Anda di halaman 1dari 8

17

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Desain penelitian ini adalah cross sectional study, yaitu penelitian yang dilakukan pada satu waktu. Pemillihan tempat dilakukan dengan cara pupossive, yaitu Desa Bubulak. Bubulak dipilih karena dari seluruh Kelurahan di Bogor Barat, Kelurahan Bubulak menjadi satu-satunya kelurahan yang belum berkembang dan memiliki keluarga dengan tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah paling banyak. Penelitian ini dilakukan pada keluarga yang memiliki anak prasekolah di tempat tersebut untuk menganalisis kesiapan menikah suami istri, pemenuhan tugas dasar, dan tugas krisis. Waktu pengambilan data dari penentuan contoh hingga wawancara dilaksanakan dari bulan Juni hingga Juli 2011. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah keluarga dengan anak prasekolah di Desa Bubulak. Menurut Hurlock (1980) masa awal anak-anak berada pada rentang umur dua hingga enam tahun Tempat yang dipilih untuk menjadi lokasi penelitian adalah RW 01, 02, 03, 06, 07, 08, 09, dan 11 di Desa Bubulak. Lokasi penelitian memiliki 13 RW, namun hanya dipilih delapan Rw saja karena kebanyakan keluarga yang ada lima RW lainnya merupakan rumah orangtua contoh sehingga contoh hanya datang pada saat ada posyandu diadakan. Jumlah contoh dalam penelitian ini sebanyak 90 keluarga yang diambil dari delapan RW di Desa Bubulak dengan metode simple random sampling. Jumlah populasi ditentukan dari delapan RW yang sudah dipilih. Kriteria untuk contoh penelitian ini adalah keluarga utuh dengan anak pertama usia prasekolah.

18

Kota Bogor

Purpossive
Kecamatan Bogor Barat

Purpossive
Kelurahan Bubulak

Purpossive
N= 118

Total n= 90

Simple random Sampling

Gambar 3 Metode Penarikan Contoh Penelitian Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan melalui wawancara dengan bantuan kuesioner kepada contoh untuk mengunpulkan karakteristik keluarga, membantu melakukan recall kesiapan menikahnya, pemenuhan tugas dasar dan tugas krisis keluarga. Karakteristik keluarga terdiri dari jumlah anggota keluarga, usia saat menikah, usia saat ini, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Kesiapan menikah diukur melalui tujuh dimensi, yaitu intekektual, emosi, sosial, moral, individu, finansial, dan mental. Pengembangan kuesioner diawali dari definisi kesiapan menikah menurut Duvall (1971) yang harus siap secara fisik, emosi, tujuan, finansial, dan pribadi. Definisi dari Duvall kemudian dilanjutkan dengan melihat perkembangan yang harus dicapai sebagai dewasa muda. Menurut Papalia dan Olds (1986) seorang dewasa muda harus dapat mengembangakan kemampuan intelektual, sosial, emosi, dan moralnya. Selain itu, ada kesiapan khusus yang harus dipersiapkan oleh seorang dewasa muda untuk menikah. Untuk kesiapan intelektual dan moral, kuesioner yang digunakan dikembangkan dari Personal Value Scale (Schott1985). Kesiapan emosi dan sosial dikembangakan dari konsep kecerdasan emosi dan keterampilan sosial dalam Goleman (1994). Kesiapan individu, finansial, dan mental dikembangkan dari konsep yang dikemukakan oleh Rapoport dalam Duvall (1971). Kuesioner pemenuhan tugas dasar dikembangkan dari indikator

19

keluarga pra-sejahtera menurut BKKBN, sedangkan pemenuhan tugas krisis dikembangkan dari krisis menurut Duvall (1971) dan Hurlock (1980). Pernyataan mengenai pemenuhan tugas krisis keluarga diturunkan dari tugas perkembangan keluarga, orangtua, dan anak usia prasekolah menurut Duvall (1971). Namun karena ada beberapa kesamaan tugas krisis yang dikembangkan dari Duvall maupun Hurlock, maka beberapa pernyataan digabung agar tidak mengakibatkan overlaping. Instrumen kesiapan menikah dan tugas dasar memiliki nilai cronbach alpha sebesar 0,6. Untuk tugas krisis nilai reliabilitasnya sebesar 0,9. Data sekunder didapatkan dari data monografi desa. Berikut adalah tabel variabel dan responden yang digunakan sebagai alat ukur Tabel 1 Variabel dan responden yang digunakan dalam kuesioner
No 1 Variabel Karakteristik keluarga: a. Jenis Kelamin b. Besar keluarga c. Usia d. Pendidikan e. Pekerjaan f. Pendapatan Kesiapan menikah pasangan a. Kesiapan Emosi b. Kesiapan Sosial c. Kesiapan Intelektual d. Kesiapan Moral e. Kesiapan individu f. Kesiapan finansial g. Kesiapan mental Tugas dasar keluarga a. Sandang b. Pangan c. Papan d. Kesehatan Tugas Krisis a. Tugas krisis terkait anak b. Tugas krisis terkait hubungan suami dan istri c. Tugas krisis terkait kesiapan sekolah anak Responden

Suami Istri

Suami Istri

Istri

Istri

Menurut BKKBN, kebutuhan dasar keluarga antara lain sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Namun indikator menyelesaikan pendidikan hingga sembilan tahun tidak dimasukkan ke dalam item pernyataan karena kriteria keluarga yang dijadikan contoh dalam penelitian ini adalah keluarga yang anaknya belum menempuh wajib belajar. Contoh yang akan dijadikan penelitian

20

adalah pasangan suami istri dengan asumsi memiliki kesiapan menikah yang berbeda-beda. Pemenuhan tugas dasar ditanyakan kepada istri dengan asumsi istri lebih banyak dirumah dan pengelolaan rumah tangga yang dipegang oleh istri. Waktu yang dihabiskan oleh istri dan anak juga menjadi asumsi istri lebih mengetahui pemenuhan tugas krisis dalam keluarga. Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil wawancara terlebih dahulu dilakukan proses editing, coding, scoring, entering, cleaning, dan analyzing yang menggunakan bantuan program komputer yang sesuai. Karakteistik keluarga dianalisis dengan menggunakan frekuensi dan tabulasi silang. Umur suami dan istri dikelompokkan menurut Hurlock (1980), yaitu dewasa awal, madya, dan akhir. Berdasarkan BKKBN, besar keluarga dapat dikelompokkan menjadi keluarga kecil ( 4 orang), keluarga sedang (5-6 orang), dan keluarga besar ( 7 orang). Pendapatan perkapita keluarga dikategorisasi sesuai dengan pendapatan per kapita di perkotaan Provinsi Jawa Barat menurut BPS tahun 2010 yang kemudian dikelompokkan menjadi baik dan kurang. Secara keseluruhan, kategori pengelompokkan untuk kesiapan menikah, tugas dasar, dan tugas krisis dibedakan menjadi tinggi, sedang, dan rendah. Nilai tersebut didapatkan dari rumus interval kelas yang disajikan berikut ini Interval kelas (A) = skor maksimum (NT) - skor minimum (NR) Jumlah Kelas Adapun variabel, skala, dan kategori skor disajikan pada tabel berikut ini Tabel 2 Variabel, skala data, dan kategori skor
No 1 Variabel Karakteristik keluarga a. Jenis Kelamin b. Besar keluarga c. Usia d. Pendidikan Skala Data Nominal Rasio Rasio Rasio Kategori skor [1] Laki-laki; [2] Perempuan [1] Keluarga kecil ( 4 orang); [2] Keluarga sedang (5-6); [3] Keluarga besar ( 7 orang) [1] Dewasa awal (18-40); [2] Dewasa madya (4060) [0] tidak sekolah; [1-6] SD; [7-9] SMP; [10-12] SMA; [13-16] Sarjana (S1); [17-18] master (S2); [20-23] doktor (S3) [0] tidak bekerja; [1] PNS; [2] karyawan swasta; [3] wiraswasta; [4] buruh; [5] kyai/ustad/guru agama BPS kota di Jawa Barat (2010) [1] Rp 212.210[2] >Rp 212.210 Rendah (0-3); Sedang (4-7); Tinggi (8-10) Rendah (0-2); Sedang (3-4); Tinggi (5-6)

e. Pekerjaan f. Pendapatan 2 Kesiapan menikah a. Kesiapan Emosi (10) b. Kesiapan Sosial (7)

Nominal Rasio

Ordinal Ordinal

21

Lanjutan Tabel 2
No Variabel c. Kesiapan Intelektual (6) d. Kesiapan Moral (11) e. Kesiapan individu (12) f. Kesiapan finansial (8) g. Kesiapan mental (5) 3 Tugas Dasar (7) 4 Tugas Krisis a. Tugas Krisis Anak Prasekolah (10) b. Tugas Krisis Hubungan Suami istri (3) c. Tugas Krisi Kesiapan Memasuki usia Sekolah (2) Skala Data Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Kategori skor Rendah (0-2); Sedang (3-4); Tinggi (5-6) Rendah (0-3); Sedang (4-7); Tinggi (8-11) Rendah (0-3); Sedang (4-7); Tinggi (8-12) Rendah (0-2); Sedang (3-5); Tinggi (6-8) Rendah (0-1); Sedang (2-3); Tinggi (4-5) Rendah (0-2); Sedang (3-4); Tinggi (5-6) Rendah (0-3); Sedang (4-6); Tinggi (7-10) Rendah (0-1); Sedang (2); Tinggi (3)

Ordinal

Rendah (0); Sedang (1); Tinggi (2)

Data yang telah diskoring kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Data juga dianalisis secara deskriptif dan inferensia. Uji statistik yang digunakan adalah: a. Uji korelasi Pearson untuk melihat hubungan kesiapan menikah, pemenuhan tugas dasar, dan tugas krisis. b. Uji beda t-test untuk menganalisis perbedaan kesiapan menikah suami dan istri c. Uji regresi linear berganda untuk melihat pengaruh kesiapan menikah terhadap pemenuhan tugas krisis. Pengaruh kesiapan menikah dan tugas dasar tidak dilakukan dalam penelitian ini karena pemenuhan tugas dasar yang seragam sehingga tidak terlihat adanya pengaruh antara kesiapan menikah suami dan istri dengan pemenuhan tugas dasar. Model regresi kesiapan menikah terhadap pemenuhan tugas krisis dapat didefinisikan dalam persamaan sebagai berikut: Pengaruh kesiapan menikah terhadap pemenuhan tugas krisis Y= 0 + 1X11+ 2X12+ 3X13+ 4X14+ 5X15+ 6X16+ 7X17++ 8X21+ 9X22+ 10X23+ 11X24+ 12X25+ 13X26 + 14X27e

22

Keterangan : Y = Pemenuhan tugas dasar X11 = Kesiapan intelektual suami X12 = Kesiapan emosi suami X13 = Kesiapan sosial suami X14 = Kesiapan moral suami X15 = Kesiapan individu suami X16 = Kesiapan finansial suami X17 = Kesiapan mental suami X21 = Kesiapan intelektual istri X22 = Kesiapan emosi istri X23 = Kesiapan sosial istri X24 = Kesiapan moral istri X25 = Kesiapan individu istri X26 = Kesiapan finansial istri X27 = Kesiapan mental istri e = Galat Definisi Operasional Keluarga adalah sekumpulan orang yang terdiri atas suami, istri, dan anak yang dipersatukan oleh pernikahan, hubungan darah atau adopsi Besar keluarga adalah jumlah orang yang berada dalam suatu tumah tangga yang terdiri atas ayah/suami, ibu/istri, anak, dan lainnya yang terikat pernikahan atau adopsi Pendapatan per kapita adalah jumlah uang per bulan yang diterima ayah atau ibu yang bekerja dan kemudian dibagi setiap anggota keluarga Pendidikan adalah lamanya seseorang menempuh jalur formal untuk

mendapatkan pengetahuan atau ilmu Lama Pernikahan adalah lamanya suami istri membentuk sebuah rumah tanngga Keluarga Prasekolah adalah suami dan istri yang memiliki anak pertama usia tiga sampai lima tahun. Kesiapan Menikah adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang individu yang akan menikah yang terdiri atas pemenuhan yang tugas dapat

perkembangannya

sebagai

remaja

dan

lainnya

membantunya dalam kehidupan berkeluarga nantinya. Kesiapan menikah diukur melalui kesiapan emosi, sosial, moral, intelektual, dan kesiapan lainnya (individu, finansial, dan mental)

23

Kesiapan Emosi adalah potensi diri untuk merasakan, menggunakan, mengkomunikasikan, mengendalikan, mendidentifikasi apa yang dirasakan dalam dirinya. Kesiapan Sosial adalah kemampuan untuk bergaul atau berhubungan dengan orangtua maupun orang lain di sekitarnya. Kesiapan Moral adalah kemampuan seseorang dalam membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang benar dan salah yang menjadi nilai absolut dalam diri manusia Kesiapan Intelektual adalah kemampuan daya tangkap, daya pikir, dan daya ingat serta memecahkan masalah Tugas Dasar adalah peubah yang harus dipenuhi oleh keluarga yang menjadi awal pemenuhan tahapan selanjutnya. Tugas Krisis adalah tahapan kritis dalam tahap perkembangan keluarga atau individu yang dicirikan dari ketidakmampuan keluarga atau individu dalam menangani stres dalam kehidupannya karena kekurangan sumberdaya dalam menangani stres tersebut. Tugas krisis diukur melalui indikator yang dikembangkan dari Duvall (1971) dan Hurlock (1980)