya relatif impermeabel, sedikit air masuk lewat minum dan makanan, tetapi sejumlah air masuk secara osmotik melalui insang dan membran mulut. Kelebihan air masuk akan diimbangi dengan ekskresi lewat ginjal.

Ikan air tawar

Ikan Berpindah Medium


Beberapa ikan mampu berpindah hidup antara air tawar dan air laut dalam siklus hidupnya, misalnya Lamprey dan ikan salem. Bila Lamprey masuk ke air tawar, berhenti minum dan saat kembali ke air payau mereka minum ekskresi ekternal Na dan Cl diaktifkan.

Osmoregulasi Amfibi
Kulit amfibi berperan sebagai organ osmoregulasi utama. Kondisi cairan dalam tubuh Amfibi ini bersifat hipertonik terhadap kondisi cairan yang berada di lingkungannya. Pada saat Amfibi berada dalam air tawar, terdapat aliran osmotik air ke dalam tubuhnya. Hal tersebut bertujuan untuk menyeimbangkan kondisi cairan dalam tubuh Amfibi dengan kondisi cairan lingkungan. Karena banyak air yang masuk, maka Amfibi ini hanya sedikit dalam minum air. Kemudian akan dikeluarkan sebagai urin yang sangat encer bersama garam-garam dalam tubuhnya.

Osmoregulasi Reptil
Semua Reptil akuatik bernafas dengan paru-paru. Kulit Reptil kering berzat tanduk dan impermeabel terhadap air. Air hilang terutama melalui penguapan lewat kulitnya. Kehilangan air karena penguapan pada seluruh Reptil ternyata lebih besar daripada lewat pernafasannya. Reptil mengekskresikan asam urat ( sebagai hasil akhir metabolisme protein) lewat urin. Pada beberapa Reptil laut, sekresi garam dilakukan oleh kelenjar garam di kepala, samping ginjalnya. Kelenjar garam menghasilkan cairan dengan konsentrasi lebih tinggi, terutama natrium dan klorida yang konsentrasinya lebih tinggi daripada air laut.

Osmoregulasi Burung
Kehilangan air transpirasional relatif rendah. Permeabilitas kulit berbeda antar spesies yang satu dengan yang lain, demikian juga kehilangan air transpirasional lewat lewat kulit sangat berbeda. Presentase kehilangan air tubuh setiap hari pada burung kecil pemakan biji lebih tinggi daripada burung besar. Kehilangan air lewat pernafasan dalam keadaan normal, tergantung pada kecepatan penggunaan oksigen dan jumlah air yang hilang per unit oksigen yang dikonsumsi. Burung laut, misal camar dan pelikan serta burung gurun dan bebek memiliki kelenjar nasal yang melayani ekskresi garam ekstrarenal.

Osmoregulasi Mammalia
Mamalia mengatasi stres osmotik dan pemeliharaan keseimbanan air dehidrasi dengan variasi pengambilan air dengan mengontrol jalan kehilangan air. Beberapa mamalia menguapkan air melalui kelenjar keringat atau dengan terengah-engah, air yang hilang mungkin mencapai titik kritis. Mamalia laut memiliki ginjal dengan kemampuan efisiensi dalam memproduksi urin yang sangat hipertonik. Untuk membantu kerja ginjal, mamalia laut tidak minum air laut melainkan hanya menelan air bersama makanan yang dimakan. Sedangkan pada mamalia lain seperti mamalia gurun, sumber airnya berupa air metaboliknya.

SISTEM EKSKRESI
Sistem ekresi adalah proses pengeluaran zatzat sisa hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Zat hasil metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui alat ekskresi.

Fungsi utama dari sistem ekskresi, adalah : Memelihara konsentrasi ion-ion tunggal yang tepat Memelihara volume air tubuh yang tepat Memelihara konsentrasi osmotik Mengekskresikan sisa-sisa metabolisme (urea, asam urat, dll) Mengekskresikan zat-zat asing dan atau hasilhasil metabolisme

Kebanyakan sisa-sisa metabolisme dibuang oleh organ-organ ekskretori. Peranan utama organ ekskretori adalah memindahkan kelebihan sejumlah zat yang diregulasi dari tubuh secara tepat.

Organ ekskretori adalah: Vakuola kontraktil pada protozoa Organ nefridial pada invertebrata Kelenjar antenal pada udang Saluran malphigi pada serangga Ginjal pada vertebrata

Pembentukan Urin
1. Ultrafiltrasi Ultrafiltrasi adalah proses perpindahan plasma darah (kecuali sel-sel darah dan protein molekul besar) dari glomerolus menuju ke ruang kapsula bowman dengan menembus membran filtrasi.

Ultafiltrasi terjadi karena adanya tekanan filtrasi yang merupakan selisih tekanan darah kapiler glomerular dengan tekanan osmotik koloid darah dan tekanan hidrostatik cairan dalam kapsula bowman. Tekanan filtrasi dirumuskan sbb :
TF = TG-(TO+THB)

TF = Tekanan filtrasi TG = Tekanan darah glomerular TO = Tekanan osmotik koloid THB= Tekanan hidrostatik kapsula bowman

2. Reabsorbsi tubular Merupakan proses perpindahan cairan dari tubulus renalis menuju darah dalam kapiler peritubular. Filtrat glomerular mengandung zat-zat seperti terdapat dalam plasma kecuali protein darah yang berukuran besar yang tidak dapat menembus dinding kapiler glomerolus. Beberapa zat penting seperti glukosa dan asam amino seluruhnya mengalami reabsorbsi.

3. Sekresi tubular Selain mereabsorbsi zat-zat dalam jumlah besar dari filtrat plasma, tubulus ginjal juga dapat mensekresikan zat-zat tertentu ke dalam cairan tubular. Proses ini merupakan kebalikan dari reabsorbsi tubular, memungkinkan ginjal meningkatkan konsentrasi zat-zat yang diekskresikan, misalnya H+ dan K+ , obat-obatan, dan berbagai zat organik asing. Tubulus distal merupakan tempat berlangsungnya sebagian besar sekresi tubular.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pengeluaran jumlah urine : - Jumlah air yang diminum - ADH - Saraf,rangsang saraf renalis akan menyempitkan arteriole aferent,aliran darah berkurang,filtrasi kurang afektif,urine sedikit - Banyak garam yang dikeluarkan - Suhu aliran darah diglomerulus dan filtrasi kurang---urine sedikit - Konsentrasi darah,ADH dirangsang---urine sedikit - Emosi - Zat-zat antidiuretika ex: kopi the,alkohol menghambat reabsorpsi Na akibatnya ADH berkurang----urine meningkat

ALAT EKSKRESI PADA COELENTERATA DAN ECHINODERMATA

Kedua kelompok ini tidak memiliki organ ekskretori khusus Untuk Coelenterata air tawar memiliki cairan tubuh hipertonik terhadap mediumnya dan memiliki membran yang sangat permeabel terhadap air dan garam, namun volume tubuhnya dapat dipertahankan dalam tingkat yang konstan. Hydra misalnya dapat memilihara konsentrasi lingkungan internalnya yang ekivalen dengan 0,025 M larutan NaCl.

Coelenterata dapat mengekskresikan dengan mudah sisa metabolismenya melalui proses difusi. Disamping itu Coelenterata juga memiliki astrosit-astrosit, yaitu sel-sel fagosit yang dapat menelan dan memindahkan zatzat asing Echinodermata tidak memiliki masalah dalam osmoregulasi, sebab cairan tubuh hewan ini selalu isosmotik dengan air laut.

VAKUOLA KONTRAKTIL
Vakuola protozoa berupa vakuola kontraktil dan vakuola nonkontraktil Vakuola kontraktil : Vakuola kontraktil disebut juga vakuola berdenyut. Vakuola kontraktil memiliki fungsi sebagai osmoregulator yaitu mengatur nilai osmotik dalam sel. Vakuola nonkontraktil : Vakuola nonkontraktil disebut juga vakuola makanan, yang berfungsi untuk mencerna makanan dan mengedarkan hasil pencernaan makanan ke seluruh tubuh

Dua kelompok hewan yang memiliki vakuola kontraktil, yaitu Protozoa dan bunga karang (Sponges) Pada vakuola kontraktil air tawar menunjukkan adanya siklus perubahan volume yang kontinyu. Pada tahap pengisian volumenya nampak makin membesar sampai mencapai ukuran kritis. Setelah itu diikuti dengan tahap pengosongan sampai vakuola kontraktil nampak hilang. Kemudian vakuola kontraktil nampak membesar lagi, dan begitu seterusnya.

Vakuola kontraktil dapat memiliki tempat yang tetap dalam sel, misalnya pada Paramecium atau dapat muncul disembarang tempat dalam tubuh, misalnya pada Amoeba. Pada Amoeba, lumen vakuola kontraktil dibatasi oleh suatu membran tunggal, yang tipis. Disekitar membran terdapat suatu lapisan tebal yang disebut spongiome, yang penuh dengan vesikel-vesikel kecil. Sekitar lapisan vesikel ini terdapat lapisan mitokondria, yang diperkirakan menyediakan energi yang diperlukan untuk kerja osmotik dalam membentuk isi vakuola yang hipoosmotik. Vesikelvesikel menuangkan isinya kedalam vakuola kontraktil dengan cara meleburkan diri.

Vakuola kontraktil terbentuk dengan isinya yang hipoosmotik terhadap sitoplasma, salah satunya adalah sebagai berikut : vesikelvesikel kecil mengelilingi vakuola kontraktil mula-mula berisi cairan yang isotonik dan sitosol. Vesikel-vesikel kemudian memasukkan Na+ kecairan vesikel dan mengeluarkan K+ dari cairan vesikel secara transport aktif dan menggunakan energi ATP yang dibuat dalam mitokondria. Akhirnya setelah konsentrasi osmotik cairan vesikel berkurang sampai sekitar setengah konsentrasi dalam sitosol (cairan vesikel menjadi hipoosmotik), vesikel-vesikel bergerak menuju dan menuangkan isinya ke dalam vakuola kontraktil (fase pengisian). Fase pengisian ini akan terjadi terus menerus sampai volume vakuola kontraktil cukup besar. Kemudian vakuola kontraktil berkontraksi secara tiba-tiba, sehingga cairannya disemprotkan ke luar melalui pori-pori pada permukannya (fase pengosongan). Setelah itu akan dimulai fase pengisian berikutnya. Mekanisme seperti ini memungkinkan terjadinya ekskresi larutan hipoosmotik dengan menahan garam yang bermanfaat.

Aktifitas vakuola kontraktil tersebut menyebabkan Na+ banyak yang hilang. Untuk menjaga konsentrasinya di dalam sitoplasma, diduga Protozoa menggantinya dengan memasukkan secara aktif dari mediumnya Pada beberapa Protozoa air tawar dan bunga karang, tidak dijumpai adanya pembentukan vakuola kontraktil, sehingga bagaimana mekanisme hewan-hewan tersebut melakukan osmoregulasi, tidak diketahui dengan jelas.

ORGAN-ORGAN NEFRIDIAL
Terdapat dua tipe utama nefridia 1. Ptotonefridium 2. metanefridium

PROTONEFRIDIA
Protonefridia terutama terdapat pada hewan yang tidak memiliki rongga tubuh (coelom) yang sebenarnya dan tidak mempunyai sistem sirkulasi yang bertekanan tinggi (pada Platyhelminthes dan Aschelminthes), demikian juga tidak memiliki tekanan hidrostatik yang diperlukan untuk ultrafiltrasi

Seekor hewan mungkin memiliki dua atau lebih protonefridia , yang sering bercabang-cabang secara intensif. Ujung yang tertutup berakhir pada struktur berbentuk seperti bola lampu, masing-masing dengan lubang lumen yang memiliki satu falgellum atau banyak silia di dalamnya. Bila memiliki flagellum tunggal, sel ujung disebut solenosit, bila memiliki banyak silia yang mengarah ke dalam lumen, struktur ini disebut sel nyala (flamen cell) sebab bila silia bergoyang akan memberikan gambaran seperti gerak nyala api (lidah api).

Goyangan silia atau flagellum akan menimbulkan tekanan negatif di dalam lumen protonefridia, sehingga terjadi tekanan hidrostatik eksternal yang mendorong air dan zat terlarur masuk ke lumen protonefridia. Asplancha memiliki cairan tubuh yang hiperosmotik terhadap mediumnya dan menghasilkan urin encer. Bila hewan yang dipindahkan kemedium yang encer, maka akan dihasilkan urin yang lebih encerjuga. Hal ini menunjukkan bahwa protonefridia terlibat pada osmoregulasi dan ekskresi air.

METANEFRIDIA
Metanefridia hanya dijumpai pada hewan yang memiliki selom (misalnya Annelida), tetapi tidak berarti hewan yang memiliki selom pasti memiliki metanefridia. Alat ekskresi cacing tanah adalah sepasang metanefridium berbentuk tabung yang terdapat disetiap segmen tubuhnya. Ujung yang terdapat dalam segmen, terbuka dan berbentuk corong berisilia; disebut nefrostom. Ujung lainnya yang bermuara keluar tubuh disebut nefridiofor.

Pada nefrostom terdapat gulungan tubulus (tabung), dan terdapat bagian yang menggelembung. Nefridiofor dilewati materi-materi yang dikeluarkan oleh bagian yang menggelembung dari nefrostom tersebut. Disekitar gulungan tubulus nefrostom diselubungi pembuluhpembuluh darah yang membentuk jaringan. Materi-materi keluar dari cairan tubuh anterior menuju nefridium lewat nefrostom yang terbuka. Akan tetapi, beberapa materi penting (air dan makanan) diikat langsung oleh sel-sel pada gulungan tubulus dan menembus pembuluh darah disekitar tubulus yang kemudian disirkulasikan lagi. Saat cairan bergerak disepanjang tubulus, epitelium transpor yang mengelilingi lubang tubulus memompa garam-garam esensial keluar dari tubulus. Garam-garam yang keluar dari tubulus ini direabsorpsi oleh darah dalam kapiler pembuluh darah yang menyelubungi tubulus. Urin cacing tanah berbentuk cair dan setiap harinya dikeluarkan sebanyak 60% berat tubuhnya

NEFRIDIUM MOLUSKA
Semua anggota kelompok ini, pembentukan urin dimulai dengan ultrafiltrasi dari darah. Filtarsi verisi zat-zat seperti yang terdapat dalam darah, kecuali protein. Jadi berisi tidak hanya zat-zat yang harus dibuang, tetapi juga zat-zat yang masih berguna, misalnya glukosa dan asam amino. Oleh karena itu zat-zat yang masih berguna direabsorpsi dulu sebelum cairan dibuang. Disamping reabsorpsi zat-zat yang masih berguna, juga terjadi sekresei aktif zat-zat khusus kedalam cairan urin pada bagian tubulus distal dan pengumpul dari ginjal. Dua senyawa disekresikan secara aktif pada berbagai gibjal (termasuk ginjal vertebrata) adalah asam paraaminohipurat (sering disingkat PAH) dan zat warna phenol red. Satu aspek dari sekresi Moluska yang nampak agak khusus, yaitu bahwa fungsi kedua ginjal tidak selalu sama.

Suatu Moluska laut, yang cairan tubuhnya isotonik dengan air laut dan tidak memiliki masalah dalam regulasi air, tidak melakukan reabsorpsi air dalam ginjalnya. Hewan ini harus meregulasi komposisi ionik dan mengekskresi sisa metabolik, dan dalam hal dua ginjalnya berbeda fungsi, PAH, dan phenol red secara aktif disekresi terutama oleh ginjal kanan, sementara reabsorpsi glukosa nampaknya terutama dilakukan oleh ginjal kiri.

KELENJAR ANTENAL CRUSTACEA


Urin dibentuk di dalam kelenjar atenal melalui filtrasi dan reabsorpsi, ditambah sekresi tubular. Ultrafiltrasi dapat ditunjukkan dengan penyuntikan inulin, yang kemudian muncul dalam urin. Lobster suatu tipe Crustacea laut menghasilkan urin dengan konsentrasi inulin yang sama dengan darah, yang menunjukkan bahwa air tidak direabsorpsi. PAH dan phenol-red, dijumpai dalam urin dengan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan dalam darah. Ini menunjukkan bahwa PAH dan phenol red disekresi kedalam urin, yang berarti selain proses filtrasi-reabsorpsi, dalam pembentukan urin terjadi pula proses sekresi.

Pada Crustacea laut, kelenjar atenal bekerja menahan kalium dan kalsium serta mengeluarkan magnesium dan sulfat. Konsentrasi magnesium urin sangat bervariasi, tetapi cenderung meningkat secara subtansial bila kepiting dipindah ke air laut. Ini bukti bahwa magnesium secra aktif ditranspor kedalam urin pada saat urin berada dalam kantung kencing dan bahwa konsentrasinya meningkat sewaktu urin dibiarkan dalam kantung kencing.

SALURAN MALPHIGI SERANGGA


Kerja saluran malphigi adalah sebagai berikut : kalium dikeluarkan secara aktif kedala lumen saluran malphigi dan air mengikuti secara pasif, karena kekuatan osmosis. Hasilnya terbentuk cairan yang kaya kalium yang berlebihan dalam saluran. Cairan isotonik dengan darah, tetapi memiliki komposisi yang sangat berbeda, hal ini sangat kontras dengan ginjal mammalia, dimana cairan urinaria primer adalah hasil ultrafiltrasi dari plasma darah.

Di dalam saluran malphigi cairan dirubah oleh proses sekresi dan reabsorpsi. Cairan kemudian masuk ke usus akhir. Dalam usus akhir zat terlarut dan kelebihan air direabsorpsi, dan asam urat (yang masuk cairan sebagai kaliumurat yang larut dalam air)diendapkan. Ini memudahkan penarikan air lebih lanjut. Yang tersisa dalam rektum adalah campuran urin dan feses. Serangga yang hidup pada vegetasi berair, makan makanan dengan kandungan air yang tinggi dan mengeksresikan urin yang berlebihan. Serangga yang hidup pada makanan kering dapat menghasilkan eksret yang sangat kering.

Sistem Ekskresi pada Vertebrata


Organ ekskresi utama pada vertebrata adalah ginjal (ren). Ginjal pada vertebrata umumnya berjumlah sepasang. Ginjal ini dihubungkan dengan dunia luar melalui suatu saluran, umumnya berjumlah sepasang. Secara embriologi ginjal berasal dari mesoderm. Ginjal pada ikan berbeda dengan ginjal pada katak, kadal atau burung, lebih lebih bila dibandingkan dengan ginjal mamalia. Oleh karena itu, ada tiga tipe ginjal yaitu pronefros, mesonefros, dan metanefros.

Pisces
Alat ekskresi pada ikan berupa sepasang ginjal. Ginjal ini dilengkapi urethra, yang muaranya menyatu dengan muara saluran kelamin, sehingga disebut muara saluran urogenitalis.

Amphibi
Alat ekskresi katak (Amphibi) berupa sepasang ginjal kiri dan kanan. Zat-zat sisa seperti urine, garam-garam yang berlebihan, air yang berlebih akan dikeluarkan. Zat sisa yang diambil oleh ginjal akan disalurkan melalui ureter menuju ke kantong kemih

Reptil
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zatzat hasil metabolisme. Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat berwarna putih.

Aves
Saluran ginjal yang kita kenal sebagia ureter Amniota ini menghubungkan ginjal dengan dunia luar. Kedua ureter bermuara terpisah kedalam kloaka, berfungsi sebagai organ respirasi. Pada hewan yang organ itu dapat di isi dengan air yang digunakan untuk memperlunak tanah apabila akan menyiapkan sebuah sarang.

Alat ekskresi burung berupa paru-paru, ginjal, dan kulit. Ginjalnya berjumlah sepasang berwarna coklat. Saluran ekskresi, saluran kelamin dan saluran pencernaan menyatu bermuara pada kloaka. Burung tidak mempunyai kantong urine. Urine yang dihasilkan ginjal langsung bercampur dengan sisa pencernaan dan langsung dikeluarkan melalui kloaka. Kulit burung tidak mempunyai kelenjar keringat, tetapi mempunyai kelenjar minyak (glandula uropigialis) yang terdapat pada ekor. Minyak ini berguna untuk meminyaki bulu agar tidak basah sewaktu terkena air.

Mamalia
Mamalia yang mengeksresikan urin hiperosmotik paling banyak karena mempunyai putaran Henle yang mempepanjang ke dalam sampai ke medulla. Putaran panjang tersebut memelihara keseimbangan osmotik di ginjal, akhirnya urin menjadi pekat yang keluar dari kortek ke medulla di saluran pengumpul.

Wisnu Apa perbedaan osmoreguloasi dengan homeostatis? Hemeostasis merupakan mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan yang dinamis di dalam tubuh hewan yang konstan. Osmoregulasi merupakan kemampuan untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara di dalam tubuh dan lingkungannya melalui mekanisme pengaturan tekanan osmose. Jadi osmoregulasi merupakan bagian dari homeostasis khusus pada keseimbangan air dan ion.

Widi Apa contoh dari fakta unik mekanisme osmoregulasi? Ikan salmon Ikan salmon dikelompokkan dalam spesies diadromous yang bersifat anadromous, yakni bermigrasi dari habitat air laut ke air tawar. Ikan salmon termasuk dalam tipe euryhaline, mempunyai toleransi besar pada paparan salinitas. Ikan salmon dewasa hidup di laut dengan kadar salinitas tinggi. Dimana ikan salmon akan meminum banyak air laut untuk mengatur kadar garam tubuh dan mengekskresikan kelebihan garam dari insang. Peranan ginjal dalam ekskresi garam sangatlah besar melalui kelenjar rektal yang nantinya akan mengekskresikan natrium klorida untuk menyeimbangkan konsentrasi garam internal tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi garam air laut

Dan ketika ikan salmon akan bereproduksi menuju ke arah hulu sungai, disini akan terjadi perubahan osmoregulasi tubuh dari air laut ke air tawar (hypoosmosis ke hyperosmosis). Ketika migrasi ke air tawar untuk memijah, ikan salmon itu akan berhenti atau sedikit minum dan insangnya akan mulai mengambil garam dari lingkungan yang konsentrasinya tidak pekat. Ikan salmon ini akan menyeimbangkan perolehan air dengan banyak mengeluarkan urin.

Bagaimana mekanisme osmoregulasi pada anjing? Benarkah anjing tidak mempunyai pori-pori? Jawaban : Pada anjing permukaan tubuhnya memiliki poripori, namun yang paling banyak yaitu pada lidahnya (termoregulasi) Sehingga anjing sering mengeluarkan lidahnya ketika udara panas,

Ghoirun Nisak Mengapa burung kecil pemakan biji memiliki kehilangan air tubuh yang lebih besar? Presentase kehilangan air tubuh setiap hari pada burung kecil pemakan biji lebih tinggi daripada burung besar. Karena kehilangan air lewat pernafasan dalam keadaan normalnya tergantung pada kecepatan penggunaan oksigen dan jumlah air yang hilang per unit oksigen yang dikonsumsi.

Sistem ekskresi pada planaria jika dipotong yakni Sel-sel api didistribusikan sepanjang sistem tabung bercabang. Cairan tubuh disaring melalui sel-sel api, dengan cara memindahkan cairan ke dalam sistem tabung yang dimiliki organisme tesebut. Zat buangan (air dan garam) disekresi dari sistem tabung melalui lubang-lubang tubuh yg terpotong.

Anyang2an terjadi karena terkena infeksi saluran kemih (ISK) yakni merupakan gangguan pada saluran kemih yang disebabkan adanya sumbatan. Biasanya, yang menyumbat itu adalah batu berbentuk kristal yang menghambat keluarnya air seni melalui saluran kemih, sehingga jika sedang buang air kecil terasa sulit dan sakit. Tapi, bila saat buang air seni disertai dengan darah, itu petanda saluran kemih anda sudah terinfeksi. Jenis batu yang dapat mengendap dalam ginjal dan saluran kemih sangat beragam, di antaranya yaitu batu kalsium oksalat, dan batu kalsium karbonat yang mengandung kapur, batu asam urat dan systin yang tidak mengandung kapur, namun pada umumnya terdiri atas campuran berbagai jenis komponen tersebut. Batu ginjal bervariasi ukurannya dan dapat bersifat tunggal ataupun ganda

Hubungan emosi dan saraf pada pengeluaran urin. Jawab: Ketika kita dalam keadaa emosi, sistem saraf yang paling dominan bekerja adalah sistem saraf simpatis. Sistem saraf ini akan menghambat kontraksi kandung kemih sehingga otot otot kandung kemih menjadi relaksasi (mengembang) dan urine yang ada di dalamnya menjadi tidak dapat keluar. Dengan begitu pengeluaran urine menjadi lebih sedikit. Sistem saraf simpatis akan mengaktifkan berbagai hormone dan neurotransmitter yang akan mempengaruhi berbagai kerja orngan tubuh, termasuk kandung kemih. Sistem saraf simpatis akan merangsang pengeluaran adrenalin/epinefrin dan noradrenalin/norepinefrin yang mana kerja hormone ini pada ginjal adalah meningkatkan retensi/penyerapan air kembali ke dalam tubuh pada ginjal sehingga volume urine yang dikeluarkan juga akan berkurang. Stimulus yang diberikan shinnga mempengaruhi urin adalah stimulus saraf renalis. Stimulus saraf renalis akan menyebabkan menyempitnya arteriole aferent. Akibatnya aliran darah ke glomerulus berkurang, tekanan darah juga berkurang sehingga filtrasi kurang efektif.